31 Oktober 2018

Bye Bye Geraham Bungsu #Bagian 2

Halo, semuanya. Saya terusin ceritanya ya soal gigi geraham bungsu yang sempat mengganggu aktivitas saya. Cerita bagian pertama ada disini.

Saya kembali ke klinik tempat saya meminta rujukan setelah seminggu gigi saya ditambal sementara. Sebenarnya saya malas datang kesana, karena dokter giginya yang agak jutek. Tapi saya tetap mengikuti arahan yang dokter bilang sewaktu di rumah sakit umum daerah.

Di klinik itu, saya ditanya kembali perihal kenapa harus dibongkar tambalannya. Saya yang memang gak tau alasannnya dan hanya bilang, ini arahan dari dokter rumah sakit. Tanpa pikir panjang, dokter gigi klinik itu mulai mengebor tambalan gigi saya. Lagi, saya merasakan gugup dan takut. Tapi, dokter gigi itu juga gak menaruh simpati apapun pada saya, tetap saja juteknya. Atau mungkin sudah terbiasa kali ya menghadapi pasien yang takut sepeti saya.

Gigi yang tambalannya dibongkar tadi, jadi ditambal kapas saja karena lubangnya jadi besar. Juga, kata dokternya, setiap habis makan, maka kapasnya harus diganti. Jadi, selama saya menunggu jadwal dokter gigi di rumah sakit daerah, saya mengikuti saran dokter gigi dari klinik itu. Sedikit merepotkan sih karena kemana-mana harus selalu membawa kapas kecil untuk tambalan gigi.

Saya menunggu informasi dari rumah sakit daerah selama beberapa bulan kemudian, tapi tidak kunjung ada informasi yang masuk ke saya. Sakit gigi saya sudah hilang sih, jadi saya pikir sudah gak apa-apa walaupun kurang nyaman dengan tambalan kapas. Tapi rupanya, sakit gigi itu muncul lagi sekitar sebulan yang lalu.

Rasa sakitnya begitu tiba-tiba dan langsung cenut-cenut. Memang intensitasnya tidak terlalu sering dan lama, tapi saya jadi khawatir akan sakit lagi seperti sebelumnya. Setiap sakit gigi saya kambuh, saya ulangi prosedur lama, yaitu dengan minum parasetamol atau pereda nyeri. Lumayan berkurang. Tapi mungkin syaraf gigi saya ini sudah kebal ya, jadi makin hari makin sering tiba-tiba nyeri dan intensitasnya juga makin lama.

Jadi, saya memutuskan untuk kembali ke klinik BPJS saya dan meminta rujukan lagi untuk cabut gigi. Kali ini, saya gak mau lagi ke rumah sakit umum daerah. Saya pindah ke rumah sakit swasta yang sudah cukup terkenal dengan pelayanannya yang memuaskan. Sebenarnya saya malas untuk balik lagi ke klinik karena kejutekan dokter giginya, tapi mau bagaimana lagi. Sakit gigi saya kali ini sudah tidak bisa ditolerir.

Akhirnya saya kembali ke klinik gigi dan meminta rujukan. Dokter giginya ternyata masih ingat dengan saya dan menanyakan perihal gigi saya dan alasan minta rujukan lagi. Saya merasa kali itu, dokter giginya gak sejutek sebelumnya. Mungkin karena dia tak perlu melakukan tindakan apapun dan cukup memberi surat rujukan saja, entahlah.

Prosedur klaim BPJS di rumah sakit swasta ini tidak terlalu sulit karena bisa langsung pesan antrean pendaftaran lewat whassapp. Jadi pas sampai rumah sakitnya, saya tinggal menunggu antrean di poli giginya aja. Lagi-lagi saya gugup karena saya gak tahu gigi saya mau dicabutnya bagaimana. Saya baca beberapa artikel tentang cabut gigi geraham bungsu dan hampir semua artikel itu cukup membuat saya takut.

