Halaman

18 Februari 2020

Review OYO Cemara Gading

Iyeyyy ke Bogor lagi!!
oyo cemara gading #gengrebahan

Ini ke sekian kalinya saya ke Bogor, dan dengan rombongan yang berbeda lagi. Kali ini lebih lengkap karena memang ada acara yang dihadiri. Yup! Seperti yang sudah saya singgung sedikit di tulisan sebelumnya, saya sekeluarga menghadiri wisuda adik perempuan. Juga, seperti janji saya kemarin, saya akan ulas sedikit tempat menginap kami di Bogor.

Karena kami harus mampir ke Balaraja dulu, maka kami sampai di Bogor sudah siang. Matahari sudah tinggi, dan saat itu cuaca lumayan panas. Tapi lihat tugu Kujang, rasanya sudah senang. Sudah sampai Bogor! Haha. Tapi karena ambil gambarnya dari mobil, dan posisi saya duduk di belakang, ya begini deh hasilnya. Maaf ya, gak ada artistiknya sama sekali, hehe.

tugu kujang bogor
Tugu Kujang Bogor
Dari sini, kami langsung ke penginapan yang gak terlalu jauh dari kampus IPB. Mau makan siang dan istirahat dulu karena memang niatnya jalan-jalan tipis aja sore hari atau malamnya. Jadi KRB lewat deh, lagipula sebagian kami sudah beberapa kali masuk sana.

Gak terlalu sulit untuk sampai ke penginapan yang sudah kami pesan. Bangunannya persis dengan foto yang dipajang di agen online tempat kami pesan. Tempat parkirnya sempit sekali. Paling hanya bisa masuk 2 mobil pribadi dan beberapa motor. Aslinya sih ini seperti kosan gitu.

Kami disambut resepsionis yang dingin. Meja resepsionis juga hanya meja tulis biasa yang ditaruh di depan pintu masuk. Hanya ada seperangkat komputer disana dan beberapa buku dan nota. Di seberang meja resepsionis itu ada rak tempat penitipan helm. Proses check in juga simpel sekali. Saya cuma sebutkan nama dan pesanan, langsung dikasih kunci kamar. Agak heran juga sih, gak diminta KTP atau nomor telepon juga, tanda tangan juga gak. Mungkin resepsionisnya sudah percaya sama tampang saya yang gak mungkin orang jahat, wkwk.

Entah ya, apakah karena saya terbiasa dengan standar pelayanan yang sesuai prosedur di tempat saya bekerja dulu, atau memang disini tidak mengutamakan perihal seperti itu. Ya sudahlah, yang penting kami dapat kamar dan bisa istirahat.

Saya kelupaan mau ambil gambar meja resepsionis karena agak sibuk nurunin barang dan masukin ke kamar. Kami dapat kamar di lantai 2 dan sesuai pesanan, kamarnya deketan. Oh iya, setelah masuk pintu resepsionis itu, saya lihat di samping kanan ada dapur tapi disana tertulis “Bukan dapur umum”. Lalu, ada ruang agak lebar yang diisi dengan meja besar dan beberapa kursi. Mungkin ini tempat makan umum. Baru di samping kiri pintu masuk tadi, ada tangga menuju lantai atas. Tidak ada lift, jadi anggap saja olahraga sedikit ya, hehe.

Karena kami datang sudah lewat tengah hari, jadi wajar dong ya kalau saya berharap kamar sudah rapi, bersih, lengkap, pokoknya sudah siap ditempati lah. Tapi saya agak sedikit kecewa disini. Seperti biasa, saya cek seisi kamar. Mulai dari kamar mandi yang paling utama. Ternyata, kamar mandi gak sebersih yang saya pikir. Memang luas sih, lengkap ada toiletris juga. Tapi lantai dan dindingnya kotor. Yah, 1 point berkurang. Untungnya air panas masih berfungsi dengan baik.

oyo cemara gading
Kamar mandi
Balik ke kamar, saya cek tempat tidur. Tampilan luar sih oke ya tampaknya. Dua bantal dengan tambahan bantal kecil yang dibranding OYO, plus selendangnya juga. Tatanannya lumayan rapi. Tapi pas saya buka selimutnya, saya temukan beberapa helai rambut. Duh! Saya jadi bertanya-tanya, masa gak kelihatan begini ya pas bersihinnya? Yah, 2 point berkurang lagi.

