02 September 2023

Sebuah Catatan Antara Saya dan Tapis Blogger

Halo!

Perjalanan membawamu bertemu denganku
Ku bertemu kamu

Saya dan Tapis Blogger
Saya dan Tapis Blogger

Seperti lagunya Tulus, saya dan Tapis Blogger dipertemukan oleh sebuah perjalanan tulis menulis. Cerita sedikit ya. Saya memang dari dulu suka menulis apapun. Cerita fiksi, puisi, keruwetan dalam pikiran, sampai curhatan orang. Sayangnya, dulu saya gak punya wadah untuk menampung tulisan saya itu. Bahkan sekadar menyimpannya dalam laptop. Jadi, paling hanya berakhir di tumpukan kertas dalam lemari.

Tapi alam memang sudah berkongsi hingga saya dipertemukan dengan orang-orang yag hobinya sama. Masuk komunitas menulis dan bertemu dengan lebih banyak penulis yang tentu saja karyanya sudah jauh di atas saya. Bahkan sudah dibukukan dan laris manis. Saya jadi mikir, tulisan saya ini sepertinya gak mungkin akan dibukukan semua. Apalagi kalau isinya sekadar curhatan gak jelas, hehe.

Di saat itu semesta kembali berkongsi. Saya dipertemukan lagi dengan orang-orang yang mahir membuat blog. Nah, ini dia tempat yang sepertinya tepat untuk menyimpan semua cerita saya dalam bentuk tulisan.

Baca juga : Blogging Untuk Pemula

Seiring berjalannya waktu, saya pun lebih banyak bertemu dengan komunitas blog meskipun hanya lewat dunia maya karena komunitas itu merupakan perkumpulan blog seluruh Indonesia. Eh tapi, ternyata perumpamaan ‘gajah di pelupuk mata tak terlihat’ itu nyata adanya. Saya malah gak tahu kalau ada Tapis Blogger di Lampung, haha.

Awal Mula Bergabung di Tapis Blogger

Saya kurang begitu ingat sih kapan awal mulanya saya tahu Tapis Blogger dan kapan saya mulai bergabung di komunitas ini. Tapi saya ingat banget pertama kali ikut kegiatannya. Di akhir tahun 2019 lalu, saya bersama teman-teman Tapis Blogger diundang untuk menghadiri launching salah satu gerai makanan yang membuka cabang lagi di kota Lampung.

Tapis Blogger x Hokben
Tapis Blogger x Hokben

Senang? Jelas lah! Selama ini kan tahu Tapis Blogger hanya lewat dunia maya dan belum pernah bisa ikut kegiatan secara offline. Jadi ketika akhirnya bisa bertatap muka dan ikut kegiatannya, rasa senang dan bahagia dong. Apalagi ditambah bertemu dengan orang-orang yang selama ini hanya kenal lewat nomor telepon atau media sosial saja. Klop lah.

Sejak saat itu, saya juga gabung di grup WA Tapis Blogger. Ada satu hal yang menarik disini. Saya kira, Tapis Blogger itu hanya berisi orang-orang yang mentok menulis saja, rupanya saya salah. Disini ada banyak orang dengan bakat lain yang tak kalah hebatnya dengan sekadar menulis.

Sebutlah youtuber yang sudah punya banyak subscriber dan videonya gak kaleng-kaleng. Ada lagi jurnalis yang tulisannya gak cukup diacungi hanya dengan 2 jempol. Ada juga fotografer, pustakawan, VO, influencer, dan beragam profesinya.

Duh, saya jadi pengen merangkap jadi semua itu, haha. Youtuber, vlogger, blogger, fotografer, influencer. Kemaruk ya? Namanya lagi semangat.

Kegiatan Tapis Blogger

Seperti yang saya tulis sebelumnya, Tapis Blogger tuh gak hanya sekadar tulis menulis saja. Selama saya bergabung di komunitas ini, ada banyak kegiatan yang sudah saya ikuti bersama para anggotanya.

Launching produk atau gerai baru

Ini kegiatan yang sudah beberapa kali saya ikuti bersama para anggota Tapis Blogger. Acara ini biasanya kami hadiri dan dokumentasikan di berbagai akun media sosial dan tentunya blog para anggota. Selain dapat silaturahmi karena berkumpul sesama anggota, juga bisa dapat teman baru selama acara berlangsung. Bonusnya dapat hadiah dari sponsor, hehe.

Kegiatan Tapis Blogger
Tapis Blogger X Wardah

Berbagai Seminar dan Workshop

Nah, kalau acara yang ini sering banget Tapis Blogger dapat undangan. Karena sifat undangannya adalah perwakilan, gak mungkin kan semua anggota bisa hadir. Maka dari itu, biasanya para pengurus akan menginformasikan hal ini di grup WA untuk kemudian memilih siapa saja yang bisa hadir. Alhamdulillah saya juga pernah beberapa kali ikut acara seperti ini.

Kegiatan Tapis Blogger
Festival Literasi

Keuntungannya tentu saja dapat ilmu dari seminar dan workshop, dapat teman baru, dapat pengalaman baru, dan bahan tulisan untuk menambah portofolio di akun media sosial dan blog saya.

Kegiatan Tapis Blogger
Workshop Bunda Literasi

Kegiatan Internal Tapis Blogger

Selain kegiatan eksternal sebagai tamu undangan, Tapis Blogger juga tentu saja punya kegiatan internal yang melibatkan semua anggotanya, baik secara online maupun secara offline.

Secara online, Tapis Blogger punya jadwal rutin di grup WA. Sebut saja Blogwalking, yaitu mengunjungi blog para anggota yang terdaftar disertai komentar di akhir tulisan. Blogwalking ini adalah salah satu upaya untuk meningkatkan statistik pembaca blog sehingga DA dan PA juga bisa meningkat. Selain itu, blogwalking juga bisa memotivasi para anggotanya untuk konsisten ngeblog.

Kegiatan Tapis Blogger
Milad ke-6 Tapis Blogger

Baca juga : Belajar Ngeblog Lewat Blogwalking

Selain Blogwalking, ada juga support akun media sosial seperti twitter, tiktok, dan instagram. Support berupa like, komentar dan follow ini juga adalah salah satu cara untuk menjaga akun media sosial anggota tetap aktif dan hidup.

Kegiatan online lainnya adalah berbagai webinar dan pelatihan yang dapat diikuti oleh semua anggotanya.

Secara offline, Tapis Blogger biasanya punya acara untuk mengumpulkan para anggotanya. Acara rutin setiap tahun pastinya ya Milad Tapis Blogger yang jatuh pada tanggal 31 Agustus.

Tujuh Tahun Tapis Blogger

Gak kerasa sih ternyata saya sudah 4 tahun jadi anggota Tapis Blogger. Setengah lebih dari usia Tapis Blogger itu sendiri. Sayangnya, dua tahun lalu pandemi sempat melanda sehingga tidak banyak kegiatan yang bisa dilakukan secara offline. Padahal saya masih anggota baru yang seharusnya lebih banyak bertemu dan berinteraksi untuk lebih mengenal para anggotanya.

Syukurnya, tahun 2022 sudah mulai kembali kegiatan offline yang berarti saya juga sudah bisa berpartisipasi kembali meski tidak semua kegiatan bisa saya ikuti. Kadang saya ingin, tapi waktunya tidak tepat. Kadang waktunya tepat, tapi lokasinya tidak memungkinkan karena jauh. Kadang pula, saya ingin dan waktu yang tepat, tapi anggota lain bergantian yang hadir, hehe.

Jujurnya, saya memang belum mengenal betul satu persatu para anggotanya. Yang saya tahu adalah mereka semua punya latar belakang beragam dan bakat berbeda-beda. Keberagaman ini tentunya tidak membuat Tapis Blogger terpecah belah, malah justru membuat Tapis Blogger makin kaya akan karya-karya mereka.

