30 April 2022

Gerbong Ke Delapan

Yeay!
Alhamdulillah akhirnya tantangan 30 hari menulis dari Blogger Perempuan sudah berhasil saya taklukkan. Ini hari terakhir posting untuk event ini, dan karena temanya bebas, saya mau posting yang berbeda.

Kali ini saya kembali ingin posting puisi. Ini puisi yang sudah beberapa tahun lalu saya tulis tapi baru kali ini saya ingin mempublikasikannya. Sekali-kali lah posting puisi. Waktu awal-awal buat blog ini, label puisi ini salah satu jadi yang label favorit saya.

Ok, let's enjoy!


Gambar oleh WikiImages dari Pixabay

Gerbong Ke Delapan

: Seli

Pada sebuah perjalanan
perempuan itu duduk dekat jendela
di gerbong ke delapan yang penuh sesak
orang-orang
sumringah, mengandai-andai tentang
kerinduan yang akan tumpah
juga orang-orang
tanpa gambar di kepala
yang tak bisa mencairkan suasana
bahkan hanya dengan satu sapa

ooo

perempuan itu melambai pada kenangan
sebuah percakapan dalam telepon genggam
suatu malam
seratus sepuluh purnama yang lalu
sebelum gerbong berderak menuju palembang
-aku akan menjemputmu esok pagi. kabari aku-

perempuan itu tersenyum
mengandai-andai pertemuan di stasiun
mereka-reka perbincangan
menata-nata keyakinan
kemudian terlelap

gerbong menembus malam
hutan yang menyimpan rahasia
alam yang tak kuasa mengubah
mantra
lelaki yang suaranya memukau di
telepon tadi

kereta malam menuju pagi
bau sungai musi
jembatan merah bertiang tinggi
perempuan itu selalu menyimpan wangi abadi
batu bara kala gerbong berhenti

perbincangan yang direka
keyakinan yang ditata
laki-laki dalam telepon tak pernah ada
lenyap seperti bayangan pagi bertemu matahari
di atas kepala
perempuan menunggu sunyi
orang-orang silih berganti

ooo

pada sebuah perjalanan
perempuan itu duduk dekat jendela
di gerbong ke delapan
orang-orang tak lagi sesak
aih, berapa stasiun yang telah ia lewati
yang telah mempertemukan
orang-orang dengan kerinduannya

derit telepon genggam
dan suara laki-laki di seberang
-aku sudah pesan ojek online, mas. kamu tunggu di pim ya-

perempuan itu menutup kenangan
saat bau sungai musi menguar di
gerbong ke delapan

Lampung, 16 Maret 2019

Baca juga : Palembang dan Dia

29 April 2022

Belanja Online vs Belanja Offline

Kamu tim belanja online atau belanja offline? Kalau saya di tengah-tengah aja, haha. Saya punya aplikasi belanja online di ponsel walaupun jarang dipakai. Tapi saya pun tidak keberatan kalau cari barang langsung di toko offline.

Belanja online vs belanja offline

Pernah sih kecewa dengan hasil belanja online, tapi itu dulu sekali. Waktu saya belum tahu seluk-beluk dan trik belanja online dengan nyaman dan aman. Belajar dari pengalaman, saya mulai tahu bagaimana membidik toko online yang amanah sekaligus bisa menghemat ongkos kirim.

Kapan Belanja Offline?

Seringnya, saya belanja offline untuk memenuhi kebutuhan pokok dasar perdapuran. Misalnya beli beras, sayur-mayur, dan kebutuhan pokok lainnya meskipun saat ini sudah tersedia aplikasi belanja untuk kebutuhan itu.

Faktornya ya karena saya tinggal di daerah yang lumayan jauh dari kota. Jadi, aplikasi belanja sayur itu belum ada di daerah saya. Kalaupun ada, mungkin ongkos kirimnya lumayan mahal. Lagipula, saya juga bisa memilih sayuran yang ingin dibeli dengan melihat kondisinya secara langsung. Serta yang terpenting adalah menjalin hubungan sosial dengan warga sekitar.

Belakangan, saya memang lebih sering belanja ke warung tetangga, warung tradisional, bahkan ada tukang sayur keliling yang lebih memudahkan saya lagi. Jadi gak mengeluarkan banyak tenaga untuk jalan ke warung, tinggal tunggu depan rumah aja.

Selain kebutuhan perdapuran yang saya beli secara offline, saya juga biasanya belanja barang-barang lain seperti peralatan rumah tangga yang memang tersedia di toko terdekat. Satu lagi, saya juga kerap kali belanja pakaian di toko offline, khususnya untuk pakaian sehari-hari.

Gampangnya bisa lihat dan pegang bahan secara langsung. Jadi bisa pilih sesuai dengan anggaran yang ada dan sesuai kebutuhan.

Belanja Online?

Nah, kalau untuk belanja online, biasanya untuk kebutuhan pekerjaan sih. Misalnya saya pesan wadah telur untuk keperluan acara aqiqah, atau pesan pernak pernik lain untuk hias mahar dan lain-lain. Bahkan saya pun sudah punya toko langganan untuk pesan-pesan yang seperti ini.

Beberapa alasannya adalah karena saya agak susah menemukan pernak pernik itu di toko terdekat. Harus ke arah kota dulu untuk mendapatkan kualitas yang bagus, dan belum tentu juga ada yang sesuai dengan harapan saya.

Tapi, sebenarnya saya juga beberapa kali beli baju lewat online sih. Tentunya tidak ingin kecewa dengan pengalaman pertama dulu, jadi lebih selektif lagi dalam memilih toko online. Alhamdulillah sekarang saya sudah punya toko langganan saat saya ingin membeli pakaian.

