Halaman

20 Juni 2019

Jakarta, We're Coming! Part #1

Tulisan ini sebenarnya adalah sambungan dari tulisan pertama yang sudah lama diposting. Biar ingatannya kembali, bisa baca tulisan pertama disini ya!


Oke, kita lanjut ke postingan selanjutnya ya. Kemarin, saya kasih prolog yang terlalu panjang sampai jadi postingan penuh, hehe. Sekarang postingan inti dari jalan-jalan itu (halah, apa sih!).

Hari pertama di Jakarta

Sebenarnya saya sudah beberapa kali ke Jakarta, tapi baru kali ini ke Jakarta sendiri tanpa rombongan. Untungnya ada aplikasi online yang memudahkan untuk bisa jalan-jalan sendiri, seperti google map atau ojek online. Insyaallah gak tersesat deh.

Jadi, selepas kami solat Subuh di stasiun Gambir dan menunggu agak terangan, berangkatlah kami menuju Monas. Jalan kaki aja karena hitung-hitung sambil olahraga. Monas masih agak sepi dari pengunjung yang seperti kami (bawa ransel dan buntelan makanan, haha). Lainnya, petugas kebersihan, penjaga pintu masuk, dan orang-orang yang berolahraga pagi, serta beberapa anggota brimob (yang belakangan nanti kami tahu rupanya akan ada acara di siang harinya).

Rombongan brimob yang kami lihat dari atas cawan Monas
Kami cuek aja jalan kesana kemari menikmati matahari pagi di pelataran dan taman Monas. Sesekali foto-foto dan duduk di bangku taman yang masih basah oleh hujan semalam dan embun pagi. Tiba-tiba saja kami merasa sudah berjalan jauh dari pintu 1 ke pintu 3, artinya sudah hampir mengelilingi pelatarannya. Waktu itu masih pukul 07.00 pagi.


Ini jepretan ke sekian kalinya dari Mamas (sebelumnya hasilnya meleset mulu, wkwk)
Niatnya saya ingin ke puncak Monas karena dua tahun lalu ke Monas gak berhasil masuk ke puncaknya. Ceritanya ada disini. Jadi, kali ini saya ingin mengulangi antrian lagi. Karena waktu itu tiket belum buka, jadi kami cari sarapan dulu di area food court dekat pintu masuk. Sebenarnya gak begitu lapar karena pas di stasiun tadi saya sempat makan buah pir sebiji (walaupun jalan-jalan masih keingetan makan buah sehat haha). Di area food court yang belum semua buka, kami kelilingi satu-satu. Hampir rata-rata jualan bakso, nasi goreng, nasi rames, dan makanan berat pada umumnya. Yah, pada akhirnya kami duduk di depan salah satu kios dan saya pesan soto betawi, sedangkan si mamas pesan bakso telur. Ini pagi-pagi makanannya berat kali, haha.

Santai di pagi yang sejuk
Pas balik lagi ke area Monas, kereta yang mengangkut penumpang menuju Monas sudah ada. Saya dan mamas langsung deh naik. Bagi yang belum pernah ke Monas, kereta ini gratis bagi penumpang yang memang mau menuju puncak dan museum yang ada di Monas. Lumayan gak cape balik ke tengah-tengah sana lagi.

Oh iya, pas saya antri mau beli tiketnya, saya teringat masih punya kartu Jackcard. Sebenarnya saya gak terlalu paham soal kartu itu, ternyata masih bisa dipakai dan masih ada saldonya! Haha, untung gak saya buang waktu itu. Ternyata antrean sudah panjang sekali dan saya lihat jam sudah sekitar jam 09.00 (kami terlewat jam buka karena sarapan tadi), jadi rasa-rasanya kami tidak bisa ke puncak lagi. Saya juga sempat tanya dengan petugas kira-kira antreannya sudah sepanjang apa, dan jawabannya seperti yang saya duga. Sudah banyak, katanya. Waktu itu hari Jumat, makanya kami nngejar waktu biar si mamas bisa tetap solat Jumat. Jadi ya sudahlah, kami naik ke cawan saja.

Dan benar, setelah kami sampai ke pintu Monas, antrian di depan lift menuju puncak, sudah banyak. Jadi, okelah kali ini gagal lagi. Mudah-mudahan saya bisa kesini lagi dan berhasil menuju puncak Monas!

Untuk menuju ke cawan gak perlu naik lift. Hanya jalan saja menaiki tangga yang lumayan banyak. Lumayan membuang kalori untuk yang pengen kurusan. Sempet ngos-ngosan karena naik tangga sambil bawa ransel dan buntelan. Tapi pemandangan dari cawan cukup lega.

Pemandangan dari atas cawan
Di atas cawan, aslinya kalau siang pasti panas terik banget disini
Saya mencoba mendongak ke arah puncak monas dari cawan ini. Wow! Rasanya telapak tangan saya langsung berkeringat. Saya memang begitu, meilhat gedung atau atap yang tinggi malah membuat saya pusing dan langsung berkeringat dingin. Begitu tingginya sampai saya tidak bisa melihat puncaknya dari bawah sini.

Dari atas cawan ini juga saya bisa melihat rombongan brimob yang tadi saya lihat berkeliaran di sekitar Monas. Beberapa pasukan yang bergabung di barisan itu seperti rombongan tanaman hias yang berwarna-warna karena warna baretnya berbeda-beda. Saya mengambil beberapa foto diri disini, juga di depan Museum Kemerdekaan yang waktu itu sudah pernah kami masuki, jadi kami tidak banyak meluangkan waktu disana lagi. Sekitar pukul 10.30, kami berniat untuk menuju hotel karena badan sudah terasa gak karuan. Panas, berkeringat, dan tampak lusuh, hehe.

Relief di bagian luar Monas
Sampai di hotel, kamar kami belum siap. Ya sudahlah, menunggu di lobi sambil mengantuk dan gak ada yang ingin saya lakukan lagi karena sudah cape. Efek belum mandi juga sih, jadi males mau ngapa-ngapain lagi, ditambah masih bawa-bawa ransel dan buntelan itu.  Saya melihat lagi tempat-tempat yang ingin saya kunjungi di catatan saya. Masih banyak lah! Masjid Cut Mutia, Taman Suropati, Museum Sumpah Pemuda, Museum Kebangkitan Nasional, Planetarium, dll.

OOO

Sepulang Mamas Jumatan, kamar kami baru siap. Kami dapat kamar di lantai 2. Kamarnya sesuai pesanan kami, 1 bed besar. Untuk bahasan hotelnya, di postingan selanjutnya aja ya. Di sela obrolan kami, saya lihat masjid di seberang dan ternyata itu masjid Cut Mutia! Masjid yang ada dalam daftar tempat kunjungan saya, yang tadi si mamas pun solat Jumat disana. Oh, ya ampun ternyata dekat sekali ya!

Selepas kami beristirahat sebentar, kami berencana untuk jalan-jalan ke sekitar hotel. Jalan kaki saja karena saya sempat tanya sama petugas hotel, katanya taman Suropati dekat dan bisa ditempuh dengan jalan kaki. Pertama, kami kunjungi masjid Cut Mutia dulu. Masjid ini dulunya dibangun pada era pemerintahan Belanda. Makanya bentuknya gak seperti masjid pada umumnya, lebih seperti bangunan tua era Belanda. Kalau masuk ke dalam malah lebih terasa lagi. Arah kiblatnya agak menyerong dari bangunan aslinya (awalnya si mamas yang bertanya-tanya, kok ini bangunan masjid nanggung amat buatnya gak sekalian ngikut arah kiblat). 

Bahkan, sebelum dijadikan masjid, bangunan ini pernah difungsikan sebagai kantor pos, kantor Jawatan Kereta Api Belanda, kantor angkatan laut Jepang, dan kantor urusan agama. Baru pada era pemerintahan Gubernur Ali Sadikin, bangunan ini diresmikan menjadi masjid tingkat provinsi.

Tampak depan Masjid Cut Mutia
Di sekitar masjid ini, banyak penjual makanan dan ada pasar tumpah juga yang menjual aneka macam barang-barang sepert sepatu, tas, sandal dan lain-lain. Kami mampir jajan di salah satu emperan. Coba ketoprak jakarta, haha. Kebetulan juga belum makan siang kan. Harganya Rp 18.000,-/porsi, lebih mahal dari harga rata-rata ketoprak di Lampung yang Cuma kisaran Rp12.000,- -Rp13.000,-an. Tapi enak dan kenyang banget! Kami lanjut jalan kaki menuju Taman Suropati.

Eh tapiii.. baru beberapa jauh dari Masjid Cut Mutia, tepatnya melewati fly over pertigaan Jl. Teuku Umar, hujan mulai rintik-rintik. Eng ing eng! “Balik aja.” Kata si mamas. Dan benar. Begitu kami melangkah balik arah, hujan langsung turun! Alhasil, kami berteduh di bawah fly over dekat pos polisi, haha. Lumayan lama berteduh disana sampai hujan rintik-rintik dan kami rasa bisa kami terobos walaupun basah sedikit.

Tidak jadi ke Taman Suropati malah membawa takdir yang lebih baik. Selagi kami menunggu kamar siap siang tadi, saya coba bikin kejutan kecil pada Manajer saya dulu waktu masih di Sofyan Hotel Bandara Lampung. Saya kirim foto saya bareng suami di lobi hotel yang pasti sudah ia kenal. Dan benar ia ingin mampir kalau nanti berkesempatan. Sesaat setelah kami sampai di hotel, ia yang saya kirimi foto kejutan tadi datang. Wah, rasanya seperti momen reuni yang luar biasa.