Dokter gigi pun datang. Dia seorang laki-laki yang sudah berumur, terlihat sangat senior dan gayanya santai. Ketika nama saya dipanggil, makin deg-deg an lah saya ini. Saya duduk dan diperiksa, ditanya apakah masih sakit ketika disentuh. Saya jawab iya karena memang saat disentuh masih sakit. Jadi lah ia menghentikan tindakannya dan menyuruh saya minum obat penghilang nyeri dahulu baru seminggu kemudian datang kembali. Saya sempat tepok jidat. Kenapa harus balik lagi kesini dan izin lagi deh dari tempat kerja.

Selang seminggu, saya kembali lagi ke rumah sakit. Kali itu gigi saya memang sudah gak sakit sama sekali. Tapi, saya masih saja takut dan gugup. Ketika nama saya dipanggil dan sudah duduk di kursi tindakan, saya bertanya lagi pada dokter.

"Dok, nanti sakit gak ya pas cabut giginya?"
"Kenapa? Kamu takut?" dengan polosnya saya jawab, iya.
"Kalau takut, ya gak jadi ini cabut giginya." santai sekali ia menanggapi kata-kata saya.
"Tapi, kalau gak dicabut, nanti sakit lagi gak ya?"
"Ya, gak tau. Itu resiko kamu sendiri."

Dari kalimat terakhir yang ia lontarkan, saya sudah langsung ilfil sama dokternya. Masa gak ada empatinya sama sekali dengan pasien? Saya kan penakut, harusnya dia juga memahami psikologis pasiennya yang takut ya. Tapi ya sudahlah, saya ingin gigi geraham ini selesai secepatnya. Jadi saya minta dicabut saja.

Ada asisten dokter yang membantu menyiapkan peralatan sementara menuggu gusi saya dibius. Sekitar 10 menit, saya merasa gusi dan bibir saya tebal dan tidak ada rasa apa-apa ketika saya gigit. Dokter gigi itu pun memulai tindakannya. Saya memejamkan mata dan mesugesti diri ini akan baik-baik saja. Dokter juga menyuruh saya untuk santai saja, gak apa-apa. Tapi tetap saja kan saya takut.

Saya mengira proses pencabutan gigi geraham ini akan memakan waktu lama, tapi rupanya tidak. Memang sih ada rasa ditekan dan digoyang gigi saya, tapi gak sakit kok. Saya hanya gugup dan takut saja. Hanya sebentar, gak sampai 5 menit, saya sudah disuruh menggigit kapas dan turun dari kursi tindakan. Sempat bengong sih, dan asisten dokternya mempelihatkan gigi geraham saya yang sudah dicabut.

Saya turun dari kursi dan menghadap dokter yang sedang menulis resep obat. Dia bilang saya tidak boleh berkumur dulu selama 24 jam. Dengan polosnya saya malah tanya,

"Gak boleh sikat gigi ya, Dok?" dalam hati saya segera menjawab tanpa menunggu jawaban dokter.

Kumur-kumur aja gak boleh, kok mau sikat gigi, ya? Haha.

Dokter tidak menjawabnya, jelas sekali karena memang pertanyaan saya tidak perlu jawaban. Lalu saya tanya lagi apakah ada pantangan makan atau tidak, karena saya baca beberapa artikel ada yang tidak boleh makan pedas dan panas. Hanya jawaban singkat yang saya dapat.

"Gak ada. Silakan ambil obat di bagian farmasi ya."

Saya tahu, itu isyarat untuk saya segera keluar ruangan dan menyudahi sesi cabut gigi dengannya. Setelah mengucap terimakasih, saya langsung keluar menuju ruang farmasi untuk mengambil obat.

ooo
Saya gak ambil foto gigi geraham yang sudah dicabut, gak enak dilihatnya hehe
Sedikit tambahan cerita. Setelah cabut gigi itu, saya hanya bisa makan bubur dan makanan yang lembut saja, karena masih takut, hehe. Trus, gusi saya juga gak dijahit sama sekali (beda banget sama artikel yang pernah saya baca, sampai ada jahitan segala), jadi ya terbuka gitu aja. Kalau makan, saya usahakan untuk gak sampai ke ujung makanannya, karena pasti nanti sisa makanannya masuk dan bingung untuk bersihinnya. Trus, setelah obat bius habis, saya gak merasakan nyeri apapun (ini juga beda sama artikel yang pernah saya baca, yang bilang akan terasa sakit setelah obat bius habis).

