15 Agustus 2024

Our 9th Wedding Anniversary

Awal kisah 15 Agustus 2015 masih berlanjut hingga 15 Agustus 2024 dan semoga akan terus berlanjut. Dulu, waktu tahun-tahun awal menikah, setiap kali anniversary, saya akan buatkan semacam video pendek berisi foto-foto kami berdua. Fotonya ini kami ambil di tanggal 15 setiap bulannya. Tapi, pembuatan video foto ini terhenti di tahun ke-4 pernikahan.

Faktornya banyak. Mulai dari foto-foto yang hilang karena ponsel saya sempat rusak dan tidak bisa menyelamatkan foto-foto itu, sampai kesibukan yang lumayan bertambah jadi gak sempat lagi untuk bebuatan video itu. Padahal saya punya keinginan mengumpulkan semua foto di tanggal 15 itu hingga nanti.

Alay? Yah, mungkin, tapi percayalah setiap orang punya semacam sisi kebahagiaan tersendiri yang mungkin tidak bisa dimengerti oleh orang lain, hehe.

Alhamdulillah sudah dua tahun ini kami bertiga. Tahun lalu, bayi kami masih bayi piyik, belum juga genap 3 bulan. Kami juga masih adaptasi menjadi orangtua. Jadi gak ada perayaan apa-apa. Padahal pengen banget foto bertiga dengan niat paling niat. Apalah daya, belum kesampaian.

Nah, tahun ini kok ya sama gak ada perayaan apapun. Bayi kami sudah setahun lebih dua bulan. Sudah banyak tingkah lucunya. Sudah bisa memilih juga mau sama siapa. Juga, kadang sudah gak mau diatur begini begitu. Alhamdulillah masyaallah barokallah. 

Wedding Anniversary Photo

Meskipun tanpa perayaan apa-apa, tapi saya tetap ingin ada bingkai kenangan. Pengennya foto yang estetik gitu. Bela-belain cari referensi foto di Pinterest ya ampun, haha. Dapatlah satu referensi, foto jari jemari kami bertiga yang berjajar. Tapi lagi-lagi gagal estetik. Si bayi gak mau diam barang sebentar. Ya sudahlah jadinya apa adanya begini.

Wedding Anniversary Photo

Foto selanjutnya tentu pengen kelihatan mukanya dong. Nah, menyempatkan dirilah kami ini jepret sekali aja sebelum berangkat ke rumah mbah uti. Ditambah pula suasana sore yang silau, bikin si bayi tambah gak mau senyum. Dahlah benar-benar apa adanya.

Doanya semoga keluarga kami makin sakinah mawaddah warahmah. Aamiin.

02 Juli 2024

Promil Part #4; Happy Ending

Hahaha..
 
Sepertinya ini bagian akhir dari tulisan perjalanan promil saya dan suami. Setelah tiga promil yang sudah saya tuliskan sebelumnya, saya belum kunjung hamil juga. Diluar tiga promil ini, saya dan suami juga berikhtiar dengan metode yang lain. Kayaknya gak mungkin satu-satu diceritakan secara detail ya. Dibilang lelah ya lelah, dibilang harus kuat dan masih ingin melanjutkan usaha, iya juga. Jadi, setelah ini saya dan suami berhenti lagi. Tidak memburu-buru dengan aturan yang saklek. Kembali ingat bahwa rezeki berupa anak itu hanya kuasa Allah.

Promil
My Happy Ending Promil

Suatu sore, di rumah kedatangan saudara sepupu. Sepasang suami istri yang juga pejuang garis dua selama kurang lebih 6 tahunan. Sama-sama berjuang lebih keras dari pasutri lain untuk mendapatkan keturunan. Nah, mereka berdua ini sudah berhasil hamil dengan terapi terakhir (tentunya sudah mencoba berbagai promil ya).

Baca juga : Promil Part 3; Jeruk Nipis sampai Resep JSR

Mereka bilang, pijat refleksi kaki. Pertama kali mendengarnya, saya biasa saja. Mungkin karena saya agak anti dengan metode pijat ya. Entahlah, saya gak pernah mau dipijat di bagian manapun tubuh saya oleh orang lain selain ibu dan suami. Geli aja gitu.

Tapi sepupu saya ini bilang cuma pijat refleksi di bagian kaki, gak ada pijat di bagian lainnya. Saya mengiyakan saja. Mereka juga memberitahu secara detail nama terapisnya, waktu praktek, biaya, lokasi, sampai arah jalan menuju kesana. Saya terima sebagai referensi. Mereka juga tahu kok, setiap orang berhak menentukan pilihan masing-masing. Mau menerima atau gak, yang penting sudah disampaikan.

