30 Juni 2018

Tempat Nyore di Belitang

Yeaahhh...
Alhamdulillah masih dipertemukan dengan hari kemenangan. Akhirnya, setelah hari-hari sibuk terlewati, saya baru bisa posting tulisan ini. Sebagai kenang-kenangan kalau besok saya sudah tidak di dunia lagi, hehe.

Lebaran pertama pisah dari orang tua! Maksudnya pisah tempat tinggalnya :-D

Dari sebelum lebaran, suami sudah suruh beli beberapa camilan untuk disusun di toples, yah walaupun mungkin gak ada yang akan datang, tapi siapa tahu saudara masih mau datang, hehe. Karena memang di rumah belum ada alat-alat untuk buat kue (juga waktunya pun gak ada), jadi saya mempercayakan pedagang untuk mengisi toples di rumah, haha.

Sehari sebelum lebaran, ketika saya baru bisa libur, komplek perumahan yang kami tempati sudah sepi senyap. Olala, rupanya kami yang sepertinya ketinggalan mudik, hehe. Jadi, setelah sempat goreng kacang bawang, kami bergegas ikutan mudik juga (walaupun gak jauh, gak sampe nyebrang laut atau naik kereta).

Well, lebaran kali ini jatah hari pertama di rumah orang tua saya (jadi gantian gitu tiap tahun antara rumah mertua dan rumah orang tua). Jadi, saya minta libur dari sehari sebelumnya. Tetap disyukuri saja kalau kerja di tempat pelayanan jasa mah, liburnya gak bisa banyak-banyak.

Seperti biasa, sehari sebelum lebaran di rumah seperti hari tersibuk sedunia, haha. Gak tau ya, tapi selalu seperti itu. Padahal ya sebenarnya gak masak yang begitu wah, tapi ada aja yang harus dikerjakan. Mulai dari beres-beres rumah, menganyam dan memasak ketupat sendiri, sampai membuat lauk dan sayurnya. Lamanya sih lebih karena banyak bercanda, pumpung pada kumpul. Tapi tetap saja masih minus one karena adik perempuan saya yang di Belitang tidak pulang kampung. Dia baru saja melahirkan anak keduanya sebelum Ramadhan kemarin.

Oke, kita cerita satu-satu ya biar gak ngelantur ^^

Hari pertama di rumah orang tua saya, hanya sebentar dan sayangnya kami melewatkan beberapa sesi foto yang seharusnya ada (apa sih, pake sesi-sesi segala XD). Dan saya sempat manyun karena ternyata sesi fotonya siang setelah saya sampai di rumah mertua saya. Setengah hari di rumah, memang sudah banyak ketemu dengan para tetangga karena memang rumah orang tua saya sampingan dengan rumah mbah. Jadi, kena imbas ramenya juga.

Walaupun anglenya gak terlalu bagus, lumayanlah ya..

Minus 2 pasang itu!
Selepas Jumatan, saya dan suami langsung meluncur ke rumah mertua saya. Disana ternyata sesi perpotoan juga sudah berakhir karena sudah siang. Parahnya lagi, mereka malah sudah ganti kostum rumahan, hyaaa!! Okelah, kali ini tidak ada sesi foto keluarga besar, yang penting masih bisa kumpul.

Menginap semalam di rumah mertua, dan kami berdua hanya berkunjung ke beberapa rumah tetangga saja di hari kedua lebaran, karena siang harinya kami harus kembali ke Natar. Kami belum berlebaran di rumah Mbah Putri, yang merupakan kunjungan 'wajib' di hari kedua.

Di rumah Mbah Putri, kami mematangkan rencana untuk ke Belitang. Sebenarnya ada beberapa mbah yang ingin ikut serta, tapi apa daya, mobil tidak cukup. Kami hanya berangkat dengan 1 mobil dan itu pun sudah penuh dengan keluarga kami, hehe.

Karena ini terbilang mendadak, maka kami tidak pulang terlalu malam dari rumah Mbah Putri. Saya dan suami pulang duluan untuk menyiapkan bawaan. Sebenarnya ya hanya baju beberapa potong saja, tapi tetap harus disiapkan, kan? Juga untuk meninggalkan rumah tanpa penghuni pun harus dicek semuanya walaupun gak ada apa-apa di dalam rumah, hihi. Apalagi, tetangga kanan kiri pun masih pada mudik.

Oia, sebelum pulang ke rumah, kami sempat foto dulu. Kalau yang satu ini mah gak akan ketinggalan ya, hehe.

