31 Mei 2019

BPN Day 26 : Dapat Tantangan Di Ramadhan Ini

Wuuaaahhh Ramadhan sudah di penghujungnya. Selama lebih dari 25 hari Ramadhan ini, tentu banyak sekali ya kegiatan yang sudah dilakukan untuk mengisi Ramadhan. Mungkin ada yang mengisinya dengan menyelesaikan target-target ibadah Ramadhan, semisal khatam Alquran, atau target-target lainnya. Atau ada juga yang mengisinya dengan kegiatan lain semisal bakti sosial atau kegiatan luar lainnya.


Bagi saya, mengisi waktu Ramadhan tidaklah sulit. Bahkan saya seperti butuh waktu lebih banyak lagi (atau saya saja yang terlalu malas ngapa-ngapain wkwk). Kalau dulu saat sekolah, saya lebih banyak mengisi buku Ramadhan karena memang tidak ada beban lain yang saya tanggung. Tapi sekarang ini, lebih banyak waktu saya habiskan dengan kegiatan lain.

Saya tetap bekerja seperti biasa, jam kantor pada umumnya. Itupun sebenarnya sudah menguras waktu saya. Libur yang hanya seminggu sekali saya manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Apalagi di Ramadhan ini. Harus berburu kalau tidak mau ketinggalan pekerjaan lainnya. Misalnya saja untuk solat tarawih. Di tempat tinggal saya, solat tarawih dilaksanakan di musola yang pengurusnya selalu tepat waktu. Jadi begitu adzan Isya, sang imam tidak akan lama menunggu para jamaah. Konsekwensinya ya saya dan suami harus bersegera berangkat kalau gak mau ketinggalan, hehe.

Ramadhan kali ini, saya juga punya kegiatan tambahan yang menantang. Menulis blog. Iya, kalau biasanya saya menulis blog itu semau saya, ya sesempatnya saya atau kalau saya lagi mood, tapi kali ini saya harus menulis setiap hari. Tantangan dari Blogger Perempuan kali ini membuat saya benar-benar punya kegiatan ekstra. Dibela-belain lho selepas tarawih dan tadarus masih buka laptop, haha.

Saya juga memulai usaha kecil-kecilan dari Ramadhan ini. Mencoba membuka gerai kerajinan tangan dan pencetakan undangan. Jadi promosiin dulu di media sosial yang saya punya. Mau gak mau, memposting dan mempromosikan itu butuh waktu juga kan? Maka itu, saya serasa butuh tambahan waktu yang lebih banyak lagi.

Tapi, dengan kegiatan-kegiatan itulah saya jadi merasa lebih produktif. Dan tentu saja, puasa jadi sering ngerasa gak lapar dan haus. Tahu-tahu sudah sore, tahu-tahu harus bangun siapin sahur, dan tahu-tahu Ramadhan sudah akan berakhir, hiks! Sedih? Tentu. Rasanya saya masih kurang sekali untuk minta banyak doa. Rasanya saya juga belum optimal untuk beribadah. Rasanya saya malah kadang menyia-nyiakan waktu yang ada saat senggang.

Ada yang seperti saya? Bagi pengalamannya di kolom komentar ya!

Baca juga : Amalan Puasa Ini Mudah Kok Dilakukan

30 Mei 2019

BPN Day 25 : 5 Tradisi Lebaran Yang Masih Eksis

Menghitung-hitung hari raya tiba ya. Tinggal lima hari lagi lebaran tiba. Kok rasanya cepat sekali Ramadhan berlalu? Anak-anak yang merantau jauh dari kampung halaman, mungkin sebagiannya sudah mulai mudik. Saya pribadi suka tiba-tiba meneteskan air mata kalau lihat pawai mudik pakai motor, atau mobil-mobil pribadi dengan bagasi atas yang banyak. Saya teringat dulu waktu kerja diluar kampung halaman dan harus ikut keramaian mudik pakai transportasi umum. Rasanya begitu haru kala bertemu keluarga di rumah.


Mudik kala lebaran memang jadi salah satu tradisi di Indonesia. Gak heran kalau setiap orang yang merantau jauh menantikan moment yang hanya setahun sekali dijumpai ini. Selain bisa bertemu keluarga, biasanya juga si pemudik bisa menjumpai tradisi lebaran di daerahnya masing-masing atau bahkan hanya dijumpai di keluarga besarnya.

