Tampilkan postingan dengan label resensi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label resensi. Tampilkan semua postingan

01 Agustus 2025

Review Buku Anak, Ayah

Di postingan sebelumnya, saya pernah tuliskan beberapa kiat saya untuk mendekatkan gadis kecil kami pada ayahnya sendiri. Salah satunya dengan membacakan buku yang tokohnya melibatkan sosok sang ayah. Mulailah saya mencari-cari buku yang paling relevan dan relate dengan kehidupan gadis kecil saya dan ayahnya. Setelah membandingkan, menimbang, dan pilah pilih, akhirnya saya memutuskan untuk membeli satu buku ini.

Buku Ayah
Cover depan buku Ayah

Saya belikan buku yang tokoh utamanya adalah ayah dan anak perempuannya. Pas banget kan seperti anak saya dan ayahnya. Harapannya setelah membaca buku ini, dia bisa jadi lebih dekat dengan ayahnya. Lalu, isinya seperti apa? Kita ulas satu-satu ya!

Judul         : Ayah
Penulis     : Benny Rhamdani
Ilutrator     : Alfy Maghfira
Halaman    : 20 halaman
Cover         : Hard cover
Penerbit     : Pelangi Mizan

Bentuk Fisik
Buku ini termasuk boardbook yang cover dan halaman isi menggunakan kertas board tebal dengan finishing laminasi glossy. Sampai saat ini, saya masih lebih memilih boardbook ketimbang buku biasa demi keawetannya.

Memang dia sudah lebih bisa mengerti sebab akibat secara sederhana, sepeti misalnya tak boleh merobek buku karena nanti bukunya tidak bisa dibaca lagi. Juga, dia bisa diberi pengertian untuk membalik halaman buku dari sisi ujung agar tidak robek. Tapi yang namanya batita kan ada saja ya momen dia lagi gemes atau saking bersemangatnya atau tak sengaja merusak halaman bukunya. Jadi menurut saya masih lebih aman boardbook untuknya.

Kembali ke buku ini. Dengan ukuran sekitar 17x17cm, buku ini mudah dibaca dan dibawa anak-anak. Bahkan masuk lho di tas mungil miliknya. Saya rasa, ukuran buku ini standar buku anak pada umumnya lah ya. Ujung-ujung bukunya juga tumpul agar anak tidak mudah tergores bagian yang tajam.

Ilustrasi
Cover buku ini bergambar sang ayah yang sedang menggendong Ela dengan raut wajah tertawa gembira. Saya ceritakan pada anak saya kalau itu gambar ayah dan dia. Kebetulan baju yang dipakai si tokoh ayah ini hampir sama motifnya dengan baju yang dipunyai suami saya. Sepertinya, ilustrasi di cover ini menarik rasa penasaran anak saya. Dari awal lihat saja, dia langsung menyebut si tokoh ini adalah dirinya dan ayah. 

Lanjut ke ilustrasi bagian isi. Saya kurang faham memang bagaimana detail membuat ilustrasi buku anak, terutama untuk tokoh yang karakternya manusia. Selama ini, saya punya buku anak dengan karakter hewan dan bagus-bagus aja. Nah, di buku Ayah ini, ada sedikit yang agak mengganjal ilustrasinya bagi saya.

Buku Ayah
Anak saya selalu penasaran dengan gambar baju garis-garis ini

Pada bagian, ketika sang anak dan teman-temannya menceritakan profesi ayah masing-masing. Pada bagian profesi polisi, ilustrasi digambarkan dengan seorang laki-laki yang seolah memborgol tangan pencuri. Sekilas memang benar sih itu salah satu tugasnya. Tapi penggambaran tokohnya seperti kurang sesuai menurut saya.

Kenapa tidak digambarkan saja pak polisi dengan seragam lengkap sedang bertugas mengatur lalu lintas di jalan agar anak-anak lebih mudah menangkap maksud cerita dan ilustrasinya. Pada bagian ini, anak saya tetap bertanya ini gambar apa (dan sepertinya dia belum terlalu paham apa proses mencuri dan ditangkap polisi) karena memang ilustrasi polisi juga tidak ada seragamnya. Ilustrasi lainnya menurut saya sudah sesuai dengan jalan ceritanya.


Isi Cerita
Nah, bicara tentang jalan ceritanya, ada lagi nih satu poin yang menurut saya pribadi agak kurang gitu ya. Buku ini bercerita tentang seorang anak perempuan bernama Ela yang pada suatu pagi wajahnya cemberut. Sebabnya karena sol sepatu kanannya lepas, padahal sepatu itu akan dipakainya untuk pergi ke sekolah. Kemudian dengan sigap, sang ayah memperbaikinya dengan lem. Sepatu itu bisa dipakai kembali sehingga Ela merasa senang.

Cerita berlanjut tentang kegiatan Ela selama di sekolah. Nah, di sekolah ini, ibu guru meminta anak-anak untuk bercerita tentang pekerjaan ayah masing-masing. Ela menceritakan bahwa ayahnya sedang mencari pekerjaan karena sudah seminggu diberhentikan dari tempat bekerja sebelumnya.

Sampai Ela berkata "Teman-teman, tolong doakan biar ayah cepat dapat kerja, ya,"

Buku Ayah
Saya sedikit rubah cerita di bagian ini

Jujurnya, pada bagian ini cerita saya rubah sedikit karena sepertinya anak saya belum saatnya untuk paham apa itu diberhentikan dari pekerjaan, apa itu kesulitan sang ayah mencari kerja, dan sebagainya. Saya lebih memilih untuk menceritakan apa pekerjaan ayahnya anak saya. Mungkin nanti ketika ia sudah lebih besar dan mengerti, baru saya bacakan cerita sebenarnya. Ini menurut pendapat pribadi saya sendiri ya. Kalau ada yang tidak setuju dengan saya ya gak apa-apa. 

Cerita masih berlanjut di rumah saat sore hari. Ketika sang ayah pulang kerja, ia mendapati wajah Ela murung kembali. Rupanya sol sepatunya lepas lagi di sekolah. Tapi ternyata ada sesuatu yang dibawa ayah untuk Ela sepulang kerja. Sepatu baru untuk Ela.

Buku Ayah
Akhir cerita

Akhirnya, cerita ditutup dengan ucapan terimakasih dari Ela untuk ayah karena sudah membelikan sepatu untuknya. Ayah, Ela, dan ibu pun berpelukan bersama sambil tersenyum bahagia.

Setelah membaca buku, biasanya saya dan anak gadis ini akan mengulas kembali cerita yang tadi dibaca. Sesingkat dan sepemahaman anak saja. Misalnya, saya akan tanya ulang kenapa si tokoh cemberut? Lalu siapa yang mengantar si tokoh ke sekolah? Apa yang dibawakan ayah untuk si tokoh? Dan seterusnya. 

Bagi saya, ini bisa jadi sarana untuk anak lebih bisa belajar mengingat dan memahami isi cerita. Jadi, ada pesan moral yang akan diingat setelah membaca buku. Khusus pada buku ini, saya ingin sampaikan bahwa peran ayah itu ada. Seperti memperbaiki sepatu si tokoh yang lepas, mengantar ke sekolah, lalu membelikan sepatu yang baru. Jadi memang spotlightnya ada di tokoh ayah.


Itu salah satu usaha saya untuk si gadis kecil supaya bisa lebih dekat dengan ayahnya. Di kegiatan sehari-hari pun, saya dan suami sepakat untuk banyak menonjolkan peran si ayah. Misalnya, ketika pulang kerja, saya akan mengajak si gadis ini untuk semangat membukakan pintu rumah dan memanggil ayah dengan suara keras. 

