17 April 2021

7 Fakta Lain Tentang Saya

Membaca judul ini, saya rasanya pengen ketawa sendiri. Rasanya seperti akan mengumumkan aib saya di hadapan publik, haha. Tapi demi menerima tantangan dari komunitas blogger ini, saya rela, sungguh rela membeberkan fakta-fakta tentang saya yang mungkin saja belum kalian ketahui.

Fakta Laela awalia
Fakta Laela Awalia


Tsundere

Tsundere itu apa ya… diam-diam sayang, diam-diam peduli, diam-diam perhatian, padahal kelihatannya cuek dan dingin. Faktanya memang begitu sih kalau menurut saya. Beda tipis memang sama gengsi, haha.

Tapi, serius ini lho. Walaupun kelihatannya saya ini pendiam, gak banyak omong, kelihatan cuek sama orang, tapi jauh di dalam lubuk hati, saya ini memperhatikan orang lain. Seringnya saya malah bingung mau mengapresiasikan dengan bagaimana. Misalnya ketika ada orang yang sedang sedih dan butuh tempat bercerita, sebenarnya saya bisa jadi pendengar yang baik tanpa banyak kata-kata.

Atau misal ada orang di sekitar saya yang butuh pertolongan, ya sebenarnya saya mau dan suka hati untuk membantu. Tapi itu tadi, saya tidak mau terlalu terlihat di depan. Saya lakukan saja diam-diam atau lewat perantara orang lain.

Romantis

Mungkin fakta tentang saya yang satu ini sudah banyak orang tahu. Saya memanng romantis. Apa-apa melankolis. Apa-apa didramatisir, haha. Tapi sekarang kadar dramatisir itu sudah jauh berkurang kok seiring kedewasaan saya yang perlahan tumbuh dalam diri ini.

Romantis

Keromantisan saya ini memang sudah ada dari jaman dulu, kemungkinan besar sih keturunan dari ayah dan ibu saya. Benar, mereka berdua itu romantisnya gak ketulungan. Dulu saya pernah dapati buku harian (entah punya abah atau ibu, karena sudah gak utuh lagi sepertinya) yang berisi kata-kata manis untuk sang kekasih. Mungkin kecenderungan saya untuk suka menulis juga bisa jadi turunan.

Setiap ada momen-momen bahagia, saya juga hampir selalu memberi ucapan menyenangkan, semacam doa dan harapan. Misalnya Hari Ibu, ulangtahun, ulangtahun pernikahan dan lain-lain. Bahkan di keseharian pun, saya suka buat ucapan-ucapan semacam itu. Dulu waktu awal-awal menikah, saya juga sempatkan tulis ucapan selamat makan di bekal suami. Sekarang? Gak lagi, haha. Selain tanggapannya biasa aja, juga saya gak sempat buat-buat begituan lagi.

Baca juga : 5 Fakta Tentang Saya 

Tidak dendam, tapi…

Nah, fakta selanjutnya adalah sifat saya yang bisa disebut apa ya? Gak dendam sih, tapi gak bisa lupa juga. Saya lebih memilih mendiamkan saja dan biarlah waktu yang akan menguburnya. Ini lebih ke saat orang lain menyakiti saya atau orang-orang yang saya sayangi.

Lebih baik diam

Kalau ada orang lain membuat saya sakit hati, membuat saya merasa jatuh terhempas (mulai dramatisirnya), atau membuat saya merasa terasingkan, lebih baik saya menghindarinya. Tidak bertemu dengannya, tidak bicara apapun dengannya, tidak menjalin komunikasi apapun. Daripada bertemu dan membuat saya merasa terluka lagi, lebih baik cari jalan arah lain saja.

Bukan memutuskan tali silaturahmi, tapi biarlah saya bertemu dengan orang-orang yang baik saja, yang membuat saya merasa bersyukur bisa kenal dengan mereka.

Suka di balik layar

Dasarnya orang introvert ya sukanya apapun di balik layar aja. Kerja di balik layar, di belakang meja, ketutup layar laptop, tersekat dinding dan jauh dari hiruk pikuk lalu lalang, hehe. Sampai pernah ada yang bilang ke saya begini,

“Kamu itu beda banget antara di dunia maya dan dunia nyata. Di dunia maya, terasa rame, banyak omong, tapi pas ketemu kok jadi pendiam.”

Yah, lagi uji coba kemampuan akting aja, wkwk.

Tidak suka buah masam

Jangan deh kasih saya buah yang rasanya asem, kecut. Gak akan saya makan, beneran. Saya paling gak bisa tahan asam. Jeruk aja yang kata orang manis-manis seger, saya gak bisa makan karena pasti ada sensari asemnya. Saya hanya pilih buah yang rasanya manis. Banyak kok, misalnya buah naga, semangka, melon, pir, atau jambu kristal.

