Halaman

06 April 2019

Belajar Naif dari Orang-Orang Biasa


Judul buku                       : Orang-Orang Biasa
Penulis                             : Andrea Hirata
Penerbit                           : Bentang Pustaka
Tahun Terbit                     : 2019
Jumlah Halaman               : 300 hal

Orang-Orang Biasa
“Apapun keadaannya, berdua tetap lebih baik.”

Sampai saat ini, kalau saya mengingat salah satu potongan kalimat itu saya masih bisa tersenyum. Antara lucu dan miris karena kalimat ini dilontarkan dalam keadaan yang tak biasa. Bisa terbayangkah oleh Anda semisal Anda memiliki wajah buruk rupa dan tak ada yang ingin mendekati Anda, bahkan untuk duduk sebangku di kelas pun? Hingga suatu saat dan oleh karena suatu sebab yang tak bisa disebut prestasi membanggakan, ada orang yang sengaja dipindahkan di sebelah Anda. Serta merta Anda akan berkata,

“Apapun keadaannya, berdua tetap lebih baik.”
OOO

Saya pembaca novel-novelnya Andrea Hirata. Setelah tetralogi Laskar Pelangi, Ayah, Padang Bulan, dan Sebelas Patriot, kali ini saya jatuh cinta dengan Orang-Orang Biasa. Ada beberapa poin yang saya suka dan akan saya bahas di resensi ini.

Setting Tempat
Seperti biasa, ia menyajikan cerita dengan setting tempat lokal yang tak biasa bagi orang kebanyakan. Membawa kearifan lokal dan menjadikannya utuh dalam tulisan sepertinya sudah menjadi keahlian Andrea Hirata ini. Salah satunya di novel Orang-Orang Biasa. Saya tidak tahu dimana itu Belantik, tapi membaca novelnya, saya bisa membayangkan bagaimana keadaan kota Belantik itu. Dalam benak saya, kota itu terlalu lugu dan ramah.

Oh iya, saya juga menemukan Andrea Hirata menamakan tempat makan dan warung-warung di bukunya ini dengan nama yang khas, seperti kedai kopi Usah Kau Kenang Lagi, atau warung kopi Kutunggu Jandamu. Bagi saya, penamaan ini salah satu yang membuat setting tempat di novel ini unik dan membekas di benak saya.

Penokohan
Hebatnya Andrea Hirata adalah bagaimana ia menciptakan tokoh-tokoh di novelnya menjadi demikian hidup dan berperan. Tak ada peran kecil dalam tokoh-tokohnya, perwatakannya tegas dan jelas. Bayangkanlah ketika Anda tinggal di tempat yang hampir tak pernah ada kejahatan. Untuk apa ada kantor polisi jika tidak ada data tindak kejahatan yang dilaporkan? Lalu untuk apa ada petugas kepolisian?

Itulah yang ada di benak Inspektur Abdul Rojali dan Sersan P. Arbi manakala setiap harinya mereka bertugas hanya duduk dan termenung saja. Inspektur yang diam-diam mengidolakan Sahruh Khan itu begitu merindukan aksi kejar-kejaran dengan pencuri, penjambret, atau pelaku kejahatan lainnya. Namun, kota Belantik terlalu naif, bahkan untuk mencuri ayam pun tak pernah ada!

Sampai disini, saya harus menyimpan dua tokoh bernama Inspektur Abdul Rojali dan Sersan P. Arbi. Apa sebab? Karena di bagian selanjutnya, Andrea Hirata menyuguhkan sederet nama tokoh yang tak bisa disebut figuran. Semua tokohnya yang punya nama tak biasa pula, punya peran masing-masing. Tak cukup sampai nama saja, ia memasukkan karakter yang berbeda-beda dan anehnya saya merasa cepat akrab dengan mereka.

Mungkin karena penamaan dan penjabaran yang sangat detail sehingga saat saya membacanya, langsung muncul di benak saya karakter tokoh yang dimaksud. Saya ambil contoh ibu guru matematika bernama Ibu Desi Mal. See? Saya yakin walaupun baru disebutkan, sampai akhir halaman pun, Anda akan ingat siapa itu ibu Desi Mal, hehe.

Penceritaan
Novel ini berkisah tentang kehidupan banyak tokoh yang mau tak mau pada akhirnya saling berkaitan. Tentang jenuhnya Inspektur Abdul Rojali bersama Sersan P. Arbi dalam menjalani tugas tanpa ada tindak kejahatan sedikit pun. Lalu muncul kisah sekawanan anak tak pintar di sekolah yang sehari-harinya saling ribut dan menyalahkan –di kemudian hari, kawanan inilah yang membuat novel ini menegangkan, hingga muncul kisah-kisah yang mungkin dianggap selingan, namun pada akhirnya dugaan saya itu tidak terlalu benar. Kemudian bersangkut paut dengan kisah kehidupan mereka yang sudah dewasa dan beranak pinak.

Dinah, salah seorang anggota kawanan anak tak pintar itu menjadi janda beranak tiga yang salah satu anaknya bernama Aini. Aini, sama seperti ibunya yang sangat bodoh dalam pelajaran terutama matematika. Namun, Aini ingin mengubah takdir dengan terus belajar bersama ibu Desi Mal, guru matematika yang belum pensiun hingga Aini sekolah. Keseriusannya belajar membuahkan hasil. Tak disangka, Aini lulus tes masuk Fakultas Kedokteran sebuah universitas ternama.

Karena Dinah seorang janda miskin yang bahkan untuk berjualan saja harus kejar-kejaran dengan petugas satpol PP, maka berbagai cara akan ditempuhnya untuk bisa menguliahkan anaknya itu. Meminta pendapat dengan teman-teman lamanya (sekawanan anak tak pintar yang nasibnya tidak berubah banyak), akhirnya Dinah dan teman-teman lamanya sepakat untuk terus maju menguliahkan Aini.

Tahukah Anda apa ide cemerlang yang dilontarkan sang teman lama yang disetujui oleh seluruh anggota kawanan itu? Merampok bank! Dari sinilah cerita itu mulai seru dan tak habis mengundang tawa saya. Kekonyolan, kemirisan, dan keluguan mewarnai jalan cerita perampokan ini.

Tapi, sungguh, saya terpana ketika pada akhirnya ada pesan yang sangat mendalam dari keseluruhan jalan cerita di novel ini. Bukan saja tentang perampokan yang penuh kekonyolan, tapi lebih dari itu, sebuah misi untuk rakyat banyak.

Cara bercerita Andrea Hirata dalam novel ini persis seperti film-film yang diputar. Masa kini, flashback, saat ini lagi, adegan seru, adegan lucu, adegan melankolis yang kalau dibuat film seperti slow motion, berselang seling seperti itu. Saya tak pernah sepenasaran kali ini membaca novel Andrea Hirata hingga bisa menghabiskannya hanya dalam waktu tiga hari saja.

Siapa yang penasaran seperti saya? Langsung aja cari bukunya ya. Sekarang sudah tersebar kok di toko buku. Selamat membaca dan belajar naif dari Orang-Orang Biasa :)

Baca juga : Drama Mama Papa Muda

Tidak ada komentar: