02 September 2023

Sebuah Catatan Antara Saya dan Tapis Blogger

Halo!

Perjalanan membawamu bertemu denganku
Ku bertemu kamu

Saya dan Tapis Blogger
Saya dan Tapis Blogger

Seperti lagunya Tulus, saya dan Tapis Blogger dipertemukan oleh sebuah perjalanan tulis menulis. Cerita sedikit ya. Saya memang dari dulu suka menulis apapun. Cerita fiksi, puisi, keruwetan dalam pikiran, sampai curhatan orang. Sayangnya, dulu saya gak punya wadah untuk menampung tulisan saya itu. Bahkan sekadar menyimpannya dalam laptop. Jadi, paling hanya berakhir di tumpukan kertas dalam lemari.

Tapi alam memang sudah berkongsi hingga saya dipertemukan dengan orang-orang yag hobinya sama. Masuk komunitas menulis dan bertemu dengan lebih banyak penulis yang tentu saja karyanya sudah jauh di atas saya. Bahkan sudah dibukukan dan laris manis. Saya jadi mikir, tulisan saya ini sepertinya gak mungkin akan dibukukan semua. Apalagi kalau isinya sekadar curhatan gak jelas, hehe.

Di saat itu semesta kembali berkongsi. Saya dipertemukan lagi dengan orang-orang yang mahir membuat blog. Nah, ini dia tempat yang sepertinya tepat untuk menyimpan semua cerita saya dalam bentuk tulisan.

Baca juga : Blogging Untuk Pemula

Seiring berjalannya waktu, saya pun lebih banyak bertemu dengan komunitas blog meskipun hanya lewat dunia maya karena komunitas itu merupakan perkumpulan blog seluruh Indonesia. Eh tapi, ternyata perumpamaan ‘gajah di pelupuk mata tak terlihat’ itu nyata adanya. Saya malah gak tahu kalau ada Tapis Blogger di Lampung, haha.

Awal Mula Bergabung di Tapis Blogger

Saya kurang begitu ingat sih kapan awal mulanya saya tahu Tapis Blogger dan kapan saya mulai bergabung di komunitas ini. Tapi saya ingat banget pertama kali ikut kegiatannya. Di akhir tahun 2019 lalu, saya bersama teman-teman Tapis Blogger diundang untuk menghadiri launching salah satu gerai makanan yang membuka cabang lagi di kota Lampung.

Tapis Blogger x Hokben
Tapis Blogger x Hokben

Senang? Jelas lah! Selama ini kan tahu Tapis Blogger hanya lewat dunia maya dan belum pernah bisa ikut kegiatan secara offline. Jadi ketika akhirnya bisa bertatap muka dan ikut kegiatannya, rasa senang dan bahagia dong. Apalagi ditambah bertemu dengan orang-orang yang selama ini hanya kenal lewat nomor telepon atau media sosial saja. Klop lah.

Sejak saat itu, saya juga gabung di grup WA Tapis Blogger. Ada satu hal yang menarik disini. Saya kira, Tapis Blogger itu hanya berisi orang-orang yang mentok menulis saja, rupanya saya salah. Disini ada banyak orang dengan bakat lain yang tak kalah hebatnya dengan sekadar menulis.

Sebutlah youtuber yang sudah punya banyak subscriber dan videonya gak kaleng-kaleng. Ada lagi jurnalis yang tulisannya gak cukup diacungi hanya dengan 2 jempol. Ada juga fotografer, pustakawan, VO, influencer, dan beragam profesinya.

Duh, saya jadi pengen merangkap jadi semua itu, haha. Youtuber, vlogger, blogger, fotografer, influencer. Kemaruk ya? Namanya lagi semangat.

Kegiatan Tapis Blogger

Seperti yang saya tulis sebelumnya, Tapis Blogger tuh gak hanya sekadar tulis menulis saja. Selama saya bergabung di komunitas ini, ada banyak kegiatan yang sudah saya ikuti bersama para anggotanya.

