Halaman

30 Maret 2020

Menjelajah Museum Wayang, Ngeri-Ngeri Sedep!

Prabu Dasarata menerima kedatangan Raden Rama yang sudah memboyong Dewi Sinta. Di saat ini pula Dewi Kekayi menagih janji Prabu Dasarata bila kelak anaknya akan dijadikan raja di Ayodua. Mendengar ini akhirnya Rama Wijaya diusir dari kerjaan. Kepergian Rama Sinta dan Lesmana, tiba-tiba Prabu Dasarata sakit mendadak. Akhirnya diutuslah Raden Bharoto untuk menyusul Rama agar sudi kembali ke kerajaan.

museum wayang jakarta

Itu adalah salah satu teks adegan dari Serial Ramayana, Ceritera Rama Tundung yang dipamerkan di Museum Wayang. Mungkin bagi yang suka nonton wayang, sudah tidak asing lagi ya dengan cerita itu. Tapi bagi saya yang belum pernah nonton wayang dalam arti benar-benar menyimak dengan seksama, pastinya gak bakal ngerti dengan ceritanya.

Lokasi Museum Wayang

Museum Wayang terletak di kawasan Kota Tua Jakarta, tepatnya di Jl. Pintu Besar Utara No. 27 Pinangsia. Gak susah kok untuk menemukan gedungnya yang menghadap langsung ke area taman Fatahillah. Harga tiketnya hanya Rp 3.500,-/orang saja. Sebelum masuk dan menjelajah ke dalamnya, saya sempatkan foto dulu dengan salah satu tokoh perwayangan yang terkenal karena kekuatannya. Siapa dia? Yup! Gatot Kaca. Ssst, ternyata Abah juga gak mau kalah gaya, haha!

Museum Wayang di Kota Tua Jakarta
Gaya Abah sudah sama ya sama si Gatot Kaca? :D
Nah, apa saja yang ada di Museum Wayang ini? Yuk ikut cerita saya.

Koleksi Museum Wayang

Baru saja masuk lewat pintu depan, kami sudah disuguhi alunan musik gamelan yang mengiringi kami di sepanjang lorong. Di kanan kiri lorong ini dipamerkan berbagai macam wayang dari berbagai daerah. Nah, di dalam kotak-kotak kaca itu, diselipkan teks-teks adegan wayang yang salah satunya saya tulis di depan tadi.
wayang golek pakuan bogor
Wayang Golek Pakuan Bogor
Setelah melewati lorong ini, terdapat satu tempat agak terbuka yang di satu sisinya terdapat semacam taman kecil. Tepat di belakangnya, menempel di dinding pagar sebuah tulisan dalam Bahasa Belanda. Saya gak tahu artinya apa, tapi setelah saya gugling, tulisan itu semacam tugu peringatan untuk Jan Pieterszoon Coen, Gubernur Hindia Belanda pada sekitar tahun 1600-an.
makam di museum wayang
Tulisan di dinding pagar setelah lorong pintu masuk
Berhadapan dengan dinding ini, yaitu dinding di sebelah kanan lorong dari pintu masuk tadi, ada pula semacam batu bertulis Bahasa Belanda juga. Konon katanya sih ini batu nisan sang gubenur tadi.

nisan di museum wayang
Konon katanya ini batu nisan sang gubernur
Setelah melewati taman kecil, kami masuk kembali ke dalam ruangan yang lebih banyak menyimpan koleksi wayang. Selain wayang yang berukuran kecil yang biasa dimainkan oleh dalang dalam pertunjukan, dipamerkan juga wayang berbentuk patung dengan ukuran besar. Jangan kaget kalau masuk sini dan menemukan wayang dengan wajah yang bisa dibilang agak menyeramkan. Saya juga sebenarnya agak takut sih, hehe.
museum wayang angker
Patung yang tergantung
Di bagian ini, lebih banyak dipamerkan wayang golek 3 dimensi dari berbagai daerah. Jujur saya baru tahu kalau tidak hanya Jawa saja yang punya wayang. Setidaknya, disini saya menemukan wayang golek Menak Kebumen, wayang golek Menak Pekalongan, dan wayang golek Lenong Betawi. Oh iya, disini juga terdapat beberapa cerita rakyat yang tidak asing lagi di telinga, seperti cerita Si Pitung dan Si Manis Jembatan Ancol.

Boneka di museum wayang
Wayang Golek Lenong Betawi
Beranjak lebih ke dalam, kami menemukan juga koleksi wayang lukisan kaca berukuran besar. Di sudut ruangan, dipamerkan juga alat musik tradisional terbuat dari bambu. Di salah satu dinding menuju lantai atas, ada sebingkai salah satu tokoh wayang lengkap dengan atribut yang dikenakannya. Ia adalah Prabu Baladewa dari Kerajaan Mandura.