Makanya, setiap kali saya mau beli buah jeruk misalnya, saya selalu tanya sama penjualnya, jeruk yang manis yang mana. Walaupun kadar kemanisan tiap orang beda, tapi setidaknya saya gak pilih yang ada sensasi asem segernya itu. Perkara nanti sampai di rumah ternyata memang asem, ya berarti memang bukan rezeki saya. Gitu aja.

Gak doyan buah durian

Saya yakin sih, kalau ini saya gak sendirian. Walaupun katanya buah durian itu rajanya buah, enaknya sampai lupa daratan, saya tetap bilang gak doyan. Mungkin karena baunya yang menyengat itu, saya jadi menghindar duluan sebelum cobain. Tapi beneran sih, dari baunya aja saya bisa pusing.

Sebenarnya, bukan hanya durian yang saya gak mau makan. Buah-buah berbau menyengat lain juga saya cenderung gak mau makannya. Misalnya nangka, cempedak, atau timun suri.

Gak berani nyiangin ikan

Plis, jangan kaget, hehe. Serius ini mah, saya memang gak berani nyiangin ikan. Kegiatan bersihin ingsang, isi perut dan kotoran ikan ini masih jadi momok buat saya. Makanya, waktu awal menikah dan lagi di rumah mertua, saya bilang duluan,

“Mak, saya gak berani nyiangin ikan, hehe.”

Mother in law
Saya dan Mamak

Tanpa muka bersalah dan berdosa *tepok jidat. Ya alhamdulillah sih gak apa-apa. Jadi, setiap saya mau makan ikan, saya pesan ikan yang sudah disiangin aja biar gak repot, hehe. Ada yang sama gak sih begini?

Baiklah, sepertinya cukup itu dulu fakta-fakta terselubung saya, haha. Kalau kebanyakan, nanti saya gak ada istimewanya untuk kalian, kan? :P

16 April 2021

100 Puisi Indonesia Terbaik 2008 ; Pencapaian Tertinggi

Pencapaian tertinggi di hidup

Duh, apa ya? Saya merasa belum mencapai apa-apa di usia yang sudah beranjak tua begini *tepok jidat lalu mulai tertawa miris. Kalau diingat-ingat, ada sih prestasi-prestasi kecil yang bisa membuat saya semangat lagi kala mengingatnya. Tapi rasanya itu bukan pencapaian tertinggi selama hidup saya.

Saya ini termasuk orang yang moody, sering berubah mood, bahkan terlalu sering. Termasuk juga dalam hal target dan pencapaian dalam hidup saya. Dulu, saya semangat sekali untuk menulis target-target dalam hidup, apalagi kalau sudah akhir tahun dan menjelang tahun yang baru. Wuihh, bisa berderet-deret target itu saya tulis.

Tapi, untuk menjalaninya, kadang saya butuh mood dan kemauan yang cukup besar. Misal nih ya, saya punya target untuk rajin ngeblog. Nyatanya, saya pernah sampai beberapa bulan gak posting tulisan sama sekali. Gaje banget kan saya? haha. Ketika saya ingat lagi punya target itu, saya harus ekstra kuat membangkitkan semangat dan mood untuk menulis. Untungnya punya komunitas blogger macam Blogger Perempuan ini, jadi bisa lirik-lirik tulisan orang dan mulai terinspirasi *peluk unch!

Oke, balik lagi ke pencapaian tertinggi dalam hidup saya. Hm, setiap orang pasti punya impian masing-masing ya. Entah itu bisa jalan-jalan berkeliling dunia, menerbitkan buku sendiri, membuat film, atau menyelesaikan suatu proses yang membanggakan. Tapi, menurut saya, ini hal yang relatif. Mungkin bagi sebagian orang, hanya menyelesaikan satu novel saja dianggap biasa, tapi bagi orang lain itu satu pencapaian paling tinggi dan membanggakan.

Begitu juga dengan saya. Rasanya pencapaian tertinggi saya adalah satu sajak saya pernah masuk dalam buku antologi bergengsi menurut saya, waktu itu dan sampai sekarang.

100 Puisi Indonesia Terbaik 2008, Anugerah Sastra Pena Kencana.

Buku Puisi Indonesia Terbaik 2008
Buku 100 Puisi Indonesia Terbaik 2008

Itu judul bukunya. Sudah lama sekali ya. Memang, tapi bagi saya, itulah pencapaian tertinggi saya selama ini dalam hal menulis sajak. Dulu, saya memang punya impian tulisan saya bisa diterbitkan dalam bentuk buku. Keren aja sepertinya. Sudah jadi penulis beneran, hehe.

Ternyata, impian saya memang benar-benar terwujud walaupun itu bukan buku saya sendiri. Tapi yang membanggakan adalah, tulisan saya itu salah satu dari 100 puisi se-Indonesia yang didalamnya juga ada sastrawan idola saya, Sapardi Djoko Damono. Satu buku dengan sastrawan legendaris? Wah! Wah! Wah!

