Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

30 April 2022

Gerbong Ke Delapan

Yeay!
Alhamdulillah akhirnya tantangan 30 hari menulis dari Blogger Perempuan sudah berhasil saya taklukkan. Ini hari terakhir posting untuk event ini, dan karena temanya bebas, saya mau posting yang berbeda.

Kali ini saya kembali ingin posting puisi. Ini puisi yang sudah beberapa tahun lalu saya tulis tapi baru kali ini saya ingin mempublikasikannya. Sekali-kali lah posting puisi. Waktu awal-awal buat blog ini, label puisi ini salah satu jadi yang label favorit saya.

Ok, let's enjoy!


Gambar oleh WikiImages dari Pixabay

Gerbong Ke Delapan

: Seli

Pada sebuah perjalanan
perempuan itu duduk dekat jendela
di gerbong ke delapan yang penuh sesak
orang-orang
sumringah, mengandai-andai tentang
kerinduan yang akan tumpah
juga orang-orang
tanpa gambar di kepala
yang tak bisa mencairkan suasana
bahkan hanya dengan satu sapa

ooo

perempuan itu melambai pada kenangan
sebuah percakapan dalam telepon genggam
suatu malam
seratus sepuluh purnama yang lalu
sebelum gerbong berderak menuju palembang
-aku akan menjemputmu esok pagi. kabari aku-

perempuan itu tersenyum
mengandai-andai pertemuan di stasiun
mereka-reka perbincangan
menata-nata keyakinan
kemudian terlelap

gerbong menembus malam
hutan yang menyimpan rahasia
alam yang tak kuasa mengubah
mantra
lelaki yang suaranya memukau di
telepon tadi

kereta malam menuju pagi
bau sungai musi
jembatan merah bertiang tinggi
perempuan itu selalu menyimpan wangi abadi
batu bara kala gerbong berhenti

perbincangan yang direka
keyakinan yang ditata
laki-laki dalam telepon tak pernah ada
lenyap seperti bayangan pagi bertemu matahari
di atas kepala
perempuan menunggu sunyi
orang-orang silih berganti

ooo

pada sebuah perjalanan
perempuan itu duduk dekat jendela
di gerbong ke delapan
orang-orang tak lagi sesak
aih, berapa stasiun yang telah ia lewati
yang telah mempertemukan
orang-orang dengan kerinduannya

derit telepon genggam
dan suara laki-laki di seberang
-aku sudah pesan ojek online, mas. kamu tunggu di pim ya-

perempuan itu menutup kenangan
saat bau sungai musi menguar di
gerbong ke delapan

Lampung, 16 Maret 2019

Baca juga : Palembang dan Dia

16 April 2021

100 Puisi Indonesia Terbaik 2008 ; Pencapaian Tertinggi

Pencapaian tertinggi di hidup

Duh, apa ya? Saya merasa belum mencapai apa-apa di usia yang sudah beranjak tua begini *tepok jidat lalu mulai tertawa miris. Kalau diingat-ingat, ada sih prestasi-prestasi kecil yang bisa membuat saya semangat lagi kala mengingatnya. Tapi rasanya itu bukan pencapaian tertinggi selama hidup saya.

Saya ini termasuk orang yang moody, sering berubah mood, bahkan terlalu sering. Termasuk juga dalam hal target dan pencapaian dalam hidup saya. Dulu, saya semangat sekali untuk menulis target-target dalam hidup, apalagi kalau sudah akhir tahun dan menjelang tahun yang baru. Wuihh, bisa berderet-deret target itu saya tulis.

Tapi, untuk menjalaninya, kadang saya butuh mood dan kemauan yang cukup besar. Misal nih ya, saya punya target untuk rajin ngeblog. Nyatanya, saya pernah sampai beberapa bulan gak posting tulisan sama sekali. Gaje banget kan saya? haha. Ketika saya ingat lagi punya target itu, saya harus ekstra kuat membangkitkan semangat dan mood untuk menulis. Untungnya punya komunitas blogger macam Blogger Perempuan ini, jadi bisa lirik-lirik tulisan orang dan mulai terinspirasi *peluk unch!

Oke, balik lagi ke pencapaian tertinggi dalam hidup saya. Hm, setiap orang pasti punya impian masing-masing ya. Entah itu bisa jalan-jalan berkeliling dunia, menerbitkan buku sendiri, membuat film, atau menyelesaikan suatu proses yang membanggakan. Tapi, menurut saya, ini hal yang relatif. Mungkin bagi sebagian orang, hanya menyelesaikan satu novel saja dianggap biasa, tapi bagi orang lain itu satu pencapaian paling tinggi dan membanggakan.

