Tampilkan postingan dengan label my wedding. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label my wedding. Tampilkan semua postingan

15 Agustus 2025

Our 10th Wedding Anniversary

Sepuluh tahun aja, dah lama juga ya kita. Keknya baru kemarin ngerasa deg-degan mau nyamperin kamu di hadapan penghulu.



Beratus hari penuh warna. Kadang abu-abu, tapi seringnya merah kuning hijau biru ungu. Kisah ceritanya banyak, kadang dibagi, kadang dipendem sendiri.

Gak ada perayaan besar setiap tahun, tapi kita selalu mengupayakan agar ingatan itu bisa terus ada.

Selamat ulang tahun ke 10 pernikahan kita ya. Bahagia selalu untuk kita 🥰

~15.08.15 - 15.08.25~

15 Agustus 2024

Our 9th Wedding Anniversary

Awal kisah 15 Agustus 2015 masih berlanjut hingga 15 Agustus 2024 dan semoga akan terus berlanjut. Dulu, waktu tahun-tahun awal menikah, setiap kali anniversary, saya akan buatkan semacam video pendek berisi foto-foto kami berdua. Fotonya ini kami ambil di tanggal 15 setiap bulannya. Tapi, pembuatan video foto ini terhenti di tahun ke-4 pernikahan.

Faktornya banyak. Mulai dari foto-foto yang hilang karena ponsel saya sempat rusak dan tidak bisa menyelamatkan foto-foto itu, sampai kesibukan yang lumayan bertambah jadi gak sempat lagi untuk bebuatan video itu. Padahal saya punya keinginan mengumpulkan semua foto di tanggal 15 itu hingga nanti.

Alay? Yah, mungkin, tapi percayalah setiap orang punya semacam sisi kebahagiaan tersendiri yang mungkin tidak bisa dimengerti oleh orang lain, hehe.

Alhamdulillah sudah dua tahun ini kami bertiga. Tahun lalu, bayi kami masih bayi piyik, belum juga genap 3 bulan. Kami juga masih adaptasi menjadi orangtua. Jadi gak ada perayaan apa-apa. Padahal pengen banget foto bertiga dengan niat paling niat. Apalah daya, belum kesampaian.

Nah, tahun ini kok ya sama gak ada perayaan apapun. Bayi kami sudah setahun lebih dua bulan. Sudah banyak tingkah lucunya. Sudah bisa memilih juga mau sama siapa. Juga, kadang sudah gak mau diatur begini begitu. Alhamdulillah masyaallah barokallah. 

Wedding Anniversary Photo

Meskipun tanpa perayaan apa-apa, tapi saya tetap ingin ada bingkai kenangan. Pengennya foto yang estetik gitu. Bela-belain cari referensi foto di Pinterest ya ampun, haha. Dapatlah satu referensi, foto jari jemari kami bertiga yang berjajar. Tapi lagi-lagi gagal estetik. Si bayi gak mau diam barang sebentar. Ya sudahlah jadinya apa adanya begini.

Wedding Anniversary Photo

Foto selanjutnya tentu pengen kelihatan mukanya dong. Nah, menyempatkan dirilah kami ini jepret sekali aja sebelum berangkat ke rumah mbah uti. Ditambah pula suasana sore yang silau, bikin si bayi tambah gak mau senyum. Dahlah benar-benar apa adanya.

Doanya semoga keluarga kami makin sakinah mawaddah warahmah. Aamiin.

15 Agustus 2023

Kado Terindah di Ultah ke 8 Pernikahan

Halo!

Selamat ulang tahun ke delapan untuk pernikahan kita ya! Gak ada perayaan apapun, gak ada tukar kado atau tukar surat cinta, bahkan foto pun alakadarnya. Kenapa? Karena kami sudah punya kado terindah di tahun ini. Iya! Seorang gadis kecil bernama Azkia Wafa Aulia.

Kado Pernikahan
Foto yang benar-benar alakadarnya, haha

Padahal sudah dari lama saya punya angan-angan. Ketika suatu saat kami bisa merayakan ulang tahun pernikahan bersama seorang anak, saya ingin foto yang bagus dan yang niat banget gitu, haha. Rupanya, kenyataan tidak sesuai dengan angan-angan.

Paginya pengen foto bareng, tapi tahu sendiri kan bagaimana riwehnya pagi di hari kerja? Sebelum punya bayi aja buru-buru, apalagi pas sudah punya gendongan ya. Nah, sepulang suami kerja sudah niat tuh mau foto bertiga, tapi lagi-lagi memburu waktu untuk imunisasi si bayi, takut kesorean karena suami pulang sudah hampir jam 5 sore. Pulang imunisasi, eh si bayi kok tidur dalam gendongan, haha.

Apalah daya, gak tega untuk bangunin hanya karena ingin foto. Maka, jadilah foto alakadarnya begini. Cuma ingin jadi pengingat bahwa di tahun ke delapan inilah kami baru dipercaya untuk menimang seorang malaikat kecil.

Doa untuk tahun ke delapan ini masih sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Semoga keluarga kami makin sakinah, mawaddah, warahmah. Memang masih harus terus belajar untuk jadi istri yang baik dan jadi suami yang bijak, apalagi sekarang diamanahi jadi orangtua. Belajarnya harus lebih lagi.

Dah lah, ini nulisnya nyambi dan curi-curi waktu di sela si bayi tidur. Masih beradaptasi dengan situasi yang baru, yang benar-benar berbeda dari sebelum punya bayi. Nanti akan saya tulis sedikit demi sedikit di postingan lain ya, di label ‘Journey to be a Mom’ biar seru, hehe.

Si bayi sudah mulai uget-uget tuh, see you next post ya!

Baca juga : Journey To Be A Mom

15 Agustus 2022

Selamat 7 Tahun Pernikahan

Selamat tujuh tahun pernikahan untuk kita ya!

7th Wedding Anniversary
7th Wedding Anniversary

Gak buat project apa-apa tahun ini, padahal dari sebulanan yang lalu ada rencana untuk tukar kado gitu. Seru-seruan aja sih, biar kayak anak muda ya. Tapi sepertinya acara ini gagal, karena sampai detik ini pun saya belum punya kadonya, haha. Mamas juga sepertinya belum punya.

Semalam saya iseng tanya dia, jadi tuker kado gak besok? Jawabannya, sudah ditebak sih. Tadi mau beli kado, hujan sih jadi gak bisa kemana-mana. Lha, seharian kemarin geh sama saya juga perginya, masa mau cari kado bareng sambil liat-liatan wkwk.

