Tampilkan postingan dengan label jalan-jalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jalan-jalan. Tampilkan semua postingan

07 Desember 2024

Wisata Rohani Di Palembang, Jalan Tipis ke Palembang Bagian 2

Setelah silaturahmi ke rumah saudara di hari pertama, sekaligus mencoba LRT dan Feeder LRT, hari kedua dan ketiga kami isi dengan wisata rohani dulu.

Sejujurnya, saya pengen banget ke Museum Alquran. Tapi sayangnya perjalanan terlalu jauh dan sepertinya tidak memungkinkan mengingat bawa rombongan random begini. Ditambah lagi, sebagian mereka sudah pernah kesana, jadi agak kurang berminat kembali.

Wisata Rohani Palembang

Saya mengusulkan untuk mengunjungi Masjid Cheng Ho. Sementara Abah mengajak kami mengunjungi Kawah Tengkurep, komplek pemakaman Sultan Mahmud Badaruddin. Hayuk lah kita wisata rohani dulu di Palembang ini.

Masjid Raya Al Islam Muhammad Cheng Ho


Sudah lama sebenarnya saya penasaran dengan masjid yang satu ini. Setiap kali ada kata kunci wisata Palembang, pasti masjid ini ada di salah satu pilihannya. Setelah dicek, rupanya gak terlalu jauh juga dari tempat kami menginap. Dan untuk menuju kesana, kami memilih menggunakan ojek online.

Berada di tengah-tengah kompleks perumahan Jakabaring, tepatnya di 15 Ulu, Seberang Ulu 1 Palembang, masjid ini terlihat mencolok dengan gaya arsitektur dan warnanya. Mulai dari gapura masjid dengan bentuk pilar besar berwarna merah dan atap limas berwarna kuning, papan nama bertuliskan Masjid Cheng Ho lengkap dengan aksara Mandarinnya.


Masjid Cheng Ho Palembang
Gapura Masjid Cheng Ho Palembang

Tak jauh dari gapura itu, terdapat dua buah prasasti berwarna hitam. Satu berbentuk persegi empat dengan tulisan berisi keterangan sejarah masjid ini dibangun. Satu lagi berbentuk limas segiempat. Di sampingnya lagi, terdapat bedug yang masih difungsikan dan ditabuh setiap kali waktu sholat datang.

Prasasti Masjid Cheng Ho
Prasasti Masjid Cheng Ho

Dari keterangan yang tertulis di prasasti itu, masjid ini dibangun atas prakarsa PITI (Persatuan Islam Tionghoa Indonesia pada tahun 2005 bertepatan dengan 600 tahun datangnya Kaisar Cheng Ho. Masjid ini diresmikan dan dipakai pertama kali pada tahun 2008.

Bangunan utama masjid didominasi warna pink dengan pilar-pilar berwarna merah, serta kubah berwarna hijau yang dihias dengan bulan dan bintang khas masjid pada umumnya. Di keempat sudutnya, terdapat atap limas berwarna hijau. Ada dua menara 5 tingkat di samping kanan kiri masjid yang lantai dasarnya difungsikan sebagai tempat wudhu.

Arsitektur Masjid Cheng Ho
Arsitektur Masjid Cheng Ho

Masuk ke dalam masjid, gaya arsitektur Tionghoa masih melekat dengan adanya pintu bukaan tengah, tiang-tiang pancang, pagar pembatas lantai atas, serta warna yang dominan merah. Hawa sejuk langsung terasa karena kubah masjid yang besar serta pendingin ruangan serta kipas angin yang memadai. Karpet di dalam masjid juga tebal sehingga terasa nyaman.

Masjid Cheng Ho Palembang
Bagian Dalam Masjid Cheng Ho Palembang

Karena memang masjid ini tidak berada di kawasan 'tempat wisata', jadi tidak ada lapak makanan atau minuman di sekitar sini. Nah, saat kami berkunjung waktu itu, ada satu gerobak es dugan yang mangkal dekat masjid. Lumayan lah untuk mengobati haus saat terik dan panas.


Kawah Tengkurep, Makam Sultan Mahmud Badaruddin I


Pertama kali dengar kawah tengkurep, saya kira ini beneran kawah. Rupanya ini sebutan untuk komplek pemakaman Sultan Mahmud Badaruddin I beserta para istri, guru, serta para abdi dalemnya. Berlokasi di 3 Ilir, Kecamatan Ilir Timur II, pemakaman ini tampak teduh dengan rimbunnya pepohonan dan tumbuhan yang ada disana.

Kawah Tengkurep
Plang nama dari pintu depan

Tidak ada penjaga seorang pun di pintu gerbang depan. Kami terus berjalan melewati deretan makam yang bentuk nisannya berbeda-beda, ada yang seperti nisan modern pada umumnya, ada pula yang bentuk nisannya hanya kayu berukir seperti nisan pada zaman kerajaan. Saya kurang paham apakah makam disini sudah bercampur dengan makam masyarakat umum atau masih makam khusus kerajaan.

Agak naik ke atas, barulah berdiri beberapa bangunan berpagar tinggi. Sebelum pintu masuk, ada papan keterangan bertuliskan silsilah sultan, lengkap dengan lokasi pemakamannya. Jadi, tidak semua sultan dari Kesultanan Palembang ini dimakamkan disini, tapi juga ada beberapa yang dimakamkan tempat lain, bahkan diluar Palembang, yaitu di Ternate dan Menado.

Pemakaman Sultan Mahmud Badaruddin
Pemakaman Sultan Mahmud Badaruddin

Saat tiba disana, tempat ini cukup sepi. Hanya ada seorang laki-laki paruh baya, mungkin juri kunci, sedang menyapu dan merapikan tanaman disana. Ia mempersilakan kami menuju bangunan inti, berbentuk persegi empat dengan ada kubah di atasnya. Disinilah makam Sultan Mahmud Badaruddin beserta keempat istrinya. Kami singgah sebentar untuk mengirim doa dan Alfatihah untuk beliau-beliau ini.

Bangunan serupa juga ada di sebelahnya, yaitu makam Sultan Ahmad Najamuddin Adikusumo beserta istri dan guru besarnya, serta makam Pangeran Ratu Kamuk Raden Zailani beserta istri dan guru besarnya pula. Di pelataran luar bangunan-bangunan ini, banyak juga deretan makam dengan nisan kayu tanpa nama. Mungkin ini makam para pengikut serta abdi dalemnya.

Makam Sultan Mahmud Badaruddin
Makam Sultan Mahmud Badaruddin

Salah satu poin yang sepertinya bisa lebih dibenahi adalah sarana dan prasarana pendukung di komplek pemakaman ini. Juga kerapihan areal di sekitar bangunan inti. Jadi pengunjung juga bisa lebih nyaman saat berziarah kesini.

Setelah berwisata rohani, kami lanjutkan perjalanan ke arah pasar 16 Ilir. Pengen cobain pempek tumpah. Pempek bermacam jenis yang dijual di emperan dengan harga murah, hanya Rp 1.000,-/potongnya. Makannya juga duduk tepat di depan penjualnya, jadi pembeli bebas pilih dan makan sesuai selera.

Jembatan Ampera
Jembatan Ampera

Tapi pas sampai sana, sepertinya tidak memungkinkan untuk makan di tempat. Apalagi saya yang bawa bayi haha. Padahal sepertinya enak ya. Pengen dapet suasananya sih sebenernya. Jadi beli dan bawa pulang aja deh biar gak penasaran.