Baca juga: Menjelajah Museum Bank Mandiri

Saya juga baru tahu ada atribut sebanyak ini yang menempel pada tokoh wayang. Nama-nama atributnya pun ada yang terdengar tidak asing di keseharian. Misalnya, ada atribut upil-upilan yang letaknya pas di bawah lubang hidung dan ada atribut selilitan yang letaknya di antara gigi. Mungkin istilah itu yang mendasari istilah dalam keseharian kehidupan nyata ya, hehe.


koleksi di museum wayang
Wayang Baladewa dan atributnya
Kami naik ke lantai atas melalui tangga kayu bedaun pintu dua. Tepat di depan pintu, ada silsilah perwayangan. Ternyata wayang pun punya silsilah keluarga sendiri! Saya yang pada dasarnya gak paham dengan para tokoh wayang ini hanya bisa membacanya sekilas tanpa tahu alur ceritanya. Tapi ayah dan pakde supir terdengar saling ngobrol sambil membaca silsilah itu. Saya sih gak heran, dulu di kampung kami sering banget ada pertunjukan wayang semalam suntuk saat ada hajatan. Sekarang sudah jarang, bahkan mungkin gak ada lagi.

koleksi di museum wayang
Silsilah keluarga wayang
Di ruangan ini, tidak hanya wayang dari negeri sendiri saja yang dipamerkan, tetapi juga bermacam boneka dari luar negeri. Kalau melihat dari rupa boneka sebelum membaca keterangan di bawahnya, mungkin bisa juga langsung ditebak dari negara mana. Setiap daerah kan punya ciri khasnya masing-masing. Tapi sayangnya, boneka-boneka ini punya raut wajah yang agak seram bagi saya. Bahkan ibu saya sampai gak berani lama-lama disini, hehe.

Misalnya boneka Punch Judy dari Inggris yang lebih mirip badut bermata sangat besar dan berhidung merah. Lalu, boneka kayu dari Perancis dengan tokoh seorang perempuan berambut putih berpakaian seperti pelayan tetapi agak seram -saya bahkan membayangkan adegan film horor melihat boneka-boneka ini tergantung tali di kotak kaca. Kemudian ada wayang boneka dari India yang rupanya persis di film-film Bolywood -Laki-laki berkumis tebal dengan mata bercelak hitam lengkap dengan boneka ular kobranya.
boneka di museum wayang
Boneka dari Rusi
Ada juga deretan boneka dari Tiongkok, khas sekali dengan mata sipitnya. Untungnya, ada beberapa boneka yang wajahnya tidak menyeramkan sehingga saya berani lama-lama memandangnya hehe. Dia adalah boneka dari Rusia, berbentuk seorang anak perempuan dengan baju berenda dan hiasan kepala. Matanya bulat cantik. Juga ada sepasang boneka dari Polandia, seorang laki-laki dan perempuan dengan baju putih polos. Kedua boneka ini asli gak serem. Terakhir boneka dari negeri sendiri yang ceritanya sudah dari jaman dulu dan sampai sekarang masih ada. Yup! Boneka si Unyil dan teman-temannya.
si unyil di museum wayang
Kami bersama boneka si Unyil
Menuju pintu keluar, terdapat sebuah lorong lagi yang salah satu sisinya terpajang berbagai macam topeng. Lagi-lagi topeng itu tidak terlalu ramah raut wajahnya. Ada juga deretan lukisan dengan tokoh perwayangan. Dan di akhir lorong kami disambut lagi dengan sepasang ondel-ondel besar. Untunglah kami sudah berada di ruangan yang luas dan terang menuju pintu keluar, jadi gak terlalu seram lihatnya.
museum wayangn seram
Si ondel-ondel yang sebenarnya saya takuti
Nah, disini juga dijual beberapa suvenir berupa patung kecil, wayang kulit mini, kipas, dan gantungan kunci. Keluar dari museum dan mendapati taman Fatahillah yang ramai rasanya begitu melegakan. Aslinya di dalam tadi punya aura serem-serem sedep gitu, tapi gak ngomong-ngomong sama yang lain. Ternyata ibu dan adik saya juga takut, haha. Susah memang jadi orang penakut seperti kami ini. Tapi penakut ditambah penakut, jadi para pemberani lho :P

28 Maret 2020

Jejak Pilu di Museum Jend. A.H. Nasution

Berkunjung ke museum adalah salah satu daftar yang tak boleh saya lewatkan ketika jalan-jalan di tempat yang baru. Dimanapun itu, museum jadi tempat pertama dalam itenerary saya. Nah beberapa waktu yang lalu, saya dan keluarga kembali menginjakkan kaki di Jakarta, tepatnya di daerah sekitaran Menteng. Wah, kebetulan sekali nih dekat dengan salah satu museum yang ingin saya kunjungi.

museum A.H. Nasution
Patung Jend. A.H. Nasution di depan museum
Museum Jenderal A.H. Nasution. Lokasinya di Jl. Teuku Umar No. 40 Gondangdia, Menteng. Walaupun bangunannya tidak berbeda dengan bangunan rumah lainnya, tapi tetap tidak sulit untuk menemukannya. Sebab, selain letaknya yang persis di pinggir jalan raya, juga ada penanda berupa patung Jenderal A.H. Nasution yang berdiri di halaman rumah, menghadap ke jalan raya.