Trus, saya ganti aja, gimana kalo kita saling tukeran surat cinta aja? (Dalam hati sudah ngakak banget sih asli, karena ini adalah hal yang tidak akan mungkin terjadi ) dan benar jawabannya, gak bisa nulis surat katanya.

Ya sudahlah, gak ada kado atau surat cintanya juga gak apa-apa, yang penting orang dan hatinya tetep ada terus

Terimakasih ya mas, sudah dan masih memaklumi kekonyolan istrimu ini. Jangan bosen kalau ditanya hampir tiap hari,

"Aku cantik gak?"

**untuk yang terakhir ini, serius, ada yang sama gak sih?

15 Agustus 2021

6th Wedding Anniversary

15 Agustus 2015 – 15 Agustus 2021

Hai! Halo!

Selamat ulang tahun ke 6 ya untuk pernikahan kita. Semoga kita tetap jadi dua manusia yang beda karakter tapi tetap satu tujuan. Eeaaa!

Wedding Anniversary
Bukan pas nikahan, hehe

Sudah ngapain aja selama enam tahun? Banyak lah ya. Kita sudah ketawa-ketawa, jalan-jalan ke berbagai sudut kota dan desa, sudah marah-marahan (eh kamu mah gak marah ding!), sudah cemburuan juga, dan banyak hal lain yang kita lakukan bersama.

“Kamu sayang aku gak?”

Ada gak sih para istri yang suka tanya begitu ke suami? Kalau ada, berarti saya gak sendiri, hihi. Walaupun sudah tahu jawabannya, tapi tetap saja pertanyaan itu kadang suka terucap ketika kita sedang menikmati teh sore atau ngobrol sebelum tidur. Rasanya lebih lega aja ketika ada jawaban yang sama dari kamu.

“Aku cantik gak? Cantikan siapa sama Syahrini?”

Walaupun bagi orang lain mungkin pertanyaan lanjutan ini membuat kening berkerut, tapi suka juga melayangkannya ke kamu. Semoga aja kamu gak bosen dengan pertanyaan yang satu ini. Saya juga sudah tahu jawabannya, entah benar atau hanya ingin membuat senang saja. Tapi lagi-lagi, ada kelegaan lain yang hinggap di hati ketika kamu kasih jawaban ‘iya, cantik banget!’.

Sudah enam tahun ya kita? Rasanya baru kemarin lho banyak yang godain dengan bilang, ayo jalan-jalan penganten baru, jangan di rumah aja. Sekarang kalau lagi jalan-jalan, malah dibilang jalan-jalan terus. Lha!

Enam tahun itu…

Kalau orang tanya tinggal dimana? Masih ngontrak atau sudah rumah sendiri, biasanya enam tahun itu masih dibilang baru kemarin. Masih dibilang, baru merintis jadi wajar kalau misalnya masih tinggal seatap dengan orang tua atau masih kontrak sana-sini. Tapi kalau pertanyaannya, sudah punya anak belum? Enam tahun pasti sudah dibilang lama sekali ya belum punya momongan. Atau kok baru satu anaknya?

Baca juga : Hari ini, 5 Tahun yang Lalu

Enam tahun itu kalau diibaratkan sekolah, sudah mau lulus SD. Sudah diajari banyak hal dasar untuk memasuki tahap sekolah selanjutnya. Kita yang sudah kelas 6 ini juga begitu. Kalau saya sendiri sih sudah mulai paham kode-kode tersirat dari kamu. Tapi, sepertinya malah kamu yang agak tertinggal, jarang bisa baca kode dari saya. Kamu selalu tidur ya waktu pelajaran kode-kode dari perempuan itu?

Enam tahun.

Gak mungkin selalu berjalan mulus sih ya. Pasti ada drama-drama yang kita sembunyikan dari khalayak umum. Cukuplah yang bahagia-bahagia aja yang diposting biar orang lain ketularan bahagianya. Adakalanya memang terasa stagnan. Seperti berjalan di tempat dan tak ada pemandangan lain. Tapi kembali lagi. Siapa yang di awal ingin menjalani ini berdua? Kita sendiri.

Enam tahun. Sebenarnya saya pengen pamerin foto-foto kita yang setiap tanggal 15 kita ambil. Tapi sayangnya, ada beberapa bulan foto yang hilang gegara hp rusak itu. Gak apa-apa deh foto hilang, asal bukan kita dan perasaan kita yang hilang. Eeaaa #2!

Baca juga : Dear Laki-Laki

Sudah gitu aja untuk ulang tahun ke 6 pernikahan kita. Kamu mau kasih kado apa? Kamu : kan uang belanja semuanya kamu yang pegang?

15 Agustus 2020

Hari Ini, 5 Tahun Yang Lalu

Hari ini, tepat lima tahun yang lalu. Di hari yang sama kami mengikrarkan janji suci. Di hari dan tanggal yang sama. Mungkin memang untuk mendapatkan hari dan tanggal yang sama, butuh waktu hingga lima tahun dulu ya.

Wedding anniversary
Bukti janji, hihi

Saya terlalu melankolis. Sepagi ini, saya nyalakan laptop dan langsung menuju folder foto pernikahan. Ada beberapa folder disana. Saya mulai membuka fotonya satu per satu. Diiringi oleh lagu melankolis bertema pernikahan, foto-foto itu seperti sedang bercerita kembali.

Meski tidak ada dalam foto, saya masih ingat bagaimana kesibukan di rumah saya beberapa hari sebelum hari itu tiba. Dan pada akhirnya, saat tibanya hari, saya bahkan merasa tak percaya. Saya memandangi tenda dan kursi yang tersusun rapi dan bertanya dalam hati. Benarkan ini pernikahan saya?

Hingga pada pagi, hari ini lima tahun yang lalu. Di hari dan tanggal yang sama, saya diiring menuju tempat prosesi akad nikah. Saya lihat foto-foto bercerita. Banyak tawa bahagia disana. Banyak pula mata yang berkaca-kaca. Dan seperti dalam foto itu, kali ini mata saya pun berkaca-kaca.

Air mata saya jatuh satu per satu. Saya memang terlalu melankolis pagi ini. Hanya melihat foto-foto itu, saya terbayang kembali bagaimana perasaan saya lima tahun yang lalu. Saya masih merasa seperti baru kemarin saja padahal ini sudah hari ke 1826.