Begitu juga dengan saya. Rasanya pencapaian tertinggi saya adalah satu sajak saya pernah masuk dalam buku antologi bergengsi menurut saya, waktu itu dan sampai sekarang.

100 Puisi Indonesia Terbaik 2008, Anugerah Sastra Pena Kencana.

Buku Puisi Indonesia Terbaik 2008
Buku 100 Puisi Indonesia Terbaik 2008

Itu judul bukunya. Sudah lama sekali ya. Memang, tapi bagi saya, itulah pencapaian tertinggi saya selama ini dalam hal menulis sajak. Dulu, saya memang punya impian tulisan saya bisa diterbitkan dalam bentuk buku. Keren aja sepertinya. Sudah jadi penulis beneran, hehe.

Ternyata, impian saya memang benar-benar terwujud walaupun itu bukan buku saya sendiri. Tapi yang membanggakan adalah, tulisan saya itu salah satu dari 100 puisi se-Indonesia yang didalamnya juga ada sastrawan idola saya, Sapardi Djoko Damono. Satu buku dengan sastrawan legendaris? Wah! Wah! Wah!

Saya benar-benar tidak menyangka waktu itu akan terpilih dan ketika buku itu benar-benar berada di tangan saya, hati ini rasanya meruah, bahagia dan ingin melompat-lompat, haha. Rasanya tidak ada kata lagi yang bisa menerjemahkan perasaan saya kala itu.

Kenapa? Karena itu terjadi secara tiba-tiba. Tidak ada kompetisi apapun sebelumnya yang mengharuskan saya untuk mengirim naskah. Tidak ada jadwal apapun yang menandakan akan ada pemilihan sajak seperti itu sebelumnya. Tidak ada pemberitahuan yang menyatakan bahwa ketika saya mengirim puisi, bisa berkesempatan untuk dibukukan dengan sastrawan se-Indonesia. Tidak ada sama sekali.

Saya hanya mengirimkan tulisan ke media cetak seperti biasa. Menunggu selama beberapa waktu untuk akhirnya ada pemberitahuan akan dimuat. Lalu saya senang. Lalu selesai sampai disitu. Saya benar-benar tidak berharap lebih jauh bahwa beberapa bulan kemudian, berbulan-bulan, kabar itu menghampiri saya. Bahkan waktu itu saya sempat curiga ini penipuan, wkwk.

Baca juga : Sedramatis Apa Puisi Ini?

Saya memang tidak tahu takdir akan membawa saya pada pencapaian apa dan perasaan bagaimana. Tapi, satu hal yang saya ambil hikmahnya dari sini adalah, lakukan saja yang terbaik dari diri saya. Apapun itu. Selama saya melakukan dengan baik dan sepenuh hati, ia akan membawa saya pada takdir yang baik. Itu! *lakukan dengan gerakan khas milik Bapak Mario Teguh, hehe.

Sekarang, giliran kamu dong yang cerita. Apa pencapaian tertinggi dalam hidupmu selama ini?

19 Juli 2020

Sapardi Djoko Damono Meninggal Dunia

Sapardi Djoko Damono Meninggal Dunia

Saya dengar kabar ini pertama kali lewat salah satu grup wa di komunitas menulis. Minggu pagi menjelang siang, ketika saya sedang duduk di depan jejeran buku-buku. Tanpa aba-aba, mata saya langsung tertuju pada satu buku yang sudah lima tahun ini ada disana.

Sapardi Djoko Damono
Salah satu buku Sapardi Djoko Damono

Hujan Bulan Juni. Sepilihan Sajak Sapardi Djoko Damono. Saya membuka halaman-halamannya seperti saya ingin menelusuri perjalanan kisahnya. Saya ingin kembali merasakan perasaan yang ia coba untuk interpretasikan dalam kata-kata, meski mungkin sangat jauh berbeda.

Saya baca larik-larik puisinya dan seperti biasa, saya seperti bersamanya. Melihatnya sedang memandang hujan, merasakan angin, berbicara pada hatinya sendiri. Meski, sekali lagi, mungkin sangat jauh berbeda dengan realitasnya saat menulis puisi-puisi itu.