Baca juga : Serunya Milad ke-6 Tapis Blogger

Di tujuh tahun Tapis Blogger ini, semoga Tapis Blogger makin dikenal dengan kontribusinya terhadap literasi, makin berjaya di era digital, dan makin seru dengan karakter para anggotanya. Selamat ulang tahun, Tapis Blogger! Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog Milad ke -7 Tapis Blogger.

Milad 7 Tapis Blogger
Milad 7 Tapis blogger


15 Agustus 2023

Kado Terindah di Ultah ke 8 Pernikahan

Halo!

Selamat ulang tahun ke delapan untuk pernikahan kita ya! Gak ada perayaan apapun, gak ada tukar kado atau tukar surat cinta, bahkan foto pun alakadarnya. Kenapa? Karena kami sudah punya kado terindah di tahun ini. Iya! Seorang gadis kecil bernama Azkia Wafa Aulia.

Kado Pernikahan
Foto yang benar-benar alakadarnya, haha

Padahal sudah dari lama saya punya angan-angan. Ketika suatu saat kami bisa merayakan ulang tahun pernikahan bersama seorang anak, saya ingin foto yang bagus dan yang niat banget gitu, haha. Rupanya, kenyataan tidak sesuai dengan angan-angan.

Paginya pengen foto bareng, tapi tahu sendiri kan bagaimana riwehnya pagi di hari kerja? Sebelum punya bayi aja buru-buru, apalagi pas sudah punya gendongan ya. Nah, sepulang suami kerja sudah niat tuh mau foto bertiga, tapi lagi-lagi memburu waktu untuk imunisasi si bayi, takut kesorean karena suami pulang sudah hampir jam 5 sore. Pulang imunisasi, eh si bayi kok tidur dalam gendongan, haha.

Apalah daya, gak tega untuk bangunin hanya karena ingin foto. Maka, jadilah foto alakadarnya begini. Cuma ingin jadi pengingat bahwa di tahun ke delapan inilah kami baru dipercaya untuk menimang seorang malaikat kecil.

Doa untuk tahun ke delapan ini masih sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Semoga keluarga kami makin sakinah, mawaddah, warahmah. Memang masih harus terus belajar untuk jadi istri yang baik dan jadi suami yang bijak, apalagi sekarang diamanahi jadi orangtua. Belajarnya harus lebih lagi.

Dah lah, ini nulisnya nyambi dan curi-curi waktu di sela si bayi tidur. Masih beradaptasi dengan situasi yang baru, yang benar-benar berbeda dari sebelum punya bayi. Nanti akan saya tulis sedikit demi sedikit di postingan lain ya, di label ‘Journey to be a Mom’ biar seru, hehe.

Si bayi sudah mulai uget-uget tuh, see you next post ya!

Baca juga : Journey To Be A Mom

12 Agustus 2023

Journey To Be A Mom

Prolog Untuk Kisah Panjang

Hai!

Ada label baru untuk tulisan di blog saya ini. Sesuai judul labelnya, Journey To Be A Mom, tulisan-tulisan di dalamnya akan berisi tentang perjalanan panjang saya untuk menjadi seorang ibu. Belum tahu juga sih, nantinya akan sebanyak apa, atau mungkin akan ada perubahan isi. Tapi untuk awalnya, ya berisi cerita aja.

Iya cerita aja, bukan tips apalagi tutorial untuk bisa jadi ibu, hehe. Ya karena saya memang belum pernah jadi seorang ibu dan ingin sekadar berbagi aja, siapa tahu ada pembaca dengan kondisi yang kurang lebih sama. Menanti cukup lama akan hadirnya seorang bayi. Kalau memang bisa menyemangati tentunya saya akan lebih bahagia.

Journey to be a mom
Journey to be a mom

Baiklah, ceritanya dimulai dari mana ya?

15 Agustus 2015

Tanggal yang cantik ya, 15-08-15. Itu tanggal pernikahan saya. Sudah lebih dari tujuh tahun lalu. Sejak saat itu dan bertahun-tahun berikutnya adalah masa penantian panjang yang isinya bermacam-macam. Pastilah ada senangnya, ada nangisnya, ada ngambeknya, ada rasa ingin menyerahnya.

Tapi kembali lagi, saya berfikir bahwa kehidupan pernikahan ya memang seperti itu. Gak seindah bayangan tapi juga gak seburuk apa yang ditakutkan. Tergantung sudut pandang aja. Semakin hari, harus jadi pembelajar aktif yang bisa memahami arah perjalanan rumah tangga ini mau dibawa kemana.

Sebelum menikah, saya sudah kebal dengan berbagai pertanyaan standar yang terdengar basi. Kapan wisuda, kapan bekerja, kapan menikah? Itu sudah saya lewati dengan berbagai macam rupa dan rasa. Jujurnya, saya memang melewati semua itu dalam waktu yang cukup lama, jadi lebih terasa aja.

Dan setelah menikah, muncul lagi pertanyaan pasaran yang kadang membuat perasaan orang jadi batu atau malah jadi debu. Kapan punya anak? Ya, kalau sudah menikah haruskah langsung punya anak? Kalau belum punya anak, memangnya belum sempurna pernikahannya? Atau kalau belum punya anak, memangnya tidak akan bahagia?

Tapi lagi-lagi, saya berusaha untuk cuek aja dan menanggapi pertanyaan itu dengan santai. Segala sesuatu itu pasti akan diberi di waktu yang tepat dan kala kita sudah siap. Gak dipungkiri memang, kadang saya ngebet banget pengen punya anak kalau lihat ada bayi menggemaskan atau kalau lihat baju-baju bayi yang lucu. Tapi ya seberapapun usaha saya, kalau Allah belum berkehendak ya gak akan mungkin saya hamil. Ya gak?

Teman-teman dan saudara saya juga banyak yang mengalami hal serupa. Sudah menikah bertahun-tahun, tapi belum juga punya keturunan. Jadi, saya merasa gak sendirian di dunia ini, haha. Kalau sudah begitu, biasanya saya bahagia lagi. Maksudnya saya gak mau ambil pusing perihal sesuatu yang gak bisa dipaksa.

Baca juga : Plis, Jangan Rusak Kebahagiaan Orang Lain

Waktu-waktu berdua dengan suami, saya isi dengan banyak hal. Bahkan ada yang bertanya, kalau berdua aja di rumah ngapain ya? Hehe, ya semau kami lah. Kadang ngobrol gak jelas, kadang nguprek di dapur bebuatan makanan, lebih seringnya main hp sendiri-sendiri, wkwk.

Kalau galau lagi, saya ingat aja hal-hal yang bisa membuat saya senang kembali. Misalnya, saya bisa pergi kemana saja tanpa ribet bawa perlengkapan anak-anak. Saya bisa tidur kapanpun saya mau tanpa harus begadang karena anak. Saya juga bisa lihat rumah hampir selalu rapi versi saya tanpa harus berkali-kali beberesan mainan anak. Simpel? Ya sesimpel itu.

Catatan, tapi hal ini bukan berarti saya menyebut bahwa orang yang memiliki anak itu tidak bisa kemana-mana lagi, tidak bisa rapi rumahnya, tidak bisa tidur sepuasnya dan lain-lain. Bukan gitu. Bahagia itu tidak ada standarnya lho ya, jadi saya gak berhak mengukur kebahagiaan menurut versi saya. Begitu juga sebaliknya.

Bagi saya, untuk apa memikirkan sesuatu yang belum saya dapatkan, tetapi tidak mensyukuri keadaan yang sekarang? Selagi masih berdua, nikmati aja momen kebersamaan ini. Selalu bulan madu, hanimun kemanapun dan kapanpun saya mau. And I did it! Banyak perjalanan menyenangkan yang saya lalui tanpa ada embel-embel bahagia dengan anak.