Cerita sedikit, ia bernama pak Suwandi. Dulu, manajer hotel Sofyan Bandara Lampung yang saya juga bekerja disana. Karena ada pergantian manajemen dari pihak pemilik, maka dengan terpaksa, ia ditarik kembali ke Jakarta dan kami pun berpisah dengan momen yang sangat mengharukan. Hampir seluruh karyawan dan karyawati menangis saat perpisahaan dengannya.

Bagaimana tidak, ia seperti seorang bapak yang begitu sayang kepada anak-anaknya. Saya yang tidak tahu apa-apa, diajari dengan telaten. Tidak cuma dalam hal pekerjaan, ia juga dekat dengan kami semua diluar itu. Begitu seringnya kami berkumpul di rumah salah satu teman kami, sekadar makan atau ngopi bersama. Bergantian antara rumah saya dan teman-teman lain. Sampai orang tua kami pun rasanya kenal dengan dengannya. Maka tak heran, kalau sampai kami bertemu kemarin pun, ia selalu tanya kabar orang tua saya.

Obrolan kemarin pun kami seperti bernostalgia. Tidak jarang juga ia menyelipkan banyak tips dan langkah-langkah promosi hotel pada saya. Jadi, dalam kepala saya juga penuh dengan inspirasi yang akan saya aplikasikan di tempat kerja saya. Rasanya tuh jadi semangat dan berenergi lagi, hehe.

Nostalgia dengan Pak Suwandi
Senyum bahagia ketemu sahabat lama
OOO

Selepas magrib, kami gak kemana-mana karena diluar pun masih ada sisa gerimis. Oh iya, karena kami masih punya voucher makan malam di resto hotelnya, jadi kami makan malam disana aja. Hm, bagaimana kesan makan malamnya? Tunggu cerita saya selanjutnya ya!

Baca juga : Warung Makan Favorit Saya Di Lampung

04 Juni 2019

BPN Day 30 : Sibuknya Menyambut Lebaran Ini

Allahu akbar! Allahu akbar! Allahu akbar!

Dimana gema takbir tidak dikumandangkan selepas Maghrib tadi? Alhamdulillah Ramadhan sudah selesai dilalui dengan lancar. Walau hati masih berat melepas Ramadhan, tapi rasa kemenangan ini sudah bisa menghibur hati.

Hm, bicara hari kemenangan, apa saja nih persiapan untuk menyambut lebaran ini? 

Kalau saya, sebagai perempuan banyak sekali hal yang harus dipersiapkan untuk menyambut hari raya ini. Tentunya persiapan logistik di rumah ya. Apalagi kalau sudah punya keluarga. Bagi-bagi deh waktunya.

Nah, saya sendiri dari dua hari yang lalu sudah mulai mencicil apa-apa yang harus dilakukan untuk menyambut lebaran. Buat kue? Gak, hehe. Saya termasuk orang yang gak punya banyak waktu di rumah untuk buat kue kering khas lebaran. Jadi pesen aja deh biar lebih efisien. Ada sih yang saya buat, kacang bawang, haha.

Dan hari ini, waaahhh beneran sibuk!

Dari dua hari lalu saya sudah diminta ibu untuk menginap di rumah. Bantu-bantu beberes sekalian kumpul karena adik-adik saya sudah kumpul juga di rumah. Dan kami ini termasuk keluarga yang suka gonta ganti lay out rumah. Bukan beli perabot baru sih, tapi tuker-tuker perabot dan pindah sana sini.

Jadilah dari kemarin, sudah cuci-cuci gorden, beberes rumah plus pindah-pindah kursi biar tatanan rumahnya gak bosan dan terlihat baru. Sebenarnya gak lama sih pindah-pindah begini, tapi karena ngerjainnya sambil ketawa dan main-main, ya akhirnya jadi lama. Pumpung kumpul kan, bisa ketawa bareng.

Selepas beberes rumah, masih lanjut buat ketupat dan masak-masak hidangan khas lebaran. Rendang, sayur santan, sambal kentang. Repot sih tapi seru aja. Kalau gak repot begini, rasa gak lebaran deh.

Tahun ini giliran saya berlebaran di rumah mertua di hari pertama. Jadi dari sore selepas nginem di rumah ibu, saya dan suami langsung mudik ke rumah mertua. Untung gak jauh-jauh amat. Masih bisa ditempuh pakai motor gak lebih dari 1 jam perjalanan. 

Karena keasikan di rumah ibu, saya jadi kesorean jalan ke rumah mertua. Eh, ada insiden pula! Kue basah yang sudah saya pesan untuk saya bawa ke rumah mertua, gak bisa dikirim sore tadi! Apa pasal? Gak ada babang gojek yang mau anterin, duuuuhhh! Mungkin kejauhan dan sudah sore juga. Jadi beberapa kali dicancel dan saya jadi ketar-ketir.

Masa ke rumah mertua dengan tangan kosong? Alhasil, saya dan suami cari toko kue lagi yang masih buka. Posisi tadi sudah maghrib pula, huhu. Alhamdulillah masih ada 1 toko yang kuenya enak masih buka. Walaupun sudah gak banyak pilihan, tapi jadilah saya masih bisa beli dua jenis kue basah. Alhamdulillah..

Lebaran memang seru ya. Sebenarnya banyak cerita lain, tapi saya lagi di rumah mertua nih. Lagi kumpul, gak enak ya kalau gak ikut nimbrung? Lanjut besok deh ya! See you.

03 Juni 2019

BPN Day 29 : Doa dan Harapan di Akhir Ramadhan

Ramadhan sudah tinggal sehari lagi. Doa -doa dan harapan hanya tinggal sejenak lagi tak ada batasnya. Beruntungnya setiap orang yang berkesempatan untuk selalu bermunajat dengan khusyuk. 


Dan saya? Rasanya sedih. Rasanya masih ingin berlama-lama dengan malam Ramadhan. Rasanya belum maksimal doa yang dipanjatkan. Tapi kok sudah akan berakhir? T,T

Banyak harapan saya di Ramadhan tahun ini. Dari saya pribadi dan dari saya beserta suami. 

Bertemu Ramadhan tahun depan
Siapa yang tidak ingin menjumpai Ramadhan lagi? Saya rasa setiap muslim akan menyelipkan doa ini di akhir Ramadhan. Tidak ada yang tidak rindu Ramadhan. Benar kan? Maka saya pun punya harapan seperti itu. Berharap dan sangat berharap akan menjumpai Ramadhan di tahun yang akan datang.

Punya anak
Ini doa yang selalu saya panjatkan di setiap siang dan malam. Tidak hanya di Ramadhan saja, bahkan dari sebulan setelah menikah. Tapi di Ramadhan ini, saya lebih ngotot berdoa ini lagi. Bukankah usaha tanpa doa itu sombong? Hm, semoga Ramadhan kali ini punya kekuatan tersendiri untuk doa saya yang satu ini ya.

Jadi pribadi yang lebih baik
Ramadhan memang bulan yang punya kekuatan untuk mengubah diri saya jadi lebih baik. Dari segi apapun, saya memang merasa selangkah lebih maju dibanding bulan-bulan lainnya. Nah, dari situlah, saya punya harapan untuk kedepannya saya bisa jadi lebih baik lagi.

Well, itu dia doa dan harapan saya di akhir Ramadhan ini. Semoga Allah bisa mengabulkan ya. Aamiin.

02 Juni 2019

BPN Day 28 : Momen Terbaik Ramadhan

Halo!
Apa kabar di penghujung Ramadhan ini? Rasanya kok sedih ya akan ditinggalkan oleh bulan yang penuh berkah ini. Rasanya tinggal menunggu waktu untuk melambaikan tangan dan kembali merindukan malam-malam Ramadahn, kembali merindukan saat-saat harus bangun sahur walau mengantuk, dan kembali merindukan bahagianya waktu berbuka puasa. 

Banyak hal yang terekam di bulan Ramadhan ini. Hal-hal yang saya rasa menjadi hal yang lebih baik dari tahun lalu. Diantara banyak moment baik itu, satu moment terbaik dari Ramadhan kali ini adalah, saya berusaha untuk selalu menjaga pola makan sehat.

Kalau tahun-tahun sebelumnya, saya tak terlalu fokus dalam menyajikan makanan yang sehat, tahun ini saya merasa jadi lebih baik. Bagaimana saya memulainya?

Mulai dengan niat
Apapun hal yang dilakukan pasti tergantung niatnya kan? Begitu juga dengan apa yang akan saya mulai di bulan Ramadhan ini. Saya berniat memperbaiki kondisi tubuh saya. Di beberapa tulisan yang pernah saya baca, tubuh kita ini punya instingnya sendiri. Kalau kondisi tubuh kita sakit, pasti ada yang salah dengan apa yang kita makan. Karena tubuh kita pun punya hak untuk diberi makanan sehat. Jadi, ya saya niat aja dulu untuk hidup lebih sehat.

Sahur dengan banyak serat
Saya mulai dengan menu sahur. Ya karena dari sahur inilah hari-hari kita dimulai. Untuk bisa bertahan puasa seharian, maka tubuh ini butuh asupan yang terbaik. Nah saya memilih memperbanyak porsi serat untuk menu sahur saya dan suami. Saya banyakin aja buah dan sayurnya, serta mengurangi porsi nasi putihnya. Alhamdulillah enakan puasanya. Gak kerasa laper amat, hehe.

Berbuka dengan buah
Untuk memulai makan sehat itu memang banyak tantangannya. Iyalah, biasa buka puasa sama gorengan dan es sirup yang manis-manis, eh diganti dengan air putih hangat dan buah-buahan. Haha, lumayan butuh usaha ekstra. Nyengir-nyengir dulu di awal-awalnya. Tapi toh bisa juga kok. Malah jadi terbiasa sekarang.