Launching produk atau gerai baru

Ini kegiatan yang sudah beberapa kali saya ikuti bersama para anggota Tapis Blogger. Acara ini biasanya kami hadiri dan dokumentasikan di berbagai akun media sosial dan tentunya blog para anggota. Selain dapat silaturahmi karena berkumpul sesama anggota, juga bisa dapat teman baru selama acara berlangsung. Bonusnya dapat hadiah dari sponsor, hehe.

Kegiatan Tapis Blogger
Tapis Blogger X Wardah

Berbagai Seminar dan Workshop

Nah, kalau acara yang ini sering banget Tapis Blogger dapat undangan. Karena sifat undangannya adalah perwakilan, gak mungkin kan semua anggota bisa hadir. Maka dari itu, biasanya para pengurus akan menginformasikan hal ini di grup WA untuk kemudian memilih siapa saja yang bisa hadir. Alhamdulillah saya juga pernah beberapa kali ikut acara seperti ini.

Kegiatan Tapis Blogger
Festival Literasi

Keuntungannya tentu saja dapat ilmu dari seminar dan workshop, dapat teman baru, dapat pengalaman baru, dan bahan tulisan untuk menambah portofolio di akun media sosial dan blog saya.

Kegiatan Tapis Blogger
Workshop Bunda Literasi

Kegiatan Internal Tapis Blogger

Selain kegiatan eksternal sebagai tamu undangan, Tapis Blogger juga tentu saja punya kegiatan internal yang melibatkan semua anggotanya, baik secara online maupun secara offline.

Secara online, Tapis Blogger punya jadwal rutin di grup WA. Sebut saja Blogwalking, yaitu mengunjungi blog para anggota yang terdaftar disertai komentar di akhir tulisan. Blogwalking ini adalah salah satu upaya untuk meningkatkan statistik pembaca blog sehingga DA dan PA juga bisa meningkat. Selain itu, blogwalking juga bisa memotivasi para anggotanya untuk konsisten ngeblog.

Kegiatan Tapis Blogger
Milad ke-6 Tapis Blogger

Baca juga : Belajar Ngeblog Lewat Blogwalking

Selain Blogwalking, ada juga support akun media sosial seperti twitter, tiktok, dan instagram. Support berupa like, komentar dan follow ini juga adalah salah satu cara untuk menjaga akun media sosial anggota tetap aktif dan hidup.

Kegiatan online lainnya adalah berbagai webinar dan pelatihan yang dapat diikuti oleh semua anggotanya.

Secara offline, Tapis Blogger biasanya punya acara untuk mengumpulkan para anggotanya. Acara rutin setiap tahun pastinya ya Milad Tapis Blogger yang jatuh pada tanggal 31 Agustus.

Tujuh Tahun Tapis Blogger

Gak kerasa sih ternyata saya sudah 4 tahun jadi anggota Tapis Blogger. Setengah lebih dari usia Tapis Blogger itu sendiri. Sayangnya, dua tahun lalu pandemi sempat melanda sehingga tidak banyak kegiatan yang bisa dilakukan secara offline. Padahal saya masih anggota baru yang seharusnya lebih banyak bertemu dan berinteraksi untuk lebih mengenal para anggotanya.

Syukurnya, tahun 2022 sudah mulai kembali kegiatan offline yang berarti saya juga sudah bisa berpartisipasi kembali meski tidak semua kegiatan bisa saya ikuti. Kadang saya ingin, tapi waktunya tidak tepat. Kadang waktunya tepat, tapi lokasinya tidak memungkinkan karena jauh. Kadang pula, saya ingin dan waktu yang tepat, tapi anggota lain bergantian yang hadir, hehe.

Jujurnya, saya memang belum mengenal betul satu persatu para anggotanya. Yang saya tahu adalah mereka semua punya latar belakang beragam dan bakat berbeda-beda. Keberagaman ini tentunya tidak membuat Tapis Blogger terpecah belah, malah justru membuat Tapis Blogger makin kaya akan karya-karya mereka.

Baca juga : Serunya Milad ke-6 Tapis Blogger

Di tujuh tahun Tapis Blogger ini, semoga Tapis Blogger makin dikenal dengan kontribusinya terhadap literasi, makin berjaya di era digital, dan makin seru dengan karakter para anggotanya. Selamat ulang tahun, Tapis Blogger! Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog Milad ke -7 Tapis Blogger.

