30 Maret 2024

Momen Ramadhan yang Tak Terlupakan

Bagi saya, momen Ramadhan selalu berkesan, selalu punya ceritanya sendiri, selalu bisa jadi kenangan setelah terlewat.  Tidak ada Ramadhan yang biasa-biasa saja. Mungkin karena banyak momen penting dan berharga juga yang terjadi saat Ramadhan. Baik momen bahagia ataupun momen yang sedikit membuat hati sedih. 

Momen Ramadhan

Ramadhan tahun 1991. Saya masih duduk di bangku sekolah TK tetapi urusan berpuasa di bulan Ramadhan, saya sudah mulai menjalankannya. Baru belajar sih dan memang orangtua saya gak memaksa saya harus puasa sehari penuh dan sebulan lamanya. Tapi yang saya ingat, saya penah berpuasa sehari penuh kala itu. Rasanya kalau gak puasa sehari, sayang aja gitu. Mungkin ini yang dinamakan kekuatan iming-iming THR dari Abah, hehe.

Suatu hari di hari sekolah, saya sedang main perosotan saat jam istirahat. Sebelumnya, saya memang sempat jajan di kantin (saya agak lupa, jajan coklat atau semacam biskuit gitu deh) lalu saya kantongi. Niatnya untuk berbuka puasa nanti sore. Rupanya, salah seorang teman saya melihatnya dan langsung meneriaki saya tidak puasa.

Tentu saja saya gak terima. Saya merasa masih berpuasa dan jajanan ini untuk berbuka nanti sore. Jadi, saya membela diri, tapi tak urung juga saya nangis, haha. Entah ya, satu momen ini masih terngiang sampai sekarang. Bahkan nama teman yang meneriaki saya tidak berpuasa itu juga masih saya ingat jelas lengkap dengan ekspresinya saat itu.

Kalau ingat itu, lucu dan pengen ketawa aja. Btw, teman saya itu masih satu sekolah dengan saya sampai SMA. Tapi saya gak tahu apakah dia masih mengingat kejadian ini.

Ramadhan 2010. Saat itu saya masih bekerja di provinsi tetangga. Pertama kalinya tinggal jauh dari orangtua. Pertama kali pula bertemu Ramadhan sebagai anak kosan. Bagi saya, agak berat sih. Biasa bareng keluarga, tiba-tiba harus bersama teman kosan yang baru kenal beberapa bulan. Biasa sahur dan berbuka dimasakin ibu, tiba-tiba harus masak sendiri atau cari di luar.

Tapi kalau gak begitu, mungkin saya akan selalu berada di zona nyaman sebagai anak ibu, hehe. Lagipula, banyak sekali pelajaran yang bisa saya dapat ketika itu.

Baca juga : Pelajaran Lagi

Menjalani hari-hari sebagai anak kosan yang baru belajar mandiri dengan penghasilan yang saat itu belum terlalu memadai, saya harus pintar-pintar membagi kebutuhan. Adakalanya memang terasa sempit, tapi seringkali terasa lapang kalau pandai bersyukur. Pun saat Ramadhan tiba.

Kalau di rumah, berbuka puasa biasanya diawali dengan makan takjil terlebih dahulu. Ya minum teh hangat atau es apapun yang manis bersama makanan ringan. Makanan beratnya nanti setelah solah Maghrib. Agak berbeda dengan saat di kosan. Takjil kadang ada, kadang lewat aja. Apalagi kalau sudah akhir bulan dan dana menipis, ya sudahlah langsung beli makanan berat aja, hehe. 

Tapi yang namanya rezeki itu pasti akan datang kalau Allah sudah menetapkan. Ada saja yang berbagi saat saya sedang berfikir mau cari takjil atau bukaan apa. Entah diundang buka puasa di rumah teman atau dikirimi takjil sama yang empunya kos. Alhamdulillah.

Ramadhan 2020. Pertama kalinya Ramadhan dalam suasana duka di seluruh dunia. Ramadhan di tengah pandemi Covid-19. Untuk pertama kalinya dalam hidup saya, Ramadhan tidak seramai biasanya. Tidak ada acara punggahan, tidak ada tarawih di masjid, tidak ada suara tadarus anak-anak, tidak ada keramaian. Semuanya berdiam diri di rumah.


