Halaman

15 September 2019

2 Cara Blogger Untuk Mencintai Lampung

Halo semua!

Siapa nih yang sampai pertengahan bulan ini baru posting beberapa tulisan, padahal ngakunya blogger? Atau malah ada yang belum punya tulisan apapun? Ups! Saya ikutan angkat tangan deh. Saya juga ngakunya sih blogger meskipun amatir, tapi tulisan jarang muncul di blog. Aneh kan? *malu atuh, Lia!

Memang dunia per-blogger-an sekarang sedang marak, apalagi di kalangan kaum perempuan. Baik yang sudah menikah dan punya anak, maupun perempuan yang masih gadis, banyak yang mulai melirik dunia tulis menulis digital ini. Bahkan ada yang menjadikannya sebuah profesi. Kalau saya sepertinya masih jauh ya. Lha buat tulisan aja masih semau, sesempat, dan seenaknya saya aja. Gimana mau jadi profesi coba? Hehe.

Tapi kembali lagi, sebenarnya niat saya menulis ya untuk memerdekakan jiwa dan seringnya malah sebagai pelampiasan kala saya tidak bisa menyalurkan aspirasi lewat orasi. Dari dulu saya memang lebih suka menulis daripada langsung mengajukan pendapat secara lisan. Lebih senang kerja di balik layar daripada di depan panggung. Lebih suka menyendiri lihat gerimis sambil mikir mau buat tulisan apa daripada ke dapur buat gorengan.

Dulu saya hanya berani buat tulisan semacam puisi dan cerita pendek. Tapi semenjak punya blog, jenis tulisan saya juga semakin banyak. Dari curhatan gak jelas, ocehan dengan sudut pandang saya yang lain atas suatu hal di sekitar saya, resensi buku, review produk yang saya pakai, sampai cerita jalan-jalan saya. Kalau sudah mentok ide, biasanya saya akan jalan-jalan dulu ke blog orang lain, istilahnya blogwalking.

Dari blogwalking itulah saya tahu rupanya ada juga komunitas blogger itu. Ternyata di Lampung sendiri pun ada! Haha, saya ini kemana aja lah waktu itu? Tinggal di Lampung tapi gak tahu kalau ada komunitas blogger juga. Apakah itu? Tapis Blogger!

Tapis Blogger

Tapis Blogger merupakan komunitas penulisan khususnya di bidang blog. Komunitas yang didirikan oleh empat orang perempuan ini mempunyai visi menjadi komunitas bloggernya orang Lampung. Nah, pada tanggal 31 Agustus 2019 lalu baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke 3. Untuk memeriahkannya, Tapis Blogger mengadakan acara seminar seru dengan membawa tema yang asik pula. Mencintai Pariwisata Lampung dengan Narasi dan Fotografi.

Milad ke 3 Tapis Blogger
Sumber : IG Tapis Blogger
Sayangnya saya gak bisa hadir kemarin, tapi dari foto-foto kegiatan dan cerita teman-teman di feed media sosial, acaranya tampak seru. Apalagi dihadiri oleh pembicara yang mumpuni di bidangnya masing-masing. Sebut saja Bang Adian Saputra yang saat ini duduk sebagai pimred Jejamo.com, Bang Yopie Pangkey yang lihai mengabadikan cerita lewat lensa kameranya, dan Mbak Naqiyyah Syam sebagai pendiri Tapis Blogger.

Merujuk pada tema kemarin, saya sebagai orang yang lahir dan besar, juga masih tinggal di Lampung, tentu saja mencintai tanah kelahiran saya ini. Salah satu bentuk cintanya adalah memperkenalkan daerah ini ke mata dunia. Tentunya dengan sesuatu yang bisa saya lakukan. Itu poinnya. Saya sendiri yang punya sedikit kemampuan untuk menulis dan bernarasi, tentu bisa memperkenalkan Lampung dengan cerita saya.

Tapis Blogger
Sumber : IG Tapis Blogger
Mencintai Lampung Dengan Narasi dan Fotografi

Mencintai Lampung dengan narasi ini memang sudah saya lakukan dari waktu ke waktu. Meskipun saya belum bisa mengelilingi seluruh Lampung, tapi pada beberapa kesempatan yang saya bisa berkunjung ke tempat-tempat wisata di Lampung, saya tuliskan cerita saya. Tentunya dengan bahasa saya sendiri yang seringnya ringan dan gak terlalu serius. Harapannya, orang lain bisa baca dan tertarik dengan Lampung. Pada akhirnya ya berkunjung ke Lampung. Itu dari segi narasi.


Kalau dari segi fotografi? Hm, saya ini memang punya banyak hobi sebenarnya. Selain jalan-jalan dan menulis, saya juga sebenarnya menyukai dunia fotografi. Tapi memang masih jauh dari ahli. Amatir aja masih di bawahnya, haha. Ya paling tidak, saya suka ambil foto atas momen-momen apa saja. Termasuk momen pariwisata dengan kearifan lokal. Misalnya waktu ada acara Festival Krakatau, atau waktu jalan-jalan ke tempat wisata yang ada di Lampung, saya selalu bawa kamera dan mengabadikan gambar yang ada.
Kebun Raya Liwa
Salah satu objek wisata di Lampung Barat
Karena menurut saya, foto itu bisa lebih punya cerita banyak daripada sekadar tulisan, maka saya juga lebih suka menyisipkan satu dua foto pada tulisan saya. Percaya deh, dengan tambahan foto, orang akan lebih tertarik untuk baca tulisan kita.

Memang sudah pas kalau Tapis Blogger mengangkat tema itu untuk acara milad kemarin. Nah, bicara soal Tapis Blogger, untuk kamu yang ingin daftar jadi anggotanya, bisa cek langsung di websitenya di www.tapisblogger.com atau di Instagramnya di @tapisblogger.

Kamu sudah jadi anggotanya belum?

12 September 2019

5 Hal Setelah Lamaran Yang Bisa Kamu Lakukan Untuk Pernikahan Terbaikmu

Dulu ketika saya masih gadis tapi sudah berumur lebih dari 25 tahun (baca : sudah hampir dibilang perempuan kadaluwarsa, ck!), saya sering bertanya sendiri. Bagaimana rasanya dilamar? Haha. Mungkin sebagian perempuan yang sudah menginjak umur lebih dari 25 tahun akan sering ditanya kapan nikah. Jangan salah, telinga ini sudah saya kasih baja tebal tak kasat mata saking gak ingin perkataan orang merusak mood saya waktu itu.


Tapi pas beneran sudah dilamar (pada akhirnya ya, hehe), eh malah makin banyak pertanyaan dalam hati. Abis dilamar harus nyiapin apa lagi nih untuk nikahan? Acaranya mau gimana? Dimana?  Mau ngundang berapa orang? Konsep acaranya gimana? Duh, rasanya kok malah lebih deg-degan daripada pas lamarannya, haha.

Nah, saya mulai mikir dari mana dulu nih saya harus mulai? Ingatlah saya pada kata-kata legendaris di setiap lembar ujian dari jaman SD dulu. Kerjakan dari soal yang termudah dulu. Jadi, saya mulai dengan hal paling kecil. Oh iya ini juga bisa jadi catatan untuk kamu yang barusan dilamar atau yang sedang menanti lamaran dari sang pujaan hati.

1. Konsep Pernikahan
Menentukan konsep pernikahan memang gampang-gampang susah. Juga, sebenarnya ini tergantung individu masing-masing. Mungkin ada yang berprinsip terserah aja yang penting sah. Itu gak masalah juga. Tapi pasti ada juga sebagian orang yang ingin momen bahagia dan sakral ini punya satu konsep tersendiri. Bisa konsep minimalis, modern, pesta kebun, dan lain-lain.

