19 Agustus 2017

2nd Anniversary

Alhamdulillah..

kuenya gak pernah buat, haha
Sudah dua tahun tak terasa! Seharusnya tulisan ini juga diposting pas tanggal 15 Agustus kemarin, tapi you know I'm a busy woman, haha. Belakangan memang jarang sekali nulis. Paling juga kalau pengen nulis, coret-coret di kertas kosong atau di note ponsel. Jadi malah kececer entah pada kemana aja. Malah ngelantur.

Alhamdulillah..

Sudah dua tahun tak terasa! Ibarat bayi, kita ini mulai berjalan dan sedikit berlari walau masih sering jatuh. Tak apa, namanya juga belajar membina kehidupan. Kalau ditanya pernah ribut, tentu saja! Sering ada cemberut, tak jarang juga serasa ada sekat yang memisahkan hingga tak bisa mendengar atau melihat apa yang sebenarnya terjadi di dalam hati dan pikiran masing-masing. Tapi, itulah bumbunya. Tak ada kehidupan yang selalu berjalan mulus, kan?

Kuenya mamas yang beli, hihi
Alhamdulillah..

Sudah dua tahun tak terasa! Cerita kita, kisah kita akan jadi pelajaran untuk kita juga. Bahwa kasih sayang dan cinta itu tak selalu harus dikatakan. Seringnya sih memang aku yang ingin diberi kata-kata romantis, tapi apa daya si mamas gk pernah mau begitu haha. Yakin memang ada yang lebih penting daripada hanya kata-kata romantis. Yakin juga mamas selalu punya cara sendiri untuk mengungkapkan cinta dan sayangnya.

hiasan di belakang masih awet lho!
Alhamdulillah.. Alhamdulillah.. Alhamdulillah..

Klik DISINI untuk lihat videonya :D





20 Januari 2017

Mahar Handmade

Bagiku, foto adalah cerita yang tak pernah usang dimakan waktu. Ia menyimpan kenangan kita, menyimpan tawa kita, menyimpan kegembiraan kita, menyimpan kisah kita. Dan.. kapanpun kita melihatnya, kita akan merasa kembali ke masa foto itu diabadikan.

Menunggu Mamas jemput sepulang kerja, aku membuka kembali foto-foto pernikahanku dengan Mamas. Sudah satu setengah tahun yang lalu, tapi rasanya baru kemarin aku sibuk-sibuk menyiapkan banyak hal. Mulai dari undangan, suvenir sederhana, sampai bentuk mahar yang ternyata aku buat sendiri. Padahal awalnya aku gak ada niat untuk buat bentuk yang aneh-aneh. Bahkan terfikir pun gak. Tapi, gegara pergi ke toko buku dan gak sengaja lihat buku yang isinya kreasi mahar uang, jadi nyambung juga pengen dibentuk yang agak cantik.

Oke, aku memang belum punya pengalaman untuk buat mahar yang bentuk-bentuk gitu. Jadi, aku pilih desain yang sederhana dan mewakili aku banget. Taraaaa, bentuk bunga yang dirangkai. Ini sih karena sudah lama pengen dikasih bunga sama Mamas tapi gak pernah kesampaian, haha.

Gak bisa jauh dari warna pink :D

Ini hasil akhirnya. Gak nyangka juga sih akan jadi sebesar ini. Tapi sayangnya ada yang terlupa. Gak ada keterangan itu mahar punya siapa, tanggal berapa, nominalnya berapa. Haha, antara buru-buru dan sudah gak konsen karena mau jadi manten waktu itu. Mau ditempel kertas juga kok ya lupa. 

Melihat hasil kreasiku ini, ada seorang teman yang waktu itu mau nikah juga dan ternyata ngelirik aku untuk minta dibuatin. Kali ini aku sudah punya beberapa trik dan sudah lebih bisa mengira-ngira ukurannya. Dengan desain yang masih sederhana, akhirnya jadi juga maharnya mbak Meta dan Mas Redi. 

Well, percobaan ke dua hehe

Dari hasil dua percobaan itu, aku jadi kepikiran ide lain. Kalau aku buka jasa hias mahar dan seserahan gimana ya? :D :D :D 
#sudah kepedean kayaknya akuh!
#padahal belum bagus-bagus amat!

Oke, see you next time :-*

13 Januari 2017

Takdir dan Masalah

“Dirimu merenungi kehidupan yang bagaimana lagi? Menurutku, yang kamu miliki sekarang sudahlah lengkap. Cantik, pintar, tinggi dan berat badan proporsional. Not like me.”

Semalam, inboxku kedatangan pesan pendek dari seorang teman. Isinya begitu, menyebutku perempuan yang punya segala sesuatunya dan tak mungkin punya hal yang diberatkan lagi. Aku menghela nafas, kemudian tersenyum pada diri sendiri. Perenunganku tentang kehidupan yang awalnya memang sudah kulakukan tampaknya kini akan lebih diperdalam lagi, hehe.

Rasanya pepatah yang mengatakan bahwa rumput tetangga itu terlihat lebih hijau, tampaknya masih bisa berlaku disini. Bagiku, setiap orang pasti punya masalah yang berbeda. Bisa saja, orang yang terlihat bahagia, selalu tersenyum, ringan candanya, dan tampak tak ada beban, malah menyimpan masalah yang mungkin hanya dia yang tahu. Atau, bisa saja orang yang terlihat selalu diam, tidak banyak bercanda, dan tampak banyak beban, malah tak ada masalah yang benar-benar serius dan itu memang pembawaan dirinya yang pendiam.

Dan lagi-lagi tentang masalah. Dulu memang aku berfikir masalah adalah hal yang tidak menguntungkan dan banyak membawa kerugian. Tapi sekarang, aku mencoba untuk memandang masalah dengan tidak hanya dari satu sudut pandang saja. Aku berusaha memahami bahwa masalah adalah jalan yang ditakdirkan untuk kita bisa berfikir. Bukankah manusia diciptakan untuk berfikir dan tidak hanya menerima apapun yang ditakdirkan? Menerima takdir, bagaimanapun bentuknya adalah hal yang wajib, tetapi bagaimana takdir itu bisa membawa perubahan bagi kita, itulah hakikatnya mengapa kita mesti berfikir.  Apakah takdir itu akan bisa menjadikan kita manusia yang lebih bersyukur atau menjadikan kita manusia yang lebih kufur.

Jadi, kalau memang ada seseorang atau beberapa orang, atau banyak orang yang mengirim pesan seperti yang kutuliskan di awal tulisan ini, balas saja dengan senyuman dan,

“Aamiin... semoga saja memang begitu.”

yeaaahhh.. ;)

Note :
Ini tulisan sudah lama, dan aku gak sengaja nemu di komputer (di metadatanya tertulis 30 Januari 2013) tapi sepertinya gak usang untuk diposting sekarang.