Ketika di rumah asyik bermain dengan seru, saya akan minta ia untuk bercerita pada ayahnya saat pulang kerja nanti. Sampai waktunya akan tidur, saya akan tanyakan "Sudah dicium ayah belum?" dan percaya atau tidak, ini lumayan berdampak lho.

Setiap anak pasti berbeda kan kedekatannya dengan orangtuanya. Ada yang memang otomatis dekat, ada yang memang harus diusahakan lebih dulu. Dan sepertinya, anak gadis kecil ini adalah tipe yang kedua. Yah, gak apa-apa.

19 Maret 2025

Review Buku Why I Love The Earth

Halo!
Beberapa waktu lalu, Wafa, anak saya dikasih buku lagi sama tantenya. Mungkin tantenya sudah tahu kalau Wafa suka baca, makanya begitu ketemu dibawain oleh-olehnya ya buku itu. Tapi memang benar sih, begitu dibuka, Wafa langsung tertarik.

Why I Love The Earth
Buku Why I Love The Earth

Selain karena gambar di covernya yang begitu eye-catching, ukuran bukunya juga besar. Penasaran buku apa? Lanjut bacanya ya!

Judul                : Why I Love The Earth, Celebrating the Earth, in Children's Very Own Words
Ilustrastor         : Daniel Howarth
Penerbit            : Harper Collins Publisher   
Tahun terbit      : 2020
Halaman           : 24 halaman
Jenis                 : Hard cover

Bentuk Fisik

Dengan ukuran 25x25cm buku ini jadi buku ke dua Wafa yang berukuran besar. Covernya dibuat tebal jenis hard cover, laminasi mengkilap tapi sayangnya ujung-ujung bukunya tidak terlalu tumpul melingkar khas buku anak-anak. Jadi ya harus agak hati-hati karena agak tajam.

Gambar di cover mewakili bahasan yang ada dalam bukunya. Berupa ilustrasi beberapa hewan sedang bergandengan tangan dan tampak ceria. Disinilah poin pertama letak ketertarikan Wafa. Ada gambar gajahnya, hewan kedua yang disukai Wafa setelah kucing.

Tapi lucunya, kalau lihat patung gajah dengan ukuran aslinya, Wafa malah takut untuk mendekat. Mungkin karena ukurannya yang super besar untuk dia, ditambah warnanya yang gelap. Karena memang pernah diajak ke bandara yang ada patung gajah disana. Dari jauh sih Wafa sudah nunjuk-nunjuk tuh patung, katanya mau foto juga sama gajah. Pas didekati, kok malah takut dan minta gendong ibuknya.

Why I Love The Earth
Wafa baca buku

Balik lagi ke buku ini, selain cover dengan gambar yang menarik, warna dasar bukunya juga cerah tapi teduh. Dominan biru yang senada dengan isi bahasan tentang bumi. Jenis covernya adalah hard cover dengan laminasi mengkilap. Tapi sayangnya ujung-ujung bukunya tidak dibuat melingkar tumpul, tapi tetap menyudut. Jadi ya memang harus lebih hati-hati sih agar tidak kena goresan kertas.

Bagian dalam buku menggunakan kertas art paper yang cukup tebal, mungkin sekitar 190gsm. Dengan ketebalan kertas seperti ini, seharusnya buku ini cukup kokoh ya. Tapi tetap saja, anak saya berhasil menyobeknya. Mungkin awalnya tidak sengaja karena berniat membuka halamannya, tapi karena ukurannya yang lumayan besar, jadi agak susah dan alhasil sobek deh.

Karena menggunakan art paper yang agak mengkilap, buku ini jadi mudah dibersihkan kalau terkena coretan pensil atau krayon. Tinggal hapus pakai karet penghapus biasa, hasilnya bisa hilang coretannya walaupun gak bisa bersih banget seperti sedia kala.

Isi Cerita

Sesuai dengan judulnya, buku ini bercerita tentang berbagai alasan kenapa mencintai bumi. Memakai sudut pandang anak-anak, kalimat yang digunakan sangat sederhana. Hanya satu baris kalimat di setiap dua halaman terbentang. Satu kalimat itu berisi satu alasan.

Oh iya, ini buku full bahasa Inggris karena memang terbitan luar negri dan tidak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Tapi, karena memang kalimatnya pendek-pendek dan sederhana, saya bisa langsung paham dengan sekali baca dan langsung bisa dimengerti oleh Wafa.

Nah, saya juga selalu membacakan judul bukunya dalam bahasa aslinya. Jadi, ketika Wafa minta dibacakan buku, saya akan tanya judul bukunya apa, dan ia akan menjawabnya dengan 'ku ert' (buku earth).

Halaman pertama diawali dengan kalimat,

I love the earth because... it's the planet where we live.

Dengan ilustrasi beberapa hewan sedang mengelilingi meja belajar di dalam kelas, lengkap dengan guru kelinci dan alat-alat peraganya. Nah, dari awal ilustrasi ini, saya sudah bisa membuat banyak model cerita untuk Wafa.

Misalnya, saya bacakan dulu kalimatnya dalam bahasa aslinya, kemudian saya terjemahkan. Lalu, saya eksplor imajinasinya dengan menyebutkan hewan-hewan yang ada disana. Sebagian hewan itu sudah Wafa kenal, tapi ada juga yang belum ia kenal, seperti rakun. Saya juga bisa menceritakan ada kegiatan apa disana, misalnya sedang belajar tentang bumi, matahari, bulan, bintang dan lain-lain. 

Karena Wafa juga sudah mengenal alat tulis, saya juga bisa bercerita tentang kegiatan tulis-menulis di halaman ini. Di lain waktu, Wafa bisa menirukan gaya beberapa hewan ini, seperti menggambar bumi, katanya.


Di halaman selanjutnya, gaya bercerita saya pun sama. Membacakan kalimat yang ada di dalam buku, menerjemahkannya, kemudian membuat narasi atau pertanyaan sendiri dengan melibatkan Wafa. Jadi, ketika membaca buku, dia juga harus aktif baik menunjuk gambar yang ada atau menjawab pertanyaan sederhana dari saya, semudah 'Wah, hewan apa ini ya?' dengan nada yang sesemangat mungkin.

Why I Love The Earth
Why I Love The Earth

Oh iya, saya juga sering mengaitkan gambar di buku yang ia baca dengan kegiatan Wafa sehari-hari atau keadaan sekitar yang bisa membuatnya merasa lebih dekat dengan tokoh di buku itu. Misalnya, pada halaman dengan gambar pohon-pohon tinggi yang daunnya terbang tertiup angin. Saya akan memberi gambaran secara nyata bagaimana angin bisa membuat daun-daun bergoyang, jatuh, dan terasa sejuk di kulit.

Saya akan mengajaknya melihat keluar dimana ada pohon yang secara nyata daunnya bergoyang ditiup angin. Jadi, dia bisa berimajinasi sekaligus merasakan langsung apa yang diceritakan dalam buku. 

Misalnya lagi, pada halaman dengan gambar beberapa hewan sedang makan bermacam buah. Begitu saya ceritakan apa saja yang ada disana, Wafa sudah bisa meminta satu buah yang ia hafal, jagung. Dan memang benar sih, begitu saya kasih jagung rebus, ia bisa makan dengan lahap sambil melihat gambar di buku. Katanya, biar sama makan jagung, hehe.

Why I Love The Earth
Why I Love The Earth

Dengan buku juga, saya biasanya memperkenalkan nama-nama buah dan sayur. Jadi, semakin penasaran dia, semakin ingin makan, dan syukurnya ia jadi lebih mudah dikenalkan dengan makanan baru yang teksturnya makin lama makin menantang.