Kalau saya ini termasuk orang yang sebenarnya pengen sesederhana mungkin biar gak ribet, tapi juga sesuai dengan bayangan saya dari segi konsepnya. Ceritanya, saya kan suka warna pink, jadi saya pengen di pernikahan saya waktu itu didominasi oleh warna favorit saya itu. Bahasa kerennya ‘Pink Wedding’, hehe. Untuk konsep dasarnya saya pakai standar yang umum di tempat saya tinggal aja. Akad dan resepsi di hari yang sama, dan biasanya dari pagi sampai malam. Itu yang umum ada di tempat saya tinggal waktu itu.

2. Acara
Setelah konsep pernikahan sudah dibuat, maka selanjutnya adalah menentukan bagaimana acara pernikahan akan dibuat. Apakah akan ada acara adat terlebih dahulu? Atau langsung ke akad nikah atau pemberkatan? Lalu mau diisi acara apa lagi? Nah, untuk ini biasanya kamu perlu berdiskusi dengan keluarga. Jangan sampai konsep acaranya tidak singkron antara keinginan kita dengan keinginan orang tua. Meskipun ini acara kita, tapi tetap orang tua juga turut andil.

Pengalaman saya dulu, acara saya dibuat sederhana saja. Saya punya konsep acara berurutan yaitu, akad nikah, nasihat pernikahan, lalu makan-makan seperti biasa dengan diiringi musik. Beruntung, orang tua saya pun punya konsep yang tidak jauh berbeda. Jadi tinggal jalani saja.

3. Undangan
Untuk konsep ‘pink wedding’saya, rasanya bisa saya mulai dengan hal yang satu ini. Kebetulan saya sedikit bisa desain undangan, jadi saya buat sendiri deh. Pada waktu itu, yang menjadi trending adalah konsep shabby. Jadilah saya cari banyak referensi desain undangan dengan konsep ini dan mengaplikasikannya pada undangan saya. Jadinya seperti ini.

bekasi wedding exhibition
Desain awal undangan saya
Nah, kamu juga bisa desain sendiri undangan pernikahan seperti keinginan atau sesuai konsep pernikahanmu. Kalau gak jago desain sendiri, atau gak terlalu punya banyak waktu, tinggal serahkan saja pada jasa cetak undangan yang sekarang sudah seperti jamur di musim hujan. Buanyaakk. Tinggal arahkan saja sesuai permintaanmu.

Tahu gak sih? Desain undangan yang unik dan sesuai konsepmu akan lebih membuatmu berdebar menanti tanggal pernikahan lho! Apalagi kalau sudah jadi dan kamu lihat ada namamu dan nama pujaan hatimu. Gak percaya? Buktikan sendiri ya.

4. Suvenir
Benda yang satu ini memang gak harus disiapkan, tapi kalau memang ada dana lebih atau memang ingin memberi kenang-kenangan pada para tamu, ya silakan saja. Waktu itu saya juga buat sendiri suvenir ini. Gak banyak memang, karena saya juga agak iseng-iseng aja buatnya, dan bagi saya gak terlalu penting juga sih. Saya siapkan suvenir dari kain flanel dan pita satin, berupa bros dan gantungan hape.

Ssstt, saya sudah mulai nyicil buat suvenir ini dari sebelum ada yang ngelamar lho! Hoho. Nah, buat kamu yang memang ingin ada suvenir juga, bisa sesuaikan dengan budget yang kamu punya. Sekarang juga bertebaran suvenir lucu dan unik dengan harga yang gak menguras kantong. Sebaiknya, pilih suvenir yang memang bisa digunakan dan bermanfaat. Misalnya mangkuk kecil, gelas, sendok, pena, dan lain-lain.

5. Tempat
Nah, ini salah satu bagian penting untuk acara pernikahan. Menentukan tempat acara. Pada umumnya, acara akad nikah dan resepsi memang di rumah mempelai wanita ya. Saya juga seperti itu. Saya yang tinggal di daerah yang  masih luas tanah sekitarnya, bisa dengan leluasa menggelar acara pernikahan. Tinggal pasang tenda dan kursi, serta perlengkapan lain seperti panggung dan pelaminan.

Tapi bagaimana kalau baik di rumah mempelai wanita maupun mempelai pria tidak cukup ruang untuk menggelar acara pernikahan? Atau pihak keluarga tidak ingin ambil pusing dengan mengurus ini itu yang pastinya sedikit banyak melelahkan? Ya nikah di gedung dong!

Ini bukan perkara gaya-gayaan atau ingin terlihat lebih wah ya, tapi kembali kepada kebutuhan masing-masing. Di tempat tinggal saya sendiri, Lampung, kini sudah banyak gedung yang disewakan untuk acara besar seperti ini. Bagaimana di kota lain? Tentu banyak juga dong. Nah, untuk kamu yang tinggal di Bekasi, saya punya informasi gedung apa yang representatif untuk acara pernikahan kamu.

Grand Galaxy Exhibition Hall (GGHC)

Gedung ini merupakan convention hall terbesar dan termewah di Bekasi. Dengan desain arsitektur yang unik, pernikahan kamu yang sudah dikonsep matang bakal jadi lebih lengkap dengan tempat ini. Gedung yang mampu menampung hingga 2.500 orang ini bisa dibagi menjadi 3 mini hall sesuai dengan kebutuhan. 

Grand Galaxy Convention Hall


Untuk fasilitas, jangan khawatir. Gedung yang berada di bawah naungan Jakarta Event Enterprise (JEE) ini menawarkan 6 keunggulan. Simak deh.

1. Harga terjangkau
Meski GGCH ini merupakah hall termewah di Bekasi, tapi harga yang ditawarkan cukup terjangkau dan bisa disesuaikan dengan budget kamu. 

2. Kapasitas besar
Seperti yang sudah disinggung tadi, gedung ini berkapasitas hingga 2.500 orang. Jadi gak khawatir tamu-tamu akan kepanasan karena desak-desakan ya.

Grand Galaxy Convention Hall

3. Strategis
Berlokasi di Grand Galaxy Boulevard No. 1, Bekasi (Grand Galaxy City), GGCH ini diapit oleh berbagai kemudahan akses tol seperti tol dalam kota, JORR, dan becak kayu.

4. Fleksibel
GGCH punya banyak paket yang bisa disesuaikan dengan budget dan kebutuhan. Jadi gak khawatir harganya bakal saklek dan gak sesuai dengan rencana.

5. Praktis
Ini nih yang paling dicari. Kamu sudah gak usah pusing lagi untuk cari wedding organizer karena disini semua kebutuhan mendasar seperti itu sudah ditangani oleh JEE.

6. Helpful
Siapa yang gak terbantu coba kalau tim dari JEE di GGCH ini akan mengiring dan membantu acara dari mulai persiapan hingga selesai acara?

Hayo, sudah mulai ada gambaran kan? Nah, biar lebih jelas lagi, kamu bisa datang di acara 7th Bekasi Wedding Exhibition mulai besok nih.


7th Bekasi Wedding Exhibiton

Acara ini merupakan pameran pernikahan terbesar dan terlengkap di Bekasi. Untuk kamu nih yang sedang mempersiapkan pernikahan, sedang cari vendor, katering, dekorasi dan lain-lain, arahkan tujuan kamu kesini aja. Catat tanggalnya ya! 13-15 September 2019 di Grand Galaxy Convention Hall. Acaranya dimulai pukul 10.00 pagi hingga pukul 21.00 malam.

Harga tiketnya juga murah banget, hanya Rp 15.000,- dan bisa didapatkan di beberapa outlet online seperti Tokopedia, Loket, dll. 

7th Bekasi Wedding Exhibiton

Tunggu apalagi? Let's go there tomorrow ya!

Baca juga : Wedding Dress

30 Agustus 2019

Semarak Lampung Krakatau Festival 2019

Halo semua!

Siapa nih yang suka jalan-jalan sambil menikmati keragaman budaya daerah? Kalau ada yang suka begitu, berarti sama dengan saya. Yuk langsung buat agenda jalan bareng, hehe.
Lampung Krakatau Festival 2019

Setiap daerah di Indonesia, tentu saja punya keragaman budayanya masing-masing. Apalagi, provinsi dan kabupaten/kota di Indonesia sangat banyak. Tentunya, keragaman budaya dan adat pun makin banyak pula. Contoh kecilnya saja tarian dan pakaian adat. Kalau melihat pengantin daerah, saya selalu bangga dilahirkan di Indonesia. Sebab saya bisa menyaksikan kecantikan perempuan-perempuan Indonesia berbalut busana kebanggaan tanah kelahiran mereka.