OYO CEMARA GADING BOGOR
Tempat tidur dan wastafel, lengkap dengan cermin
Penampakan keseluruhan kamar biasa saja, sederhana dan gak banyak perabot. Di dalam kamar hanya ada tempat tidur, wastafel lengkap dengan cermin, tv, dan rak kecil di sudut ruangan. Gak ada lemari atau tempat tas. Minimalis banget pokoknya. Perlengkapan hanya toiletris dan handuk 1 buah per kamar, dan 2 botol air mineral. Tapi di kamar saya, gak ada. Pas saya tanya ke resepsionisnya, alasannya sedang habis dan akan diantar sore hari setelah stok ada. Dan sampai malam gak ada yang antar air minumnya, mungkin dia lupa. Ya sudahlah.

oyo cemara gading bogor
Interior di dalam kamar
Sebenarnya ini bisa lebih dioptimalkan lagi. Lokasi sudah oke, dekat kampus yang pastinya sering sekali ada acara besar dan ramai. Kalau mau lebih menarik sih, sebenarnya hanya tinggal penataan dan perabot kamar saja. Misalnya diganti dengan gaya minimalis yang lebih menarik, warna yang lebih sepadan dan yang paling utama adalah kebersihan. Area kamar mandi dan tempat tidur, karena dua area ini yang paling sering dipakai oleh tamu.

Koridor kamar, maaf ya ada penampakan ibu saya hehe

Juga, pelayanan. Saya pribadi sih sering merasa pelayananlah kunci utamanya. Kalau pelayanan sudah bagus, resepsionis dan staf penginapan ramah dengan tamu, hal-hal seperti kamar sempit, atau kelengkapan kamar lainnya jadi hal sepele yang tidak begitu diributkan. Padahal, sayang kan sudah dibranding dengan OYO tapi kurang maksimal untuk pelayanan dan kebersihannya. Oh iya, dari segi harga, kemarin pas kami kesana harganya sekitar Rp 200.000,-an/kamar. Keseluruhan, saya pribadi bisa kasih nilai 3/5 untuk penginapan ini. Oh iya, ini hanya penilaian pribadi saya ya. Mungkin kebetulan aja saya dapat kamar yang kurang bersih, gak tau kamar lain dan tamu lain.

Tapi, kami juga berterimakasih untuk staf OYO Cemara Gading atas insiden kecil pada malam kami menginap. Waktu itu, sepulang dari jalan-jalan tipis di sekitaran Bogor, kaki pak suami sempat tertusuk paku di area parkir. Tepatnya memang bukan area parkir karena malam itu ternyata parkir depan penginapan sudah penuh. Jadi, staf sana mengalihkan parkir mobil kami agak ke depan di pinggir jalan. Karena memang kondisi agak gelap dan kami gak tau kalau ternyata banyak papapn bekas dan paku yang berserakan. Untungnya luka di kaki pak suami gak terlalu dalam dan staf disana sangat sigap membantu. Membersihkan luka dan memberi obat. Kalau gak sigap, mungkin paginya gak bisa jalan-jalan, hehe.

Baiklah, daripada ngedumel melulu, saya dan ibu foto bareng aja deh di depan kamar.


Oke, cerita saya cukup sampai disini dulu ya. Tunggu review tempat menginap kami selanjutnya yang di Jakarta! Apakah kurang memuaskan juga seperti disini atau malah lebih baik? Di postingan selanjutnya ya! See u!

23 Januari 2020

Potongan Cerita Dari Wisuda

Seminggu yang lalu, ceritanya saya jalan ke Bogor barengan keluarga untuk menghadiri wisuda adik perempuan saya. Akhirnya, setelah penantian panjang, dia lulus juga dengan predikat sangat memuaskan. Gak sampai Cumlaude sih, tapi gak masalah. Sudah lulus dengan lancar aja bersyukur banget. Dalam sejarah keluarga, baru dia nih yang kuliah diluar Lampung (*auto sirik karena dulu pengen kuliah di Jogja tapi gak dibolehin T,T).

Btw, di postingan ini saya cerita sepotong-sepotong. Lebih tepatnya sih cerita di balik foto yang diambil ini. Jadi, jangan kaget kalau kali ini lebih banyak fotonya ya!

Wisuda IPB
Cerita di balik foto ini ada di deskripsi hehe
Sesaat sebelum masuk gedung. Setelah insiden pagi-pagi ibu agak ngomel karena nunggu adik perempuan kami dandan dan datang, akhirnya kami sampai di gedung wisuda sekitar pukul 07. 30an. Cuaca pagi itu mendung dan gerimis cantik. Rencana awal mau hunting foto sebelum masuk gedung pumpung dandanan masih rapi, apa mau dikata. Sudah mepet waktu. Alhasil, hanya sempat foto ini saja yang berhasil diambil sebelum panitia memanggil-manggil para wisudawan dan pendamping untuk lekas masuk gedung.

(Aku tuh bukan kelamaan dandan lho, mbak. Aku udah bangun jam 04.00, trus siap-siap, solat subuh, pas mau siap-siap dandan, aku pengen ke belakang. Nah, ke belakangnya itu yang lama, trus bla.. bla.. bla..)

