29 Oktober 2022

Hoax Busting And Literacy Privacy Melalui Blog

Garuda Indonesia Airlines is celebrating its 70th anniversary by giving away 2 free air tickets to 200 lucky customers. Click below link to claim yours now and fly with Garuda Indonesia Airlines.

McDonald’s Indonesia memberi setiap orang kupon gratis Rp 255.000,- Cepat, klik link berikut karena kupon terbatas!

Halo!

Apakah kalian pernah menerima salah satu pesan berantai seperti itu melalui Whatsapp? Apalagi pengirimnya menggunakan nomor yang tidak dikenal dan bukan dari akun resmi. Kalau pernah kemudian langsung mengabaikannya dan tidak meneruskan pesan ke pengguna lain, berarti kalian hebat. Yup! Karena kedua pesan berantai itu merupakan berita hoaks alias berita palsu yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.

Mirisnya, ternyata masih banyak lho pengguna whatsapp yang meneruskan pesan berantai itu dan mengklik link yang tertera. Padahal link yang dikirimkan tidak jarang berisi banyak iklan mengganggu atau bahkan hingga pencurian data.

Hoax Busting And Literacy Privacy Melalui Blog
Hoax Busting And Literacy Privacy Melalui Blog

Nah, sebagai upaya memberantas berita hoaks ini, Jawara Internet Sehat Lampung bekerja sama dengan Kominfo, mengadakan acara Workshop Literasi Digital bertema Hoax Busting & Literacy Privacy Melalui Blog.

Bertempat di aula ITBA DCC Bandarlampung, acara yang diselenggarakan pada Kamis, 27 Oktober 2022 ini mendapat antusiasme dari para pegiat literasi. Hadir pula Wakil Direktur 1 Bidang Akademik ITBA DCC Lampung, Akni Widiyastuti, dan Tenaga Ahli Diskominfotik Provinsi Lampung, M. Attan Saputra.

Pemateri yang dihadirkan juga sudah berkompeten di bidangnya, antara lain Aliy Hafiz dan Naqiyyah Syam. Aliy Hafiz merupakan Ketua Relawan TIK Bandar Lampung dan aktif di Jawara Internet Sehat Lampung. Sementara Naqiyyah Syam merupakan seorang penulis, blogger, dan trainer.

Hoaks dan Dampaknya

Menilik kembali cerita di awal tulisan ini, sebenarnya apa sih hoaks itu? Dan kenapa berita hoaks sering tersebar secara berantai melalui media sosial? Kali ini pemateri pertama Aliy Hafiz yang memaparkan panjang lebar di seminar ini.

Aliy Hafiz Jawara Internet Sehat
Aliy Hafiz dari Jawara Internet Sehat Lampung
(Sumber foto : Jawara Internet Sehat Lampung)

Hoaks sendiri didefinisakan sebagai tipuan yang berasal dari Thomas Ady dalam bukunya Candle In The Dark (1656) atau risalah sifat sihir dan penyihir. Istilah Hoaks ini sendiri mulai populer semenjak film The Hoax dirilis pada tahun 2006.

Jadi, hoaks adalah sebuah tipuan dan kebohongan yang menyamar sebagai kebenaran. Tidak heran sih kalau beberapa orang yang menerima pesan hoaks bisa langsung percaya karena dibungkus oleh iming-iming atau informasi yang menggiurkan. Bahkan di beberapa berita hoaks dibubuhkan informasi yang bersifat menakut-nakuti.

Saya jadi ingat dulu sekali, pesan hoaks berantai juga pernah sampai di tangan saya dan menyebar ke seisi kelas. Saat itu, saya masih kelas 3 atau 4 SD. Karena belum ada ponsel, apalagi aplikasi media sosial seperti sekarang, pesan berantai itu menyebar melalui selembar kertas fotokopian.

Isinya berupa cerita pengalaman mistis dan kejadian yang mengikutinya, hingga peringatan untuk menyebarluaskan pesan itu ke sejumlah kerabat. Untungnya edukasi dari ayah saya berhasil membuat saya tidak mempercayai pesan berantai yang entah darimana asalnya dan sama sekali tidak bisa dipertanggungjawabkan.