Balik lagi ke jalan-jalan sambil menikmati keragaman budaya. Saya yang tinggal di Lampung saja, belum sempat mengitari keseluruhan Lampung. Maklum saja, provinsi Lampung ini sangat luas dengan pembagian kabupaten dan kota yang banyak pula. Ada beberapa kabupaten/kota yang sudah pernah saya singgahi meski tidak selalu pada saat ada agenda budaya.

Nah, untungnya ada agenda pariwisata besar yang setiap tahun selalu diadakan di Lampung. Apakah itu? Festival Krakatau!

Apa itu Festival Krakatau?

Mendengar kata Krakatau, telinga kita pasti sudah tidak asing lagi ya? Yup! Gunung yang terletak di tengah selat Sunda ini memang sudah mendunia namanya. Bagaimana tidak, letusan dahsyatnya pada tahun 1883 telah memicu tsunami besar dan sempat membuat sebagian belahan dunia gelap karena abu vulkaniknya yang masih bertebaran di atmosfir. Dunia mengira gunung itu telah lenyap karena ledakan yang dahsyat, tapi rupanya muncul anak gunung Krakatau yang sampai saat ini masih terus aktif dan beberapa bulan kemarin sempat erupsi.

Festival Krakatau
Sumber : Dinas Pariwisata Lampung
Lalu apa hubungannya dengan Festival Krakatau? Jelas ada dong! Festival Krakatau diadakan untuk mengenang kembali meletusnya gunung Krakatau pada akhir Agustus 1883 silam. Festival ini diadakan setiap tahun dan biasanya dilaksanakan di akhir bulan Agustus. Supaya meriah, festival tahunan ini dirangkai dengan banyak agenda seru.

Rangkaian kegiatan Lampung Krakatau Festival 2019

Meski setiap tahun rangkaian kegiatan Festival Krakatau sering berganti, tapi ada agenda yang terasa wajib ada di Festival Krakatau. Tahun ini, Festival Krakatau punya banyak rangkaian kegiatan yang serunya gak kalah sama serunya ngerumpi di teras rumah tetangga, hehe. Apa saja itu? Yuk mari disimak!

Nusa Rasa

Dari namanya sudah terbayang ya apa yang ada dalam kegiatan ini? Bagi yang hobi kulineran, bakal merasa seperti di surga deh kalau datang di acara ini. Nusa rasa merupakan kegiatan bazar aneka makanan dan minuman kekinian yang digelar di lapangan Saburai mulai tanggal 18-25 Agustus 2019. Selain dapat memilih makanan dan minuman sesuka hati di lebih dari 40 merchant, disini juga ada doorprize menarik yang dibagikan.


Sumber : Dinas Pariwisata Lampung
Meskipun sudah dimulai pukul 10.00 pagi, tapi kalau saya, lebih suka datang sore hari karena cuaca sudah agak adem. Sekalian jalan-jalan sore karena di samping lapangan Saburai, ada Taman Gajah atau Elephant Park. Walaupun namanya Taman Gajah, tapi tenang aja, gak ada gajah beneran kok, hehe. Nah, agak ke samping kiri dari Taman Gajah, ada tugu Adipura yang menjadi icon kota Bandar Lampung. Jadi, nyore sambil menikmati suasana kota Bandar Lampung. Hm, asyik banget gak tuh?


Pesona Kemilau Sai Bumi Ruwa Jurai

Kegiatan ini berisi banyak sekali acara. Mulai dari pembukaan Festival Krakatau, flash mob di tempat umum -saya sempat lihat di Mall Boemi Kedaton, tari Bedana yang dibawakan spontan oleh komunitas penggerak pariwisata Lampung, seru deh-, lalu penampilan grup band dan artis nasional, serta sendratari tradisional. Kegiatannya berlangsung di lapangan Saburai pada tanggal 23-24 Agustus 2019.

Krakatau Expo

Sesuai dengan namanya, Krakatau Expo lebih banyak diisi dengan pameran produk UKM ekonomi kreatif dan beberapa perlombaan memasak. Salah satunya adalah lomba menghias 1000 cupcakes, lomba kuliner nusantara, dan bagi-bagi 5000 porsi mi seruit. Ada yang tahu seruit? Ayo ke Lampung, baru deh bisa merasakan sendiri nikmatnya makanan yang satu ini. Krakatau Expo digelar di tempat yang sama, yaitu lapangan Saburai pada tanggal 23-25 Agustus 2019 mulai pukul 10.00 pagi.

Parade Permainan Tradisional

Siapa nih yang kangen dengan permainan masa kecilnya? Saya pribadi yang memang anak 90an, bermain di luar rumah dengan berbagai macam permainan memang sangat menyenangkan. Apalagi kalau sudah berkumpul bersama teman-teman, wah bisa lupa waktu deh. Nah, di acara ini, kita akan disuguhkan parade permainan tradisional dan membawa kita pada kenangan indah semasa anak-anak. Tidak hanya permainan tradisional dari Lampung saja yang dipertunjukkan, tapi juga permainan radisional nusantara. Sebut saja Gobak Sodor, Patil Lele, dan banyak lagi. Ada yang mau nambahin lagi? Tempatnya masih di lapangan Saburai pada tanggal 24 Agustus 2019 mulai pukul 10.00 pagi.

Tur Krakatau

Tur Krakatau tidak hanya sebatas datang ke anak gunung Krakatau. Kita juga diajak untuk menjelajah pulau Sebesi, aksi bersih pantai, dan menyaksikan prosesi adat di Kalianda. Seru? Jelas! Namun, ada yang berbeda dengan tur Krakatau tahun-tahun sebelumnya, tahun ini Tur Krakatau hanya sebatas mengamati anak gunung Krakatau dari atas kapal. 


Anak gunung krakatau
Anak gunung Krakatau dilihat dari kapal
Saya pernah ikut tur Krakatau dua tahun lalu, dan bersyukur sekali punya kesempatan yang langka itu. Saya dan rombongan diajak bermalam di pulau Sebesi dahulu untuk kemudian pagi harinya menjejaki pasir pantai di kaki anak gunung Krakatau. Lalu, menapaki anak gunung Krakatau dan melihat dari dekat seperti apa anak gunung Krakatau itu. Ceritanya selengkapnya ada disini dan disini.


Lampung Culture & Tapis Carnaval

Nah ini dia acara puncak Festival Krakatau. Acara yang satu ini rasa-rasanya menjadi acara wajib yang tidak bisa dihilangkan dari rangkaian kegiatan Festival Krakatau. Walaupun namanya bernuansa Lampung, tapi karnaval ini tidak hanya menampilkan budaya Lampung saja. Salah satunya ada parade budaya dari cici-cici etnis Tionghoa yang ada di Lampung. Dengan nuansa merah-pink, para perempuan bermata sipit itu tampil cantik menyusuri jalur karnaval.


Dari Lampung sendiri, karnaval ini menampilkan budaya dari seluruh kabupaten dan kota yang ada di provinsi Lampung. Ada tari kipas, tari bedana, dan tarian lain yang digelar untuk menunjukkan bahwa Lampung kaya akan budaya. Selain tari-tarian, tampil juga parade busana fantasi dengan tetap menonjolkan nuansa Tapis.

Kalau ingin tahu seberapa kayanya budaya Lampung, datanglah kemari saat Festival Krakatau ini. Agendakan untuk ambil cuti setidaknya tiga hari untuk ke Lampung. Bawa perlengkapan fotografi karena sayang sekali kan kalau tidak mengabadikan salah satu agenda pariwisata terbesar di Lampung ini.