Dan, saya berhenti pada satu halaman.

Puisi Sapardi Djoko Damono
Puisi Sapardi Djoko Damono

HUJAN TURUN SEPANJANG JALAN

hujan turun sepanjang jalan
hujan rinai waktu musim berdesik-desik pelan
kembali bernama sunyi
kita pandang: pohon-pohon di luar basah kembali
 
tak ada yang menolaknya. Kita pun mengerti, tiba-tiba
atas pesan yang rahasia
tatkala angin basah tak ada bermuat debu
tatkala tak ada yang merasa diburu-buru

(1967)

Saya memang tidak mengenalnya secara langsung. Saya mengenalnya lewat tulisan-tulisannya, khususnya puisi-puisinya. Sebegitu sukanya saya terhadap puisi-puisinya, saya sampai meminta satu buku puisinya sebagai salah satu mahar untuk pernikahan saya.

Baca juga : Mahar Handmade

Entah karena saya terlalu sering menyukai hujan, atau karena saya yang terkadang terlalu melankolis. Puisi-puisinya selalu membawa saya ke tempat paling nyaman untuk menyapa kesendirian. Puisi-puisinya selalu membawa saya pada satu pandangan dengan perspektif yang berbeda.

Dan sekarang, penulis puisi itu, pujangga itu, sastrawan itu, telah kembali. Meninggalkan kenangan yang tertoreh tidak saja pada kertas-kertas, pada bait-bait lagu, tetapi juga pada setiap hati yang tersentuh oleh puisi-puisinya.

Baca juga : Antara Novel dan Film

Selamat jalan, Eyang Sapardi Djoko Damono. Semoga engkau mendapatkan tempat terbaik di sisi Sang Pencipta.

18 Januari 2016

MERENDA KENANGAN

Melintasi batas senja di musim penghujan
awal desember seperti menanti sebuah senyuman
tersuguh sekotak kenangan yang tak bisa terlepas dari sebuah kehidupan
perempuan bernama nirmala
juga lelaki yang mengaku sebagai rama

ooo

-kita sedang merenda kehidupan, nirmala-
rama membiarkan tetes hujan jatuh di atas mangkuk kaleng tempat makanan si manis di samping tangga, menciptakan irama yang senada
-mungkin akan menjadi kenangan kita di masa tua-
-apakah waktu kini bisa kita bekukan saja? hingga nanti ketika kita tak menjumpai senja lagi, kita punya kenangan yang beku, yang bisa kita cairkan dengan menghangatkannya di bawah matahari pagi-
-apa kau pikir kenangan serupa kuah masakan, nirmala?-

ooo

kami tersenyum, saling menyelam di kedalaman tatap mata kami
ada selaksa rasa disana
seperti mutiara, seperti intan permata, seperti berlian berwarna
-aku juga melihat arang, rama-
katanya. tak apa, memang sewajarnya seperti itu
-kau bisa membuatnya menjadi bahan bakar untuk menghangatkan kenangan yang kau sulap jadi kuah masakan-
dan nirmala tertawa, yang membuatku makin ingin membahagiakannya.

ooo

merenda taplak meja bermotif bunga, aku seperti tertawan dalam ruang kenangan
dulu, berpuluh tahun lalu, rama pernah membisikiku
-merendalah saja, bayangkan taplak mejamu akan cantik setelahnya. tak usah kau pikir seberapa luas kau akan merenda-
karena kehidupan juga adalah hasil rendaan kita, begitu kataku setelahnya
hingga aku tahu apa yang dikatakannya memang benar dan nyata

ooo

melintasi batas senja di musim penghujan
awal desember menawarkan sebuah cerita
yang direnda dengan kenangan
oleh perempuan bernama nirmala
juga lelaki yang mengaku sebagai rama

Natar, 9 Desember 2015 

***
Fotonya gak nyambung ya, haha
Ini termasuk puisi yang baru (baru sebulan dibuat dan langsung terbit di Lampung Post untuk kolom Sajak). Sebenarnya pengen banget buat puisi sebanyak-banyaknya mengingat ide di kepala berdesak-desakan dan berlomba untuk keluar. Tapi menulis puisi itu tidak bisa diprediksi. Kadang dengan sekali ketik, puisi langsung jadi, tapi sering pula bertahun-tahun prosesnya baru sreg untuk diposting.