Iya, saya mah Cuma nyengir aja denger dia cerita panjang lebar gitu soal alasannya yang baru selesai dandan hampir pukul 07.00! Sementara, kami yang ramai ini sudah siap pas jam 06.00 teng! Yang penting gak telat dah. Eh, saya acungi jempol deh untuk dandanannya pagi itu. Dia memang sudah bilang akan dandan sendiri pas hari wisudanya. Lumayan, bagus kok. Saya kalah dah, hehe.
_________________________________________________________________________________

buket bunga wisuda
Buket bunga pilihan saya
Tadinya gak begitu niat beli buket bunga sih. Soalnya, sore sebelumnya si Lala juga sudah bilang gak usah dikasih bunga, kasih coklat aja gitu. Tapi pas jalan-jalan cari sarapan di sekitar kampus (Lala, ibu dan abah sudah masuk gedung), saya jadi kepikiran nanti kalau gak ada yang ngasih bunga gimana? Wkwkwk, memang Lala itu gak punya temen apa? Haha. Jadi saya iseng dah pilih-pilih bunga dan dapet ini. Bunga hidup tapi gak wangi. Lumayan lah kalau untuk foto nanti, ada hiasannya dikit.

(Ternyata, yang ngasih bunga banyak, wkwkwk. Jadi teringat dulu saya gak ada yang ngasih bunga beginian pas wisuda, hiks!)
________________________________________________________________________________


Jadi, selama mereka di dalam gedung, kami berempat ini jalan-jalan di sekitar taman aja. Foto di depan icon IPB, depan gedung rektorat, duduk, ngobrol gak jelas, ngelamun, foto lagi. Gitu dah. Agak nyesel juga sih kenapa tadi pagi penginapan langsung dicek outin. Padahal kan bisa ngojek online kesana untuk istirahat sampe agak siangan daripada nunggu kepanasan diluar begini.



Memang bisa sambil hunting foto sih, tapi lama-lama si ponakan yang kecil itu bosen juga. Untunglah ada mamang yang jualan mainan tembakan bola sabun. Yah, meskipun saya harus keliling sampai ke 3 penjual dulu baru nyerah di harga yang ditawar, wkwkwk kebiasaan perempuan.
_______________________________________________________________________________


Jujur, saya pengen nangis begitu prosesi wisuda selesai dan pintu gerbang dibuka. Kami langsung masuk dan ketemu si Lala. Duh, beneran air mata saya jatuh. Padahal rasanya baru kemarin saya kesini bareng dia untuk pertama kalinya. Lihat asrama di tahun pertamanya, lihat kebun percobaannya, dan kemarin dia sudah wisuda! pas saya ketemu ibu, saya gak tanya lagi apakah ibu saya juga nangis, karena jawabannya sudah pasti.


Entah ya, saya ini mudah sekali menangis saat ada momen seperti ini. Lihat anak-anak kecil pentas seni di panggung, saya nangis. Padahal mah anak orang. Lihat rombongan haji mau berangkat, saya nangis. Lihat rombongan pengantin, eh saya juga nangis. Lihat mv yang bikin baper aja saya bisa nangis lho, ckckck.



Oh iya, walaupun panas dan ramai, kami menyempatkan foto di koin IPB. modal jalan kaki sebentar, demi apa coba ini? haha. 
________________________________________________________________________________


Karena insiden pagi yang buru-buru dan gak sempet foto di gedung rektorat, maka pas kami mau keluar dan lewat sana, kami berhenti dulu. Pose-pose sebentar sekadar untuk mengobati rasa penasaran dan saya pikir kapan lagi coba pakai seragam wisuda dan foto di depan gedung beginian?




Untungnya sudah gak terlalu panas terik, jadi fotonya gak jelek-jelek amat. Pengennya ambil foto ala beauty shot gitu, tapi apalah daya hanya fotografer amatir yang pegang kamera beginian aja masih salah-salah, haha. 
_______________________________________________________________________________

Foto tambahan yang ceritanya gak boleh terlewat.


Malam sebelumnya. Kami memang niatnya gak jalan-jalan di Bogor, dalam artian, ya jalan-jalan tipis aja lah di sekitar Bogor. Karena memang pas sampe sana kan sudah lewat tengah hari, pada ngantuk dan cape juga. Lala juga lagi gladi resik, jadi diputuskan untuk cari makan sambil cuci mata sorean atau setelah magrib sekalian.

Dan yah, setelah sowan ke pengasuh pondok sebelum magrib, kami lanjutkan jalan cuci mata. Si Lala kasih saran untuk ke Lapangan Sempur aja. Saya juga gak tahu tuh itu dimana dan penampakannya kayak apa. Berbekal gugel map, kami laju kesana. Setengah perjalanan, kok ini lewat jalan sempit gini ya? Mblusuk gitu, mencurigakan. Makin jauh dan kok kayak masuk kampung? Mana si krucil sudah ribut laper juga.

