Tampilkan postingan dengan label Mom's Life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mom's Life. Tampilkan semua postingan

09 Juni 2026

Surat Untuk Wafa #3

Halo, Wafa. Ini ibu saat usia kamu 3 tahun. Ibu nulis ini waktu Wafa sudah tidur malam di samping ibu.

Beberapa hari kemarin kita sedikit sibuk membuat bingkisan kecil untuk dibagi2 ke sepupu Wafa ya. Gak banyak sih, karena memang bukan perayaan, tapi syukuran.

Wafa

Bersyukur karena Wafa terus dikasih sehat sampai 3 tahun ini. Bersyukur karena Wafa makin pintar, tambah akal, tambah cerdas, tambah semua kebaikan lah.

Apalagi ibu, sangat2 bersyukur sudah dikasih amanah berupa gadis cantik seperti Wafa.

Wafa, sore tadi, tiba2 ibu melow sendiri. Ternyata bayi mungil yang dulu masih dibedong, dulu bisanya cuma nangis, sekarang sudah tinggi besar, sudah bisa minta macam2. Sudah banyak sekali mengerti. Sudah macam2 pula tingkahnya.

Kok ibu tadi mau nangis ya. Sudah 3 tahun aja, sebentar lagi mau sekolah dong. Ibu sama siapa di rumah? 😭

Wafa, setelah terrible two berlalu, sekarang masuklah fase threenager. Kamu tiba2 jd bisa mandiri. Mau apa2 sendiri. Gak mau dibantu walaupun pada akhirnya masih perlu bantuan juga. Wafa merasa sudah bisa. Lucu deh jadinya sekaligus terharu juga.

Setahun kemarin, kita sama2 belajar menata emosi. Wafa yang mulai belajar lepas popok, ibu yang belajar mengendalikan emosi ketika Wafa kelepasan ngompol di lantai. Jujur, ibu baru menyadari betapa bodohnya ibu waktu marahin Wafa meski alasannya mungkin ibu cape atau lapar, atau overstimulasi. Betapa pendeknya pikiran ibu yang menuntut Wafa untuk cepat mengerti kapan harus ke kamar mandi, atau bagaimana membedakan mau pip atau pup. Padahal Wafa baru melihat dunia 2 tahun.

Wafa juga belajar untuk melepas rasa paling nyaman semenjak lahir, menyusu pada ibu. Meski kita belum berhasil melepas satu sama lain di usia Wafa yang 2 tahun, tapi ternyata Wafa bisa juga lepas di usia menjelang 3 tahun ini. Gak apa2 ya nak, mari kita pelukan bareng merayakan acara sapih yang tanpa drama berarti ini.

Wafa, ibu selalu senang melihat Wafa gembira saat dibuatkan mainan sederhana. Bahkan, Wafa sering minta dibuatkan permainan biar bisa dekat sama ibu. Tapi, maafkan ibu ya, kalau ibu sering banget menunda2 karena pekerjaan. Bilangnya sebentar, tapi buat Wafa menunggu terlalu lama.

Wafa, terimakasih ya sudah jadi teman untuk ibu. Wafa dengan ocehan yang menggebu2 setiap kali bercerita, Wafa dengan mata berbinar setiap kali berhasil melakukan suatu hal, Wafa dengan tawa tulus setiap kali ibu bercanda. Sungguh, saat menulis ini, ibu sambil nangis. Semua hal tentang Wafa, ibu bahagia.

Maaf ya nak, kalau ibu sering kelepasan marah. Tapi sebenarnya itu bukan ditujukan untuk Wafa. Ibu tahu itu salah. Sangat salah.
Apalagi Wafa lebih mengerti perasaan ibu. Saat ibu terdiam, mulai sedikit menangis atau kesal, Wafa pasti akan langsung mendekat. Menawarkan pelukan biar ibu tenang. Dan ini yang buat ibu makin nangis karena Wafa benar2 mengerti bagaimana meredakan emosi ibu.

Dan pada akhirnya, ternyata ibulah yang belajar banyak dari Wafa. Maaf ya nak, ibu belum bisa jadi ibu yang baik untuk Wafa. Tapi, ibu janji, ibu berusaha lebih baik dan melakukan yang terbaik untuk Wafa. Apapun itu.

Selamat hari lahir, Wafa, anakku sayang. Semoga usiamu berkah ya. Bahagia selalu. Jadi anak sholihah kebanggan ayah dan ibu.

Baca juga : Surat Untuk Wafa #2

Funfact Wafa di masa ini. Wafa sudah bisa banyak hal. Kami terbiasa melakukan aktivitas sehari2 bersama. Jadi beberapa perkerjaan rumah umum, dia sudah bisa dan terbiasa juga. Misalnya membereskan pakaiannya, menata di lemari. Menuang air ke gelas walaupun masih ada tumpahannya. 

Sudah paham sekali rutinitas pribadi seperti kapan makan, mandi, bebersih sebelum tidur, dan lain-lain. Masyaallah. Semoga Allah selalu memberkahi dan melindungi Wafa ya.

30 Desember 2025

Bagian Dari Dirimu

Hai,

Terimakasih ya sudah bertahan sejauh ini. Tapi kalau dipikir-pikir, perjalananmu belum terlalu jauh sih. Mungkin staminamu yang sedang kurang baik, jadi kamu merasa perlu istirahat sejenak. Gak apa-apa kok berhenti dulu. Sekadar merebahkan tubuhmu menghadap langit. Memandang putihnya awan sambil menghela nafas. Atau bisa juga dengan memejamkan mata, mengingat kembali awal perjalananmu hingga sampai disini.

Terimakasih ya sudah meluangkan waktu untuk bagian dari dirimu sendiri. Aku tahu ini mungkin terasa berat, tapi percayalah akan ada masanya nanti kamu bisa menjadi dirimu kembali. Kamu ingat kan, dulu kamu pernah berdoa dalam hati. Kamu ingin merasakan perjalanan ini. Melalui kesibukan ini. Melewati keramaian ini. Melihat bagaimana bagian tubuhmu tumbuh bersama hari-harimu.

Mungkin kamu bertanya, apakah kamu sudah melakukan yang terbaik untuknya. Jawabannya tergantung persepsimu. Naluri perempuan itu sinyal terkuat dan tak bisa terbantahkan. Kalau kamu pikir ada yang salah, mungkin benar ada yang salah. Kalau merasa ini benar, mungkin juga ini benar, hanya saja belum terlihat dampaknya.

Setiap orang, pasti sudah melakukan apapun dalam versi terbaiknya kok. Ya sambil terus belajar tentunya. Makanya, melakukan suatu kesalahan itu wajar saja. Asal kamu bisa mengevaluasi kesalahanmu dan memperbaikinya. Pelan-pelan saja. Tidak ada yang mengejarmu kok.

Eh tapi, masa-masa emas itu sepertinya memang cukup singkat sih, jadi ya harus cepat ada perubahan kalau dirasa memang dibutuhkan.

Baca juga : Surat Untuk Wafa 2

Terimakasih lagi ya, kamu sudah berusaha untuk tetap mengisi kasih di bejana yang akan kamu tuang untuk bagian dari dirimu. Mungkin dengan melihat foto-foto yang mana itu pasti kenangan indah dan mengharukan. Melihat kembali proses bagaimana kamu membersamainya. Melihat bagaimana kamu mengajari banyak hal padanya. Juga melihat bagaimana kamu pun belajar banyak hal darinya.

Percayalah, suatu hari nanti, ini akan jadi kenangan indah untukmu dan untuknya, bagian dari dirimu.

Kamu masih ingin sendiri? Atau menangis lagi? Gak apa-apa. Menangislah dulu. Tak ada yang akan menertawakanmu kok. Hm, mungkin ada sih, tapi anggap saja tak ada ya. Wajar kok manusia menangis karena mungkin sedih, kecewa, marah, atau senang. Kalau menangis bisa membuatmu merasa lega, lakukanlah. Peluk tubuhmu sendiri, rasakan bagaimana emosi itu hadir dan berdamailah.

Oh iya, kamu juga bisa memeluk bagian dari dirimu lalu rasakan juga bagaimana cinta itu hadir dan menyatu dalam hatimu. Semoga itu bisa meredakan sedihmu dan mengisi kembali bejana kasih yang kamu rasa mulai menipis.