Saat melewati pintu gerbang dengan pos jaga, kami disambut petugas yang langsung mempersilakan kami untuk masuk ke dalam rumah -yang artinya museum itu sendiri. Tidak ada patokan biaya untuk mengunjungi tempat ini, tetapi saat kami masuk ke ruang depan dari pintu utama, disana terdapat kotak kaca, seperti kotak infak. Kami segera tahu bahwa itu artinya pengunjung dibebaskan untuk mengisi atau tidak, berapapun nominalnya.

Di ruang utama, kami disambut dengan patung setengah badan Jenderal A.H. Nasution yang diletakkan di tengah-tengah ruangan, tepat menghadap pintu utama. Dari petugas yang akan mendampingi kami, dipesankan untuk tidak terkejut ketika nanti diajak berkeliling museum karena akan banyak sekali diorama yang menggambarkan kejadian-kejadian di masa itu. Kami mengangguk-angguk.
MUSEUM NASUTION
Patung setengah badan Jend. A.H. Nasution di tengah ruang tamu
Baru saja dipesankan jangan kaget, kami masih saja kaget begitu kami mulai menjelajah dengan didampingi bapak petugas museum yang saya lupa tidak tanyakan namanya, hehe. Dari ruang utama, kami dituntun masuk melewati lorong yang di samping kanan kirinya adalah ruang kamar tidur utama dan ruang tengah. Di lorong itu, terdapat diorama berupa prajurit yang menodongkan senjata ke arah kamar. Diorama-diorama itu persis dengan manusia asli, detail sekali si pembuatnya sampai ke susunan gigi dan raut wajahnya.

Kami masuk kamar tidur utama dan disana terpajang satu set tempat tidur lengkap dengan kursi, lemari, meja rias, dan tentu saja diorama Jend. A.H.Nasution yang masih memakai sarung di sisi tempat tidur.
museum nasution
Kamar tidur utama di museum
Bagi yang lahir di atas tahun 1990an mungkin sudah pernah melihat film dokumenter tentang pemberontakan G30S/PKI. Di buku-buku sejarah juga masih diceritakan peristiwa berdarah itu. Terlepas dari kepentingan-kepentingan apapun dan siapapun, di museum ini saya makin bisa membayangkan salah satu adegan dalam film itu. Bapak petugas juga menceritakan dengan cukup rinci apa yang terjadi malam itu.

Kamar ini jadi salah satu saksi bisu aksi penyerbuan terhadap Jenderal A.H. Nasution hingga akhirnya malah salah satu putrinya, Ade Irma Suryani yang menjadi korban penembakan. Di pintu kamar yang masih asli kayu dan warna catnya, terlihat lubang-lubang bekas peluru (yang ditandai dengan lingkaran kuning).

G30S/PKI
Lubang kuning bekas peluru di pintu kamar
Di samping kamar utama ini, terdapat satu kamar lagi yang dulunya jadi kamar Ade Irma Suryani. Tetapi kini digunakan sebagai ruang pajangan tempat tidur Jenderal A.H. Nasution selama dirawat pasca penyerbuan. Di kamar ini juga terdapat lemari yang memajang benda-benda milik Ade Irma Suryani, seperti boneka, baju, dan foto-foto serta lukisan. Selain itu, terdapat lemari kaca yang memajang baju-baju dinas Jenderal A.H. Nasution.
ade irma suryani
Lemari yang menyimpan barang milik Ade Irma Suryani
Ada satu syair yang dipajang dalam bingkai di salah satu sisi dinding kamar. Syair ini membuat saya merasa ikut kehilangan sosok seorang anak tak bersalah yang harus meregang nyawa hanya karena kepentingan sekelompok orang saja.
ade irma suryani
Syair yang membuat saya merasa pilu
Keluar dari kamar ini melalui pintu yang mengarah ke bagian belakang rumah, kami disuguhi lagi diorama yang tidak kalah menyedihkannya. Saat penyerbuan malam itu, istrinya meyakinkan Jend. Nasution untuk menyelamatkan diri dan bersembunyi meskipun Ade Irma Suryani mengalami luka parah akibat tembakan. Jend. Nasution berhasil menyelamatkan diri lewat pintu belakang dan melompati pagar rumahnya untuk bersembunyi. Saat itu, di samping rumahnya adalah kantor kedutaan Iraq. Saat itulah kakinya mengalami cedera dan sempat dirawat beberapa lama.
G30S/PKI
Diorama saat Jend Nasution menyelamatkan diri dengan memanjat pagar

museum nasution
Diorama Ade Irma Suryani yang tertembak digendong oleh ibunya
museum nasution
Pagar tembok yang dilewati oleh Jend. Nasution
Kami melewati lorong untuk masuk kembali ke dalam rumah. Di ruang tengah, terdapat diorama beberapa orang bersenjata menghadang istri Jend. Nasution yang masih menggendong Ade Irma Suryani. Saya tidak bisa membayangkan seandainya saya berada di posisi itu. Betapa istri beliau adalah seorang perempuan yang tegar dan berani.