Secara umum, buku ini bagus banget. Bisa dibacakan ke anak dengan usia mulai dari 18 bulan sekaligus memperkenalkan konsep alam semesta secara sederhana. Dari buku ini, Wafa jadi tahu gambar bumi, keadaan alam di sekitarnya, dan kegiatan-kegiatan yang dilakukan selama ini.

Gambar-gambar di dalam buku ini juga bisa membuat anak lebih fokus karena hanya terdapat satu pokok bahasan dalam setiap halaman terbuka dan sangat minim kalimat. Bentuk gambar, warna, serta penggambaran suasananya juga sangat jelas.

Satu hal lagi yang menarik dari buku ini adalah cara mengakhiri ceritanya. Di halaman terakhir, digambarkan beberapa hewan sedang bergandengan tangan (gambar sama dengan yang ada di bagian cover depan). Diiringi dengan kalimat,

Everyone loves the earth, especially...

Ketika kita membalik halamannya, ada bagian di halaman itu untuk ditempeli foto dengan lanjutan kalimatnya,

...Me!

Why I Love The Earth
Why I Love The Earth

Bagian inilah yang juga sangat disukai Wafa. Ia akan sangat bersemangat menunjuk fotonya sambil berteriak, mi!

Saya rekomendasi buku ini deh untuk si kecil yang suka baca buku dan eksplor dunia di sekitarnya. Beneran bagus. Dan kalau sudah dicoba bacakan untuk si kecil, tulis tanggapannya di komentar bawah ya!

14 Maret 2025

Review Buku Peep Inside A Bird's Nest

Halo!

Semenjak anak saya lahir, preferensi pembelian buku saya jadi berbelok ke buku anak. Sekali lagi, saya ingin anak saya mencintai kegiatan membaca.  Makanya gak heran kalau buka e-commerce, iklan yang muncul sebagian besar ya buku anak-anak.

Peep inside bird's best
Peep inside a bird's best

Hampir semua buku yang sudah anak saya punya terbitan lokal dengan jenis buku yang beragam, baik boardbook maupun buku biasa. Dan meskipun anak saya masih di bawah 2 tahun, tapi buku-bukunya ada yang sebenarnya untuk usia di atas itu. 

Pastinya, itu karena waktu itu saya belum begitu paham bagaimana memilih buku untuk bayi, mana buku untuk balita, dan mana buku untuk anak-anak yang sudah lebih besar.

Sampai ketika saya menemukan satu jenis buku anak yang langsung membuat saya ingin membelinya. Buku peep inside dari Usborne. 

Judul            : A Bird's Nest
Penulis         : Anna Milbourne
Penerbit       : Usborne Publishing
Halaman      : 14 halaman
Jenis buku   : Boardbook dan peep inside

Yuk kita kupas satu per satu! 

Bentuk Fisik

Pandangan pertama memang mempesona. Itulah yang saya alami ketika pertama kali melihat buku ini berseliweran di beranda e-commerce andalan saya. Halaman bukunya itu bisa dibuka lagi per bagian gambarnya. Jadi seperti kita bisa melihat lebih detail lagi apa yang diceritakan. Bagi saya itu satu poin awal yang memikat.

Ukuran bukunya juga sedang. Dengan ukuran 16,5x19,5cm, ukuran ini hampir sama dengan beberapa buku boardbook yang sudah anak saya punya. Ukuran segini tuh pas banget untuk dia baca, malah kalau dilihat lagi, agak lebih ramping sih daripada boardbook terbitan lokal itu.

Ujung-ujung bukunya juga dibuat tumpul sehingga lebih aman dan mencegah kulit anak tergores. Satu hal yang sedikit membedakan dari boardbook lokal adalah jenis kertasnya. Di buku ini, laminasinya tidak mengkilap dan licin, tapi tetap halus dan mudah dibersihkan.

Isi Cerita

Sesuai dengan judulnya, buku ini membahas tentang sarang burung. Tidak hanya satu jenis burung saja, tetapi ada beberapa jenis burung yang dibahas. Dan buku ini tuh bukan jenis buku cerita yang ada tokoh hidupnya seperti fabel ya, tapi lebih pada buku pengetahuan yang disusun secara menarik dengan gambar yang seperti aslinya.

Dan karena memang buku ini terbitan dari luar Indonesia dan tidak diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia, jadi ya pakai bahasa Inggris. Lumayan sih agak mikir pada beberapa bagian karena si ibuk ini bahasa Inggrisnya pas-pasan, haha.

Peep inside bird's best
Bagian telur itu bisa dibuka lipatannya

Sebagai pembuka, pada halaman pertama disuguhi kalimat pengantar yang menurut saya bagus dan kalau dibacakan terjemahannya akan membuat si anak penasaran.

It's springtime, and this little bird is flying to and fro, collecting twigs to build something.

Kemudian diteruskan dengan perintah membuka bagian buku bergambar daun yang setelah dibuka, terlihatlah dua ekor burung sedang membangun sebuah sarang di atas pohon.

Selanjutnya mulailah diceritakan si burung ini mengerami sesuatu yang ada di sarangnya itu, yang tidak lain adalah telur-telur burung. Cerita berlanjut ketika telur-telur itu mulai retak dan menetas, menjadi anak burung, lalu kedua orangtuanya sibuk memberi makan dan membersihkan kotorannya.

Di halaman selajutnya, perpindahan tokoh diceritakan secara halus dan mengalir, yaitu banyak jenis sarang burung, dari yang berukuran sangat kecil (di buku ini sarang burung kolibri) hingga sarang burung berukuran besar (lebih tepatnya perkumpulan sarang atau banyak burung yang bernaung di satu tempat yang sama, seperti burung manyar-manyaran).

Peep inside bird's best
Burung lain yang diceritakan

Tidak hanya jenis burung yang secara gamblangnya bisa terbang saja yang membuat sarang, tetapi dalam buku ini diceritakan juga tentang sarang lain. Misalnya sarang bebek yang lebih banyak ditemukan di dekat perairan. Juga sarang burung flamingo yang tidak terbuat dari ranting-ranting pohon, tetapi dibuat dari lumpur. Serta, ada jenis burung yang tidak mempunyai sarang, misalnya di buku ini adalah pinguin.

Some birds don't have nests at all. How do emperor penguins keep their eggs warm in all this snow?

Dan petunjuknya adalah membuka bagian kaki penguin dewasa, disanalah telur-telur penguin berada untuk membuatnya tetap hangat di lingkungan bersalju.


Di halaman terakhir, diceritakan tentang akhir dari sebuah sarang burung yang ketika tidak lagi ditinggali burung, maka akan ada keluarga hewan lain yang akan menempati. Siapakah mereka? Ya! Keluarga tupai.

Bagian-bagian yang saya ceritakan ini adalah bagian buku yang bisa dibuka tutup lipatannya sehingga bisa dilihat secara lebih detail lagi. Misalnya, pada bagian telur burung yang mulai retak dan menetas, ketika dibuka, maka akan terlihat anak-anak burung yang menggemaskan.

Secara umum, buku ini sangat menarik, terutama karena ada bagian peep inside itu. Jadi, kita sebagai yang membacakan cerita bisa bertanya dan memancing rasa penasaran si anak tentang buku ini. Saya sendiri ketika membacakannya, sebisa mungkin lebih antusias dari si anak. Jujur ya, membacakan buku ini tuh terasa lebin interaktif karena ada bagian yang disembunyikan dulu, baru terlihat ketika sudah dibuka lipatannya, tinggal pintar-pintar yang bercerita aja sebenarnya.