Alhamdulillah, tiga empat tahun berlalu dan Ramadhan kini hidup kembali. Ramadhan memancarkan cahayanya lagi.Tarawih ramai lagi di masjid-masjid, tadarus berkumandang lagi, dan pemburu takjil gak takut lagi keramaian.

Ramadhan memang punya aura sendiri. Kalau kamu, punya momen apa di Ramadhan?

27 Maret 2024

Ngabuburit Ramadhan

Assalamualaikum, semua!

Tulisan ini berisi tentang cerita-cerita saya mengisi waktu ngabuburit Ramadhan. Dari yang saya ingat ya, ngabuburit ala saya tidak jarang hanya berputar di rumah saja.

Ngabuburit Ramadhan
Ngabuburit Ramadhan

Waktu saya masih jadi mahasiswa, saya tergolong orang yang introvert, gak gaul, gak sering kumpul bareng teman sekelas. Tapi dibilang penyendiri banget juga gak, masih suka sama organisasi, gabung ke komunitas yang sehobi dan semisi. 

Jadi sebagian waktu saya habis kuliah dan organisasi aja. Pulang ke rumah biasanya sore atau malah lewat maghrib baru sampai. Nah, saat Ramadhan tiba, saya biasakan untuk pulang lebih awal.

Selain karena gak mau merepotkan orang rumah (karena pasti minta jemput di depan gang kalau sudah kesorean), juga karena seringnya sudah susah cari angkutan kalau terlalu malam. Fyi, dari mulai sekolah sampai kuliah, saya pakai angkutan umum.

Otomatis, ngabuburit versi saya kuliah ya hanya di rumah saja. Seringnya sambil beberes karena saya gak pernah pegang area dapur, hehe. Atau saya lanjut kerjakan tugas kuliah biar malamnya bisa leluasa ibadah dan istirahat.

Kebiasaan ini berubah ketika saya sudah mulai kerja, di provinsi tetangga pula. Menjalani kehidupan anak rantau yang ngekos, acara ngabuburit diisi dengan hunting takjil dan makan malam.


Saya ingat banget, rela pergi ke warung agak jauh demi menikmati nasi padang enak. Atau jalan-jalan sore keliling mall bareng teman kosan karena jarak kosan ke mall cuma berbatas jalan aja.

Pulang kampung dan bekerja di tempat yang dekat dengan rumah orangtua pun gak banyak merubah acara ngabuburit versi saya. Pulang kerja langsung beberes rumah dan sesekali buat takjil. Begitu terus sampai bertahun-tahun, haha. Jarang banget ngabuburit santai sambil jalan-jalan.

Setelah menikah, sore hari di bulan Ramadhan lebih sibuk lagi. Sedari gadis jarang banget dan hampir gak pernah pegang dapur, sekalinya menikah harus bisa ke dapur. Jadi, ngabuburit diisi dengan masak dan menyiapkan bukaan puasa. Apalagi saya pun masih bekerja dan pulang sore saat itu.

Rutinitas ini terus berlanjut hingga sekira tujuh tahun setelahnya. Tapi karena di rumah sendiri, kadang dibawa santai aja. Beli takjil dan sayur matang adalah jalan ninja agar bisa punya waktu lebih luang. Toh yang berbuka puasa hanya 2 orang.

Sampai akhirnya tahun ini Ramadhan menghampiri saat kami telah dikaruniai seorang anak. Lebih sibuk lagi lah pastinya. Ngabuburit sambil jalan santai? Dahlah belum bisa saya. Mandi sore pun harus menunggu suami pulang karena sekarang si bayi ini sedang aktif-aktifnya dan gak bisa ditinggal sendirian.

Yah, pada akhirnya memang kita harus siap berubah sih. Dari anak rumah, menikah, tinggal sendiri, punya amanah, dan seterusnya. Disyukuri aja deh. 

Ini cerita ngabuburit versi saya. Kalau kamu, gimana?

22 Maret 2024

Takjil Ramadhan Unik Dari Berbagai Daerah

Ramadhan tak lepas dari yang namanya takjil, hidangan pembuka untuk berbuka puasa. Biasanya takjil ini berupa minuman dan makanan kecil yang mudah dicerna setelah seharian perut kosong. Minumannya bisa berupa air putih, teh manis hangat, atau beraneka macam es dan minuman segar lainnya. Sementara makanan kecilnya tergantung selera dan ketersediaan. Bisa aneka kolak, bubur, kue basah, gorengan, atau makanan manis lainnya.