Di lorong antara ruang tengah menuju ruang depan, terdapat foto Jend. Nasution dan Piere Tendean. Wajah mereka mirip dan itulah yang membuat pasukan Cakrabirawa terkecoh. Mereka mengira sudah menangkap Jend. Nasution, padahal yang ditangkap adalah Piere Tendean. Bisa dibayangkan saat itu belum ada meda sosial, bahkan ponsel pun belum ada sehingga wajah mereka tidak bisa dibedakan secara detail. Belum lagi, penangkapan itu dilakukan malam hari dan dalam keadaan terburu-buru.

pierre tendean
Sekilas memang mirip ya
Menuju ruang depan, di samping ruang tamu terdapat ruang kerja yang biasa digunakan Jend. Nasution. Kami sempatkan foto satu per satu disana, seolah kami ini asistennya yang sedang menunggu arahan pekerjaan, hehe. Lalu petugas museum mengajak kami untuk keluar dan menuju bangunan di samping rumah utama. Nah disinilah asrama Piere Tendean waktu itu. Kami tidak masuk karena tampaknya memang hanya ruang depan saja yang dibuka untuk umum. Masih ada diorama saat terjadinya penyerbuan.
pierre tendean
Penyerbuan di asrama Pierre Tendean
Kami juga diajak ke area belakang rumah dimana ada mobil dinas yang waktu itu dipakai Jend. Nasution.
museum nasution
Kami foto deh di mobilnya :)
Kami mengucapkan terimakasih sekali lagi pada petugas museum dan beranjak pergi. Selepasnya, saya masih tidak habis pikir denan cara-cara yang dilakukan pasukan Cakrabirawa itu. Terlepas dari siapa dalang yang seharusnya bertanggungjawab atas peristiwa G30S/PKI itu atau motif yang menyelubunginya, saya yakin kebenaran akan selalu menang.


26 Maret 2020

Kehaluan Saya Kumat. Pengen Wisata Hijau Ke Papua!

Halo!

Di tengah maraknya wisata ala anak muda yang notabene memang dibuat dan dirancang manusia untuk menarik banyak pengunjung, tempatnya harus instragramable, dan biasanya berada di tempat ramai, nah saya malah pengen banget mencoba untuk berwisata ke tempat yang antimainstream tapi tetap memukau. Bahkan jauhnya sampai beranjak ke ujungnya Indonesia bagian timur. Dimana kah itu? Papua! Yes, Papua itu Indonesia, kan?

Wisata hijau papua
Pesona Raja Ampat (Sumber : papua.tribunnews.com)
Mendengar kata Papua, mungkin sebagian kita akan langsung tertuju ke Raja Ampat. Tempat itu memang terkenal dengan pulau-pulau hijau dan pemandangan bawah lautnya yang menawan. Tahukah kamu? Selain Raja Ampat, ternyata masih banyak destinasi wisata khususnya bagi peminat destinasi wisata hijau, seperti saya salah satunya. Gak salah dong kalau Papua bisa jadi alternatif terbaik untuk destinasi wisata hijau.

Halu bentar boleh kan ya? Kalau saya punya kesempatan ke Papua, saya mau berkunjung ke beberapa tempat wisata ini untuk membuktikan bahwa Papua bisa jadi alternatif terbaik untuk destinasi wisata hijau. Mau halu bareng saya gak? Hehe.

Puncak Ifar

Salah satu destinasi wisata yang tidak boleh dilewatkan saat mengunjungi Papua adalah Puncak Ifar. Tempat ini bisa ditempuh sekitar 45 menit berkendara dari bandara Jayapura. Tetapi jangan heran kalau untuk menuju kesana, kita harus melalui jalan yang berkelok-kelok mengelilingi laut terlebih dahulu. Untungnya, perjalanan panjang itu akan terbayar ketika kita menginjakkan kaki di atas. Dengan ketinggian sekitar 325 meter di atas laut, maka kita bisa menikmati indahnya panorama danau Sentani dengan berhias pulau-pulau kecil di tengahnya. Juga, yang tidak kalah asiknya adalah melihat pesawat lepas landas atau mendarat di Bandara Sentani karena letaknya yang pas di bawah Puncak Ifar.
Wisata hijau papua
Pemandangan dari Puncak Ifar (Sumber: triptrus.com)
Selain menikmati pemandangan danau Sentani dan melihat bandara Sentani dari ketinggian, ada satu spot bersejarah disini. Tugu MacArthur. Bangunan setinggi 3 meter berwarna kuning dan hitam itu adalah tugu penghormatan untuk Jenderal Douglas MacArthur. Bagi penyuka wisata sejarah, tepat sekali kalau datang kesini untuk napak tilas perjuangan jenderal dari Amerika itu. Ia merupakan jenderal  bintang lima yang berperan penting dalam Perang Pasifik yang juga merupakan bagian dari Perang Dunia II. Ia dan pasukannya yang sempat kalah di Filipina, mendarat di Teluk Hamidi Jayapura dan membangun markasnya di lokasi Tugu MacArthur pada tahun 1944.

Wisata hijau papua
Tugu MacArthur (Sumber: pesona.travel.com)
Untuk bisa masuk ke Tugu MacArthur, kita harus melewati pos penjagaan dahulu dan meninggalkan kartu identitas. Sebab, tugu ini berada di Markas Ringdam XVII Cendrawasih. Tidak ada biaya apapun alias gratis, tetapi petugas disana tetap menerima sumbangan dana untuk perawatan bangunan tugu. Cus deh, buat itinerary kesini dan gak lupa bawa catatan dan kamera.