Peep inside bird's best

Saya juga menyukai detail kecil yang ada dalam buku ini. Misalnya, ada bagian gambar daun yang bolong karena dimakan ulat, anak saya bisa menemukannya dan bertanya kenapa ini bolong (tentu saja dengan bahasa dia). Gambar kumbang ladybug, capung, lebah, dan semut, anak saya bisa mencocokkannya dengan para serangga asli yang pernah dia temui di atas rumput depan rumah saya.

Oh iya, ada satu keunggulan buku ini. Di bagian cover belakang buku ini terdapat QR code yang bisa discan dan langsung menuju situs resminya untuk melihat secara langsung kehidupan burung-burung di sarangnya. Saya sudah mecobanya dan memang sama persis dengan ilustrasi dalam buku ini.

Tapi, mungkin buku ini bisa saja kurang cocok dibacakan pada anak yang usianya kurang dari 1 tahun karena beberapa hal. Pertama, gambar pada buku ini terlihat begitu penuh sementara anak-anak di usia itu lebih bisa menerima ilustrasi yang sederhana. Kedua, warna ilustrasi ini tidak terlalu kontras. Memang buku ini berwarna warni, tapi karena gambarnya penuh, jadi warnanya ya terlihat terlalu ramai. Ketiga, ceritanya sudah lebih kompleks. Kalimatnya cukup panjang untuk usia 1-2 tahun.


Tapi kembali ke masing-masing sih ya. Kalau saya sendiri, jujurnya malah pengen beli seri lain karena buku terbitan usborne yang peep inside ini banyak judul lain. Tinggal menyesuaikan saja dengan kebutuhan membaca dan pengetahuan si anak. Bagi saya juga makin tertantang karena harus mikir lagi untuk bercerita tersebab pakai bahasa asing begini.

Nah, gimana? Tertarik untuk kasih buku ini untuk si kecil? Yakinlah, mereka pasti suka karena ada aktivitas lain selain membaca bukunya, yaitu membuka dan menutup bagian detailnya.

08 Maret 2025

Review Buku Anak "Aku Mau Tau Semua! 1"

Halo!
Orang yang sudah mengenal saya sejak lama, mungkin sudah tahu kalau saya ini gemar sekali baca buku. Hampir semua jenis bacaan saya lahap. Mulai dari majalah, novel, cerpen, puisi, sampai bacaan non fiksi seperti pengetahuan umum dan artikel lepas. Memang bukan kutu buku banget sih, tapi setidaknya, kalau ada uang jajan lebih, saya mending investasi ke buku daripada makanan atau pakaian.

Kalaupun memang buku itu cuma sekali dibaca, jenis novel atau fiksi lain misalnya, ya gak apa-apa. Juga kalau ada orang bilang, belanja buku cuma dibaca sekali, selebihnya nganggur. Hm, kata siapa nganggur? Buktinya banyak buku saya yang raib entah kemana karena sering dipinjam sana-sini tapi kelupaan gak balik, huhu. Artinya, selepas saya membaca, masih ada orang lain yang mungkin bisa membacanya juga tanpa harus beli, ya kan?

Buku aku mau tau semua
Buku Aku Mau Tau Semua


Nah, semenjak saya jadi ibu, saya juga ingin menularkan kegemaran membaca saya ini. Bukan terobsesi ke anak harus punya selera dan kesukaan yang sama sih, tapi lebih pada berusaha menanamkan budaya membaca sedari dini.

Meskipun gak mungkin ya anak-anak sekarang itu gak pegang gadget, tapi saya ingin mengarahkan dan mengusahakan agar anak mencintai buku dan kegiatan membaca dulu. Jadi gadget pun bisa digunakan sebagai penambah wawasan dan bukan sekedar media tontonan video singkat yang gak jelas.

Ada beberapa buku yang saya belikan untuk anak perempuan saya. Mulai dari boardbook hingga buku biasa. Jujur, awal-awal memilihkan buku untuk anak itu, gak ada bayangan seperti apa. Paling cari aja pakai kata kunci buku anak. Ya banyak yang keluar. Salah satunya adalah buku berjudul Aku Mau Tau Semua ini.

Judul           : Aku Mau Tau Semua! 1
Penulis        : Aisyah W. Wardani dan Sulistiyo Wibowo
Halaman     : 108 Halaman
Cover          : Hard cover
Penerbit       : Visi Mandiri

Bentuk Fisik

Berbeda dari beberapa buku yang anak saya punya, buku ini punya ukuran yang super besar. Dengan ukuran 25x25cm, dia seperti membaca buku jumbo seukuran sepertiga tinggi badannya, hehe. Kebayang kan kalau kita orang dewasa disuguhi buku berukuran setengah meter?

Bagian cover dibuat tebal dengan lapisan karton dan sentuhan akhir laminasi glossy sehinnga mudah dibersihkan jika terkena kotoran atau cipratan air. Ilustrasi bagian cover juga mewakili pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam isi bukunya. 

Warna yang cerah dan kontras juga membuat anak lebih tertarik dan penasaran. Jangankan anak-anak, saya yang sudah berumur aja penasaran kok. Oh iya, dari judulnya, ini menandakan bahwa buku ini punya seri lebih dari satu. 

Buku aku mau tau semua
Bagian dalam buku

Lanjut ke bagian isi buku, rupanya kertas yang digunakan adalah kertas hvs biasa namun dengan ketebalan yang cukup sehingga tidak mudah lecek dan warna tetap cerah. Tapi ya memang kurang cocok sih untuk anak di bawah 3 tahun, karena rawan sobek. Walaupun sudah hati-hati juga, tetep aja ada celah untuk sobek pas membuka halamannya. 

Waktu anak saya pertama kali dibacakan buku ini sekitar usia 12 bulan, dia masih belum paham bagaimana membuka halaman dengan benar, masih barbar banget. Semakin kesini, saya ajarkan terus untuk membuka halaman dari ujung bawah buku satu per satu agar tidak sobek. Syukur, dia makin bisa dan meminimalisir sobekan.

Bagian ujung-ujung buku dibuat membulat tumpul, jadi aman dan menghindari luka goresan. Secara umum, desain fisik buku ini oke banget dan eye catching. Font judul di cover besar, tulisan di bagian isi juga besar dan berwarna warni di setiap judulnya.


Isi Buku

Kita lanjut ke bagian isi buku ya. Sesuai dengan judulnya, buku ini berisi pengetahuan dasar yang seringkali jadi pertanyaan dari anak. Tahu sendiri kan namanya anak kecil itu rasa pengen tahunya itu banyak banget. Jujurnya, saya sendiri juga kadang bingung gitu kalau ditanya sama ponakan tentang hal-hal yang ada di sekitar kita sehari-hari.

Misalnya, kenapa sih kucing punya kumis? Atau kenapa kentut itu bau? Dan sebagainya. Memang sih anak saya belum sampai di fase bertanya 'kenapa', masih di fase sering bertanya ini apa atau itu apa.  Tapi, untuk anak yang lebih besar lagi, yang sudah lancar bicara dan sudah pandai mengamati keadaan sekitar, pasti akan muncul pertanyaan 'kenapa begini, kok bisa begitu?'. Karena memang, sebenarnya saya beli buku ini termakan promo sedang diskon juga waktu itu haha.

Nah, bagian isi dalam buku ini terbagi menjadi tiga kategori. Tubuh, hewan, dan fenomena alam. Masing-masing kategori terdiri dari pertanyaan dan jawaban uraian, lengkap dengan ilustrasi yang membuat anak makin mudah memahaminya.