Kembali ke masa sekarang, ironis memang berita hoaks ini meliputi hampir semua kategori berita. Mulai dari kesehatan, pemerintahan, politik, fitnah, agama, pendidikan, hingga perdagangan.

Lalu, dampak berita hoaks seperti ini bagaimana ya? Yuk, coba kita baca beberapa pesan berantai yang sempat tersebar di media sosial ini.

Hati-hati jangan jajan yang pakai cabe bubuk, penuh penyakit dari kencing tikus. Kasusnya banyak yang meninggal karena penyakit difteri. Jangan jajan pakai cabe kering ya seperti cabe di tahu bulat, otak-otak, dsb. Pokoknya jangan pakai cabe bumbu kering.

Lagi sakit jangan makan es krim. Nanti tambah deman karena suhu es krim yang dingin dapat memperparah sakit yang diderita.

Kalau dilihat sepintas memang informasi yang disebar ini tampaknya benar ya. Tapi, setelah dicek faktanya, rupanya informasi-informasi itu adalah hoaks belaka. Cabe bubuk memang akan berbahaya jika proses pembuatannya tidak higienis dan dikonsumsi secara berlebihan. Sementara mengkonsumsi es krim saat sedang demam tidaklah mengapa karena ada kandungan nutrisi dalam es krim yang dapat memenuhi nutrisi dan gula saat sedang sakit.

Dampak Hoaks
Dampak Hoaks

Mungkin dampak dari berita hoaks yang seperti itu tidaklah terlalu membahayakan. Kita hanya perlu membatasi dan memilih makanan yang sekiranya baik untuk tubuh kita. Lalu, bagaimana kalau ada berita hoaks seperti di awal tulisan ini?

Tentu saja dampaknya bisa lebih berbahaya. Apalagi kalau si penerima minim literasi privasi, bisa-bisa dapat menyebabkan peretasan data pribadi atau pencurian dana karena pemintanganan akun. Duh, ngeri ah!

Langkah Pencegahan Berita Hoaks

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan agar tidak tertipu berita hoaks ini. Diantaranya selalu berhati-hati terhadap akun palsu yang mengatasnamakan lembaga, bank, atau e-commerce. Biasanya akun asli mereka sudah centang biru dan ada nomor call center resmi yang bisa dihubungi.

Selalu waspada dan jangan mudah percaya pada informasi berantai yang sudah dibagikan berkali-kali. Kita bisa kok mengecek keaslian informasinya melalui banyak cara. Misalnya dengan cek fakta dengan gambar di google lens atau langsung ke situs aduankonten.id untuk melaporkan informasi hoaks tersebut.

Langkah selanjutnya adalah saring sebelum sharing. Cek dulu faktanya dan jangan latah ikut menyebarkan informasi hoaks ke pengguna lain. Dan yang terakhir tentu saja mengajak orang lain untuk ikut kampanye pemberantasan berita hoaks ini, baik melalui lisan atau melalui tulisan.

Baca juga : Blogging Untuk Pemula

Berantas Hoaks Dengan Literasi Digital

Nah, salah satu bentuk literasi digital adalah dunia blogger. Kali ini pemateri yang kompeten di bidang perbloggeran ini adalah Naqiyyah Syam. Menurutnya, profesi blogger saat ini sudah merebak luas.

Naqiyyah Syam
Naqiyyah Syam, seorang blogger
(Sumber foto : Jawara Internet Sehat Lampung)

Pasalnya, pekerjaan dalam blog itu tidak hanya menulis sesuai dengan keinginan saja, tetapi juga banyak kegiatan lain yang bisa menghasilkan uang dari blog. Misalnya mereview produk dari sponsor, menghadiri peluncuran produk baru, kampanye tokoh, sampai memasang banner ads.

Baca juga : Monetize Blog or Santuy Blog?

Nah, untuk membuat blog itu gampang kok. Dimulai dari menyiapkan akun gmail yang nantinya bisa langsung terhubung dengan blogger.com. Kemudian tinggal ikuti langkah-langkah mudahnya saja. Sedikit tips, pilihlah nama blog yang mudah diingat, pilih niche yang tepat, dan pilih tema yang sesuai dengan niche blog.