Beberapa Catatan dan Tips

  • Untuk sampai ke Lampung, bisa menggunakan beberapa moda kendaraan. Dari jalur udara, tiba di bandara Radin Inten II, Branti. Jarak dari Bandara ke lapangan Saburai sekitar 25 km dan dapat ditempuh dengan naik bus atau kendaraan umum lainnya selama kurang lebih 45 menit. 
  • Dari jalur laut, sampai di pelabuhan Bakauheni lalu langsung lewat jalan tol dan keluar di pintu tol Lematang. Dari Lematang bisa melalui Jl. Sutami ke Jl. Tirtayasa untuk kemudian menyusuri Jl. Sriwijaya dan sampai di lapangan Saburai. Waktu tempuhnya memang agak lebih lama dibanding jalur udara (apabila pengunjung berasal dari luar Lampung), yaitu sekitar 1 jam 45 menit.
  • Kalau naik Damri dan turun di terminal Tanjung Karang (samping stasiun Tanjung Karang), bisa dilanjutkan dengan naik angkutan umum atau taxi online. Jaraknya lebih dekat, yaitu sekitar 1,5 km dan ditempuh hanya sekitar 5 menit saja.
  • Untuk akomodasi selama di Lampung, Anda bisa memesan penginapan dan hotel yang banyak tersebar di sekitar lapangan Saburai. Harga kamar tergantung dari tipe hotel dan berkisar antara Rp 250.000,- sampai jutaan rupiah.
  • Kendaraan umum selama di Lampung juga cukup banyak. Mulai dari angkutan kota, bus Trans Lampung, dan kendaraan berbasis online.
  • Kalau ingin menjelajahi Lampung di luar acara Festival Krakatau, Anda juga bisa menyewa travel yang bisa mengantar ke berbagai tempat wisata lain. Memang paling dominan adalah pantai, seperti pantai Pahawang, pantai Gigi Hiu, pulau Kelagian, dan Teluk Kiluan yang terkenal dengan hadirnya ikan lumba-lumba di pagi hari.
  • Jangan lupa bawa kamera karena rangkaian kegiatan Festival Krakatau ini sangat meriah. Tak ingin menyesal kan kalau hanya disimpan dalam ingatan saja tanpa ada foto yang bisa dicetak?
Oke, cerita saya sampai sini saja ya. Pariwisata Lampung memang tidak bisa hanya diceritakan saja, harus banget untuk dikunjungi langsung untuk merasakan keseruannya. Jadi, ayo ke Lampung!

Baca juga : Lampungku Juga Oke

_________________________________________________________________________________
Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog Lampung Krakatau Festival 2019 Blogging Competition.


15 Agustus 2019

Happy 4th Wedding Anniversary!


Cerita pernikahan #1 :
  
gaun pengantin syari

Saya tidak tahu kalau 31 Mei 2015 ada momen yang menentukan kehidupan saya beberapa bulan kemudian. Saya ingat betul waktu dia telpon kasih kabar mau datang beserta keluarga. Serius saya langsung deg degan, haha. Lagipula, saya pikir itu baru pertemuan keluarga saja, jadi gak terlalu banyak persiapan. Istilahnya mau 'nembung' dulu.

Saya juga gak tau akan ada pembicaraan seperti apa. Yah yang saya tau, itu langkah awal kami menuju sebuah pernikahan. Istilahnya, tanya dulu apakah saya bersedia untuk dipinang olehnya. 
Walaupun tau jabawan apa yang akan saya berikan, tapi ayah saya tetap bertanya secara resmi. Apakah saya mau dipinang oleh laki-laki yang datang ini? Saya hanya senyum malu malu. Lalu ayah saya bilang, kalau perempuan ditanya dan ia terdiam, itu artinya setuju. Keluarga saya dan keluarganya jadi tertawa meledek saya.

Cerita pernikahan #2 :

foto rewedding

Beberapa minggu setelah acara nembung itu, saya minta untuk dilamar secara resmi. Saya merasa acara minggu kemarin hanya sebuah pertemuan keluarga yang belum ada kesepakatan kuatnya (padahal artinya sudah beneran ya? Haha). Jadi keluarganya datang lagi, dan kali itu lebih ada persiapannya. Keluarga mamas membawa uang seserahan dan seperangkat kain untuk saya pakai di hari akad pernikahan nanti. Memang tidak ada acara besar saat lamaran waktu itu, hanya keluarga dan ayah saya mengundang beberapa orang tokoh di tempat tinggal kami untuk menjadi saksi bahwa saya sudah dilamar.
Saya deg degan lagi. Kami merencanakan tanggal pernikahan sesaat setelah acara lamaran, yaitu bulan Agustus. Artinya hanya ada sekitar 2 bulanan untuk kami mempersiapkan semuanya. 
Malam itu, saya susah tidur. Terbayang besok paginya saya akan diberondong pertanyaan yang menggoda oleh teman2 saya karena memang saya sengaja buat kejutan. Tapi ternyata berita lamaran saya sudah langsung tayang di dinding fb.

Cerita pernikahan #3 :
  
pengantin adat jawa

Pada akhirnya, 15 Agustus 2015 itu datang juga. Saya dan mamas berikrar, bukan hanya di hadapan manusia, tapi juga di hadapan Sang Pemilik Segalanya, Allah SWT.

Saya resmi jadi istri seorang laki-laki yang melamar saya beberapa bulan lalu. Tanggung jawab ayah saya, lepas sudah. Hati saya membuncah begitu ikrar itu selesai diucapkan suami saya. Apalagi di saat saya mencium tangan kedua orang tua saya dan orang tua suami. Sungguh belum ada yang lebih haru daripada itu semua.

Baca juga : Happy Anniversary Abah dan Ibu

Terimakasih Allah, telah menciptakan dia untuk saya. Dan empat tahun ini, belum apa2 dibanding orang tua saya atau orang tua suami saya mengarungi rumah tangga. Semoga samarah selalu. Aamiin.

Happy 4th Wedding Anniversary to us ^^

05 Agustus 2019

5 Hal Ini Bisa Dicoba Untuk Meminimalisir Sampah Plastik

Halo!
Ceritanya, memang sudah lama saya berusaha untuk meminimalisir sampah, khususnya sampah plastik. Memang belum banyak hal yang saya lakukan, dan pasti juga belum ada apa-apanya ketimbang banyak orang di luar sana yang benar-benar serius dalam mengatasi masalah sampah ini. Tapi, namanya juga berusaha kan ya? Saya juga suka mikir sendiri akan jadi seperti apa bumi ini di kemudian hari, kalau setiap harinya sampah selalu menumpuk?

Sebenarnya banyak hal yang bisa kita lakukan untuk meminimalisir sampah, terutama sampah plastik. Misalnya :

1. Membawa air minum botol sendiri
Ini yang sudah sering saya lakukan. Membawa botol minum yang bisa dipakai berkali-kali lebih bisa meminimalisir sampah plastik. Selain hemat karena saya gak perlu beli minum lagi di jalan, saya juga bisa pakai botol minumnya kembali dan tidak membuang botol plastik lagi. Kecuali bepergian jauh yang tidak memungkinkan saya untuk bawa air minum dalam jumlah besar, saya akan selalu bawa minum sendiri.

Botol minum dari kaca
Baca juga : Jalan Kaki dan Ocehan Gak Jelas

2. Membawa kotak makan
Sama dengan membawa botol minum sendiri, bawa kotak makan dari rumah pun ikut membantu mengurangi sampah plastik. Ini bisa diterapkan ketika mau beli lauk atau sayur di warung tapi tidak dimakan di tempat. Biasanya kan pakai plastik tuh dari ibu warungnya. Nah bisa disiasati dengan bawa wdah makan sendiri, lebih ramah lingkungan juga gak repot memindahkan makanan lagi.


3. Bawa plastik belanjaan sendiri
Nah, kalau yang ini saya sudah mulai mempraktekannya meskipun kadang-kadang saya lupa juga bawa plastik belanjaan sendiri. Saya sering banget tuh dapet goodie bag, macam-macam juga bahannya. Spunbond, plastik, dan kertas. Nah, yang bahan spunbond dan plastik, bisa tuh dilipat-lipat dan diselipin di tas. Manakala pergi ke toko atau warung, gak perlu minta plastik lagi ke penjaga tokonya. Selain gak banyakin sampah plastik di rumah, cara ini juga secara tidak langsung akan mengurangi penggunaan plastik.