Takjil Unik di Indonesia
Takjil Unik di Indonesia

Eh tapi, ternyata ada lho takjil Ramadhan unik yang berasal dari beberapa daerah di Indonesia. Apa sajakah itu? Lanjut bacanya ya!

1. Kolak Ayam Dari Desa Gumeno
Apa yang pertama kali terlintas saat mendengar kata kolak? Tentu rasa yang manis, legit, dengan isian lembut seperti pisang, ubi-ubian, atau labu ya. Rupanya ada satu jenis kolak yang isiannya tidak umum, hehe. Kolak Ayam.

Kolak Ayam atau Sanggring merupakan sajian berupa ayam yang dimasak dengan kuah santan berbumbu jinten, gula merah, dan daun bawang. Dimasak dan dimakan bersama setiap tanggal 22 Ramadhan di masjid Desa Gumeno, Gresik dan sudah menjadi tradisi dari jaman pemerintahan Sunan Dalem.

2. Kopi Rempah Dari Solo
Sebagian orang mungkin akan berfikir kembali jika harus meneguk kopi setelah seharian perut kosong. Tapi, di masjid Jami Assegaf, Solo, para jamaahnya akan disuguhi secangkir kopi rempah untuk berbuka puasa.

Tenang, kopi ini disajikan dengan dalam porsi kecil saja kok. Uniknya lagi, tidak hanya bubuk kopi dan gula saja yang jadi bahan dasarnya, tetapi juga ditambahkan rempah berupa jahe, gula kepala, gula pasir, dan kayu manis. Tidak lupa juga daun pandan dan serai untuk menambah aromanya.


3. Kicak Ketan Dari Yogyakarta
Kudapan satu ini aslinya berbahan dasar singkong, namun kini banyak kicak yang berbahan dasar beras ketan. Berpadu gurih dengan kelapa, manisnya gula pasir dan harumnya vanili membuat kue kicak banyak diminati oleh masyarakat sekitar. 

Sebagai informasi, kue kicak ini hanya dapat ditemui saat Ramadhan tiba. Makanya, penggemar kue kicak rela berburu untuk mendapatkan takjil unik yang satu ini.

4. Bubur Kampiun Dari Minangkabau
Mari ke pulau Sumatra untuk mencicipi sajian takjil Ramadhan unik lainnya, Bubur Kampiun yang berasal dari Minangkabau, Sumatra Barat. Isinya melimpah ruah berupa bubur sumsum yang diberi topping kolak ubi, pisang, candil, bubur delima dan ketan hitam.

Selain padu padan yang unik, ada yang unik lagi dari nama bubur ini. Disebut bubur kampiun karena sajian ini berhasil memenangkan kompetisi memasak di tahun 1960an.

5. Kue Lepet Dari Jambi
Pecinta kue tradisional klasik pasti akan menyukai kue lepet yang satu ini. Terbuat dari beras ketan yang dicampur dengan santan dan gula merah lalu dibungkus daun pisang dan dikukus hingga matang. Perpaduan rasa manis dan gurih serta lembutnya beras ketan membuat kue lepet cocok jadi takjil saat berbuka puasa.

6. Boh Rom Rom Dari Aceh
Masih menggunakan bahan dasar tepung ketan, ada kue boh rom rom dari Aceh. Takjil Ramadhan yang satu ini memang laris manis dan bisa ditemui hampir di setiap pasar takjil atau penjaja kue saat Ramadhan.

Adonan tepung ketan yang dibuat bulat-bulat kecil diisi dengan gula merah kemudian direbus hingga matang. Lalu dilumuri parutan kelapa sebelum disajikan. Sekilas, kue ini mirip sekali dengan kue klepon dari pulau Jawa. 


Itu dia, beberapa takjil unik yang berasal dari berbagai kota di Indonesia. Tentu masih banyak ragam sajian khas Ramadhan yang belum disebutkan disini. Coba dong tulis takjil khas dari daerahmu di kolom komentar ya.