Kalau sudah puas menangis, tidurlah. Bayangkan kamu berada di sebuah taman penuh rumput hijau dan bunga-bunga. Kamu berjalan bergandengan tangan dengan bagian dari dirimu sambil tertawa. Kamu menghirup udara dengan aroma rumput yang baru saja tersiram embun. Berjalan lagi berputar-putar, berjingkat, menari, melompat seperti kupu-kupu.

Lalu bangunlah dengan hati yang sudah tenang. Kalau kamu merasa sendiri, lihalah di sampingmu. Ada bagian dari tubuhmu, bagian dari darahmu, bagian dari dirimu. Lihatlah bagaimana dia menjadikan kamu dunianya.


Ibu dan Anak
Kamu dan Bagian Dari Dirimu

Ps. Baru sadar ya kamu, jarang sekali kamu foto dengannya. Sampai-sampai, kamu harus mencari di ribuan fotonya.

21 Agustus 2025

Surat Untuk Wafa 2

Hai, Wafa.

Ini ibu saat usia kamu 2 tahun. Rasanya baru kemarin ibu nulis surat untuk ulangtahun pertama Wafa. Eh kok sudah nulis surat lagi ya? Walaupun sudah agak terlambat ya. Hihi.

Rupanya waktu teramat cepat berlalu, atau hanya ibu yang gak sadar bumi terus berputar karena dunia ibu ketambahan Wafa.

Wafa 2 Tahun
Wafa 2 Tahun

Kata orang, 2 tahun itu masuk fase yang mulai menguras energi dan emosi. Terrible two, bahasa kerennya. Gak salah sih kayaknya.

Setiap hari ada saja tingkahmu yang bikin ibu teramat bersyukur. Bahkan, ibu sendiri takjub dan berulangkali ucap masyaallah.

Misalnya saja, Wafa yang sudah mengerti empati. Kalau ada tangan atau kaki ibu yang sakit, Wafa selalu usap-usap dan tiup. Mungkin Wafa ikut-ikut ibu ya kalau Wafa jatuh, ibu akan begitu juga.

Wafa juga sudah bisa mengerti instruksi sederhana, alasan untuk setiap tindakan, apalagi meniru, jago sekali. Makanya ibu berusaha untuk selalu menjaga sikap di depan Wafa. Jangan sampai, sikap yang gak baik dari ibu ditiru Wafa.

Yah meskipun gak bisa dipungkiri juga terkadang tingkahmu juga bikin ibu banyak istighfar, mohon sabar sepenuh jiwa.

Misalnya saja Wafa yang sudah mengerti apa yang diinginkan. Baju contohnya. Wafa selalu dan hampir selalu inginnya pakai baju gambar kucing tanpa pandang situasi dan kondisi apapun. Mau malam, siang, pagi, cuaca panas, dingin, terik, apapun itu. Pokoknya baju gambar kucing. Sampai-sampai, itu baju cuci kering pakai. 

Belum lagi, Wafa sudah mulai fasih bilang 'Gak!', jadi sering sekali ibu dapat penolakan dari Wafa. Waktunya mandi, gak. Waktunya sikat gigi, gak. Jangan naik meja, gak. Sudah cukup lihat hp, gak. Salim sama akung, gak.

Awalnya memang agak kesal ya ibu. Tapi lama kelamaan, ibu mulai belajar memahami Wafa. Sebenarnya bukan Wafa gak mau, tapi Wafa juga sedang belajar banyak hal. Mulai belajar mengenal dunia dengan perspektif yang polos.

Wafa 2 Tahun
Wafa 2 Tahun

Pada akhirnya, ibu dan Wafa bisa saling memahami. Bisa saling mengerti apa yang diinginkan. Bahkan, nyatanya kita bisa ngobrol tentang banyak hal meski bahasa Wafa masih terbatas. Seru banget malah ngobrol sama Wafa. Ibu yang biasanya kesepian sendiri di rumah, jadi berasa punya lawan bicara, hehe.

Terimakasih ya nak, sudah menerima ibu bagaimanapun keadaannya. Sudah menerima mainan-mainan sederhana yang ibu buatkan. Jujurnya, dulu ibu gak pernah fokus sama hal-hal receh begini. Mainan dari kertas bekaspun sudah bisa buat Wafa ketawa sambil tepuk tangan. Sederhana banget kamu, nak.


Terimakasih ya, nak, sudah hadir di dunia menemani ibu. Maaf ya kalau terkadang, kesabaran ibu setipis tisu. Sering ngomel gak jelas, atau kesal hanya gara-gara susu kotak tumpah atau sisa makanan yang diacak-acak.

Percayalah, ibu bukan marah sama Wafa, tapi pikiran ibu yang sepertinya sedang bercabang banyak sekali. Memikirkan banyak hal dalam waktu bersamaan. Yah, memang bukan alasan sih seharusnya, tapi nyatanya begitu.

Sudah ah, nanti malah jadi tulisan gak jelas ya. Selamat ulang tahun ke 2, Wafa sayang. Semoga usiamu berkah, rezeki mengalir tak putus-putus, bahagia selalu, jadi orang yang bermanfaat untuk kebaikan ya, seperti namamu. Aamin.

Baca juga : Surat Untuk Wafa

***

Tambahan sedikit. Di usia 2 tahun ini, Wafa sudah mengerti dan memahami banyak hal. Bagi ibu, itu kemampuan yang selangkah lebih maju. Misalnya, Wafa sudah bisa bantu ibu jemur pakaian, angkat jemuran yang kering, melipat pakaian, cara menyetrika, bantu masak telur pun sudah bisa. Plis, walaupun ya bukan diukur dari standar pekerjaan pada umumnya ya.

Wafa juga sudah bisa menggunting pakai gunting beneran. Sudah gak mau lagi dikasih gunting khusus anak-anak yang berbahan plastik dan hanya bisa gunting kertas. Sudah bisa baca buku dengan gayanya sendiri. Sudah bisa mengingat letak barang-barang. Sudah bisa ikut membereskan mainan. Banyak lah bisanya. Masyaallah.

15 Oktober 2024

Tips MPASI Lancar Tanpa Drama

Di postingan sebelumnya, saya sudah sedikit ceritakan pengalaman pertama memberi MPASI pada si bayi. Takdir Allah, bayi saya memerlukan MPASI dini di usia 5,5 bulan atas rekomendasi DSA. 

Alhamdulillah dari awal MPASI hingga usia bayi saya lebih dari 15 bulan, tidak ada drama berarti seperti GTM parah. Tapi juga ya bukan berarti gak ada drama sama sekali. Pernah sih bayi saya benar-benar mogok makan. Makan sesuap, selesai.

Tips MPASI Lancar

Pernah juga makanannya hanya diacak-acak atau masuk mulut lalu lepeh. Lempar makanan juga pernah. Tapi balik lagi, tidak sampai berlarut-larut. 

Nah, saya mau berbagi sedikit tips berdasarkan pengalaman saya yang amat sangat sedikit dan masih pemula. Saya yakin sih pasti sudah banyak tulisan berseliweran yang membahas ini. Tapi mudah-mudahan ini berguna juga ya.

Pertama, siapkan mental ibu. Optimis boleh, tapi jangan berekspektasi terlalu tinggi karena khawatir malah jadi emosi, hehe. Kedua, buat peraturan makan. Dari awal MPASI, saya membuat beberapa peraturan makan.

1. Terapkan Makan Tepat Waktu

Gak harus saklek jam segini atau segini sih, tapi minimal di waktu yang hampir sama. Tujuannya supaya si bayi mengenal rasa lapar. Jadwal makan ini bisa disesuaikan dengan kondisi masing-masing juga. Apakah si bayi lebih suka makan setelah tidur siang, atau makan dulu sebelum mandi, dan lain-lain.

Kalau bayi saya, sarapan pagi setelah mandi bar badannya segar. Gak apa-apa belepotan lagi daripada sarapan dalam kondisi badan risih karena belum mandi. Makan siang biasanya sekitar jam 12 siang, baru ganti popok dan lain-lain. Makan malam, sekitar jam 6 sore. Tapi makin tambah usia, makan malamnya bisa jam 7an.

2. Makan Harus Duduk

Gak boleh sambil main, apalagi gendong dan jalan-jalan. Kalau dipangku, masih boleh, tapi sebaiknya duduk sendiri ya. Tujuannya supaya si bayi fokus pada makanan dan proses makannya. 