Mungkin karena kami belum punya malaikat kecil. Mungkin karena kami melaluinya dengan banyak hal. Kami tahu, tidak ada kehidupan setelah pernikahan yang selalu damai tanpa keributan. Hal-hal kecil saja bisa jadi pemicu adu mulut.

Saya yang melankolis, dia yang plagmatis. Benar-benar tanpa reaksi bagaimanapun ulah saya. Mungkin memang beginilah Tuhan memilihkan pasangan. Apa jadinya kalau pasangan saya melankolis juga? Atau apa jadinya kalau saya juga plagmatis yang datar-datar saja di setiap keadaan. Pernikahan itu ternyata lucu ya!

tema pernikahan
Si plagmatis

Dari awal bulan, saya sudah bersemangat untuk menyambut ulang tahun pernikahan kami. Seperti tahun-tahun sebelumnya. Saya tahu, hanya saya yang akan sesemangat ini. Tapi, siapa tahu dia sudah mulai mengikuti ritme kemelankolisan saya, haha.

Baca juga : Happy 4th Wedding Anniversary

Saya tanya, mau kasih hadiah apa untuk anniversary kita? Walaupun saya sudah tahu jawabannya, saya tetap bertanya seperti itu.

Hadiah apa? Katanya. Benar kan? Itulah jawaban dari pertanyaan yang saya ajukan. Berkali-kali selama lima tahun seperti itu. Saya sudah tidak asing dengan itu.

Buat surat cinta ya. Itu permintaan saya meskipun saya tahu lagi itu tak akan mungkin. Orang plagmatis tak pernah bisa romantis dengan cara melankolis. Benar? Haha.

tema pernikahan
Si melankolis

Gak bisa nulis begituan. Dulu aja pas orientasi mahasiswa baru, diriku gak nulis kayak gitu. Nah, malah curhat kan?

Ya tulis aja kata-kata apa kek. Pendek pendek juga gak papa. Atau tulis aja, kamu cantik, terimakasih istriku, atau I love you. Saya mulai sewot lagi. Padahal niatan awal gak bikin ribut.

Eh, besok aku bawa bekel apa? Bla.. bla..

Saya tarik nafas sedalam-dalamnya dan berkata dalam hati, meyakinkan bahwa orang plagmatis tak akan pernah cocok dengan orang melankolis dalam hal keromantisan picis macam ini.

Baca juga : Dear, Laki-Laki

Saya masih melihat foto-foto yang banyak ini. Satu folder tak cukup. Satu lagu pun belum bisa untuk menyelesaikan beberapa folder itu. Air mata saya sudah tidak jatuh lagi, berganti dengan senyum tak jelas. Kehidupan setelah pernikahan ini benar-benar lucu memang.

Selamat ulang tahun pernikahan ke 5 ya untuk kita! I love you.

Di paragraf terakhir ini, saya menulisnya pas diiringi lagu legendaris milik George Benson yang kembali populer saat dibawakan oleh Westlife.

Nothing’s Gonna Change My Love For You

If I had to live my life without you near me
The days would all be empty
The nights would seem so long
With you I see forever, oh, so clearly
I might have been in love before
But it never felt this strong

Our dreams are young and we both know
They'll take us where we want to go
Hold me now, touch me now
I don't want to live without you

Nothing's gonna change my love for you
You oughta know by now how much I love you
One thing you can be sure of
I'll never ask for more than your love

Nothing's gonna change my love for you
You oughta know by now how much I love you
The world may change my whole life through
But nothing's gonna change my love for you

If the road ahead is not so easy
Our love will lead the way for us
Like a guiding star
I'll be there for you if you should need me
You don't have to change a thing
I love you just the way you are

So come with me and share the view
I'll help you see forever too
Hold me now, touch me now
I don't want to live without you

Nothing's gonna change my love for you
You oughta know by now how much I love you
One thing you can be sure of
I'll never ask for more than your love

Nothing's gonna change my love for you
You oughta know by now how much I love you
The world may change my whole life through
But nothing's gonna change my love for

15 Agustus 2019

Happy 4th Wedding Anniversary!


Cerita pernikahan #1 :
  
gaun pengantin syari

Saya tidak tahu kalau 31 Mei 2015 ada momen yang menentukan kehidupan saya beberapa bulan kemudian. Saya ingat betul waktu dia telpon kasih kabar mau datang beserta keluarga. Serius saya langsung deg degan, haha. Lagipula, saya pikir itu baru pertemuan keluarga saja, jadi gak terlalu banyak persiapan. Istilahnya mau 'nembung' dulu.

Saya juga gak tau akan ada pembicaraan seperti apa. Yah yang saya tau, itu langkah awal kami menuju sebuah pernikahan. Istilahnya, tanya dulu apakah saya bersedia untuk dipinang olehnya. 
Walaupun tau jabawan apa yang akan saya berikan, tapi ayah saya tetap bertanya secara resmi. Apakah saya mau dipinang oleh laki-laki yang datang ini? Saya hanya senyum malu malu. Lalu ayah saya bilang, kalau perempuan ditanya dan ia terdiam, itu artinya setuju. Keluarga saya dan keluarganya jadi tertawa meledek saya.

Cerita pernikahan #2 :

foto rewedding

Beberapa minggu setelah acara nembung itu, saya minta untuk dilamar secara resmi. Saya merasa acara minggu kemarin hanya sebuah pertemuan keluarga yang belum ada kesepakatan kuatnya (padahal artinya sudah beneran ya? Haha). Jadi keluarganya datang lagi, dan kali itu lebih ada persiapannya. Keluarga mamas membawa uang seserahan dan seperangkat kain untuk saya pakai di hari akad pernikahan nanti. Memang tidak ada acara besar saat lamaran waktu itu, hanya keluarga dan ayah saya mengundang beberapa orang tokoh di tempat tinggal kami untuk menjadi saksi bahwa saya sudah dilamar.
Saya deg degan lagi. Kami merencanakan tanggal pernikahan sesaat setelah acara lamaran, yaitu bulan Agustus. Artinya hanya ada sekitar 2 bulanan untuk kami mempersiapkan semuanya. 
Malam itu, saya susah tidur. Terbayang besok paginya saya akan diberondong pertanyaan yang menggoda oleh teman2 saya karena memang saya sengaja buat kejutan. Tapi ternyata berita lamaran saya sudah langsung tayang di dinding fb.

