Halaman

30 Agustus 2018

Cerita Sibuk Saya yang Asik Tanpa Toxic

Saya ini banyak sukanya. Suka jalan kaki, suka baca buku, suka crafting, suka jalan-jalan, suka nyanyi-nyanyi walaupun suara gak banget, suka ngoceh sendiri juga kalau gak ada teman ngobrol, hehe. Saking banyak sukanya, saya malah kadang sampai pusing sendiri mau mengerjakan apa duluan. Pengennya apa-apa dikerjakan. Apalagi kalau sudah hari libur dan gak ada kegiatan di luar. 

Ada yang bilang saya ini orang sibuk, sampai-sampai untuk main ke rumah saudara pun jarang sekali. Aduh rasanya saya tersentil dengan omongan itu. Seandainya mereka tahu gimana padatnya kegiatan saya, mungkin mereka akan ngangguk-ngangguk dan ber-o ria. Sebagai pekerja perempuan yang waktu kerjanya dari Senin sampai Sabtu dan hanya libur sehari di hari Minggu, sudah pasti akan banyak waktu habis di tempat kerja. Selebihnya di hari libur yang hanya sehari itu, harus dibagi-bagi antara waktu berkunjung ke rumah orang tua, ke rumah mertua, kadang jenguk teman lahiran, seringnya kondangan, rutinitas arisan keluarga, dan waktu beberes rumah. Ini belum waktu untuk menyendiri atau hanya berduaan saja dengan suami ya, hehe.

Baca juga : Catatan Harian

Tapi begitulah ritme keseharian saya. Patut disyukuri karena ternyata masih ada banyak hal yang ingin saya kerjakan. Karena kalau saya merasa tidak ada lagi hal yang menarik atau tidak ada lagi hal-hal yang membuat saya bergerak, itu tandanya saya sudah bosan hidup mungkin, hehe. Bersyukur juga karena sampai saat ini saya dikaruniai kondisi fisik yang tidak mudah sakit. Paling-paling kalau sudah terlalu lelah ya sakit kepala atau flu, atau yang paling parah saya mudah mengantuk.

Beberapa waktu lalu, saya sering sekali mengantuk. Pukul 10.00 pagi pun rasanya mata ini berat menatap komputer di meja kerja. Saya mencoba berjalan keluar ruangan untuk menyapa teman kerja sekadar menghilangkan kantuk. Berhasil sih sebentar. Tapi, ketika saya kembali ke meja kerja beberapa waktu kemudian, serangan kantuk kembali melanda. Tidak mungkin kan saya tidur di waktu kerja?

Dari referensi yang saya dapat, rupanya rasa cepat mengantuk di siang hari itu adalah salah satu tanda tubuh sedang tidak baik, sedang terserang racun. Wow! Masa sih? Saya kan bukan pekerja lapangan?

Eits, saya salah sangka. Pekerja kantoran pun rentan juga terpapar racun dari beberapa hal ini :

1.   Polusi udara
Memang benar yang ini, mengingat setiap pagi sore saya mengendarai motor melewati jalan raya yang penuh asap kendaraan dan debu. Kadang juga pekerjaan menuntut saya untuk pergi keluar kantor menemui beberapa perusahaan yang otomatis saya akan kembali terserang polusi udara juga.
2.   Stress karena pekerjaan
Rupanya stress ini juga bisa menyebabkan ketidakseimbangan hormon dalam tubuh sehingga metabolisme pun terganggu. Untuk yang satu ini, benar juga. Bekerja di bidang jasa memang tidak selalu banyak sukanya, dukanya pun pasti ada. Komplain dari tamu (waktu itu pernah tengah malam pun ditelpon tamu hanya gara-gara hal sepele, uh!), pekerjaan yang menumpuk, atau terbawa perasaan sesama rekan kerja (apalagi kalau sedang masa PMS), hihi. Kalau kondisi tubuh terganggu, sudah pasti racun-racun dari lingkungan luar pun akan mudah sekali menyerang.
3.   Udara yang tidak segar
Bekerja di dalam ruangan ber-AC memang nyaman, sejuk, dan jarang keluar keringat. Tapi rupanya hal inilah yang seringkali menyebabkan saya lupa untuk minum air putih, tidak banyak bergerak, dan menghirup udara yang hanya berputar di ruangan itu saja (ruangan saya gak ada jendelanya, hiks!).
4.   Kurang olah raga
Jelas saja kalau kurang olahraga, ditambah tidak banyak bergerak ketika bekerja, ditambah stress, lengkap untuk membuat tubuh rentan diserang racun-racun. 
5.   Jarang makan buah
Saya ini termasuk yang pilih-pilih buah dan sering moody kalau suruh makan buah. Jadi, bertambahlah satu pintu bagi racun untuk memasuki tubuh saya.