Tantangannya juga gak hanya dari diri sendiri, bahkan dari orang lain ada. Pernah nih saya iseng posting menu buka puasa saya yang isinya buah dan sayur, eh besoknya malah diketawain sama temen sendiri. Katanya, buka puasa cuma makan buah dan sayur, gak nendang lah. Duh! Abaikan saja itu komentar ya.

Terbiasa dengan infused water
Nah sebenarnya kalau buat infused water begini sudah lumayan lama. Tapi rupanya saya baru menemukan kalau ternyata isinya gak harus dari buah-buahan. Bisa juga dari rempah-rempah yang ada di dapur. Faktanya, rempah-rempahan ini punya banyak khasiat.

Jadi, saya mulai terbiasa untuk buat infused water. Rendamnya dari pagi, jadi pas buka puasa bisa langsung diminum. Salah satu infused water yang sering saya buat adalah kayu manis dan jahe. Pas sudah jadi rendaman dan akan diminum, saya tambahkan madu. Rasanya asli seger banget!

Dan.. selama Ramadhan ini, rasanya badan jadi enakan dan perut gak begah. Beda banget sama Ramadhan tahun-tahun kemarin yang selepas buka puasa, pasti rasanya penuh banget haha.

Yah, itulah moment terbaik saya di Ramadhan tahun ini. Semoga saya bisa terus lanjut di bulan seterusnya. Sayang kan sudah sebulan ngubah pola makan sehat, eh selepas lebaran kok acakadut lagi, hehe.

Nah, kalau moment terbaik kamu apa nih?

Baca juga : Cerita Mudik Saya




01 Juni 2019

BPN Day 27 : 3 Kue Legendaris Kala Lebaran Tiba

Lebaran sebentar lagi. Ada yang sudah menyiapkan kue-kue untuk lebaran besok? Hm, biasanya ibu-ibu nih yang suka rempong mau nyiapin ini itu untuk dihidangkan ke para tamu yang datang. Kue-kue kering semacam nastar, kastengel, ring keju, dan kue kacang pasti sudah berjejer di toples-toples. Kue basah juga semisal lapis legit, dodol agar, atau bolu pandan juga sudah mentereng di kulkas. Belum lagi persiapan untuk menu di meja makan seperti rendang, sambal kentang, opor ayam dan ketupat. Wah, lebaran jadi benar-benar ramai makanan, hehe.

Tapi, pernah gak sih pas lebaran malah suka cari makanan yang berbeda? Saya pernah, hehe. Rasanya pengen makan yang beda dari kebanyakan menu lebaran ya. Karena mungkin dari rumah sendiri, rumah orang tua, rumah mertua, bahkan rumah saudara, menunya hampir sama. Kue kering ya nastar, kue basah ya lapis legit, dan menu makan ya rendang.

Dari sekian banyak makanan lebaran, ada beberapa makanan yang menurut saya legendaris dan sampai sekarang malah ada beberapa yang masih saya suka. Apa saja itu?

1. Biskuit monas / biskuit jadul / biskuit gula


Saya sebut kue ini kue gula jadul karena memang setiap melihat kue ini berjajar di toples, saya jadi teringat masa kecil dulu. Kata ibu saya, kue ini jadi favorit saya karena ada gula di atasnya. Jadi dulu saya seringnya malah cuma makan gulanya saja, hehe. Sekarang tidak banyak yang menyuguhkan kue ini entah karena sudah tergusur dengan kue modern lain atau karena memang rasanya yang sedikit tawar.  Tapi di kampung saya, ada beberapa rumah yang masih menyajikan biskuit mungil ini. 

2. Wajik kletik
Kue yang satu ini paling saya cari kalau berkunjung ke rumah para tetua karena biasanya hanya di rumah orang-orang tualah kue ini masih ada. Bahkan di rumah mertua saya, beberapa kali lebaran saya bisa menjumpainya. Rasanya yang manis dan gurih dari parutan kelapanya membuat saya bisa makan lebih dari sebungkus sekali makan, hehe. Dulu di rumah mbah saya, kue ini dibungkus dengan kertas minyak warna warni. Mungkin tampilan warna warni itulah yang disukai anak-anak. Makanya dari kecil sampai sekarang, saya masih suka kue ini.

3. Kue babon
Ada yang kenal kue ini? Atau mungkin ada nama lain dari kue ini di daerah yang berbeda? Kue yang terbuat dari tepung sagu dan kelapa ini punya rasa gurih dan tidak terlalu manis. Ada juga varian yang ditambahi jahe untuk aroma dan rasa yang berbeda. Cerita ibu saya, dulu saat masih balita, saya pernah menghabiskan 1 toples kue ini sendirian, haha. Mungkin karena itulah sekarang ini saya tidak terlalu suka kue babon ini. Sudah bosan karena dulu sudah menghabiskan setoples!

Sekarang mungkin kue-kue itu sudah jarang dijumpai. Tapi kalau berkunjung ke kampung-kampung dan rumah orang tua, mungkin bisa menjumpainya dan mengingat kembali masa kecil ya. Seperti saya. 

Kalau kamu, kue apa yang jadi kue legendaris saat lebaran tiba?

31 Mei 2019

BPN Day 26 : Dapat Tantangan Di Ramadhan Ini

Wuuaaahhh Ramadhan sudah di penghujungnya. Selama lebih dari 25 hari Ramadhan ini, tentu banyak sekali ya kegiatan yang sudah dilakukan untuk mengisi Ramadhan. Mungkin ada yang mengisinya dengan menyelesaikan target-target ibadah Ramadhan, semisal khatam Alquran, atau target-target lainnya. Atau ada juga yang mengisinya dengan kegiatan lain semisal bakti sosial atau kegiatan luar lainnya.


Bagi saya, mengisi waktu Ramadhan tidaklah sulit. Bahkan saya seperti butuh waktu lebih banyak lagi (atau saya saja yang terlalu malas ngapa-ngapain wkwk). Kalau dulu saat sekolah, saya lebih banyak mengisi buku Ramadhan karena memang tidak ada beban lain yang saya tanggung. Tapi sekarang ini, lebih banyak waktu saya habiskan dengan kegiatan lain.

Saya tetap bekerja seperti biasa, jam kantor pada umumnya. Itupun sebenarnya sudah menguras waktu saya. Libur yang hanya seminggu sekali saya manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Apalagi di Ramadhan ini. Harus berburu kalau tidak mau ketinggalan pekerjaan lainnya. Misalnya saja untuk solat tarawih. Di tempat tinggal saya, solat tarawih dilaksanakan di musola yang pengurusnya selalu tepat waktu. Jadi begitu adzan Isya, sang imam tidak akan lama menunggu para jamaah. Konsekwensinya ya saya dan suami harus bersegera berangkat kalau gak mau ketinggalan, hehe.

Ramadhan kali ini, saya juga punya kegiatan tambahan yang menantang. Menulis blog. Iya, kalau biasanya saya menulis blog itu semau saya, ya sesempatnya saya atau kalau saya lagi mood, tapi kali ini saya harus menulis setiap hari. Tantangan dari Blogger Perempuan kali ini membuat saya benar-benar punya kegiatan ekstra. Dibela-belain lho selepas tarawih dan tadarus masih buka laptop, haha.

Saya juga memulai usaha kecil-kecilan dari Ramadhan ini. Mencoba membuka gerai kerajinan tangan dan pencetakan undangan. Jadi promosiin dulu di media sosial yang saya punya. Mau gak mau, memposting dan mempromosikan itu butuh waktu juga kan? Maka itu, saya serasa butuh tambahan waktu yang lebih banyak lagi.

Tapi, dengan kegiatan-kegiatan itulah saya jadi merasa lebih produktif. Dan tentu saja, puasa jadi sering ngerasa gak lapar dan haus. Tahu-tahu sudah sore, tahu-tahu harus bangun siapin sahur, dan tahu-tahu Ramadhan sudah akan berakhir, hiks! Sedih? Tentu. Rasanya saya masih kurang sekali untuk minta banyak doa. Rasanya saya juga belum optimal untuk beribadah. Rasanya saya malah kadang menyia-nyiakan waktu yang ada saat senggang.

Ada yang seperti saya? Bagi pengalamannya di kolom komentar ya!

Baca juga : Amalan Puasa Ini Mudah Kok Dilakukan

30 Mei 2019

BPN Day 25 : 5 Tradisi Lebaran Yang Masih Eksis

Menghitung-hitung hari raya tiba ya. Tinggal lima hari lagi lebaran tiba. Kok rasanya cepat sekali Ramadhan berlalu? Anak-anak yang merantau jauh dari kampung halaman, mungkin sebagiannya sudah mulai mudik. Saya pribadi suka tiba-tiba meneteskan air mata kalau lihat pawai mudik pakai motor, atau mobil-mobil pribadi dengan bagasi atas yang banyak. Saya teringat dulu waktu kerja diluar kampung halaman dan harus ikut keramaian mudik pakai transportasi umum. Rasanya begitu haru kala bertemu keluarga di rumah.


Mudik kala lebaran memang jadi salah satu tradisi di Indonesia. Gak heran kalau setiap orang yang merantau jauh menantikan moment yang hanya setahun sekali dijumpai ini. Selain bisa bertemu keluarga, biasanya juga si pemudik bisa menjumpai tradisi lebaran di daerahnya masing-masing atau bahkan hanya dijumpai di keluarga besarnya.