Gimana bisa coba ini tuh bedanya jauh banget! Dan kami juga gak teliti, T,T
Ulala, ternyata salah tujuan! Sempur, Lapangan Sempur, beda! Hufft! Kenapa juga di gugel map itu gambarnya sama? Duh! Akhirnya, kita putar balik dan cari tempat makan terdekat. Ketemu dah ini Warung Upnormal. Ckckck, di Lampung juga ada haha. Tapi karena memang krucil sudah ribut dan hari juga sudah mulai malam, ya sudahlah kita masuk sini aja dan pesan makan.
________________________________________________________________________________

Bonus foto! wkwkwk
Oh iya, setelah prosesi wisuda yang riweh dan istirahat sebentar, kami lanjutkan perjalanan ke Jakarta. Kemana aja? Di postingan selanjutnya ya! Saya juga bakalan tulis review penginapan tempat kami bermalam di Bogor dan Jakarta. See you!

23 Desember 2019

Pengungsi Elite di Asoka Luxury Hotel Lampung

Siapa yang liburan ini datang ke Lampung? Nginepnya dimana aja? Rumah saudara? Rumah teman? Masjid? Atau cari penginapan sampai hotel? Ngomong-ngomong soal hotel, beberapa waktu yang lalu, saya sempat nyobain salah satu hotel bintang tiga di Bandar Lampung. Biasa, bukan karena anak sultan liburan nginep di hotel meskipun rumah masih deket situlah, tapi karena ini dapat voucher gratisan, sayang kan kalau gak dipake? Hitung-hitung, jadi pengungsi elite semalam di hotel ini, hehe.
Asoka luxury hotel lampung

Hotel tempat saya menginap namanya Asoka Luxury Hotel. Berdiri di kawasan Jl. Antasari, Bandar Lampung. Sebagai informasi ringan, kawasan Jl. Antasari merupakan salah satu jalan yang ramai dan berkembang di Lampung. Gak heran kalau disana, ada beberapa hotel dan penginapan yang berdiri, juga tempat makan dan tempat nongkrong yang asik.

Sebelum check in, saya pesan lewat telepon dulu untuk memastikan ketersediaan kamar. Karena voucher berbatas waktu dan sudah agak mepet juga, maka saya cari waktu yang pas antara liburnya pak suami dengan agenda saya sendiri. Rupanya, beberapa kali saya telepon, tanggal yang saya pesan sudah penuh atau di lain waktu ternyata voucher tidak bisa dipakai saat akhir pekan. Lha, mau mumpungin liburan di luar rumah malah harus nginep pas hari kerja.

Sebenarnya agak heran juga sih, karena beberapa kali dapat voucher gratisan begini tapi baru kali ini yang gak boleh nginep di akhir pekan. Mungkin kebijakannya bisa berbeda-beda di beberapa hotel. Saya yang pernah berkecimpung di dunia perhotelan pun, waktu itu pernah mengeluarkan voucher gratisan dan itu bebas menginap kapan saja selama kamar masih tersedia dan dalam rentang waktu yang sudah ditentukan. Baiklah. Tak usahlah dipusingkan, gratisan lho ini, Lia!

Baca juga : Terpaut Peca Poblo di Hotel Sofyan Cut Meutia

Tibalah hari yang sudah saya pesan. Gak mau kejadian saya harus nunggu di lobi hotel sebab belum tersedia kamar atau sebab kebijakan hotel yang harus cek in lewat pukul 13.00 (meskipun di beberapa hotel juga bisa berbeda kebijakannya), saya memutuskan untuk datang setelah lewat tengah hari. Dan karena pak suami belum pulang kerja, saya memutuskan untuk datang duluan karena memang sekalian jalan daripada bolak balik ke rumah dulu. Gak susah menemukan hotel ini meski tidak persis berada di jalan utama. Supir ojek online yang saya tumpangi saja langsung paham gedungnya yang mana. Alhamdulillah.

Asoka luxury hotel
Lobi hotel (saya foto pas check out yang mbaknya ramah)

Asoka luxury hotel lampung
Beberapa kursi yang tersedia di lobi
Sampai di lobi, saya disapa ramah oleh bellboy dan satpam yang berjaga. Lobi hotel ini cukup luas dan lega. Ada beberapa sofa yang bisa dipakai untuk beristirahat sejenak atau menunggu sebentar kala meja resepsionis dipenuhi orang. Resepsionisnya yang menurut saya malah gak seramah bellboy dan satpam, tapi cukup cekatan dan cepat saat proses check in. Mungkin standar keramahan orang berbeda ya, hehe. Meskipun ini gratisan, saya tetap dimintai deposit (lagi-lagi kebijakan ini berbeda dengan beberapa hotel yang sempat saya singgahi hasil gratisan juga).