Dari situ, saya mencoba untuk mengembalikan kondisi tubuh untuk sehat, paling tidak tetap fit selama aktivitas saya padat setiap harinya. Ada beberapa hal yang biasanya saya lakukan untuk mempertahankan kondisi tubuh tetap fit. Tentunya, bukan saja dari asupan makanan, tetapi juga dari pikiran.

Pertama, biasanya saya akan mulai mensugesti diri saya sendiri dengan berfikir dan merasa positif. Positive thinking, positive feeling. Ini manjur lho, setidaknya saya seperti berbicara pada alam bawah sadar saya tentang bagaimana seharusnya menjalani ritme kehidupan yang serba cepat dan seperti tidak berhenti berlari ini.

Kata orang, kalau pikiran kita dipenuhi oleh hal yang negatif, maka tubuh kita pun akan beresonansi hingga yang ditimbulkan juga akan negatif. Seperti bahasa alam begitu, jadi kalau mau tubuh kita tetap sehat, ya berfikir dan merasa positif saja. Bagi saya, dua hal ini yang bisa meredakan stress saya kalau sedang ada masalah.

Saya juga suka mengajak suami untuk jalan pagi sambil bercerita di hari Minggu. Gak jauh-jauh sih, paling di sekitaran komplek atau ke depan gang sambil cari nasi uduk hihi. Jalan pagi berdua begini, cukup untuk membuat pikiran saya kembali segar. Apalagi kalau di jalan ketemu dengan tetangga dan saling sapa.

Percaya atau tidak, kadang bercerita dengan orang lain bisa mengurangi stress lho. Saya begitu, entah akan bercerita dengan suami, atau bercerita pada buku diary (ups!), atau cerita ke teman. Seringnya ini berhasil membuat saya lega walaupun saya tidak harus mendengar nasihat atau apapun dari pendengar saya. Kalau tidak ada masalah rumit, saya juga bercerita tentang apa saja dengan suami saya. Intinya ya membuat semacam obrolan yang ringan.

Nah kalau sudah jenuh bagaimana? Adakalanya memang kejenuhan bisa melanda di sela-sela rutinitas saya. Wajar lah ya, sebagai manusia biasa dan bukan robot yang diatur untuk selalu mengerjakan apapun secara terus-menerus, saya kadang merasa lelah. Kalau sudah begitu, saya memilih untuk melakukan hal-hal yang saya sukai, semisal crafting, atau foto-foto. Atau ketika hari libur, saya pilih doing nothing di rumah. Golar goler menikmati angin semilir dari jendela tanpa peduli setrikaan numpuk, haha.
Seringnya kalau sudah doing nothing gini, suami suka minta buatin minuman yang segar-segar. Paling sederhana ya minuman dingin yang ada rasanya. Karena minuman yang ada rasanya itu kebanyakan adalah sirup plus es batu, jadi saya suka agak gimana gitu. Secara, niatnya mau mengembalikan kondisi tubuh untuk kembali segar, tapi malah jadi gak sehat kan lucu.

Jadi saya beralih untuk buat infused water. Tetap berasa kan? Dan tetap dingin, plus sehat pula. Minusnya cuma gak manis aja, hehe. Biasanya saya buat dari buah lemon biar rasanya segar.