Nah, kalau di keluarga saya, ada tradisi lebaran yang sepertinya tidak pernah terlewat selama saya menjumpai lebaran di rumah. Apa saja itu? Yuk lanjut bacanya 😉

1. Buat ketupat
Tradisi yang satu ini mungkin tidak jauh berbeda dari tradisi lebaran di daerah lain. Biasanya saya dan Abah saya yang membuat ketupatnya sendiri dari janur (daun kelapa yang masih muda) karena orang di rumah gak ada yang bisa buat bungkus ketupat ini, hehe. Seru aja kumpul sambil buat bungkus ketupat sendiri. Masaknya biar ibu aja, gak lama juga kok karena punya trik sendiri.

Baca juga : Tips Meminimalkan Waktu Masak Ketupat

2. Takbiran keliling kampung
Tradisi kedua adalah takbiran keliling kampung. Ini dilakukan pada malam lebaran dimana hampir semua orang di kampung orang tua saya ikut meramaikan takbiran ini. Jadi selepas solat Maghrib, gema takbir sudah berkumandang dari masjid dan mushola. Lalu selepas Isya, barulah beramai-ramai pawai dari masjid utama kampung kami, keliling melewati jalan-jalan yang sudah ditentukan oleh anak-anak Risma. Setiap rombongan melewati rumah warga, ada penambahan peserta pawai. Jadi dari awal sudah ramai, di tengah sampai akhir pawai tambah ramai lagi.



Bahkan, sudah beberapa kali saya ikut pawai, jalanan kampung jadi padat sekali. Peserta pawainya ramai sekali hingga tidak jalannya hanya merayap saja. Tapi seru lho! Apalagi, dari pengurus Rismanya selalu membuat mobil hias atau masjid minimalis yang penuh lampu warna warni.

3. Sungkeman
Sebenarnya bukan sungkeman yang njawa banget ya, tapi bisa dibilang salaman sama orang tua dengan takzim. Jadi, selesai solat Ied, kami sekeluarga akan bersiap duduk rapi. Abah dan Ibu duduk di kursi dan kami anak-anak serta menantu dan cucu akan bergantian salaman dan maaf-maafan. Begitu juga dengan kami anak-anaknya.


Lalu, kami meluncur ke rumah mbah dari pihak abah yang rumahnya hanya di samping rumah kami. Biasanya sudah kumpul juga anak-anak dan cucu-cucunya mbah. Sungkeman seperti ini kami lakukan pagi-pagi segera setelah solat Ied, karena kalau nanti-nanti bakalan susah. Para tetangga sudah datang dan rumah akan ramai.

4. Memberi hadiah
Kalau tradisi yang satu ini sebenarnya bukan hanya di hari raya Idul Fitri saja. Keluarga saya seringkali memberi hadiah untuk masing-masing kami di hari-hari tertentu semisal hari lahir atau ketika ada yang mendapatkan prestasi. Kalau di hari raya, biasanya berupa uang yang masih disebut THR itu. Dan, yang diberi adalah anggota keluarga yang masih berstatus pelajar atau yang belum bekerja. Tapi beberapa kali lebaran juga kami saling memberi hadiah atau tukar hadiah berupa barang yang sederhana. Bukan seberapa mahal atau bagusnya hadiah yang diberikan, tapi rasa kasih sayang antar kami yang menjadikan moment ini begitu berharga.

5. Keliling kampung
Ini tradisi yang sampai sekarang masih dilakukan di kampung orang tua saya. Seperti yang sudah saya sebutkan tadi, setelah sungkeman dengan orang tua dan mbah di samping rumah, para tetangga akan mulai berdatangan untuk silaturahmi. Karena kebetulan rumah orang tua saya dekat dengan rumah mbah yang notabene termasuk ornag yang dituakan, maka berimbas juga dengan ramainya tetangga yang datang. Biasanya adik-adik saya yang keliling duluan, saya jaga rumah sambil bantu ibu untuk menyiapkan minuman atau makanan untuk orang yang datang.

Baru setelah sore menjelang, giliran kami sekelurga yang keliling ke rumah tetangga. Walaupun paginya sudah bertemu di masjid atau malah sudah ada yang datang ke rumah, tapi kami tetap datang juga untuk silaturahmi. Tradisi ini biasanya tidak hanya sehari saja, tapi hari kedua dan ke tiga lebaran pun, masih ada beberapa tetangga yang saling silaturahmi.

Baca juga : Lakukan Hal Ini Untuk Lebaran Berkesan

29 Mei 2019

BPN Day 24 : Baju Lebaran ; Tradisi atau Kebutuhan?

Memasuki Ramadhan ke 24, makin banyak saja ya kebutuhan untuk lebaran nanti. Kalau ke pasar bahkan rasanya semua barang gak ada yang gak laku dijual. Mau taplak meja, tutup kulkas, gorden, vas bunga, karpet, bahkan sepuh emas pun dirubung konsumen. Apalagi yang namanya toko baju. Duh itu dari awal Ramadhan aja sudah promo besar-besaran.


Saya jadi sering berpikir, apakah lebaran wajib untuk beli baju baru? Tapi, sisi hati yang lain punya jawaban. Kan ini lebaran, hari rayanya muslim, kapan lagi bisa merayakan momen spesial dengan tampilan yang spesial pula? Tapi (lagi), kalau masih punya baju bagus yang jarang dipakai, alangkah lebih baiknya kalau itu saja yang dipakai kan? Nah lho! Inget gak sama lagunya Dea Ananda yang ada liriknya seperti ini,

Baju baru, alhamdulillah
untuk dipakai di hari raya
tak ada pun tak apa-apa
masih ada baju yang lama

Bicara soal baju lebaran ini, saya pribadi memang gak terlalu ambil pusing. Kalau dulu pas masih anak-anak sampai saya SMP sih masih ya. Sepertinya kalau gak ada baju lebaran, rasanya hampa, haha. Atau karena memang dari kecil dulu sudah biasa dibelikan baju sama ibu, jadi kalau gak ada ya itu tadi, seperti bukan lebaran. Kebiasaan ini rupanya terbawa hingga saya beranjak dewasa dan sudah punya uang sendiri.

Awal kerja dan dapat gaji, bahkan saya beli lebih dari satu stel baju untuk lebaran, hehe. Tapi seiring berjalannya waktu, saya jadi sadar dan gak terlalu mementingkan baju lebaran. Gak harus baju baru kalau lebaran, karena ternyata saya malah seringnya beli baju bukan momen lebaran aja. Jadi, ya kalau masih ada baju yang pantas, saya bisa pakai itu.

Eh tapi... ternyata setelah menikah, tradisi itu rasanya diulang lagi, haha. Dimulai dari kebiasaan keluarga suami saya yang suka pakai baju kompakan (yang pada akhirnya saya harus cari baju baru karena seringnya saya gak punya yang kompakan begitu, haha), sampai ya karena saya merasa ada rezeki jadi gak apa-apa deh beli baju pas lebaran. Toh ada budgetnya juga.

OOO

Sebenarnya urusan baju lebaran ini gak harus jadi kontroversi kan? Menurut saya pribadi sih, kalau memang gak butuh-butuh amat dan gak terlalu mendesak ya bisa pakai baju yang lama juga kok. Oh iya, saya punya beberapa alternatif biar lebaran gak kelihatan pakai baju yang itu-itu saja.

1. Selingi baju lebaran dengan baju yang jarang dipakai
Orang lain yang jarang sekali bertemu kemungkinan akan lupa kalau baju yang kita pakai lebaran tahun ini bukan baju baru. Lagipula orang lain juga gak pernah tanya kan, ini baju baru atau baju lama? Hehe. Jadi, pakai saja baju yang sudah lama semedi di lemari. Asal masih bagus dan layak, gak masalah.

2. Mix and match
Memadu padankan baju dengan asesoris lainnya juga cukup ampuh untuk menghasilkan tampilan baru. Misalnya ganti jilbab yang pasangan dengan terusan dengan jilbab lain yang cocok. Atau bisa juga baju lama dikasih outer yang sepadan. Dijamin deh tampilannya lebih segar.

3. Modifikasi baju
Kalau yang ini sepertinya harus punya sedikit kreativitas. Misalnya dari baju terusan yang dijadikan tunik atau bisa juga dari kemeja dimodifikasi dengan tambahan karet dan pita di bagian pinggang.

Nah, itulah beberapa tips untuk yang gak beli baju lebaran. Semoga menginspirasi ya!

Baca juga : Berburu Diskon Online? Cek Tipsnya Dulu!

28 Mei 2019

BPN Day 23 : Buka Puasa Sama Siapa Ramadhan Ini?

Ramadhan makin menua saja. Bagi saya, Ramadhan kali ini seperti berlari kencang. Rasa baru riuh buat punggahan kemarin, tahu-tahu kok sudah di ujung saja. Rasa baru kemarin bebuatan dekor Ramadhan, eh kok sudah mau ganti aja ke lebaran. Rasa baru kemarin bahas rencana bukber barengan, tapi ternyata kok gak jadi-jadi jalan, haha.

Bukber jadul >,<
Memang bulan Ramadhan jadi ajang berkumpul bersama. Mulai dari teman sekantor, saudara, bahkan teman sesama alumni sekolah yang sudah belasan tahun lulusnya. Ada yang selalu punya rencana dari tahun ke tahun, tapi terlaksananya baru bisa tahun ini. Atau bahkan ada yang hanya wacana karena semua calon peserta bukber serentak punya jawaban yang sama, "Aku ikut aja.".