Bersebelahan dengan lobi, ada restoran dan café yang bisa jadi tempat santai juga sambil menikmati kopi. Di sampingnya lagi ada tempat outdoor bagi yang ingin santai sambil merokok. Tempatnya juga nyaman dan sejuk saat angin sore menyapa. Tapi karena waktu itu sedang ramai dan restonya dipakai, saya gak bisa ambil foto dengan leluasa. Apalagi di bagian outdoornya.

Oke, saya lanjut mau ke kamar. Alhamdulillah kamar sudah tersedia, jadi bisa langsung masuk deh.

Asoka luxury hotel lampung
Tempat tidur sesuai pesanan
“It’s simply nice.”
Kalimat pertama yang saya ucapkan setelah buka pintu kamar. Penataan di kamarnya sederhana dengan perlengkapan yang standar. Meskipun saya menginap di tipe kamar paling rendah, kamar tipe Superior, tapi untuk amenitis dan kelengkapan kamar sudah bisa saya bilang “it’s ok, cukuplah kalau untuk sekadar bermalam saja.”. Tempat tidur juga sesuai dengan yang saya pesan, double bed karena saya gak mau pisah tidurnya nanti bareng suami kalau dikasih twin bed, hehe.

Hal pertama yang biasa saya lakukan begitu masuk kamar hotel adalah membuka gorden jendela. Saya dapat kamar di lantai 2 dengan jendela lebar (hampir full di bagian kiri dinding) menghadap ke jalan samping gedung. Gak terlalu bagus sih pemandangannya, mungkin kalau ada di lantai yang lebih tinggi lagi bisa lihat yang lebih banyak lagi.

Kedua, saya cek kamar mandi. Saya agak trauma dengan hotel di Bogor waktu itu yang sampai saya minta pindah kamar gegara selang airnya agak macet dan toilet yang berbau tak sedap. Untunglah disini gak begitu. Di kamar mandi juga tersedia toiletries yang standar. Ada sabun mandi, shampo, dental kit, sisir dan shower cap. Tapi sayang kamar mandinya agak kusam, mungkin karena warna lantainya. Juga, toilet yang sedikit berbau tak sedap.

Asoka luxury hotel lampung

Balik lagi ke kamar, saya cek lagi apa yang ada di dalam sana. Di meja dekat rak pakaian, tersedia teko pemanas, air mineral botol, kopi, teh celup, gula pasir dan gula semut, juga krimer. Lumayan untuk santai sore nanti pas pak suami pulang kerja, hehe. Disana juga tersedia dua pasang sandal hotel. Untuk perlengkapan sholat seperti sajadah, mukena, atau Alquran memang tidak tersedia, tapi bisa kok minta pinjam dengan house keepingnya.

Asoka luxury hotel lampung

Sembari menunggu pak suami datang, saya santai sambil coba wifi dan saluran tv. Bagi yang suka nonton tv, saluran tv disini lumayan banyak dan bisa menghibur saat mager. Bagi yang suka akses internet gratisan seperti saya, cocok deh kalau ada di tempat yang ada wifi gratis semacam ini yang bisa diakses kapan saja. Trus, kalau ada yang mau spa, disini juga tersedia berbagai paket spa mulai dari Rp 200.000,-an sampai Rp 500.000,-an. Mbak penjaga spa juga menelepon langsung ke kamar dan menawarkan jasanya.

Oh iya, saya juga sempat baca-baca menu makanan yang ditawarkan. Pas saya kesana, lagi ada promo menu paket ayam, Cuma Rp 35.000,-/nett dan sudah termasuk nasi juga. Lumayan murah untuk harga di hotel. Tapi saya gak coba. Saya lebih tertarik untuk jalan kaki menyusur sekitar hotel selepas maghrib untuk cari cemilan dan makan malam bareng pak suami.

promo di hotel asoka

Sarapan pagi sudah dibuka pukul 06.00 WIB. Tempatnya di resto samping lobi depan. Menunya standar mulai dari nasi dan teman-temannya, bubur ayam, aneka rebusan, sereal dan roti, salad, dan buah. Sebenarnya saya cari menu telur, tapi gak ada, dan disana pun gak terlihat ada koki yang masak telur. Atau mungkin harus request dulu kali ya, baru dibuatkan di dapur belakang? Minuman juga standar, kopi, teh, dan air putih.
sarapan di asoka luxury hotel
Buffe sarapan

Sarapan di Asoka Luxury Hotel
Salad sayur saya untuk sarapan
Selepas sarapan, pak suami berangkat kerja dan saya kembali ke kamar karena memang gak ada yang bisa dieksplor lagi disini. Saya habiskan waktu sebelum waktu check out untuk surfing lagi di dunia maya. Sebelumnya, saya sempat berfoto di sudut koridor yang ditempeli gambar pemandangan.
Sebelum ditanya check out, saya bilang dulu ke mbak resepsionis, minta izin check out setelah solat Dzuhur. Pelayanan saat check out lebih ramah dibanding saat check in kemarin, sepertinya mbaknya sudah ganti (saya gak terlalu hapal dan lupa baca name tagnya).