Bicara soal buah lemon, sudah beberapa bulan ini saya suka sama buah ini. Tentu vitamin C yang terkandung di dalamnya bisa menjaga kekebalan tubuh dan mencegah racun dan zat-zat tidak baik masuk dalam tubuh. Saya suka menyeduh teh dengan irisan buah ini. Kalau suami malah suka menyeduh lemon langsung tanpa teh. Aromanya pas dibelah itu, serasa bisa menyemangati aktivitas saya.

Ngeteh lemon sambil ngemil sambil baca buku
Karena stok lemon di kulkas habis, kemarin sepulang kerja saya mampir ke swalayan untuk cari itu lemon. Alih-alih ketemu lemon beneran, eh saya malah nemu minuman madu lemon. Namanya Natsbee Honey Lemon.

Dari segi tampilan, lolos di mata saya, hehe. Jujur ya, saya gak terlalu suka dengan minuman yang warnanya terlalu mencolok. Keliatan seger banget sih, tapi saya ragu dengan kandungan zat warnanya. Nah, Natsbee Honey Lemon ini warnanya kuning pucat, persis warna air lemon yang biasa saya seduh untuk suami. Kebetulan kemarin itu juga panas dan gerah, jadi kayaknya sih seger banget ya minum ini. Aslinya sih penasaran juga gimana rasanya, karena memang sebelumnya belum pernah cobain minuman ini. Ini produk baru atau saya yang ketinggalan ya wkwk.


Saya coba setelah sampai di rumah. Iya bener seger, gak pakai bohong. Rasanya alami madu dan lemon yang gak terlalu manis. Cukup untuk mengurangi kegerahan selepas menjalani ritme kehidupan saya yang cukup padat. Jadi agak nyesel cuma beli satu botol, hehe.


Kalau ada yang tanya ini minuman apa, saya kasih tahu sedikit (gak banyak-banyak biar penasaran kayak saya kemarin). Natsbee ini minuman madu lemon yang dikemas praktis untuk membantu menyegarkan kembali tubuh dan pikiran di sela-sela aktivitas yang padat. Minuman ini produksi Pokka Sapporo, lisensinya dari Jepang. Setelah baca-baca, rupanya minuman ini punya beberapa keunggulan :

http://sg.pokka.co/products/juice/natsbee-honey-lemon-juice-drink/
1. Minuman ini mengandung vitamin C alami dari buah lemon yang kaya manfaat
2. Ada madu aslinya untuk menenangkan setelah seharian padat aktivitas
3. Tidak mengandung zat pewarna dan pengawet
4. Bersertifikat halal dari MUI

Alhamdulillah halal

Karena kemasannya praktis dan rasanya juga gak terlalu asam seperti kebanyakan minuman yang disebut-sebut mengandung vitamin C, jadi bisa banget untuk menyegarkan hari-hari saya yang riweh dan menghilangkan racun serta zat-zat tidak baik yang sudah terlanjur masuk dalam tubuh saya. Ini mah cara #asiktanpatoxic yang beneran praktis menurut saya.

Btw, saya nulis ini sambil ditemani Natsbee yang tinggal sedikit di botol. Beneran bertanya dalam hati, kenapa cuma beli 1 tadi, haha. Nulisnya malem karena dari pagi sampai sore gak sempat. Dan nulisnya juga setelah kerjaan di rumah beres. Selesai nyuci baju, selesai buat rendang (masih edisi lebahan haji dan baru pertama kali masak rendang sendiri, hehe), selesai siapin makan malam. Padat ya aktivitasnya? Disyukuri saja. Ada Natsbee Honey Lemon ini temannya. Sudah dapat segarnya, dapat manfaatnya juga.

Oke, ceritanya sampai sini dulu ya. Enjoy your life, see you next time!