Pernah ngalami yang begini? Saya banget ini, haha. Makanya di grup manapun, saya pasti akan terkekeh kalau sudah ada jawaban seperti itu untuk pertanyaan mau bukber dimana dan kapan. Karena jawaban itu pasti menular dan pada akhirnya malah gak jadi eksekusinya.

Ngomong-ngomong soal buka puasa bersama, Ramadhan kali ini saya baru bukber diluar sekali. Itupun masih bareng keluarga sendiri. Sekali di rumah mertua bareng keluarga besar mertua, dan sekali lagi di rumah nenek dari pihak saya. Untuk bukber dengan teman-teman, rasanya sudah gak bisa lagi. Kemarin sempat ada wacana, malah sampai cari referensi di tempat yang agak jauh di tengah kota. Akhirnya juga gak ada eksekusinya, wkwk.

Mungkin karena memang dari teman-teman saya sudah berkeluarga, jadi agak susah mau kumpul. Belum lagi kalau sudah ada yang berbuntut lebih dari seorang, tambah rempong kan? 

Saya jadi ingat Ramadhan tahun lalu. Saya dan belasan teman yang terkumpul dalam satu grup wa punya wacana bukber. Awalnya ya itu tadi, hanya wacana dan kompak kasih jawaban ikut aja. Dengan pengalaman yang terlalu banyak rencana tanpa ada hasil, maka kami adakan saja bukber dadakan. Eh malah ketemu! Walaupun hanya beberapa orang saja yang datang, tapi kami serasa reuni. Dan saya pribadi senang sekali. Ceritanya ada disini.

Tahun ini sepertinya saya harus puas dengan hanya berbuka puasa bersama keluarga saja. Toh keluarga kita sendirilah yang paling bahagia kalau bisa berkumpul bersama. Apalagi kalau kita sudah tinggal terpisah dari orang tua. Pasti momen begitu sudah ditunggu-tunggu ya.

Kalau kamu? Sudah bukber sama siapa aja?

27 Mei 2019

BPN Day 22 : Make Up Simpel Untuk Lebaran

Waaaahhh sudah dekat lebaran aja. Gimana bu ibu, sudah beli baju lebaran belum ya? Hehe. Biasanya sih yang dipentingin ibu-ibu mah bajunya suami dan anak-anak dulu ya. Pokoknya kalau mereka sudah beres, tinggal emaknya aja dah. Kenapa coba? Karena biasanya perempuan lah yang paling ribet soal mix and match baju dan perlengkapannya. Baju warna apa, cocoknya pakai kerudung corak apa, sandal model apa, dan terakhir riasan wajah mau gimana. Ya gak? Hehe.

Lebaran dengan dresscode hitam putih
Gak heran kalau pagi-pagi mau lebaran dan semua anggota keluarga sudah siap, ibu-ibu lah yang paling akhir keluarnya. Belum pakai jilbabnya, belum pakai riasan wajahnya, belum lagi cari kaos kakinya. Siapa yang pengalaman begini? Hihi.


Seperti biasa, di keluarga suami, para perempuannya alias mbak-mbak ipar saya sudah nyiapin dresscode untuk lebaran nanti. Ini sudah ketiga kalinya untuk saya punya baju kembaran sama mereka. Kembar warna aja sih, biar keliatan kompak keluarga besarnya. Untuk model baju, jilbab dan riasannya terserah masing-masing aja.

Nah, biasanya saya gak dandan macem-macem. Selain gak bisa dandan, saya juga gak mau terlalu menor pas ketemu banyak orang. Jadi paling cuma jilbab aja yang sedikit saya modif. Yah, biar ada beda sedikit lah, kan hari raya, hehe.


Untuk riasan wajah, saya gak pakai mahzab ribet dan lama, wkwk. Lagipula, saya juga gak punya make up yang macam-macam itu. Jadi, biasanya saya hanya pakai beberapa produk kecantikan yang paling dasar dan paling mudah saja.

Pelembab
Sudah beberapa minggu ini saya pakai pelembab dari Citra. Secara fisik, bentuknya krim putih dengan bau harum yang ringan sekali. Dulu seingat saya, varian Citra Hazeline Mutiara ini ada kilau-kilaunya seperti mutiara, tapi sekarang tampaknya sudah dikurangi atau malah tidak ada kilau-kilaunya. Pakai pelembab ini enak dan gak terasa tebal, serta tidak terlalu berminyak. Jadi kadang saya malah gak pakai bedak lagi karena efek tampilannya yang sudah pas di wajah saya.

Bedak
Saya pakai bedak padat jenis two way cake. Kali ini saya punya bedak dari produk Wardah yang reviewnya sudah saya ulas disini. Bedak ini cukup menutup permukaan wajah dengan sempurna. Warnanya juga netral tapi memang kalau dipakai agak tebal, wajah serasa menor sangat, hehe. Jadi saya aplikasikan sedikit saja agar lebih rapi.

Blush on
Saya jarang sekali pakai blush on, kecuali acara tertentu. Berangkat kerja pun, hanya kadang-kadang saja saya pakai. Blush on yang saya punya masih dari Wardah dengan warna netral, yaitu pink salem. Jadi cocok dipakai di segala warna baju dan acara apapun. Biasanya kalau sudah pakai ini, saya merasa lebih imut, haha. Efeknya buat wajah lebih cerah saja.


Eye Shadow
Sama seperti blush on, saya pakai eye shadow juga kadang-kadang saja. Untuk blush on ini saya pakai produknya Pixy dengan warna yang lagi-lagi netral, pink, emas, dan coklat. Karena saya juga gak bisa-bisa amat pakai eye shadow ini, jadi saya hanya pakai sedikit saja.

Lipbalm
Karena bibir saya ini termasuk sensitif, jadi saya gak bisa pakai lipstik yang keras. Jadi, sebelum saya pakai lipstik, saya palai lipbalm dulu. Andalan saya dari dulu ya Lipice Sheer Color. Warna fisik lipbalm ini putih susu tapi kalau sudah dipakai akan berwarna merah muda yang cantik. Warna asli bibir. Jadi kalau saya sedang malas pakai lipstik, saya pakai lipbalm ini saja sudah cukup.

Lipstik
Terakhir, saya pakai lipstik kalau mau tampilan wajah lebih tegas dan cerah. Saya punya produknya Wardah (lagi). Warnanya merah tapi tidak menor. Bahannya juga lembut dan rasanya cocok di bibir saya.

Oke, ini riasan wajah saya saat lebaran nanti (kalau saya sempat pakai semua sih, haha). Intinya riasan wajah ini gak perlu yang menor, cukup sederhana saja dan yang terpenting kan cantik hatinya ya. Hm, kalau Anda gimana? Riasan untuk lebarannya gimana?

26 Mei 2019

BPN Day 21 : 5 Tips Melatih Anak Berpuasa

Siapa yang ingat kapan pertama kali mulai berpuasa? Masih TK atau sudah SD? Atau malah sudah SMP baru bisa puasa full seharian? Lalu, siapa yang pernah diam-diam mencuri seteguk air minum setelah lelah bermain di siang hari?


Bagi anak-anak, Ramadhan memang kerapkali menjadi hari yang berat. Apalagi kalau sudah panas terik dan lihat teman-teman sebayanya atau yang lebih kecil dari mereka tidak berpuasa. Wah, bakalan merengek tuh dan cari alasan untuk ikut batal puasa juga. Saya ingat dulu saat masih kecil dan diminta untuk berlatih puasa. Kalau sudah lewat tengah hari, pantang bagi saya untuk tengok lemari makan. Takut tergoda untuk minum atau ngemil, haha. Tapi saya paling suka kalau diajak cari baju lebaran. Sebab, kalau sudah di pasar dan panas, biasanya ibu saya membolehkan saya untuk membatalkan puasa, hehe.

Nah, dari pengalaman saya semasa kecil itu, saya punya beberapa tips untuk mengajarkan anak berpuasa. Simak yuk!

1. Beritahu tujuan berpuasa
Walaupun masih kecil, beritahu bahwa berpuasa adalah salah satu rukun Islam yang harus dijalani oleh seorang muslim. Beritahu juga bahwa tujuan berpuasa adalah untuk lebih mensyukuri nikmat karena masih banyak orang diluar sana yang kurnag beruntung dan sering menahan lapar. Meski mungkin saja anak-anak belum sepenuhnya paham, setidaknya ketika mereka melihat ada orang yang kelaparan, mereka akan berfikir untuk lebih bersyukur.

2. Beri reward
Jangan sungkan untuk memberi reward apapun pada anak-anak yang sudah menjalankan latihan puasa. Dulu sewaktu saya masih TK dan berlatih puasa, saya selalu diimingi akan diberi hadiah di akhir Ramadhan oleh orang tua saya. Dengan begitu, saya jadi semangat untuk tidak membatalkan puasa. Jikalau pun anak-anak hanya sampai setengah hari berpuasa, tidak masalah. Toh mereka juga sudah berusaha semaksimal mungkin. Usahakan pula setelah berbuka di tengah hari, ajak ia berpuasa lagi hingga Maghrib.

Reward bisa berupa apa saja. Hadiah, uang, atau pergi jalan-jalan. Kalau pengalaman masa kecil saya dulu, setiap harinya dulu saya dikasih Rp 1000,- jadi kalau saya full sebulan puasa, maka saya akan dapat Rp 30.000,-. Kalau ada yang bolong puasanya, ya tinggal dikurangi saja nominalnya. Itu pun sudah membuat saya bahagia dan semangat.