Trus, ada yang komentar, jalan-jalan terus gak mikirin mau punya anak apa? Haha, ya lagi-lagi tebalkan telinga dan kebaskan perasaan. Sudahlah, sebagian orang hanya bisa melihat satu sisi saja. Selalu dicari celah yang rawan untuk membuat seseorang kembali terpuruk.

Begitulah.

Btw, sudah kepanjangan ya prolognya? Hehe. Cerita perjalanan awalnya, di postingan selanjutnya aja kalau gitu ya!

Tetap semangat dan jangan lupa bahagia, wahai perempuan di dunia. Apapun keadaanmu, syukuri saja yang sekarang. Sesuatu yang belum ada dan diluar jangkauan kita, biar Allah aja yang atur.

See u next post!

Baca juga : Bagaimana Rasanya Jadi Ibu

21 April 2023

Review Buku 17 Cerita Anak Hebat

Halo!

Setelah kemarin saya sempat bahas kriteria apa saja yang sebaiknya ada untuk memilih buku bacaan anak, kali ini saya akan mengulas salah satu buku cerita anak yang didalamnya ada tulisan saya juga.

Cerita Anak Hebat
Cerita Anak Hebat

Berjudul 17 Cerita Anak Hebat, buku ini merupakan kumpulan cerita pendek yang ditujukan untuk anak-anak dengan rentang usia 8-12 tahun. Penulisnya dari berbagai kalangan, mulai dari guru, dosen, ibu rumah tangga, dan pekerja lepas namun tergabung dalam satu atap komunitas menulis Forum Lingkar Pena.

Saya kupas satu per satu ya!

Pertama dari segi tampilan fisik dulu. Buku ini dicetak dengan sampul art paper tebal dan isi kertas putih halus berukuran cukup lebar, sebesar kertas A4. Dengan ukuran begini, memang lebih memudahkan untuk membaca sih, lebih leluasa saja.

Sampulnya berwarna biru dengan gambar ilustrasi berupa hand-drawing buatan salah satu penulisnya juga. Tapi sayangnya ilustrasi ini tidak berwarna dan hampir terkesan seperti buku lama. Padahal akan lebih menarik lagi kalau ilustrasinya penuh warna dan lebih modern.

Dari segi layout bagian dalam, buku ini seperti buku kumpulan cerita pada umumnya. Tapi ada tambahan ilustrasi di setiap judulnya. Lagi-lagi, ilustrasinya tanpa warna dan hanya seperti sketsa saja. Bagi saya, cukup sih kalau hanya sekadar bertujuan agar lebih membangun visual dari cerita yang ditulis.

Cerita Anak Hebat
Cerita Anak Hebat

Lagipula, usia anak yang lebih besar dan sudah masuk jenjang sekolah dasar, tidak terlalu fokus juga pada gambar-gambar.

Baca juga : Kriteria Memilih Buku Anak Yang Wajib Bunda Tahu

Dari segi isi, buku ini memang pantas diberi judul Cerita Anak Hebat. Isinya seputar cerita keseharian yang sudah terbiasa dilakukan anak-anak pada umumnya dengan tambahan pesan moral tentunya. Misalnya pada cerita berjudul Janji Reno yang ditulis oleh saya sendiri.

Bercerita tentang seorang anak bernama Reno yang sering bermain Game di komputernya. Suatu ketika, ia bermain game hingga larut malam padahal ibunya sudah mengingatkan agar beristirahat karena besok akan berangkat sekolah. Namun tidak ia hiraukan. Akhirnya, ia mengalami beberapa kesulitan keesokan harinya sampai ia malu pada teman-temannya. Mulai saat itu, Reno berjanji tidak akan mengulangi kesalahannya lagi.

Ada pula cerita yang mengusung kearifan lokal dengan memperkenalkan makanan khas daerah Lampung. Juga cerita tentang saling berbagi dan tolong-menolong.

Secara umum, buku ini memang bisa jadi salah satu sarana untuk menanamkan karakter yang baik pada anak. Karena biasanya, anak-anak memang lebih mudah menangkap kebiasaan yang baik lewat cerita daripada perintah langsung.

Baca juga : Rekomendasi Buku Anak Penuh Pesan Moral

Nah, kalau kalian, buku apa nih yang biasanya dibacakan untuk anak sebagai sarana menanamkan kebaikan? Tulis di kolom komentar ya!

20 April 2023

Buku Untuk Hadiah Pernikahan

Momen menikah merupakan momen bahagia yang tidak hanya dirasakan oleh kedua mempelai saja. Keluarga maupun sahabat juga tidak sedikit yang turut merasa sukacitanya. Untuk melengkapi kebahagiaan itu, seringkali kita memberikan hadiah spesial kepada pasangan pengantin.

Hadiah biasanya berupa uang tunai atau barang-barang yang sekiranya dibutuhkan sang pengantin dalam menjalani rumah tangga mereka di kemudian hari. Misalnya perabotan rumah, perlengkapan atau bahkan barang-barang yang paling disukai sang pengantin. Termasuk buku.

Nah, kalau kalian mau memberikan hadiah buku, kali ini saya akan rekomendasikan buku apa yang cocok sebagai hadiah pernikahan.

1. Panduan Keluarga Sakinah

Seperti judulnya, buku ini bisa dijadikan sebagai panduan untuk membentuk keluarga sakinah menurut Islam. Buku yang ditulis oleh Yazid bin Abdul Qadir Jawas ini mengupas secara detail perihal pernikahan.

Panduan Keluarga Sakinah
Panduan Keluarga Sakinah

Bahasannya pun mudah diikuti karena ditulis per bab. Mulai dari apa itu pernikahan, jenis-jenis pernikahan, tujuan dan manfaat menikah, tata cara pernikahan dalam Islam, hak dan kewajiban suami istri, hingga nasihat untuk suami dan istri.

Dari segi kemasan juga buku ini tergolong mewah karena hard cover dan cantik. Cocok memang sebagai hadiah pernikahan, walaupun sebenarnya lebih cocok dibaca sebelum menikah biar lebih paham sebelum menjalani pernikahan.

2. Drama Mama Papa Muda

Tidak sedikit pasangan yang baru menikah, langsung diberi amanah seorang bayi. Terkadang, hal ini memicu drama tersendiri, apalagi jika yang menikah itu usianya masih terbilang muda. Meski menyenangkan, tapi adakalanya kehadiran sosok mungil yang baru ini bisa membuat kehidupan jauh berbeda.

Drama Mama Papa Muda
Drama Mama Papa Muda

Seperti yang diceritakan dalam buku Drama Mama Papa Muda ini. Buku yang awalnya ditulis dari blog pribadi milik Pungky Prayitno dan Topan Prayitno ini menceritakan keseharian mereka saat berproses menjadi pasangan pengantin muda yang langsung memiliki anak, hingga cara pengasuhannya.

Baca juga : Resensi Buku Drama Mama Papa Muda

Dibalik kebahagiaan memiliki anak, rupanya ada hal-hal yang mengkhawatirkan bagi si istri selepas melahirkan. Postpartum Depression (PPD) atau Baby Blues. Nah, dalam buku ini dijelaskan juga apa itu PPD dan bagaimana cara menghadapinya.

Buku ini cocok untuk hadiah pernikahan, dengan harapan suami istri bisa memahami bagaimana kehidupan rumah tangga itu setelah menikah. Ya bukan hanya lihat senang-senangnya saja, tapi juga drama-drama kecil yang mengiringinya.

3. Indahnya Jika Dipanggil Bunda

Buku selanjutnya yang saya rekomendasikan sebagai hadiah pernikahan adalah Indahnya Jika Dipanggil Bunda. Kalau buku sebelumnya menceritakan tentang suka duka menjalani pernikahan yang langsung diberi momongan, buku ini kebalikannya.