Beberapa bulan berselang tapi saya dan suami seperti belum tertarik dengan pijat refleksi yang ini. Selain lokasinya yang memang cukup jauh dari rumah, saya juga masih ragu. Sampai ketika sepupu saya mengajak kesana untuk ke sekian kalinya sambil mereka memperkenalkan anaknya pada si terapis ini.

Saya dan suami sepakat untuk 'Baiklah, mungkin kita bisa mulai ikhtiar lagi setelah hibernasi beberapa waktu lamanya'. Kami juga sepakat bahwa apapun hasilnya setelah ini, ya itu sudah takdir. Mau berhasil atau gak, jalani aja dulu.

Singkat cerita, saya dan suami mulai pijat refleksi secara rutin. Sebagai informasi, tingkat rutinitas pijat refleksi ini tergantung dari seberapa intens kendala yang harus ditangani. Nah, untuk kasus kami, 2 bulan pertama kami harus kembali setiap minggunya kecuali ketika saya datang bulan.

Di samping itu, kami juga minum beberapa obat herbal untuk membantu menjaga kesehatan dan mengoptimalkan fungsi organ-organ dalam tubuh. Saya ingat banget waktu pertama kali disuruh makan belimbing wuluh 3 biji per hari. Katanya ini untuk memulihkan kondisi rahim saya. Kalian tahu kan gimana asemnya buah kecil itu? Dan saya yang gak toleran sama rasa asam buah, harus menelannya.

Tapi sekali lagi, demi menjemput takdir sebagai ibu, saya berani. Promil jeruk nipis yang asemnya ampun-ampunan aja saya coba kok, belimbing wuluh begini ya hayuk lah. Saya akali rasa asemnya dengan cara mencampur dengan sambal sachet kesukaan. Lumayan lah agak hilang sedikit rasa asemnya.

Terapi promil
Salah satu spot berteduh sebelum terapi, bisa untuk foto sambil jajan juga hehe

Selama kurang lebih 3 bulanan, kami bolak balik untuk pijat refleksi ini. Adakalanya kami santai ketika dapat jadwal pagi di hari libur. Tapi pernah juga dapat jadwal hari kerja dan sore hari. Nekat aja sih berangkat. Pas pulang kehujanan pula di tengah jalan. Mana sudah lewat maghrib dan di jalan yang gelap (sebagian jalan seperti melewati belantara tanpa rumah atau bangunan dengan kondisi yang sepi). Lagi-lagi, kami hanya berdoa semoga ikhtiar kami ini gak sia-sia.

Memasuki bulan ke empat atau ke lima (saya agak lupa), saya belum ada tanda-tanda akan hamil. Sementara tabungan sudah mulai menipis dan agak lelah juga hampir tiap hari libur harus terapi. Dalam kondisi begini, kami sempat gamang antara meneruskan atau selesai sampai disini dan ya sudah terserah Allah saja.


Nah, pas banget beberapa minggu kemudian datang Ramadhan. Kami sepakat untuk istirahat saat Ramadhan sambil terus memanjatkan doa. Rupanya, istirahat kami ini keterusan sampai beberapa bulan kedepan karena memang dana untuk kesana sudah sangat terbatas.

Beberapa bulan itu kami sudah pasrahkan. Kalau memang rezeki anak itu ada untuk kami, pasti Allah kasih kok. Kalau gak ada di dunia ini, mudah-mudahan di akhirat kelak.

Saat kami ada tabungan lagi, terbersit niat untuk kembali terapi. Tapi niat itu terus tertunda karena berbagai hal. Sampai akhirnya bulan Oktober tiba.

13 Oktober 2022
Sudah beberapa hari saya merasa tak enak badan. Flu, batuk, meriang, pusing, dan rasanya capek sekali. Lihat kalender, lho kok sudah lewat waktunya datang bulan. Seharusnya, sudah dari sebelum tanggal 10 kemarin. Saya gak mau berasumsi atau berharap lebih karena gak mau kecewa. Tapi, rasa penasaran menyergap.