Nah, kalau di keluarga saya, ada tradisi lebaran yang sepertinya tidak pernah terlewat selama saya menjumpai lebaran di rumah. Apa saja itu? Yuk lanjut bacanya 😉

1. Buat ketupat
Tradisi yang satu ini mungkin tidak jauh berbeda dari tradisi lebaran di daerah lain. Biasanya saya dan Abah saya yang membuat ketupatnya sendiri dari janur (daun kelapa yang masih muda) karena orang di rumah gak ada yang bisa buat bungkus ketupat ini, hehe. Seru aja kumpul sambil buat bungkus ketupat sendiri. Masaknya biar ibu aja, gak lama juga kok karena punya trik sendiri.

Baca juga : Tips Meminimalkan Waktu Masak Ketupat

2. Takbiran keliling kampung
Tradisi kedua adalah takbiran keliling kampung. Ini dilakukan pada malam lebaran dimana hampir semua orang di kampung orang tua saya ikut meramaikan takbiran ini. Jadi selepas solat Maghrib, gema takbir sudah berkumandang dari masjid dan mushola. Lalu selepas Isya, barulah beramai-ramai pawai dari masjid utama kampung kami, keliling melewati jalan-jalan yang sudah ditentukan oleh anak-anak Risma. Setiap rombongan melewati rumah warga, ada penambahan peserta pawai. Jadi dari awal sudah ramai, di tengah sampai akhir pawai tambah ramai lagi.



Bahkan, sudah beberapa kali saya ikut pawai, jalanan kampung jadi padat sekali. Peserta pawainya ramai sekali hingga tidak jalannya hanya merayap saja. Tapi seru lho! Apalagi, dari pengurus Rismanya selalu membuat mobil hias atau masjid minimalis yang penuh lampu warna warni.

3. Sungkeman
Sebenarnya bukan sungkeman yang njawa banget ya, tapi bisa dibilang salaman sama orang tua dengan takzim. Jadi, selesai solat Ied, kami sekeluarga akan bersiap duduk rapi. Abah dan Ibu duduk di kursi dan kami anak-anak serta menantu dan cucu akan bergantian salaman dan maaf-maafan. Begitu juga dengan kami anak-anaknya.


Lalu, kami meluncur ke rumah mbah dari pihak abah yang rumahnya hanya di samping rumah kami. Biasanya sudah kumpul juga anak-anak dan cucu-cucunya mbah. Sungkeman seperti ini kami lakukan pagi-pagi segera setelah solat Ied, karena kalau nanti-nanti bakalan susah. Para tetangga sudah datang dan rumah akan ramai.

4. Memberi hadiah
Kalau tradisi yang satu ini sebenarnya bukan hanya di hari raya Idul Fitri saja. Keluarga saya seringkali memberi hadiah untuk masing-masing kami di hari-hari tertentu semisal hari lahir atau ketika ada yang mendapatkan prestasi. Kalau di hari raya, biasanya berupa uang yang masih disebut THR itu. Dan, yang diberi adalah anggota keluarga yang masih berstatus pelajar atau yang belum bekerja. Tapi beberapa kali lebaran juga kami saling memberi hadiah atau tukar hadiah berupa barang yang sederhana. Bukan seberapa mahal atau bagusnya hadiah yang diberikan, tapi rasa kasih sayang antar kami yang menjadikan moment ini begitu berharga.

5. Keliling kampung
Ini tradisi yang sampai sekarang masih dilakukan di kampung orang tua saya. Seperti yang sudah saya sebutkan tadi, setelah sungkeman dengan orang tua dan mbah di samping rumah, para tetangga akan mulai berdatangan untuk silaturahmi. Karena kebetulan rumah orang tua saya dekat dengan rumah mbah yang notabene termasuk ornag yang dituakan, maka berimbas juga dengan ramainya tetangga yang datang. Biasanya adik-adik saya yang keliling duluan, saya jaga rumah sambil bantu ibu untuk menyiapkan minuman atau makanan untuk orang yang datang.

Baru setelah sore menjelang, giliran kami sekelurga yang keliling ke rumah tetangga. Walaupun paginya sudah bertemu di masjid atau malah sudah ada yang datang ke rumah, tapi kami tetap datang juga untuk silaturahmi. Tradisi ini biasanya tidak hanya sehari saja, tapi hari kedua dan ke tiga lebaran pun, masih ada beberapa tetangga yang saling silaturahmi.