3. Beri semangat 
Mungkin di hari-hari pertama berpuasa, anak-anak akan semangat berpuasa karena masih terbawa ramainya suasana. Atau malah ada anak yang hari pertama berpuasanya belum terbiasa hingga sering merengek dan minta untuk membatalkan puasanya. Beri ia semangat setiap harinya. Misalnya hari ini anak-anak berpuasa hanya sampai jam 12.00, maka esok harinya, beri ia semangat minimal bisa berpuasa hingga sampai jam 13.00. Begitupun hari-hari berikutnya.

Memberi semangat pada anak bisa juga dengan menghidangkan makanan kesukaannya pada saat sahur dan berbuka puasa. Bahkan bisa juga ikut diajak untuk mempersiapkan menu buka puasanya.

4. Ajak bermain
Kalau sudah mulai ada tanda-tanda ia minta batal puasa, coba alihkan perhatiannya dengan bermain atau apapun kesukaannya. Bermain bersama dan melakukan beberapa aktivitas akan membuat waktu puasanya terasa lebih cepat. Kalau anak lelah, biarkan mereka tidur agak lama dari biasanya.

5. Beri contoh 
Pada dasarnya anak-anak suka mencontoh siapapun yang dilihatnya. Maka peran orang tua atau kakak-kakaknya yang lebih dewasa akan jadi penentu juga. Beri contoh yang baik semisal tidak marah-marah kala puasa. Karena hakikatnya puasa tidaklah hanya menahan lapar dan haus saja, tetapi menahan marah dan ego yang berlebihan juga.

Itu dia beberapa hal yang bisa dilakukan untuk melatih anak-anak berpuasa. Intinya kita sebagai orang tualah yang bisa memberikan contoh terbaik untuk anak-anak. Ada yang punya tips lain? Bagi di kolom komentar ya! 😉

Baca juga : 3 Aplikasi Android Untuk Mengisi Ramadhan

25 Mei 2019

BPN Day 20 : 3 Aplikasi Android Untuk Mengisi Ramadhan

Halo!
Ramadhan tinggal 10 hari lagi ya. Begitu cepatnya waktu berlalu. Di 20 hari kemarin, pasti sudah banyak cerita tentang Ramadhan ini. Mungkin ada yang baru merasakan Ramadhan bersama suami, atau baru punya bayi mungil hingga harus ekstra menyiapkan sahur dan berbuka, atau bahkan ada yang barusan pindah ke rumah sendiri hingga harus apa-apa sendiri.

Tapi pastinya, zaman sekarang kan serba dipermudah ya dengan kehadiran berbagai macam aplikasi. Misalnya kalau saya sedang buntu mau menyiapkan menu apa untuk berbuka puasa, saya tinggal gugling saja. Atau kalau sedang diluar rumah dan ingin mengisi waktu puasa, saya bisa buka beberapa aplikasi dari ponsel cerdas saya.


Nah, dari banyaknya aplikasi di ponsel cerdas, ada beberapa aplikasi yang sering saya buka di waktu Ramadhan ini.

1. Quran Android
Iya, aplikasi ini jadi sering saya buka ketika Ramadhan. Untuk memenuhi target membaca Quran di bulan Ramadhan ini, tentunya tidak bisa hanya membaca Alquran di rumah saja. Jadi, ketika saya tidak membawa Alquran ketika bekerja atau bepergian, saya selalu gunakan aplikasi ini. Selain bacaan Qurannya sendiri, aplikasi ini juga menyediakan terjemahannya. Jadi saya juga bisa mentadabburinya.


2. Cookpad
Aplikasi ini sangat membantu saya untuk menyiapkan masakan untuk berbuka dan sahur. Kumpulan resep yang ada disini sangat mudah direcook karena disertai langkah-langkah dan foto cara memasaknya. Kalau ada resep yang ingin dimasak tapi belum sempat dieksekusi, bisa disimpan dulu. Nah kalau sudah berhasil recook, bisa pamer dan mengucapkan terimakasih deh ke si pembuat resep.


3. Webtoon
Terdengar seperti anak-anak ya, haha. Iya, saya jadi sering buka webtoon kalau sedang jenuh dan ingin beristirahat sebentar. Aplikasi komik digital ini punya banyak genre. Mulai dari romantis, horror, sampai ala chicken soup of life. Oh iya, komik-komik digital ini juga tidak semua diadopsi dari cerita luar negri. Banyak juga komik yang dibuat oleh komikus Indonesia yang tidak kalah bagusnya dari komikus luar.


Nah itu tadi, 3 aplikasi yang sering saya buka di bulan Ramadhan ini. Kalau kamu, punya aplikasi apa aja nih yang sering dibuka untuk mengisi Ramadhan ini?

Baca juga : Antri Tandatangan dan Rebutan Kue? 

24 Mei 2019

BPN Day 19 : 5 Amalan Puasa Ini Mudah Kok Dilakukan

Apa kabar Ramadhan di hari ke 19 ini? Tentunya sudah banyak sekali ya kegiatan yang dilakukan. Entah buka puasa bersama teman, tadarus bareng tetangga, atau ikut kajian keliling, atau mungkin malah ada yang sudah sibuk buat kue. Tapi, semoga masih tetap semangat ya mengejar pahala di sisa-sisa Ramadhan ini. Banyak sekali kok amalan yang bisa dilakukan untuk menambah tabungan pahala kita. Sayang sekali kan kalau Ramadhan terlewat dengan kegiatan dunia saja yang minim pahalanya?


Mungkin sebagian kita pernah berfikir bahwa melakukan amalan di bulan Ramadhan itu sulit. Tapi ada juga kok amalan yang mudah yang bisa kita lakukan selama Ramadhan ini.

Makan Sahur
Siapa yang suka malas untuk bangun sahur? Hm, ternyata makan sahur ini adalah salah satu amalan yang termasuk sunnah di bulan Ramadhan. Walaupun hanya minum air putih atau makan sepotong buah, usahakan untuk tetap bangun dan sahur ya. Sebagaimana hadits Nabi Muhammad SAW yang satu ini.

"Makan sahurlah kalian karena dalam makan sahur terdapat keberkahan.”
(HR. Bukhari no. 1923 dan Muslim no. 1095)

Oh iya, usahakan untuk mengakhirkan waktu sahur. Jadi, kemungkinan untuk tidur lagi selepas sahur menjadi kecil. Kan bisa langsung solat Subuh.

Menyegerakan Berbuka
Kalau tadi, kita disunnahkan untuk mengakhirkan sahur, kali ini kita disunnahkan untuk menyegerakan berbuka ketika Maghrib tiba. Walaupun sedang dalam perjalanan, usahakan untuk berbuka terlebih dahulu dengan minum air putih atau apapun yang ada pada saat itu.

Manusia senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan waktu berbuka.”
(HR. Bukhari Muslim)

Tarawih
Amalan lain yang tidak ada selain di bulan Ramadhan adalah solat Tarawih. Solat sunnah ini dilaksanakan selepas solat Isya dan bisa dilaksanakan secara berjamaah ataupun sendirian. Bebas mau berapa rakaat, apakah 11 atau 23 rakaat. Baiknya lakukan solat tarawih secara berjamaah di masjid atau musola. Selain dapat pahala jamaahnya, kita juga bisa silaturahmi dengan para tetangga. 

Kalau di tempat tinggal saya, selepas solat tarawih, biasanya para jamaah tidak langsung pulang melainkan mengobrol ala kadarnya bersama tetangga. Jadi, yang biasanya jarang banget ketemu tetangga, pas solat tarawih inilah bisa ketemu, bahkan bisa saling menyapa.

Tadarus Alquran
Ini amalan yang menurut saya sangat ajaib. Kalau biasanya kita hanya membaca 1 atau 2 lembar per hari, nah di bulan Ramadhan, bisa sampai 1 juz per hari. Pahalanya juga ajaib. Di bulan Ramadhan ini 1 huruf Alquran yang dibaca akan membawa kebaikan 10 kali lipat. Seperti hadits Nabi Muhammad SAW berikut ini.

Siapa yang membaca satu huruf dari Al Quran maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan “alif lam mim” satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf
( HR. Tirmidzi dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 6469)

Bersedekah
Bersedekah tidak harus menunggu banyak harta dulu. Bersedekah bisa dengan apa saja. Salah satu sedekah paling mudah dilakukan di bulan Ramadhan adalah mengajak buka puasa bersama atau memberi makanan untuk berbuka puasa. Pahala memberi makan orang yang berpuasa itu sama dengan pahala orang yang berpuasa  tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa. 

Nah, itulah beberapa amalan di bulan Ramadhan yang bisa kita lakukan dengan mudah. Yuk, makin semangat meraih banyak pahala di bulan yang hanya datang setahun sekali ini. Semoga tulisan ini bermanfaat ya!


23 Mei 2019

BPN Day 18 : Cerita Mudik Saya, Dari Berburu Tiket Sampai Kangen Rumah

Masyaallah.. Ramadhan sudah menjelang hari ke 20 ya? Kok rasanya baru kemarin hari pertama Ramadhan ya? Memang benar ya, kalau kita menjalani hari-hari penuh cinta dan rasa senang, hari-hari itu akan terasa sangat singkat. Seperti Ramadhan ini. 

Btw, hari raya Idul Fitri sebentar lagi. Siapa yang sekarang sedang merantau di tanah orang? Yang sedang menanti untuk pulang ke kampung halaman alias mudik? Atau yang sedang mencari tiket kereta, bus, atau pesawat? Pasti rasanya sudah gak sabar ya. Saya juga pernah kok merasakan itu.


Walaupun saya termasuk anak rumahan yang dari lahir sampai kuliah masih deket orang tua, tapi rupanya saya juga pernah yang namanya kerja jauh. Di luar tanah kelahiran, jauh banget dari rumah orang tua, sampai-sampai kalau mau balik dari mudik, rasanya sungguh beraaatt. Hehe.