Setelah beberapa kali ambil foto, ini pun masih ngeblur! *duh, mamas!
Meskipun ada hal yang kurang mengenakkan saat pemesanan, tapi secara keseluruhan, hotel Asoka Luxury ini nyaman untuk sekadar beristirahat. Oh iya, sebagai tambahan, tempat parkir disini lumayan luas. Tapi kalau bawa motor, agak kurang nyaman karena tempat parkirnya di seberang dan itu tempat terbuka. Jadi kalau pas hujan dan helm ditinggal di motor, ya wassalam deh basah. Untungnya kemarin pas gak hujan, helm jadi selamat, hehe.
Tempat parkir motor (di seberang jalan, saya ambil foto dari depan gedung hotel)
Baiklah, segini dulu cerita saya. Hm, hotel mana lagi ya yang akan kami singgahi?

Asoka Luxury Hotel Lampung
Hotel bintang 3
Jl. Pulau Morotai No. 16B, Jagabaya III, Way Halim, Bandar Lampung
Tlp. 0721 711088

19 November 2019

LIPICE BEESWAX vs LIPICE NATURAL; Pilih yang mana?

Di beberapa postingan sebelumnya, saya pernah menulis perlengkapan make up yang gak pernah tinggal dari dompet cantik saya. Salah satunya adalah Lipice. Lipbalm keluaran PT. Rohto ini memang sudah lebih dari 10 tahun saya pakai dan gak ada masalah apa-apa. Bibir saya juga jadi lembab dan gak pecah-pecah, kecuali saya dehidrasi atau lagi sakit.

Dari dulu, saya selalu pakai Lipice Natural yang hadir dengan beberapa varian aroma. Kayaknya semua variannya sudah pernah saya coba, seperti strawberry, orange, cherry, dan natural. Tapi saya lebih suka yang natural atau kalau lagi kosong, saya pilih yang cherry. Lebih lembut aromanya daripada yang strawberry dan orange.

Karakteristik warnanya yang gak mencolok ini yang buat saya gak mau pindah ke lain hati. Meskipun gak pakai lipstik lagi, bibir saya tetap kelihatan segar dan gak pucat. Jadi kalau lagi di rumah atau kumpul-kumpul keluarga dan teman yang gak begitu resmi, saya pakai Lipice aja tanpa tambahan lipstik lagi. Kecuali kerja ya, saya pakai lipstik tambahan biar lebih cetar, haha.

Bagi kamu yang belum tahu apa itu Lipice Sheer Color, ini adalah lipbalm yang bisa melembabkan bibir dan menjaga warna merah alami bibir. Dari segi tampilan, Lipice berbentuk stik kecil (lebih ramping daripada ukuran lipstik pada umumnya) dengan warna putih susu. Meskipun warnanya putih susu, setelah beberapa menit pemakaian, warna merah alami akan tampil di bibir. Warnanya gak mencolok tapi tetap cantik dan punya efek matte.


lip ice sheer color
2 Jenis Lipice

Nah, beberapa waktu lalu, saya nemu varian lain. Lipice Sheer Color Beeswax. Kemasannya sama, hanya beda warna dan gambar. Ada 3 varian juga, yaitu natural, strawberry dan orange. Karena penasaran, saya coba beli dan pakai. Hasilnya?

Pertama, kesannya glowing! Beneran ini Lipice Beeswax bikin bibir mengkilap. Shining, shimering, splendid dah, haha. Lembabnya terlalu banyak kalau menurut saya. Sekali oles di bibir, sudah mengkilap jadi kalau saya sendiri ini gak bisa dioles berkali-kali. Jadi cukup sekali aja dan bibir langsung basah, berminyak. Tampilannya jadi kayak pakai lipgloss.
lip ice sheer color beeswax
Lip ice Sheer Color Beeswax
Kedua, warnanya lebih pink magenta gitu dibanding Lipice Natural. Tapi, di bibir saya warnanya gak terlalu keluar. Ini hasil pemakaian di bibir saya lho, mungkin penggunaan di bibir kamu bisa berbeda. Mungkin juga karena saya mengolesnya hanya sekali karena takut terlalu glowing, makanya warnanya gak begitu keluar meski sudah dipakai beberapa menit sebelumnya.
Lip Ice Sheer Color Natural
Ketiga, setelah beberapa lama pemakaian, warna bibir tidak merah alami. Berbeda dengan saya pakai Lipice Natural, saya pakai Lipice Beeswax ini efek di bibir saya tidak terlalu menarik. Kalau saya pakai Lipice Natural, setelah pemakaian beberapa jam, bibir saya masih lembab dan merah alami tanpa efek kering. Nah, kalau Lipice Beeswax, setelah beberapa jam, bibir terlihat kering dan itu berarti saya harus mengolesnya kembali. Sekali lagi, mungkin pemakaian di bibir lain akan berbeda hasilnya.