Tapi aku tetap pecinta dan penikmat puisi. Selamat sore... ;-)

02 Januari 2015

Selama Hujan Datang














Aku selalu membiarkan jendela terbuka ketika hujan
; angin
karena anginnya membawa aroma kerinduan
; juga bau hujan
ia selalu saja menggoda seperti perempuan
; kemudian suara gemericiknya
hampir-hampir membuat aku lupa dimana aku berpijak


seperti malam ini,
perempuan yang kunamakan hujan
datang tanpa mengetuk pintu depan
wajahnya seperti kemarin malam
tak tampak mata
hanya senyum
sepenuh wajah sepenuh senyum

tiba-tiba ia bilang;
                aku akan tinggal disini malam ini. angin sedang sibuk mengantar dendam
pada seseorang. aku takut pulang sendirian. apa kau punya tempayan?

aku hanya punya sebuah kolam
tak terlalu besar memang
tapi kurasa cukup untuk sekedar membuatmu rehat sebentar
di samping kamar, di bawah jendela yang beratap teritisan
kau bisa bermain bersama ikan-ikan
juga berhelai-helai daun durian yang berguguran –aku belum sempat bersihkan, maaf-

tak tampak mata
hanya senyum
sepenuh wajah sepenuh senyum
perempuan yang kunamakan hujan tersenyum melihat kolam
berlarian mengejar ikan
menari bersama guguran daun durian

ooo

aku selalu membiarkan jendela terbuka ketika hujan
; angin. karena anginnya membawa aroma kerinduan
; lalu bau hujan
; kemudian kolam di bawah teritisan

ooo

sudah berapa lama hujan ini datang?

(aku mendapati diriku menatap jendela yang terbuka selama hujan datang. airnya jatuh memenuhi kolam di samping jendela. ikan-ikan berlarian, terkadang bersembunyi di bawah daun durian yang gugur dan dengan kebetulan atau tidak, jatuh ke kolam. dua hari belum kubersihkan...)

Natar, 18 November 2014

Baca juga : Kita dan Hujan Yang Datang

23 Agustus 2014

KETIKA HUJAN

Dan hujan memang begitu indah ketika derainya membawa kita pada lamunan masa lalu
sebagai kenangan yang tak mungkin bisa kita lupa
bahkan untuk menutupnya dengan cerita baru yang kita karang
tidak, laila
demi siapapun yang kau percayai,
aku selalu menunggu hujan setiap kali menatap jendela kaca di sudut ruangan
bertumpuk-tumpuk buku
musik yang mengalun

tidak, laila
aku terpenjara oleh kata-katamu
aku terkubur dalam ceritamu
dan tanpa sadar, aku begitu menunggumu

laila...
lalu, kapankah waktu itu bisa melebur bersama kisah-kisahku
untuk kemudian jadi bagian sejarah hidupku
sebagai cerita untuk anak cucuku

ah, laila
terlalu jauh angan-anganku

Natar, 23 Agustus 2014 

08 Agustus 2014

MANTRA KEMBALI

: fa

Rasanya aku merindukanmu, fa
Rasanya kehilangan ini semakin menjadi
Aku begitu ingat dulu ketika kita masih jadi pengembara dalam rimba kata-kata
Kau selalu menertawakan puisiku
Aku selalu mempertanyakan sajakmu
Lalu kita sama-sama diam
Mengheningkan suasana

Apakah kita saling jatuh cinta, fa?

Aku merasa sendiri disini
Saat kutahu kau menemui Palembang lagi, dan saat kata-katamu kau tebarkan bersama puisi
“tak ada lagi teman”
Mengapa aku merasa seperti kamu?


Pikiranku melayang lagi ke waktu yang lalu
Palembang
Puisi
Guguran daun
Rianaian hujan
tawa
patah hati

seperti puzzle aku menyusun ulang kepingan-kepingan itu
jadi satu
dan aku begitu terpana
puzzle jadi satu mantra
kembalilah, fa
maka aku pun kan kembali
kita sama-sama kembali
jadi puisi
jadi guguran daun
jadi rinaian hujan
jadi galaksi dengan berjuta bintang