20 Agustus 2018

Drama Mama Papa Muda - Resensi Untuk Bacaan Soremu

Judul                      : Drama Mama Papa Muda
Penulis                        : Pungky Prayitno dan Topan Pramukti
Penerbit                 : Laksana
Tahun Terbit           : 2018
Jumlah Halaman      : 232
Jenis cover              : Soft cover


Setelah kemarin saya merekomendasikan buku Indahnya Jika Dipanggil Bunda, kali ini ada buku lanjutan untuk melengkapi bacaan sore para bunda (sangat bisa juga untuk ayah). Judulnya Drama Mama Papa Muda. Dari judulnya saja sudah kebayang ya apa yang akan diceritakan?

Yup! Buku ini menceritakan potongan-potongan kisah sepasang suami istri yang dikaruniai seorang anak. Mereka masih muda, karena memang memilih menikah di usia muda. Wih, berani ya? Mungkin sebagian orang menganggap menikah muda akan menghilangkan masa depan perempuan karena pasti hari-hari setelah menikah dihabiskan untuk mengurus rumah tangga. Tapi, rupanya tidak untuk penulis buku ini.

Ditulis oleh Pungky Prayitno dan Topan Pramukti yang merupakan pasangan suami istri (yang artinya ada dua isi kepala yang menyusun buku ini), buku ini memberikan gambaran realitas yang mereka rasakan karena menikah muda. Menyenangkan, membuat jatuh air mata, mengharukan, dan sederet perasaan lainnya. Salah satu hal yang membuat saya lebih mudah memahami, adalah cara penceritaan yang tidak menggurui sama sekali. Memang apa yang mereka tulis adalah pengalaman sendiri, tapi bagi mereka tidak untuk menggurui.

Buku ini dibagi menjadi tiga bagian yang masing-masing bagian menceritakan hal-hal yang berkaitan. Misalnya bagian pertama tentang bagaimana mereka melewati masa-masa awal menikah hingga memiliki seorang anak. Lalu bagian lain tentang harapan-harapan mereka pada buah hatinya itu. Kemudian bagian lain bercerita tentang pola pengasuhan mereka.

Ada satu bagian yang menurut saya belum banyak orang menngetahuinya, yaitu Postpartum Depression (PPD). Satu sindrom yang bisa dialami oleh beberapa perempuan yang baru saja memiliki anak. Saya juga termasuk yang belum tahu sampai saya baca buku ini. Bagian ini bisa dibilang mengambil perhatian saya karena memang ditulis dari dua sudut pandang. Dari sisi Pungky Prayitno sebagai seorang istri yang mengalami PPD, dan dari sisi Topan Pramukti sebagai seseorang yang hidup bersama istri yang mengalami sindrom.

Dari tulisan mereka, saya disuguhkan pikiran-pikiran yang terkadang malah berbanding terbalik dengan pikiran orang-orang pada umumnya. Tetapi jika ditelaah lebih dalam, akan ada beberapa hal yang nyatanya memang harus seperti itu. Saya kutipkan sebuah paragraf ya.

JANGAN PINTAR, JANGAN SOLEH, JANGAN BERGUNA BAGI NUSA BANGSA

Hari ini, genap empat tahun kamu hidup di dunia. Sama seperti ayah-ayah di keluarga lain, bapak juga punya ucapan, doa, atau sebut saja harapan. Ada tiga, semoga kamu mengamini semuanya.

Satu, bapak nggak ingin kamu jadi anak pintar. Kenapa? Karena pintar sekarang ini diukur dengan ijazah S1, S2, atau S3. Sehelai kertas yang menjadi pembuktian bahwa kamu telah merampungi studi. Pintar sekarang, adalah meraih gelar tanpa mendapatkan pengetahuan dari disiplin ilmu yang kamu pelajari. Pintar sekarang adalah sarjana pendidikan bahasa Inggris yang nonton film Hollywood harus pakai subtitle Indonesia. 

Dari judulnya saja, saya sudah penasaran. Ada apa gerangan? Kenapa sang Bapak malah melarang anaknya menjadi pintar, soleh, dan berguna bagi nusa bangsa? Tapi, ketika saya membacanya sampai akhir, saya pun mengerti alasannya. Juga, saya mengerti lebih dalam apa sesungguhnya arti pintar, soleh, dan berguna bagi nusa bangsa menurut sang Bapak.