Indahnya Jika Dipanggil Bunda
Indahnya Jika Dipanggil Bunda

Indahnya Jika Dipanggil Bunda merupakan buku kumpulan kisah para pejuang garis dua. Salah satu tujuan menikah memang agar ada keturunan, tapi bukan berarti setelah menikah harus langsung bisa punya keturunan. Takdir Tuhanlah yang menentukan akan punya keturunan atau tidak, cepat atau harus berjuang dulu.

Dalam buku ini banyak kisah perjuangan para perempuan yang ingin memiliki anak setelah menikah. Ada yang berkali-kali hamil namun terus keguguran, ada juga yang sudah berusaha ke banyak dokter namun belum juga membuahkan hasil, atau ada pula yang mengalami beberapa sindrom ketidaksuburan.

Baca juga : Bagaimana Rasanya Jadi Ibu?

Menurut saya, buku ini juga cocok sebagai hadiah pernikahan. Kalau segera mendapat keturunan, maka akan lebih bersyukur karena banyak perempuan diluar sana yang harus berjuang dulu untuk mendapatkannya. Tapi kalau memang belum diberi keturunan, maka bisa lebih legowo karena tidak merasa sendirian.

Oke, menurut kamu buku apa lagi nih yang bisa dijadikan hadiah pernikahan?

19 April 2023

Buku Ringan Penuh Humor Untuk Hilangkan Penatmu

Siapa disini yang belakangan ini melahap buku dengan isi yang berat hingga menjadikan pikiran penat? Hm, coba deh beralih dulu ke buku yang ringan dan penuh humor. Bisa komik, majalah, atau buku ringan yang menceritakan kisah sehari-hari.

Kali ini, saya punya beberapa buku ringan yang siapa tahu bisa membuat hari-harimu sedikit agak santai. Yuk disimak sampai habis ya!

1. Anak Kos Dodol

Ini serial legendaris sih menurut saya. Pertama kali terbit sekitar tahun 2009. Buku yang ditulis oleh Dewi Rieka ini berkisah tentang kesehariannya selama menjadi mahasiswa dan ngekos di Jogjakarta.

Anak Kos Dodol
Anak Kos Dodol

Di halaman awal buku ini ada ilustrasi wajah para tokoh yang akan diceritakan kisahnya, jadi kita bisa sedikit membayangkan bagaimana mimik wajah mereka di setiap peristiwa. Kisah-kisahnya diceritakan per judul dengan peristiwa dan keseruan yang berbeda-beda.

Buku ini asli ringan dan kocak. Walaupun selama jadi mahasiswa saya belum pernah ngekos, tapi saya bisa membayangkan bagaimana serunya anak kosan yang kesemuanya perempuan itu. Ada yang tipe judes, kalem, datar-datar saja, dan tipe orang yang bisa membuat ramai suasana.

Anak Kos Dodol cocok banget dibaca oleh mahasiswa atau alumni yang kangen masa-masa ngekos. Ceritanya beneran bisa membuat otak bernostalgia dan senyum-senyum sendiri.

2. Jakarta Underkompor

Tidak jauh beda dengan Anak Kos Dodol, buku Jakarta Under Kompor juga berkisah tentang keseharian seorang laki-laki yang jadi perantauan di Jakarta. Ditulis oleh Arham Kendari, buku ini berhasil membuat saya tertawa ketika membacanya.

Jakarta Under Kompor
Jakarta Under Kompor

Buku ini merupakan kumpulan dari cerita yang pernah ditulis Arham di blognya. Cerita di buku ini sebenarnya juga biasa dialami oleh orang perantauan, tapi ketika ditulis dengan bahasa yang ringan dan konyol, bisa berubah menjadi cerita yang menghibur.

Kalau dari segi sampul buku sih, jujurnya saya kurang suka aja lihatnya. Tapi isinya menghibur dan saya rekomendasi untuk kalian yang sedang mencari bacaan ringan untuk mengusir penat.

3. Jungkir Balik Dunia Bankir

Sama seperti buku Jakarta Under Kompor, buku Jungkir Balik Dunia Bankir juga awalnya ditulis dari blog pribadi milik Haryadi Yansyah. Ceritanya juga berupa kisah kesehariannya saat bekerja sebagai pegawai salah satu bank di Indonesia.

Jungkir Balik Dunia Bankir
Jungkir Balik Dunia Bankir

Haryadi Yansyah berhasil merebut perhatian saya di halaman awal dengan cara berceritanya di lucu. Bahasa yang dipakai juga bahasa keseharian, jadi terasa lebih dekat dan bisa membayangkan ada di posisinya.

Meskipun buku ini termasuk buku ringan, tapi tetap saja ada pesan-pesan yang bisa diambil setelah membacanya. Oh iya, ulasan lengkapnya sudah pernah saya posting juga kok.

Baca juga : Santai Bareng Buku Jungkir Balik Dunia Bankir

Nah, itu dia beberapa buku ringan penuh humor yang bisa kalian baca untuk sedikit menghilangkan penat. Ada yang punya judul lain? Tulis di kolom komentar ya!

17 April 2023

5 Novel Dengan Kearifan Lokal Yang Kental

Selain menyukai novel asing yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, saya juga termasuk orang yang menyukai novel dalam negeri sendiri. Apalagi kalau mengusung kearifan lokal atau dengan latar tempat dan budaya daerah. Bagi saya, itu seolah bisa membawa saya mengenal budaya lain di luar daerah saya.

Novel Kearifan Lokal

Nah, kali ini saya mau coba bahas 5 novel dengan kearfian lokal yang kental. Kearifan lokal disini bisa berarti budaya, bahasa, latar tempat, atau kebiasaannya. Oh iya, beberapa novel yang akan saya sebutkan ini sudah saya posting ulasannya juga di blog ini. Apa saja itu?

1. Aroma Karsa

Novel pertama yang bagi saya kental akan kearifan lokal adalah Aroma Karsa. Novel yang ditulis oleh Dee Lestari ini mengambil setting tempat di TPA Bantar Gebang dimana tempat itu merupakan tempat pembuangan akhir sampah-sampah yang terkenal akan aroma tidak sedapnya. Saya bisa membayangkan bagaimana suasana disana hanya dengan membaca kalimat per kalimatnya.

Aroma Karsa
Aroma Karsa oleh Dee Lestari

Selain itu, ada budaya daerah juga yang kental dalam novel ini. Cerita tentang manuskrip kuno dari keraton dan kerajaan di Jawa. Nama-nama tokoh dalam novel ini juga khas Jawa sekali, seperti Jati Wesi, Raras Prayagung, Tanaya Sukma, dan lainnya. Kadang saya berfikir, apakah cerita ini benar-benar nyata atau hanya khayalan Dee Lestari saja, hehe.

Baca juga : Terbius Aroma Karsa ke Dunia Lain

2. Laskar Pelangi

Novel kedua dengan kearifan lokal yang kental adalah Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Kalau yang ini sih sepertinya tidak ada orang yang tidak kenal ya. Novel yang sudah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa ini juga sudah difilmkan dengan judul yang sama.

Laskar Pelangi
Laskar Pelangi oleh Andrea Hirata

Tentu saja saya bilang novel ini punya kearifan lokal yang kental, dari segi setting tempat, kebiasaan, bahkan bahasa yang dipakai pun punya ciri khas. Berlatar tempat di Belitong, cerita ini diawali dengan penggambaran sebuah sekolah dasar yang cukup menyedihkan dengan hanya beberapa orang guru dan murid. Salah satunya adalah si Ikal, tokoh utama dalam novel ini.

Penggambaran karakter tokoh yang kuat dengan disertai tempat yang detail membuat saya bisa membayangkan peristiwa-peristiwa yang dialami si tokoh dan teman-temannya. Bahkan ada satu bagian cerita dimana kemeja sang ayah Ikal disetrika dengan daun pandan agar rapi dan wangi, itu membuat saya seolah bisa mencium aroma pandan ketika membacanya.