Ia menuturkan banyak hal yang bisa dijadikan ide menulis blog. Mulai dari pengalaman pribadi, melihat album foto, jalan-jalan ke toko buku dan mencari inspirasi, diskusi dengan teman, blogwalking, hingga resensi buku.

Pengalaman saya sendiri juga begitu, kalau ada cerita dari teman sendiri yang menarik dan bisa dijadikan tulisan, maka saya akan jadikan tulisan di blog. Makanya hati-hati kalau berteman dengan penulis ya, hehe. Ceritanya bisa saja diangkat jadi tulisan di blognya!

Menghasilkan uang lewat blog
Menghasilkan uang lewat blog

Tentunya untuk bisa menghasilkan uang dari blog, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan. Mulai dari memilih domain, merawat blog dengan rajin, mempromosikan isi blog melalui media sosial dan blogwalking, hingga membranding personal kita sebagai blogger.

Selain mengajarkan cara membuat blog, Naqiyyah Syam juga memberikan banyak pencerahan agar blog yang sudah dibuat bisa berkembang dan terindeks oleh mesin telusur. Diantaranya dengan menulis secara SEO, memperhatikan detail isi blog hingga gambar yang akan diposting, serta cara menulis review produk dengan jujur dan menarik.

Workshop Literasi Digital
Para pembicara dan peserta
(Sumber foto : Jawara Internet Sehat Lampung)

Wah, pokoknya mah acara kemarin seru dan isinya daging semua! Semoga saja literasi digital kita semakin baik hingga kita #MakinCakapDigital dan terhindar dari berita-berita hoaks ya. Komen dong apa saja yang sudah kalian lakukan untuk memberantas berita hoaks selama ini?

04 Oktober 2022

Aceh, Kota Wisata Impian Bareng Teman Hidup Traveloka

Halo!

Akhir tahun sudah tinggal beberapa bulan lagi ya. Biasanya aura untuk jalan-jalan dan staycation sudah mulai terasa. Jadi ingat dulu sebelum pandemi melanda, saya biasa merencanakan liburan akhir tahun. Berusaha untuk memberi penghargaan pada diri sendiri setelah satu tahun menggeluti rutinitas sehari-hari.

Yuk, Lihat Dunia Lagi Bareng Teman Hidup Traveloka
Yuk, Lihat Dunia Lagi Bareng Teman Hidup Traveloka

Tapi, dua tahun kemarin keadaan memaksa saya untuk tidak kemana-mana. Dalam artian, paling ya jalan-jalan tipis ajalah ke tempat yang dekat-dekat dan tidak keluar kota, apalagi keluar provinsi. Pokoknya jadi seperti gak bisa lihat dunia lagi, haha.

Alhamdulillah nih tahun ini pandemi sudah mulai mereda. Saya bisa menyusun lagi rencana jalan-jalan ke tempat wisata impian! Kamu mau ikutan juga? Yuk ah lihat dunia lagi, staycation lagi, liburan lagi, booking hotel murah lagi.

Aceh, Kota Wisata Impian


Jujurnya, saya punya mimpi untuk bisa berkeliling Indonesia dan menikmati keindahan alamnya. Tentu saja, sambil mencicipi kuliner yang banyak sekali macam ragamnya. Dari banyaknya kota di Indonesia, ada satu kota yang belum pernah saya kunjungi dan jadi semacam salah satu daftar kota wisata impian saya. Dimanakah itu? Aceh!

3 Alasan Untuk Berkunjung ke Aceh


Aceh. Salah satu daerah istimewa di Indonesia yang berada di paling ujung pulau Sumatera. Dikenal dengan Serambi Mekah, kota ini berhasil membuat saya punya setidaknya 3 alasan untuk mengunjunginya.

Wisata ke Aceh
Sumber foto : disbudpar.acehprov.go.id

1. Aceh, Kota Yang Belum Pernah Saya Kunjungi


Jelas, ini alasan pertama saya ingin sekali ke Aceh, hehe. Padahal saya tinggal di Lampung yang notabene sama-sama berada di pulau Sumatra. Tapi kok saya lebih banyak mengunjungi kota-kota di pulau Jawa?