Pun tentu saja saya pernah merasakan mudik. Pernah merasakan riwehnya mau mudik, apalagi kalau lebaran datang. Bertambahlah itu keriuhan. Mulai dari berburu tiket, sampai kurangnya waktu di kampung halaman.

Dulu saya pernah tinggal di Palembang. Untuk pulang ke rumah orang tua di Lampung, saya masih bertahan dengan transportasi yang sangat umum dan terjangkau pada saat itu. Kereta. Ada sih pesawat, tapi harganya mihil bingit. Bus juga ada, tapi saya gak tau jalurnya dan saya juga malah merasa gak nyaman mengingat perjalanan yang jauh dan panas.

Jadi, keretalah satu-satunya transportasi yang saya gunakan saat itu. Tahukah Anda, pada waktu itu penjualan tiket kereta hanyalah di loket stasiun atau agen yang resmi. Tidak mudah mendapatkannya seperti sekarang ini yang sudah tersebar baik online maupum offline. Belum lagi, saya juga harus tahu lebih cepat jadwal libur saya mulai tanggal berapa supaya bisa lebih cepat cari tiket keretanya.

Pernah nih, saya harus berburu tiket kereta sampai keliling setengah kota Palembang karena sudah terlalu mepet waktu pulang. Takutnya kalau beli tiket langsung di loket kereta, sudah habis karena antrian yang panjang. Benar, dapatnya ya di agen yang waktu itu letaknya lumayan jauh dari tempat kerja dan kosan saya, hehe.

Oh iya, dulu juga pelayanan dari PT. KAI tidaklah sebaik sekarang. Dulu, tiket kereta tanpa bangku pun masih dijual. Jadi, kalau bangku habis, ya bisa beli tiket berdiri. Bisa terbayang kan kalau kereta penuh dan kita harus berdiri sepanjang perjalanan? Saya pernah lho begitu. Untungnya, dari Palembang ada bangku yang kosong, walaupun di perjalanan rupanya ada si pemilik bangku itu dan pada akhirnya ya saya harus menyingkir.

Satu lagi, kondisi kereta api yang pagi, sangat tidak nyaman. Selain tidak ada pendingin udaranya, kipas angin yang berada di plavon juga tidak berpengaruh sama sekali. Belum lagi, banyak pedagang yang lalu lalang di sempitnya gerbong. Duh! Saya sampai pernah beli batu es di dalam kereta untuk mendinginkan tengkuk kepala. Walaupun sangat murah, waktu itu hanya Rp 15.000,- dari Lampung ke Palembang, tapi saya benar-benar merasa tidak nyaman.

Tapi, kalau sekarang PT. KAI sudah jauh lebih baik. Pedagang sudah tidak diperbolehkan berjualan di dalam gerbong kereta. Kereta yang pagi juga sudah ada pendingin udara, dan yang paling penting adalah tiket tanpa bangku sudah tidak dijual lagi. Yah, tapi sayanya sudah gak di Palembang, hehe.

Dan sekarang, karena rumah orang tua dan mertua saya tidak begitu jauh dan masih di Lampung juga, jadi ya mudiknya sangat-sangatlah dekat. Bahkan dalam sehari pun bisa ke dua rumah tersebut. Tapi tetap ya, kenangan mudik beberapa tahun lalu rasanya masih ada dalam ingatan saya.

Nah, itu cerita mudik saya. Cerita mudik kamu apa?

Baca juga : Tips Mudik Biar Nyaman

22 Mei 2019

BPN Day 17 : Antri Tandatangan dan Berebut Kue? Ini Kenanganku. Kenanganmu?


Apa yang paling kalian ingat saat Ramadhan di masa kecil? Banyak ya. Mungkin yang masa kecilnya sekitaran tahun 90-an tidak jauh beda pengalamannya dengan saya. Apalagi, kalau tinggalnya masih di kampung yang banyak surau atau masjidnya. Juga, yang dulu pas Ramadhan libur sekolah tapi masih harus buat tugas. Oke, saya mau cerita sedikit kenangan saya saat Ramadhan.


Ada beberapa kenangan yang sampai sekarang masih terus membekas dalam ingatan saya. Salah satunya adalah mengumpulkan ceramah pak ustad lengkap dengan tanda tangannya. Duh, tugas sekolah yang satu ini memang legendaris sekali. Dimulai dari saya duduk di bangku SMP. Entah diperiksa atau gak itu buku tugas Ramadhan, yang jelas saya dan mungkin hampir semua siswa sangat khawatir kalau buku tugas itu masih bersih tanpa adanya rangkuman ceramah dan tanda tangan.

Saya ingat betul waktu harus mengisi kolom rangkuman ceramah. Saya yang masih ngantuk selepas sahur dan solat subuh, harus rela tidak tidur lagi demi mendengar ceramah di mushola dekat rumah. Karena memang kebetulan yang menjadi imam dan penceramah di kultum pagi itu adalah ayah saya, maka saya tak perlu antri untuk minta tanda tangan, hehe. Cukup di rumah saja dan kalau saya ketiduran waktu ceramah, saya akan minta ulangi lagi apa saja yang sudah disampaikan ayah saya itu, haha.

Di tahun lain, ketika ayah saya tidak memberi kultum pagi, saya dan beberapa orang teman sekampung yang juga berburu untuk mengisi buku tugas Ramadhan mengusulkan pada guru mengaji saya untuk ceramah ala kadarnya. Jadi, seperti hanya mengobrol biasa dan anehnya malah seperti belajar di kelas. Sang guru mengaji seperti mendiktekan isi ceramah dan kami mencatatnya dengan perlahan. Itu saja sudah membuat kami bahagia karena tidak perlu berfikir untuk merangkum isi ceramahnya. Duh!

Kenangan lain yang tidak kalah membekas dalam ingatan saya adalah berebut kue selepas solat tarawih di mushola. Jadi, di kampung saya dulu punya tradisi yang unik. Para jamaah di mushola dekat rumah saya itu diberikan giliran untuk membawa kue setiap malam Ramadhan. Kue-kue ini dikumpulkan di satu rumah (yang waktu itu kebetulan rumah nenek saya), dan dibagi dalam beberapa piring. Selepas solat tarawih, para jamaah biasanya tidak langsung pulang ke rumah, melainkan duduk sambil mengobrol ala kadar sesama tetangga.

Pada saat inilah, kue-kue itu dibagikan. Saya dan teman-teman sebaya yang sudah duduk melingkar biasanya hanya senyum-senyum malu saat piring-piring kue sudah disajikan di depan kami. Tak ada yang mau mengambil duluan karena mungkin malu atau menunggu yang lebih tua dahulu untuk mengambilnya. Sampai jika ada satu orang saja yang sudah mulai mengambil sepotong kue dari piring, maka kami seperti dikomando untuk menyerbu kue-kue dalam piring itu, hehe. Kadang, saya sudah mengincar salah satu kue, tapi kalah cepat dengan teman saya.

Tradisi ini sekarang sudah tidak ada lagi di mushola dekat rumah saya. Seringnya, para jamaah langsung pulang selepas solat tarawih, dan yang tersisa adalah anak-anak yang tadarus.

Nah, itu dia kenangan masa kecil saya saat Ramadhan. Kalau kenanganmu apa saja?


21 Mei 2019

BPN Day 16 : Apa itu ZIS?

Ramadhan sudah sampai di pertengahannya. Apa kabar puasa kita? Apakah sudah banyak amalan di bulan Ramadhan yang dilakukan? Ataukah masih dalam proses? Salah satu amalan di bulan ini yang juga salah satu rukun Islam adalah menunaikan zakat yang bisa dibarengi dengan infaq dan shodaqoh. Sebagai seorang muslim, sudah pasti harus tahu ya apa itu zakat, infaq, dan shodaqoh. Sebab, ketiganya berbeda dari segi akad dan yang menerimanya. Yuk cari tahu lebih lagi.


Zakat
Zakat adalah kewajiban yang pengeluarannya sudah ditetapkan secara jelas dengan kadar tertentu dan pada waktu tertentu pula. Misalnya zakat fitrah yang dikeluarkan setiap tahun menjelang Idul Fitri. Selain itu, penerima zakat juga tidak sembarang orang. Ada golongan yang memang berhak menerima zakat yang disebut asnaf.

Golongan yang disebut asnaf tersebut terdiri dari 8 golongan, yaitu :
1. Fakir
2. Miskin
3. Amil zakat
4. Mualaf
5. Memerdekakan budak
6. Orang yang berhutang
7. Fisabilillah
8. Ibnu Sabil

Sebagaimana telah disebutkan dalam Alquran surat At Taubah : 60.

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
Infaq
Berbeda dengan zakat, infaq merupakan pengeluaran harta yang penerimanya boleh diluar 8 asnaf tadi. Infaq ini bersifat sunnah dan tidak tergantung waktu, jadi boleh kapan saja dan kepada siapa saja. 

Sedekah
Sedekah punya cakupan yang lebih luas lagi daripada infaq. Kalau infaq terbatas pada pengeluaran harta, maka sedekah bisa berupa apa saja. Harta, jasa, bahkan senyum pun bisa dikatakan sedekah apabila diberikan dengan ikhlas. Seperti hadits Nabi Muhammad SAW berikut ini.
“Setiap tasbih adalah shadaqah, setiap takbir shadaqah, setiap tahmid shadaqah, setiap tahlil shadaqah, amar ma’ruf shadaqah, nahi munkar shadaqah dan menyalurkan syahwatnya pada istri juga shadaqah”.