3. Persiden

Ditulis oleh Wisran Hadi, novel ini berhasil masuk dalam Novel Unggulan DKJ tahun 2010 lalu. Gak salah sih, karena baik cerita dan cara berceritanya memang unik.

Novel Persiden
Persiden oleh Wisran Hadi

Bercerita tentang seorang perempuan muda bernama Melati yang telah melanggar adat di Sumatra Barat. Ia hamil di luar nikah padahal ia adalah salah satu generasi penerus kakak beradik dalam satu keluarga besar. Masalah adat saling berbenturan dengan kondisi jaman yang kian modern.

Beberapa kearifan lokal yang kental dalam novel ini adalah penggambaran jalan dan bangunan-bangunan di salah satu sudut Sumatra Barat. Juga hubungan kekerabatan antar anggota keluarga, hingga bagaimana adat setempat harus terus hidup meski jaman sudah berubah lebih modern.

4. Sabil; Prahara Di Bumi Rencong

Dari judulnya saja, sudah terbayang ya setting tempat dalam novel ini. Yup! Novel ini berlatar tempat di Aceh namun dengan setting waktu pada jaman penjajahan Belanda dahulu kala. Novel yang ditulis oleh Sayf Muhammad Isa ini mengisahkan tentang perjuangan rakyat Aceh ketika Inggris dan Belanda ingin menguasai daerah Aceh dengan semena-mena.

Novel Sabil
Novel Sabil

Perjuangan rakyat Aceh yang dipimpin oleh Teuku Nanta, ayah Cut Nyak Dien ini diceritakan secara detail dan membuat saya sebagai pembacanya sering deg-degan. Penggambaran perang juga detail sampai saya sempat berhenti membacanya karena tak mau dengar penderitaan si tokoh yang dianiaya penjajah.

Jujurnya, sampai sekarang pun saya belum menuntaskan halaman terakhir novel ini, hehe.

5. Jejak Dedari

Novel terakhir yang saya bahas disini dengan kearifan lokal yang kental adalah Jejak Dedari. Novel yang ditulis oleh Erwin Ernada ini berkisah tentang perjuangan seorang perempuan remaja bernama Rare yang terlahir dalam keadaan buta dan tuli serta dianggap membawa kutukan. Ibunya harus berkorban apa saja demi meruwat Rare untuk menghilangkan kutukan itu.

Jejak Dedari
Jejak Dedari

Penggambaran budaya yang kental dan detail membuat saya jadi punya wawasan baru tentang Bali. Tidak hanya keindahan alamnya saja, tapi ternyata ada tarian sakral yang dianggap memiliki kekuatan magis yang baru saya tahu. Tarian Dedari yang hanya bisa dilakukan oleh anak perempuan yang masih dianggap suci.

Baca juga : Menyingkap Sisi Lain Bali Dari Novel Jejak Dedari

Nah itu dia, 5 novel dengan kearifan lokal yang kental versi saya. Menurut kalian, novel apalagi nih yang punya kearifan lokal yang kental? Yuk, tulis di kolom komentar ya!

15 April 2023

Majalah Yang Menginspirasi Jadi Penulis

Kalau ada yang tanya bagaimana menjadi seorang penulis, pasti sebagian besar penulis akan menjawabnya dengan mudah. Caranya gampang saja, menulis, menulis, dan menulis. Ada tambahan? Ada, membaca!

Majalah yang Menginspirasi

Iya, begitu saja. Cari inspirasi itu gampang. Lihat sekeliling, dengar cerita orang-orang, membaca banyak buku, atau hanya dari sebuah celotehan. Nah, tinggal bagaimana merangkai katanya dan menggabungkan imaji untuk bisa jadi sebuah karya tulis.

Bicara soal membaca, ada banyak buku yang sebenarnya berjasa dalam menginspirasi saya menjadi seorang penulis. Bukan berarti saya sudah jadi penulis handal sih, hehe. Masih terus belajar, tapi setidaknya sebagian teman mengenal saya sebagai seorang penulis.

1. Majalah Annida

Ini salah satu majalah legendaris sewaktu saya masih remaja, masih sekolah. Salah satu majalah dengan nuansa Islam yang kental dan berisi banyak sekali cerita pendek, puisi, cerita bersambung dan lain-lain.

Majalah Annida
Majalah Annida

Saya kurang tahu persis siapa awal pendiri dan pimpinan redaksinya, tapi yang saya ingat hanya ada nama Helvy Tiana Rosa. Mungkin mbak Helvy salah satu orang yang pernah jadi pemimpin redaksinya.

Dari majalah ini, saya paling suka membaca cerpennya. Sekali duduk akan selesai. Berbeda dengan cerita bersambung yang harus diikuti dari awal hingga akhir, dan kalau gak berlangganan ya malah bikin penasaran pembacanya. Lagi-lagi, saya memang tidak pernah berlangganan, hanya numpang baca punya teman atau pinjam di perpustakaan atau taman baca.

Cerita-cerita yang ada di majalan Annida ini adalah cerita dengan nuansa Islam yang kental, penuh dengan pesan moral, tapi disampaikan dengan bahasa yang bagi saya remaja sekali. Cocok untuk anak-anak sekolah atau yang sedang kuliah. Sepertinya memang segmen majalah ini diperuntukkan untuk remaja pada masa itu.

Tapi seiring berjalannya waktu, majalah ini tidak lagi terbit dalam versi cetaknya dan beralih ke versi online. Sejak berganti versi online ini, saya jarang sekali mengakses websitenya. Bahkan sekarang sepertinya versi online pun tidak tersedia lagi.

2. Majalah Horison

Berbeda dengan majalah Annida, majalah Horison bagi saya lebih nyastra dan dewasa. Wajar lah, karena memang majalah ini punya tagline Majalah Sastra. Ini majalah yang sering saya pinjam di perpustakaan sekolah juga.

Majalah Horison
Majalah Horison

Majalah Horison lebih banyak berisi esai, feature, cerpen, dan puisi dari penulis-penulis yang memang sudah sering terjun ke dunia kepenulisan. Saya sering baca biografi di bawah tulisan-tulisan mereka. Kebanyakan sudah punya banyak karya dan diterbitkan di media cetak, bahkan sudah punya buku sendiri.

Ada juga segmen Kakilangit yang berisi tulisan dari anak-anak sekolah, SMP atau SMA. Tentu saja bahasanya berbeda dari penulis-penulis yang ada di segmen lainnya. Dari sana saya belajar, bahwa untuk bisa mahir seperti penulis besar, perlu banyak membaca karya orang lain dulu dan terus menulis saja.

Kalau dari majalah Annida, saya belajar menjadi penulis cerpen, dari majalah Horison saya belajar menulis puisi. Bagi saya, puisi-puisi yang ada di majalah ini punya diksi yang indah. Kadang, saya bahkan mencari arti dari sebuah kata yang bagi saya terlalu asing padahal itu dari bahasa Indonesia sendiri.

Seperi majalah Annida, majalah Horison pun pada akhirnya beralih dari versi cetak ke versi online pada tahun 2016 lalu. Beruntungnya, beberapa puisi saya pernah dimuat di Horison Online waktu itu.

Baca juga : Majalah Legendaris Masa Sekolah

3. Buku Kumcer Ketika Nyamuk Bicara

Ini salah satu buku yang memotivasi saya untuk terus membuat tulisan dan berharap bisa diterbitkan jadi sebuah buku juga. Sesuai namanya, buku ini berisi kumpulan cerpen karya para penulis yang tergabung di Forum Lingkar Pena (FLP) Sumbagsel pada tahun 2000-an.

Ketika Nyamuk Bicara
Ketika Nyamuk Bicara

Salah seorang di dalamnya, Ika Nurliana, sempat jadi acuan saya untuk jadi penulis, hehe. Bagi saya, mbak Ika yang waktu itu masih kuliah saja bisa menerbitkan buku antologi bersama teman-teman penulisnya, maka saya pun termotivasi untuk bisa seperti itu.