Sambil jalan pulang, ambil spot foto dulu di lokasi paling ikonik, Jembatan Ampera. Sayangnya suasanan sudah gak kondusif, sudah capek, panas, dan agak was was sih karena di pinggir jalan banget tuh. Jadi ya sedapetnya aja deh.

Masih ada cerita lainnya, tapi di postingan selanjutnya aja ya.

24 Oktober 2024

Mencoba LRT dan Feeder LRT, Jalan Tipis ke Palembang Bagian 1

Yeay!!
Akhirnya kesampaian juga jalan-jalan ke Palembang lagi setelah beberapa tahun mendem pengen kesana. Tadinya, iseng ngajak ibu ke Palembang, eh malah jadi banyak yang ikut haha. Niatnya pas liburan sekolah beberapa bulan yang lalu, tapi gak kebagian tiket kereta, jadilah cari hari libur lagi yang nyempil sehari pas maulid nabi kemarin.

Stasiun KA Tanjungkarang

Sengaja pilih kereta api karena memang harga tiketnya murah, sekalian biar Wafa lihat dan merasakan langsung naik kereta. Tambahan juga biar ibuknya sedikit nostalgia waktu dulu sempat kerja di Palembang dan setiap pulang naik kereta. Tapi, kereta api sekarang sudah jauh lebih baik. 

Area tunggu penumpang sebelum masuk kereta juga nyaman. Ada pojok baca dan area bermain anak serta tak lupa spot foto untuk yang hobi mendokumentasikan kenangan.

Ruang tunggu stasiun
Playground di stasiun KA Tanjungkarang

Meski kereta kelas ekonomi yang harganya hanya Rp 35.000,- per tiket, gerbong sudah full AC, bersih, ada steker listrik di setiap kursi, jendela kaca lebar sehingga leluasa melihat luar, kamar mandi gak jorok-jorok amat, serta bebas dari asap rokok dan pedagang asongan. 

Sayangnya saya gak sempat fotokan kondisi dalam gerbong kereta. Agak crowded pagi itu, berburu nyuapi Wafa sarapan dan yah begitulah. Ingatnya pas kereta sudah penuh dan sudah di tengah perjalanan. Ya, gak enak lagi deh mau foto.

Lama perjalanan dari stasiun Tanjungkarang ke stasiun Kertapati sekitar 9 jam. Lumayan lama karena memang di setiap stasiun, kereta berhenti untuk naik turun penumpang dan berpapasan dengan kereta babaranjang.

Gerbong KA Palembang
Tempat duduk di dalam kereta

Bersyukur banget karena sepanjang perjalanan, Wafa gak rewel dan sangat minim drama. Makan dan tidur juga masih aman karena saya pesankan kursi juga. Sebenarnya untuk anak usia di bawah 3 tahun, masih gratis tapi tidak dapat kursi. Dengan pertimbangan kenyamanan, saya pesankan 1 kursi untuk Wafa. Dan benar saja, pas wafa tidur, dia bisa selonjoran santai. Ibuknya pun bisa agak santai sebentar.

Baca juga : Palembang Again

OOO

Hari pertama di Palembang, kami isi dengan berkunjung ke rumah saudara yang jarang sekali bertemu kalau gak lebaran atau ada acara tertentu. 

Jaraknya lumayan jauh, tapi bisa ditempuh dengan angkutan umum dan LRT. Wah kebetulan banget kan. Saya belum pernah naik LRT Palembang dan seperti gayung bersambut, ada kesempatan untuk mencobanya.

Loket LRT Palembang
Loket LRT Palembang

Kami naik dari stasiun LRT Jembatan Ampera dengan tujuan stasiun LRT Asrama Haji. Harga tiketnya hanya Rp 5.000,-/orang dan dapat dibeli langsung di loket stasiun. Saat itu, stasiun gak terlalu ramai dan penumpang yang menunggu disana juga gak banyak. Katanya sih kalau hari kerja, bisa bejubel.

Kami menunggu sekitar 15 menit sampai LRT tiba di stasiun Jembatan Ampera. Penumpang tak penuh sesak, tapi juga kami sempat berdiri karena gak ada kursi kosong. Ada sih sebenarnya, tapi diisi oleh anak kecil dan ibu-ibu yang duduknya miring sambil makan cemilan. Beeuuh, santai kek di angkutan pribadi, wkwk.

Agak gimana gitu ya, di angkutan umum tapi gak bisa peka oleh keadaan. Padahal itu kursi masih bisa diisi oleh 2 orang lagi. Tapi ya sudahlah. Hitung-hitung saya menikmati pemandangan dulu sambil berdiri sampai ada penumpang yang turun dan kami bisa dapat kursi.

Gerbong LRT Palembang

Di setiap stasiun, LRT berhenti untuk naik turun penumpang. Total kami melewati 7 stasiun sampai akhirnya tiba di stasiun Asrama Haji. Dari sini, kami melanjutkan perjalanan menggunakan feeder LRT gratis yang saat itu sudah banyak menunggu penumpang.

Feeder LRT ini seperti angkot tapi dengan mobil yang ukurannya lebih kecil. Jadi hanya muat sekitar 8 orang saja. Mobilnya nyaman karena dilengkapi dengan AC, bersih, dan gak ugal-ugalan. Sopir juga memakai tanda pengenal dan cukup ramah.

Feeder LRT Palembang
Feeder LRT di stasiun Asrama Haji Palembang

Untuk ketersediaannya, yang saya baca dari beberapa sumber, saat ini sudah ada 7 rute yang dilalui feeder ini dan kesemuanya gratis tanpa dipungut biaya apapun. Nah, feeder ini juga berhenti di setiap halte meski tidak ada penumpang yang akan naik atau turun. Saya kurang paham sih apakah memang SOP-nya begitu ya?

Saya jadi berandai-andai, coba di tempat saya tinggal ada transportasi umum seperti ini. Nyaman, harga terjangkau, bisa menjangkau hingga rute yang jauh, dan bebas macet. 

Perjalanan kami berakhir di sekitar jam 20.00 malam. Saya menyempatkan diri untuk mencicipi mi celor di kedai depan gang rumah tempat kami bermalam. Tapi rasanya agak kurang sesuai dengan ekspektasi saya, atau saya yang sudah lupa dengan rasa mi celor yang dulu pernah singgah di lidah saya. Entahlah.

Masih ada lanjutan cerita di hari berikutnya. Next post aja ya. See you!

Bonus:
Akhirnya ketemu juga dengan teman lama sewaktu dulu masih kerja bareng di Palembang. Inginnya sih bisa ketemu lebih banyak teman lama, tapi mungkin belum jodohnya ya. Ada yang sibuk, lokasinya terlalu jauh, dan waktunya tidak memungkinkan. Semoga lain waktu bisa bertemu deh.

Teman lama
Teman lama di Palembang

07 April 2024

Pantai Jadi Tempat Wisata Favorit Di Lampung

Halo!
Siapa yang sudah sampai di kampung halaman hari ini? Senang ya, menginjakkan kaki di tempat kelahiran, tempat berkumpul bersama keluarga dan sanak saudara. Apalagi, di hari raya yang tinggal beberapa hari lagi.