                                                                                                                                Natar, 18 Maret 2014

25 Juli 2014

AURORA

: fa

Kau bilang ada ribuan tekad untuk mencintaiku selalu
juga mimpi-mimpi yang berloncatan dalam tidurmu
mimpi tentang asa yang mengangkasa
terajut dalam doa-doa panjang sebagai selimut tidur malammu

aku tertawa
entah, tapi memang terasa lucu
apakah masa lalu terlalu indah untuk sekedar dijadikan puisi dalam buku-bukumu?
atau memang kita yang terlanjur terikat oleh sesuatu yang kita pun tak tahu apa itu

tapi, fa
aku tersentak kau kirimkan sajak pendek itu siang kemarin
sementara kita sudah terpaut jarak dan waktu
juga oleh sumpahmu di hadapan tuhanmu

betapa waktu telah beranjak sekian lama
dan kita terlalu larut pada entah apa

sudahlah, fa
entah siapa yang terlambat menyadari
atau entah siapa yang terlalu dini mengakui

toh kita tetap bisa menatap hujan di jendela
dan mengabadikannya lewat untaian kata
untuk kemudian meminta angin mengirimkannya

18 Juli 2014

LAMUNAN BIRU

 : bq

Aku suka senyummu
pada kali pertama kita bertemu
di suatu tempat
di suatu waktu
dan kita bicara
ringan saja
seperti seorang teman yang sudah pernah berjumpa sebelumnya
kau dengan lagu-lagumu
dan aku dengan buku-bukuku

aku suka matamu
pada kali pertama kita bertemu
matamu berisyarat
menakar seperti apa diriku
menuruti instingmu
atau mencerna pikiranmu
kau dengan cerita-ceritamu
dan aku dengan anggukan-anggukanku

aku suka gayamu
pada kali pertama kita bertemu
menelusuri isi kepalamu
aku seperti petualang baru yang tak tahu peta tak tahu waktu
kadang bisa mengikutimu
sering tertinggal karena ketinggian bahasamu

tapi aku tak suka ketika akhirnya harus mengakhiri sore itu
dan aku sendiri berdiri menatapmu dari jauh
seperti kamu
menakar dengan pikiran dan perasaanku
apa esok masih sama
seperti suatu waktu sebelum pertemuan itu
seperti kali pertama kau hanya kenal namaku

 Natar, 17 Juli 2014 


28 Maret 2013

Pentasbihan Kerinduan

                        : dinda


Kutemui setiap bintang di langit malam, dinda
bertanya apakah ada bias wajahmu disana
katanya,
temuilah pagi esok hari

lalu kutemui setiap embun yang menapaki pagi
lagi-lagi bertanya apakah ada senyummu yang terbingkai disana
katanya,
nanti kupoles dulu dengan kilauan sinar mentari

maka kutemui mentari yang merangkaki hari
tak bosan bertanya apakah ada potongan tawamu yang ia bawa
katanya,
masih kuhias dengan rona jingga milik senja

beruntung masih kutemui senja yang datang terlalu lama
tak habis bertanya apakah ada dirimu yang ia sembunyikan dariku
bukan jawaban yang aku terima seperti bintang, embun, atau mentari sebelumnya
katanya,
mengapa harus menunggunya di waktu gemintang mengerlip terang, atau embun mengilau silau, atau mentari menerik hari, atau jingga mewarnai senja?
bukankah ia turut dalam setiap untai doa yang kau kalungkan di tubuh malam, pagi, siang, dan senja?

duhai, dinda
tak usahlah lagi menjelma sebagai bayangan yang mengisi seluruh ruang tanpa pernah memberiku kesempatan untuk bertanya kapankah pertemuan itu nyata untuk kita
sebab seperti gelombang saja rasa yang ada
mencarimu, menantimu dalam tiap pentasbihan akan kerinduan
tak kah kau rasa?

Natar, 9 Maret 2013

22 Maret 2013

SELEPAS HUJAN

            : nirmala


Ada wangi tanah basah selepas hujan di beranda

sudah sepekan, tapi tak kunjung hilang

juga ada guguran daun yang belum sempat kau bersihkan

masih sama di bawah cemara

entah, tapi indraku memang menangkapnya demikian

 

lalu bias senyummu dalam bayangan rembulan ketika malam tiba

apakah kau patri aku dengan sudut matamu, nirmala?