Berhasil? Ya, bisa dibilang begitu karena salah satu tulisan saya juga pernah masuk buku antologi bersama penulis-penulis se-Indonesia. Ini salah satu pencapaian terbesar saya waktu itu.

Nah, kalau kamu, buku apa yang paling menginspirasi jadi dirimu sekarang?

13 April 2023

Kriteria Memilih Buku Anak Yang Wajib Bunda Tahu

Halo!

Siapa nih para bunda yang sudah mulai mengenalkan buku bacaan pada anak-anak? Kriteria apa sih yang wajib untuk memilih buku bacaan anak? Simak yuk sampai habis!

Kriteria Memilih Buku Anak

1. Cerita Singkat

Kemampuan anak dalam mencerna suatu cerita yang dibacakan memang berbeda di masing-masing anak, tetapi pada umumnya, anak dapat lebih memahami cerita yang singkat dan jelas. Maka, kriteria buku bacaan anak paling mendasar adalah ceritanya singkat dan jelas.

Setiap halamannya cukup diisi dengan beberapa kalimat saja, selebihnya bisa diisi dengan gambar ilustrasi untuk lebih meningkatkan ketertarikan anak pada buku. Cerita yang bertele-tele dengan banyak tulisan akan lebih mudah membuat anak bosan dan tidak sabar.

2. Ilustrasi Menarik

Anak-anak akan lebih tertarik pada buku bacaan yang dilengkapi dengan ilustrasi yang menarik. Apalagi kalau ilustrasinya berwarna warni cerah. Bagi anak dengan kemampuan yang lebih menonjol di sisi visualnya, maka cerita yang dibacakan akan lebih kuat menempel di ingatannya dengan ilustrasi tersebut.

Saya termasuk orang yang mudah mengingat dengan visual, maka gak heran kalau saya masih ingat cerita tentang Ibu Kodok dan Anaknya yang pernah dibacakan oleh ibu sewaktu saya masih kecil. Ilustrasinya berupa gambar ibu kodok yang terus meniup-niup udara hingga perutnya besar dan meledak karena anaknya ingin ibunya besar seperti si sapi. Jujur, cerita ini menyedihkan sih, tapi sampai sekarang kok ya saya masih ingat betul, hehe.

3. Bahasa Mudah Dipahami

Bahasa untuk anak-anak tentu akan berbeda dengan bahasa yang ditujukan untuk orang dewasa. Maka, sebelum memutuskan untuk membeli buku bacaan anak, sebaiknya Bunda baca terlebih dahulu beberapa halaman awal buku. Bunda bisa memilih buku bacaan yang bahasanya mudah dipahami.

Sering juga kan kita sebagai pembacanya agak bingung menjelaskan apa yang dimaksud di dalam tulisan dalam buku yang dibaca? Dengan bahasa yang sederhana, anak akan lebih mudah memahami isi cerita yang disampaikan.

4. Mengandung Pesan Moral

Nah, ini sih agak suatu keharusan ya buat saya. Pumpung si anak sedang mendengarkan dengan santai dan dalam keadaan bahagia, apa salahnya menyisipkan pesan moral dari cerita yang baru dibacakan? Tentunya akan lebih efektif menyampaikan suatu pesan lewat cerita daripada langsung memerintah kan?

Kita bisa aplikasikan kembali adegan yang diambil dari buku cerita itu. Misalnya, dalam buku yang pernah saya bahas, Petualangan Orange, dimana pesan moralnya adalah membuang sampah pada tempatnya. Pasti anak akan lebih ingat karena di buku itu ada ilustrasi kantong plastik sampah dengan warna orange yang cerah.

Baca juga : 5 Rekomendasi Buku Anak Penuh Pesan Moral

5. Bahan Tebal

Kalau yang ini, memang tergantung harga buku dan berapa usia anak ya. Untuk anak-anak yang belum bisa membaca tetapi lebih banyak ingin tahu dengan gambar-gambar, lebih baik mengenalkan buku dengan bahan tebal. Hard book atau busy book dari bahan kain flanel cukup efektif agak buku tidak mudah rusak.

Kalau anak sudah lebih besar, bisa memilih buku dengan bahan art carton yang lebih tipis dari hard book tetapi lebih tebal dari kertas HVS pada umumnya. Juga, jangan lupa untuk mengajarinya cara merawat buku dan tidak merobeknya.

Memang sih, mengajarkan kebiasaan membaca pada anak tidak mudah ya. Tetapi kalau terus dicoba, siapa tahu si kecil akan tumbuh menjadi anak yang gemar membaca dan lebih mudah memahami literasi di masa mendatang.

Nah, menurut Bunda, apalagi nih kriteria apa lagi nih ketika akan memilihkan buku bacaan untuk anak? Tulis di kolom komentar ya!

12 April 2023

4 Novel Terjemahan Paling Berkesan

Kalau ditanya lebih suka mana antara novel Indonesia dengan novel terjemah dari luar negeri, jujur saya gak bisa pilih sih. Menurut saya, kedua jenis novel begini tentu ada kelebihan dan kekurangannya.

Novel Terjemah Paling Berkesan

Dari novel asli Indonesia, biasanya saya menyukai gaya bahasanya yang mudah dipahami, paling suka kalau sudah ada sentuhan kearifan lokal daerah. Saya bisa tahu sedikit banyak adat daerah lain. Sementara, dari novel terjemahan tentu saja latarnya berbeda. Kebiasaan si tokoh pun berbeda karena sudah lintas negara. Jadi saya pun bisa sedikit banyak belajar itu.

Nah, dari sekian banyak novel terjemahan yang pernah saya baca, ada 4 novel yang berkesan bagi saya. Apa saja itu?

1. Girl With A Pearl Earring oleh Tracy Chevalier

Ini novel sudah lama sekali, dan saya pun sudah tamat membacanya bertahun-tahun lalu. Tapi sampai sekarang, saya masih terkesan dengan beberapa poin didalamnya. Novel yang diangkat dari sebuah lukisan dari Belanda ini bercerita tentang seorang gadis muda bernama Griet yang terpaksa bekerja karena sang ayah meninggal dalam kecelakaan.

Girl With A Pearl Earring
Girl With A Pearl Earring

Griet yang masih berusia 16 tahun itu bekerja sebagai pembantu rumah tangga di sebuah rumah seorang pelukis bernama Vermeer. Awalnya, ia ditugaskan untuk membersihkan studi lukis sang majikan, namun seiring berjalannya waktu, Vermeer melihat sisi lain dari Griet.

Gadis ini berbakat dalam seni, karena itu, ia sering diminta untuk membantu mencampurkan warna cat lukis dan pekerjaan lain yang sebelumnya hanya dikerjakan oleh sang pelukis sendiri. Konflik muncul ketika Griet diminta untuk menjadi model dengan memakai anting-anting mutiara milik sang istri majikan tanpa sepengetahuannya.

Alur cerita dalam novel ini mengalir cepat dan tak membuat bosan. Saya juga menyukai bagaimana penulis menggambarkan apa yang dilakukan Griet dan tokoh lainnya secara detail. Seolah saya bisa berimajinasi dan melihat langsung peristiwa yang terjadi dalam novel ini.

2. The Kite Runner oleh Khaled Hosseini

Ini juga novel yang sudah lama sekali. Pernah populer dan menjadi best seller nomor 1 versi Ney York Times dan terjual hingga lebih dari 8 juta kopi di seluruh dunia.

Novel ini berlatar cerita di Afganistan dimana perbedaan strata sosial dari tokoh-tokohnya sangat kentara. Amir, seorang anak dari keluarga Pashtun sunni yang kaya raya hidup berdampingan dengan Hassan, anak pelayan dari keluarga Hazara syiah yang tergolong miskin.