Pantai Sebalang
Pantai Sebalang

Selain bersilaturahmi dengan keluarga dan teman-teman, mudik lebaran juga biasanya menjadi kesempatan untuk berlibur dan memanjakan mata. Gak heran sih, di kala libur hari raya, banyak tempat wisata yang ramai dan penuh. Tak terkecuali di Lampung, tempat saya tinggal.

Tempat wisata di Lampung memang sudah banyak pilihan. Bagi yang suka alam dengan keasliannya, bisa menikmati wisata pantai dan panorama. Bagi yang suka berwisata sambil beribadah, bisa ke masjid-masjid besar dan punya sejarah tersendiri. Bagi yang suka keramaian dan keceriaan, ada tempat bermain modern yang aman dan nyaman. tergantung selera saja.

Tapi, sepertinya belum ke Lampung kalau belum berwisata ke pantainya. Secara, Lampung memang terkenal akan pantainya yang indah. Apalagi sekarang sudah banyak wisata pantai dengan fasilitas yang lebih lengkap serta tidak lupa, instagramable.

Salah satu pantainya adalah Pantai Sebalang. Berada di Tarahan, kabupaten Lampung Selatan, pantai Sebalang bisa ditempuh dengan berkendara sejauh kurang lebih 27 km dengan lama waktu sekitar 1 jam perjalanan dari pusat kota Bandarlampung.

Pantainya bersih dengan pasir putih yang halus. Tempatnya juga eksotis dengan deretan kafe dan pondokan yang bisa dipilih sesuai dengan kapasitas rombongan. Mau santai di dan rebahan di pondok kayu, bisa. Atau duduk cantik di bean bag sambil menunggu matahari terbenam juga bisa. 


Fasilitas di pantai Sebalang juga sudah cukup lengkap. Mulai dari kafe yang menawarkan berbagai makanan dan minuman. Terlebih lagi, deretan kafe ini berada di pinggir pantai dengan dekorasi kayu dan jejeran lampu yang cantik. Betah banget lah ngopi disana. Untuk harga makanan dan minuman juga cukup terjangkau kok, mulai dari Rp 10.000,-an.

Fasilitas lainnya seperti kamar mandi, toilet dan tempat parkir juga sudah tersedia. Petugasnya juga banyak, jadi gak khawatir bingung untuk cari tempat parkir atau cari posisi dengan pemandangan terbaik.

Sedikit tips dari saya. Waktu berkunjung yang paling baik menurut saya adalah sore menjelang malam. Pinggir pantai akan lebih meriah dan cantik dengan deretan lampu hias. Juga, cuacanya sudah mulai sejuk.

Kalau kemalaman, di pantai Sebalang juga juga berkemah dengan sewa tenda. Alternatif lainnya adalah menginap di penginapan yang tersebar di sekitar pantai. Pilih saja yang sesuai dengan kebutuhan dan dana di kantong.

Harga tiket masuk pantai Sebalang juga cukup terjangkau, yaitu Rp 10.000,-/orang. Biaya parkir motor sebesar Rp 5.000,- dan biaya parkir mobil sebesar Rp 10.000,-.

Nah, gimana? Tertarik untuk ke pantai Sebalang saat berkumpul bareng keluarga besok?

Tempat Wisata Religi Di Indonesia

Selain pemandangan alam, pantai, dan taman wisata buatan yang indah dan megah, Indonesia juga kaya akan tempat wisata religi. Dari masjid bersejarah, makam para wali, hingga museum yang memamerkan kitab-kitab dari zaman dahulu kala.

Kalau kalian pecinta wisata religi, berikut saya rangkum beberapa tempat wisata religi, khusunya Islam yang tersebar di beberapa daerah di Indonesia. 

1. Masjid Raya Baiturrahman - Aceh

Berada di ujung pulau Sumatera, tepatnya di Banda Aceh, masjid Baiturrahman bisa menjadi tujuan wisata religi di Aceh. Masjid yang selamat tanpa kerusakan berarti saat gempa dan tsunami Aceh pada tahun 2004 lalu ini, punya sejarah yang panjang.

Masjid Baiturrahman
Sumber : Wisato.id

Bangunan asli masjid diperkirakan berdiri pada tahun 1612 saat Sultan Iskandar Muda memegang pemerintahan. Referensi lain menyebutkan masjid ini dibangun oleh Sultan Alaidin Mahmudsyah pada tahun 1292.

Sempat hancur karena serangan kolonial Belanda pada tahun 1873, masjid ini kembali dibangun pada tahun 1879 sampai tahun 1881 saat pemerintahan Sultan Aceh terakhir, Muhammad Daud Syah. Hingga kini, Masjid Raya Baiturrahman telah menjadi kebanggaan masyarakat Aceh.


2. Bayt Alquran Al-Akbar - Palembang

Tempat wisata religi selanjutnya adalah Bayt Alquran Al Akbar yang berada di Pondok Pesantren Al Ihsaniyah, Gandus Palembang dan kini menjadi ikon kota Palembang.

Alquran Akbar Palembang
Sumber : giwang.sumselprov.go.id

Sesuai dengan namanya, Alquran megah ini mencapai tinggi 15 meter dengan ukiran yang menawan. Hampir seluruh ruangan bernuanda coklat keemasan. 

Ayat-ayat Alquran ditulis di papan kayu dengan ketinggian lebih dari 170 cm di setiap lembarnya. Jika tiap lembar Alquran besar ini digabungkan, akan mencapai ukuran 9 meter.

3. Islamic Centre Tulang Bawang - Lampung

Diresmikan pada tahun 2016 lalu, masjid Baitus Shobur atau yang lebih dikenal dengan Islamic Center Tulang Bawang ini bisa menjadi pilihan untuk berwisata sambil beribadah.

Islamic Center Tulangbawang
Sumber : kompas.com

Lokasinya berada di Panaragan Jaya, Kecamatan Tulangbawang Tengah, Kabupaten Tulangbawang Barat, Lampung. Masjid berjuluk 99 Cahaya Asmaul Husna ini punya desain modern yang berbeda dari masjid pada umumnya. 

Masjid dibangun tanpa kubah dengan desain vertikal bergaya modern. Sementara ornamen dalam dihias dengan tulisan asmaul husna. Tidak hanya itu, di sekeliling masjid juga banyak spot yang instagramable. Seperti danau buatan, pohon-pohon yang rindang, dan batu ukiran.

4. Masjid Istiqlal - Jakarta

Sebagian besar masyarakat Indonesia mungkin sudah familiar dengan masjid yang satu ini meskipun mungkin belum pernah bertandang kesana. Iya, Masjid Istiqlal Jakarta memang salah satu tempat yang bisa jadi pilihan bagi masyarakat yang datang ke Jakarta.

Masjid Istiqlal
Sumber : storage.jakarta-tourism.go.id

Ir. Soekarno memprakarsai dibangunnya masjid ini untuk memperingati hari kemerdekaan Indonesia. Sebab itulah, nama Istiqlal yang dalam Bahasa Arab berarti kemerdekaan disematkan untuk masjid megah ini. 

Berkapasitas hingga 200.000 jamaah, masjid Istiqlal diklaim sebagai masjid terbesar di Asia Tenggara dan terbesar ke 6 di dunia. Arsitekturnya bergaya formalisme dengan marmer melapisi dinding dan lantainya. Ornamen geometrik dari baja juga menghiasi bagian dalam masjid.