Ada cerita sedikit soal bawaan plastik belanjaan ini. Jadi, saya tuh sering ke warung yang dekat rumah untuk belanja kebutuhan dapur. Seringnya sepulang kerja biar sekalian jalan. Nah, sudah beberapa kali saya bawa plastik sendiri. Pertama kali belanja pakai plastik belanjaan sendiri, penjaganya agak heran.

"Kok bawa plastik sendiri, mbak?" tanya si mbak penjaga.
"Gak papa, sudah banyak banget plastik di rumah," kata saya sambil nyengir.

Hari berikutnya, saya bawa plastik sendiri lagi, dan mbaknya sudah gak tanya lagi, tapi ganti tanggapan.

"Bagus gini ya mbak, hemat juga kita. Gak nyampah juga ya mba." Saya mengiyakan sambil senyum lagi.

Hari selanjutnya, saya bawa lagi dan mbaknya kasih tanggapan yang lebih lagi,
"Mbak kok go green banget ya, hehe." Saya ketawa aja.

4. Gak usah pakai plastik kalau gak perlu amat
Kadang, kita secara gak sadar hobi juga ngumpulin kantong plastik belanja. Padahal kalau dipikir lagi, tuh plastik gak perlu-perlu amat. Misalnya nih, beli barang kecil semisal sabun cuci muka atau sikat gigi sebiji. Kan itu bisa dimasukin tas ya, atau bisa digabung ke tas belanjaan lain yang sudah lebih dulu ada di tangan. Tapi, nyatanya kita masih saja nerima plastik belanja untuk barang sekecil itu, yang pada akhirnya akan dibuang juga.

Beberapa minimarket atau swalayan, memang sudah memberlakukan plastik berbayar, tapi kalau konsumennya tidak diedukasi juga, ya sama aja. Toh plastik itu harganya cuma Rp 200,- yang gak berarti apa-apa menurut konsumen. Jadi, coba yuk untuk berfikir lagi kalau mau dikasih plastik untuk pembelian barang yang seumit dan bisa dimasukkan ke tas atau dompet.

5. Belajar daur ulang sampah plastik
Kalau hal yang satu ini, bisa diterapkan untuk sampah plastik bekas minyak goreng, sabun cuci piring, atau botol minuman sekali pakai. Biasanya ibu saya yang ajarin pakai wadah-wadah itu sebagai pengganti polibag untuk media tanam. Botol-botol bekas minuman juga bisa disulap jadi tempat pensil atau pot bunga.

Nah itu dia beberapa hal yang bisa dicoba untuk meminimalisir penggunaan dan sampah plastik. Tahu kan berita soal ikan besar yang mati dan di perutnya ditemukan sampah plastik dalam jumlah besar? Yuk mulai dari hal yang kecil dan dekat dengan diri sendiri dulu.

Ada trik lain untuk meminimalisir plastik? Boleh komentar di bawah ya. Salam bersih lingkungan!

30 Juli 2019

Banyak Baca Sampai Mata Kering? Atasi Dengan Insto Dry Eyes!

Halo! Apa hobi kalian, guys?


Hehe, baru paragraf pertama sudah ditanya hobi ya? Soalnya saya mau cerita sedikit soal ini. Dari saya masuk SMP dulu, setiap kali ditanya tentang hobi, saya hampir selalu menjawabnya dengan; membaca. Baru kemudian saya teruskan jawaban saya dengan menulis cerita, jalan-jalan, dengar musik, dan motoin segala macam objek. Saya memang suka membaca dari dulu, apa saja. Majalah, komik, buku-buku baik fiksi mapun nonfiksi.

Otomatis, saya hampir selalu ke tempat dimana buku-buku bertebaran untuk bisa dibaca. Sebut saja perpustakaan, tempat paling umum dimana orang bisa datang dan membaca secara gratis. Bisa pinjam pula kalau sudah buat kartu anggota. Saat masih di bangku SMP dan SMA, waktu istirahat saya habiskan di perpustakaan. Waktu itu yang paling sering saya baca adalah buku sastra, novel, dan skenario drama.

Baca buku di Pusda Jakarta
Nah, masuk kuliah apalagi. Makin sering ke perpustakaan. Kali itu saya bukan lagi menghabiskan waktu senggang saya untuk baca novel atau buku sastra, tapi lebih ke mengerjakan tugas kuliah. Memang sih kadang-kadang juga masih main ke rak bukunya mahasiswa sastra uintuk cari bacaan selingan. Rupanya, hobi saya baca buku di perpustakaan ini masih juga terbawa sampai saya kerja di Palembang. Hari libur akhir pekan pun saya habiskan di perpustakaan daerah. Enak sih, adem, bisa baca buku apapun sambil duduk ya. Sampai saya pun punya kartu anggotanya.

Baca juga : Pengen Jadi Kutu Buku Di Pusda Jakarta

Itu tempat baca buku versi gratisan ya. Kalau versi setengah gratisannya ya toko buku. Kalau sudah ke tempat ini, pokoknya gak bisa sebentar deh. Gak kerasa aja kaki dan tangan sudah pegel karena baca sambil berdiri dan geser-geser kalau pas lagi ada pengunjung lain yang lagi cari buku di rak yang sama, haha. Kalau saya ngebet banget pengen baca tuh buku, ya saya bela-belain aja untuk beli. Makanya paling demen kalau ada bazar buku murah. Lumayan kan?

Kalau sekarang, lebih enak lagi. Semenjak saya berkenalan dengan perpustakaan digital, saya bisa lebih fleksibel lagi untuk baca buku. Dimanapun, kapanpun. Modal hape doang! Lebih praktis lagi kan, gak perlu bawa tambahan beban di tas karena novel yang tebal atau buku yang ukurannya gede.

Tapi, pernah gak sih, tiba-tiba ngeluarin air mata di tengah asyiknya membaca? Bukan karena baca novel yang sedih ya, tapi lebih karena durasi membaca yang sudah lama atau beberapa kondisi lainnya? Soalnya saya pernah tuh begitu. Atau ada yang pernah ngalamin mata yang tiba-tiba burem dan gatal? Gak enak banget ya di tengah-tengah bacaan tapi mata malah gak bisa kompromi.

Awalnya saya kira itu cuma iritasi biasa saja karena setelah saya kucek-kucek jadi kemerahan tuh mata saya. Tapi setelah saya baca-baca beberapa tulisan tentang mata yang suka pegel dan sepet begini, rupanya itu bukan iritasi. Apa yang saya alami di mata saya adalah gejala mata kering. Lho? Ternyata beda ya iritasi dengan mata kering.

Iritasi Mata
Mungkin sebagian kita pernah mengalami iritasi mata yang gejala umumnya adalah mata berwarna kemerahan, berarir, dan sering keluar kotoran mata atau belek. Penyebab iritasi mata ini bisa berbeda-beda. Bisa jadi karena debu dan asap kendaraan, atau mungkin alergi terhadap makanan atau obat-obatan tertentu, juga bisa jadi disebabkan oleh bakteri atau virus.

Iritasi ringan seperti ini bisa diatasi dengan merimbangnya dengan air bersih atau menggunakan obat tetes mata. Salah satunya adalah Insto Regular.

Mata Kering
Nah kalau yang satu ini, gejalanya beda lagi. Mulai dari mata sepet, pegel, hingga perih. Hm, kalau yang hobinya baca seperti saya, sepertinya pernah ngalamim gejala-gejala ini ya. Ditambah lagi, pekerjaan saya di kantor. Berada di ruang ber-AC dan menatap komputer lebih dari 5 jam sehari. Seringnya tiba-tiba mata saya keluar air dan terasa sepet. Seringnya saya latah untuk kucek-kucek mata, padahal jari saya belum tentu bersih dan steril kan? Padahal ketika dalam situasi kekeringan, mata pun punya sensor tersendiri yang bisa menghasilkan air mata untuk setidaknya membuat semacam pelumas agar mata tidak terlalu kering.