Karena waktu awal MPASI, bayi saya belum bisa duduk tegak dan saya belum belikan kursi makan juga, jadi saya tempatkan dia di bantal sofa bayi, yang mirip donat itulah. Saya sangga tubuhnya dengan bantal-bantal, supaya posisinya gak tidur.

MPASI Bayi
Awal MPASI

Setelah dia bisa duduk tegak, saya belikan kursi makan sendiri. Dan saya merasa ini berguna banget! Makan jadi fokus, postur tubuh terjaga, dan minim distraksi. Pengalaman saya, ketika makan di tempat lain yang notabene gak ada kursi makannya, bayi saya lebih mudah terdistraksi dan akhirnya sesi makan jadi gak optimal. 

3. Kenalkan Semua Jenis Makanan

Saya ingin bayi saya tidak pilah pilih makanan, makanya sebisa mungkin saya kenalkan semua makanan yang ada sesuai dengan kemampuannya. Segala buah, sayur, protein, karbo, bergantian saya kasih.

Ini juga bertujuan untuk menguji apakah bayi ada alergi makanan tertentu, misalnya telur, susu, atau makanan laut. Selama ini, saya belum menemukan ada alergi tertentu pada bayi saya.

Untuk panduan kebutuhan masing-masing elemen di MPASI bayi ini bisa cari di internet ya, banyak kok. Oh iya, dari awal saya pakai timbangan perkiraan saja, gak pakai timbangan banget karena gak ada, wkwk. Kalau mau tepat, saya sarankan untuk pakai timbangan ya.

4. Kasih Contoh Makan 

Sebelum sesi MPASI, saya dan suami sudah sering makan di depan bayi saya. Tujuannya biar dia tertarik untuk makan dan melihat bagaimana proses makan itu. Saya juga sering makan bersama dan memberi contoh proses menyuap makanan ke mulut,  mengunyah, dan menelan. Jadi, si bayi bisa menirunya.


5. Buat Menu Sederhana

Saya sering lihat banyak postingan menu MPASI dengan bahan premium, khusus bayi, dan segala bumbu yang labelnya MPASI. Bagus sih itu, karena setiap ibu juga pasti ingin yang terbaik untuk anaknya kan. Tapi saya pribadi, gak pakai segala macam itu.

Saya buatkan menu sederhana ala rumahan saja. Biar ada rasa dan aromanya, saya biasa kasih tomat untuk penyedap alami, margarin untuk rasa asin, dan wortel untuk rasa manisnya. Rempah-rempah juga bisa dipakai seperti bawang-bawangan, daun salam, daun jeruk, kunyit, jahe, ketumbar, dll itu.

Intinya, saya membuat masakan biasa tapi tanpa gula dan garam. Nah, pas bayi saya sudah berusia 12 bulan, baru saya kasih gula dan garam dalam porsi yang sesuai dengan kebutuhannya.

Menu MPASI
Menu MPASI

6. Ciptakan Suasana Nyaman

Nah, ini penting banget. Sesi makan harus kondusif, jauh dari mainan, keramaian yang dapat memicu distraksi, dan pendamping juga fokus tanpa ada yang dikerjakan. Pengalaman pribadi, ini ngaruh banget. Jadi, kalau waktunya makan, sebisa mungkin saya gak pegang pekerjaan lain dulu atau gak sambil nonton.

Di sesi makan ini juga, biasanya saya awali dengan rutinitas cuci tangan, baca doa, dan saya informasikan apa menunya. Sewaktu makanannya sudah mulai terpisah antara karbo, protein, dan sayur, saya jelaskan satu persatu. Misalnya, yang saya sendok wortel, saya bilang "Ini wortel, warnanya jingga, rasanya manis, dimakan biar matanya sehat." begitu.

Lalu, saya biarkan juga dia eksplor makanannya sendiri. Dari awal MPASI, saya biarkan tangannya memegang makanannya. Belepotan ya gak apa-apa biar dia tahu tekstur makanannya juga.

7. Tidak Memaksa

Nah, ketika bayi saya tidak mau menghabiskan seporsi makanannya, saya tidak akan memaksanya. Paling, saya yakinkan saja, saya coba suapi lagi. Kalau dia benar-benar gak mau, ya sudah. Awalnya, porsi makan yang saya buat memang banyak tersisa meskipun saya membuatnya sudah sesuai dengan takaran di buku KIA. Tapi, lama kelamaan, habis sesuai porsinya.

Nah, itu dia beberapa tips memberi MPASI dari pengalaman pribadi saya. Saya yakin, setiap bayi pasti berbeda penanganannya karena kondisinya juga berbeda-beda. Kalau bayi lagi GTM, tetap jaga kewarasan ibu ya. Tarik nafas pelan, istighfar jangan lupa, dan coba lihat ekspresi si bayi. Perlahan, emosi ibu pasti reda meski kalau lihat makanannya yang utuh akan kesal sendiri juga, hehe.

Kalau pengalaman kalian, gimana? 

14 Oktober 2024

No Drama Di Awal MPASI

Halo!
Apa kabar ibu-ibu yang punya bayi dan sedang dalam tahap MPASI? Masih waras kah? Hehe. Semoga ibu dan anak-anaknya sehat semua ya. Sehat lahir batin.

Dulu sewaktu saya belum punya anak, saya sering bertanya-tanya ketika membaca beberapa tulisan seputar anak GTM, cara mengatasinya, usaha para ibu berkreasi demi si anak makan, dan sebagainya itu. Memang sedrama apa sih bayi yang sedang MPASI itu?

MPASI Pertama
MPASI Pertama

Sampai akhirnya saya punya anak. Jujurnya, saya belum punya pengalaman apapun tentang dunia MPASI ini. Hingga bayi saya tiba-tiba disarankan untuk diberikan MPASI dini karena BB-nya sempat naik lambat sekali (detailnya nanti saya ceritakan di postingan lain ya).

Mendadak, saya bingung harus kasih apa ke bayi saya ini, haha. Di buku KIA memang ada tapi sayangnya buku saya masih terbitan lama yang penjelasannya agak kurang (gak tau sih apakah saya yang kurang paham atau bagaimana, haha). Cari-cari di internet, lha tambah bingung karena saking banyaknya dan beda-beda metode pula.

Ada yang bilang, kalau MPASI pertama itu encer seperti susu dan hanya satu bahan saja untuk pengenalan. Ada lagi yang bilang harus menu lengkap dan tekstur lumat kental. 

Nah, karena saya punya kenalan bidan yang kebetulan juga langganan saya semasa hamil, saya tanya padanya. Saya tanya porsi, tekstur, dan apakah sudah boleh kasih wortel dan telur rebus pada bayi saya. Sayangnya, jawabannya kurang mengenakkan bagi saya. Saya dibilang kurang baca buku KIA, cari resep di internet banyak, yah begitulah. Padahal kan inginnya lebih diperjelas dan lebih yakin gitu, tapi ya sudahlah. 

Akhirnya, dengan semangat membara bercampur deg-degan, saya coba aja buat rebusan wortel dan telur. Saya uleg saring dan tambah air biar agak encer. Trus, suapin deh.


Suapan pertama berhasil membuat mimik wajah bayi saya aneh, haha. Dipikirnya apa kali ya, ditambah ekspresi saya juga agak ragu dan mengkhawatirkan. Dahlah, gak berhasil lanjut di suapan ke tiga. Nice try.

Hari berikutnya, saya cari referensi lagi dari berbagai sumber dan saya tarik benang merahnya. Awal MPASI boleh pakai menu lengkap, boleh juga hanya satu jenis makanan. Tinggal menurut keyakinan masing-masing saja. Poin pentingnya adalah kecukupan dan keseimbangan gizi dari makanan yang masuk itu.

Karena saya belum pengalaman masak MPASI itu bagaimana, saya coba kasih ubi ungu kukus dicampur sufornya si bayi (kenapa pakai sufor, nanti di postingan lain saya ceritakan ya). Hasilnya, yah lumayan masuk beberapa suap. Mungkin karena rasanya yang tidak terlalu asing, jadi masih bisa diterima.

Hari-hari berikutnya, saya mulai beranikan diri kasih menu lumayan lengkap. Karbo, prohe, prona, serat, ditambah bumbu aromatik dan sedikit lemak tambahan dari minyak sayur, tanpa tambahan gula dan garam.

Menu paling gampang ya, nasi, telur, tahu putih, wortel, dan bawang merah putih yang ditumis dulu. Perlahan, menu tadi bisa diterima bayi saya. Senang? Iyalah! 