Buku aku mau tau semua
Kategori Tubuh

Selain ada penjelasan atas pertanyaan yang ada, di buku ini juga dituliskan beberapa tips tambahan yang berkenaan dengan apa yang sedang dibahas. Misalnya, pada kategori tubuh, ada pertanyaan "Kenapa aku berkeringat?" setelah ada penjelasannya, dituliskan juga tips mencegah keringat berlebih.

Di bagian lain misalnya ada pertanyaan "Mengapa ada upil di hidung?" juga disertai penjelasan dan beberapa poin bagaimana cara membersihkan upil.

Buku aku mau tau semua
Kategori Hewan

Secara umum, buku ini sangat cocok untuk dibacakan pada anak yang usianya di atas 3 tahun karena memang di usia tersebut anak sedang dalam fase bertanya mengapa. Kalau bahasa saya, sedang dalam fase menghubungkan sebab akibat, dan menganalisa secara sederhana gitu. Untuk anak dengan usia di bawah 3 tahun mungkin bisa saja ya, tapi lebih baik disampaikan dengan bahasa yang lebih sederhana.

Buku aku mau tau semua
Kategori Fenomena Alam

Dari pengalaman saya pribadi, saya bacakan ke anak yang masih berusia di bawah 2 tahun, belum terlalu paham konsep kenapa. Jadi, paling hanya saya tunjukkan ini gambar apa dan bagaimana bisa terjadi.

Misalnya pada pertanyaan "Mengapa kulitku bentol saat digigit nyamuk?", saya akan ceritakan dengan singkat kalau digigit nyamuk itu kulit bisa bentol-bentol merah seperti di gambar. Saya juga tunjukkan bagian tubuhnya yang memang digigit nyamuk. Jadi dia bisa paham dan menyamakan informasi yang ada dalam buku dengan yang terjadi sebenarnya.

Lalu misal pada kategori hewan, ada pembahasan tentang kenapa ayam tidak bisa terbang. Saya sederhanakan saja dengan menunjukkan ada gambar apa saja disana sambil memintanya mengambil mainan ayam yang dia punya.

Ajaibnya, hal itu berefek baik lho. Dia jadi bisa menyamakan setiap informasi yang ada dalam buku dengan yang ada di sekitarnya di kemudian hari. Saya juga dibuat terkesan, saat suatu siang dia mengajak saya melihat ke arah bunga dari jendela sambil bilang "Mbun mbun mbun". Saya sempet bingung apa yang dimaksudnya, tapi saat saya tahu dia sedang membaca buku ini, saya baru mengerti. Rupanya dia ingin melihat embun di atas bunga. Saya baru ingat beberapa hari sebelumnya, saya menunjukkan ada embun disana.

Buku aku mau tau semua
Buku aku mau tau semua

Kesimpulannya, buku ini bisa jadi referensi untuk menambah pengetahuan dasar bagi anak-anak, juga bekal untuk orangtuanya yang kadang bingung kasih jawaban atas pertanyaan random anak-anak. Nah, bagaimana? Tertarik untuk membelikan buku ini untuk si kecil juga?

06 Maret 2025

Resensi Buku "Aku Suka Menghabiskan Makananku"

Halo!

Di postingan saya beberapa waktu yang lalu, saya sempat menulis tentang minimnya drama MPASI untuk si bayi saya. Gadis kecil ini sekarang sudah hampir 2 tahun dalam beberapa bulan lagi. Memang perjalanan MPASI gak semulus pipinya bayi, ada dramanya juga. Dan, saya baru menyadari dalam rentang usia 12-20 bulan, drama saat makan juga makin beragam.

Buku aku suka menghabiskan makananku
Buku aku suka menghabiskan makananku

Drama awal yang tadinya mungkin hanya peningkatan tekstur, diacak-acak, disembur, pengenalan rasa, dan awal-awal tumbuh gigi, sekarang bertambah lagi mulai ingin makan sambil bermain, serta makan yang gak habis di satu porsinya.

Jujur ya, kalau anak makan sedikit dan gak habis padahal porsinya itu sudah minim sekali rasanya jiwa ibu ini pengen emosi gak sih? Haha. Apalagi kalau masaknya sudah menguras waktu, tenaga dan semangat. Hanya orang-orang yang terbiasa menyuapi anak makan saja yang tahu rasanya.

Sebenarnya sadar sih kalau ada fase dimana anak memang gak nafsu makan. Ya sama lah ya dengan orang dewasa. Mungkin lagi gak enak badan, menu yang tidak sesuai lidah, rasa gak nyaman pas tumbuh gigi, atau bosan makan di tempat dan suasana yang sama setiap hari.

Kalau sudah begitu, segala cara bisa ditempuh demi ada makanan yang masuk dalam mulut anak. Bisa dengan ganti tempat, ganti piring makan, ganti sendok, ganti menu, dan jalan terakhir sambil bermain menyuapi 'teman-teman' boneka dan bercerita.


Kita Kulik Bukunya


Beruntungnya, saya ada buku cerita anak dengan tema yang cocok banget di saat-saat seperti ini. Judulnya Aku Suka Menghabiskan Makananku. Buku pemberian adik saya ketika si bayi ini usia 12 bulan lalu.

Judul           : Aku Suka Menghabiskan Makananku
Penulis        : Wiwien Widyawanti
Halaman     : 20 halaman
Cover          : Hard cover
Penerbit       : DAR! Mizan

Kita mulai dari bentuk fisik buku dulu ya. Seperti buku anak pada umumnya, buku ini berjenis boardbook yang punya cover tebal dan kokoh. Isi dalam buku juga tebal sehingga tidak mudah sobek. Tahu kan bagaimana prilaku anak usia 12-24 bulan itu saat dibacakan buku? 

Ujung-ujung bukunya juga tumpul untuk meminimalisir goresan pada kulit anak. Baik cover maupun isi dalamnya juga sudah dilapisi doff mengkilap dan halus.

Jujurnya saya baru sadar kalau ada pelapis begini, mudah untuk dibersihkan. Apalagi, beberapa waktu belakangan, anak saya ini gemar corat coret pakai krayon. Termasuk corat coret di bukunya ini. Tinggal hapus pakai penghapus karet biasa, bersih lagi. Asal bukan dicoret pakai pena aja, hihi.

Ukuran buku 17x17cm menurut saya pas banget untuk anak. Gak kebesaran atau kekecilan. Jadi mudah dibawa dan kalaupun dia ingin baca sendiri, gak susah.

Lalu, Buku Ini Bercerita Tentang Apa?


Tokoh dalam buku ini bernama Bolli. Berwujud seekor anak kucing bersama dengan kedua orangtuanya. Mungkin memang buku ini sudah berjodoh dengan anak saya ya, dia itu suka banget sama kucing. Gak heran, begitu buka lembar pertama, dia sudah antusias karena sudah kenal baik dengan karakter dalam bukunya.

Buku aku suka menghabiskan makananku
Buku aku suka menghabiskan makananku

Cerita dimulai dengan suasana pagi di meja makan. Bolli tiba-tiba tidak ingin menghabiskan makanannya. Ayah dan ibunya bergantian menanggapi dengan baik dan lembut sehingga Bolli setuju untuk menghabiskan kembali makanannya.

Cerita berlanjut saat istirahat di sekolah. Bolli dan teman-temannya -tidak hanya kucing, tapi juga ada kelinci, ayam, dan lain-lain- mulai membuka isi bekal mereka dengan riang gembira. Hingga tiba-tiba ada seekor bebek yang mengamati mereka dari luar pagar sekolah. 

