Halaman

30 September 2017

Oleh-Oleh Festival Krakatau 2017 #Part 3

Masih lanjutan 2 episode kemarin ya..

Sebenarnya masih di hari yang sama, hari ke dua, tapi dengan tempat yang berbeda. Setelah melewati sekitar tiga jam perjalanan, sampailah kami di Dermaga Bom, Kalianda. Cuaca panas dan terik, ditambah lelah yang baru terasa, membuat kami rasanya ingin segera pulang ke rumah saja hehe. Setelah sholat dzuhur, bus kami sudah menunggu untuk mengantar kami kembali ke Bandar Lampung. Di dalam bus, rupanya sudah disediakan nasi kotak untuk makan siang. Alhamdulillah.

Sepanjang perjalanan yang kurang lebih satu setengah jam, aku lebih banyak tertidur. Kantuk luar biasa yang menyerangku tidak terlawan juga. Pas bangun, ternyata sudah sampai jalan Sudirman, hehe. Kami diturunkan di Tugu Gajah. Disana, sudah ramai dan jalanan mulai diblokir karena ada acara Pawai Tapis Karnaval.

Sebenarnya acara ini sudah dimulai sejak pukul 12.00, saat rombongan kami masih di jalan tadi. Jadi, mungkin kami sudah tidak bisa melihat acara seluruhnya. Tapi, kami beruntung masih bisa melihat sisa-sisa rombongan pawainya setelah beberapa lama menunggu. Dan ternyata lebih beruntung karena masih ada gubernur Lampung beserta istrinya, Pak Ridho dan Ibu Yustin yang ikut pawai juga!

Momennya pas lagi! :D
Menariknya acara ini nih, kita jadi lebih tahu ternyata banyak keberagaman di provinsi Lampung ini. Terlihat dari peserta pawai yang tidak hanya dari Lampung saja, tetapi juga ada peserta dari luar daerah. Selain itu, acara ini juga dapat mempromosikan wisata budaya di Lampung. Semoga saja dengan acara pawai ini, bisa menarik wisatawan dari luar Lampung untuk datang ya.

Bagi teman-teman dari luar daerah Lampung, jangan khawatir tidak bisa berkesempatan untuk ikut keramaian acara ini. Tahun depan masih ada kok, karena ini acara tahunannya Lampung. Lagipula, sekarang kan bukan lagi zaman repot untuk cari-cari tiket pesawat, rental mobil atau cari penginapan untuk bisa singgah di suatu tempat. Bukan lagi zaman harus pagi-pagi dan antri sepanjang jalan untuk berburu tiket. Cukup satu klik aja lewat aplikasi pencari tiket dan penginapan di ponsel, semua beres. Salah satunya bisa pakai Skyscanner.

Bagi yang belum tahu apa itu skyscanner, bisa klik di video ini :


Oke, ini beberapa foto yang berhasil aku tangkap (di sela ponsel dan kamera yang mulai kehabisan baterainya, hehe).

Icon kebanggaan Lampung, gajah!

Mekhanai Lampung (abaikan ibu berbaju merah yang terbidik)
Muli Lampung yang cantik-cantik
Masyarakat Bali di Lampung
Gemes ih sama anak yang di tengah :D
Dan aku masih gak tau kenapa setiap tahun pasti ada waria seperti ini hehe
Oke, semoga Lampung makin maju ya dengan acara-acara yang mengunggulkan budaya dan wisata di Lampung sendiri. Sebenarnya masih ada acara di malam harinya, yaitu pagelaran musik di GOR Saburai. Tapi apalah daya, badan rasanya sudah sangat lelah, dan juga tidak dapat izin untuk nonton sama si Mamas.

Sampai jumpa di tulisan lain ya..

16 September 2017

Oleh-Oleh Festival Krakatau 2017 #Part 2


Ketemu lagi.. :D :D

Ini cerita hari ke dua yah. Nah, setelah semalam beristirahat di Pulau Sebesi, jam 03.00 dini hari, kami harus bangun dan segera menuju ke kapal yang akan membawa kami ke Pulau Krakatau. Sebenernya tidurku gak terlalu nyenyak sih, karena takut bangun kesiangan haha. Jadi, malah sering kebangun dan lihat jam. Belum jam 3, tidur lagi. Bangun, belum jam 3, tidur lagi, gitu sampai akhirnya beneran jam 3.00 WIB!

Dengan berbenah diri sekedarnya (gak pake mandi karena kamar mandi cuma 2 dan pasti antri, juga karena masih jam 3.00 subuh), kami menuju dermaga. Disana sudah berjejer kapal-kapal untuk membawa kami ke Pulau Krakatau. Karena hari masih gelap, jadi kami asal naik saja salah satu kapal. Tadinya mau naik di atas seperti kemarin, tapi nahkoda kapal memperingatkan untuk masuk ke dalam kapal semua. Demi keselamatan, maka kami turun ke bawah.