Satu hal yang saya ambil kesimpulan setelah membaca buku ini adalah, sebuah sikap saling menghargai orang lain. Apapun keputusan orang lain, hargailah. Orang lain bukan kita. Kita pun bukan orang lain. Maka, cara yang tepat adalah mencoba untuk memandang tidak hanya dari satu sisi saja, tapi dari banyak sisi hingga didapat kesimpulan yang benar.

Oke, resensi kali ini singkat aja ya. Buku ini recomended deh untuk para pasangan yang baru menikah. Siapa tahu bisa ambil inspirasi dari cerita mereka. See you next time!

Baca juga : Bagaimana Rasanya Jadi Ibu?

16 Agustus 2018

3rd Anniversary : Wedding Anniversary Gaya Saya

Ada banyak cara untuk mengungkapkan perasaan bahagia di hari-hari spesial semisal ulang tahun, wisuda, atau peringatan pernikahan. Sebagian memilih merayakannya dengan mewah, mengundang banyak teman dan saudara. Sebagian lagi memilih untuk diam-diam saja seolah tidak terjadi apa-apa. Sebagian lain lagi memilih merayakannya dengan berdoa dengan keluarga saja. Saya memilih pilihan yang terakhir.

Saya sebenarnya termasuk orang yang tidak terlalu suka perayaan besar. Ribet! Hehe. Saya lebih memilih yang simpel tapi bermakna untuk saya, dan... pastinya membahagiakan minimal untuk saya sendiri. 

Kemarin, 15 Agustus adalah hari pernikahan saya. Sudah tiga tahun rupanya, dan saya seolah merasa baru kemarin menjadi istri suami saya, haha. Biasanya, saya membuat perayaan kecil untuk anniversary kami ini. Sekadar buat kue dan dimakan ramean sekeluarga, atau kami makan diluar berdua. Untuk dokumentasi, biasanya saya yang rajin, sampai-sampai kuenya gak boleh dimakan sebelum jadi model haha.

Kebiasaan yang kedua adalah membuat slide foto dari awal pernikahan kami, sampai saat ini. Jadi setiap tanggal 15, saya rajin narik suami saya untuk foto berdua. Gak mesti tepat di tanggal 15 sih, karena kadang ada saja yang buat gak bisa foto. Jadi setidaknya gak jauh-jauh lah dari tanggal itu. Sampai sekarang, foto-foto di tanggal 15 setiap bulannya, sudah bisa dihitung kan? Belum lagi foto berdua diluar tanggal itu.

Waktu tahun pertama itu, karena fotonya baru dua belas biji, jadi saya gabung dengan foto lain yang pas berdua. Akhirnya jadi juga sih, bisa diliat disini. Untuk tahun kedua juga begitu, saya buat dokumentasi yang kali itu sudah lumayan banyak fotonya. Ada disini.

Nah, tahun ketiga ini, rupanya fotonya pas banget sama lamanya musik pengiring. Jadi, gak ada tambahan foto diluar pertengahan bulan. Jadinya kayak gini, hehe.




Itu buatnya pakai Filmora, rekomendasi dari adik saya. Lumayan bagus, bisa dikasih ornamen macem-macem. Tapi berhubung buatnya mepet trus juga pas selesai jam kerja sambil nunggu jemputan suami, jadi gak bisa explore yang lain-lain.

ooo

Oia, beberapa hari sebelum tanggal 15, saya iseng aja tanya ke suami. Lebih ke permintaan sih sebenarnya.

"Besok tanggal 15 mau kasih apa?"
"Hm, ngasih apa?"
"Buat surat cinta aja untuk aku."