Saya minta suami beli tespek dan ya ampun belinya cuma satu! Haha. Ya sudahlah. Subuh-subuh saya tes dengan agak berdebar. Tapi sebelumnya, saya dan suami sepakat untuk menerima apapun hasilnya. Kalau positif bersyukur, kalau negatif ya ikhlas lagi aja. Beberapa detik yang berselang itu jantung saya berdegup kencang sekali. Samar-samar muncul dua garis di stik tipis itu yang semakin lama semakin terang.
Tespack 2 garis
Tespack 2 garis

Saya mengerjapkan mata. Ini beneran dua garis? Artinya hamil? Saya bolak balik kemasan tespek untuk membaca ulang cara penggunaan, keterangan hasil, pokoknya semua tulisan disana. Dan stik itu tetap memberi saya dua garis. 

Jujur, keluar kamar mandi, saya gak begitu terharu. Hanya tercengang, bengong dan menghampiri suami. Dia juga sama, gak ada sorak sorai karena pas banget saat itu suami lagi demam juga. Yah, intinya, kami melihat hasil tespek positif itu seperti dua orang aneh.

16 Oktober 2022
Kami berdua berangkat ke klinik dekat rumah untuk memastikan apakah saya hamil beneran atau gak. Setelah usg dan konsultasi yang gak terlalu lama, hasilnya adalah positif. Saya hamil! Sejak hari itu, dimulailah perjalanan saya yang baru. Menjadi calon ibu. Alhamdulillah.

USG Hamil
USG Hamil

Oke, tulisan promil saya berhenti sampai disini. Saya merasa kehamilan saya adalah mukjizat. Anugrah, hadiah besar yang tidak saya sangka-sangka. Setelah berproses sekian lama sampai saya benar-benar di ujung pasrah, Allah mempercayai saya sebuah janin. Alhamdulillah.

Saya gak tahu pasti, usaha promil mana dan doa siapa yang berhasil membuat Allah mengizinkan saya untuk hamil. Satu hal yang pasti adalah keyakinan bahwa Allah akan memberi apapun pada saya disaat yang tepat.

Oh iya, selama saya promil apapun, saya gak cerita apapun kepada siapapun. Paling spil-spil dikit lah ke orang terdekat dan itupun gak detail. Tujuannya hanya untuk menjaga hati saya sendiri dari pertanyaan berulang. Tapi saya pernah bilang ke diri sendiri, suatu saat kalau saya berhasil hamil, saya akan bercerita tentang perjuangan ini di blog untuk kenang-kenangan, bahwa saya pernah sangat berusaha menjemput takdir sebagai ibu.

07 Juni 2024

Surat Untuk Wafa

Halo, Sayang. Ini ibu di waktu kamu umur 1 tahun. Hari ini setahun yang lalu, pagi-pagi ibu sudah siap untuk ke RS. Rencananya ada kontrol lanjutan karena sebulan sebelumnya saat cek posisi janin, kamu masih sungsang.


Surat untuk Wafa
Wafa 1 tahun

Gak ada yang ibu bawa kecuali dokumen rujukan dan buku KIA. Selebihnya paling hanya camilan dan air minum. Berangkat diantar akung dan uti, sementara ayahmu pakai motor sendiri biar bisa lanjut kerja setelah kontrol nanti.


Kami semua berdoa, berharap posisi kamu sudah membaik dan siap untuk dilahirkan meski HPL masih sekitar semingguan lagi. Tapi ibu juga sudah pasrah apapun keadaannya, bagaimanapun cara melahirkanmu, ibu ikut kata dokter yang terbaik saja.


Sampai akhirnya nama ibu dipanggil dan kamu diperiksa dokter. Benar dugaan ibu, posisimu masih sungsang ditambah air ketuban sudah makin sedikit dan mulai keruh. Jalan terbaik adalah operasi caesar secepat mungkin. Dokter memberi pilihan hari ini atau besok.


Keluar ruangan, hati ibu sudah gak karuan sebenarnya. Tapi rasa ingin cepat bertemu denganmu membuat secercah harapan bahagia juga. Tapi begitu melihat uti, ibu langsung menangis. Entah kenapa, ingin menangis saja. Uti bilang, lebih cepat lebih baik. Jadi, kami putuskan untuk melahirkanmu hari itu juga, tinggal menunggu jadwal dokter dan mengurus administrasi.


Ayahmu tak jadi lanjut kerja, ia langsung mengabari keluarga mbah dan mengurus segala keperluan ibu sebelum operasi. Ibu sudah tak boleh keluar RS lagi dan tak boleh makan besar lagi. Akung dan uti pamit pulang untuk ambil hospital bag di rumah. Untung sudah ibu siapkan semua keperluan dalam satu tas, jadi gak terlalu repot kalau dadakan begini.