Untuk waktu penyembuhan, gak terlalu lama juga. Tiga hari juga sudah bisa mulai makan yang agak keras dan gak sakit. Sekitar dua minggu sudah pulih seperti sedia kala dan gak balik-balik lagi ke dokter. Makanya saya sempat bertanya-tanya ini gusi kok gak pakai jahit segala ya? Tapi, malah asik kan? Jadi gak ribet dan balik lagi untuk lepas jahitan.

Oh iya, karena saya pakai BPJS, semua tindakan dan pemberian obat oleh rumah sakit dan klinik, gratis. Cuma keluarin biaya parkir motor aja di rumah sakit, hehe.

Tulisan ini sejatinya cuma berbagi pengalaman aja. Siapa tahu ada yang mau cabut gigi geraham bungsu dan sudah takut duluan, baik sama dokter giginya ataupun takut sama tindakannya. Gak apa-apa kok, beneran santai aja. Saya pernah ngalamin sendiri. Tapi pasti kasusnya juga beda-beda kan ya?

Baiklah, rasanya tulisan ini sudah sangat panjang. Jaga kesehatan gigi ya, dan selalu bersyukur. See you next time! :-*

Baca juga : Cerita Sibuk Saya yang Asik Tanpa Toxic

18 Oktober 2018

Bye Bye Geraham Bungsu #Bagian 1

Pernahkan kalian mengalami sakit gigi yang sangat parah? Sampai ke leher, ke telinga, bahkan sampai ke sebagia kepala? Hingga aktivitas terganggu, tidur juga gelisah. Saya pernah.

Jadi ceritanya saya punya gigi geraham bungsu yang sudah tumbuh. Saya gak tahu persis apakah ini tumbuhnya normal atau gak, karena memang saya gak merasakan apapun selama ini dan tumbuhnya juga biasa-biasa saja. Tapi suatu ketika di bulan haji, saya merasakan ngilu setelah saya makan daging. Saya pikir ini cuma karena menggigit daging yang agak keras saja dan ngilu akan sembuh dengan sendirinya.

Dan.. memang benar. Saya tidak merasakan ngilu beberapa lama setelah itu. Jadi saya merasa aman-aman saja. Lalu ketika bulan Desember, saya merasakan sedikit ngilu di gigi itu dan menjalar sampai ke sebelah kepala saya. Gak terlalu sakit sih, jadi saya kembali berfikir mungkin ini karena cuaca dingin (waktu itu saya sedang liburan ke daerah Kuningan yang cuacanya cukup dingin). Rasa ngilu ini seperti yang sudah-sudah kemarin, hilang timbul dan gak terlalu berpengaruh pada aktivitas saya.


Tetapi, dua bulan kemudian, saya merasa ada yang gak beres dengan gigi geraham saya itu. Kalau saya raba dengan lidah saya, terasa ada lubang kecil yang sering kemasukan sisa makanan. Rasa ngilu muncul lebih sering dan mulai mengganggu aktivitas saya. Rasa ngilunya tuh seperti ada yang menarik syaraf gigi dari dalam dan dari situ menjalar hingga ke telinga. Saya mencoba menenangkannya dengan minum obat pereda nyeri seperti parasetamol. Rasa sakitnya memang berkurang dan saya biasa-biasa lagi.

Tapi lama kelamaan, rasa ngilu itu sudah tidak bisa tertahankan lagi. Saya terbangun di tengah malam karena merasa sangat ngilu. Saya sampai nangis lho. Suami bilang berkumur saja dengan air garam. Tapi gak juga berpengaruh. Rasa ngilu itu datang lagi dan lagi.

Jadi saya putuskan untuk berobat ke klinik gigi keesokan harinya. Saya berobat ke klinik yang paling dekat dulu, dan itu gak pakai BPJS (saya sudah gak tahan menahan sakit untuk berobat ke klinik yang pakai BPJS saya). Disana, saya dikasih obat pereda nyeri seperti asam mefenamat dan parasetamol kalau gak salah. Kata dokternya, ini gigi geraham bungsu, jadi gak bisa dicabut di klinik itu. Harus ke rumah sakit.