Selama ini, saya hanya tahu Aceh lewat TV, media sosial, buku dan tulisan-tulisan di media cetak lainnya. Tari Saman yang memikat hati saya, lagu Bungong Jeumpa yang terngiang-ngiang di telinga saya, dan mie Aceh yang jadi jajanan favorit saya di Lampung rasanya sudah cukup untuk mengundang saya datang kesana.

Maka dari itu, kali ini Aceh akan menjadi daftar kota wisata impian saya bersama #temanhidup saya.

2. Aceh Punya Banyak Wisata Edukasi dan Wisata Pemandangan


Hal pertama yang terbersit di benak saya ketika menentukan tujuan wisata ke suatu daerah adalah mencari tempat wisata edukasi. Baik itu museum atau situs bersejarah lainnya, saya pastikan harus ada dalam daftar tempat yang akan dikunjungi.

Iya, saya memang suka museum. Bagi saya, museum punya daya tarik tersendiri untuk dikunjungi. Saya seperti diajak masuk ke lorong waktu untuk menyaksikan peristiwa bersejarah melalui benda-benda dan cerita yang ditinggalkan.

Wisata Edukasi di Aceh

Nah, Aceh sendiri punya banyak museum dan situs bersejarah yang bisa dikunjungi oleh wisatawan. Oh iya, karena saya fokuskan dulu di kota Banda Aceh, saya rangkum 4 museum yang ingin saya kunjungi ya.

Wisata Edukasi Aceh
Wisata Edukasi Aceh
(Sumber foto : disbudpar.acehprov.go.id)

  • Museum Tsunami Aceh

Museum pertama yang ingin saya kunjungi adalah Museum Tsunami Aceh. Siapa yang tidak ingat dengan peristiwa memilukan yang pernah terjadi di Aceh pada akhir tahun 2004 silam? Gempa bumi yang disusul dengan gelombang tsunami telah merenggut ratusan ribu jiwa dan memporak-porandakan kota Banda Aceh dan sekitarnya.

Untuk mengenang peristiwa itu, dibangunlah Museum Tsunami Aceh ini. Dari beberapa sumber yang saya baca, museum ini memamerkan potongan-potongan gambar kejadian saat itu. Peristiwa sebelum tsunami, saat terjadinya tsunami, dan setelah tsunami menerjang ada dalam diorama yang dipajang di ruang pamenya. Disini juga terdapat ruang pembelajaran seperti perpustakaan, alat peraga, ruang 4 dimensi, dan toko suvenir.

Museum ini terletak di Jl. Iskandar Muda, No. 3 Sukaramai Kec. Baiturrahman, Banda Aceh. Kalau saya lihat dari peta, sepertinya lokasi museum ini cukup mudah dijangkau. Harga tiketnya juga sangat ramah di kantong, berkisar antara Rp 3.000,- hingga Rp 15.000,- tergantung dari golongan pengunjungnya.

  • Museum PLTD Apung

Masih berkaitan dengan peristiwa tsunami Aceh, berdiri juga Museum PLTD Apung. Awalnya, museum ini merupakan kapal generator listrik milik PLN di Banda Aceh yang saat itu berada di Pelabuhan Ulee Lheue. Saat peristiwa tsunami, kapal ini terseret sejauh 5 km ke daratan.

Saat ini, museum PLTD Apung berlokasi di Punge Blang Cut, Banda Aceh, tidak jauh dari Museum Tsunami Aceh. Kalau mencari rute dari peta, jaraknya hanya sekitar 1 km dan dapat ditempuh dengan berkendara atau jalan kaki saja.

Untuk masuk ke museum ini tidak dipungut biaya alias gratis. Pengunjung hanya dikenakan biaya parkir sebesar Rp 3.000,- hingga Rp 5.000,- saja.

  • Museum Negeri Aceh

Tidak jauh dari Museum Tsunami Aceh, ada Museum Negeri Aceh. Museum ini berdiri pada tahun 1915 yang awalnya bernama Atjeh Museum.

Berlokasi di Jl. Sultan Mahmudsyah No. 10, Peuniti, Banda Aceh, museum ini setidaknya memiliki lebih dari 5.000 koleksi benda budaya dari berbagai jenis dan lebih dari 12.000 buku ilmu pengetahuan dengan berbagai judul.