Tapi, hari itu benar2 hari sibuk untuk semua orang. Senin yang serba buru2, Senin yang serba sibuk. Tidak terkecuali akung dan uti. Akung ada pertemuan dengan rekan kerja. Uti juga ada beberapa rapat penting dan mengurus beberapa hal di beberapa tempat.


Ayah dan ibu hanya berdua di RS, masih terus menunggu kamar yang kosong hingga untuk sementara ibu hanya bisa menunggu di ruang perawatan. Jujurnya, perasaan ibu campur aduk. Dalam hati selalu bertanya, hari ini kah pertemuan ibu dengan kamu? Hari ini kah ibu akan benar2 menjadu seorang ibu? Ah rasanya kayak mimpi.


Operasi Caesar
Menunggu di ruang perawatan dan masih bisa ketawa nyengir pose


Lewat tengah hari, ayah dan ibu masih harus menunggu jadwal operasi yang katanya pukul 15.00 atau 16.00 sore nanti. Masih di ruang perawatab bersama dengan beberapa calon ibu yang juga menanti pertemuan dengan malaikat kecilnya.


Ayah dan ibu hanya diam, sesekali tersenyum meringis kala di sebelah ada ibu2 yang menangis, teriak, memanggil2 perawat atau dokter karena sedang kontraksi. Sementara ibu tenang saja dan tak merasakan sakit apapun.


Berselang beberapa waktu, perawat datang dan memberi baju operasi untuk ibu. Segala peneriksaan jantung, nadi, dan apapun itu sudah mulai dilakukan. Ibu makin degdegan. Akung dan uti belum juga kembali padahal ada beberapa barang yang perlu dipakai.


Sampai akhirnya sekira pukul 15.00 ibu dipindahkan ke ruang lain, dipasang kateter, infus, dan sudah steril dalam artian tak ada siapapun yang menemani lagi. Rasanya ingin sekali ditemani oleh ayahmu seperti artis2 yang melahirkan caesar, tapi nyatanya itu tak diperbolehkan. Syukurnya, tim dokter dan perawat semuanya ramah dan menyenangkan. Tak ada wajah2 tegang, semuanya membuat ibu merasa santai dan baik2 saja.


Hingga tiba waktunya tindakan mengeluarkanmu. Lalu tiba2 sebuah tangisan memenuhi ruangan bersamaan dengan diangkatnya seorang bayi mungil di hadapan ibu. Itu kamu, Wafa. Tak ada jeda untuk berfikir, ibu langsung menangis keras. Rasa ingin memelukmu namun tak bisa. Rasa bahagia bercampur haru. Lalu tak percaya kamu sudah keluar dari perut ibu.


Seperti apakah wajahmu? Bagaimanakah rupa senyummu? Sekeras apakah kamu menangis? Rasanya waktu begitu panjang ketika menanti pertemuan denganmu. Ibu kira bisa langsung mengecupmu, tapi nyatanya ibu harus menunggu lebih lama lagi.


Baca juga : Journey To Be A Mom


OOO


Sejujurnya, ibu tak bisa tidur nyenyak malam itu. Meski ayah sudah memberikan fotomu, tapi rasanya belum puas kalau belum bertemu langsung denganmu. Hingga akhirnya perjumpaan denganmu tiba saat matahari sudah mulai cerah.


Wafa Newborn
Wafa Newborn


Bunyi derit kereta bayi terdengar mendekat ke arah tempat tidur sembari perawat memanggil nama ibu. Membuncah hati ibu saat akhirnya kita bertemu. Kamu benar2 mungil saat itu, Nak. Berbalut selimut kuning, meringkuk di pinggir box kaca, seolah kamu malu.


Tidak ada kata yang bisa menggambarkan perasaan ibu saat itu. Menggendongmu untuk pertama kalinya, mendekapmu untuk pertama kalinya, mengecupmu untuk pertama kalinya. Rasanya seperti mimpi, sampai ibu bertanya untuk yang entah ke berapa kalinya. Apakah bayi ini anak ibu? Ini bukan khayalan kan? Ini nyata kan?

Gendongan pertama
Pertama kali gendong Wafa

OOO


Dan kini satu tahun berlalu, sepertu baru kemaein rasanya. Wafa, terimakasih ya sudah memilih ibu jadi ibumu.


Selamat ulangtahun ke 1, Nak.


Bumisari, 5 Juni 2024, 22.52 WIB


Baca juga :Akikah Bayi; Selamat Datang Malaikat Kecilku