Danau Sentani

Setelah melihat danau Sentani dari atas puncak Ifar, pastinya akan lebih puas kalau melihatnya dari dekat, bukan? Danau Sentani ini terletak di Jayapura dan membentang di antara Kota Jayapura dan Kabupaten Jayapura. Luasnya yang mencapai sekitar 9.360 hektare dan kedalaman sekitar 50 meter ini dinobatkan sebagai danau terluas di Papua.

Wisata hijau papua
Danau Sentani (Sumber: Indonesiaituindah.com)
Berada disini, mata akan dimanjakan oleh pemandangan sabana hijau yang mengelilingi danau. Belum lagi pulau-pulau yang tersebar di tengah danau dan cagar alam dari Pegunungan Cyclops akan lebih mempercantik pemandangan. Tidak perlu khawatir bingung bagaimana menikmati pemandangan disini karena pihak pengelola sudah menyediakan perahu-perahu wisata untuk pengunjung mengelilingi danau. Akan lebih takjub lagi ketika datang saat hari mulai senja karena matahari senja disini tidak kalah indahnya dengan matahari senja di pantai Lombok yang banyak digaungkan oleh para wisatawan. Tetapi karena alasan keamanan, sebaiknya tidak berlama-lama disini saat malam mulai tiba.

Wisata hijau papua
Senja di Danau Sentani (Sumber: edwinlandscaper.blogspot.com)
Sebenarnya tidak ada standar waktu untuk berkunjung ke Danau Sentani, tetapi akan lebih baik lagi jika datang di pertengahan Juni. Sebab, ada event tahunan yang digelar disini. Festival Danau Sentani. Festival ini menampilkan beragam seni dan pertunjukan budaya setempat, seperti tarian adat di atas perahu, tarian perang khas Papua, dan upacara adat seperti Ondoafi. Nah, halunya saya kumat lagi disini. Saya selalu penasaran dengan orang Papua asli, makanya saya pengen coba datang ke festival ini. Siapa tahu kan bisa swafoto sama orang sana, hehe. Sebagai pelengkap, tentu saja digelar juga wisata kuliner untuk memanjakan lidah.

Oh iya, kalau lihat foto danaunya yang jernih ini, saya pengen banget bisa berenang disini. Merasakan bagaimana segarnya air danau. Juga bisa mendayung atau memancing ikan yang banyak hidup di danau. Setidaknya terdapat 30 spesies ikan air tawar, dan empat diantaranya adalah endemik danau Sentani. Duh, rasanya kok sudah terbayang-bayang ya? Hehe.

Puncak Beo

Pertama dengar nama ini, saya kira disini adalah habitat burung beo. Rupanya bukan, teman. Puncak Beo merupakan salah satu destinasi wisata hijau yang saat ini sedang digalakkan oleh pemerintah setempat. Lokasinya ada di Desa Beo, Distrik Tiplol Teluk Mayalibit, Kabupaten Raja Ampat Papua Barat. Karena letaknya yang tinggi, yaitu sekitar 100 meter di atas permukaan laut, maka dari sini kita bisa mendapati pemandangan indah berupa birunya laut yang luas menghampar.

Wisata hijau papua
Pemandangan dari Puncak Beo (Sumber: Kumparan)
Ada dua pilihan rute untuk menuju ke Puncak Beo. Pertama, jalur laut yaitu dengan menggunakan speedboat dari kota Waisai. Lamanya perjalanan sekitar dua jam. Kedua, mealui jalur darat, yaitu menggunakan kendaraan roda empat atau roda dua dari kota Waisai menuju Desa Warsandim Distrik Teluk Mayalibit. Lalu dilanjutkan menyeberang ke Desa Beo menggunakan speedboat milik masyarakat setempat. Kemudian berjalan kaki selama kurang lebih 30 menit menuju Puncak Beo. Tidak perlu terlalu khawatir, karena pemerintah setempat telah membangun tangga-tangga untuk memudahkan wisatawan menuju puncak.

Terbayang lelahnya ya? Tapi, tentu saja lelah itu sudah mulai terbayar selama perjalanan menuju puncak. Sebab, kita akan menjumpai banyak tanaman indah di sepanjang perjalanan. Mulai dari anggrek macan, bunga sakura, hingga berbagai spesies tanaman. Asli mungkin saya bisa sampai di puncak lebih dari 30 menit karena mampir sana-sini dulu untuk foto-foto sama tanaman cantik itu. Setelah tahu begitu, yang terbayang oleh saya bukan lelahnya, tapi pemandangan yang disuguhkan juga aroma hutan.


Oh iya, selain Puncak Beo yang berisi taman anggrek, disini juga sedang dikembangkan wisata sejarah yaitu goa sejarah. Sesuai dengan namanya, goa ini berisi tengkorak dan tulang belulang tentara Jepang yang wafat saat Perang Dunia II. Duh, saya yang aslinya penakut ini harus ngumpulin nyali dulu untuk masuk goa nih.