Mungkin inilah yang saya alami kemarin. Mata saya memproduksi air mata tapi dengan komponen yang berbeda dari air mata biasa. Di beberapa tulisan, ada yang menyebutnya ini air mata palsu, karena hanya mengandung air yang bisa membilas mata dan mengeluarkan kotoran pada mata tapi tidak bisa melapisi mata dengan baik.

Penyebab Mata Kering

Sebenarnya mata kering terjadi karena beberapa hal. Bisa jadi karena produksi air mata yang kurang dari jumlah seharusnya, atau bisa jadi karena adanya penguapan yang terlalu cepat pada mata. Di beberapa kasus, kemungkinan penyebab mata kering lebih kepada faktor berikut ini :

1. Perubahan hormon
Manusia memiliki banyak hormon untuk mengatur kerja tubuh itu sendiri. Apabila ada hormon yang berubah, baik itu sedang meningkat atau menurun, maka akan ada perubahan juga pada kerja tubuh. Nah, termasuk pada produksi air mata. Biasanya perempuan yang sedang hamil, menggunakan pil KB, atau yang sudah menopause bisa meningkatkan resiko mata kering ini.

2. Usia
Semakin bertambahnya usia seseorang, maka produksi air mata juga akan semakin menurun. Hal ini yang menyebabkan banyak orang lanjut usia mengalami mata kering. Sensitivitas kelopak mata untuk menyebarkan air mata ke seluruh permukaan mata juga semakin berkurang.

3. Komplikasi penyakit
Beberapa komplikasi penyakit semisal diabetes, lupus, gangguan tiroid dan kekurangan vitamin A juga bisa meningkatkan resiko mata kering. Hal ini disebabkan karena berkurangnya kemampuan kelenjar mata untuk memproduksi air mata.

4. Pengaruh obat-obat tertentu
Seperti yang pernah dialami suami saya, alergi pada obat-obat tertentu juga dapat menyebabkan mata kering. Beberapa kasus seperti pasca operasi lasik juga dapat menyebabkan mata kering.

5. Aktivitas mata dan kondisi lingkungan
Nah, faktor yang terakhir inilah yang sering sekali saya rasakan. Berada di ruangan ber-AC dan menghadap layar komputer lebih dari 5 jam sehari, membuat rencana kegiatan dan laporan kerja, menyebabkan mata saya sering pegal, sepet, dan perih.

Jadi benar, apa yang saya alami itu adalah gejala mata kering. Secara, sudah kerjaan banyak di dalam ruang AC, manghadap layar komputer dan aktivitas visual secara intens, tambah lagi hobi saya baca buku. Ketika istirahat pun yang dipegang hape, entah hanya iseng scroll-scroll (tapi seringnya sampai kelupaan bukan lagi iseng), atau malah baca e-book. Fix deh, mata saya tambah pegel aja.

Mengatasi Mata Kering

Nah, kalau sudah begitu, biasanya saya langsung sadar diri. Ada beberapa hal yang saya lakukan untuk mengurasi gejala mata kering yang saya alami. Kalian juga bisa kok ikutin tips sederhana dari saya ini.

1. Istirahatkan mata sejenak
Mata pegal karena intensitas menatap layar komputer yang lama dapat dikurangi dengan menginstirahatkan mata sejenak. Cobalah untuk melihat ke objek lain yang berada lebih jauh. Misalnya memandang keluar jendela. Untungnya ruang kerja saya ada jendela kaca yang mengarah keluar, jadi kalau mata saya mulai pegal, saya arahkan saja pandangan saya keluar jendela. Istirahat mata ini lumayan lho untuk mengurangi pegal akibat mata kering karena terlalu lama menatap layar komputer. Usahakan pakai rumus 20-2, yang artinya setelah 20 menit di depan komputer, istirahatkan 2 menit untuk melihat ke objek yang jauh.

2. Seringlah berkedip
Kadang saya juga jarang berkedip kalau sudah scroll-scroll hape. Pas lagi baca novel yang seru, atau malah pas lagi mantengin diskon di toko online, haha. Saking asiknya, tahu-tahu mata sudah pedes saja. Padahal, aktivitas berkedip sangat membantu untuk melumasi lapisan mata yang kering.

3. Minum air putih
Nah, yang satu ini pun sering terlewat lagi. Karena sudah berada di ruang ber-AC, saya merasa tidak panas dan haus. Padahal, ruangan ber-AC malah cepat membuat kita dehidrasi. Pun pada mata. Badannya sih gak panas, tapi tahu-tahu matanya perih aja. Apalagi kalau AC nya tepat berada di atas kepala, resiko mengalami mata kering akan lebih tinggi lagi. Oleh karena itu, saya selalu sediakan botol minum tidak jauh dari jangkauan pandang saya. Pas di samping komputer biar selalu terlihat dan saya gak lupa minum air putih lagi.

4. Pakai Insto Dry Eyes
Terakhir, kalau saya merasa nih mata sudah kombinasi ketiga gejala itu, pegal, sepet, dan perih, saya ambil Insto Dry Eyes. Wah, Insto mengeluarkan varian baru ya? Iya! Seperti namanya, varian Insto yang satu ini membantu mengurangi gejala mata kering. Cukup 1-2 tetes Insto Dry Eyes, mata kembali segar dan pandangan jernih lagi. Di mata juga dingin karena memang komposisinya dibuat seperti air mata buatan untuk melumasi lapisan mata.


Kenapa harus Insto Dry Eyes?

Insto merupakan varian produk dari PT. Combiphar yang notabene sudah terkenal mutu produk-produknya. Begitu pun dengan Insto Dry Eye. Setiap mL Insto Dry Eye ini mengandung 3,0 mg Hydroxypropyl methylcellulose yang mampu meringankan gejala mata kering, seperti mata pegal, sepet, dan perih. Kandungan 0,1 mg Benzalkonium chloride yang ada juga membuat cairan ini tetap steril.

Bawa Insto ke tempat kerja
Meskipun Insto Dey Eye ini aman digunakan, tapi tetap ya sebisa mungkin tidak digunakan secara rutin dan jangka panjang. Apalagi bagi yang pakai lensa kontak.

Nah, itu dia pengalaman saya dengan Insto Dry Eyes. Menjaga kesehatan mata tetap lebih penting daripada mengobati setelah adanya kerusakaan pada mata. Yuk sama-sama menjaga mata kita mulai sekarang!

08 Juli 2019

Pengen Jadi Kutu Buku di Pusda Jakarta

Jakarta, We're Coming! Part #4

Kehabisan tiket masuk Teater Bintang untuk pertunjukan pagi hari di Planetarium Jakarta, tidak membuat saya menyia-nyiakan waktu menunggu hingga pertunjukan di siang harinya. Jadi, setelah keluar dari Museum Bintang, kami memutuskan untuk mengunjungi Perpustakaan Daerah Jakarta. Sebenarnya ke Pusda ini tidak ada dalam daftar agenda, tapi karena memang waktu kami terbatas dan ternyata lokasinya dekat dan pas banget buka di hari itu. Ya udin, kami langsung saja jalan kesana.

Foto lagi di depan gedung perpustakaan
Pada dasarnya saya memang suka sekali ke perpustakaan, entah cuma lihat-lihat buku atau baca-baca sebagian, atau yah just stay a while sambil coret-coret kertas. Cerita sedikit ya, dulu waktu saya masih kerja di Palembang, saya termasuk pengunjung tetap di hari Sabtu. Punya kartu anggotanya juga yang sampai sekarang masih saya simpan di dompet meski sudah kadaluwarsa, hehe. Sekarang pas sudah tinggal di Lampung malah gak punya kartu Pusda. Selain karena hari libur kerjanya cuma hari Minggu, untuk menuju ke Pusda juga lumayan jauh dari tempat tinggal saya.