Bolli dan teman-temannya menghampiri dan pada akhirnya mereka berbagi makanan. Cerita ditutup dengan bahagia dan menampilkan Ibu guru kuda yang memuji mereka karena sudah menghabiskan bekal dan berbagi pada sesama.

Buku aku suka menghabiskan makananku
Buku aku suka menghabiskan makananku

Bagi anak saya, cerita di buku ini ada pengaruhnya, apalagi di saat dia malas makan atau baru makan beberapa suap tapi sudah malas melanjutkan. Saya pasti mengulang cerita Bolli ini. Syukurnya, dia mau lanjut makan walaupun memang adakalanya ya gak mempan juga, haha.

Selain sebagai bahan cerita untuk membentuk sikap baik pada anak, buku ini juga bisa menjadi media melatih fokusnya. Ilustrasinya menarik, warnanya kontras, dan hanya ada satu sesi cerita dalam setiap 2 halaman terbuka. Jadi perhatian anak bisa tetap terkontrol dengan baik.

Satu lagi, saya suka ilustrasinya karena memang benda-benda dan tokohnya sudah tidak asing bagi si anak. Misalnya ada piring, gelas, botol minum, sampai telur ceplok dan nasi goreng di atas meja. Ilustrasi di sekolah juga sederhana dan mudah dikenali oleh anak, misalnya ada bendera dan arena bermain.

Oh iya, buku ini juga sudah menggunakan dua bahasa dalam ceritanya untuk melatih kemampuan berbahasa anak. Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Tapi kalau untuk yang ini, anak saya masih belum terlalu paham sih karena memang ayah dan ibunya juga jarang banget ngobrol dan ngajak ngomong pakai bahasa Inggris. Jadi sewaktu dibacakan pakai bahasa Inggris, ya reaksinya biasa-biasa aja, diam, dan mungkin dalam hatinya si ibu lagi ngomong apa sih, gitu kali ya, hehe.

Buku aku suka menghabiskan makananku
Buku aku suka menghabiskan makananku

Karena memang beda banget sih reaksinya ketika saya menceritakannya dalam bahasa Indonesia. Misalnya saja saat si Bolli mengajak Cici teman kelincinya menghampiri Beki, disana ada percakapan,
"Cici, Beki melihat kita terus. Kita hampiri yuk!"

Anak saya akan langsung bereaksi dengan bilang "Gak" sambil menggeleng (padahal gak pernah saya ajari untuk jawab percakapan seperti ini, ahaha. Kok bisa-bisanya dia jawab begitu, duuhh!). Berbeda dengan ketika saya membacakan ceritanya dalam bahasa Inggris, dia tidak akan bereaksi (ya mungkin karena belum paham apa yang saya katakan).


Tapi, gak apa-apa. Melihat dia paham apa yang dibacakan untuknya saja, saya sudah merasa bahagia, apalagi kalau ada bonusnya dia paham juga dalam bahasa asing.

Membaca Buku Anak Ala Saya

Buku aku suka menghabiskan makananku
  • Saya selalu membacakan buku dengan nada bercerita, bukan hanya membaca datar. Bahkan saya juga sering membedakan suara tokoh-tokoh di dalamnya, apalagi kalau tokohnya hewan. Intonasi juga harus pas agar cerita mengalir dan mudah ditangkap oleh pola pikir si anak. Misalnya, saya akan meniru adegan berbisik sambil bersuara pelan yaang ilustrasinya ada di halaman 13.
  • Saya juga selalu menunjuk objek secara detail dan memancing keingintahuannya. Misalnya, ada bagian Bolli dan Bunda pergi ke sekolah naik sepeda dengan ilustrasi jalan yang banyak arahnya. Saya akan bercerita sambil menunjuk jalannya melewati apa aja. Amazing, saya pernah mendapati anak saya membaca buku sendiri sambil meniru gaya saya.
  • Di buku ini banyak sekali yang bisa digali dengan anak. Misal, ada objek apa saja di sekolah, makanan apa saja yang dibawa, dan hewan apa saja teman-teman Bolli ini. 
Buku aku suka menghabiskan makananku
Anak saya membaca buku

Secara umum, buku ini bagus dan cocok untuk pengenalan bersikap baik bagi anak, khususnya di usia pra sekolah dan mulai sekolah TK. Masyaallah.

Nah, kalian tertarik untuk bacakan buku ini pada si kecil juga? Tulis di kolom komentar ya!

23 Oktober 2024

Review Buku Anak "Aku dan Tubuhku"

Semenjak Wafa lahir, prioritas buku saya jadi teralih ke buku anak-anak. Jujurnya, dulu saya gak begitu paham dengan macam-macam buku anak ini. Tapi seiring saya membersamai Wafa, segala iklan, rekomendasi tayangan dan sebagainya yang berseliweran di beranda sosmed saya isinya kebanyakan buku dan baju anak, haha.

Wafa juga suka kalau dibacakan buku, apalagi kalau temanya dekat dengan keseharian atau tokoh-tokohnya mudah diingat. Jadilah si ibu ini makin pengen beliin banyak buku untuk dia. Tapi untuk fasenya dia sekarang, kudu pinter milih dari segi bahan, tema, dan ilustrasinya. 

Buku Aku dan Tubuhku
Buku Aku dan Tubuhku

Kali ini, saya mau sedikit kupas salah satu buku yang Wafa punya. Judulnya, Aku dan Tubuhku.

Judul           : Aku dan Tubuhku
Penulis        : Beby Haryanti Dewi
Halaman     : 20 halaman
Cover          : Hard cover
Penerbit       : Pelangi Mizan

Buku ini mengusung tema kemandirian dan sesuai dengan judulnya, berisi tentang pengenalan nama-nama anggota tubuh serta fungsinya. Halaman pertama diawali dengan pengenalan empat orang anak dengan fisik dan karakter yang berbeda. Dua orang anak laki-laki dan dua orang anak perempuan.

Kata sapaan pertama juga mudah sekali diingat,

"Halo! Ini aku." Saya membacakannya sambil melambaikan tangan dan tersenyum. Eh, Wafa jadi ikutan setiap kali membuka buku ini.

Buku Aku dan Tubuhku
Halaman pertama

Di halaman selanjutnya barulah dirinci apa saja anggota tubuh yang dipunyai serta fungsinya masing-masing. Tentunya tetap dengan kalimat singkat dan mudah dipahami. Misalnya, mata bisa mengerling dan bisa digunakan untuk melihat kucing. Tangan bisa bertepuk dan menari mengikuti irama. Begitu juga dengan anggota tubuh lainnya.

Di halaman akhir, ada 'evaluasi' untuk si kecil berupa pertanyaan untuk menyebutkan anggota tubuh dari potongan gambar yang ada. Nah, karena Wafa belum bisa bicara, maka dia hanya bisa menunjukkan anggota tubuhnya. Misal gambar kaki, maka dia akan tunjukkan kakinya.

Secara fisik, buku ini berbahan karton tebal (boardbook), mengkilap baik sampul maupun isinya, dan dengan pinggiran buku tumpul. Ini sudah cocok banget untuk usia Wafa yang kalau baca buku tuh suka bolak balik secara barbar. Bahan buku yang tebal gak mudah sobek, gak mudah terlipat, jadi bisa awet. 

Dengan ukuran 17cm x 17cm, menurut saya buku ini sudah pas dibaca. Gak kebesaran atau gak kekecilan. Ilustrasinya juga besar, warna cerah dan kontras, serta fokus pada temanya. Bagi saya, ini lumayan penting karena tingkat perhatian bayi kan mudah terdistraksi ya kalau terlalu banyak gambar dalam satu halaman.