Bagaimana? Kehaluan saya ini menular gak sama kamu? Hehe. Nah, kalau kamu juga mulai tertarik dengan wisata hijau Papua, boleh banget gabung di EcoNusa Foundation. Organisasi nonprofit ini akan berbagi cerita tentang tanah Papua sekaligus mengajak kita untuk ikut berpartisipasi dalam memaksimalkan praktik terbaik dalam hal perlindungan lingkungan dan pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan.

Untuk bergabung, bisa langsung follow beberapa media sosialnya di bawah ini.
Facebook : EcoNusa Foundation
Instagram :@econusa_id
Twitter : @econusa_id
Youtube : EcoNusa Tv

25 Februari 2020

Review RedDoorz Plus Near TIM

Setelah agak kecewa karena penginapan yang tidak terlalu sesuai ekspektasi (bisa baca di tulisan yang ini), kami lanjut ke Jakarta. Uwuw, Jakarta lagi kita! Karena memang niat awalnya kami bawa ponakan yang belum pernah kesini, jadi saya cari penginapan yang memang dekat dengan tempat tujuan.

Lagi dan lagi, saya cari dengan pertimbangan harga, lokasi, foto-foto, juga review dari tamu. Kali ini agak banyak dan gak rebutan karena gak ada acara khusus, juga gak ada tanggal merah. Lumayan leluasa lah untuk memilih yang cocok. Setelah dicari dan dipertimbangkan, dapatlah kami di Red Doorz Plus Near Taman Ismail Marzuki.
reddoorz near taman ismail marzuki
Dari foto-fotonya, saya agak yakin ini bersih dan minimalis. Harganya sedikit lebih murah dari penginapan yang di Bogor kemarin. Ditambah saya juga punya beberapa voucher diskon yang gampang banget dapetinnya dari mana aja. Jadi harganya bisa lebih murah lagi.

Kami sampai di Jakarta sudah malam, di beberapa ruas jalan, kami juga ketemu macet. Ditambah sebelumnya kami juga sempat mampir cari sedikit oleh-oleh, juga cari makan malam. Untungnya penginapan ini juga gak sulit dicari, selama ada gugel map, insyaallah gak kesasar dah kecuali salah info (jadi inget lagi Lapangan Sempur Bogor, wkwk). Jadi, sampai di penginapan sudah lewat pukul 22.00 sepertinya.

Resepsionis menyambut kami dengan ramah. Memang gak pakai seragam sih, tapi kali ini lobi dan meja resepsionis lebih rapi dan bersih. Administrasi juga berjalan dengan menanyakan KTP dan dimintai deposit meskipun sudah lunas sewaktu memesan beberapa minggu sebelumnya. Resepsionis juga membantu kami membawa koper dan tas menuju lift. Saya pikir disini gak ada lift, karena tampak kecil, haha. Ternyata lengkap! First impression yang bagus ini. Point 1 bertambah, wkwk.

reddoorz near taman ismail marzuki
Lobi, yang walaupun kecil tapi rapi
Sesuai pesanan, kami dapat 3 kamar meskipun 1 kamar harus terpisah lantai, gak apa-apa. Untuk bapak-bapaknya aja biar gak riweh. Karena kalau para perempuan yang terpisah dengan anak-anak, kan bakal rempong ya. Kamar kami ada di lantai 2 dan lantai 4. Rupanya, ada sekat kaca berpintu yang memisahkan antara kamar-kamar dengan lift dan tangga. Mungkin biar suasana di kamar jadi tidak terganggu kalau ada orang-orang yang lalu lalang melalui tangga atau lift. Sayangnya, saya gak terpikir untuk ambil fotonya karena sudah lelah.

Begitu masuk kamar, senyum kami semua terkembang. Artinya, kamarnya nyaman walaupun baru dilihat sekilas saja! Ukurannya memang tidak terlalu luas, tapi karena dindingnya dicat putih dan tidak banyak ornamen di dalam kamar, jadi kesannya gak sempit dan tetap lega. Hanya ada dua buah hiasan disana. Bingkai bergambar kartun lucu dengan warna pastel. Menguatkan gaya minimalis modern yang tertata rapi.
reddoorz near taman ismail marzuki
Tempat tidur rapi dan bersih
Gak mau kejadian ada rambut lagi di balik selimut, maka saya langsung deh cek tempat tidur. Balik selimut dan taraaa… bersih! Alhamdulillah kali ini bisa tidur nyaman. Tinggal kebutin aja sambil dibacain sholawat sebelum dipakai, tempat tidur siap!
reddoorz near taman ismail marzuki
Air mineral botol di dalam kamar
Fasilitas di dalam kamar sudah cukup lengkap untuk sekadar bermalam. Ada amenities yang berisi sabun mandi, shampo, dental kit, dan sisir. Handuk juga disediakan 2 buah per kamar. Telepon, tisu, dan air mineral botol juga tersedia. Memang tidak ada teko pemanas air di kamar, tapi kami bisa pinjam dengan petugas disana. Rak bergaya minimalis lengkap dengan gantungan bajunya ada di salah satu sudut kamar, di sebelah TV flat. Oh iya, ini smart TV lho! Asik kan? Tapi sayangnya pas disambung ke wifi, agak lemot jaringannya. Gak terlalu masalah sih untuk kami, karena kami juga sudah lelah dan ngantuk untuk nonton atau pakai wifinya.
reddoorz near taman ismail marzuki
Interior di dalam kamar
Seperti biasa, saya cek tempat paling sensitif. Kamar mandi. Penyekat antara kamar mandi dan tempat tidur hanya sebilah kaca tebal. Itupun tidak sampai menempel di atas plavon. Jadi, bisa melongok tuh sambil manjat tempat tidur atau naik tangga (haha, iseng banget lah). Tapi, walaupun hanya kaca, tenang aja, gak kelihatan kok. Paling kedengeran suara air aja kalau lagi mandi, karena ya memang terbuka gitu atasnya, hehe.
reddoorz near taman ismail marzuki
Kamar mandi, yang di sebelah kanan itu kaca yang saya ceritakan
reddoorz near taman ismail marzuki