Rasa ngilunya sedikit mereda setelah ke klinik. Tapi saya gak mau lama-lama minum obat karena takut pas obatnya habis, ngilunya datang lagi. Jadi saya kembali ke klinik yang bisa saya minta rujukan BPJSnya. Berbeda dengan klinik yang awal kemarin, disini peralatannya agak kusam dan gak sebersih di klinik sebelumnya. Bahkan dokter giginya pun lebih jutek menurut saya. Entah apa karena saya pakai BPJS?

Dari klinik sana, saya diberi surat rujukan ke rumah sakit umum daerah. Saya datang keesokan harinya, pagi-pagi sebelum saya berangkat kerja.

Sampai di rumah sakit, saya diperiksa dan katanya posisi gigi geraham bungsu saya ini agak miring dan menabrak gigi sebelahnya. Saya ceritakan juga tentang ngilu parah yang saya alami. Dokter (atau asisten dokter, saya gak tahu persis) langsung menyuruh saya ke kursi periksa dan menjalankan aksinya. Saya yang memang pada dasarnya sudah takut duluan, langsung tanya mau diapain gigi saya.

"Dimatikan syarafnya aja dulu ya." katanya sambil menyuruh saya berkumur.
"Sakit gak ya, Dok?"
"Gak juga kok, ya masih bisa ditahan lah sakitnya."

Dia menjawab sambil mempersiapkan alatnya. Saya lihat peralatannya bersih, lebih bersih dari dua klinik yang saya datangi kemarin. Saya yang sudah berdebar-debar ini semakin berkeringat dingin ketika dokter itu mengutak atik gigi saya. Ternyata hanya sebentar sudah selesai. Dalam hati saya bilang, gak sakit gini kok. Dan saya senang karena cuma sebentar dan gak kerasa apa-apa. Saya hanya merasakan gigi saya ada tambalannya sekarang.

Tapi... selang beberapa menit kemudian, barulah saya merasakan ngilu luar biasa di gigi yang barusan diutak-atik tadi. Saat itu, saya sedang dimintai data diri terkait surat rujukan balik. Saya sampai tanya kembali ke petugas yang sedang mencatat itu, kenapa malah sakit sekali gigi saya ini. Dengan entengnya dia menjawab, "Memang begitu, saya juga pernah kok." sambil memberi catatan resep obat.

Dokter itu juga sempat menghampiri saya dan bilang setelah seminggu, tambalan gigi saya bisa dibongkar di klinik tempat saya minta rujukan. Lalu, gigi saya akan dicabut setelah ada informasi jadwal dokter giginya. Saya juga dimintai nomor telepon agar bisa dihubungi. Tapi saya tidak terlalu paham dan tidak terlalu mengerti apa maksudnya karena rasa ngilu yang sudah sangat tidak tertahankan tadi.

Di perjalanan menuju bagian farmasi, saya menangis karena rasa sakit yang beneran sakit. Saya gak peduli dengan tatapan orang-orang yang ada disana, hehe. Saya ingin segera minum obat pereda nyerinya. Untung masih ada suami yang menemani saya sampai semua beres, jadi saya gak malu untuk terus nangis sebelum minum parasetamol.

Beberapa menit selepas minum parasetamol, nyeri di gigi saya hilang dan saya bisa masuk kerja. Seperti gak ada apa-apa gitu. Tapi saya belum berani makan yang keras-keras sampai beberapa hari kemudian.

Saya penasaran dengan ucapan dokter tentang mematikan syaraf gigi. Setelah browsing kesana kemari, saya simpulkan bahwa mematikan syaraf gigi ini bertujuan agar nyerinya berkurang. Biasanya hal ini dilakukan pada gigi yang sudah rusak dan menyebabkan rasa nyeri yang hebat. Obat untuk mematikan syaraf gigi ini berbahan arsen yang efeknya tidak terlalu baik, makanya untuk mencegah keluarnya arsen, lubang gigi ditambal dengan tambalan sementara sebelum dilakukan tindakan berikutnya.