Baca juga : Lakukan Hal Ini Untuk Lebaran Berkesan

29 Mei 2019

BPN Day 24 : Baju Lebaran ; Tradisi atau Kebutuhan?

Memasuki Ramadhan ke 24, makin banyak saja ya kebutuhan untuk lebaran nanti. Kalau ke pasar bahkan rasanya semua barang gak ada yang gak laku dijual. Mau taplak meja, tutup kulkas, gorden, vas bunga, karpet, bahkan sepuh emas pun dirubung konsumen. Apalagi yang namanya toko baju. Duh itu dari awal Ramadhan aja sudah promo besar-besaran.


Saya jadi sering berpikir, apakah lebaran wajib untuk beli baju baru? Tapi, sisi hati yang lain punya jawaban. Kan ini lebaran, hari rayanya muslim, kapan lagi bisa merayakan momen spesial dengan tampilan yang spesial pula? Tapi (lagi), kalau masih punya baju bagus yang jarang dipakai, alangkah lebih baiknya kalau itu saja yang dipakai kan? Nah lho! Inget gak sama lagunya Dea Ananda yang ada liriknya seperti ini,

Baju baru, alhamdulillah
untuk dipakai di hari raya
tak ada pun tak apa-apa
masih ada baju yang lama

Bicara soal baju lebaran ini, saya pribadi memang gak terlalu ambil pusing. Kalau dulu pas masih anak-anak sampai saya SMP sih masih ya. Sepertinya kalau gak ada baju lebaran, rasanya hampa, haha. Atau karena memang dari kecil dulu sudah biasa dibelikan baju sama ibu, jadi kalau gak ada ya itu tadi, seperti bukan lebaran. Kebiasaan ini rupanya terbawa hingga saya beranjak dewasa dan sudah punya uang sendiri.

Awal kerja dan dapat gaji, bahkan saya beli lebih dari satu stel baju untuk lebaran, hehe. Tapi seiring berjalannya waktu, saya jadi sadar dan gak terlalu mementingkan baju lebaran. Gak harus baju baru kalau lebaran, karena ternyata saya malah seringnya beli baju bukan momen lebaran aja. Jadi, ya kalau masih ada baju yang pantas, saya bisa pakai itu.

Eh tapi... ternyata setelah menikah, tradisi itu rasanya diulang lagi, haha. Dimulai dari kebiasaan keluarga suami saya yang suka pakai baju kompakan (yang pada akhirnya saya harus cari baju baru karena seringnya saya gak punya yang kompakan begitu, haha), sampai ya karena saya merasa ada rezeki jadi gak apa-apa deh beli baju pas lebaran. Toh ada budgetnya juga.

OOO

Sebenarnya urusan baju lebaran ini gak harus jadi kontroversi kan? Menurut saya pribadi sih, kalau memang gak butuh-butuh amat dan gak terlalu mendesak ya bisa pakai baju yang lama juga kok. Oh iya, saya punya beberapa alternatif biar lebaran gak kelihatan pakai baju yang itu-itu saja.

1. Selingi baju lebaran dengan baju yang jarang dipakai
Orang lain yang jarang sekali bertemu kemungkinan akan lupa kalau baju yang kita pakai lebaran tahun ini bukan baju baru. Lagipula orang lain juga gak pernah tanya kan, ini baju baru atau baju lama? Hehe. Jadi, pakai saja baju yang sudah lama semedi di lemari. Asal masih bagus dan layak, gak masalah.

2. Mix and match
Memadu padankan baju dengan asesoris lainnya juga cukup ampuh untuk menghasilkan tampilan baru. Misalnya ganti jilbab yang pasangan dengan terusan dengan jilbab lain yang cocok. Atau bisa juga baju lama dikasih outer yang sepadan. Dijamin deh tampilannya lebih segar.

3. Modifikasi baju
Kalau yang ini sepertinya harus punya sedikit kreativitas. Misalnya dari baju terusan yang dijadikan tunik atau bisa juga dari kemeja dimodifikasi dengan tambahan karet dan pita di bagian pinggang.

Nah, itulah beberapa tips untuk yang gak beli baju lebaran. Semoga menginspirasi ya!

Baca juga : Berburu Diskon Online? Cek Tipsnya Dulu!