Seiring berjalannya waktu, bayi saya mulai kenal dengan makanan lain selain ASI. Memang minggu-minggu pertama agak hectic ya dan perlu adaptasi, tapi lama-lama akan terbiasa juga.

Oh iya, saya juga bikin menu MPASI ini sendiri. Bubur fortif hanya saya berikan ketika saya benar-benar tidak sempat membuatnya atau saya sedang tidak di rumah. Bukan ingin terlihat sempurna, tapi lebih pada keyakinan saya bahwa di hari-hari selanjutnya dan seterusnya, dia kan akan makan masakan saya juga. Jadi saya lebih ingin mengenalkan masakan rumah sendiri.

MPASI bayi
Mulai lahap setiap sesi makan

Repot sih sudah pasti ya. Dengan metode uleg saring, pakai peralatan seadanya di rumah, sendirian sambil jaga bayi yang gak mau lepas dari ibuknya, saya nikmati aja perjalanan memberi MPASI ini. Kelelahan ini terbayaŕ saat si bayi mau makan dengan lahap.

Ternyata, mood seorang ibu itu memang terletak pada nafsu makan bayinya, haha. Kalau bayinya gak mau makan, sudahlah, dunia seperti jadi musuh.


Alhamdulillah, dari awal masa pemberian MPASI ini, bayi saya termasuk anak yang doyan makan hampir semua menu. Mau bubur fortif atau homemade, hayuk lah. 

Lalu, untuk frekuensi pemberian MPASI, di minggu-minggu awal, saya hanya memberinya 2 kali yaitu siang dan sore. Selebihnya ASI dan sufor, tanpa tambahan makanan selingan. Setelah dirasa bayi saya lahap makanan utama itu, saya tambah frekuensinya jadi 3 kali sehari, tapi tetap tanpa selingan.

Di bulan berikutnya, baru saya coba kasih makanan selingan berupa buah dan biskuit bayi. Itupun hanya sekali sehari.
Selingan MPASI
Selingan MPASI

Pola ini berlanjut dan saya rasa efektif di bayi saya. Makanan utama tetap lahap, makanan selingan sesuai kebutuhan, ASI lanjut terus. Selang beberapa bulan, saya coba berhenti memberinya sufor. Ternyata gak masalah. Alhamdulillah.

Jadi dari awal MPASI hingga bayi saya umur 12 bulanan, saya hampir tidak menemui drama GTM yang berarti. Paling kalau si bayi sedang flu ringan atau mulai tumbuh gigi, porsi makannya sedikit berkurang. Tidak ada GTM parah.

Tipsnya apa? Lanjut di postingan berikutnya ya! See you.

26 September 2024

Pengalaman Melahirkan Dengan Caesar Eracs

Halo!
Apa kabar semuanya? Pengen nulis ini dari beberapa bulan lalu, tapi kesampaiannya baru sekarang, ya ampun. Cuma berbagi pengalaman aja, siapa tahu bisa memberi pencerahan bagi yang sedang bersiap melahirkan atau sekedar hiburan semata di kala ingin membaca.

Sc. Eracs Bandarlampung

Kalau ada yang tanya kenapa kok sampe operasi caesar, yah intinya posisi janin ini sungsang alias kepala masih di atas dan bokong di bawah. Ditambah lagi air ketuban yang tinggal sedikit (saya gak tau atau merasa ada rembesan selama hari-hari belakangan sih) dan kata dokter ada pengapuran atau apa gitu istilahnya waktu itu. Jadi jalan terbaik ya ambil tindakan secepatnya dan tanpa menunggu adanya kontraksi.

Singkatnya, ketika jadwal kontrol tiba (saya kontrol di Puri Betik Hati, Bandarlampung), dokternya menyarankan untuk tindakan hari itu juga. Kaget? Iya lah. Niat hati kan cuma mau cek kandungan, kok malah langsung tindakan.

Saya dan suami langsung ke meja registrasi untuk mengurus administrasi. Disini, saya ditawarkan untuk memilih mau sc biasa atau eracs. Setelah penjelasan dan berbagai pertimbangan, saya memilih untuk sc eracs. Seperti apa perjalanannya? Lanjut bacanya yuk!

Pra-Tindakan

Operasi saya dijadwalkan sekitar pukul 15.00-16.00 waktu itu. Tetapi saya sudah tidak diperkenankan untuk keluar rumah sakit sejak pukul 11.00 (sejak saya kontrol), termasuk ya tidak boleh makan berat lagi. Padahal jujurnya saya laper banget sampe sore wkwk.

Karena saya belum dapat kamar, saya menunggu di ruang perawatan. Di ruangan itu, nakes menyuruh saya berganti pakaian operasi, melepas semua perhiasan, dan tanpa pakai apapun lagi. Lalu ia memeriksa denyut nadi, irama jantung, dan apakah saya ada alergi obat tertentu. Selesai itu, saya menunggu lagi. Oh iya, selama di ruang perawatan itu, ada cemilan yang diberikan pada saya. Dua keping biskuit puff abon dan sekotak minuman ion. Lumayan lah untuk mengganjal lapar.

Setengah jam menjelang operasi, saya dipindahkan ke ruang steril. Kali ini pendamping sudah tidak diperbolehkan masuk lagi. Saya dipasangi infus dan kateter, lalu menunggu tim dokter datang. 

Sc eracs
Sebelum tindakan masih bisa ketawa di ruang perawatan

Tindakan

Saya dibimbing masuk ke ruang operasi. Hawa dingin langsung menyergap tubuh saya. Benar rupanya cerita orang kalau ruang operasi itu serius dingin banget. Apalagi saya hanya pakai selapis baju lengan pendek dengan bagian belakang terbuka. Alhamdulillah saya masih pakai jilbab, jadi lumayan kepala gak terasa dingin menusuk.

Dokter pertama yang menyapa saya adalah dokter anestesi. Perempuan, mungkin usianya sekitar 45 tahunan. Ia bertanya kabar saya, kondisi kehamilan saya (ia ikut terharu mendengar ini kehamilan pertama saya setelah menanti selama 7 tahun), sedikit bercerita tentang keluarganya, dan sambil menunggu semua dipersiapkan, ia membaca Alquran. Sungguh, ini membuat saya lega sekaligus menenangkan hati saya yang deg-degan luar biasa.

Anestesi dilakukannya dengan menyuntik bagian punggung bawah saya. Dan ini gak sakit! Saya pernah mendengar cerita kalau suntik anestesi seperti ini rasanya gak karuan, sakit menusuk. Tapi, di saya gak, serius. Rasanya hanya seperti ya suntikan biasa. Lalu saya menunggu lagi untuk obat anestesi ini bekerja melumpuhkan sementara syaraf-syaraf rasa sakit saya.

Satu per satu dokter lain datang, saling menyapa dan mengobrol ringan, mungkin biar suasananya gak tegang ya. Bersyukurnya saya mendapatkan tim dokter yang ramah-ramah waktu itu.

Setelah memastikan anestesi saya berhasil dan saya tidak merasakan apa-apa lagi pada sebagian tubuh bagian bawah, dimulailah operasi pengeluaran si bayi ini. Meski saya sadar, tapi saya tidak merasakan apapun selama tindakan. Padahal dokter sudah memberi tahu bahwa operasi dimulai. Sesekali terdengar suara seperti air mengalir. Lalu perut saya terasa seperti digeser-geser.

Tiba-tiba saja si bayi sudah dikeluarkan dan ditunjukkan pada saya! Saat itu juga, tangis saya pecah tanpa aba-aba. Dokter anestesi membantu menghapus air mata saya karena kedua tangan saya ditahan di badan bed operasi.

Baca juga : Surat Untuk Wafa

Operasi pengeluaran si bayi cukup cepat, tapi penjahitan lukanya yang terasa agak lama. Sementara tim dokter menjahit sambil mengobrol santai, pikiran saya terbang ke ruang bayi. Bagaimana kondisinya? Sehatkah? Lengkapkah bagian tubuhnya? Kok gak langsung IMD ke saya ya? Ada apakah?

Pasca-Tindakan

Selesai dengan tindakan di ruang operasi, saya dipindahkan ke ruang observasi. Saat itu pukul 17.00 dan di ruang observasi hanya ada saya dan perawat laki-laki. Kata perawat itu, saya harus menunggu setidaknya selama 4 jam sebelum dipindah ke kamar.