Saya benar-benar tidak menyangka waktu itu akan terpilih dan ketika buku itu benar-benar berada di tangan saya, hati ini rasanya meruah, bahagia dan ingin melompat-lompat, haha. Rasanya tidak ada kata lagi yang bisa menerjemahkan perasaan saya kala itu.

Kenapa? Karena itu terjadi secara tiba-tiba. Tidak ada kompetisi apapun sebelumnya yang mengharuskan saya untuk mengirim naskah. Tidak ada jadwal apapun yang menandakan akan ada pemilihan sajak seperti itu sebelumnya. Tidak ada pemberitahuan yang menyatakan bahwa ketika saya mengirim puisi, bisa berkesempatan untuk dibukukan dengan sastrawan se-Indonesia. Tidak ada sama sekali.

Saya hanya mengirimkan tulisan ke media cetak seperti biasa. Menunggu selama beberapa waktu untuk akhirnya ada pemberitahuan akan dimuat. Lalu saya senang. Lalu selesai sampai disitu. Saya benar-benar tidak berharap lebih jauh bahwa beberapa bulan kemudian, berbulan-bulan, kabar itu menghampiri saya. Bahkan waktu itu saya sempat curiga ini penipuan, wkwk.

Baca juga : Sedramatis Apa Puisi Ini?

Saya memang tidak tahu takdir akan membawa saya pada pencapaian apa dan perasaan bagaimana. Tapi, satu hal yang saya ambil hikmahnya dari sini adalah, lakukan saja yang terbaik dari diri saya. Apapun itu. Selama saya melakukan dengan baik dan sepenuh hati, ia akan membawa saya pada takdir yang baik. Itu! *lakukan dengan gerakan khas milik Bapak Mario Teguh, hehe.

Sekarang, giliran kamu dong yang cerita. Apa pencapaian tertinggi dalam hidupmu selama ini?

15 April 2021

Sebuah Harapan Untuk Blog Saya

Saya pernah punya impian bisa jadi penulis seperti Halvy Tiana Rosa dan Asma Nadia. Dulu, mereka berdualah yang jadi motivasi saya bisa terus menulis seperti sekarang. Sebelum ada blog, memang tulisan saya tersebar dimana-mana (di balik halaman kosong bahan kuliah, di buku catatan, di komputer *kirain di media gitu ya, haha).

HARAPAN UNTUK BLOG

Semenjak ada blog, hampir semua tulisan saya yang banyak macamnya itu tumpah ruah di blog. Segala curhat gaje, resep ala-ala, review macam influencer, dan segala bentuk tulisan ada disana. Saya memang sengaja kumpulin jadi satu biar mudah kalau sewaktu-waktu pengen baca lagi, ya tinggal cari aja disana. Gak perlu bongkar-bongkar catatan dan file, apalagi sudah berkali-kali ganti komputer dan laptop.

Blog juga jadi semacam media untuk saya dengan tujuan mencipta sejarah. Ya siapa tahu aja pas saya sudah gak ada, masih ada orang yang pengen kenal saya seperti apa. Setidaknya bisa kenal lewat tulisan kan? Tapi, secara umum sih untuk saya pribadi. Saya bisa menjejaki sejarah saya juga di masa lalu. Ternyata pernah alay juga nulis di blog, haha.

Serius lho ini. Kalau kamu sudah punya blog dari tahun 2000an dan masih dipakai sampai sekarang, coba deh baca ulang tulisan-tulisan pas awal ngeblog dulu. Kadang ada yang bikin ketawa karena memang isinya lucu, kadang ketawa karena gaya bahasanya yang masih khas masa muda, kadang bikin merenung juga, kok bisa ya dulu nulis seperti ini? Atau malah ada yang bisa memutar kenangan kembali. Dulu ada di peristiwa apa. Dulu ada dimana. Dulu seperti apa.

Baca juga : Selalu Ada Alasan Untuk Ngeblog

Saya sendiri, sering menjejaki blog diri sendiri hanya untuk menyadari bahwa waktu memang berlalu begitu cepat. Banyak perubahan yang terjadi. Baik di diri saya sendiri, maupun di blog itu sendiri. Dari saya sendiri, misalnya gaya bercerita saya yang lebih santai, dan lebih mendalam seperti investigasi. Di blognya, banyak perubahan template, lebih tertata dan sudah menjurus ke formulasi SEO walaupun belum ahlinya.

Satu hal yang pasti, saya berharap blog saya bisa jadi salah satu referensi bacaan di kala santai, kala butuh pencerahan, kala butuh resep receh, kala butuh cerita apa adanya. Apakah harapan ini terlalu muluk?