Milad 7 Tapis Blogger
Milad 7 Tapis blogger


15 Agustus 2023

Kado Terindah di Ultah ke 8 Pernikahan

Halo!

Selamat ulang tahun ke delapan untuk pernikahan kita ya! Gak ada perayaan apapun, gak ada tukar kado atau tukar surat cinta, bahkan foto pun alakadarnya. Kenapa? Karena kami sudah punya kado terindah di tahun ini. Iya! Seorang gadis kecil bernama Azkia Wafa Aulia.

Kado Pernikahan
Foto yang benar-benar alakadarnya, haha

Padahal sudah dari lama saya punya angan-angan. Ketika suatu saat kami bisa merayakan ulang tahun pernikahan bersama seorang anak, saya ingin foto yang bagus dan yang niat banget gitu, haha. Rupanya, kenyataan tidak sesuai dengan angan-angan.

Paginya pengen foto bareng, tapi tahu sendiri kan bagaimana riwehnya pagi di hari kerja? Sebelum punya bayi aja buru-buru, apalagi pas sudah punya gendongan ya. Nah, sepulang suami kerja sudah niat tuh mau foto bertiga, tapi lagi-lagi memburu waktu untuk imunisasi si bayi, takut kesorean karena suami pulang sudah hampir jam 5 sore. Pulang imunisasi, eh si bayi kok tidur dalam gendongan, haha.

Apalah daya, gak tega untuk bangunin hanya karena ingin foto. Maka, jadilah foto alakadarnya begini. Cuma ingin jadi pengingat bahwa di tahun ke delapan inilah kami baru dipercaya untuk menimang seorang malaikat kecil.

Doa untuk tahun ke delapan ini masih sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Semoga keluarga kami makin sakinah, mawaddah, warahmah. Memang masih harus terus belajar untuk jadi istri yang baik dan jadi suami yang bijak, apalagi sekarang diamanahi jadi orangtua. Belajarnya harus lebih lagi.

Dah lah, ini nulisnya nyambi dan curi-curi waktu di sela si bayi tidur. Masih beradaptasi dengan situasi yang baru, yang benar-benar berbeda dari sebelum punya bayi. Nanti akan saya tulis sedikit demi sedikit di postingan lain ya, di label ‘Journey to be a Mom’ biar seru, hehe.

Si bayi sudah mulai uget-uget tuh, see you next post ya!

Baca juga : Journey To Be A Mom

12 Agustus 2023

Journey To Be A Mom

Prolog Untuk Kisah Panjang

Hai!

Ada label baru untuk tulisan di blog saya ini. Sesuai judul labelnya, Journey To Be A Mom, tulisan-tulisan di dalamnya akan berisi tentang perjalanan panjang saya untuk menjadi seorang ibu. Belum tahu juga sih, nantinya akan sebanyak apa, atau mungkin akan ada perubahan isi. Tapi untuk awalnya, ya berisi cerita aja.

Iya cerita aja, bukan tips apalagi tutorial untuk bisa jadi ibu, hehe. Ya karena saya memang belum pernah jadi seorang ibu dan ingin sekadar berbagi aja, siapa tahu ada pembaca dengan kondisi yang kurang lebih sama. Menanti cukup lama akan hadirnya seorang bayi. Kalau memang bisa menyemangati tentunya saya akan lebih bahagia.

Journey to be a mom
Journey to be a mom

Baiklah, ceritanya dimulai dari mana ya?

15 Agustus 2015

Tanggal yang cantik ya, 15-08-15. Itu tanggal pernikahan saya. Sudah lebih dari tujuh tahun lalu. Sejak saat itu dan bertahun-tahun berikutnya adalah masa penantian panjang yang isinya bermacam-macam. Pastilah ada senangnya, ada nangisnya, ada ngambeknya, ada rasa ingin menyerahnya.

Tapi kembali lagi, saya berfikir bahwa kehidupan pernikahan ya memang seperti itu. Gak seindah bayangan tapi juga gak seburuk apa yang ditakutkan. Tergantung sudut pandang aja. Semakin hari, harus jadi pembelajar aktif yang bisa memahami arah perjalanan rumah tangga ini mau dibawa kemana.