Cerita pernikahan #3 :
  
pengantin adat jawa

Pada akhirnya, 15 Agustus 2015 itu datang juga. Saya dan mamas berikrar, bukan hanya di hadapan manusia, tapi juga di hadapan Sang Pemilik Segalanya, Allah SWT.

Saya resmi jadi istri seorang laki-laki yang melamar saya beberapa bulan lalu. Tanggung jawab ayah saya, lepas sudah. Hati saya membuncah begitu ikrar itu selesai diucapkan suami saya. Apalagi di saat saya mencium tangan kedua orang tua saya dan orang tua suami. Sungguh belum ada yang lebih haru daripada itu semua.

Baca juga : Happy Anniversary Abah dan Ibu

Terimakasih Allah, telah menciptakan dia untuk saya. Dan empat tahun ini, belum apa2 dibanding orang tua saya atau orang tua suami saya mengarungi rumah tangga. Semoga samarah selalu. Aamiin.

Happy 4th Wedding Anniversary to us ^^

16 Agustus 2018

3rd Anniversary : Wedding Anniversary Gaya Saya

Ada banyak cara untuk mengungkapkan perasaan bahagia di hari-hari spesial semisal ulang tahun, wisuda, atau peringatan pernikahan. Sebagian memilih merayakannya dengan mewah, mengundang banyak teman dan saudara. Sebagian lagi memilih untuk diam-diam saja seolah tidak terjadi apa-apa. Sebagian lain lagi memilih merayakannya dengan berdoa dengan keluarga saja. Saya memilih pilihan yang terakhir.

Saya sebenarnya termasuk orang yang tidak terlalu suka perayaan besar. Ribet! Hehe. Saya lebih memilih yang simpel tapi bermakna untuk saya, dan... pastinya membahagiakan minimal untuk saya sendiri. 

Kemarin, 15 Agustus adalah hari pernikahan saya. Sudah tiga tahun rupanya, dan saya seolah merasa baru kemarin menjadi istri suami saya, haha. Biasanya, saya membuat perayaan kecil untuk anniversary kami ini. Sekadar buat kue dan dimakan ramean sekeluarga, atau kami makan diluar berdua. Untuk dokumentasi, biasanya saya yang rajin, sampai-sampai kuenya gak boleh dimakan sebelum jadi model haha.

Kebiasaan yang kedua adalah membuat slide foto dari awal pernikahan kami, sampai saat ini. Jadi setiap tanggal 15, saya rajin narik suami saya untuk foto berdua. Gak mesti tepat di tanggal 15 sih, karena kadang ada saja yang buat gak bisa foto. Jadi setidaknya gak jauh-jauh lah dari tanggal itu. Sampai sekarang, foto-foto di tanggal 15 setiap bulannya, sudah bisa dihitung kan? Belum lagi foto berdua diluar tanggal itu.

Waktu tahun pertama itu, karena fotonya baru dua belas biji, jadi saya gabung dengan foto lain yang pas berdua. Akhirnya jadi juga sih, bisa diliat disini. Untuk tahun kedua juga begitu, saya buat dokumentasi yang kali itu sudah lumayan banyak fotonya. Ada disini.

Nah, tahun ketiga ini, rupanya fotonya pas banget sama lamanya musik pengiring. Jadi, gak ada tambahan foto diluar pertengahan bulan. Jadinya kayak gini, hehe.




Itu buatnya pakai Filmora, rekomendasi dari adik saya. Lumayan bagus, bisa dikasih ornamen macem-macem. Tapi berhubung buatnya mepet trus juga pas selesai jam kerja sambil nunggu jemputan suami, jadi gak bisa explore yang lain-lain.

ooo

Oia, beberapa hari sebelum tanggal 15, saya iseng aja tanya ke suami. Lebih ke permintaan sih sebenarnya.

"Besok tanggal 15 mau kasih apa?"
"Hm, ngasih apa?"
"Buat surat cinta aja untuk aku."

Haha, saya ngakak setelah mengajukan permintaan itu. Saya tahu suami saya bukan laki-laki romantis yang apa-apa harus diungkapkan. Apa-apa harus pakai bunga dan cokelat. Bukan. Dia laki-laki yang menunjukkan perhatian dengan caranya sendiri. Cara yang lain, yang hanya saya yang bisa melihat dan merasakan perhatiannya (ini kedengaran melow dan dramatisir ya? Haha).

Dan benar saja, kemarin pun dia gak kasih saya surat cinta yang saya minta. Tapi, dia beli brownis mungil yang rencananya mau dipotong bareng keluarga di rumah orang tua saya. Alih-alih mau 'merayakan', kami malah pergi kondangan ke tempat saudara yang lumayan jauh dan pulang sudah hampir tengah malam. Akhirnya itu brownis nangkring di kulkas sampai pagi. Dan tau sendiri ya kalau pagi gak bisa punya acara pepotoan begitu. Jadi ya sudahlah.

Satu-satunya foto di anniversary yang ke 3 ini

Oia, sebenarnya saya punya surat cinta untuk suami saya, tapi belum selesai. Masih ada beberapa bagian yang mau saya sampaikan di surat itu. Mungkin besok atau beberapa hari lagi setelah selesai, akan saya kasih. Gak mau berharap banyak sih dia baca sampai selesai dan terharu dengan kata-kata saya, haha. Paling-paling juga sudah selesai ditaro aja di atas meja dan senyum gak jelas gitu. Tapi saya bahagia.

Saya bahagia melakukan hal-hal semacam ini. Saya tahu, mungkin sebagian orang bertanya untuk apa buat-buat begini. Tapi itulah kebahagiaan saya. Saya punya kenangan dalam kehidupan saya. Saya punya kenangan yang tertulis juga.

Bukankah setiap orang akan berbahagia menurut cara mereka sendiri? Jadi jangan paksakan orang lain untuk bahagia dengan carai pikir dan tolak ukur bahagia kita. Berbahagialah untuk dirimu sendiri dan bahagiakanlah orang lain dengan turut serta atas kebahagiaan mereka, minimal dengan senyuman dan doa.

Jadi bijak banget nih saya, haha. Baiklah, ceritanya sampai sini dulu aja ya. See you next time :-*

08 Juni 2018

Henna Tangan

Saya teringat hampir tiga tahun lalu, saat bulan Ramadhan akan berakhir seperti ini. Tiga tahun lalu, saya akan menikah dan waktunya mempersiapkan segala hal. Mulai dari undangan, dokumentasi, dekorasi, serta pernak pernik kecil untuk melengkapinya. Saya memang ingin membuat pernikahan saya berkesan untuk diri saya sendiri dengan mengkonsepnya sendiri. Dari model baju untuk akad, tema warna, suvenir, serta undangan.