Masjid yang dibangun pada tahun 1961 ini berlokasi di sebelah Istana Merdeka, Jakarta Pusat dan bisa dikunjungi oleh jamaah umum.

Itu dia beberapa tempat wisata religi yang bisa kalian kunjungi. Masih banyak tempat wisata religi lainnya di daerah lain. Nanti deh, saya tulis di bagian selanjutnya saja ya! 

Kalian mau kemana dulu nih?


10 Februari 2023

Mampir ke Hotel Bandara Syariah Lampung, Dekat Banget Bandara Radin Inten II

Halo!

Jalan-jalan saya kali ini cukup dekat dengan rumah. Sekali-kali menghadiri undangan seorang teman lama yang sekarang balik lagi ke Lampung untuk memimpin sebuah hotel. Pas banget sekalian bertemu teman lama dan mengulik seperti apa sih hotelnya?

Hotel Bandara Syariah Lampung
Hotel Bandara Syariah Lampung

Hotel Modern Dengan Konsep Syariah

Sesuai dengan namanya, Hotel Bandara Syariah dikelola sesuai syariah Islam. Jujurnya, dulu saya gak kepikiran sih ada hotel dengan konsep begini. Bagi saya, semua hotel ya sama, semua orang bisa masuk dengan bebas.

Tapi, pandangan saya berubah setelah tahu ada hotel yang mengusung standar Islam untuk pengunjungnya. Syariah disini meliputi pengunjung yang datang berpasangan haruslah sudah menikah dengan melampirkan bukti KTP atau buku nikah.

Jadi, jangan harap bisa masuk kalau kalian adalah pasangan yang belum halal, semisal belum menikah, atau sudah menikah tapi bawa orang lain. Naudzubillah ya.

Bukan hanya soal tamu berpasangan saja, tapi juga standar syariah lainnya seperti tidak memperkenankan membawa minuman keras, obat-obat terlarang, dan sebagainya. Tentu saja, di bagian restonya juga tidak menjual minuman beralkohol dan sejenisnya.

Nah, di bagian dapur, standar syariah yang digunakan mencakup bahan-bahan makanan dan bumbu yang baik dan halal. Wih, mantap kan?

Bicara soal makanan, saya diajak sarapan dulu nih sebelum keliling-keliling. Sarapan disini sudah siap dari pukul 06.00 pagi. Oh iya, sarapannya juga model all you can eat dan berganti-ganti menu setiap harinya. Ada berbagai macam makanan yang bisa dipilih. Mulai dari kue-kue, buah, beberapa macam minuman, sampai makanan berat seperti nasi atau bubur.

Breakfast Hotel Bandara Syariah
Breakfast Hotel Bandara Syariah

Waktu saya kesana, menu yang disajikan ada nasi goreng, set menu nasi putih, ketupat tahu, laksa, dan beberapa jenis kue. Saya paling suka dengan laksanya. Lontongnya lembut dan kuahnya gurih sedap!

Laksa
Mencicipi laksa dan ikan asam manis

Eh, ternyata gak hanya pengunjung hotel saja lho yang bisa sarapan disini. Orang umum juga bisa sarapan dengan seabrek menu mewah dengan merogoh kantong Rp 45.000,-/orang/nett. Dengan harga segitu, pengunjung sudah bisa sarapan sepuasnya sembari santai di tempat yang nyaman.

Dipikir-pikir, letak hotel ini juga strategis lho. Jarak dari hotel ke bandara tidak sampai 3 km dan dapat ditempuh hanya sekitar 5 menit berkendara. Pastinya, yang punya jadwal penerbangan paling pagi pun, gak akan buru-buru banget lah ya.

Disini juga ada jasa pengantaran dari hotel ke bandara dan sebaliknya dengan pemesanan terlebih dahulu di resepsionis. Bagi saya, hal begini adalah nilai lebih dari sebuah pelayanan. Bayangkan kalau seandainya mau kejar pesawat pagi tapi susah dapat kendaraan. Mau naik angkutan umum atau ojek online belum tentu cepat datang.

Baca juga : Terpaut Peca Poblo di Hotel Sofyan Cut Mutia

Intip Kamar dan Fasilitasnya, Yuk!

Saat tiba di hotel, saya disambut hangat oleh resepsionis yang ada di meja depan. Sayangnya, saya gak sempat foto sama si resepsionisnya, hehe. Lobi terasa luas dan lega dengan sentuhan segar dari akuarium dinding berisi ikan-ikan lucu.

Ada manajer area yang dengan ramah pula mengantarkan saya melihat kamar dan fasilitas lain yang ada di hotel ini.

Seperti hotel lain pada umumnya, Hotel Bandara Syariah tidak hanya memiliki satu tipe kamar saja. Ada tiga tipe kamar yang dapat dipilih pengunjung pada saat reservasi atau datang langsung pada saat check in.

Kamar Executive. Kamar ini merupakan tipe tertinggi di hotel ini. Fasilitas yang ada dalam kamar antara lain, AC, TV, telepon, kulkas mini, teko pemanas air, satu set teh dan kopi, air mineral botol gratis, amenities lengkap dan toiletries.

Kamar executive Hotel Bandara Syariah
Kamar Executive Hotel Bandara Syariah

Kamar Deluxe. Tipe kamar menengah yang ada di hotel ini. Dari segi rupa, kamar ini hampir sama dengan tipe Executive. Perbedaannya hanya pada salah satu kelengkapan yang ada di kamar, yaitu tidak ada kulkas mini. Bagi saya, sudah cukup sih kalau hanya menginap semalam atau dua malam di tipe kamar ini.

Kamar deluxe Hotel Bandara Syariah
Kamar Deluxe Hotel Bandara Syariah

Kamar Superior. Ini tipe kamar paling rendah diantara tipe kamar lainnya. Berbeda dengan dua tipe kamar sebelumnya, kamar Superior ini berada di gedung yang berbeda namun tetap dekat dengan gedung utama. Bentuk kamarnya lebih mirip seperti kamar kosan yang punya teras depan. Nyaman banget untuk duduk santai saat pagi atau sore hari sambil memandang ikan-ikan di kolam taman.

Kamar Superior Hotel Bandara Syariah
Kamar Superior Hotel Bandara Syariah

Taman hotel bandara syariah
Taman Hotel Bandara Syariah

Baca juga : Review OYO Syariah Alfurqon Palembang

Ada Ruang Pertemuan Juga

Saya melanjutkan tur sehari ini ke bagian lain lagi. Ada ruang pertemuan yang cantik dan elegan dengan karpet merah dan dinding bercat putih. Tempatnya berada persis di samping resto. Ada 2 ruang pertemuan yang disekat oleh tembok. Memang ruangannya gak terlalu besar ya, tapi cukup lah kalau untuk arisan atau acara kumpul-kumpul yang anggotanya gak terlalu banyak.

Layout meja dan kursi bisa dipesan sesuai dengan kebutuhan. Misalnya teater, classroom, atau round table. Ruang pertemuan ini juga difasilitasi oleh sound system dan wifi gratis.

Meeting Room Hotel Bandara Syariah
Meeting Room Hotel Bandara Syariah

Waktu menunjukkan sekitar pukul 11.30 siang. Ternyata, di resto sudah tersedia makan siang yang menggugah selera. Duh, belum sampai mulut aja, itu hidangan berasa sudah sedep banget, haha.