Buku Aku dan Tubuhku
Gambar yang gerakannya bisa diikuti anak

Secara pribadi, saat saya bacakan buku ini untuk Wafa, dia langsung tertarik karena memang sebelumnya saya sudah sering menyebutkan nama anggota tubuh sambil bermain dan bernyanyi. Oh iya, pertama kali saya bacakan buku ini saat Wafa berusia 12 bulan.

Beberapa kali dibacakan buku ini, Wafa sudah bisa menirukan adegan yang ada di buku hanya dari melihat gambarnya. Misalnya, menendang bola pada pengenalan kaki, dan bertepuk tangan pada pengenalan tangan. Percayalah, di momen seperti ini, semua ibu pasti akan senang dengan detail perkembangan anaknya.

Secara umum, saya menilai buku ini rekomen banget untuk yang ingin mengenalkan anggota tubuh pada si kecil. Banyak yang bisa distimulasi hanya dari membacakan buku ini pada si kecil. 


Tips membacakan buku untuk bayi :

  • Sebelum membaca buku, perlihatkan buku dengan ekspresi yang membuatnya penasaran. Misalnya sambil bilang 'Waahh buku apa ini? Ada gambar pelangi, bintang, eh ini ada siapa ya? (kalau ada gambar tokoh, bisa sebutkan nama si bayi atau saudaranya). Metode ini sangat efektif untuk Wafa.
  • Bacakan kalimat dalam buku dengan se-ekspresif mungkin dan gerakan tubuh yang sesuai. Misalnya, 'Halo' dengan lambaian tangan sambil tersenyum. Kalau ada tokoh, coba sebutkan juga ciri-cirinya. Misalnya pakai baju warna apa, bergambar apa sambil tunjukkan objeknya. 
  • Ceritakan gambarnya, bukan bacakan kalimatnya secara saklek. Di buku ini, kalimatnya sangat singkat dan sedikit karena memang buku anak ya seperti itu. Tapi, saya pribadi akan menambahkan detail dari gambar yang ada. Misalnya, ketika pengenalan mata yang ada gambar seekor kucing, saya akan tambahkan suara kucing. Wafa sendiri, akan langsung menunjuk boneka kucingnya ketika dia melihat gambar kucing di buku ini.
Buku Aku dan Tubuhku
Saya menunjukkan jalannya suara dari mulut ke telinga
  • Membacakan buku sambil menunjuk objeknya. Misalnya, di buku ada pengenalan telinga yang digambarkan dengan si tokoh senang mendengar temannya bernyanyi. Maka saya akan menunjukkan alur suara itu sampai ke telinga si tokoh. Wafa juga akan langsung memegang telinganya sendiri.
  • Tunjukkan gerakan yang ada dalam cerita di buku. Bagi saya ini penting sekali ya. Tujuannya supaya si kecil bisa lebih mengerti apa yang dibahas dan bisa mengekspresikan berbagai keadaan. Senang, sedih, takut, kaget, dan lainnya. 
Buku Aku dan Tubuhku
Wafa yang menirukan tepuk tangan

Oke, siap membacakan buku ini untuk si kecil? Selamat menyaksikan tumbuh kembang yang menyenangkan hati dan pikiran ya bund!

21 April 2023

Review Buku 17 Cerita Anak Hebat

Halo!

Setelah kemarin saya sempat bahas kriteria apa saja yang sebaiknya ada untuk memilih buku bacaan anak, kali ini saya akan mengulas salah satu buku cerita anak yang didalamnya ada tulisan saya juga.

Cerita Anak Hebat
Cerita Anak Hebat

Berjudul 17 Cerita Anak Hebat, buku ini merupakan kumpulan cerita pendek yang ditujukan untuk anak-anak dengan rentang usia 8-12 tahun. Penulisnya dari berbagai kalangan, mulai dari guru, dosen, ibu rumah tangga, dan pekerja lepas namun tergabung dalam satu atap komunitas menulis Forum Lingkar Pena.

Saya kupas satu per satu ya!

Pertama dari segi tampilan fisik dulu. Buku ini dicetak dengan sampul art paper tebal dan isi kertas putih halus berukuran cukup lebar, sebesar kertas A4. Dengan ukuran begini, memang lebih memudahkan untuk membaca sih, lebih leluasa saja.

Sampulnya berwarna biru dengan gambar ilustrasi berupa hand-drawing buatan salah satu penulisnya juga. Tapi sayangnya ilustrasi ini tidak berwarna dan hampir terkesan seperti buku lama. Padahal akan lebih menarik lagi kalau ilustrasinya penuh warna dan lebih modern.

Dari segi layout bagian dalam, buku ini seperti buku kumpulan cerita pada umumnya. Tapi ada tambahan ilustrasi di setiap judulnya. Lagi-lagi, ilustrasinya tanpa warna dan hanya seperti sketsa saja. Bagi saya, cukup sih kalau hanya sekadar bertujuan agar lebih membangun visual dari cerita yang ditulis.

Cerita Anak Hebat
Cerita Anak Hebat

Lagipula, usia anak yang lebih besar dan sudah masuk jenjang sekolah dasar, tidak terlalu fokus juga pada gambar-gambar.

Baca juga : Kriteria Memilih Buku Anak Yang Wajib Bunda Tahu

Dari segi isi, buku ini memang pantas diberi judul Cerita Anak Hebat. Isinya seputar cerita keseharian yang sudah terbiasa dilakukan anak-anak pada umumnya dengan tambahan pesan moral tentunya. Misalnya pada cerita berjudul Janji Reno yang ditulis oleh saya sendiri.

Bercerita tentang seorang anak bernama Reno yang sering bermain Game di komputernya. Suatu ketika, ia bermain game hingga larut malam padahal ibunya sudah mengingatkan agar beristirahat karena besok akan berangkat sekolah. Namun tidak ia hiraukan. Akhirnya, ia mengalami beberapa kesulitan keesokan harinya sampai ia malu pada teman-temannya. Mulai saat itu, Reno berjanji tidak akan mengulangi kesalahannya lagi.

Ada pula cerita yang mengusung kearifan lokal dengan memperkenalkan makanan khas daerah Lampung. Juga cerita tentang saling berbagi dan tolong-menolong.

Secara umum, buku ini memang bisa jadi salah satu sarana untuk menanamkan karakter yang baik pada anak. Karena biasanya, anak-anak memang lebih mudah menangkap kebiasaan yang baik lewat cerita daripada perintah langsung.

Baca juga : Rekomendasi Buku Anak Penuh Pesan Moral

Nah, kalau kalian, buku apa nih yang biasanya dibacakan untuk anak sebagai sarana menanamkan kebaikan? Tulis di kolom komentar ya!

20 April 2023

Buku Untuk Hadiah Pernikahan

Momen menikah merupakan momen bahagia yang tidak hanya dirasakan oleh kedua mempelai saja. Keluarga maupun sahabat juga tidak sedikit yang turut merasa sukacitanya. Untuk melengkapi kebahagiaan itu, seringkali kita memberikan hadiah spesial kepada pasangan pengantin.

Hadiah biasanya berupa uang tunai atau barang-barang yang sekiranya dibutuhkan sang pengantin dalam menjalani rumah tangga mereka di kemudian hari. Misalnya perabotan rumah, perlengkapan atau bahkan barang-barang yang paling disukai sang pengantin. Termasuk buku.

Nah, kalau kalian mau memberikan hadiah buku, kali ini saya akan rekomendasikan buku apa yang cocok sebagai hadiah pernikahan.