Haha, saya ngakak setelah mengajukan permintaan itu. Saya tahu suami saya bukan laki-laki romantis yang apa-apa harus diungkapkan. Apa-apa harus pakai bunga dan cokelat. Bukan. Dia laki-laki yang menunjukkan perhatian dengan caranya sendiri. Cara yang lain, yang hanya saya yang bisa melihat dan merasakan perhatiannya (ini kedengaran melow dan dramatisir ya? Haha).

Dan benar saja, kemarin pun dia gak kasih saya surat cinta yang saya minta. Tapi, dia beli brownis mungil yang rencananya mau dipotong bareng keluarga di rumah orang tua saya. Alih-alih mau 'merayakan', kami malah pergi kondangan ke tempat saudara yang lumayan jauh dan pulang sudah hampir tengah malam. Akhirnya itu brownis nangkring di kulkas sampai pagi. Dan tau sendiri ya kalau pagi gak bisa punya acara pepotoan begitu. Jadi ya sudahlah.

Satu-satunya foto di anniversary yang ke 3 ini

Oia, sebenarnya saya punya surat cinta untuk suami saya, tapi belum selesai. Masih ada beberapa bagian yang mau saya sampaikan di surat itu. Mungkin besok atau beberapa hari lagi setelah selesai, akan saya kasih. Gak mau berharap banyak sih dia baca sampai selesai dan terharu dengan kata-kata saya, haha. Paling-paling juga sudah selesai ditaro aja di atas meja dan senyum gak jelas gitu. Tapi saya bahagia.

Saya bahagia melakukan hal-hal semacam ini. Saya tahu, mungkin sebagian orang bertanya untuk apa buat-buat begini. Tapi itulah kebahagiaan saya. Saya punya kenangan dalam kehidupan saya. Saya punya kenangan yang tertulis juga.

Bukankah setiap orang akan berbahagia menurut cara mereka sendiri? Jadi jangan paksakan orang lain untuk bahagia dengan carai pikir dan tolak ukur bahagia kita. Berbahagialah untuk dirimu sendiri dan bahagiakanlah orang lain dengan turut serta atas kebahagiaan mereka, minimal dengan senyuman dan doa.

Jadi bijak banget nih saya, haha. Baiklah, ceritanya sampai sini dulu aja ya. See you next time :-*

07 Agustus 2018

Bagaimana Rasanya Jadi Ibu?


Judul                          : Indahnya Jika Dipanggil Bunda
Penulis                       : Rosdiana Amalia, dkk.
Penerbit                     : Laksana
Tahun Terbit              : 2018
Jumlah Halaman       : 212
Jenis cover                : Soft cover




Saya paling suka mengunjungi toko bayi. Selalu ada yang saya bayangkan ketika melihat baju-baju imut dan lucu terpajang di etalase atau di boneka-bonekanya. Ya, saya membayangkan betapa cantiknya bayi perempuan saya memakai baju merah muda berpita atau betapa kerennya bayi laki-laki saya memakai tuksedo lucu dengan dasi pitanya. Saya selalu membayangkannya sambil tersenyum dan berlama-lama di depan baju-baju itu. Saya tak peduli dengan pramuniaga yang menatap saya beberapa kali. Itu kesenangan tersendiri untuk saya. Mungkin dalam hati mereka bertanya kenapa. Dan jawaban yang keluar dari dalam hati saya adalah, karena saya belum memiliki anak. (Bagaimana Rasanya Jadi Ibu? - Laela Awalia).


Jadi, bagaimana rasanya jadi ibu? Pertanyaan ini sampai saat ini masih jadi pertanyaan yang paling membuat saya penasaran. Mungkin juga jadi pertanyaan beberapa orang yang ikut menulis dalam buku Indahnya Jika Dipanggil Bunda ini.

Menjadi ibu adalah hal yang paling ditunggu oleh sebagian besar perempuan yang sudah menikah. Belum lengkap rasanya kalau belum ada janin yang tumbuh dalam rahim, belum merasakan beratnya membawa perut besar kemana-mana, dan belum merasakan sakit seperti tulang yang diremukkan dalam satu waktu. Menjadi ibu juga adalah hal yang membahagiakan dalam pikiran banyak perempuan. Segala cara ditempuh untuk bisa hamil, melahirkan, lalu dipanggil ibu.