Saya disuguhi beberapa menu seafood yang rupanya baru dilaunching awal bulan Februari ini. Waahh, suatu kehormatan deh untuk mencicipinya pertama kali sebelum dilepas ke para pengunjung.

Menu Hotel Bandara Syariah
Menu Hotel Bandara Syariah

Ada udang saus padang, udang saus mentega, cumi saus mentega, dan gurame fillet saus padang. Tau aja kalau saya penggemar makanan laut seperti ini. Semuanya enak dan bumbunya meresap sempurna. Saus padangnya lumayan pedas ya untuk ukuran saya, tapi seimbang dengan rasa manis dan sedikit asam segar. Saus menteganya bisa menawarkan rasa pedas dengan rasa manis, baik dari bumbunya maupun dari bahan utamanya.

Makan siang
Makan siang yang seperti mukbang

Untuk pencuci mulut, saya disuguhi Banana Fitler. Ini tuh pisang yang digoreng krispi dan ditaburi dengan keju dan coklat. Meleleh di mulut! Satu lagi ada Lumpia Sambal Bangkok. Tekstur renyah dari kulit lumpianya pas banget sama isian sayur dan daging ayam dan udang gurihnya. Sebagai penutup, ada jus buah naga yang menyegarkan.

Dessert
Dessert

Sstt, dua menu terakhir ini bisa pangunjung dapatkan gratis dengan menginap di kamar Deluxe dan Executive lho! Promonya hanya di bulan Februari ini aja, makanya langsung kesana aja ya!

Hotel Bandara Syariah Lampung
Jl. Raya Natar, Km. 21 Candimas, Natar Lampung Selatan
Tlp. 0721-7697000
Hotline. 0812-72320556

Bonus foto :

Teman Lama
Ketemu teman lama

Teman Lama
Lagi ngetawain apa coba?

04 Oktober 2022

Aceh, Kota Wisata Impian Bareng Teman Hidup Traveloka

Halo!

Akhir tahun sudah tinggal beberapa bulan lagi ya. Biasanya aura untuk jalan-jalan dan staycation sudah mulai terasa. Jadi ingat dulu sebelum pandemi melanda, saya biasa merencanakan liburan akhir tahun. Berusaha untuk memberi penghargaan pada diri sendiri setelah satu tahun menggeluti rutinitas sehari-hari.

Yuk, Lihat Dunia Lagi Bareng Teman Hidup Traveloka
Yuk, Lihat Dunia Lagi Bareng Teman Hidup Traveloka

Tapi, dua tahun kemarin keadaan memaksa saya untuk tidak kemana-mana. Dalam artian, paling ya jalan-jalan tipis ajalah ke tempat yang dekat-dekat dan tidak keluar kota, apalagi keluar provinsi. Pokoknya jadi seperti gak bisa lihat dunia lagi, haha.

Alhamdulillah nih tahun ini pandemi sudah mulai mereda. Saya bisa menyusun lagi rencana jalan-jalan ke tempat wisata impian! Kamu mau ikutan juga? Yuk ah lihat dunia lagi, staycation lagi, liburan lagi, booking hotel murah lagi.

Aceh, Kota Wisata Impian


Jujurnya, saya punya mimpi untuk bisa berkeliling Indonesia dan menikmati keindahan alamnya. Tentu saja, sambil mencicipi kuliner yang banyak sekali macam ragamnya. Dari banyaknya kota di Indonesia, ada satu kota yang belum pernah saya kunjungi dan jadi semacam salah satu daftar kota wisata impian saya. Dimanakah itu? Aceh!

3 Alasan Untuk Berkunjung ke Aceh


Aceh. Salah satu daerah istimewa di Indonesia yang berada di paling ujung pulau Sumatera. Dikenal dengan Serambi Mekah, kota ini berhasil membuat saya punya setidaknya 3 alasan untuk mengunjunginya.

Wisata ke Aceh
Sumber foto : disbudpar.acehprov.go.id

1. Aceh, Kota Yang Belum Pernah Saya Kunjungi


Jelas, ini alasan pertama saya ingin sekali ke Aceh, hehe. Padahal saya tinggal di Lampung yang notabene sama-sama berada di pulau Sumatra. Tapi kok saya lebih banyak mengunjungi kota-kota di pulau Jawa?

Selama ini, saya hanya tahu Aceh lewat TV, media sosial, buku dan tulisan-tulisan di media cetak lainnya. Tari Saman yang memikat hati saya, lagu Bungong Jeumpa yang terngiang-ngiang di telinga saya, dan mie Aceh yang jadi jajanan favorit saya di Lampung rasanya sudah cukup untuk mengundang saya datang kesana.

Maka dari itu, kali ini Aceh akan menjadi daftar kota wisata impian saya bersama #temanhidup saya.

2. Aceh Punya Banyak Wisata Edukasi dan Wisata Pemandangan


Hal pertama yang terbersit di benak saya ketika menentukan tujuan wisata ke suatu daerah adalah mencari tempat wisata edukasi. Baik itu museum atau situs bersejarah lainnya, saya pastikan harus ada dalam daftar tempat yang akan dikunjungi.

Iya, saya memang suka museum. Bagi saya, museum punya daya tarik tersendiri untuk dikunjungi. Saya seperti diajak masuk ke lorong waktu untuk menyaksikan peristiwa bersejarah melalui benda-benda dan cerita yang ditinggalkan.

Wisata Edukasi di Aceh

Nah, Aceh sendiri punya banyak museum dan situs bersejarah yang bisa dikunjungi oleh wisatawan. Oh iya, karena saya fokuskan dulu di kota Banda Aceh, saya rangkum 4 museum yang ingin saya kunjungi ya.

Wisata Edukasi Aceh
Wisata Edukasi Aceh
(Sumber foto : disbudpar.acehprov.go.id)

  • Museum Tsunami Aceh

Museum pertama yang ingin saya kunjungi adalah Museum Tsunami Aceh. Siapa yang tidak ingat dengan peristiwa memilukan yang pernah terjadi di Aceh pada akhir tahun 2004 silam? Gempa bumi yang disusul dengan gelombang tsunami telah merenggut ratusan ribu jiwa dan memporak-porandakan kota Banda Aceh dan sekitarnya.

Untuk mengenang peristiwa itu, dibangunlah Museum Tsunami Aceh ini. Dari beberapa sumber yang saya baca, museum ini memamerkan potongan-potongan gambar kejadian saat itu. Peristiwa sebelum tsunami, saat terjadinya tsunami, dan setelah tsunami menerjang ada dalam diorama yang dipajang di ruang pamenya. Disini juga terdapat ruang pembelajaran seperti perpustakaan, alat peraga, ruang 4 dimensi, dan toko suvenir.

Museum ini terletak di Jl. Iskandar Muda, No. 3 Sukaramai Kec. Baiturrahman, Banda Aceh. Kalau saya lihat dari peta, sepertinya lokasi museum ini cukup mudah dijangkau. Harga tiketnya juga sangat ramah di kantong, berkisar antara Rp 3.000,- hingga Rp 15.000,- tergantung dari golongan pengunjungnya.