Btw, ini tulisan sepertinya sudah cukup panjang. Jadi, akan saya lanjutkan di postingan berikutnya. Oh iya, saya juga akan cerita pengalaman saya sewaktu perpisahan dengan si gigi bungsu ini. See you next time!

Baca juga : Wedding Anniversary Gaya Saya

30 Agustus 2018

Cerita Sibuk Saya yang Asik Tanpa Toxic

Saya ini banyak sukanya. Suka jalan kaki, suka baca buku, suka crafting, suka jalan-jalan, suka nyanyi-nyanyi walaupun suara gak banget, suka ngoceh sendiri juga kalau gak ada teman ngobrol, hehe. Saking banyak sukanya, saya malah kadang sampai pusing sendiri mau mengerjakan apa duluan. Pengennya apa-apa dikerjakan. Apalagi kalau sudah hari libur dan gak ada kegiatan di luar. 

Ada yang bilang saya ini orang sibuk, sampai-sampai untuk main ke rumah saudara pun jarang sekali. Aduh rasanya saya tersentil dengan omongan itu. Seandainya mereka tahu gimana padatnya kegiatan saya, mungkin mereka akan ngangguk-ngangguk dan ber-o ria. Sebagai pekerja perempuan yang waktu kerjanya dari Senin sampai Sabtu dan hanya libur sehari di hari Minggu, sudah pasti akan banyak waktu habis di tempat kerja. Selebihnya di hari libur yang hanya sehari itu, harus dibagi-bagi antara waktu berkunjung ke rumah orang tua, ke rumah mertua, kadang jenguk teman lahiran, seringnya kondangan, rutinitas arisan keluarga, dan waktu beberes rumah. Ini belum waktu untuk menyendiri atau hanya berduaan saja dengan suami ya, hehe.

Baca juga : Catatan Harian

Tapi begitulah ritme keseharian saya. Patut disyukuri karena ternyata masih ada banyak hal yang ingin saya kerjakan. Karena kalau saya merasa tidak ada lagi hal yang menarik atau tidak ada lagi hal-hal yang membuat saya bergerak, itu tandanya saya sudah bosan hidup mungkin, hehe. Bersyukur juga karena sampai saat ini saya dikaruniai kondisi fisik yang tidak mudah sakit. Paling-paling kalau sudah terlalu lelah ya sakit kepala atau flu, atau yang paling parah saya mudah mengantuk.

Beberapa waktu lalu, saya sering sekali mengantuk. Pukul 10.00 pagi pun rasanya mata ini berat menatap komputer di meja kerja. Saya mencoba berjalan keluar ruangan untuk menyapa teman kerja sekadar menghilangkan kantuk. Berhasil sih sebentar. Tapi, ketika saya kembali ke meja kerja beberapa waktu kemudian, serangan kantuk kembali melanda. Tidak mungkin kan saya tidur di waktu kerja?

Dari referensi yang saya dapat, rupanya rasa cepat mengantuk di siang hari itu adalah salah satu tanda tubuh sedang tidak baik, sedang terserang racun. Wow! Masa sih? Saya kan bukan pekerja lapangan?

Eits, saya salah sangka. Pekerja kantoran pun rentan juga terpapar racun dari beberapa hal ini :