Para mbah yang sempat kami temui
(kloter yang pagi, gak ketemu karena saya belum sampai)
Malam ketiga lebaran, sebenarnya kami sekeluarga akan langsung berangkat sekitar ke Belitang sekitar jam 9 atau jam 10 malam. Tetapi, rupanya malam itu di rumah masih banyak tamu yang datang. Kali itu rombongan anak Risma dan biasanya memang ngobrolnya lama sambil bercanda. Kalau saya sih, sudah pada gak hafal namanya dan tampak banyak wajah asing, haha saya sudah tua ternyata dan ini generasi 2000an!

Pada akhirnya kami berangkat sudah hampir tengah malam, tapi malah jalanan sepi dan lancar, khususnya di arah Tegineneng dan Bandar Jaya. Saya tidak banyak ngobrol sepanjang perjalanan karena lelah dan mengantuk. Juga persiapan fisik untuk melewati jalan BK yang sampai saat ini masih parah. Kalau membayangkan jalan BK sebelum berangkat, rasanya sudah capek duluan hehe. Kalau mengingat jalannya setelah pulang, rasanya enak banget melewati jalan mulus setelahnya.

Saya dibangunkan untuk sholat subuh dan rasanya kepala saya sedikit pusing, mungkin karena sering terbentuk ketika tidur dan melewati jalan rusak. Kami menemukan masjid yang lumayan besar di BK8 dan itu artinya sebentar lagi akan sampai di rumah adik saya di BK11. Disana saya baru tahu kalau rupanya adik saya belum dikabari bahwa kami akan datang hari itu. Kata ibu, biar kejutan.

Sekitar pukul 07.00 kami sudah memasuki gang di BK11, dan alih-alih mau bikin kejutan sampai rumah adik, ternyata kami malah berpapasan di gang itu! Ya sudahlah, mau dikatakan apa lagi.

ooo

Di Belitang yang hanya 2 hari, kami sempatkan untuk ke rumah mertua besan ibu. Karena rumah para saudara ipar adik saya itu gak berjauhan, jadi kami tidak susah untuk ketemunya. Benar-benar serasa lebaran di kampung dengan nuansa balong-balong lebar dan sawah. Juga makan dengan menu wajib disana, ikan gurame bakar!

Fokus ke makan dan gak sadar kamera wkwkwk
Pumpung disini pun, kami jalan-jalan sebentar ke tempat wisata yang ada. Memang agak lumayan jauh untuk mencapai tempat keramaian dan melewati jalan rusak lagi, tapi demi cucu ibu, pantang mundur deh! Kami ke Taman Bhakti Tani yang kami kira adalah sebuah museum atau tempat bersejarah untuk peringatan tani atau semacamnya, tapi rupanya ini hanya sebuah alun-alun yang waktu itu sepi sekali (entah karena kami datangnya terlalu sore atau bagaimana). Tidak ada apa-apa dan kami hanya menemukan beberapa pedagang makanan ringan. Karena hari hampir gelap, kami beranjak saja mencari makan malam.

Hanya ini iconnya hehe

Mertua dan menantu


Trio Cantik, hehe

Duo Bungsu yang gak bisa gaya wkwkwk
Kami sampai di simpang Martapura dan cari makan malam disana. Rupanya disini pusat keramaiannya, seperti pasar malam dengan aneka mainan anak, gerobak jajanan, dan suvenir seperti gelang dll. Tapi saya jadi bertanya-tanya kenapa banyak sekali penjual bakso dan mi ayam disini? Hampir semua gerobak makanan disini menjual bakso dan mi ayam, tidak ada ketoprak atau somay, atau nasi goreng, atau makanan lain. Jadi, kami pesan bakso isi telur yang ternyata harganya hanya Rp 10.000,-/porsi!

Selesai makan, kami berkeliling sebentar dan ponakan saya minta naik pesawat, hehe.

Gak jadi ngantuk gegara liat pesawat
Baca juga : 

Curhatan Menjelang Lebaran #Mudah Kalau Lewat Qlapa.com


OOO

Hari kedua di Belitang, kami kembali jalan cari sedikit oleh-oleh untuk orang Lampung sekalian ke taman yang dekat dari rumah saja. Namanya Taman Singa Apor, tapi masyarakat disana menyingkatnya menjadi Taman Singapur. Letak taman ini ada di BK 10, dekat jalan raya kok. Untuk masuk kesini, gratis dan hanya diminta uang parkir saja. Di dalam taman, ada banyak tempat makan, juga ada beberapa mainan anak-anak dan iconnya patung singa layaknya di Singapura hehe.