  • Museum PLTD Apung

Masih berkaitan dengan peristiwa tsunami Aceh, berdiri juga Museum PLTD Apung. Awalnya, museum ini merupakan kapal generator listrik milik PLN di Banda Aceh yang saat itu berada di Pelabuhan Ulee Lheue. Saat peristiwa tsunami, kapal ini terseret sejauh 5 km ke daratan.

Saat ini, museum PLTD Apung berlokasi di Punge Blang Cut, Banda Aceh, tidak jauh dari Museum Tsunami Aceh. Kalau mencari rute dari peta, jaraknya hanya sekitar 1 km dan dapat ditempuh dengan berkendara atau jalan kaki saja.

Untuk masuk ke museum ini tidak dipungut biaya alias gratis. Pengunjung hanya dikenakan biaya parkir sebesar Rp 3.000,- hingga Rp 5.000,- saja.

  • Museum Negeri Aceh

Tidak jauh dari Museum Tsunami Aceh, ada Museum Negeri Aceh. Museum ini berdiri pada tahun 1915 yang awalnya bernama Atjeh Museum.

Berlokasi di Jl. Sultan Mahmudsyah No. 10, Peuniti, Banda Aceh, museum ini setidaknya memiliki lebih dari 5.000 koleksi benda budaya dari berbagai jenis dan lebih dari 12.000 buku ilmu pengetahuan dengan berbagai judul.

Museum ini dibuka setiap hari kecuali hari libur nasional dengan tarif tiket mulai dari Rp 1.000,- hingga Rp 5.000,- tergantung kategori pengunjung.

  • Museum Rumah Cut Nyak Dien

Museum ini merupakan replika dari rumah Cut Nyak Dien yang dibakar habis oleh penjajah Belanda pada tahun 1800-an silam. Siapa yang tidak kenal dengan pahlawan wanita Cut Nyak Dien? Perjuangannya bersama rakyat Aceh melawan penjajah Belanda dapat dilihat dari foto-foto yang dipajang di museum ini.

Berada di Desa Lampisang Kec. Peukan Bada, Aceh Besar, museum Rumah Cut Nyak Dien dibuka setiap hari. Tidak ada tiket masuk tetapi ada kotak sumbangan untuk bisa diisi oleh pengunjung seikhlasnya.

Sebenarnya ada beberapa museum lain yang ada di Aceh. Tapi sayangnya terletak lumayan jauh dari kota Banda Aceh. Misalnya, Museum Kota Lhokseumawe, Museum Gayo, Museum Samudra Pasai, dan Museum Sabang. Jadi, mungkin butuh beberapa hari lagi menginap kalau ingin mengunjungi museum-museum ini.

Wisata Pemandangan Alam di Aceh

Selain wisata edukasi, Aceh juga punya wisata alam dan ikonik yang ingin sekali saya kunjungi. Beberapa tempat wisata itu masih berada di kota Banda Aceh sehingga masih bisa saya ikutkan dalam daftar kunjungan saya.

Wisata Pemandangan Aceh
Wisata Pemandangan Aceh
(Sumber foto : https://maa.acehprov.go.id/)


  • Masjid Raya Baiturrahman

Salah satu bangunan ikonik yang ada di Aceh adalah Masjid Baiturrahman. Masjid ini juga menjadi saksi bisu kedahsyatan gempa dan tsunami pada 18 tahun lalu.

Selama ini saya hanya bisa memandang kemegahan masjid ini dari gambar dan video saja, jadi rasanya saya harus melihat langsung dan tentu saja beribadah disana kalau mengunjungi kota Banda Aceh.

  • Nol Kilometer Banda Aceh

Berada di Gampong Pande, Kec. Kuta Raja Banda Aceh, saya penasaran sekali dengan tugu Titik Nol Kilometer Banda Aceh ini. Letaknya yang tidak terlalu jauh dari Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh ini, sepertinya bisa mempermudah saya untuk mengunjunginya.

  • Taman Putroe Phang dan Lapangan Blang Padang

Satu lagi tempat yang saya sukai saat berkunjung ke suatu kota adalah tempat terbukanya. Baik itu berupa taman kota atau alun-alun. Aceh juga punya tempat seperti ini, yaitu Taman Putroe Phang dan Lapangan Blang Padang.

Lokasinya masih di sekitaran Masjid Raya Baiturrahman, jadi cocok deh bisa satu paket perjalanan.

3. Kuliner Aceh Yang Eksotis


Siapa yang setuju kalau mengunjungi suatu tempat belum lengkap rasanya kalau belum mencicipinya kulinernya? Mari kita tos dulu.

Kuliner Aceh
Kuliner Aceh
(Sumber foto : https://rri.co.id/)
 
Indoneisa yang punya banyak kota dengan berbagai budaya, tentu saja punya banyak ragam kuliner juga. Tak terkecuali dengan Aceh. Salah satu kulinernya yang terkenal adalah Mie Aceh.

Selama ini, Mie Aceh memang jadi salah satu menu mie favorit saya. Untungnya di Lampung juga ada yang jual dan tidak terlalu sulit menemukannya. Tapi saya tidak tahu apakah rasanya akan sama dengan makan mie Aceh langsung dari kotanya.

Baca juga : Terpaut Peca Poblo di Hotel Sofyan Cut Mutia  

Selain Mie Aceh, saya juga penasaran dengan martabak Aceh dan kopi Aceh langsung dari kota asalnya. Haduh, membayangkannya saja, air liur sudah mengalir ini, hehe.

Akses Menuju Aceh


Ada beberapa moda transportasi yang bisa dipakai dari Lampung menuju ke Aceh. Tinggal pilih sesuai dengan kebutuhan dan dana yang ada.

Menggunakan pesawat sepertinya memang jalur yang paling cepat dan paling direkomendasikan. Tapi tetap saja harus transit dan berganti pesawat minimal 2 kali, yaitu ke Jakarta dan ke Medan, baru kemudian menuju Aceh.

Transportasi Ke Aceh
Transportasi Ke Aceh
 
Moda berikutnya yang bisa digunakan adalah melalui jalur darat. Naik kereta api menuju ke Palembang, kemudian dilanjutkan dengan naik bus ke Pekanbaru menuju Medan, dan disambung lagi naik bus menuju Banda Aceh. Perjalanan dengan moda transportasi ini setidaknya memakan waktu hingga 2 hari.

Alternatif berikutnya adalah melalui jalur laut. Tapi tetap harus menuju Jakarta terlebih dahulu ke pelabuhan Tanjung Priok untuk menumpang kapal fery menuju pelabuhan Belawan. Kemudian dilanjutkan dengan menaiki bus menuju Banda Aceh. Perjalanan ini memang terhitung lebih murah, tapi waktu yang ditempuh akan lebih lama.

Terakhir, menggunakan kendaran pribadi dari Lampung langsung menuju Banda Aceh. Waktu yang diperlukan memang lebih fleksibel ya tergantung kecepatan laju kendaraan dan berapa kali istirahat. Karena pasti tidak mungkin kan berjalan dari Lampung ke Aceh tanpa berhenti? Ini sama saja menjelajahi pulau Sumatra dari ujung ke ujung.

Akomodasi Selama Di Aceh


Ada beberapa hal yang saya pertimbangkan dalam memilih tempat menginap. Jarak hotel ke tempat wisata yang akan dituju, review dari pengunjung lain, dan alokasi dananya. Untungnya saya punya aplikasi yang sangat memudahkan untuk memilih tempat menginap sesuai dengan pertimbangan saya itu.