Kalau kamu memang penggemar Lipice yang gak hanya butuh untuk melembabkan bibir saja tetapi juga punya efek glowing, wajib coba Lipice Honey ini. Tapi kalau untuk saya pribadi saya lebih memilih Lipice Natural.

Lipice Natural
  • Warna merah muda keluar setelah beberapa menit pemakaian
  • Warna tidak mencolok, natural, dan seperti warna bibir alami
  • Tidak mengkilap, tetapi juga tidak kering
  • Ada beberapa rasa yang tidak terlalu beraroma keras, seperti strawberry, orange, cherry, dan natural tanpa aroma
Lipice Honey
  • Warna pink magenta keluar setelah beberapa menit pemakaian
  • Mengkilap dan cenderung lebih berminyak
  • Warna kurang terlihat apabila dipakai sekali oles saja
So, kamu pilih Lipice yang mana nih?

13 November 2019

(Bukan) Cerita Terakhir Hari Kerja

Yup! Saya berhenti kerja. Di hari terakhir kerja, saya sengaja ajak teman-teman seruangan untuk berfoto. Sengaja cuma seruangan aja yang diajak foto, soalnya takut gak cukup kameranya kalau ngajak semua departemen untuk foto, haha. Lagian juga ini gak betul-betul berpisah dalam arti, saya gak pergi jauh-jauh kok. Cuma berhenti aja dari tempat kerja, tinggal juga masih di sekitaran sana. Jadi kalau mau ketemu lagi ya masih sangat bisa.

hotel bandara syariah lampung
Beberapa teman seruangan saya, usil, ceriwis, judes, nyinyir, jadi satu haha
So, memang ada sedikit haru dan rasa pengen nangis sore itu. Beberapa minggu sebelumnya, saya juga sudah rapih-rapih dokumen dan saat itu saya nemu foto-foto dari awal saya masuk ke tempat kerja saya. Bayangkan, foto dari Grand Opening lho! Saya memang termasuk angkatan pertama yang direkrut manajemen hotel tempat saya bekerja 7 tahun lalu. Ada beberapa orang yang sampai sekarang pun masih ada, tapi lebih banyak orang yang sudah berganti.

Saya lihat foto-foto itu dan rasanya itu baru kemarin saja! Masih lugu karena masih muda, belum tahu apa-apa tentang perhotelan, tertawa polos dan tanpa beban. Makin kemari, ketawanya sudah gak selepas awal-awal dulu. Sudah ada bebannya, haha. Beraaattt.

Tapi untungnya saya punya foto-foto itu. Sebab dari situlah saya menapak tilas perjalanan saya disana. Mulai dari Front Office, sampai jadi Marketing Executive. Saya belajar banyak hal. Hm, saya jadi terpikir untuk kasih beberapa cerita di postingan selanjutnya tentang suka duka saya selama bekerja. Gimana menurut teman-teman?

Nah, kali ini saya mau jejerin nih teman-teman seru saya di tempat kerja. Bagi yang gak ada foto dan ceritanya disini, percayalah saya gak akan lupa sama kalian kok. Hanya saja, kebetulan kita gak sempat foto di hari terakhir saya kerja sore itu.

Baiklah, ini dia beberapa teman seruangan saya.

Asih a.k.a Minceu

Ini teman saya dari awal masuk kerja sampai hari terakhir kemarin. Orangnya imut, kecil, tapi sekarang dia merasa badannya tambah gemuk. Padahal ya, iya sedikit sih, maklum dong sudah punya 2 bujang kembar. Tapi masih cantik dan awet muda. Ruangannya sebelahan dengan ruangan saya, cuma disekat tembok tanpa pintu. Jadi kalau ngobrol sambil kerja juga masih bisa, haha.

hotel bandara syariah
Minceu di meja kerjanya, abaikan berantakannya, hehe
Entah kenapa banyak hal yang sama dari kami. Misalnya, kalau kami lagi jalan ke mall dan liat-liat baju, begitu nunjuk salah satu baju, eh kok sama sih? Malah pernah nih ya, saya dan dia beli baju yang persis sama padahal gak janjian dan belinya juga beda waktu. Ckckck… ini ada kontak batin apa ya?