Tuh di belakang kami patung singanya

kasian kepotong kepalanya hehe

Boleh juga ini mainan edukasi
Sayang sekali waktu kami kesana, hujan datang dan tak berhenti hingga menjelang sore, jadi kami tidak bisa kemana-mana lagi. Juga, kami harus bersiap pulang ke Lampung malam harinya.

Menunggu hujan sampai ketiduran
Setelah mendapat sedikit oleh-oleh yang serupa dengan oleh-oleh Palembang, kami pulang ke rumah untuk bersiap-siap menuju Lampung. Sebenarnya masih ingin di Belitang lebih lama, apalagi ponakan yang baru dua bulan itu sedang lucu-lucunya. Tapi, mau bagaimana, saya sudah harus masuk kerja esok paginya.

Dan seperti biasa sebelum pulang, kami berfoto dulu.

Foto sebelum pulang

Lebaran kali ini terasa singkat sekali dan rasanya belum puas di rumah tapi esoknya sudah harus masuk kerja lagi. Semoga tahun depan masih bisa ketemu lagi. Baiklah, cerita lebarannya sampai sini dulu yaa.. Assalamualaikum!

Iseng buat tahilalat abis makan semangka, haha
Gak kalah sama si bayi juga, hehe

Ala-ala orang india katanya


09 Juni 2018

Lakukan Hal Ini Untuk Lebaran Berkesan

Hanya tinggal menghitung hari menuju hari kemenangan. Tidak ada hal lain yang bisa membuatnya berkesan kecuali sungkem pada orang tua. Apalagi bagi yang tinggal jauh merantau, moment lebaran tidak akan dilewatkan dengan tidak mudik. 

Moment Lebaran
Nah, untuk yang tidak mudik karena orang tua ataupun sanak saudara tinggal berdekatan atau malah kebagian tugas untuk jaga rumah karena dekat orang tua, ada beberapa hal yang akan membuat lebaran makin berkesan. Tidak hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk sanak saudara yang akan berkunjung nantinya. Apa sajakah itu? Yuk intip!

1. Merapikan rumah
Walaupun setiap hari rumah dirapihkan dan dibersihkan, tidak ada salahnya untuk lebih mempercantik rumah di hari raya. Misalnya dengan mengecat ulang dinding dan menata ulang dekorasi dan perabot. Dulu sewaktu saya masih tinggal di rumah orang tua, hal ini biasa kami lakukan menjelang lebaran. Jadi akan ada kesan baru dan suasana hati pun akan turut bahagia.

2. Menyiapkan hidangan istimewa
Hari raya Idul Fitri memang hanya sekali dalam setahun, makanya jikalau ada, lebih baik untuk menghidangkan sajian istimewa meski tidak bermewah-mewahan. Kue-kue yang digemari, atau masakan rumah khas lebaran seperti opor ayam, rendang, atau ketupat, bisa menjadi hidangan yang tepat.


3. Mengabadikan moment
Karena belum tentu sanak saudara bisa berkumpul di hari biasa, maka tidak ada salahnya untuk mengabadikan moment berkumpul itu saat lebaran nanti. Kalau di keluarga saya dan suami, ini adalah hal yang wajib dilakukan, hehe. Jadi bisa dilihat lagi tahun demi tahun akan bertambah anggota keluarganya.

Kumpul keluarga
4. Saling memberi kado
Meski bukan hal yang wajib, saling memberi kado akan lebih mengesankan saat lebaran. Tapi, jangan ajarkan anak-anak untuk meminta 'THR' pada orang yang lebih tua meskipun boleh menerima sebagai rasa terimakasih ketika diberi. Sebaliknya contohkan saling memberi jikalau ada.

5. Jangan tanyakan hal sensitif
Terkadang, moment berkumpulnya keluarga yang seharusnya menjadi moment berkesan, berubah menjadi kelabu di saat ada celetukan pertanyaan sensitif. Pertanyaan yang terdengar sepele semisal "Kapan nikah?" atau "Sudah hamil belum?" akan menjadi sangat membebani ketika orang yang ditanya tidak tahu harus menjawab apa. Paling amannya adalah cari obrolan menarik lain semisal kenangan sewaktu kecil atau rencana silaturahmi ke rumah sanak saudara.