Booking Hotel Murah Di Traveloka


Setiap kali saya bepergian dan memerlukan tempat menginap, aplikasi pertama yang akan saya buka adalah Traveloka. Jujur, ini aplikasi paling gampang dan paling gak ribet soal booking hotel murah atau tiket transportasi.

Enaknya di Traveloka tuh, saya tinggal ketik kata kunci di pencarian hotel, dan nanti akan langsung muncul pilihan-pilihan hotel sesuai dengan kriteria yang saya pilih. Apakah yang jaraknya paling dekat, harga terendah, atau yang paling populer.

Booking hotel murah di Traveloka
Traveloka Superapp

Eh tapi, di Traveloka juga bukan Cuma bisa booking hotel murah dan booking tiket pesawat lho. Banyak hal yang bisa dieksplore dengan hanya satu apps. Butuh tiket untuk transportasi? Traveloka bisa cariin tiket pesawat, kereta api, bus, travel, rental mobil, antar jemput bandara, sampai JR Pass.

Butuh tempat menginap khusus untuk liburan? Traveloka punya yang namanya Holiday Stays. Butuh hiburan? Cari di bagian Traveloka Xperience. Kelaparan pas baru sampai di tempat menginap? Tenang, ada Traveloka Eats. Kehabisan kuota atau pulsa? Traveloka siap dengan layanan isi ulang kuota dan pulsa. Pokoknya mah, Traveloka itu superapps solusi kebutuhan lifestyle kamu!

Metode pembayarannya juga gampang banget dan bisa disesuaikan dengan kebutuhan. Soalnya, Traveloka menyediakan beberapa jenis pembayaran yang bisa dipilih sendiri oleh penggunanya. Ada Pay Later, Buy Now Stay Later, atau Bayar Saat Check In.

Harga yang ada di Traveloka ini juga hemat banget, apalagi kalau pesan lewat Traveloka Apps. Bakalan ada tambahan diskon untuk booking hotel dan tiket pesawatnya.

Baca juga : Bersiap Ambil Cuti, #JadiBisa Liburan  

Pilihan Hotel Di Banda Aceh


Balik lagi yuk untuk cari tempat penginapan saat tiba di Banda Aceh.

Ada beberapa hotel yang mungkin akan saya pilih sebagai tempat menginap kalau berkunjung ke Banda Aceh. Hotel-hotel ini saya pilih berdasarkan jarak ke tempat tujuan wisata, review pengunjung, dan alokasi dana nantinya.

Oh iya, saya jadikan Masjid Raya Baiturrahman sebagai titik pusat kunjungan saya, dan otomatis akan saya jadikan patokan untuk mencari tempat menginap di sekitar sana.

1. Hip Hope Hotel

Ini hotel yang muncul di urutan pertama dengan jarak yang paling dekat dengan Masjid Raya Baiturrahman. Hanya sekitar 300 meter dan itu berarti bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Hotel ini juga punya rating 8,7/10 yang saya simpulkan bahwa hotel ini cukup direkomendasikan sebagai pilihan tempat menginap.

Hip Hope Hotel
Hip Hope Hotel
(Sumber foto : Traveloka)

Kalau saya lihat foto-fotonya, kamar, lobi, dan ruangan lain tampak bersih dan rapi. Untuk hotel bintang 2 seperti Hip Hope Hotel ini dibandrol dengan harga mulai dari Rp 450.000,- per kamar per malam. Worth it sih menurut saya.

2. Plum Hotel

Hotel kedua yang jaraknya hanya sekitar 300 meter dari Masjid Raya Baiturrahman adalah Plum Hotel. Agak berbeda sedikit dari Hip Hope Hotel, Plum Hotel punya rating 8,1/10. Masih bisa lah sebagai alternatif tempat menginap yang murah meriah di tengah kota Banda Aceh.

Plum Hotel
Plum Hotel
(Sumber foto : Traveloka)

Fasilitas di hotel ini standar bintang 3. Dengan 3 tipe kamar, hotel ini dihargai mulai dari Rp 500.000,- per malamnya.

Baca juga : Pengungsi Elite di Asoka Luxury Hotel

3. Ayani Hotel

Pilihan ketiga untuk tempat menginap di sekitar Masjid Raya Baiturrahman adalah Ayani Hotel. Kali ini jaraknya agak lebih jauh sedikit, yaitu sekitar 500 meter. Masih sama dengan Plum Hotel, Ayani Hotel juga sudah standar bintang 3.

Ayani Hotel
Ayani Hotel
(Sumber foto : Traveloka)

Fasilitas di hotel ini cukup memadai, mulai dari sarapan gratis hingga antar jemput Bandara dengan tambahan biaya. Dengan 3 tipe kamar, hotel ini dihargai mulai dari Rp 591.000,- per kamar per malamnya.

4. Kyriad Hotel Muraya Aceh

Berbeda dari 3 hotel sebelumnya, Kyriad Hotel Muraya Aceh ini merupakan hotel bintang 4 yang fasilitasnya tentu lebih lengkap. Memiliki rating 8,6/10, saya kira hotel ini sudah bisa jadi rekomendasi sebagai tempat menginap kalau berkunjung kesana.

Kyriad Hotel Muraya Aceh
Kyriad Hotel Muraya Aceh
(Sumber foto : Traveloka)

Jarak dari Masjid Raya Baiturrahman juga tidak terlalu jauh kok, sekitar 700 meter yang artinya masih bisa lah ditempuh dengan berjalan kaki. Hitung-hitung sambil olahraga, hehe. Harga per kamar di hotel ini dibandrol mulai dari Rp 950.000,- per malamnya.

Itu dia, destinasi wisata dan tempat menginap impian saya tahun ini. Duh, sambil nulis ini aja saya sudah kebayang gimana bahagianya saya kalau staycation ini beneran terwujud dan bukan sekadar wacana. Sekali lagi nih saya ajakin kamu untuk “Yuk #LihatDuniaLagi dan bikin #StaycationJadi dengan Traveloka! Langsung meluncur ya ke Traveloka lewat link ini! https://trv.lk/kompetisi-lihatdunialagi-bloggerperempuan



Referensi :
http://museumaceh.com/
https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2020/02/rumah-cut-nyak-dhien-simbol-perjuangan-rakyat-aceh-melawan-belanda
https://disbudpar.acehprov.go.id/ 
https://www.rome2rio.com/map/Lampung/Banda-Aceh

03 September 2022

Wisata Kali Bronjong, Wisata Sungai Ala Pedesaan di Way Lima

Halo!

Happy Weekend ya! Gimana, sudah ada rencana mau menghabiskan akhir pekan kemana nih? Kalau pengen keluar rumah tapi belum tahu mau kemana, pas banget kamu baca postingan kali ini. Saya mau kasih referensi tempat yang bisa sedikit menghilangkan penat selama seminggu bekerja. Dimanakah itu? Baca sampai habis ya!

Wisata Kali Bronjong Way Lima
Wisata Kali Bronjong, Way Lima

Wisata Kali Bronjong

Yup! Ini wisata kali atau sungai dan bukan wisata pantai atau danau seperti beberapa tempat yang sudah saya posting reviewnya di tulisan sebelumnya. Kali atau sungai alami ini berada di Jl. Negara Ratu, Gg. Way Lima, Cipadang, kecamatan Gedong Tataan, Pesawaran Lampung. Jaraknya sekitar 30 km dari pusat kota Bandarlampung.