Salah satu hal yang saya ingat sekarang adalah bagaimana saya mencari referensi untuk hiasan tangan alias henna. Memang referensinya banyak sekali dengan motif yang rumit dan indah, tapi saya sadar diri dan akhirnya memilih motif yang paling sederhana dan kemungkinan besar saya bisa melakukannya. Lagipula, saya tidak ingin tangan dan kaki terlalu penuh dengan motif.

Sebenarnya dari pihak perias sudah menawarkan untuk melukiskan tangan saya dengan henna, tapi karena waktu itu akhirnya saya sudah dapat referensinya, saya ingin melakukannya sendiri. Lebih pada kepuasan sih kalau melakukannya sendiri, padahal hasilnya jauh dari cantik, haha. Nah, sebagai latihannya, saya mulai mencari henna dalam ukuran kecil yang banyak dijual di pasaran. Saya berfikir, henna ini kan akan pudar sekitar 1 mingguan, jadi tidak masalah ketika saya akan serius melukisnya menjelang hari pernikahan. 

Latihannya gambar di buku dulu hihi
Latihan pertama adalah menggambar di buku terlebih dahulu, baru kemudian saya mengaplikasikannya di tangan saya. Untuk awal, lumayan susah dan lebih pada saya kurang begitu faham mana kemasan yang cocok untuk melukisnya di tangan. Di kemudian hari, saya baru faham ada kemasan dengan ujung yang bisa digunting sendiri untuk menyesuaikan tebal atau tipisnya henna.

Dan ini hasilnya ^^
Untuk percobaan pertama ini, lumayan lah ya untuk seorang pemula. Pada akhirnya pun saya menggunakan pola ini ketika akan akan benar-benar menikah seminggu kemudian.

Ini namanya nekat sih :-D
Hingga seminggu setelah akad, di keluarga suami pun ada acara unduh mantu. Saya nekat lagi untuk melukis kembali tangan saya dengan henna. Kali ini motifnya sedikit saya rubah, tapi tetap dengan motif paling sederhana.
Menurut saya lebih cantik ini sih hehe
Bicara soal henna, sebenarnya dari mana sih seni melukis tangan ini? Bersumber dari hasil pencarian sana sini, Henna memang tidak diketahui secara pasti kapan dan dimana awalnya ditemukan. Namun, henna ini sudah ada sejak 5000 tahun lalu. Henna yang dalam istilah lain disebut Mahendi atau Hinna ini umumnya digunakan oleh calon pengantin perempuan yang ada di masyarakat India, Arab, Pakistan, termasuk di Indonesia.

Tanaman henna yang memiliki nama latin Lawsonia Inermis ini tumbuh di dataran rendah dengan iklim panas seperti Pakistan, India, Afrika, Yaman, Irak, dan beberapa negara beriklim panas lain. Di Arab, tumbuhan ini dibuat dengan cara menjemur daunnya hingga kering kemudian ditumbuk hingga menjadi bubuk. Bubuk inilah yang diracik dengan air dan dioleskan pada bagian tubuh yang akan dihenna.

Meski penggunaan dan makna henna berbeda-beda di setiap negara, namun pada umumnya henna digunakan untuk memberi keberuntungan dan menolak bala bagi para calon pengantin. Seiring berjalannya waktu, kini henna tidak hanya dijadikan sebagai penolak bala saja, tetapi juga sebagai pelengkap hiasan bagi calon pengantin perempuan. Oleh karena itu, sekarang pun berkembang henna dengan motif dan warna yang lebih meriah.

Karena henna ini terbuat dari bahan alami dan akan pudar dengan sendirinya, maka penggunaannya lebih aman dan halal bagi perempuan muslim yang ingin berhias seperti menggunakan tato. Lagipula, sekarang sudah menjamur pengukir henna dengan hasil yang cantik-cantik. Jadi, tangan siapa yang ingin dihenna tahun ini? :)

Baca juga Style Lebaran 2018 Ala Saya.

19 Agustus 2017

2nd Anniversary

Alhamdulillah..

kuenya gak pernah buat, haha
Sudah dua tahun tak terasa! Seharusnya tulisan ini juga diposting pas tanggal 15 Agustus kemarin, tapi you know I'm a busy woman, haha. Belakangan memang jarang sekali nulis. Paling juga kalau pengen nulis, coret-coret di kertas kosong atau di note ponsel. Jadi malah kececer entah pada kemana aja. Malah ngelantur.

Alhamdulillah..

Sudah dua tahun tak terasa! Ibarat bayi, kita ini mulai berjalan dan sedikit berlari walau masih sering jatuh. Tak apa, namanya juga belajar membina kehidupan. Kalau ditanya pernah ribut, tentu saja! Sering ada cemberut, tak jarang juga serasa ada sekat yang memisahkan hingga tak bisa mendengar atau melihat apa yang sebenarnya terjadi di dalam hati dan pikiran masing-masing. Tapi, itulah bumbunya. Tak ada kehidupan yang selalu berjalan mulus, kan?

Kuenya mamas yang beli, hihi
Alhamdulillah..

Sudah dua tahun tak terasa! Cerita kita, kisah kita akan jadi pelajaran untuk kita juga. Bahwa kasih sayang dan cinta itu tak selalu harus dikatakan. Seringnya sih memang aku yang ingin diberi kata-kata romantis, tapi apa daya si mamas gk pernah mau begitu haha. Yakin memang ada yang lebih penting daripada hanya kata-kata romantis. Yakin juga mamas selalu punya cara sendiri untuk mengungkapkan cinta dan sayangnya.

hiasan di belakang masih awet lho!
Alhamdulillah.. Alhamdulillah.. Alhamdulillah..

Klik DISINI untuk lihat videonya :D





20 Januari 2017

Mahar Handmade

Bagiku, foto adalah cerita yang tak pernah usang dimakan waktu. Ia menyimpan kenangan kita, menyimpan tawa kita, menyimpan kegembiraan kita, menyimpan kisah kita. Dan.. kapanpun kita melihatnya, kita akan merasa kembali ke masa foto itu diabadikan.