Untuk membayar zakat, infaq, dan sedekah, kita bisa menyalurkannya langsung kepada penerimanya atau bisa juga melalui lembaga amil zakat yang sekarang sudah tersebar dimana-mana. Daarut Tauhid Peduli, Dompet Dhuafa, Rumah Zakat, Baznas dan beberapa lembaga zakat lainnya bisa jadi referensi untuk menyalurkan zakat, infak, dan sedekah tersebut. 

Biasanya lembaga-lembaga tersebut punya banyak program sebagai bentuk penyaluran zis yang dititipkan oleh para donatur. Juga, kita tidak harus repot datang ke kantornya tapi ada para penjemput yang siap datang kapanpun dan dimanapun.

Jadi, sudah siap mengeluarkan sedikit harta kita untuk mereka yang membutuhkan? Yuk, mulai dari sekarang.

Baca juga : Allah Punya Rahasia

20 Mei 2019

BPN Day 15 : Sedikit Review Wardah Lightening TWC

Hai, Laddies!

Siapa yang di dalam dompet cantiknya selalu ada bedak? Tos sama saya, hehe. Sebagai perempuan yang bekerja dan kebanyakan sering menemui banyak orang, tentu saja penampilan gak boleh terlihat kusam ya. Minimal masih enak dilihat walaupun kadang aslinya di dalam hati dan pikiran sudah kusam oleh tumpukan kerjaan, haha. Salah satu sisi yang paling umum dan sering terlihat ya wajah. Kalau wajahnya sudah kusam, kayaknya orang lain juga sudah malas mau ketemu, apalagi mau diskusi atau sekadar menyapa.


Salah satu senjata yang biasa saya pakai untuk menjaga kesegaran wajah saya adalah bedak. Dari pertama kali saya pakai bedak, saya sempat ganti-ganti bedak. Dari bedak bayi yang tabur dan wangi itu sampai bedak padat ala orang dewasa. Semenjak bekerja, saya pun mulai beralih ke bedak padat two way cake yang menurut saya cocok untuk menutupi kekusaman wajah saya.

Dari bedak padat ini juga saya sempat beberapa kali ganti merk. Pilih-pilih yang cocok dan ringan di wajah, jadi masih terlihat natural dan gak medok ala penganten jawa. Saya memang paling gak bisa pakai bedak yang berat, pakai fondation dulu lah, pakai alas bedak, pakai bb cream dan sebangsanya itu. Kalau bisa ya pakai pelembab aja, hehe.

Sudah beberapa minggu ini saya beralih ke bedak Wardah. Dari beberapa varian bedak Wardah, saya punya yang Lightening Two Way Cake Light Feel. Awalnya gak tahu sih harus pilih yang mana, karena serius saya itu suka bingung kalau pakai kosmetik. Selain gak bisa, saya juga gak tahu yang bagus di kulit saya itu yang mana, duh! Jadi, waktu itu saya langsung tanya saja sama mbak penjaganya sambil nunjukin wajah saya, cocoknya yang mana gitu. Dan mbaknya langsung pilih Lightening twc ini dengan kode Beige 02.

Dari segi tampilan, bedak ini punya kemasan berbentuk bulat yang cukup tebal dibanding sebagian kemasan bedak lain, setidaknya yang pernah saya punya. Sponnya lembut dan diletakkan di wadah terpisah di bagian bawah bedak, jadi gak campur sama bedaknya. Kaca cerminnya juga cukup lebar untuk sekadar lihat riasan wajah.

Bedaknya sendiri punya tekstur yang halus dan cenderung tanpa wangi apapun. Kalau diaplikasikan ke wajah, langsung nempel dan halus. Apalagi kalau sudah pakai pelembab atau alas bedak. Untuk ketahanannya, mungkin tergantung kondisi wajah yang pakai dan bagaimana perlakuan wajah sebelum dipakaikan bedak ya. Apakah hanya pakai pelembab atau ditambah alas bedak, bb cream dll.

Pengalaman saya sendiri yang hanya pakai pelembab sebelum mengaplikasikan bedak ini, daya tahannya lumayan kok. Sekitar 4-5 jam masih oke dengan kondisi saya yang bekerja di ruangan. Mungkin akan berbeda dengan orang lain ya.

Selain Lightening Two Way Cake ini, Wardah juga mengeluarkan varian bedak padat lainnya. Jadi bisa dipilih yang mana yang sekiranya cocok untuk kegiatan Anda.

Oke, sampai sini dulu tulisannya. Sampai jumpa lagi di tulisan berikutnya ya.

Baca juga : 5 Produk Kecantikan Simpel Ala Saya

19 Mei 2019

BPN Day 14 : THR Kamu Untuk Apa? Yuk Atur Dengan 5 Tips Ini

Masuk di Ramadhan ke 14, THR sudah mulai kelihatan belum ya? Hehe. Bagi yang bekerja kantoran seperti saya, sudah pasti di penghujung hari raya akan menunggu-nunggu datangnya THR ini. Lumayan banget kan bisa untuk tambahan belanja atau malah untuk tabungan kalau memang budget untuk belanjanya sudah tercukupi. Tapi kalau mau dituruti mah, mau seberapa pun, belanja gak akan ada habisnya. Ya kan?

Bicara masalah THR, dari kecil pun rasanya telinga ini sudah akrab ya. Mungkin sebagian kita pernah mengalami masa kanak-kanak yang hampir sama. Setiap lebaran datang, keliling rumah tetangga dan saudara pasti bawa dompet atau tas kecil. Untuk tempat uang THR, hehe. Biasanya para orang tua yang dikunjungi anak-anak akan memberi uang lebaran dengan nominal bervariasi. Bisa Rp 2.000,- sampai Rp 20.000,- per anak. Saya juga pernah merasakan seperti itu. Jadi ketika pulang dari keliling, sibuklah saya dan adik-adik saya menghitung uang yang didapat, haha.

Sekarang setelah bekerja, rupanya saya juga masih berharap adanya THR wkwkwk. Selama beberapa tahun bekerja, saya gunakan THR untuk berbagai keperluan. Mulai dari nyiapin THR untuk adik dan para ponakan, keperluan lebaran semisal kue-kue, baju atau sandal jika memang diperlukan, juga kalau masih ada sisa ya untuk tabungan. Tapi seringnya gak ada sisa sih, hehe.

Tapi, pernah gak sih uang THR ludes begitu saja tanpa ada sisa? Atau bahkan gak cukup untuk berbagai keperluan hari raya? Yuk, saya punya beberapa tips untuk mengatur uang THR biar gak selip, yah minimal ada sedikit sisa untuk tabungan.


1. Sisihkan untuk zakat dan infaq
Secara pribadi, untuk satu hal ini saya wajibkan setiap kali menerima THR. Ada baiknya Anda pisahkan terlebih dahulu untuk keperluan zakat sebelum dibagi-bagi untuk keperluan lainnya. Syukur kalau mau ditambah infaq juga. Jadi, bisa lebih bersih kan harta yang didapat? Untuk membagikannya, bisa secara pribadi mendatangi si penerima zakat atau infaq, atau bisa juga dengan menitipkannya pada lembaga yang dipercaya.

2. Sisihkan untuk membayar hutang
Kalau sedang ada hutang dengan orang lain, maka utamakanlah membayar hutang. Kalau tidak bisa sepenuhnya, bisa separuhnya dulu. Sebab jangan sampai orang yang dihutangi melihat kita berfoya-foya saat lebaran sedangkan hak atas apa yang dihutangkannya belum kita tunaikan. 

3. Buat daftar keperluan lebaran
Ada baiknya membuat daftar keperluan lebaran agar tidak besar pasak daripada tiang. Coba buat daftar semua keperluan lebaran dan hilangkan beberapa poin yang memang tidak benar-benar diperlukan. Misalnya ketika ingin membuat rumah menjadi terlihat baru, kita tidak harus merombaknya secara keseluruhan atau mengganti semua gorden dan cat rumah. Tapi bisa disiasati dengan hanya mengubah tatanan meja atau kursi. Satu hal lagi, jangan terlalu berfoya-foya dalam hal makanan. Pertimbangkan berapa orang yang akan hadir dan makan di hari pertama lebaran. Kita gak mau membuang makanan karena sudah masak banyak macam makanan tapi tidak termakan, kan?

Keperluan lain yang tidak kalah pentingnya adalah mengalokasikan untuk THR para ponakan. Kalau saya sendiri, saya hitung ada berapa orang yang akan diberi berikut jumlahnya, lalu saya tambahkan alokasinya untuk anak-anak lain yang mungkin diluar perkiraan tadi.

4. Sisihkan untuk keperluan mendadak
Kita semua tentu berharap semua yang direncanakan akan berjalan dengan baik. Tapi, tentu saja hal-hal diluar perencanaan kita, perlu kita persiapkan. Semisal apakah tiba-tiba ingin mudik atau bahkan tiba-tiba harus mengganti suku cadang kendaraan di tengah-tengah silaturahmi saat lebaran? 

5. Sisihkan untuk menabung
Satu hal terakhir yang bisa kita siasati adalah menyisihkan sedikit THR untuk menabung. Berapapun jumlahnya, sisihkan untuk menabung. 

Itu tadi beberapa tips supaya THR lebaran ini gak ludes sia-sia. Sambil menunggu THR datang yang hilalnya juga belum kelihatan, saya mau buat daftar keperluan saya dulu. Ketara banget ya berharapnya, haha. Semoga tulisan ini bermanfaat ya!

Oh iya, bagi yang tidak bekerja di kantor, kira-kira tips supaya keperluan lebaran tidak mencekik bagaimana ya? Boleh dibagi di kolom komentar.