Tetapi skenario Tuhan bisa jadi tidak sama dengan apa yang manusia rencanakan. Adakalanya harus menuggu begitu lama dengan cibiran sebagian orang. Adakalanya langsung diberi tetapi harus melewatinya dengan tekanan psikologis atau sakit terlebih dahulu. Atau adakalanya memang harus dengan penyerahan diri seutuhnya pada Tuhan yang Maha Berkehendak.

Berbagai cerita itulah yang dirangkum dalam buku ini. Sebagian sudah berhasil melewatinya, sebagian lagi masih harus menunggu dan berjuang demi melihat sepasang mata mungil yang akan menatap matanya pertama kali ketika ia dilahirkan. Kisah-kisah ringan tapi mengharukan sekaligus menginspirasi banyak perempuan.

Dari buku ini, pembaca pun diajak berbagi pikiran untuk bagaimana seharusnya merespon perempuan yang tidak kunjung memiliki anak. Karena memang bagi mereka, pertanyaan yang terdengar biasa saja, bisa jadi luar biasa dan menyudutkan apabila dilontarkan dengan cibiran dan membanding-bandingkan.

Saya sendiri terharu dengan beberapa cerita di dalamnya. Ikut merasakan bahagia ketika ia telah berhasil melewati masa-masa penantian panjang. Ikut meneteskan air mata ketika saya menemukan kisah yang belum selesai. Dan, ikut menertawakan diri sendiri ketika saya merasa yang paling menyedihkan padahal masih ada orang lain yang lebih berat ujiannya daripada saya.

Buku ini sangat bisa dijadikan hadiah bagi perempuan yang masih berjuang demi lahirnya sang buah hati. Dari segi fisik, buku ini menggunakan soft cover yang membuatnya ringkas dan bisa dibaca dimanapun. Kertas isi yang tidak terlalu putih membuat mata tidak cepat lelah.

Oke, selamat membaca ya! Oia, di buku itu juga ada tulisan saya lho (*gak penting ya, hihi)

Baca juga : Mencitrakan Presiden Dalam Mata SBY (Selalu Ada Pilihan)

05 Agustus 2018

Jalan Kaki dan Ocehan Gak Jelas Saya


Saya ini sukanya jalan kaki. Dari SMP dulu, sekolahnya kan lumayan jauh tuh dari jalan raya, ya saya jalan kaki sehabis turun dari angkot. Dulu mah, belum banyak anak-anak yang dianter sekolah sama orang tuanya. Gak kayak sekarang, jalan sedikit aja anaknya sudah bilang cape, males, panas. Waktu SMA saya juga begitu, jalan kaki masuk gang menuju sekolah. Kalau sekarang kan banyak anak SMA yang sudah pada bawa motor atau bahkan mobil sendiri. Trus, waktu SMA itu juga, saya sering kemana-mana jalan kaki.

Salah satu pose jalan kaki saya, haha
Pernah nih sama temen berdua, selepas dari ada acara talkshow atau apa waktu itu di SMA 3 Bandar Lampung, kami memutuskan untuk jalan kaki ke Gramedia! Gila gak tuh, jauh kan dari SMA 3 ke Gramed? Tapi kami jalan aja nembus-nembus gang sambil ngobrol cekakak cekikik walaupun malamnya pegel-pegel semua, haha.

Trus, waktu kuliah, saya pun masih belum punya kendaraan sendiri (walaupun punya juga, saya gak bisa). Untung gedung kuliah saya masih dekat sama halte tempat angkot-angkot berhenti, jadi saya gak terlalu jauh untuk jalan. Tapi, dari gedung kuliah ke perpus besar itu yang lumayan. Tapi ya saya tetep aja suka jalan kaki. Mau sendiri, berdua, atau ramean.