Tempat ini bisa banget sebagai pilihan untuk menenangkan diri sejenak dari hiruk pikuknya kesibukan kota. Suasana alami masih sangat terasa disini. Sungai dengan bunyi gemericik airnya mengalir di bawah rimbunnya jejeran pohon karet yang menjulang.

Wisata Kali Bronjong Way Lima
Wisata Kali Bronjong Way Lima

Sebenarnya nama sungai ini adalah Way Padang Ratu. Kata Bronjong diambil dari sebutan bronjong atau gabion yang merupakan bendungan sementara yang digunakan untuk mencegah masuknya air atau tanah pada galian yang telah dibuat. Nah, kalau di pinggir sungai bisa berbentuk anyaman kawat berisi batu, beton atau tanah dan pasir yang digunakan sebagai tanggul untuk mencegah longsor.

Gak heran sih tempat ini dinamakan Kali Bronjong karena memang di sekitar sungainya terdapat bronjong atau gabion yang tersusun dari batu-batu.

Aktivitas di Kali Bronjong

Ada banyak aktivitas yang dapat dilakukan di tempat ini. Mulai dari duduk santai di pondokan pinggir sungai sambil menikmati angin dan mendengar gemericik air, menikmati kudapan sambil berendam kaki di air sungainya yang dingin, hingga river tubing serta wahana darat yang tidak kalah serunya.

Paling utama ya river tubing atau hanyutan menikmati aliran sungainya yang tidak terlalu deras. River tubing ini dapat dilakukan dengan memakai ban sebagai pelampungnya. Jangan khawatir, arusnya tidak terlalu deras dan sungainya juga tidak terlalu dalam kok. Juga, disana ada tempat penyewaan ban berbagai ukuran.

River Tubing Kali Bronjong
River Tubing Kali Bronjong

Sedikit tips bagi yang ingin melakukan kegiatan ini, coba berjalan lebih ke hulu di bagian yang lebih tinggi agar lebih bisa menikmati aliran sungainya. Airnya juga lebih dingin dan segar daripada di bagian bawah.

Meskipun aliran air sungainya tidak terlalu deras dan dalam, tapi anak-anak harus tetap dalam pengawasan orang dewasa demi keamanan dan kenyamanan bersama. Kalau ingin lebih aman, ada kok tempat seperti cabang sungai yang dibuat mirip kolam khusus anak-anak.

Bermain air di Kali Bronjong
Bermain air di Kali Bronjong

Bagi pengunjung yang suka cari tempat karaoke dimanapun wisatanya, jangan khawatir. Di Kali Bronjong juga tersedia tempat karaoke yang bisa digunakan pengunjung untuk memamerkan bakat terpendamnya dalam hal bernyanyi, hehe. Ada beberapa panggung lengkap dengan orgen dan mic-nya yang bisa disewa pengunjung.

Untuk pengunjung yang suka foto-foto, bisa banget explore tempat ini dan ambil foto dengan sudut pandang semenarik mungkin. Kalau ingin yang ada ornamen khas tempat wisata, ada juga. Ayunan kayu dengan tulisan tangan yang mengundang senyum juga ada. Tinggal pilih deh.

Spot foto di Kali Bronjong
Gak punya mantan, jadi gak kangen wkwk

Belum puas dengan aktivitas ini? Boleh deh mencoba wahana darat dengan mengendarai motor All Terrain Vehicle (ATV). Dengan tarif Rp 25.000,- sampai Rp 35.000,-, pengunjung bisa menikmati sensasi off-road sederhana di sekitaran sungai. Meskipun rutenya tidak terlalu ekstrim dan masih terbilang rata, tapi bisa dicoba sebagai permulaan sebelum ke medan yang lebih berat lagi.

Motor ATV
Penyewaan Motor ATV

River tubing sudah, karaoke sudah, motoran juga sudah, waktunya kulineran. Setelah menikmati wahana air yang dingin, memang cocoknya mengisi perut ya. Di tempat wisata ini memang pengunjung bebas membawa makanan dan minuman dari luar, tapi kalau tidak membawa apapun, dijamin gak bakal kelaparan juga kok.

Ada banyak warung yang menyediakan berbagai macam makanan dan minuman. Mulai dari camilan seperti gorengan, cilok, siomay, sampai makanan berat untuk makan siang semacam soto, bakso, dan pecel sayur. Harganya dijamin ramah di kantong!

Baca juga : Rekomendasi 5 Wisata Pantai di Lampung

Fasilitas di Kali Bronjong

Wisata Kali Bronjong ini memang terbilang masih baru ya, maka dari itu fasilitas yang ada pun masih sederhana. Meskipun begitu, menurut saya fasilitas yang ada sudah lumayan lengkap kok. Ada toilet dengan air mengalir, kamar mandi untuk bilas, dan mushola.

Untuk pondokan di sepanjang pinggiran sungai, pengunjung bisa menyewanya dengan harga mulai dari Rp 30.000,- saja. Untuk kamar mandi, pengunjung dikenakan biaya Rp 2.000,-/sekali masuk untuk buang air atau bilas.

Fasilitas Kali Bronjong
Fasilitas Kali Bronjong

Nah, untuk parkir kendaraan, pengunjung bisa dengan bebas memilih area parkir selama ada di batas kendaraan dan tidak terlalu dekat dengan area warung dan sungai. Uniknya, disini ada beberapa tukang parkir yang mengatur kendaraan dan sepertinya memiliki areanya sendiri.

Jadi, meskipun sudah membayar tiket masuk di pintu depan, kalau mau keluar dengan kendaran ya bayar parkir lagi ke petugas yang berada di tempat kendaraan pengunjung parkir. Tapi tenang saja, biaya parkirnya masih seperti pada umumnya kok, sebesar Rp 5.000,-/mobil.

Tiket Masuk dan Lokasi Kali Bronjong

Untuk menikmati segarnya kali Bronjong ini, pengunjung dikenakan tiket masuk sebesar Rp 20.000,- untuk mobil dan Rp 10.000,- untuk motor. Harga ini sudah termasuk orang di dalamnya, jadi tidak berpatokan pada berapa banyak orang yang masuk ya. Lumayan murah jadinya kalau pakai mobil dengan muatan penuh sih, hehe.

Tiket masuk kali bronjong
Tiket masuk kali bronjong

Akses ke lokasi ini juga cukup mudah. Dari arah Bandarlampung bisa berkendara menuju simpang Gedong Tataan. Terus berkendara melewati kawasan kantor Pemda Pesawaran hingga simpang Pampangan kemudian belok kiri. Wisata Kali Bronjong berada sekitar 2 km dari simpang ini. Ada plang penunjuk arah juga kok, jadi tidak khawatir akan tersesat.

Wisata Kali Bronjong ini bisa menjadi alternatif tujuan wisata yang masih alami dengan nuansa pedesaan. Sedikit tips lagi, kalau mau kesini dan menikmati air sungainya, lebih baik datang pagi saja agar matahari tidak terlalu terik. Gak usah mandi dari rumah, sekalian mandi di sungai yang airnya beneran segar, hehe.

Gimana? Berminat untuk mengunjungi Kali Bronjong? Komen di bawah ya!

Baca juga : Seseruan Bareng Kompakers Lampung di Wira Garden