Baca juga : Rekomendasi Toko Online di Shopee

Ada beberapa pertimbangan sebelum saya belanja di toko online :

1. Toko punya reputasi yang baik, biasanya di ecommerce sudah ada kategori toko yang jelas. Selain itu, bisa dilihat juga review dari pembeli-pembelinya. Kalau banyak yang menilai bagus, berarti memang produk yang dijual juga bagus.

2. Kalau saya ingin berbelanja pakaian, saya pastikan pakaian itu bermerk atau minimal ada website yang jelas, sehingga foto yang dipajang bukanlah referensi saja, tetapi memang produk asli. Banyak kok sekarang pakaian bermerk tetapi tetap ramah di kantong dan kualitasnya bagus.

3. Pertimbangan ongkos kirim yang tidak terlalu memberatkan atau bahkan gratis ongkos kirim. Tetap lah ya perempuan harus jeli, selisih sedikit juga lumayan kan? Haha.

Nah, itu dia serba-serbi saya belanja online dan belanja offline. Kalau kamu pilih yang mana?

28 April 2022

Tips Menghemat Uang THR

Halo! Siapa nih yang uang THR-nya sudah cair? Alhamdulillah ya kalau sudah masuk kantong. Eh tapi, itu uang THR sudah langsung ludes atau masih aman di brankas? Haha.

Uang THR memang sudah seperti rezeki nomplok yang setiap tahun dinantikan oleh para pekerja, baik pegawai negeri maupun karyawan swasta. Kecuali pekerja rumahan seperti saya, cukup bersyukur saja masih ada THR dari suami, wkwk.

Menghemat uang THR
Amplop THR

Namanya rezeki yang gak setiap bulan keluar, terkadang malah jadi ajang foya-foya. Pumpung ada uang. Pumpung ada rezeki nomplok. Pumpung yang gak setiap bulan dapat. Dan pumpung-pumpung yang lainnya.

Tahu-tahu, uang THR ludes gak ada juntrungannya. Nah, kali ini saya mau berbagi sedikit tips untuk menghemat uang THR sehingga manfaatnya bisa lebih terasa.

1. Buat skala prioritas

Setiap penerima uang THR pasti sudah tahu dong ya berapa besaran nominal yang akan didapat. Biasanya sih dari gaji pokok tanpa tunjangan, tergantung kebijakan masing-masing perusahaan. Dari besaran nominal ini, kita bisa membuat skala prioritas terlebih dahulu.

Misalnya, hal pertama yang harus dibayar adalah zakat fitrah, infaq dan sedekah. Kemudian memberi hadiah lebaran atau angpao untuk orang tua, mertua dan ponakan-ponakan. Dilanjutkan dengan kebutuhan lebaran seperti kue-kue dan lainnya. Baru kemudian kalau masih ada sisa, bisa ditabung atau untuk persiapan apabila ada keperluan mendadak.

Skala prioritas yang baru saya sebutkan tentunya tidak mutlak ya. Setiap orang pasti punya skala prioritasnya masing-masing. Tinggal disesuaikan saja dengan kebutuhan.

2. Buat rencana anggaran

Setelah membuat skala prioritas, langkah selanjutnya adalah membuat rencana anggaran. Ini juga bisa disesuaikan dengan kebutuhan dan tentu saja besaran uang THR yang didapat. Saran saya, apabila ada anggaran untuk membeli kebutuhan lebaran, pastikan kebutuhan itu yang benar-benar penting dan bukan hanya sekadar untuk gaya-gayaan.

Karena biasanya, menjelang lebaran ada saja yang ingin dibarukan. Gorden yang masih bagus pun terkadang ingin diganti setiap lebaran. Segala keset pintu atau toples yang masih ada pun, kadang juga turut jadi korban pensiun dini.

Maka, sebaiknya hindari membeli barang yang sekiranya tidak perlu-perlu amat menjelang lebaran. Masih banyak yang bisa menjadi tempat alokasi uang THR ini.

Baca juga : 5 Tips Mengatur Uang THR

3. Pisahkan dengan dana lain

Kebiasaan saya dari dulu, uang THR ini akan saya pisah dengan uang lainnya. Kalaupun masuk ke rekening yang biasanya jadi rekening gaji bulanan, bisa ditempatkan di rekening lainnya. Atau paling sederhana adalah membuat catatan pengeluaran.

Kalau tadi kita sudah membuat skala prioritas beserta besaran anggarannya, saatnya mengontrol uang THR yang keluar. Jangan sampai pas niat belanja barang yang sudah dicatat dan dianggarkan, sampai di tokonya malah beranak pinak hingga bayarannya membengkak.

4. Manfaatkan promo dan diskon

Kalau ini sih sepertinya gak usah diajarkan lagi ya, hehe. Para perempuan juga pasti akan dengan sigap belanja di tempat yang menyediakan promo dan diskon. Biasanya menjelang lebaran begini banyak toko yang menawarkan diskon besar.

Tapi, kembali lagi pada langkah pertama dan kedua tadi ya. Kalau memang tidak ada di daftar skala prioritas dan rencana anggaran, sebaiknya dicuekin saja. Kecuali kalau kalian memang punya dana lebih dan anggaran untuk hal-hal semacam begini.

Uang THR memang hanya setahun sekali, maka dari itu sebaiknya kita bisa memanfaatkannya semaksimal mungkin untuk kebaikan. Oke, semoga tulisan ini bermanfaat ya!