Ukuran kamar mandi juga gak terlalu luas. Tersedia shower dengan air panas dan dingin, wastafel lengkap dengan kaca cermin, dan toilet duduk. Semuanya berwarna putih dan bersih. Lantainya juga gak licin. Penilaian saya, ini oke. Setelah cek sana sini dan semuanya oke, saya bisa tenang dan lanjut tidur.
reddoorz near taman ismail marzuki
Di dunia nyata, 2 anak ini sering gak akur wkwk
Paginya, saya dan mamas sengaja pergi duluan ke TIM untuk beli tiket pertunjukan di Planetarium. Inget waktu itu telat dan akhirnya dapet pertunjukan yang siang. Semalam pas baru sampe juga sudah sempat tanya sama resepsionis, katanya bisa jalan kaki aja kesana karena jaraknya dekat. Sekalian juga cari sarapan pagi di sekitaran sana. Dan.. ternyata memang deket banget! Cuma sekitar 5-7 menit jalan kaki. Gak salah deh pilih hotel ini untuk menginap.


Dengan kenyamanan, lokasi, pelayanan, dan harga, saya bisa kasih nilai 4,5/5 untuk hotel ini. Sengaja gak mau kasih 5 karena yah, kesempurnaan itu hanya milik yang Maha Sempurna, hehe. Baiklah, reviewnya sampai sini aja ya. Oh iya, untuk cerita jalan-jalannya, disambung di postingan selanjutnya. Stay tune! 

18 Februari 2020

Review OYO Cemara Gading

Iyeyyy ke Bogor lagi!!
oyo cemara gading #gengrebahan

Ini ke sekian kalinya saya ke Bogor, dan dengan rombongan yang berbeda lagi. Kali ini lebih lengkap karena memang ada acara yang dihadiri. Yup! Seperti yang sudah saya singgung sedikit di tulisan sebelumnya, saya sekeluarga menghadiri wisuda adik perempuan. Juga, seperti janji saya kemarin, saya akan ulas sedikit tempat menginap kami di Bogor.

Karena kami harus mampir ke Balaraja dulu, maka kami sampai di Bogor sudah siang. Matahari sudah tinggi, dan saat itu cuaca lumayan panas. Tapi lihat tugu Kujang, rasanya sudah senang. Sudah sampai Bogor! Haha. Tapi karena ambil gambarnya dari mobil, dan posisi saya duduk di belakang, ya begini deh hasilnya. Maaf ya, gak ada artistiknya sama sekali, hehe.

tugu kujang bogor
Tugu Kujang Bogor
Dari sini, kami langsung ke penginapan yang gak terlalu jauh dari kampus IPB. Mau makan siang dan istirahat dulu karena memang niatnya jalan-jalan tipis aja sore hari atau malamnya. Jadi KRB lewat deh, lagipula sebagian kami sudah beberapa kali masuk sana.

Gak terlalu sulit untuk sampai ke penginapan yang sudah kami pesan. Bangunannya persis dengan foto yang dipajang di agen online tempat kami pesan. Tempat parkirnya sempit sekali. Paling hanya bisa masuk 2 mobil pribadi dan beberapa motor. Aslinya sih ini seperti kosan gitu.

Kami disambut resepsionis yang dingin. Meja resepsionis juga hanya meja tulis biasa yang ditaruh di depan pintu masuk. Hanya ada seperangkat komputer disana dan beberapa buku dan nota. Di seberang meja resepsionis itu ada rak tempat penitipan helm. Proses check in juga simpel sekali. Saya cuma sebutkan nama dan pesanan, langsung dikasih kunci kamar. Agak heran juga sih, gak diminta KTP atau nomor telepon juga, tanda tangan juga gak. Mungkin resepsionisnya sudah percaya sama tampang saya yang gak mungkin orang jahat, wkwk.

Entah ya, apakah karena saya terbiasa dengan standar pelayanan yang sesuai prosedur di tempat saya bekerja dulu, atau memang disini tidak mengutamakan perihal seperti itu. Ya sudahlah, yang penting kami dapat kamar dan bisa istirahat.