Berangsur-angsur, rasa kebas di sebagian tubuh saya mereda. Saya mulai sedikit kesemutan, tapi juga menggigil kedinginan. Kata perawatnya, itu hal wajar setelah operasi. Saya benar-benar menggigil meski sudah dipakaikan selimut tebal. Rasanya mengantuk, tapi entah kenapa tidak bisa tidur nyenyak.

Empat jam di ruang observasi tanpa pendamping, melewati waktu maghrib yang sepi dan hening sekali sendirian. Suami saya diperbolehkan masuk ketika saya izin bertemu. Kalau tahu boleh dari tadi, saya minta ditemani dari tadi. Tapi di ruangan ini saya tidak diperbolehkan bertemu dengan siapapun, termasuk keluarga yang datang menjenguk. 

Pindah ke Kamar Perawatan

Setelah dinyatakan dalam kondisi baik dan stabil, saya dipindahkan ke kamar perawatan. Perawat memberi tahu hal-hal yang disarankan setelah operasi sore tadi. Misalnya, mulai bergerak ke kanan kiri, serta mulai duduk hanya jika memungkinkan dan tidak pusing.

Oh iya, saat dipindah ke kamar, kateter dan infus saya sudah dilepas. Jadi, kalau mau ke kamar mandi, ya boleh-boleh saja. 

Saya mencoba bergerak ke kanan dan kiri sesuai saran perawat tadi. Alhamdulillah cukup mudah dan berhasil. Tapi, ketika bangun untuk duduk, kepala saya terasa sangat pusing dan berputar-putar. Lha boro-boro mau ke kamar mandi. Jadi, malam itu saya urung ke kamar mandi dan hanya belajar bergerak sambil tiduran saja.

Pagi harinya, saya belajar bangun lagi. Masih terasa sedikit pusing tapi sudah bisa ditoleransi dan bisa mulai berjalan ke kamar mandi dengan bantuan suami. Niat hati mau mandi, tapi masih takut karena semalam lupa bertanya apakah ini perban anti air atau bukan, wkwk. Jadilah hanya lap-lap badan saja.

Newborn
Pertama kali gendong si bayi


Saya baru bisa bertemu dengan bayi sekitar pukul 09.00 pagi. Rasanya seperti mimpi saja. Bayi mungil yang selama ini kami nanti, kini hadir tepat di hadapan, bahkan tepat di pangkuan saya. Perawat memberi arahan untuk saya langsung menyusui bayi. Tapi rupanya gak mudah ya. Apalagi, air susu saya belum keluar saat itu. Untungnya si bayi gak rewel dan masih bisa bertahan.

Dokter kandungan datang berkunjung untuk memeriksa saya dan bayi. Syukurnya, kondisi kami berdua sehat dan diperbolehkan pulang ke rumah sore harinya. Jujur, saya agak kaget karena kok cepat sekali ya? Padahal saya lahiran saecar, biasanya minimal 3 hari baru boleh pulang. Tapi, ya senang jugalah, bisa lebih nyaman di rumah kan.

Bayi saya diambil kembali oleh perawat untuk dicek lagi sebelum pulang ke rumah. Jadi, sejak dilahirkan sampai saya pulang ke rumah, si bayi sepertinya gak menyusu dengan saya. Adakah yang mengalami hal yang sama? Atau kalian punya pengalaman yang berbeda?

Selepas Operasi

Dari pengalaman pribadi dan hasil perbandingan dengan mengamati orang lain yang melahirkan secara sc biasa, saya bisa garis bawahi beberapa hal.

Pertama, sc eracs punya kelebihan dalam meminimalisir rasa nyeri setelah operasi. Pengalaman saya, setelah obat bius hilang, saya tidak merasakan nyeri yang sangat di bagian luka sayatan. Tapi tidak juga benar-benar tanpa rasa nyeri ya. Memang, tingkat toleransi rasa nyeri setiap orang berbeda, tapi menurut saya, selepas operasi sc eracs, rasa nyeri itu sangat sangat minim.

Kedua, perawatan setelah operasi sangat singkat. Saya sudah bisa mulai bergerak sekitar 6 jam setelah operasi. Bisa mulai berjalan sekitar 12 jam setelah operasi. Saya hanya menginap semalam di rumah sakit dan diperbolehkan pulang 24 jam setelah operasi. Lagi-lagi ini sesuai dengan kondisi ibu dan bayi juga ya. 

Ketiga, operasi sc eracs ini bisa juga ditanggung BPJS kok, meskipun tetap ada biaya tambahan diluar obat dan tindakan. Misalnya pasien harus membeli paket melahirkan untuk sc eracs yang meliputi peralatan dan perlengkapan mandi, pembalut ibu, perlengkapan makan, popok bayi, gentong wadah plasenta, dan perawatan selama bayi dilahirkan. Padahal kalau dipikir, kesemuanya itu sudah saya siapkan dari rumah, haha.

Tambahan lagi, dari rumah sakit ini, si bayi langsung bisa dibuatkan kartu BPJS juga yang menginduk ke kartu BPJS ibunya. Tentunya dengan tambahan biaya iuran satu bulan ke depan saja.

Sehari setelah pulang ke rumah, saya merasakan pusing yang sangat. Kalau saya duduk atau berdiri dalam waktu lama, kepala saya rasanya sakit dan pusing. Tapi kalau dibawa tiduran meski gak dalam keadaan tidur, langsung hilang. Ini terjadi sekitar seminggu lamanya. Mungkin ini salah satu efek sisa obat bius ya, dan mungkin setiap orang keadaannya berbeda pula.

Tapi dari sekian banyak catatan, pada intinya adalah operasi sc eracs ini adalah sebuah terobosan yang bagus untuk calon ibu yang takut melahirkan secara saecar. Tanpa sakit, minim nyeri pasca operasi, dan perawatan yang sangat singkat. 

Nah, kalian yang pernah operasi saecar, punya pengalaman apa?


* Gak punya foto-foto di rumah sakit, apalagi pas di ruang operasi. Dahlah, gak kepikiran dokumentasi lagi, haha.

02 Juli 2024

Promil Part #4; Happy Ending

Hahaha..
 
Sepertinya ini bagian akhir dari tulisan perjalanan promil saya dan suami. Setelah tiga promil yang sudah saya tuliskan sebelumnya, saya belum kunjung hamil juga. Diluar tiga promil ini, saya dan suami juga berikhtiar dengan metode yang lain. Kayaknya gak mungkin satu-satu diceritakan secara detail ya. Dibilang lelah ya lelah, dibilang harus kuat dan masih ingin melanjutkan usaha, iya juga. Jadi, setelah ini saya dan suami berhenti lagi. Tidak memburu-buru dengan aturan yang saklek. Kembali ingat bahwa rezeki berupa anak itu hanya kuasa Allah.

Promil
My Happy Ending Promil

Suatu sore, di rumah kedatangan saudara sepupu. Sepasang suami istri yang juga pejuang garis dua selama kurang lebih 6 tahunan. Sama-sama berjuang lebih keras dari pasutri lain untuk mendapatkan keturunan. Nah, mereka berdua ini sudah berhasil hamil dengan terapi terakhir (tentunya sudah mencoba berbagai promil ya).

Baca juga : Promil Part 3; Jeruk Nipis sampai Resep JSR

Mereka bilang, pijat refleksi kaki. Pertama kali mendengarnya, saya biasa saja. Mungkin karena saya agak anti dengan metode pijat ya. Entahlah, saya gak pernah mau dipijat di bagian manapun tubuh saya oleh orang lain selain ibu dan suami. Geli aja gitu.

Tapi sepupu saya ini bilang cuma pijat refleksi di bagian kaki, gak ada pijat di bagian lainnya. Saya mengiyakan saja. Mereka juga memberitahu secara detail nama terapisnya, waktu praktek, biaya, lokasi, sampai arah jalan menuju kesana. Saya terima sebagai referensi. Mereka juga tahu kok, setiap orang berhak menentukan pilihan masing-masing. Mau menerima atau gak, yang penting sudah disampaikan.

Beberapa bulan berselang tapi saya dan suami seperti belum tertarik dengan pijat refleksi yang ini. Selain lokasinya yang memang cukup jauh dari rumah, saya juga masih ragu. Sampai ketika sepupu saya mengajak kesana untuk ke sekian kalinya sambil mereka memperkenalkan anaknya pada si terapis ini.