The Kite Runner
The Kite Runner

Amir dan Hassan tumbuh bersama seperti saudara, memiliki ibu susu yang sama, bermain di tempat yang sama, dan hidup di lingkungan yang sama, hanya berbeda tempat dan rumah. Amir sangat menyukai dan mahir dalam bermain layang-layang, sementara Hassan adalah pengejar layang-layang yang bisa diandalkan.

Ketika ada perlombaan layang-layang, Amir berhasil memutuskan layangan lawan dan menjadi pemenang. Hassan dengan semangat mengejar layangan putus itu untuk Amir. Tak disangka, saat mengejar layangan itu, Hassan bertemu dengan Assef yang merupakan berandalan nakal. Hassan dianiaya secara fisik dan seksual oleh Assef dan teman-temannya.

Amir, yang mengetahuinya dari tempat yang agak jauh tidak berani untuk melawan atau bahkan sekadar membela Hassan. Ia lebih memilih melarikan diri. Tanpa disangka, dari sinilah awalnya Amir mulai mendiamkan Hassan, bahkan memfitnahnya sehingga Hassan dan ayahnya berhenti jadi pelayan keluarganya dan pergi dari rumah itu.

Konflik batin sesungguhnya dialami oleh Amir sepanjang hidupnya, bahkan setelah ia dewasa dan memiliki keluarga sendiri. Hingga pada suatu ketika, ia diberitahu rahasia besar oleh ayahnya dan memaksanya untuk mencari Hassan.

Baca juga : Menyingkap Sisi Lain Bali Dari Novel Jejak Dedari

3. The Old Man and The Sea – Ernest Hemingway

Ini termasuk novel pendek yang pernah saya baca. Jumlah halamannya sedikit tapi ceritanya bisa membekas sampai sekarang. Awal baca, dulu waktu saya masih SMA, pinjam bukunya di perpustakaan, hehe.

Ceritanya tentang seorang lelaki tua yang berpengalaman sebagai nelayan bernama Santiago. Ia telah menghabiskan sepanjang hidupnya mencari ikan di laut hingga ada seorang lelaki muda yang ingin belajar menjadi nelayan padanya. Namun, hingga hari ke 84 ia lewati tanpa mendapat ikan seekor pun, sehingga lelaki muda itu dilarang ikut berlayar bersama Santiago.

Lelaki Tua dan Laut
Lelaki Tua dan Laut

Pada hari ke 85, Santiago berlayar sendirian ke teluk dan berencana menangkap seekor ikan marlin raksasa. Perjalanan dan perjuangan menangkap ikan raksasa inilah yang menjadi inti cerita sepanjang novel ini. Bagaimana Santiago bersusah payah menombak ikan dengan harpun miliknya, hingga pada akhirnya berhasil melumpuhkannya. Namun, sepanjang perjalanan pulang, masih saja ada rintangan yang harus ia lalui.

Bagian akhir novel ini ditutup dengan kisah yang tidak terlalu indah, tapi memiliki pesan yang dalam. Saya bisa membayangkan bagaimana kerasnya perjuangan lelaki tua itu di laut, bagaimana angan-angannya yang tinggi telah memotivasinya untuk tidak menyerah, dan kalaupun pada akhirnya kenyataan tidak sesuai harapan, manusia hanya bisa berusaha semaksimal mungkin.

4. Memoirs of Geisha – Arthur Golden

Novel terjemah selanjutnya yang berkesan adalah Memoirs if Geisha yang ditulis oleh Arthur Golden. Novel ini juga sudah pernah diangkat menjadi film dengan judul yangs ama dan berhasil membuat saya terpukau sekali lagi dengan para tokoh dan adegan yang ada di dalamnya.

Memoirs of Geisha
Memoirs of Geisha

Memoirs of Geisha bercerita tentang seorang gadis kecil bernama Chiyo dan kakaknya Satsu yang harus dijual menjadi budak di rumah Okiya, sebutan untuk rumah Geisha, karena keluarganya tidak mampu lagi membiayai hidup mereka. Chiyo kecil selalu ingin melarikan diri karena menjadi Geisha bukanlah cita-citanya. Ia selalu berusaha mengajak Satsu untuk kabur, namun kakaknya itu tidak mempedulikannya hingga pada akhirnya mereka terpisah.

Chiyo kecil bekerja sebagai pembantu di rumah Geisha dengan putus asa dan tanpa harapan lagi. Pada suatu hari, ketika ia menangis di jalan, Chiyo kecil bertemu dengan seorang lelaki yang ia panggil dengan Ketua. Lelaki ini sangat berwibawa di mata Chiyo, menghapus air matanya dengan sapu tangannya, dan membelikannya makanan. Chiyo merasa telah jatuh cinta padanya.

Sejak saat itu, Chiyo selalu ingin bertemu dengan sang Ketua dan jalan satu-satunya untuk mendekatinya adalah dengan menjadi Geisha. Maka, ia tak lagi membenci kehidupannya dan bahkan berbalik ingin menjadi Geisha.

Chiyo tumbuh dewasa dan berhasil menjadi Geisha yang cukup populer karena kecantikannya. Ia lalu mengganti namanya menjadi Sayuri. Sayuri memang memiliki mata berwarna biru air yang memikat siapa saja yang melihatnya. Tanpa disangka, ia bertemu kembali dengan sang Ketua dan ia berharap bisa dekat dengannya mulai sekarang.

Tetapi perjalanan cintanya pada Ketua tidak sesuai harapannya. Ada orang-orang di sekeliling Ketua yang sangat menyukai Sayuri dan ingin menjadi Dann-nya, sebutan untuk laki-laki yang akan menanggung biaya hidup seorang Geisha, seperti suami tapi bukan dalam arti suami sah. Dengan begitu, sang Ketua tidak boleh lagi mendekati Sayuri.

Kisah Sayuri dikemas apik dengan bahasa dan penokohan yang kuat. Alur ceritanya juga runut dan ditutup dengan akhir yang menyenangkan meski perjalanan hidup Sayuri dan sang Ketua panjang berliku.

Baca juga : Review Buku Cinta Tak Pernah Tepat Waktu

Nah, itu dia 4 novel terjemahan yang berkesan bagi saya. Masih ada beberapa novel asing yang gak kalah bagus sih, tapi mungkin di postingan selanjutnya ya. Kalau kamu, suka novel terjemahan juga gak nih? Tulis di kolom komentar ya!

10 April 2023

Review Buku Kisah Tragis Oei Hui Lan

Judul : Kisah Tragis Oei Hui Lan, Putri Orang Terkaya di Indonesia
Penulis : Agnes Davonar
Penerbit : Intibook
Tahun Terbit : Cetakan ke dua belas, 2013
Jumlah halaman : 310 halaman

Kisah Tragis Oei Hui Lan

Oei Hui Lan merupakan putri orang terkaya di Asia Tenggara pada jaman kependudukan Hindia Belanda di Indonesia. Ayahnya, Oei Tiong Ham yang merupakan pengusaha gula di Semarang, memberikannya kemewahan dan harta berlimpah. Sementara, sang ibu menjadikannya sejajar dengan kalangan atas bangsawan Eropa dan berhasil menikahkannya dengan seorang politikus handal, Wellington Koo.

Kisah Oei Hui Lan dimulai dari masa kanak-kanaknya di Semarang. Ia tinggal bersama orang tua, kakak perempuan, dan berpuluh-puluh pelayan di tempat kediamannya yang serupa istana. Berbagai kenyamanan dan apapun yang ia minta, pasti dapat dikabulkan oleh ayahnya karena itu ia lebih dekat pada ayahnya daripada ibunya.

Kehidupan rumah tangga ayah dan ibunya tidak seharmonis yang dilihat orang. Meski ibunya tahu ayahnya punya banyak gundik dan anak, tapi keduanya bersikeras tidak akan bercerai. Siapa sangka, kehidupan Hui Lan dan kakaknya di kemudian hari pun dibayangi oleh gundik dari suaminya sendiri.