Satu hal yang paling saya ingat dari dia adalah julukan untuknya, judes! Hehe, maaf ya Ceu, kamu memang beneran judes dalam beberapa obrolan. Tapi tetap menyenangkan dan rasanya masih ada yang kurang sreg kalau gak dicurcolin bareng kamu.

Anjar a.k.a Neptunus

Saya sering memanggilnya Neptunus, atau Nep untuk panggilan pendeknya. Sudah agak lupa sih kenapa saya manggil dia Neptunus. Dekat dengannya juga baru sekitar tiga tahunan karena memang dia baru masuk. Dulu agak aneh karena orangnya sok akrab gitu, haha. Tapi lama kelamaan nyambung aja kalau sudah ngobrol dan rumpi.

hotel bandara syariah lampung
Neptunus di meja FO
Walaupun dia laki, tapi ceriwisnya gak kalah sama perempuan. Mungkin karena itu, dia bisa langsung gabung dan ngobrol asik kalau saya dan Minceu sudah ngomongin sesuatu. Dua bulan yang lalu istrinya lahiran dan anaknya perempuan. Saya dan Minceu sering berdoa supaya anaknya gak secerewet bapaknya, haha.

Oh iya, di tempat kerja, dia jadi Supervisor Departemen Room. Bawahin House Keeping dan Front Office. Punya ruangan di seberang ruangan saya dan Minceu, tapi dia lebih sering stand by di Front Office yang otomatis bisa kumpul bareng kami. Secara, ruangan kami kan di Back Office yang letaknya pas banget di belakang Front Office.

Anas

Gak ada nama alias, mungkin belum ada. Dia baru masuk setahun yang lalu dan jadi partner in crime sama saya. Satu ruangan sama saya, cuma beda meja aja, pas berhadapan. Walaupun terbilang anak baru, tapi dia bisa langsung akrab sama kami. Mungkin tuntutan juga kali ya, haha. Karena sering bareng saya jalan waktu Sales Call, jadinya juga akrab dan bisa jadi teman curcol dan rumpi juga, haha.

hotel bandara syariah
Anas di meja kerjanya
Selepas saya keluar kerja, tinggallah dia sendiri yang jadi Marketing disana. Semoga besok-besok sudah ada temennya lagi ya. Di hari terakhir saya kerja kemarin, saya bilang ke dia. Mulai besok, gak ada lagi yang berisik nyanyi-nyanyi pake suara ala kadarnya dan gak tahu diri, haha. Iya, di ruangan itu, saya memang paling suka nyanyi-nyanyi sendiri kalau lagi bosan dan pikiran berat. Gak usah ditanya suara sumbang saya kayak apa, yang penting hati bahagia. Tapi, dia juga yang sering nyambungin lagu yang saya nyanyikan, jadi duet gitu deh.

Sukanya begini nih, jajan berempat haha
Sayangnya, teman-teman di Front Office lain yang sehari-harinya sering bareng saya lagi pada libur atau belum masuk shiftnya. Jadi ya gak bisa foto bareng deh. Diluar 3 orang itu, masih banyak teman saya yang sehari-harinya juga sering bareng. Di area dapur, area laundry, area resto, juga di area luar termasuk pos satpam. Saya banyak belajar dari mereka semua.

Bareng HRD, Ibu Sri

Nyelip 1 foto bareng salah satu FOA, Herman
Baiklah, saya gak mau cerita panjang-panjang, takut rindu sama mereka, hehe. Oh iya, pas nulis ini, saya sambil denger lagunya Dear My Friend dari HiVi. Sengaja banget biar kerasa suasana persahabatannya gitu. Tapi pas baca ulang, gak sengaja juga sambil denger lagunya JKT48 yang Kita Pernah Disini, duuhh kok malah jadi melow dan pas banget. Asli dah pengen mewek huhu T,T

Kita Pernah Disini – JKT48

Ku akan trus berjalan
Di sepanjang jalan ini
Di balik desir angin
Tempat kita berjanji
Akankah kutiba disana
Bersamamu, ku tersenyum
Bersamamu, ku menangis
Sampai kapanpun, jangan kau lupakan
Kita pernah disini

Awan kian bergerak
Jauh ke suatu tempat
Kau beritahukanku
Tentang luasnya langit
Aku yang menoleh kesana
Apakah diriku bersinar?
Bersamamu, ku tersenyum
Bersamamu, aku menangis
Di suatu hari, cobalah kau ingat
Kita pernah disini

Mimpi yang kita semua lihat
Agar bisa menggapainya nanti
Semua alamat kita, carilah
Setelah kelulusanku
Meski berjalan ke manapun
Tuk selamanya, ingatlah selalu
Kita pernah disini

Untuk denger lagunya, bisa klik disini. Sampai jumpa di postingan berikutnya ya! :*