Saya dan suami sepakat untuk 'Baiklah, mungkin kita bisa mulai ikhtiar lagi setelah hibernasi beberapa waktu lamanya'. Kami juga sepakat bahwa apapun hasilnya setelah ini, ya itu sudah takdir. Mau berhasil atau gak, jalani aja dulu.

Singkat cerita, saya dan suami mulai pijat refleksi secara rutin. Sebagai informasi, tingkat rutinitas pijat refleksi ini tergantung dari seberapa intens kendala yang harus ditangani. Nah, untuk kasus kami, 2 bulan pertama kami harus kembali setiap minggunya kecuali ketika saya datang bulan.

Di samping itu, kami juga minum beberapa obat herbal untuk membantu menjaga kesehatan dan mengoptimalkan fungsi organ-organ dalam tubuh. Saya ingat banget waktu pertama kali disuruh makan belimbing wuluh 3 biji per hari. Katanya ini untuk memulihkan kondisi rahim saya. Kalian tahu kan gimana asemnya buah kecil itu? Dan saya yang gak toleran sama rasa asam buah, harus menelannya.

Tapi sekali lagi, demi menjemput takdir sebagai ibu, saya berani. Promil jeruk nipis yang asemnya ampun-ampunan aja saya coba kok, belimbing wuluh begini ya hayuk lah. Saya akali rasa asemnya dengan cara mencampur dengan sambal sachet kesukaan. Lumayan lah agak hilang sedikit rasa asemnya.

Terapi promil
Salah satu spot berteduh sebelum terapi, bisa untuk foto sambil jajan juga hehe

Selama kurang lebih 3 bulanan, kami bolak balik untuk pijat refleksi ini. Adakalanya kami santai ketika dapat jadwal pagi di hari libur. Tapi pernah juga dapat jadwal hari kerja dan sore hari. Nekat aja sih berangkat. Pas pulang kehujanan pula di tengah jalan. Mana sudah lewat maghrib dan di jalan yang gelap (sebagian jalan seperti melewati belantara tanpa rumah atau bangunan dengan kondisi yang sepi). Lagi-lagi, kami hanya berdoa semoga ikhtiar kami ini gak sia-sia.

Memasuki bulan ke empat atau ke lima (saya agak lupa), saya belum ada tanda-tanda akan hamil. Sementara tabungan sudah mulai menipis dan agak lelah juga hampir tiap hari libur harus terapi. Dalam kondisi begini, kami sempat gamang antara meneruskan atau selesai sampai disini dan ya sudah terserah Allah saja.


Nah, pas banget beberapa minggu kemudian datang Ramadhan. Kami sepakat untuk istirahat saat Ramadhan sambil terus memanjatkan doa. Rupanya, istirahat kami ini keterusan sampai beberapa bulan kedepan karena memang dana untuk kesana sudah sangat terbatas.

Beberapa bulan itu kami sudah pasrahkan. Kalau memang rezeki anak itu ada untuk kami, pasti Allah kasih kok. Kalau gak ada di dunia ini, mudah-mudahan di akhirat kelak.

Saat kami ada tabungan lagi, terbersit niat untuk kembali terapi. Tapi niat itu terus tertunda karena berbagai hal. Sampai akhirnya bulan Oktober tiba.

13 Oktober 2022
Sudah beberapa hari saya merasa tak enak badan. Flu, batuk, meriang, pusing, dan rasanya capek sekali. Lihat kalender, lho kok sudah lewat waktunya datang bulan. Seharusnya, sudah dari sebelum tanggal 10 kemarin. Saya gak mau berasumsi atau berharap lebih karena gak mau kecewa. Tapi, rasa penasaran menyergap.

Saya minta suami beli tespek dan ya ampun belinya cuma satu! Haha. Ya sudahlah. Subuh-subuh saya tes dengan agak berdebar. Tapi sebelumnya, saya dan suami sepakat untuk menerima apapun hasilnya. Kalau positif bersyukur, kalau negatif ya ikhlas lagi aja. Beberapa detik yang berselang itu jantung saya berdegup kencang sekali. Samar-samar muncul dua garis di stik tipis itu yang semakin lama semakin terang.
Tespack 2 garis
Tespack 2 garis

Saya mengerjapkan mata. Ini beneran dua garis? Artinya hamil? Saya bolak balik kemasan tespek untuk membaca ulang cara penggunaan, keterangan hasil, pokoknya semua tulisan disana. Dan stik itu tetap memberi saya dua garis. 

Jujur, keluar kamar mandi, saya gak begitu terharu. Hanya tercengang, bengong dan menghampiri suami. Dia juga sama, gak ada sorak sorai karena pas banget saat itu suami lagi demam juga. Yah, intinya, kami melihat hasil tespek positif itu seperti dua orang aneh.

16 Oktober 2022
Kami berdua berangkat ke klinik dekat rumah untuk memastikan apakah saya hamil beneran atau gak. Setelah usg dan konsultasi yang gak terlalu lama, hasilnya adalah positif. Saya hamil! Sejak hari itu, dimulailah perjalanan saya yang baru. Menjadi calon ibu. Alhamdulillah.

USG Hamil
USG Hamil

Oke, tulisan promil saya berhenti sampai disini. Saya merasa kehamilan saya adalah mukjizat. Anugrah, hadiah besar yang tidak saya sangka-sangka. Setelah berproses sekian lama sampai saya benar-benar di ujung pasrah, Allah mempercayai saya sebuah janin. Alhamdulillah.

Saya gak tahu pasti, usaha promil mana dan doa siapa yang berhasil membuat Allah mengizinkan saya untuk hamil. Satu hal yang pasti adalah keyakinan bahwa Allah akan memberi apapun pada saya disaat yang tepat.

Oh iya, selama saya promil apapun, saya gak cerita apapun kepada siapapun. Paling spil-spil dikit lah ke orang terdekat dan itupun gak detail. Tujuannya hanya untuk menjaga hati saya sendiri dari pertanyaan berulang. Tapi saya pernah bilang ke diri sendiri, suatu saat kalau saya berhasil hamil, saya akan bercerita tentang perjuangan ini di blog untuk kenang-kenangan, bahwa saya pernah sangat berusaha menjemput takdir sebagai ibu.

07 Juni 2024

Surat Untuk Wafa

Halo, Sayang. Ini ibu di waktu kamu umur 1 tahun. Hari ini setahun yang lalu, pagi-pagi ibu sudah siap untuk ke RS. Rencananya ada kontrol lanjutan karena sebulan sebelumnya saat cek posisi janin, kamu masih sungsang.


Surat untuk Wafa
Wafa 1 tahun

Gak ada yang ibu bawa kecuali dokumen rujukan dan buku KIA. Selebihnya paling hanya camilan dan air minum. Berangkat diantar akung dan uti, sementara ayahmu pakai motor sendiri biar bisa lanjut kerja setelah kontrol nanti.


Kami semua berdoa, berharap posisi kamu sudah membaik dan siap untuk dilahirkan meski HPL masih sekitar semingguan lagi. Tapi ibu juga sudah pasrah apapun keadaannya, bagaimanapun cara melahirkanmu, ibu ikut kata dokter yang terbaik saja.


Sampai akhirnya nama ibu dipanggil dan kamu diperiksa dokter. Benar dugaan ibu, posisimu masih sungsang ditambah air ketuban sudah makin sedikit dan mulai keruh. Jalan terbaik adalah operasi caesar secepat mungkin. Dokter memberi pilihan hari ini atau besok.


Keluar ruangan, hati ibu sudah gak karuan sebenarnya. Tapi rasa ingin cepat bertemu denganmu membuat secercah harapan bahagia juga. Tapi begitu melihat uti, ibu langsung menangis. Entah kenapa, ingin menangis saja. Uti bilang, lebih cepat lebih baik. Jadi, kami putuskan untuk melahirkanmu hari itu juga, tinggal menunggu jadwal dokter dan mengurus administrasi.


Ayahmu tak jadi lanjut kerja, ia langsung mengabari keluarga mbah dan mengurus segala keperluan ibu sebelum operasi. Ibu sudah tak boleh keluar RS lagi dan tak boleh makan besar lagi. Akung dan uti pamit pulang untuk ambil hospital bag di rumah. Untung sudah ibu siapkan semua keperluan dalam satu tas, jadi gak terlalu repot kalau dadakan begini.


Tapi, hari itu benar2 hari sibuk untuk semua orang. Senin yang serba buru2, Senin yang serba sibuk. Tidak terkecuali akung dan uti. Akung ada pertemuan dengan rekan kerja. Uti juga ada beberapa rapat penting dan mengurus beberapa hal di beberapa tempat.