Sebelum menikah, saya sudah kebal dengan berbagai pertanyaan standar yang terdengar basi. Kapan wisuda, kapan bekerja, kapan menikah? Itu sudah saya lewati dengan berbagai macam rupa dan rasa. Jujurnya, saya memang melewati semua itu dalam waktu yang cukup lama, jadi lebih terasa aja.

Dan setelah menikah, muncul lagi pertanyaan pasaran yang kadang membuat perasaan orang jadi batu atau malah jadi debu. Kapan punya anak? Ya, kalau sudah menikah haruskah langsung punya anak? Kalau belum punya anak, memangnya belum sempurna pernikahannya? Atau kalau belum punya anak, memangnya tidak akan bahagia?

Tapi lagi-lagi, saya berusaha untuk cuek aja dan menanggapi pertanyaan itu dengan santai. Segala sesuatu itu pasti akan diberi di waktu yang tepat dan kala kita sudah siap. Gak dipungkiri memang, kadang saya ngebet banget pengen punya anak kalau lihat ada bayi menggemaskan atau kalau lihat baju-baju bayi yang lucu. Tapi ya seberapapun usaha saya, kalau Allah belum berkehendak ya gak akan mungkin saya hamil. Ya gak?

Teman-teman dan saudara saya juga banyak yang mengalami hal serupa. Sudah menikah bertahun-tahun, tapi belum juga punya keturunan. Jadi, saya merasa gak sendirian di dunia ini, haha. Kalau sudah begitu, biasanya saya bahagia lagi. Maksudnya saya gak mau ambil pusing perihal sesuatu yang gak bisa dipaksa.

Baca juga : Plis, Jangan Rusak Kebahagiaan Orang Lain

Waktu-waktu berdua dengan suami, saya isi dengan banyak hal. Bahkan ada yang bertanya, kalau berdua aja di rumah ngapain ya? Hehe, ya semau kami lah. Kadang ngobrol gak jelas, kadang nguprek di dapur bebuatan makanan, lebih seringnya main hp sendiri-sendiri, wkwk.

Kalau galau lagi, saya ingat aja hal-hal yang bisa membuat saya senang kembali. Misalnya, saya bisa pergi kemana saja tanpa ribet bawa perlengkapan anak-anak. Saya bisa tidur kapanpun saya mau tanpa harus begadang karena anak. Saya juga bisa lihat rumah hampir selalu rapi versi saya tanpa harus berkali-kali beberesan mainan anak. Simpel? Ya sesimpel itu.

Catatan, tapi hal ini bukan berarti saya menyebut bahwa orang yang memiliki anak itu tidak bisa kemana-mana lagi, tidak bisa rapi rumahnya, tidak bisa tidur sepuasnya dan lain-lain. Bukan gitu. Bahagia itu tidak ada standarnya lho ya, jadi saya gak berhak mengukur kebahagiaan menurut versi saya. Begitu juga sebaliknya.

Bagi saya, untuk apa memikirkan sesuatu yang belum saya dapatkan, tetapi tidak mensyukuri keadaan yang sekarang? Selagi masih berdua, nikmati aja momen kebersamaan ini. Selalu bulan madu, hanimun kemanapun dan kapanpun saya mau. And I did it! Banyak perjalanan menyenangkan yang saya lalui tanpa ada embel-embel bahagia dengan anak.

Trus, ada yang komentar, jalan-jalan terus gak mikirin mau punya anak apa? Haha, ya lagi-lagi tebalkan telinga dan kebaskan perasaan. Sudahlah, sebagian orang hanya bisa melihat satu sisi saja. Selalu dicari celah yang rawan untuk membuat seseorang kembali terpuruk.

Begitulah.

Btw, sudah kepanjangan ya prolognya? Hehe. Cerita perjalanan awalnya, di postingan selanjutnya aja kalau gitu ya!

Tetap semangat dan jangan lupa bahagia, wahai perempuan di dunia. Apapun keadaanmu, syukuri saja yang sekarang. Sesuatu yang belum ada dan diluar jangkauan kita, biar Allah aja yang atur.

See u next post!

Baca juga : Bagaimana Rasanya Jadi Ibu