hingga tak habis malam-malamku dengan lamunan akan pertemuan kita

sudah sepekan, dan masih ada dalam ingatan

***

 

hujan belum juga reda kala itu

ketika kita telah sampai menghitung rinai-rinai yang jatuh dari langit abu-abu

kau sempat bertanya,

            -apakah kau lelah menghitung hujan bersamaku, rama?-

dan aku terpaku

kehabisan kata untuk sekedar menjawab

            -tidak, nirmala-

sebab matamu telah membekukan duniaku

 

aku begitu canggung ketika kau biarkan waktu merayapi kita dalam kesenyapan yang tiba-tiba

serupa begitu asing pertemuan kita

seperti waktu yang tak kenal jeda

seperti pagi yang tak mampu berlari, lupa akan senja yang akan ada

 

hingga pada akhirnya aku mengerti

kita sedang mendengar hujan bernyanyi

dan melupakan sedih pedih

seperti juga matahari

menanti pagi untuk bisa terbit kembali

            -kalau begitu, rama, apakah hujan bisa memberi kita kekuatan hanya dengan mendengar mereka bernyanyi?-

dan aku masih tak juga menemukan kata untuk sekedar menjawab

            -mungkin, nirmala-

sebab ada yang tersisa dari perjalanan panjang kita selama ini

: cintamu

yang tak bisa kau sembunyikan di setiap perjumpaan

yang tak bisa aku hapuskan di setiap kediaman

yang tak bisa kita lukiskan lewat nyanyian

***
 

maka selepas hujan kali ini,

masih ada wangi tanah basah di beranda

juga ada guguran daun yang belum sempat kau bersihkan

sudah sepekan, tapi tetap tertinggal dalam ingatan

 

Natar, 7 Maret 2013

# Dimuat di Lampost, 17 Maret 2013 :D

19 November 2012

Rapalan Doa

Aku masih saja merapal doa yang kuuntai sejak beberapa minggu yang lalu
doa-doa itu kian waktu kian bertambah kuat ikatannya, seakan ada sesuatu yang magis dan tak pernah ku tahu dari mana asalnya
doa-doa itu kian waktu kian panjang jua untaiannya, seolah tak pernah habis benang diulur untuk mengikatnya dari ujung ke ujung

dan aku masih saja merapal doa diam-diam
diantara kerumunan orang yang menjajakan mantra nan pekat

11 April 2012

Narasi Rindu : Seli


: seli


Hujan lagi. Apakah peri-peri yang terbang bersama rintik hujan itu tak melihat ada hujan yang lebih gerimis di hatiku? Mengapa mereka tak mengalah saja dan membiarkan ruang hatiku terbanjiri oleh berliter-liter air mata yang jatuh.

Disini, ingin sekali mengatakan aku merindu. Sangat. Sungguh. Dengan segala rasa yang mungkin belum pernah terlahir sebagai ucapan atau untaian kata dalam berlembar-lembar kertas puisi. Begitu sendu. Seperti mendung.

Gigil yang perlahan meresapi setiap kali desahan nafas berlalu. Beginikah rasanya terkepung oleh kerinduan yang pekat? Ini rindu makin kelabu saja. Entah akan terpecah seperti arakan awan tempat bernaung peri-peri hujan, ataukah makin menggumpalkan hitam mendung hingga jadi jelaga.

Palembang, 21 Maret 2011



# ini puisi dibuat satu tahun lalu, pas buka-buka file ketemu ini, posting aja :D
sekedar informasi, puisi ini juga pernah dimuat di Horison Online lho, hehe  (http://horisononline.or.id/puisi/narasi-rindu) gak penting ya promosi ini, wkwkwk

Baca juga : Kenangan


08 Desember 2010

BELAJAR MENCINTAIMU


: kepada awan


Aku belajar mencintaimu seperti mentari belajar mencintai hujan
aku belajar menyayangimu seperti embun belajar menyayangi pagi
aku belajar merindukanmu seperti senja belajar merindukan fajar

bukan tak ingin memiliki rasa yang sama denganmu
rasa yang kau titipkan di beranda ruang hatiku beberapa waktu yang lalu

aku ingin kau jadi air
yang melubangi sedikit demi sedikit batu dalam hatiku
hingga batu itu lebur dan jadi keping-keping asa
: kau bilang itu cinta

aku ingin kau jadi angin
yang menggerakkan sayap-sayap hatiku
hingga aku bisa kembali mengudara, menjelajah taman yang kau tata dalam benakmu
: kau bilang itu taman cinta

aku ingin kau jadi candu
yang mengobati luka hatiku
hingga perih ini sembuh dan aku bisa lengkungkan senyum di bibirku
: kau bilang itu senyum cinta

aku hanya butuh waktu, kanda
hingga hati ini luluh
hingga luka ini sembuh

Palembang, 25 Oktober 2010

02 Oktober 2010

BAHASA KITA

: Rindu


Apa kabarmu, rama?
Dari beranda rumahku, hujan mulai menyapa
Sama seperti senja kala itu
Ketika masing-masing kita hanya punya satu bahasa
: kau bilang itu cinta