Ternyata, suasana di dalam kapal cukup sempit sehingga kami hanya bisa duduk berdempetan dengan posisi duduk yang tidak bisa leluasa berubah. Karena ombak cukup tinggi dengan keadaan kapal yang lumayan pengap, aku sedikit mabuk. Maka, selama perjalanan, aku hanya bisa memejamkan mata dan menengadah agar tak semakin mual. Juga, dalam pejaman mata, aku selalu mensugesti dengan kata-kata indah seperti,
"Rasakan ombak ini, Lia. Rasakan ayunannya dan bayangkan kau berada di playland dengan wahana baru". Lumayan ampuh lho, haha!

Setelah perjalanan selama kurang lebih tiga jam dengan ombak yang meliuk-liuk, sakhirnya rombongan sampai juga di Pulau Anak Krakatau. Leganya mendapati hari sudah mulai terang. Aku sempat mengabadikan matahari terbit sebelum sarapan nasi uduk.

Lega menemukan matahari setelah mabuk laut
Sebenarnya, kawasan Anak Gunung Krakatau adalah kawasan cagar alam yang dilindungi dan hanya sebagai tempat konservasi. Makanya, sebelum kesana, rombongan harus izin dulu dengan BKSDA setempat dan waktu pendakian tak boleh berlama-lama, juga hanya sebatas sekitar 200 meter saja. Kalau memang tahun depan tidak ada lagi kegiatan seperti ini, tak apa. Setidaknya aku sudah pernah kesana dan tidak penasaran lagi, hehe.

Menginjakkan kaki disini rasanya tuh, wow banget! :D
Setelah sarapan, rombongan mulai mendaki. Melewati hutan dengan pohon tinggi dan lebat, rasanya seperti membersihkan paru-paru hehe. Udaranya segar dan ditambah masih pagi juga, jadi gak terlalu lelah. Tiba di sebuah tempat yang cukup luas dan terang, aku bisa melihat tingginya puncak Anak Gunung Krakatau. Tidak lupa, mengabadikannya terlebih dahulu.

Dan aku belum percaya aku bisa naik ke atas sana
Nah, perjalanan menuju puncak dimulai dari sini. Aku sempat khawatir bisa atau gak nih naik ke atas sana karena memang pertama aku kesini tanpa persiapan apa-apa. Latihan lari atau jalan jauh pun gak, alhamdulillah ada kenalan yang rupanya dia sudah sering mendaki (makasih Mbak May, tanpamu aku apa :D)

Selama mendaki, aku jarang melihat ke belakang. Bukan apa-apa, tapi rasanya takut saja karena di bawah sana ada hutan dan lautan. Juga, aku berusaha menjaga nafas biar gak ngos-ngosan. Lumayan sih, menghemat tenaga. Tiba di lereng yang agak tinggi (aku gak tau sebutan yang tepat apa), aku begitu terpesona dengan puncak hitam yang menjulang tinggi di depanku. Ini Anak Gunung Krakataunya! 

Melihatnya dari dekat, aku mengucap tasbih. Begitu anggun dan tenangnya gunung ini. Tapi kalau membaca sejarahnya, tak bisa kubayangkan bagaimana ngeri dan dahsyat letusannya. Aku mengarahkan pandangan ke sekeliling dan sekali lagi takjub dengan apa yang ada di belakangku. Persis seperti gambar-gambar yang dibuat semasa aku kecil tentang gunung yang dibawahnya ada lautan serta pepohonan. Seperti itulah yang kulihat.

Masih tak bisa berpaling dari pemandangan yang satu ini
Cukup lama aku tak bisa berkata-kata. Ini benar-benar pengalaman pertama yang serunya tak terbayangkan sebelumnya. Mungkin karena aku memang belum pernah mendaki sebelumnya ya, jadi masih agak alay gitu haha. 
Niat banget nampang di depan gunung yak, hehe


sepertinya akan berat ya ajakan ini? hehe
dan ini juga :D
Setelah cukup memandangi sekeliling dengan takjub, kami serombongan diminta segera turun kembali. Sebenarnya masih ingin disini sih, membayangkan bagaimana awal mulanya tempat ini tercipta. Dari papan informasi di depan gerbang, aku sedikit mengerti tentang bagaimana bisa terbentuk Anak Gunung Krakatau ini, juga berimajinasi mungkin tahun-tahun berikutnya Anak Gunung Krakatau ini yang akan meletus.

papan informasi sejarah Anak Gunung Krakatau


jalan yang kami lalui, cukup landai memang
Menjelang siang, kami bersiap kembali ke Dermaga Bom, Kalianda. Aku masih belum bisa melepas pandangan dari sosok tinggi besar di atas sana. Semoga kawasan ini selalu lestari.

sampai jumpa lagi..
Kalau kata teman sekamarku, mendaki itu bikin ketagihan lho! Sepertinya ini benar, haha. Mungkin kalau ada kesempatan mendaki gunung yang lain, aku mau ikut. Tentunya dengan persiapan yang lebih.

bersama beberapa teman yang sudah sering mendaki
Oh iya, masih ada kelanjutan ceritanya lho dari keseruan rangkaian Festival Krakatau. Sampai ketemu lagi di tulisan bagian ke 3, hehe.