Bagaimana? Sudah siap menyambut hari raya besok? Selamat mudik bagi yang mudik, dan selamat berapih-rapih bagi yang di rumah saja. See you next time! :-*

08 Juni 2018

Henna Tangan

Saya teringat hampir tiga tahun lalu, saat bulan Ramadhan akan berakhir seperti ini. Tiga tahun lalu, saya akan menikah dan waktunya mempersiapkan segala hal. Mulai dari undangan, dokumentasi, dekorasi, serta pernak pernik kecil untuk melengkapinya. Saya memang ingin membuat pernikahan saya berkesan untuk diri saya sendiri dengan mengkonsepnya sendiri. Dari model baju untuk akad, tema warna, suvenir, serta undangan.

Salah satu hal yang saya ingat sekarang adalah bagaimana saya mencari referensi untuk hiasan tangan alias henna. Memang referensinya banyak sekali dengan motif yang rumit dan indah, tapi saya sadar diri dan akhirnya memilih motif yang paling sederhana dan kemungkinan besar saya bisa melakukannya. Lagipula, saya tidak ingin tangan dan kaki terlalu penuh dengan motif.

Sebenarnya dari pihak perias sudah menawarkan untuk melukiskan tangan saya dengan henna, tapi karena waktu itu akhirnya saya sudah dapat referensinya, saya ingin melakukannya sendiri. Lebih pada kepuasan sih kalau melakukannya sendiri, padahal hasilnya jauh dari cantik, haha. Nah, sebagai latihannya, saya mulai mencari henna dalam ukuran kecil yang banyak dijual di pasaran. Saya berfikir, henna ini kan akan pudar sekitar 1 mingguan, jadi tidak masalah ketika saya akan serius melukisnya menjelang hari pernikahan. 

Latihannya gambar di buku dulu hihi
Latihan pertama adalah menggambar di buku terlebih dahulu, baru kemudian saya mengaplikasikannya di tangan saya. Untuk awal, lumayan susah dan lebih pada saya kurang begitu faham mana kemasan yang cocok untuk melukisnya di tangan. Di kemudian hari, saya baru faham ada kemasan dengan ujung yang bisa digunting sendiri untuk menyesuaikan tebal atau tipisnya henna.

Dan ini hasilnya ^^
Untuk percobaan pertama ini, lumayan lah ya untuk seorang pemula. Pada akhirnya pun saya menggunakan pola ini ketika akan akan benar-benar menikah seminggu kemudian.

Ini namanya nekat sih :-D
Hingga seminggu setelah akad, di keluarga suami pun ada acara unduh mantu. Saya nekat lagi untuk melukis kembali tangan saya dengan henna. Kali ini motifnya sedikit saya rubah, tapi tetap dengan motif paling sederhana.
Menurut saya lebih cantik ini sih hehe
Bicara soal henna, sebenarnya dari mana sih seni melukis tangan ini? Bersumber dari hasil pencarian sana sini, Henna memang tidak diketahui secara pasti kapan dan dimana awalnya ditemukan. Namun, henna ini sudah ada sejak 5000 tahun lalu. Henna yang dalam istilah lain disebut Mahendi atau Hinna ini umumnya digunakan oleh calon pengantin perempuan yang ada di masyarakat India, Arab, Pakistan, termasuk di Indonesia.

Tanaman henna yang memiliki nama latin Lawsonia Inermis ini tumbuh di dataran rendah dengan iklim panas seperti Pakistan, India, Afrika, Yaman, Irak, dan beberapa negara beriklim panas lain. Di Arab, tumbuhan ini dibuat dengan cara menjemur daunnya hingga kering kemudian ditumbuk hingga menjadi bubuk. Bubuk inilah yang diracik dengan air dan dioleskan pada bagian tubuh yang akan dihenna.

Meski penggunaan dan makna henna berbeda-beda di setiap negara, namun pada umumnya henna digunakan untuk memberi keberuntungan dan menolak bala bagi para calon pengantin. Seiring berjalannya waktu, kini henna tidak hanya dijadikan sebagai penolak bala saja, tetapi juga sebagai pelengkap hiasan bagi calon pengantin perempuan. Oleh karena itu, sekarang pun berkembang henna dengan motif dan warna yang lebih meriah.

Karena henna ini terbuat dari bahan alami dan akan pudar dengan sendirinya, maka penggunaannya lebih aman dan halal bagi perempuan muslim yang ingin berhias seperti menggunakan tato. Lagipula, sekarang sudah menjamur pengukir henna dengan hasil yang cantik-cantik. Jadi, tangan siapa yang ingin dihenna tahun ini? :)

Baca juga Style Lebaran 2018 Ala Saya.