Meski dilimpahi kekayaan dan harta yang berlimpah, bukan berarti Oei Hui Lan tidak menghadapi kisah kehidupan yang berliku. Perasaan pada cinta pertamanya harus kandas karena pujaan hatinya bukanlah termasuk orang yang terhormat. Berlanjut dengan kisah perjodohannya dengan Wellington Koo oleh kakak dan ibunya.

Kisah Tragis Oei Hui Lan

Hingga puncaknya, saat ayahnya meninggal secara tiba-tiba. Harta dan kekayaan peninggalan ayahnya menjadi rebutan para istri dan anak-anak yang jumlahnya lebih dari 40 orang. Warisan yang seharusnya menjadi keberkahan untuk anak cucunya, berbalik menjadi petaka yang menghancurkan.

Membaca buku ini, saya seperti sedang mendengarkan dongeng pengantar tidur dari seorang nenek. Dituturkan melalui sudut pandang orang pertama, menjadikan ceritanya mengalir ringan dan rapi. Saya bisa membayangkan bagaimana Oei Hui Lan bercengkrama dengan ayahnya, bagaimana kedekatan emosi antara kakaknya dan ibunya, serta bagaimana sibuknya para pelayan melakukan tugas mereka masing-masing di tempat tinggalnya yang sangat luas itu.

Baca juga : Menyingkap Sisi Lain Bali Dari Novel Jejak Dedari

Ada beberapa poin yang bisa saya simpulkan ketika mengakhiri lembaran buku ini. Pertama, bahwa harta dan kekayaan itu belum tentu selamanya membawa keberkahan dan kebahagiaan. Apalagi ketika sudah menjadi warisan dan diperebutkan tanpa memandang lagi ikatan darah dan saudara.

Kedua, tidak selamanya kehidupan berdiri di puncaknya. Seperti dalam salah satu paragraf yang saya kutip ini.

“Tidak ada pesta yang abadi. Itulah pepatah China yang paling menyedihkan yang menggambarkan bahwa suatu saat, apa yang kita miliki akan berakhir. Banyak hal termasuk kekayaan, kekuasaan dan kehormatan.” (Perkataan Chang pada Hui Lan, halaman 173).

Benar, bahwa roda kehidupan itu akan berputar. Adakalanya di atas, tapi tidak bisa menghindari saat ia berada di bawah juga.

Ketiga, apa yang dilihat dari orangtua, sebagian besar akan dicontoh oleh anak-anaknya. Kehidupan Hui Lan dengan suaminya yang diam-diam menyimpan perempuan lain, rupanya menurun pada anak lelakinya. Setelah menikahi satu perempuan, ia memadunya dengan perempuan lain hingga membuat Hui Lan terkejut dan marah.


Kisah Tragis Oei Hui Lan

Terakhir, mengenai harta warisan. Tidak bermaksud untuk membandingkan, tetapi kalau dalam Islam sendiri, pembagian harta warisan itu tidak sembarangan. Ada ketentuan dan batas-batasnya, siapa saja yang berhak dan seberapa jumlahnya sebagai upaya untuk menerapkan keadilan dan keberkahan.

Buku ini bukan novel fiksi, tapi kisah nyata yang disajikan dengan bahasa dan alur yang apik. Saya baru tahu kalau ada lukisan Hui Lan di Hotel Tugu Malang. Penasaran baca kisahnya? Langsung cari bukunya ya, selamat membaca!

08 April 2023

Menyingkap Sisi Lain Bali Dari Novel Jejak Dedari

Judul : Jejak Dedari – yang menari di antara mitos dan karma
Penulis : Erwin Arnada
Penerbit : Gagas Media
Tahun Terbit : 2016
Jumlah halaman : 324 halaman

Jejak Dedari - Erwin Ernada

Novel ini bercerita tentang perjuangan seorang gadis Bali yang sepanjang hidupnya dibayangi oleh duka dan kutukan. Adalah Rare, seorang gadis yang terlahir bisu dan tuli. Keadaannya itu dipercaya sebagai kutukan karena ia lahir pada waktu Wuku Wayang, hari dimana masyarakat lokal percaya bahwa ada sumpah kutukan dari jaman dahulu yang mengakar hingga ke anak cucu.

Rare dengan segala keterbatasannya tetap hidup berdampingan dengan masyarakat normal lainnya di desa Beskala. Ia juga bersekolah di SD umum yang disebut SD inklusi. Meskipun ada banyak anak seusianya yang kolok (sebutan untuk orang yang tuli dan bisu), tetapi Rare selalu jadi orang yang disalahkan atas apa yang sebenarnya tidak ia perbuat.

Misalnya saja, suatu ketika di sekolahnya terjadi keracunan minuman. Rare yang tidak tahu apa-apa, disalahkan dan dituduh meracuni teman-temannya karena hanya ia sendiri yang tidak sakit. Begitu juga ketika suatu hari di desa terjadi kekeringan, wabah dan paceklik, Rare sebagai anak yang lahir di hari Wuku Wayang dianggap sebagai penyebab karena membawa sial.

Novel Jejak Dedari


Segala duka itulah yang membuat Menak, ibunya dan Uwe Ronji, bibinya selalu berusaha untuk berbuat apa saja demi membahagiakan Rare. Salah satu jalan untuk melepaskan kutukan Rare adalah dengan meruwatnya melalui upacara adat Tarian Sanghyang Dedari.

Tetapi sayangnya, upacara adat ini tidak mudah dilakukan mengingat biaya dan persiapan lainnya yang tidak sedikit. Menak pun rela berkorban apa saja meskipun pengorbanan itu termasuk dalam langkah yang sesat asal Rare bisa terbebas dari kutukan. Perlahan, rahasia kehidupan Menak dan tokoh-tokoh di sekelilingnya terkuak.

Membaca novel ini membuat saya bisa melihat sisi lain dari Bali. Tidak hanya keelokan pemandangan alam dan keindahan tariannya, Bali juga menyimpan mitos-mitos dan misteri lainnya. Saya juga baru tahu kalau ada jenis tari lain selain Legong dan Kecak yang sudah terkenal itu. Tarian yang lebih sakral dan mengandung nilai tersendiri karena dipercaya ada roh bidadari dan roh suci lainnya yang masuk ke tubuh penari Dedari.

Dari segi penulisan, novel ini sebagian menggunakan dialog dengan bahasa daerah. Sebutan-sebutan gelar, nama dan istilah juga kental dengan nuansa Bali. Selebihnya, deskripsi yang ditulis menggunakan susunan bahasa yang indah dan seperti syair.

Novel Jejak Dedari

Oh iya, sebelum novel ini terbit, sebenarnya karya ini adalah sebuah film layar lebar dengan judul yang sama. Dibintangi oleh Christine Hakim, Reza Rahadian, Alex Komang, Andania Suri, Meriza Febriani, dan Verdi Solaiman serta disutradarai oleh penulis sendiri, Erwin Ernada. Maka tidak heran kalau dalam buku ini diselipkan juga beberapa foto adegan filmnya. Bagi saya, ini menguatkan imaji saya tentang tokoh-tokoh yang ada dalam ceritanya.

Baca juga : Belajar Naif dari Novel Orang-Orang Biasa

Saya termasuk penyuka novel sejarah yang mengangkat cerita-cerita kearifan lokal yang notabene berbeda-beda dari satu daerah dengan daerah lainnya di Indonesia. Bagi saya, membaca cerita dengan setting daerah memberi wawasan yang lebih dan membuat saya takjub betapa Indonesia ini kaya akan adat istiadat.

Bagi kalian yang menyukai novel sejarah, sepertinya Jejak Dedari ini cocok untuk kalian baca sebagai asupan di sore hari. Selamat membaca ya!