Menunggu Mamas jemput sepulang kerja, aku membuka kembali foto-foto pernikahanku dengan Mamas. Sudah satu setengah tahun yang lalu, tapi rasanya baru kemarin aku sibuk-sibuk menyiapkan banyak hal. Mulai dari undangan, suvenir sederhana, sampai bentuk mahar yang ternyata aku buat sendiri. Padahal awalnya aku gak ada niat untuk buat bentuk yang aneh-aneh. Bahkan terfikir pun gak. Tapi, gegara pergi ke toko buku dan gak sengaja lihat buku yang isinya kreasi mahar uang, jadi nyambung juga pengen dibentuk yang agak cantik.

Oke, aku memang belum punya pengalaman untuk buat mahar yang bentuk-bentuk gitu. Jadi, aku pilih desain yang sederhana dan mewakili aku banget. Taraaaa, bentuk bunga yang dirangkai. Ini sih karena sudah lama pengen dikasih bunga sama Mamas tapi gak pernah kesampaian, haha.

Gak bisa jauh dari warna pink :D

Ini hasil akhirnya. Gak nyangka juga sih akan jadi sebesar ini. Tapi sayangnya ada yang terlupa. Gak ada keterangan itu mahar punya siapa, tanggal berapa, nominalnya berapa. Haha, antara buru-buru dan sudah gak konsen karena mau jadi manten waktu itu. Mau ditempel kertas juga kok ya lupa. 

Melihat hasil kreasiku ini, ada seorang teman yang waktu itu mau nikah juga dan ternyata ngelirik aku untuk minta dibuatin. Kali ini aku sudah punya beberapa trik dan sudah lebih bisa mengira-ngira ukurannya. Dengan desain yang masih sederhana, akhirnya jadi juga maharnya mbak Meta dan Mas Redi. 

Well, percobaan ke dua hehe

Dari hasil dua percobaan itu, aku jadi kepikiran ide lain. Kalau aku buka jasa hias mahar dan seserahan gimana ya? :D :D :D 
#sudah kepedean kayaknya akuh!
#padahal belum bagus-bagus amat!

Oke, see you next time :-*

23 September 2016

Happy Birthday, Mamas :)

Happy Birthday, Mamas!!!

Alhamdulillah masih diberikan sehat hingga usia ke 32 tahun. Alhamdulillah... Bukan untuk merayakan sih sebenernya, tapi hanya bersyukur karena sampai usia lebih dari 30 tahun, suamiku (eeaaa..) masih bisa bernafas dengan gratis, masih bisa berjalan, menatap dunia, mensyukuri nikmat dari yang Maha Memberi Nikmat.

So romantic, I guess xixixi
  Btw, aku sempet bingung sih mau kasih apa gitu ke Mamas. Secara, dia lagi butuh banyak sesuatu :D Mau ngasih ini atau itu. Atau malah gak usah ngasih aja sekalian hehe. Lagipula, aku juga gak sempet kemana-mana sebelum tanggal 22 September itu. Jadi, aku putuskan untuk buat kue aja (awalnya..).

Untuk buat kue, beberapa hari sebelum itu, aku sudah cari-cari model kue yang pas dan kira-kira aku bisa buatnya. Yah, berimajinasi dikit gak papa ya, padahal belum tentu juga sih bisa buat beneran. Kali ini aku memang sengaja gak mau beli yang langsung jadi. Pokoknya mau spesial buatan istri :D

Akhirnya aku berhasil buat bronis kukus ala Pon**n (tepung premix yang jadi andalan karena aku buta soal takar menakar bahan). Trus, sebagai hiasannya, aku print aja foto Mamas dan tulisan itu. Untuk pinggirnya, aku kasih wafer yang ternyata gak bagus kalau sudah kena udara lama. Mlembung, cyiiinnn.. makanya aku iket aja pake pita hehe. Dan pemanisnya, aku kasih renda dari buttercream buatan sendiri. Penampakannya ya seperti ini. Lumayan lah..

Hiasnya pas mati lampu lagi T,T
Kalau memang rezeki, pasti gak kemana ya. Gitu juga untuk Mamas. Memang rezekinya Mamas tuh, aku kepikiran untuk beliin hadiah kecil. Sebuah jam tangan, mengingat beberapa hari lalu, tali jam tangannya putus. Jadi, mungkin Mamas akan suka kalau dikasih jam tangan, kan biar tampak keren wkwkwk.

Bungkusnya simpel bingits!
Nah, pas malam tanggal 22 Sept itu, rencana yang sudah dibuat sedemikian rupa harus gagal gegara beberapa hal. Pertama, mati lampu. Jadi, gak mood untuk potong kue atau narsis-narsis kayak biasanya kalau ada anggota keluarga yang lagi ulang tahun. Kedua, Mamas sibuk servis motor yang seharian gak mau hidup. Servisnya sama tetangga sebelah sih, jadi memang gak pergi jauh-jauh. Tapi dampaknya ya memang tuh kue jegogrok aja di meja nuggu dipotong. Farhi aja sampe tidur lho saking gak tega mau motong ngeduluin yang ulang tahun, ckckck.

Dan ketika sudah selesai dengan motornya, Mamas minta potong kue. Baiklah, dengan sudah agak ngantuk, aku temenin Mamas potong kue. Akhirnya bisa foto juga dengan wajah so sleepy...

Yang penting bisa foto wkwkwk
Finally, semoga usia Mamas berkah, tambah sholeh, jadi imam yang baik, jadi laki-laki bijaksana, dan calon ayah yang penyayang. Love you so.. :-*

31 Agustus 2016

First Anniversary! Yeyyy!!

Dadakan banget buat ini, jadilah.. :D
Alhamdulillah.
Genap sudah dua belas purnama bersamamu, meniti perjalanan hidup denganmu, berbagi suka duka denganmu. Dua belas purnama yang pertama, kita masih berdua saja. Tak apa. Tuhan masih ingin kita menyemai bahagia, dan memahami masing-masing kita, sebab dua belas purnama saja belum cukup untuk sempurna menafsirkan semua.

Alhamdulillah.
Ada masa sulit tentu saja. Hal sepele yang menjadikan wajahku murung dan mulutmu tak ingin keluarkan kata-kata. Kata orang, itu semua harus hadir untuk menyedapkan kehidupan kita. Tapi aku salut, kau tak pernah bisa marah, setinggi apapun emosiku. Kau meredamkanku, meski terkadang sulit untuk cepat memberimu sebuah senyuman lagi.