Balik lagi ke Pusda Jakarta. Dari teras, kami sudah disuguhi deretan foto Jakarta tempo dulu hingga sekarang. Masuk ke dalam, seperti masuk ke ruang pameran karena disuguhi deretan foto dan karya tulis. Oh iya, kami juga mengisi buku tamu di sebelah pintu masuk tadi.

Deretan foto di ruang depan
Setelah mengisi buku tamu, kami lanjut untuk lihat sekeliling sebelum masuk ke ruan bacanya. Di ruang yang serasa seperti ruang pameran ini, ada beberapa macam pameran yang berbeda. Satu deret di bagian depan memamerkan foto dan dokumentasi kota Jakarta dari dulu hingga sekarang. Deretan lain memamerkan hasil karya menggambar dan mewarnai anak-anak TK dan SD. Deretan selanjutnya memamerkan koleksi tumbuhan atau hanya daun yang dikeringkan.

Nah, deret lainnya adalah pusat koleksi sastra HB Jassin. Disini, terpajang karya tulis dari para sastrawan yang melegenda. Sebut saja WS Rendra, HB Jassin, Taufiq Ismail, dan beberapa sastrawan lain yang pasti sudah tidak asing lagi namanya di telinga saya. Selain karya tulis, disini juga terpajang koleksi tulisan tangan dari sastrawan tersebut. Kalau melihat langsung coretan mereka, rasanya saya bisa membayangkan bagaimana dulu sebuah novel dan karya sastra memang butuh pemikiran mendalam. Buktinya, ada beberapa tulisan yang dicoret atau diberi penanda. Kalau sekarang, bisa langsung copy paste dan delete saja ya bagian yang salah, hehe.

Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin
Jadi begini ya konsep tulisan WS Rendra

Siapa yang punya catatan sama seperti ini?
Selain tulisan tangan dari beberapa sastrawan, disini juga dipamerkan beberapa naskah kuno dengan tulisan tangan yang tidak bisa saya pahami isinya. Kalau tidak salah, itu ditulis dengan huruf jawa kuno. Kertasnya juga sudah tidak cerah lagi.

Naskah kuno

Koleksi daun yang diawetkan
Lanjut ke ruangan dalam lagi, kami disambut oleh penjaga lagi yang memberi tahu kami untuk menitipkan tas dan barang bawaan di loker yang tersedia, termasuk air minum dan makanan. Jadi, kalau mau ke ruang baca ya harus bawa diri aja dan beberapa barang yang diperlukan semisal laptop atau buku catatan. Itu pun disediakan tas transparan dari pihak perpustakaan. Nah, pengunjung seperti saya yang bukan anggota tetap perpustakaan, dimintai KTP sebagai jaminan. Gak terlalu paham juga sih apakah anggota perpus juga akan dimintai KTP sebagai jaminan?

Oh iya, dari informasi yang kami dapat, ruang baca di perpus ini juga terbagi menjadi beberapa lantai. Ada ruang baca untuk umum dan untuk anak-anak. Waktu kami kesana, ada acara dongeng untuk anak-anak. Kami lanjut saja ke ruang baca umum.

Ruang baca umum tidak jauh berbeda dengan ruang baca pada umumnya. Terdapat rak-rak buku yang disusun sesuai dengan jenis buku. Ada juga bangku dan kursi, lengkap dengan kabel colokan listrik apabila membawa laptop. Di ujung rak buku juga disediakan rak untuk menampung buku-buku yang sudah dibaca.

Saya terlalu bingung untuk membaca buku apa karena saking banyaknya yang ingin saya baca tapi waktu yang saya punya terbatas. Pada akhirnya saya menjatuhkan pilihan pada buku-buku sejenis sejarah beberapa kota. Bukunya berukuran besar dengan jumlah halaman yang banyak sekali sehingga sangat tebal. Juga, pakai bahasa Inggris, jadi saya lebih banyak lihat foto-foto yang ada di bukunya sih daripada baca isinya secara keseluruhan, haha.

Sejarah kota Jakarta

Rasanya, saya ingin berlama-lama di perpus ini, tapi pas lihat jam ternyata sudah tengah hari. Artinya sudah waktunya untuk kembali lagi ke Planetarium untuk nonton pertunjukan bintang.

Baca juga : Berasa Keluar Angkasa di Planetarium Jakarta

Oke, ini episode terakhir dari jalan-jalan ke Jakarta kemarin. Cuti besok, saya pengen ke tempat lain dan nanti saya tulis lagi hasil jalan-jalan saya. Tunggu ya!



29 Juni 2019

Berasa Keluar Angkasa di Planetarium Jakarta

Jakarta, we're coming! Part #3

Taman Ismail Marzuki

Hari kedua di Jakarta, saya sudah siap dengan deretan tempat yang ingin saya kunjungi. Walaupun gak tau dimana tepatnya, tapi sudah saya gugling sampai cek harga naik taxi online juga, hehe. Tempat pertama yang ingin saya kunjungi adalah Taman Ismail Marzuki ini. Paling dekat dan juga banyak spot yang bisa saya lihat (dari referensi yang saya baca sih begitu).

Jadi selepas sarapan, kami langsung bersiap jalan. Gak lupa bawa minum dan cemilan buah. Kami berangkat naik taxi online yang ternyata jaraknya dekat banget. Pantes, pak Suwandi bilang bisa jalan kaki, haha. Seperti biasa, ambil foto dulu untuk bukti bahwa saya pernah menginjakkan kaki di tempat ini.

Patung Taman Ismail Marzuki
Disini, banyak spot yang bisa dikunjungi. Satu spot yang pertama ada dalam daftar saya adalah Planetarium. Terdengar seperti tempat bermain edukasi anak-anak ya? Gak apa, daripada saya penasaran dan gak jadi masuk seperti di Taman Pintar Jogjakarta (ceritanya ada disini), saya maju terus deh. Untungnya saya sudah cari tahu jadwal pertunjukan disini.

Jadi, di Planetarium ini ada jadwal untuk rombongan dan perorangan. Untuk rombongan, dibuka setiap Selasa hingga Jumat, sedangkan untuk perorangan, dibuka setiap Sabtu dan Minggu. Alhamdulillah ya, pas banget kami ada disana hari Sabtunya, jadi bisa lihat pertunjungan bintang untuk perorangan. Dalam sehari, ada 2 kali pertunjukan, yaitu pagi dan siang hari. Nah, ketika kami sampai sana, kursi pertunjukan di pagi hari sudah penuh. Maka kami ambil antrian untuk pertunjukan di siang harinya. Saat itu masih jam 09.00 pagi, dan pertunjukan baru akan dimulai pukul 13.30! Terbayang akan menunggu dimana selama berjam-jam kan?

Berbekal tanya sama petugas disana, kami disarankan untuk mengunjungi museum dan perpustakaan yang masih berada di kawasan TIM juga. Jadi, selama dalam waktu menunggu, kami mengunjungi museum yang ada di bagian belakang gedung Planetarium ini. Tidak ada tiket berbayar untuk masuk ke museum ini.

Dari pintu masuk, kami sudah disuguhi nuansa luar angkasa yang memukau mata. Kami berjalan di lorong yang di dindingnya penuh dengan gambar rasi bintang lengkap dengan penjelasannya. Bahkan saya merasa ada di dunia fantasi seperti film kartun yang sering saya tonton waktu kecil dahulu.

Lorong yang ada di pintu masuk museum
Penjelasan yang ada di sepanjang lorong
Setelah melewati lorong rasi bintang, kami sampai di bagian teras (saya menyebutnya teras ya, karena ruang utamanya masih masuk ke dalam) dan disuguhi penampakan meteorit yang pernah jatuh di kawasan Tambakwatu, Pasuruan pada tahun 1975. Meskipun batu ini berukuran sebesar kepala manusia, tetapi beratnya mencapai 10,5 kg! Tak terbayang kalau sampai kejatuhan batu ini dari luar angkasa.