Museum ini dibuka setiap hari kecuali hari libur nasional dengan tarif tiket mulai dari Rp 1.000,- hingga Rp 5.000,- tergantung kategori pengunjung.

  • Museum Rumah Cut Nyak Dien

Museum ini merupakan replika dari rumah Cut Nyak Dien yang dibakar habis oleh penjajah Belanda pada tahun 1800-an silam. Siapa yang tidak kenal dengan pahlawan wanita Cut Nyak Dien? Perjuangannya bersama rakyat Aceh melawan penjajah Belanda dapat dilihat dari foto-foto yang dipajang di museum ini.

Berada di Desa Lampisang Kec. Peukan Bada, Aceh Besar, museum Rumah Cut Nyak Dien dibuka setiap hari. Tidak ada tiket masuk tetapi ada kotak sumbangan untuk bisa diisi oleh pengunjung seikhlasnya.

Sebenarnya ada beberapa museum lain yang ada di Aceh. Tapi sayangnya terletak lumayan jauh dari kota Banda Aceh. Misalnya, Museum Kota Lhokseumawe, Museum Gayo, Museum Samudra Pasai, dan Museum Sabang. Jadi, mungkin butuh beberapa hari lagi menginap kalau ingin mengunjungi museum-museum ini.

Wisata Pemandangan Alam di Aceh

Selain wisata edukasi, Aceh juga punya wisata alam dan ikonik yang ingin sekali saya kunjungi. Beberapa tempat wisata itu masih berada di kota Banda Aceh sehingga masih bisa saya ikutkan dalam daftar kunjungan saya.

Wisata Pemandangan Aceh
Wisata Pemandangan Aceh
(Sumber foto : https://maa.acehprov.go.id/)


  • Masjid Raya Baiturrahman

Salah satu bangunan ikonik yang ada di Aceh adalah Masjid Baiturrahman. Masjid ini juga menjadi saksi bisu kedahsyatan gempa dan tsunami pada 18 tahun lalu.

Selama ini saya hanya bisa memandang kemegahan masjid ini dari gambar dan video saja, jadi rasanya saya harus melihat langsung dan tentu saja beribadah disana kalau mengunjungi kota Banda Aceh.

  • Nol Kilometer Banda Aceh

Berada di Gampong Pande, Kec. Kuta Raja Banda Aceh, saya penasaran sekali dengan tugu Titik Nol Kilometer Banda Aceh ini. Letaknya yang tidak terlalu jauh dari Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh ini, sepertinya bisa mempermudah saya untuk mengunjunginya.

  • Taman Putroe Phang dan Lapangan Blang Padang

Satu lagi tempat yang saya sukai saat berkunjung ke suatu kota adalah tempat terbukanya. Baik itu berupa taman kota atau alun-alun. Aceh juga punya tempat seperti ini, yaitu Taman Putroe Phang dan Lapangan Blang Padang.

Lokasinya masih di sekitaran Masjid Raya Baiturrahman, jadi cocok deh bisa satu paket perjalanan.

3. Kuliner Aceh Yang Eksotis


Siapa yang setuju kalau mengunjungi suatu tempat belum lengkap rasanya kalau belum mencicipinya kulinernya? Mari kita tos dulu.

Kuliner Aceh
Kuliner Aceh
(Sumber foto : https://rri.co.id/)
 
Indoneisa yang punya banyak kota dengan berbagai budaya, tentu saja punya banyak ragam kuliner juga. Tak terkecuali dengan Aceh. Salah satu kulinernya yang terkenal adalah Mie Aceh.

Selama ini, Mie Aceh memang jadi salah satu menu mie favorit saya. Untungnya di Lampung juga ada yang jual dan tidak terlalu sulit menemukannya. Tapi saya tidak tahu apakah rasanya akan sama dengan makan mie Aceh langsung dari kotanya.

Baca juga : Terpaut Peca Poblo di Hotel Sofyan Cut Mutia  

Selain Mie Aceh, saya juga penasaran dengan martabak Aceh dan kopi Aceh langsung dari kota asalnya. Haduh, membayangkannya saja, air liur sudah mengalir ini, hehe.

Akses Menuju Aceh


Ada beberapa moda transportasi yang bisa dipakai dari Lampung menuju ke Aceh. Tinggal pilih sesuai dengan kebutuhan dan dana yang ada.