Alhamdulillah.
Bahagia memang sederhana. Seperti katamu, bahagia tak mesti mewah. Sebab bahagia tak harus diukur dengan banyaknya benda, atau seringnya berwisata ala orang kaya.

OOO

Sudah kehabisan kosakata, hehe. Intinya bersyukur karena sudah melewati satu tahun pertama dengan liku-likunya. Aku yakin, tahun-tahun berikutnya akan lebih dari tahun ini. Lebih menantang, bisa. Lebih bahagia, harapannya. Lebih mengerti, lebih memahami, lebih dewasa.

Sebenarnya beberapa hari sebelum tanggal 15 Agustus kemarin, Mamas sudah pasang foto profil yang berbaru wedding anniversary gitu, hihi. Juga, Mamas sempat tanya kita mau buat makanan apa untuk merayakan (baca mengingat) satu tahun pernikahan kami. Widih, tumben sekali dia yang aktif mikir acara baginian, karena biasanya aku yang paling heboh.

Pada akhirnya tanggal 15 Agustus tiba, kami malah bingung mau gimana, gubraks! Akhirnya kami beli aja kue brownis ukuran jumbo yang diatasnya ditaburi potongan kacang. Biar agak berbau wedding anniv gitu, aku tumpahi seluruh permukaannya dengan coklat masak dan aku kasih tulisan Happy Anniv, haha.

Ahahah berantakan :P
Acara potong kuenya cukup di rumah kayak biasanya. Dihadiri oleh anggota keluarga aja dan diakhiri dengan foto dan makan kue bareng. It’s so “Bahagia tak harus mewah”!


Yah mukanya Mamas jadi penampakan wkwkwk
Salah satu doa yang kusematkan adalah, semoga kami bisa dipercayakan untuk mengasuh seorang anak. Aamiin... Daaaannn.. aku juga buat sebuah video yang aku susun dari foto-foto setiap tanggal 15 dalam setahun, hihi. Karena ternyata kapasitasnya kegedean, makanya overload kalau langsung diposting disini. Mau liat videonya, klik disini aja :)

>,<
Isshhh jelek banget!!

*__*

26 Oktober 2015

Orang-Orang di Balik Layar

Haiii
Ketemu lagi sama aku... :D #pake gaya alay gitu, hehe. Oke, ada waktu sedikit sepulang kerja sambil nunggu Mamas jemput aku. Meneruskan cerita yang kemarin, ehem, masih nuansa wedding yang kayaknya masih terus bersambung sampai tua. Aamiin...

Seperti janjiku di edisi kemarin, kali ini aku mau posting tentang orang-orang di balik layar yang sudah berhasil membantu acaraku meriah dan berkesan. Siapakah dia?

First, orang-orang dapur yang bantu-bantu masak. Istilah dalam masyarakatku, rewang. Yap, biasanya yang rewang untuk dapur adalah para ibu dan perempuan baik yang sudah menikah atau yang belum menikah. Tapi kebanyakan sih ibu-ibu, secara mereka lebih pengalaman dalam hal masak-memasak. Kalau para gadis atau yang masih dianggap lebih muda, biasanya ada di bagian dalam rumah, mengurus hal-hal yang lumayan bersih (gak belepotan bumbu, maksudnya) seperti bungkus kue dalam kotak, atau bantu siapin suvenir.

Kalau di tempat tinggalku, masih banyak tetangga-tetangga yang datang untuk rewang, bahkan dari 3 hari menjalang hari-H. Kalaupun untuk masakan pada hari-H pakai orang panggung (semacam orang sewaan khusus untuk mengurusi hidangan tamu pada hari-H), ibu-ibu yang rewang ini bantu-bantu masak untuk yang bantu-bantu itu (agak ribet ya bahasanya hehe). Para lelaki biasanya bantu untuk mengantar punjungan alias makanan dalam rantang atau mangkuk untuk orang-orang yang diundang atau lebih pada orang-orang yang lebih dihormati. Bujang dan bapak-bapak biasanya sampai larut malam untuk menunggu sambil ngobrol. Istilah kami, lek-lekan. Khususnya pada malam menjelang hari-H.

Ibu-ibu juga diamanahi untuk mengurus saudara-saudara si tuan rumah yang datang. Biasanya orang tua mempelai kan hanya duduk di kursi pelaminan mendampingi putra putrinya, makanya mesti ada yang ngurus saudara atau besan yang datang, biar gak dicuekin gitu. Trus, pas pulang ada yang dibawa seperti kue-kue atau lauk.

Nah, inilah mereka yang berjasa di balik layar dapur...

Walaupun cape tapi masih bisa senyum ya, hehe
Bapak-bapak yang cuci piring :)
Next, bulek yang buat penampilanku jadi beda banget, hehe. Bulek Yati dan asistennya yang dari dua bulan sudah aku cereweti masalah tema untuk acaraku. Bulek ini kebetulan juga temen ibuku dan sudah jadi langganan kalau ibu ada acara yang perlu tata rias gitu. Jadi sudah kenal lah dan lebih mudah untuk mengkomunikasikan gimana keinginanku.

Dua bulan sebelum hari-H, memang sudah aku pesan dan aku bilang temanya pink. So, dari tenda, sarung kursi, dekor pelaminan dan lain-lain, kalau bisa warna pink dan putih, atau senada. Sempat kewalahan sih katanya cari warna pink dan mematchingkannya, khususnya tenda. Tapi pada akhirnya ada juga tuh hehe.

Untuk make up, dari awal memang aku sudah pesan untuk gak terlalu tebal make up-nya, pokoknya yang minimalis dan natural aja lah. Dan yang terpenting adalah masalah model jilbab yang aku keukeuh banget aku gak mau dililit-lilit (kayaknya gak bisa noleh gitu), trus gak mau cukur alis. Alhamdulillah.. berhasil ngelobi si bulek dan jadilah seperti yang aku inginkan.

Gak dipakein blush on juga sudah merona kok, bulek.. hihi :P
ehm, mataku jadi lebih lebar, cyiiinnn :D
Selanjutnya adalah sang fotografer. Ini nih yang sempat cari kesana kemari. Secara, aku gak bisa terlalu percaya sama orang sebelum aku lihat hasil kerjanya seperti apa. Trus, aku juga mau hasil fotonya nanti berkesan banget dan seolah bercerita, gak hanya sekedar gambar mati yang biasa-biasa aja.