02 September 2017

Oleh-Oleh Festival Krakatau 2017 #Part 1

Ini late post banget, sudah seminggu baru kelar tulisannya haha. Yah, harap dimaklumi ya, belum jadi emak rempong sih, tapi sudah jadi istri sok sibuk ^_^V

Festival Krakatau datang lagi. Ini sudah ke empat kalinya aku ikuti rangkaian kegiatannya. Dan pasti ada aja yang berbeda di tiap tahunnya. Tahun ini nih yang sangat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Apakah itu?

Ikut Tour Krakatau
Yeeeyyyy!! Ini ceritanya ada challenge dari akun resminya Krakatau Festival 2017. Jadi, peserta yang mau ikut tur Krakatau ini harus buat video selfie yang temanya alasan kenapa harus jadi peserta tur. Agak iseng tapi sangat berharap bisa kepilih haha, akhirnya aku buat juga tuh video selfie dan ternyata terpampang juga namaku di pengumuman, yeeeyyy!! Pesan moral seperti kata Andre Hirata : harus tahan malu untuk bisa ikut acara yang lebih menantang, haha. And this is my story..

Ups! Ada penampakan di belakang haha
Hari #1 (25 Agustus 2017)

Rute menuju anak gunung Krakatau kali ini diawali dari Dermaga Bom menuju pulau Sebesi, menginap semalam lalu paginya berangkat ke anak gunung Krakatau. Jumat pagi, kami harus berkumpul di lapangan Korpri (depan kantor Gubernur Lampung) jam 05.30. Biasanya jam segini masih selonjoran di kasur ya. Alhasil, aku berangkat dari rumah sesaat setelah subuh dan berhasil sampai tepat waktu. Sebelum berangkat, dikasih sambutan dan pengarahan dulu dan dilanjut berdoa.

Next, rombongan berangkat menuju Dermaga Bom di Kalinda, Lampung Selatan. Dari sana, rombongan langsung naik kapal yang lumayan besar dengan muatan sampai 40 orang per kapalnya. Aku dan beberapa orang teman memilih duduk di atas kapal karena sepertinya asik bermain dengan angin dan melihat luasnya lautan. Tapi ternyata di tengah perjalanan, terik matahari sedikit gak bersahabat, buat kulit lumayan gosong, hoho.

Ini belum terik, baru mau berangkat dari Dermaga Bom

Setelah melalui sekitar 2 jam lebih perjalanan laut yang ombaknya cukup kuat dan bikin kepala pusing, sampailah rombongan di Pulau Sebesi. Baru saja menginjakkan kaki di dermaganya, kami sudah disambut dengan drumband anak-anak. Jadi terharu deh!

Latar belakangnya drumband sebenarnya, tapi gak keliatan yah? :D
Gerbang menuju asrama, yeeaaahh bermalam disini kita

Begitu ketemu kasur, langsung deh nempel badan kami disana, haha. Untung ada waktu luang alias free time sampai nanti malam, jadi abis ini kami bisa jalan-jalan menyusuri pantainya yang begitu menawan.

Beberapa perahu nelayan menepi di pinggir pantai
Pulau Sebesi ini berbentuk gunung dengan ketinggian sekitar 844 meter di atas permukaan laut dengan luas 2660 Ha dan terletak di Selat Sunda. Kami mengajak beberapa anak yang sedang bermain lompat tali untuk menyususi bagian kecil pulau ini. Dari hasil susuran kami yang cuma beberapa meter dari asrama, kami tahu ternyata tanah disini cukup subur. Buktinya beberapa tanaman dengan nilai ekonomi tinggi tumbuh disana. Kami juga menyusuri pantainya yang luas, berpasir halus meski tidak putih, dengan ombak yang relatif sedang tingginya. Tampaknya, pulau ini cukup menjanjikan sebagai tujuan wisata di Lampung Selatan.

Anak-anaknya ceria :D
Dan inilah beberapa gambaran pantai di Pulau Sebesi.


Gradasi warna airnya buat jadi semakin menarik ya

Ini pasir pantainya dengan latar belakang ombak yang menyambut

Setelah menyusuri pantai, kami istirahat kembali ke asrama. Niatnya sebenernya tiduran sambil nunggu sunset, tapi ternyata matahari terus terik sampai menjelang sore. Pas keluar dari asrama, malah tergoda sama mi rebus pakai telor yang dijual di dekat asrama haha. Akhirnya gak dapat sunset deh, tapi memang gak bisa juga lihatnya karena kalau mau lihat sunset harus mengitari pulau ini dulu. Arah baratnya di belakang pantai ini.

Malam hari selepas magrib, ada acara sambutan-sambutan dan pentas tari di aula yang dilanjut makan malam. Hm, menunya ikan bakar dong. Seddaaap.

Tari Sembah khas Lampung
Maaf ya agak burem, hehe

Oke, ini dulu ya ceritanya di hari pertama Tur Krakatau. Besok disambung lagi ^_^
See u next time..