Ayah dan ibu hanya berdua di RS, masih terus menunggu kamar yang kosong hingga untuk sementara ibu hanya bisa menunggu di ruang perawatan. Jujurnya, perasaan ibu campur aduk. Dalam hati selalu bertanya, hari ini kah pertemuan ibu dengan kamu? Hari ini kah ibu akan benar2 menjadu seorang ibu? Ah rasanya kayak mimpi.


Operasi Caesar
Menunggu di ruang perawatan dan masih bisa ketawa nyengir pose


Lewat tengah hari, ayah dan ibu masih harus menunggu jadwal operasi yang katanya pukul 15.00 atau 16.00 sore nanti. Masih di ruang perawatab bersama dengan beberapa calon ibu yang juga menanti pertemuan dengan malaikat kecilnya.


Ayah dan ibu hanya diam, sesekali tersenyum meringis kala di sebelah ada ibu2 yang menangis, teriak, memanggil2 perawat atau dokter karena sedang kontraksi. Sementara ibu tenang saja dan tak merasakan sakit apapun.


Berselang beberapa waktu, perawat datang dan memberi baju operasi untuk ibu. Segala peneriksaan jantung, nadi, dan apapun itu sudah mulai dilakukan. Ibu makin degdegan. Akung dan uti belum juga kembali padahal ada beberapa barang yang perlu dipakai.


Sampai akhirnya sekira pukul 15.00 ibu dipindahkan ke ruang lain, dipasang kateter, infus, dan sudah steril dalam artian tak ada siapapun yang menemani lagi. Rasanya ingin sekali ditemani oleh ayahmu seperti artis2 yang melahirkan caesar, tapi nyatanya itu tak diperbolehkan. Syukurnya, tim dokter dan perawat semuanya ramah dan menyenangkan. Tak ada wajah2 tegang, semuanya membuat ibu merasa santai dan baik2 saja.


Hingga tiba waktunya tindakan mengeluarkanmu. Lalu tiba2 sebuah tangisan memenuhi ruangan bersamaan dengan diangkatnya seorang bayi mungil di hadapan ibu. Itu kamu, Wafa. Tak ada jeda untuk berfikir, ibu langsung menangis keras. Rasa ingin memelukmu namun tak bisa. Rasa bahagia bercampur haru. Lalu tak percaya kamu sudah keluar dari perut ibu.


Seperti apakah wajahmu? Bagaimanakah rupa senyummu? Sekeras apakah kamu menangis? Rasanya waktu begitu panjang ketika menanti pertemuan denganmu. Ibu kira bisa langsung mengecupmu, tapi nyatanya ibu harus menunggu lebih lama lagi.


Baca juga : Journey To Be A Mom


OOO


Sejujurnya, ibu tak bisa tidur nyenyak malam itu. Meski ayah sudah memberikan fotomu, tapi rasanya belum puas kalau belum bertemu langsung denganmu. Hingga akhirnya perjumpaan denganmu tiba saat matahari sudah mulai cerah.


Wafa Newborn
Wafa Newborn


Bunyi derit kereta bayi terdengar mendekat ke arah tempat tidur sembari perawat memanggil nama ibu. Membuncah hati ibu saat akhirnya kita bertemu. Kamu benar2 mungil saat itu, Nak. Berbalut selimut kuning, meringkuk di pinggir box kaca, seolah kamu malu.


Tidak ada kata yang bisa menggambarkan perasaan ibu saat itu. Menggendongmu untuk pertama kalinya, mendekapmu untuk pertama kalinya, mengecupmu untuk pertama kalinya. Rasanya seperti mimpi, sampai ibu bertanya untuk yang entah ke berapa kalinya. Apakah bayi ini anak ibu? Ini bukan khayalan kan? Ini nyata kan?

Gendongan pertama
Pertama kali gendong Wafa

OOO


Dan kini satu tahun berlalu, sepertu baru kemaein rasanya. Wafa, terimakasih ya sudah memilih ibu jadi ibumu.


Selamat ulangtahun ke 1, Nak.


Bumisari, 5 Juni 2024, 22.52 WIB


Baca juga :Akikah Bayi; Selamat Datang Malaikat Kecilku

25 April 2024

Promil Part 3; Jeruk Nipis Sampai Resep JSR

Halo!
Kembali menulis kisah perjuangan menjemput malaikat kecil setelah beberapa lama terputus. Sekali lagi, saya hanya ingin berbagi kisah, bukan menggurui, bukan cari perhatian, apalagi pamer, hehe. Karena yang namanya anak itu adalah rezeki, dan setiap orang sudah punya rezekinya masing-masing. Urusan anak juga hanya Allah yang bisa turun tangan, manusia itu hanya berusaha dan berdoa. Semua kembali ke Sang Pencipta manusia itu.

Promil herbal

Oke, di bagian sebelumnya, saya sudah tuliskan bagaimana usaha awal saya dan suami ke dokter, menebus obat, dan diet yang terasa amat berat. Juga bagaimana pada akhirnya kami beristirahat sejenak untuk menenangkan diri setelah perjuangan hampir setahun ke dokter itu belum juga membuahkan hasil yang nyata.

Sebenarnya, saya juga terus mencari alternatif lain untuk promil selain ke dokter. Ada banyak saran dari orang-orang yang bertemu dengan saya. Minum dugan hijau yang dibakar, makan kurma muda, minum air buah zuriat, sampai makan biji merica. Setidaknya ada beberapa alternatif promil yang saya lakukan demi menjemput garis dua ini selain ke dokter.

1. Promil Jeruk Nipis Ala Dewi Yull

Sepertinya mudah ya, tapi ternyata gak banget! Haha. Jadi, promil jeruk nipis ini dilakukan selama 14 hari berturut-turut dengan cara meminum perasan jeruk nipis. Jumlah jeruk nipis yang diminum per harinya bervariasi dan mengikuti pola tertentu. Hari pertama 1 buah, dan seterunya hingga 24 buah. Duh, nulis ini sambil membayangkan rasa asemnya, jadi merinding sendiri.

Jujur, sebelum saya coba resep ini, saya sudah berkali-kali mencari referensi dan testimoninya. Ada beberapa yang setuju dan berhasil meskipun ada juga yang tidak. Namanya juga usaha, jadi saya mau coba juga yang ini.

Percaya atau gak, saya berhasil minum perasan jeruk nipis sampai lebih dari seminggu sepertinya. Suami sempat khawatir karena saya kelihatan tersiksa setiap kali minum jeruk nipis itu. Ya gimana gak tersiksa, saya yang gak suka rasa buah yang asem sedikit pun, malah harus minum air jeruk nipis yang kalian tahu kan rasanya gimana, hehe.

Saya juga tahu ada yang diam-diam menertawakan promil jeruk nipis saya ini. Ironisnya, dia juga seorang perempuan yang harus menanti kehamilan setelah menikah meski tidak sepanjang penantian saya. Dalam hati, saya berdoa semoga ikhtiar saya gak sia-sia. Tapi memang promil jeruk nipis ini gak berhasil di saya karena saya gak kuat sampai akhir, huhu.

2. Pola Makan Ala PCOS Fighter

Kebanyakan penderita PCOS ini perempuan dengan kelebihan berat badan meskipun tidak jarang juga perempuan yang bisa dibilang kurus. Termasuk saya ini. Sebenarnya, pola makan ala PCOS fighter ini sehat dan mudah. Intinya menghindari tepung-tepungan dan gula karena kebanyakan sindrom ini berkaitan dengan resistensi insulin.

pcos diet
Salad sayur favorit saya

Saya ikuti sebisanya. Sampai-sampai saya luangkan waktu, pikiran, dan tenaga untuk menyusun menu sehat, hehe. Dimulai dari sarapan pagi dengan buah, oat, telur rebus, atau kacang-kacangan. Dahlah bye-bye sama roti bakar, nasi uduk atau buryam sementara waktu. Makan siang dengan nasi dalam porsi kecil tetapi protein yang lebih banyak serta sayuran. Skip gorengan apalagi bakwan yang full tepung. Padahal bakwan itu favorit saya, huhu.

Camilan, saya banyakin buah atau makanan rebusan. Pisang rebus, singkong rebus, mantang rebus, kacang rebus. Dah itu aja. Bosan? Sejujurnya kadang bosan juga, jadi ada hari dimana saya melonggarkan diri sendiri untuk makan 'enak' tapi tetap gak berlebihan juga.