Menggunakan pesawat sepertinya memang jalur yang paling cepat dan paling direkomendasikan. Tapi tetap saja harus transit dan berganti pesawat minimal 2 kali, yaitu ke Jakarta dan ke Medan, baru kemudian menuju Aceh.

Transportasi Ke Aceh
Transportasi Ke Aceh
 
Moda berikutnya yang bisa digunakan adalah melalui jalur darat. Naik kereta api menuju ke Palembang, kemudian dilanjutkan dengan naik bus ke Pekanbaru menuju Medan, dan disambung lagi naik bus menuju Banda Aceh. Perjalanan dengan moda transportasi ini setidaknya memakan waktu hingga 2 hari.

Alternatif berikutnya adalah melalui jalur laut. Tapi tetap harus menuju Jakarta terlebih dahulu ke pelabuhan Tanjung Priok untuk menumpang kapal fery menuju pelabuhan Belawan. Kemudian dilanjutkan dengan menaiki bus menuju Banda Aceh. Perjalanan ini memang terhitung lebih murah, tapi waktu yang ditempuh akan lebih lama.

Terakhir, menggunakan kendaran pribadi dari Lampung langsung menuju Banda Aceh. Waktu yang diperlukan memang lebih fleksibel ya tergantung kecepatan laju kendaraan dan berapa kali istirahat. Karena pasti tidak mungkin kan berjalan dari Lampung ke Aceh tanpa berhenti? Ini sama saja menjelajahi pulau Sumatra dari ujung ke ujung.

Akomodasi Selama Di Aceh


Ada beberapa hal yang saya pertimbangkan dalam memilih tempat menginap. Jarak hotel ke tempat wisata yang akan dituju, review dari pengunjung lain, dan alokasi dananya. Untungnya saya punya aplikasi yang sangat memudahkan untuk memilih tempat menginap sesuai dengan pertimbangan saya itu.

Booking Hotel Murah Di Traveloka


Setiap kali saya bepergian dan memerlukan tempat menginap, aplikasi pertama yang akan saya buka adalah Traveloka. Jujur, ini aplikasi paling gampang dan paling gak ribet soal booking hotel murah atau tiket transportasi.

Enaknya di Traveloka tuh, saya tinggal ketik kata kunci di pencarian hotel, dan nanti akan langsung muncul pilihan-pilihan hotel sesuai dengan kriteria yang saya pilih. Apakah yang jaraknya paling dekat, harga terendah, atau yang paling populer.

Booking hotel murah di Traveloka
Traveloka Superapp

Eh tapi, di Traveloka juga bukan Cuma bisa booking hotel murah dan booking tiket pesawat lho. Banyak hal yang bisa dieksplore dengan hanya satu apps. Butuh tiket untuk transportasi? Traveloka bisa cariin tiket pesawat, kereta api, bus, travel, rental mobil, antar jemput bandara, sampai JR Pass.

Butuh tempat menginap khusus untuk liburan? Traveloka punya yang namanya Holiday Stays. Butuh hiburan? Cari di bagian Traveloka Xperience. Kelaparan pas baru sampai di tempat menginap? Tenang, ada Traveloka Eats. Kehabisan kuota atau pulsa? Traveloka siap dengan layanan isi ulang kuota dan pulsa. Pokoknya mah, Traveloka itu superapps solusi kebutuhan lifestyle kamu!

Metode pembayarannya juga gampang banget dan bisa disesuaikan dengan kebutuhan. Soalnya, Traveloka menyediakan beberapa jenis pembayaran yang bisa dipilih sendiri oleh penggunanya. Ada Pay Later, Buy Now Stay Later, atau Bayar Saat Check In.

Harga yang ada di Traveloka ini juga hemat banget, apalagi kalau pesan lewat Traveloka Apps. Bakalan ada tambahan diskon untuk booking hotel dan tiket pesawatnya.

Baca juga : Bersiap Ambil Cuti, #JadiBisa Liburan  

Pilihan Hotel Di Banda Aceh


Balik lagi yuk untuk cari tempat penginapan saat tiba di Banda Aceh.