1.   Polusi udara
Memang benar yang ini, mengingat setiap pagi sore saya mengendarai motor melewati jalan raya yang penuh asap kendaraan dan debu. Kadang juga pekerjaan menuntut saya untuk pergi keluar kantor menemui beberapa perusahaan yang otomatis saya akan kembali terserang polusi udara juga.
2.   Stress karena pekerjaan
Rupanya stress ini juga bisa menyebabkan ketidakseimbangan hormon dalam tubuh sehingga metabolisme pun terganggu. Untuk yang satu ini, benar juga. Bekerja di bidang jasa memang tidak selalu banyak sukanya, dukanya pun pasti ada. Komplain dari tamu (waktu itu pernah tengah malam pun ditelpon tamu hanya gara-gara hal sepele, uh!), pekerjaan yang menumpuk, atau terbawa perasaan sesama rekan kerja (apalagi kalau sedang masa PMS), hihi. Kalau kondisi tubuh terganggu, sudah pasti racun-racun dari lingkungan luar pun akan mudah sekali menyerang.
3.   Udara yang tidak segar
Bekerja di dalam ruangan ber-AC memang nyaman, sejuk, dan jarang keluar keringat. Tapi rupanya hal inilah yang seringkali menyebabkan saya lupa untuk minum air putih, tidak banyak bergerak, dan menghirup udara yang hanya berputar di ruangan itu saja (ruangan saya gak ada jendelanya, hiks!).
4.   Kurang olah raga
Jelas saja kalau kurang olahraga, ditambah tidak banyak bergerak ketika bekerja, ditambah stress, lengkap untuk membuat tubuh rentan diserang racun-racun. 
5.   Jarang makan buah
Saya ini termasuk yang pilih-pilih buah dan sering moody kalau suruh makan buah. Jadi, bertambahlah satu pintu bagi racun untuk memasuki tubuh saya.

Dari situ, saya mencoba untuk mengembalikan kondisi tubuh untuk sehat, paling tidak tetap fit selama aktivitas saya padat setiap harinya. Ada beberapa hal yang biasanya saya lakukan untuk mempertahankan kondisi tubuh tetap fit. Tentunya, bukan saja dari asupan makanan, tetapi juga dari pikiran.

Pertama, biasanya saya akan mulai mensugesti diri saya sendiri dengan berfikir dan merasa positif. Positive thinking, positive feeling. Ini manjur lho, setidaknya saya seperti berbicara pada alam bawah sadar saya tentang bagaimana seharusnya menjalani ritme kehidupan yang serba cepat dan seperti tidak berhenti berlari ini.

Kata orang, kalau pikiran kita dipenuhi oleh hal yang negatif, maka tubuh kita pun akan beresonansi hingga yang ditimbulkan juga akan negatif. Seperti bahasa alam begitu, jadi kalau mau tubuh kita tetap sehat, ya berfikir dan merasa positif saja. Bagi saya, dua hal ini yang bisa meredakan stress saya kalau sedang ada masalah.

Saya juga suka mengajak suami untuk jalan pagi sambil bercerita di hari Minggu. Gak jauh-jauh sih, paling di sekitaran komplek atau ke depan gang sambil cari nasi uduk hihi. Jalan pagi berdua begini, cukup untuk membuat pikiran saya kembali segar. Apalagi kalau di jalan ketemu dengan tetangga dan saling sapa.

Percaya atau tidak, kadang bercerita dengan orang lain bisa mengurangi stress lho. Saya begitu, entah akan bercerita dengan suami, atau bercerita pada buku diary (ups!), atau cerita ke teman. Seringnya ini berhasil membuat saya lega walaupun saya tidak harus mendengar nasihat atau apapun dari pendengar saya. Kalau tidak ada masalah rumit, saya juga bercerita tentang apa saja dengan suami saya. Intinya ya membuat semacam obrolan yang ringan.

Nah kalau sudah jenuh bagaimana? Adakalanya memang kejenuhan bisa melanda di sela-sela rutinitas saya. Wajar lah ya, sebagai manusia biasa dan bukan robot yang diatur untuk selalu mengerjakan apapun secara terus-menerus, saya kadang merasa lelah. Kalau sudah begitu, saya memilih untuk melakukan hal-hal yang saya sukai, semisal crafting, atau foto-foto. Atau ketika hari libur, saya pilih doing nothing di rumah. Golar goler menikmati angin semilir dari jendela tanpa peduli setrikaan numpuk, haha.
Seringnya kalau sudah doing nothing gini, suami suka minta buatin minuman yang segar-segar. Paling sederhana ya minuman dingin yang ada rasanya. Karena minuman yang ada rasanya itu kebanyakan adalah sirup plus es batu, jadi saya suka agak gimana gitu. Secara, niatnya mau mengembalikan kondisi tubuh untuk kembali segar, tapi malah jadi gak sehat kan lucu.