Jadi, aku coba cari sang fotografer yang bergaya casual bisa, formal juga gak masalah. Rekomendasi ibu sih juru foto yang memang dia sudah biasa jadi juru foto acara pesta, tapi kok aku gak sreg aja. Nah, ketemu lah sama temen SMP yang ternyata sudah jadi fotografer, dan memang biasa menangani acara pesta. Tanya-tanya dan nego-nego, cocok lah, tapi ternyata si dia salah ingat tanggal. Sudah mau aku fix-in, katanya sudah dibooking di tempat lain. Hyaaaa...

Sudah agak galau sih karena waktu yang sudah gak lama lagi. Akhirnya ada rekomendasi dari seorang teman juga. Tanya-tanya, lihat-lihat hasil fotonya, nego-nego, jadi deh! Gak mengecewakan, dan harganya juga cukup terjangkau. Inilah sebagian hasilnya...
Eheeemmm, pengarah gayanya itu lho >,<
Pinky banget, cucok
Sok romantis gitu deh, haha
No comment, it's too good!
Karena aku suka puisi, makanya dia minta beberapa potongan puisi yang kutulis untuk jadi pelengkap di foto itu. Cucccoookkk banget! Love it!

Sayangnya sang fotografer ini cuma bisa mentok sampe sore aja, padahal acara sampe malam. So, untuk malam dengan sangat terpaksa pakai dokumentasi pribadi aja. Lagipula, tamu-tamu sudah gak terlalu ramai lagi, juga si bulek perias pun sudah pulang. Alhasil selepas maghrib aku pakai jilbab tanpa kreasi yang se-ulala sebelumnya, hehe.
sayang gak fokus fotonya...
Dayang-dayang :D
Masih banyak sih sebenarnya orang-orang yang berada di balik layar yang sudah membantu melancarkan acara kemarin, tapi maaf sekali gak bisa disebutkan disini satu per satu. Semoga Allah membalas kebaikan kita semua. Aamiin..

Baiklah, rasanya cukup sampai disini dulu coretan kali ini. Kita sambung di tulisan berikutnya ya. See you next time :-* 

25 September 2015

One Month Anniversary (Telat sih, hehe)

Alhamdulillah..
Satu bulan lebih kita bersama. Menjalani kehidupan baru yang belum pernah kita lalui sebelumnya. Masih terlalu banyak keindahan, kegembiraan, kebahagiaan, meski kadang terselip satu kesedihan karena mungkin kita belum saling paham. Belum banyak yang kita mengerti tentang keluarga kita. Tak dipungkiri, terkadang kita masih canggung dalam berkomunikasi dengan mereka, dengan ibu bapak kita, dengan kakak adik kita meski kita telah sangat berusaha untuk biasa saja.

Keluarga dari pihak Mamas || rame :D

Keluarga dari pihakku || rame juga sih :D
Satu bulan lebih kita bersama. Kita mulai terbiasa berbagi apapun. Berbagi makan, berbagi minum, berbagi tempat beristirahat...
Ooo

Hehe.. sebenarnya tulisan itu pengen aku posting pas tanggal 15 September kemarin. Secara, pas anniversary satu bulan gitu, tapi apalah daya. Pas tanggal itu aku cuma bisa buat coretan seperti ini :

Ups!
Well, mengingat saat-saat bahagia itu memang selalu menyenangkan. Mengingat gimana proses dari awal keluarga mamas datang untuk melamar, mengingat gimana proses mengumpulkan teman-teman untuk bisa datang ke acara resepsi, mengingat gimana kesana-kemari cari pengisi acara. Mengingat itu semua, rasanya gak pernah bosan untuk lihat foto-fotonya (lagi-lagi foto, memang dasar narsis sih haha).
Ooo

Terimakasih untuk semua teman yang sudah hadir kemarin. Juga pengisi acara yang aku merasa amazed banget karena mereka mau hadir.  Gak semuanya bisa diposting karena keterbatasan ruang disini, tapi intinya aku sangat berterimakasih.

Pertama, untuk MC, kak Sujarwo. Walaupun aku gak bisa lihat gimana awalnya dia nge-MC (aku masih dipingit di kamar), tapi suaranya masih tetep kedengeran. Gak pernah kebayang sebelumnya mau di-MC-in sama orang yang sangat berbakat sepertinya. Pulangnya gak bisa bawain apa-apa karena aku pun masih di ‘kursi kebesaran’, dan untuk mendelegasikan orang buat bawain sesuatu pun kondisinya masih ramai. Thank you so much deh, Kak Jarwo. Semoga Allah selalu melimpahkan rezeki untukmu...

Terimakasih kak Jarwo, perfecto!

Kedua, untuk tim nasyid Uswah Voice yang sudah jauh-jauh datang dari Palembang. Beneran pengorbanan banget lah mereka, karena baru sampai Lampung tuh jam 1 malam, dan itu kelewatan pula. Trus, gak ada mobil untuk jemput karena sudah larut malam, alhamdulillah masih ada motor. Tapi, sayang banget kok gak ada foto bareng kami ya? Apakah terlewat atau pakai kamera siapa gitu waktu itu? Sudah ngubek-ngubek 3 folder foto acara kemarin, tapi gak ketemu juga. Tak apalah, yang penting masih ada foto pas mereka lagi di panggung. Paling berkesan tuh pas mereka bawain lagu pesenanku (Tulus- Teman Hidup, Joy Tobing- Semua Karena Cinta, dan The Fikr- Wanita Sholehah). Thank you so much pokoknya. Jangan kapok kalo diundang ke Lampung lagi, hehe.

Nuhun yak, kang indra dkk.. :D
Ketiga, untuk teman-teman yang masih jauh juga, dari Banyuasin. Berasa amazed banget karena mereka serombongan naik kereta dari Palembang. Niatnya sih sekalian jalan-jalan makanya rame, wkwkwk. Tapi, lebih surprisenya lagi mereka manggung juga! Jadi gantian deh sama tim Uswah Voice itu. Penampilannya kece, secara masih muda dan masih semangat.

Masih unyu2 banget kan? :D

Mb Titin (gendong anak), surprise dia masuk dateng :D
Perwakilan teman2ku yang sudah gak banyak lagi
Oke, segitu dulu pamer fotonya. Besok disambung lagi tentang orang-orang di balik layar. Siapakah mereka? Tunggu postingan berikutnya ya.. See you next time :-*