Saya kelupaan mau ambil gambar meja resepsionis karena agak sibuk nurunin barang dan masukin ke kamar. Kami dapat kamar di lantai 2 dan sesuai pesanan, kamarnya deketan. Oh iya, setelah masuk pintu resepsionis itu, saya lihat di samping kanan ada dapur tapi disana tertulis “Bukan dapur umum”. Lalu, ada ruang agak lebar yang diisi dengan meja besar dan beberapa kursi. Mungkin ini tempat makan umum. Baru di samping kiri pintu masuk tadi, ada tangga menuju lantai atas. Tidak ada lift, jadi anggap saja olahraga sedikit ya, hehe.

Karena kami datang sudah lewat tengah hari, jadi wajar dong ya kalau saya berharap kamar sudah rapi, bersih, lengkap, pokoknya sudah siap ditempati lah. Tapi saya agak sedikit kecewa disini. Seperti biasa, saya cek seisi kamar. Mulai dari kamar mandi yang paling utama. Ternyata, kamar mandi gak sebersih yang saya pikir. Memang luas sih, lengkap ada toiletris juga. Tapi lantai dan dindingnya kotor. Yah, 1 point berkurang. Untungnya air panas masih berfungsi dengan baik.

oyo cemara gading
Kamar mandi
Balik ke kamar, saya cek tempat tidur. Tampilan luar sih oke ya tampaknya. Dua bantal dengan tambahan bantal kecil yang dibranding OYO, plus selendangnya juga. Tatanannya lumayan rapi. Tapi pas saya buka selimutnya, saya temukan beberapa helai rambut. Duh! Saya jadi bertanya-tanya, masa gak kelihatan begini ya pas bersihinnya? Yah, 2 point berkurang lagi.

OYO CEMARA GADING BOGOR
Tempat tidur dan wastafel, lengkap dengan cermin
Penampakan keseluruhan kamar biasa saja, sederhana dan gak banyak perabot. Di dalam kamar hanya ada tempat tidur, wastafel lengkap dengan cermin, tv, dan rak kecil di sudut ruangan. Gak ada lemari atau tempat tas. Minimalis banget pokoknya. Perlengkapan hanya toiletris dan handuk 1 buah per kamar, dan 2 botol air mineral. Tapi di kamar saya, gak ada. Pas saya tanya ke resepsionisnya, alasannya sedang habis dan akan diantar sore hari setelah stok ada. Dan sampai malam gak ada yang antar air minumnya, mungkin dia lupa. Ya sudahlah.

oyo cemara gading bogor
Interior di dalam kamar
Sebenarnya ini bisa lebih dioptimalkan lagi. Lokasi sudah oke, dekat kampus yang pastinya sering sekali ada acara besar dan ramai. Kalau mau lebih menarik sih, sebenarnya hanya tinggal penataan dan perabot kamar saja. Misalnya diganti dengan gaya minimalis yang lebih menarik, warna yang lebih sepadan dan yang paling utama adalah kebersihan. Area kamar mandi dan tempat tidur, karena dua area ini yang paling sering dipakai oleh tamu.

Koridor kamar, maaf ya ada penampakan ibu saya hehe

Juga, pelayanan. Saya pribadi sih sering merasa pelayananlah kunci utamanya. Kalau pelayanan sudah bagus, resepsionis dan staf penginapan ramah dengan tamu, hal-hal seperti kamar sempit, atau kelengkapan kamar lainnya jadi hal sepele yang tidak begitu diributkan. Padahal, sayang kan sudah dibranding dengan OYO tapi kurang maksimal untuk pelayanan dan kebersihannya. Oh iya, dari segi harga, kemarin pas kami kesana harganya sekitar Rp 200.000,-an/kamar. Keseluruhan, saya pribadi bisa kasih nilai 3/5 untuk penginapan ini. Oh iya, ini hanya penilaian pribadi saya ya. Mungkin kebetulan aja saya dapat kamar yang kurang bersih, gak tau kamar lain dan tamu lain.

Tapi, kami juga berterimakasih untuk staf OYO Cemara Gading atas insiden kecil pada malam kami menginap. Waktu itu, sepulang dari jalan-jalan tipis di sekitaran Bogor, kaki pak suami sempat tertusuk paku di area parkir. Tepatnya memang bukan area parkir karena malam itu ternyata parkir depan penginapan sudah penuh. Jadi, staf sana mengalihkan parkir mobil kami agak ke depan di pinggir jalan. Karena memang kondisi agak gelap dan kami gak tau kalau ternyata banyak papapn bekas dan paku yang berserakan. Untungnya luka di kaki pak suami gak terlalu dalam dan staf disana sangat sigap membantu. Membersihkan luka dan memberi obat. Kalau gak sigap, mungkin paginya gak bisa jalan-jalan, hehe.

Baiklah, daripada ngedumel melulu, saya dan ibu foto bareng aja deh di depan kamar.


Oke, cerita saya cukup sampai disini dulu ya. Tunggu review tempat menginap kami selanjutnya yang di Jakarta! Apakah kurang memuaskan juga seperti disini atau malah lebih baik? Di postingan selanjutnya ya! See u!