Jadi saya beralih untuk buat infused water. Tetap berasa kan? Dan tetap dingin, plus sehat pula. Minusnya cuma gak manis aja, hehe. Biasanya saya buat dari buah lemon biar rasanya segar.

Bicara soal buah lemon, sudah beberapa bulan ini saya suka sama buah ini. Tentu vitamin C yang terkandung di dalamnya bisa menjaga kekebalan tubuh dan mencegah racun dan zat-zat tidak baik masuk dalam tubuh. Saya suka menyeduh teh dengan irisan buah ini. Kalau suami malah suka menyeduh lemon langsung tanpa teh. Aromanya pas dibelah itu, serasa bisa menyemangati aktivitas saya.

Ngeteh lemon sambil ngemil sambil baca buku
Karena stok lemon di kulkas habis, kemarin sepulang kerja saya mampir ke swalayan untuk cari itu lemon. Alih-alih ketemu lemon beneran, eh saya malah nemu minuman madu lemon. Namanya Natsbee Honey Lemon.

Dari segi tampilan, lolos di mata saya, hehe. Jujur ya, saya gak terlalu suka dengan minuman yang warnanya terlalu mencolok. Keliatan seger banget sih, tapi saya ragu dengan kandungan zat warnanya. Nah, Natsbee Honey Lemon ini warnanya kuning pucat, persis warna air lemon yang biasa saya seduh untuk suami. Kebetulan kemarin itu juga panas dan gerah, jadi kayaknya sih seger banget ya minum ini. Aslinya sih penasaran juga gimana rasanya, karena memang sebelumnya belum pernah cobain minuman ini. Ini produk baru atau saya yang ketinggalan ya wkwk.


Saya coba setelah sampai di rumah. Iya bener seger, gak pakai bohong. Rasanya alami madu dan lemon yang gak terlalu manis. Cukup untuk mengurangi kegerahan selepas menjalani ritme kehidupan saya yang cukup padat. Jadi agak nyesel cuma beli satu botol, hehe.


Kalau ada yang tanya ini minuman apa, saya kasih tahu sedikit (gak banyak-banyak biar penasaran kayak saya kemarin). Natsbee ini minuman madu lemon yang dikemas praktis untuk membantu menyegarkan kembali tubuh dan pikiran di sela-sela aktivitas yang padat. Minuman ini produksi Pokka Sapporo, lisensinya dari Jepang. Setelah baca-baca, rupanya minuman ini punya beberapa keunggulan :

http://sg.pokka.co/products/juice/natsbee-honey-lemon-juice-drink/
1. Minuman ini mengandung vitamin C alami dari buah lemon yang kaya manfaat
2. Ada madu aslinya untuk menenangkan setelah seharian padat aktivitas
3. Tidak mengandung zat pewarna dan pengawet
4. Bersertifikat halal dari MUI

Alhamdulillah halal

Karena kemasannya praktis dan rasanya juga gak terlalu asam seperti kebanyakan minuman yang disebut-sebut mengandung vitamin C, jadi bisa banget untuk menyegarkan hari-hari saya yang riweh dan menghilangkan racun serta zat-zat tidak baik yang sudah terlanjur masuk dalam tubuh saya. Ini mah cara #asiktanpatoxic yang beneran praktis menurut saya.

Btw, saya nulis ini sambil ditemani Natsbee yang tinggal sedikit di botol. Beneran bertanya dalam hati, kenapa cuma beli 1 tadi, haha. Nulisnya malem karena dari pagi sampai sore gak sempat. Dan nulisnya juga setelah kerjaan di rumah beres. Selesai nyuci baju, selesai buat rendang (masih edisi lebahan haji dan baru pertama kali masak rendang sendiri, hehe), selesai siapin makan malam. Padat ya aktivitasnya? Disyukuri saja. Ada Natsbee Honey Lemon ini temannya. Sudah dapat segarnya, dapat manfaatnya juga.

Oke, ceritanya sampai sini dulu ya. Enjoy your life, see you next time!