Bagiku, rama
Kita hanya bisa melafalkan cinta tanpa pernah bisa menerjemahkannya
Sama seperti hujan kali ini
Kita hanya bisa merasakannya sebagai luruhan doa-doa
Tanpa pernah bisa menerjemahkan tiap rintik yang jatuh di gigil daun dan pucuk rumput

Apa kabarmu, rama?
Dari beranda rumahku, hujan mulai menyapa
Sama seperti senja kala itu
Tapi kini kita punya dua bahasa
: cinta
: rindu


Palembang, 25 Juni 2010

MERINDUMU

Ran


Merindumu, Ran,
adalah denyut yang tak pernah hilang dari nadiku
kau mungkin tak pernah tahu
aku telah mengenali hujan dari matamu yang basah sore itu
ketika ku bilang jangan pernah merinduku untuk satu masa setelah ini
aku tak berani menatap mata yang bening sebagai telaga pada wajahmu
sungguh
merindumu, ran,
adalah sebuah nafas yang kini mulai tersendat sebab air mata yang menyesakkan

merindumu, ran,
adalah butir-butir doa yang kukumpulkan tiap detik waktu
kau mungkin tak pernah tahu
aku telah memahat wajahmu di sekeliling dinding yang mengungkungku kian dalam tiap detiknya
dinding senyap yang makin beku tanpa tawamu

merindumu, ran,
adalah malam-malam lambat yang terasa diam menjangkau pagi
kau mungkin tak pernah tahu
aku telah menganggapmu pagi yang menebarkan embun pada tiap helai daun dan kelopak bunga ilalang

merindumu, ran,
adalah air mata yang kian menggumpal di pelupuk mata
entah sampai kapan akan tertuang


Palembang, 6 Juli 2010

13 April 2010

JANGAN PERNAH RESAHKAN HUJAN

Untuk apa resahkan hujan yang datang di halaman, dinda?
bukan itu yang membuatku tak datang menemuimu senja ini
aku hanya takut tak mampu pejamkan mata malam nanti
sebab senyummu pasti akan mampu memenuhi tak hanya halaman hatiku, tapi juga seluruh ruang dalam ingatanku



kau tak pernah tahu bagaimana aku menyembunyikan getar yang tak tahu lagi
bisa kusebut apa setiap kali
aku menjumpaimu di beranda rumah
bahkan sejak kakiku menjejak di halaman yang rumputnya selalu basah
karena hujan

maka jangan resahkan hujan yang datang di halaman rumah, dinda
sebab ia bisa menjadi teman ketika aku tak jadi datang
menjadi lagu ketika harimu dirayu sendu


Natar, Februari 2010

31 Maret 2010

HUJAN DAN MATAMU


Hanya hujan, dinda

yang kelak bisa mengingatkanku pada matamu

sebab hujan yang berderai di halaman rumah senja itu

adalah hujan dari matamu

Natar, 26 Februari 2010

SEPOTONG SENJA UNTUK KAU


Tunggulah kau disana,

ku kan ambil senja sepotongnya

kan kuantar ke tempatmu berada

sebagai pelepas lelah sehabis kerja

tunggulah kau disana

nanti kita lahap sepotong senja bersama-sama

Natar, 4 Agustus 2009

04 Maret 2010

INI RUMAH KITA


: Adhitya


Ini rumah kita, Adhitya
tempat dulu cinta melahirkan kita dalam selimut sejarah
lalu membesarkan kita dalam asuhan katakata
dan mendewasakan kita dengan berjuta kisah

ini rumah kita, Adhitya
tempat kita menuang air mata ke dalam mangkuk-mangkuk cerita
ketika tak lagi ada obat untuk tawarkan duka
tempat kita mengobati luka dengan bahasa
ketika cinta ternyata mampu mengkhianati kita

ini rumah kita, Adhitya
tempat bunda selalu ajarkan berbagi rasa
tempat ayah selalu tunjukkan bahwa kita bisa

ini rumah kita, Adhitya
tempat dulu kita diberi nama:
Cinta

Natar, 3 Maret 2010