3. Resep JSR 

Hampir sama sih dengan pola makan PCOS fighter, resep JSR ini juga lebih ke makan sehat tanpa olahan berlebih dan minuman rempah.

Salah satu minumannya yang sampai sekarang masih saya simpan resepnya adalah minuman rempah pembersih rahim. Minuman ini terbuat dari campuran jahe, ketumbar, kapulaga, kayu manis, cengkeh, dan madu. Gampang banget buatnya. Diminum hangat enak banget. Diminum dingin juga seger.

promil rempah
Rempah andalan saya

Dari satu minuman ini, saya kepoin minuman-minuman lain yang sekiranya sesuai dengan kondisi tubuh saya dan suami. Cocok? Iya. Saya yang tadinya kalau datang bulan selalu sakit banget sampai gak bisa ngapa-ngapain, setelah minum rempah jadi lumayan berkurang sakitnya. Asal rutin aja.

Nah, saya coba bawa minuman rempah ini ke tempat kerja, dan taraaa.. sebagian teman kerja malah ikutan mau coba juga karena penasaran. Jadilah tren minuman rempah dengan berbagai macam peruntukannya. Percayalah, untuk yang gak promil juga bisa dan rasa minuman rempah ini asli seger banget!


Setelah tiga promil itu, saya belum kunjung hamil juga. Diluar tiga promil ini, saya dan suami juga berikhtiar dengan metode yang lain. Kayaknya gak mungkin satu-satu diceritakan secara detail ya. Dibilang lelah ya lelah, dibilang harus kuat dan masih ingin melanjutkan usaha, iya juga. Jadi, setelah ini saya dan suami berhenti lagi. Tidak memburu-buru dengan aturan yang saklek. Kembali ingat bahwa rezeki berupa anak itu hanya kuasa Allah.

Lanjut di postingan berikutnya aja ya. Masih mau baca kah?

13 Maret 2024

Tips Berpuasa di Bulan Ramadhan Untuk Ibu Menyusui

Assalamualaikum.
Marhaban ya Ramadhan. Alhamdulillah, masih diberi umur untuk sampai di bulan yang penuh keberkahan dan kemuliaan ini.

Ramadhan kali ini jadi Ramadhan pertama kami bertiga setelah tujuh Ramadhan hanya berdua saja. Tahun lalu saat Ramadhan, saya masih hamil sekitar 7 bulan. Masih kuat puasa, dan si janin sehat-sehat aja. Tahun ini saya juga mencoba untuk puasa dengan melihat kondisi saya dan si kecil. 

Tips berpuasa ibu menyusui
Tips berpuasa ibu menyusui

Pas banget si kecil sudah mulai saya beri MPASI beberapa bulan lalu dan sekarang lagi aktif-aktifnya. Merayap, nungging, duduk gak bisa anteng, penasaran dengan segala benda di sekitar, dan lagi mulai rambatan. Pokoknya sudah gak bisa meleng dikit lah pas jagain dia. Ngos-ngosan iya, tapi tetap harus bersyukur karena punya anak yang aktif dan sehat.

Sementara, kondisi saya terbilang sehat dan kuat untuk puasa karena si kecil juga sudah mulai berkurang konsumsi ASInya. Jadi, saya putuskan untuk berpuasa. Merangkum dari beberapa artikel yang saya baca, juga pengalaman sehari puasa kemarin, saya kasih beberapa tips berpuasa di bulan Ramadhan untuk ibu menyusui.

Tapi sebelum itu, pastikan kondisi ibu dan bayi tetap sehat ya. Kalau ragu, bisa konsultasi terlebih dahulu dengan dokter. Apalagi kalau si kecil masih berusia di bawah 6 bulan yang mana hanya ASI saja yang bisa dikonsumsinya. Berbeda dengan si kecil yang sudah berusia di atas 6 bulan dan sudah mendapat MPASI.

1. Tetap makan 3 kali dalam sehari

Walaupun berpuasa, ibu menyusui sebaiknya tetap makan 3 kali sehari, yaitu sahur, saat berbuka, dan sebelum tidur. Tujuannya untuk menjaga asupan nutrisi dan tenaga ibu saat menyusui. Kalaupun tidak bisa makan 3 kali sehari, coba makan cemilan yang sehat dan mengenyangkan.

Jujur sih, semenjak menyusui, porsi makan saya memang agak lebih banyak dari sebelum menyusui. Wajar kok, apalagi kalau badan jadi terlihat lebih berisi, gak apa-apa. Santai aja.

2. Konsumsi makanan padat nutrisi

Tidak hanya kuantitas makannya saja yang dijaga, tapi kualitasnya juga harus terpenuhi. Ibu menyusui sebaiknya mengkonsumsi makanan dengan nutrisi yang lengkap, seperti karbohidrat, protein, lemak sehat, serat, dan vitamin serta mineral. 

Nutrisi ini bisa didapat dari makanan sehari-hari seperti sayuran, buah, makanan laut, daging merah, daging ayam, telur, susu dan olahannya, serta kacang-kacangan.

3. Jangan lewatkan sahur

Poin yang satu ini penting banget lho. Ibu menyusui yang tetap ingin berpuasa, jangan sampai melewatkan sahur ya. Ibarat orang yang akan melakukan perjalanan, harus bawa bekal biar gak kelaparan, nah begitu juga dengan perjalanan puasa ibu yang menyusui. Cadangan tenaga dan bahan produksi ASI harus disuplai terlebih dahulu saat sahur ini.


4. Istirahat yang cukup

Meskipun punya anak kecil yang aktifnya ampun-ampunan dan pekerjaan rumah yang banyak, ibu menyusui yang tetap berpuasa harus cukup beristirahat. Hindari dulu pekerjaan yang menguras tenaga atau aktivitas diluar rumah yang tentunya bisa membuat lelah.

Kalau saya, tidur malam harus di bawah pukul 22.00. Bangun sahur juga gak terlalu awal untuk mencukupi jumlah jam tidur karena seringnya siang gak bakal bisa tidur. Bisa lho berbagi tugas dengan suami, misalnya pas sahur, gantian suami yang nyiapin. Atau pekerjaan rumah lainnya yang bisa dikerjakan oleh suami.

5. Jaga tubuh tetap terhidrasi

Caranya dengan minum air putih tetap seperti biasanya. Ibu menyusui disarankan untuk mengkonsumsi 3 liter air dalam sehari, sudah termasuk cairan dari sayur dan lain-lain. Nah, saat puasa juga begitu. Minum air putih sebanyak 2-3 gelas saat sahur, 2 gelas saat berbuka, dan 2-3 gelas sebelum tidur. 

Pengalaman saya selama punya bayi baru lahir sampai sekarang, saya selalu minum dari botol. Tujuannya biar bisa tertakar berapa banyak air putih yang sudah dikonsumsi, apakah sudah mencukupi atau masih kurang. Selain itu, saya juga jadi gak bolak balik ambil air minum karena botol selalu saya bawa. Percayalah, ini efektif dan efisien untuk ibu yang punya anak kecil super aktif.

6. Bila perlu, konsumsi ASI Booster dan suplemen tambahan

Nah, kalau memang diperlukan, bisa konsumsi ASI Booster dan suplemen kesehatan tambahan. Kemudian, susui si kecil seperti biasanya karena semakin sering disusui, maka produksi ASI makin bertambah. Untuk suplemen tambahan, bisa dikonsultasikan dulu dengan dokter ya.

Nah, itu dia beberapa tips untuk ibu menyusui agar puasanya lancar selama Ramadhan. Oh iya, kalau sekiranya saat berpuasa merasa pusing, bibir terlalu kering, badan lemas dan kelelahan, urin berwarna pekat dan berbau tajam, sebaiknya langsung berbuka saja karena kemungkinan ibu mengalami dehidrasi.

Perhatikan juga kondisi si kecil. Apabila si kecil tidak buang air kecil seperti biasanya, ada bagian cekung di kepala, rewel dan gelisah sepanjang hari, merasa tidak puas menyusu, sebaiknya ibu juga langsung berbuka karena mungkin si kecil juga dehidrasi.

Berpuasa atau memilih tidak berpuasa bagi ibu menyusui itu boleh-boleh saja kok. Keduanya sama-sama ibadah dan memang ada keringanan dari sisi syariat. Semoga kita semua selalu sehat ya.