Pun ketika saya masih kerja di Palembang. Antara kosan dengan tempat kerja saya itu lumayan jauh, sekitar 20-25 menit jalan kaki standar. Waku itu belum ada ojek online yang siap kapan saja. Mau panggil ojek konvensional juga jauh karena mangkalnya di depan jalan raya. Jadi kosan saya tuh di tengah-tengah perum, yang kalau mau ke jalan depan lumayan jauh, jalan belakang lebih jauh lagi. Kalau teman kerja saya sempat jemput ya saya dijemput. Tapi kalau gak ya saya jalan kaki.

Ada banyak hal yang bisa saya lakukan selagi jalan kaki. Paling sering sih ngelamun sambil ngoceh sendiri dalam hati. Pernah sih, ngerekam ocehan sendiri pake MP4 yang dulu lagi hits. Tapi, jadi geli sendiri karena kalau ketemu orang disangkanya gila kali, hehe. Saya juga bisa memikirkan banyak hal sambil jalan. Tentang apa yang sudah dilalui sebelum ini atau apa yang akan dilakukan nanti. Inspirasi juga kerap datang ketika saya berjalan kaki.

OOO

Kemarin siang, saya juga jalan kaki selepas turun angkot menuju rumah. Iya kalau gak ada yang jemput begini, siang terik tapi harus jalan. Sudah dari pertama kali harus jalan, saya coba panggil ojek online, tapi selalu muter-muter aja tuh aplikasi cari driver. Entah memang daerah saya ini masih jarang ojek online atau babang ojeknya lagi istirahat siang, haha.

Untung ada payung jadi lumayanlah walaupun sampai rumah juga muka dan badan masih tetap panas dan berasa merah. Hitung-hitung juga olahraga. Kan selama saya kerja, saya kebanyakan duduk di depan komputer. Jadi biar ada sentuhan sehat-sehatnya ya jalan kaki. Gak tau sih ini jadi sehat atau malah buang-buang energi. Tapi saya menikmatinya. Walaupun sampai rumah langsung tepar depan kipas angin.

Dan, sepanjang jalan dari depan ke rumah tadi, saya memikirkan satu hal. Tadi supir angkotnya menolak pembayaran dari saya. Saya ceritain dari awal ya. Pas mau nyebrang jalan raya sebelum naik angkot, saya memang sudah lihat ada satu angkot di seberang. Cuma karena ketutup mobil truk besar dan sepertinya angkot itu juga sudah melaju, saya tunggu angkot yang lain aja. Ketika ada angkot lain dan saya sudah naik, tetiba, supir angkotnya bilang ke saya,

“Mbak, itu ada angkot di depan yang nungguin. Naik itu aja mba.”

Saya melongo dan pada akhirnya saya ikuti apa katanya. Sebab, perseteruan sesama supir angkot kerap terjadi dari hal kecil semacam ini. Rebutan penumpang. Daripada ribut, jadi saya turun dan naik angkot yang ternyata sudah nunggu saya di depan tadi. Dari awal saya naik sampai saya turun, saya gak begitu perhatian dengan supir. Sekali sih liat mukanya, sudah itu gak lagi dan gak berfikir apa-apa lagi.

Pas saya turun dan menyodorkan uang, dia tersenyum dan bilang, “Gak usah.”

Saya sedikit bengong dan meyakinkan bahwa saya mau bayar, tapi dia tetap nolak dan melajukan mobilnya. Sampai saya jalan kaki dan berfikir dia siapa. Apakah dia kenal saya tapi saya gak kenal? Atau apakah dia sedang baik hati hingga tidak menarik ongkos dari penumpangnya? Atau ada tampang kasihan di wajah saya? haha. Saya berfikir sambil jalan sampai akhirnya saya baru mengingat wajahnya. Dia teman SMA saya! Sungguh! Tapi saya lupa namanya, hehe. Maafkeun.. *sungkem.

Itu salah satu hal yang terfikir dari perjalanan kaki saya tadi siang selain ocehan-ocehan gak jelas dalam hati saya yang nantinya saya tuangkan dalam bentuk tulisan, haha.

Baca juga : Bandung Dalam Setapak