Kecil tapi beraaaatt
Masih di bagian teras ini, terpampang papan informasi mengenai sejarah astronomi di Indonesia. Dimulai dari tahun 800 M dengan dibangunnya Candi Borobudur yang stupa utamanya diduga digunakan sebagai penanda waktu. Berangsur-angsur hingga tahun 1765 Johan Mauritz Mohr membangun observatorium pribadi di Batavia dan mulai melakukan pengamatan astronomi. Hingga tahun 1964 mulai didirikan Planetarium dan Observatorium di Jakarta ini.

Papan informasi yang ada di teras museum
Masuk ke ruang utama, saya dibuat takjub kembali dengan adanya diorama besar di plavon yang menggambarkan lintasan tata surya. Dari matahari hingga planet-planet yang mengelilinginya. Ruang utama ini berbentuk melingkar dengan sumbu utamanya dikelilingi oleh macam-macam rasi bintang yang terpajang di lantainya.

Lintasan tata surya di tengah ruangan utama

Tahukah kamu apa nama planet yang besar itu? hehe
Di sebelah lintasan tata surya yang besar tadi, berjajar papan informasi mengenai awal mula terbentuknya galaksi dan jagat raya ini. Dimulai dari ledakan besar yang dikenal dengan Big Bang, hingga tebentuknya bintang-bintang dan planet. Saya juga baru paham bahwa bintang-bintang itu punya siklus hidupnya sendiri, hehe. Papan-papan informasi ini berjajar dan memberikan informasi secara runut dari awal hingga akhir.

Awal mula terbentuknya galaksi

Siklus kehidupan bintang
Di tengah-tengah ruangan juga dipamerkan peralatan untuk mengamati bintang, alat peraga simulasi lintasan tata surya, juga peralatan untuk membuat efek luar angkasa pada pertunjukan bintang di teater.
Alat untuk membuat efek film luar angkasa
Di sisi lain, terdapat satu area seperti teater lengkap dengan layar besar di depan dan tempat duduk bertingkat seperti tangga selebar setengah lingkaran. Waktu kami kesana, tampaknya ada film dokumenter yang sedang diputar. Sayangnya, saat itu terlalu ramai untuk melihat filmnya, jadi gak bisa fokus. Jadi kami lewatkan saja. 

Nah, di pintu keluar, masih ada spot untuk foto lagi (dimanapun harus ada bukti fotonya, haha). Ada bola dunia yang sangat besar dan bisa diputar juga, kayak alat peraga globe gitu waktu jaman SD dulu, hehe.



Ini spot foto terakhir di museumnya. Selanjutnya kami ke teater bintang. Sebenarnya setelah kami keluar museum ini, kami berkunjung dulu ke perpustakaan daerah. Tapi, ceritanya di bagian akhir aja ya. Biar sekalian cerita di Planetarium dulu hehe.

Untuk masuk ke Teater Bintang, kami diharuskan sudah datang maksimal setengah jam sebelum waktu pertunjukan. Jadi, kami masuk lagi sekitar pukul 13.00. Rupanya antrian sudah mengular begitu pintu cek tiket pertunjukan dibuka. Karena memang di tiket tidak ada nomor tempat duduknya, jadi mungkin siapa yang cepat masuk duluan, ya bisa pilih tempat duduk paling nyaman. Oh iya, disini tidak boleh membawa makanan atau minuman ke dalam teater, dan nanti di pintu masuk teater akan ada pemeriksaan juga. Jadi, lebih baik bawaan makanan atau minuman dititipkan lebih dulu ke tempat penitipan barang.

Tiket masuk diantara antrian yang mengular >_<
Dan benar saja, ketika pintu masuk teater sudah dibuka, kami masuk dan memilih tempat duduk sendiri. Ruang teater sangat luas dengan atap berbentuk setengah bola. Sebelum pertunjukan diputar, kami disuguhi aneka musik yang waktu itu musik anak-anak dengan nuansa ceria. Mungkin karena memang kebanyakan pertunjukan ini untuk anak-anak, jadi ya musiknya juga untuk anak-anak, walaupun banyak juga orang dewasa yang sengaja datang melihat pertunjukan.

Sebelum pertunjukan, tetep foto dulu haha
Sekitar setengah jam menunggu, akhirnya pertunjukan pun dimulai. Petugas memberi tahu apa saja yang boleh dan sebaiknya tidak dilakukan saat pertunjukan. Misalnya saja, menghidupkan layar ponsel di tengah pertunjukan, mengambil foto dengan lampu, dan berlarian (khususnya bagi anak-anak). Di tengah pertunjukan, saya baru paham kenapa tidak disarankan untuk menghidupkan layar ponsel meski dalam mode kecerahan yang sangat minim. Juga tidak disarankan untuk berjalan kesana kemari selama pertunjukan.

Tahu kenapa? Karena di dalam ruang pertunjukan itu gelap! Benar-benar gelap seperti malam hari! Jadi, di dalam ruangan ini memang sudah dikondisikan sedemikian rupa hingga penonton merasa berada di luar rumah pada malam hari. Awal pertunjukan, ditampakkan langit malam dengan lampu-lampu gedung dan rumah yang masih menyala. Lalu, perlahan kita diajak untuk melihat langit malam apabila tidak ada lampu gedung atau rumah yang menyala. Hasilnya sangat menakjubkan! Sayangnya saya tidak bisa mengambil fotonya karena alasan tadi dan saking saya menikmatinya langit malam.

Berbagai rasi bintang (sumber foto : Planetarium dan Observatorium Jakarta)
Cuma berhasil ambil foto ini (ini pun sedikit mengganggu cahaya dari ponselnya, duh!)
Kemudian, perlahan kita diajak untuk mengenal berbagai rasi bintang, mengenal planet-planet di tata surya kita, mengenal bagaimana terjadinya gerhana bulan dan matahari, juga mengenal benda-benda langit lainnya seperti meteor dan komet. Satu hal yang paling menakjubkan selama pertunjukan adalah ketika kita diajak untuk keluar angkasa. Dengan suasana gelap gulita dan efek ilusi yang canggih, kita serasa benar-benar seperti terbang dengan pesawat luar angkasa, menembus atmosfer bumi dan akhirnya sampai ke luar angkasa. Efek ilusi ini bahkan membuat hampir seluruh penonton menjerit dan takjub. Saya sampai gak bisa menggambarkan dengan tulisan ya, haha.

Pertunjukan berakhir dengan kembalinya para penonton ke bumi dan terbitnya matahari. Artinya ruangan sudah menjadi terang kembali. Rasanya 1,5 jam itu terlalu singkat untuk pertunjukan yang memukau ini. Saya keluar ruangan dengan masih terngiang gambaran langit malam yang cantik tadi. Di dekat pintu keluar, ternyata ada beberapa penjual buku-buku astronomi untuk anak-anak. Rupanya mereka memanfaatkan tempat ini dengan momen yang pas. Berjualan buku astrnomi di museum bintang.

Sedikit saran untuk Anda yang ingin berkunjung ke Planetarium dan Observatorium Jakarta. Apabila ingin melihat pertunjukan bintang secara perseorangan, datang di hari Sabtu dan Minggu. Datang pagi hari untuk mengantri tiket walaupun ingin masuk di pertunjukan yang kedua alias di waktu siang. Sebab, antrian tiket sudah mengular sejak pagi (kondisinya begitu waktu saya kesana kemarin, atau antrian tiket ini karena memang pas musim liburan ya?). Selain Pertunjukan Bintang, masih banyak kegiatan lain yang bisa dilakukan disini.

Untuk lebih lengkapnya, bisa langsung kunjungi alamat fisik atau situsnya ya.

Planetarium dan Observatorium Jakarta
Jl. Cikini Raya No. 73 Jakarta Pusat
Tlp. 021 2305146
www.planetarium.jakarta.go.id

Well, sebenarnya sebelum kami ke Teater Bintang, kami mengunjungi perpustakaan daerah Jakarta dulu. Tapi ceritanya di postingan depan saja ya. Sepertinya postingan kali ini sudah panjang, hehe. See you!

Baca juga : Keliling Monas Bawa Buntelan