Ada beberapa hotel yang mungkin akan saya pilih sebagai tempat menginap kalau berkunjung ke Banda Aceh. Hotel-hotel ini saya pilih berdasarkan jarak ke tempat tujuan wisata, review pengunjung, dan alokasi dana nantinya.

Oh iya, saya jadikan Masjid Raya Baiturrahman sebagai titik pusat kunjungan saya, dan otomatis akan saya jadikan patokan untuk mencari tempat menginap di sekitar sana.

1. Hip Hope Hotel

Ini hotel yang muncul di urutan pertama dengan jarak yang paling dekat dengan Masjid Raya Baiturrahman. Hanya sekitar 300 meter dan itu berarti bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Hotel ini juga punya rating 8,7/10 yang saya simpulkan bahwa hotel ini cukup direkomendasikan sebagai pilihan tempat menginap.

Hip Hope Hotel
Hip Hope Hotel
(Sumber foto : Traveloka)

Kalau saya lihat foto-fotonya, kamar, lobi, dan ruangan lain tampak bersih dan rapi. Untuk hotel bintang 2 seperti Hip Hope Hotel ini dibandrol dengan harga mulai dari Rp 450.000,- per kamar per malam. Worth it sih menurut saya.

2. Plum Hotel

Hotel kedua yang jaraknya hanya sekitar 300 meter dari Masjid Raya Baiturrahman adalah Plum Hotel. Agak berbeda sedikit dari Hip Hope Hotel, Plum Hotel punya rating 8,1/10. Masih bisa lah sebagai alternatif tempat menginap yang murah meriah di tengah kota Banda Aceh.

Plum Hotel
Plum Hotel
(Sumber foto : Traveloka)

Fasilitas di hotel ini standar bintang 3. Dengan 3 tipe kamar, hotel ini dihargai mulai dari Rp 500.000,- per malamnya.

Baca juga : Pengungsi Elite di Asoka Luxury Hotel

3. Ayani Hotel

Pilihan ketiga untuk tempat menginap di sekitar Masjid Raya Baiturrahman adalah Ayani Hotel. Kali ini jaraknya agak lebih jauh sedikit, yaitu sekitar 500 meter. Masih sama dengan Plum Hotel, Ayani Hotel juga sudah standar bintang 3.

Ayani Hotel
Ayani Hotel
(Sumber foto : Traveloka)

Fasilitas di hotel ini cukup memadai, mulai dari sarapan gratis hingga antar jemput Bandara dengan tambahan biaya. Dengan 3 tipe kamar, hotel ini dihargai mulai dari Rp 591.000,- per kamar per malamnya.

4. Kyriad Hotel Muraya Aceh

Berbeda dari 3 hotel sebelumnya, Kyriad Hotel Muraya Aceh ini merupakan hotel bintang 4 yang fasilitasnya tentu lebih lengkap. Memiliki rating 8,6/10, saya kira hotel ini sudah bisa jadi rekomendasi sebagai tempat menginap kalau berkunjung kesana.

Kyriad Hotel Muraya Aceh
Kyriad Hotel Muraya Aceh
(Sumber foto : Traveloka)

Jarak dari Masjid Raya Baiturrahman juga tidak terlalu jauh kok, sekitar 700 meter yang artinya masih bisa lah ditempuh dengan berjalan kaki. Hitung-hitung sambil olahraga, hehe. Harga per kamar di hotel ini dibandrol mulai dari Rp 950.000,- per malamnya.

Itu dia, destinasi wisata dan tempat menginap impian saya tahun ini. Duh, sambil nulis ini aja saya sudah kebayang gimana bahagianya saya kalau staycation ini beneran terwujud dan bukan sekadar wacana. Sekali lagi nih saya ajakin kamu untuk “Yuk #LihatDuniaLagi dan bikin #StaycationJadi dengan Traveloka! Langsung meluncur ya ke Traveloka lewat link ini! https://trv.lk/kompetisi-lihatdunialagi-bloggerperempuan



Referensi :
http://museumaceh.com/
https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2020/02/rumah-cut-nyak-dhien-simbol-perjuangan-rakyat-aceh-melawan-belanda
https://disbudpar.acehprov.go.id/ 
https://www.rome2rio.com/map/Lampung/Banda-Aceh