1. Panduan Keluarga Sakinah

Seperti judulnya, buku ini bisa dijadikan sebagai panduan untuk membentuk keluarga sakinah menurut Islam. Buku yang ditulis oleh Yazid bin Abdul Qadir Jawas ini mengupas secara detail perihal pernikahan.

Panduan Keluarga Sakinah
Panduan Keluarga Sakinah

Bahasannya pun mudah diikuti karena ditulis per bab. Mulai dari apa itu pernikahan, jenis-jenis pernikahan, tujuan dan manfaat menikah, tata cara pernikahan dalam Islam, hak dan kewajiban suami istri, hingga nasihat untuk suami dan istri.

Dari segi kemasan juga buku ini tergolong mewah karena hard cover dan cantik. Cocok memang sebagai hadiah pernikahan, walaupun sebenarnya lebih cocok dibaca sebelum menikah biar lebih paham sebelum menjalani pernikahan.

2. Drama Mama Papa Muda

Tidak sedikit pasangan yang baru menikah, langsung diberi amanah seorang bayi. Terkadang, hal ini memicu drama tersendiri, apalagi jika yang menikah itu usianya masih terbilang muda. Meski menyenangkan, tapi adakalanya kehadiran sosok mungil yang baru ini bisa membuat kehidupan jauh berbeda.

Drama Mama Papa Muda
Drama Mama Papa Muda

Seperti yang diceritakan dalam buku Drama Mama Papa Muda ini. Buku yang awalnya ditulis dari blog pribadi milik Pungky Prayitno dan Topan Prayitno ini menceritakan keseharian mereka saat berproses menjadi pasangan pengantin muda yang langsung memiliki anak, hingga cara pengasuhannya.

Baca juga : Resensi Buku Drama Mama Papa Muda

Dibalik kebahagiaan memiliki anak, rupanya ada hal-hal yang mengkhawatirkan bagi si istri selepas melahirkan. Postpartum Depression (PPD) atau Baby Blues. Nah, dalam buku ini dijelaskan juga apa itu PPD dan bagaimana cara menghadapinya.

Buku ini cocok untuk hadiah pernikahan, dengan harapan suami istri bisa memahami bagaimana kehidupan rumah tangga itu setelah menikah. Ya bukan hanya lihat senang-senangnya saja, tapi juga drama-drama kecil yang mengiringinya.

3. Indahnya Jika Dipanggil Bunda

Buku selanjutnya yang saya rekomendasikan sebagai hadiah pernikahan adalah Indahnya Jika Dipanggil Bunda. Kalau buku sebelumnya menceritakan tentang suka duka menjalani pernikahan yang langsung diberi momongan, buku ini kebalikannya.

Indahnya Jika Dipanggil Bunda
Indahnya Jika Dipanggil Bunda

Indahnya Jika Dipanggil Bunda merupakan buku kumpulan kisah para pejuang garis dua. Salah satu tujuan menikah memang agar ada keturunan, tapi bukan berarti setelah menikah harus langsung bisa punya keturunan. Takdir Tuhanlah yang menentukan akan punya keturunan atau tidak, cepat atau harus berjuang dulu.

Dalam buku ini banyak kisah perjuangan para perempuan yang ingin memiliki anak setelah menikah. Ada yang berkali-kali hamil namun terus keguguran, ada juga yang sudah berusaha ke banyak dokter namun belum juga membuahkan hasil, atau ada pula yang mengalami beberapa sindrom ketidaksuburan.

Baca juga : Bagaimana Rasanya Jadi Ibu?

Menurut saya, buku ini juga cocok sebagai hadiah pernikahan. Kalau segera mendapat keturunan, maka akan lebih bersyukur karena banyak perempuan diluar sana yang harus berjuang dulu untuk mendapatkannya. Tapi kalau memang belum diberi keturunan, maka bisa lebih legowo karena tidak merasa sendirian.

Oke, menurut kamu buku apa lagi nih yang bisa dijadikan hadiah pernikahan?

19 April 2023

Buku Ringan Penuh Humor Untuk Hilangkan Penatmu

Siapa disini yang belakangan ini melahap buku dengan isi yang berat hingga menjadikan pikiran penat? Hm, coba deh beralih dulu ke buku yang ringan dan penuh humor. Bisa komik, majalah, atau buku ringan yang menceritakan kisah sehari-hari.

Kali ini, saya punya beberapa buku ringan yang siapa tahu bisa membuat hari-harimu sedikit agak santai. Yuk disimak sampai habis ya!

1. Anak Kos Dodol

Ini serial legendaris sih menurut saya. Pertama kali terbit sekitar tahun 2009. Buku yang ditulis oleh Dewi Rieka ini berkisah tentang kesehariannya selama menjadi mahasiswa dan ngekos di Jogjakarta.

Anak Kos Dodol
Anak Kos Dodol

Di halaman awal buku ini ada ilustrasi wajah para tokoh yang akan diceritakan kisahnya, jadi kita bisa sedikit membayangkan bagaimana mimik wajah mereka di setiap peristiwa. Kisah-kisahnya diceritakan per judul dengan peristiwa dan keseruan yang berbeda-beda.

Buku ini asli ringan dan kocak. Walaupun selama jadi mahasiswa saya belum pernah ngekos, tapi saya bisa membayangkan bagaimana serunya anak kosan yang kesemuanya perempuan itu. Ada yang tipe judes, kalem, datar-datar saja, dan tipe orang yang bisa membuat ramai suasana.

Anak Kos Dodol cocok banget dibaca oleh mahasiswa atau alumni yang kangen masa-masa ngekos. Ceritanya beneran bisa membuat otak bernostalgia dan senyum-senyum sendiri.

2. Jakarta Underkompor

Tidak jauh beda dengan Anak Kos Dodol, buku Jakarta Under Kompor juga berkisah tentang keseharian seorang laki-laki yang jadi perantauan di Jakarta. Ditulis oleh Arham Kendari, buku ini berhasil membuat saya tertawa ketika membacanya.

Jakarta Under Kompor
Jakarta Under Kompor

Buku ini merupakan kumpulan dari cerita yang pernah ditulis Arham di blognya. Cerita di buku ini sebenarnya juga biasa dialami oleh orang perantauan, tapi ketika ditulis dengan bahasa yang ringan dan konyol, bisa berubah menjadi cerita yang menghibur.

Kalau dari segi sampul buku sih, jujurnya saya kurang suka aja lihatnya. Tapi isinya menghibur dan saya rekomendasi untuk kalian yang sedang mencari bacaan ringan untuk mengusir penat.

3. Jungkir Balik Dunia Bankir

Sama seperti buku Jakarta Under Kompor, buku Jungkir Balik Dunia Bankir juga awalnya ditulis dari blog pribadi milik Haryadi Yansyah. Ceritanya juga berupa kisah kesehariannya saat bekerja sebagai pegawai salah satu bank di Indonesia.

Jungkir Balik Dunia Bankir
Jungkir Balik Dunia Bankir

Haryadi Yansyah berhasil merebut perhatian saya di halaman awal dengan cara berceritanya di lucu. Bahasa yang dipakai juga bahasa keseharian, jadi terasa lebih dekat dan bisa membayangkan ada di posisinya.

Meskipun buku ini termasuk buku ringan, tapi tetap saja ada pesan-pesan yang bisa diambil setelah membacanya. Oh iya, ulasan lengkapnya sudah pernah saya posting juga kok.

Baca juga : Santai Bareng Buku Jungkir Balik Dunia Bankir

Nah, itu dia beberapa buku ringan penuh humor yang bisa kalian baca untuk sedikit menghilangkan penat. Ada yang punya judul lain? Tulis di kolom komentar ya!