30 April 2014

TRAGEDI GANG SINAR LAUT


Postingan kali ini sebagian besar berisi curhatan seorang aku kepada entah siapa. Bisa jadi juga tulisan ini mewakili sebagian besar warga di kampungku #dramatisirdotcom. Yah, apapun istilahnya, postingan ini berkaitan dengan hajat orang banyak, khususnya orang-orang yang tinggal di belakang gang kecil bernama Gang Sinar Laut itu.

Yup! Gang Sinar Laut. Gang kecil yang menghubungkan jalan raya dengan sebuah kampung di sudut kecamatan Natar, kampung Padmosari. Sebenarnya ada dua jalan menuju kampung ini, yaitu lewat gerbang utama kampung yang ada gapuranya, tentu saja jalan ini jalan besar yang bahkan bisa dilewati oleh truk besar. Jalan lainnya, ya gang Sinar Laut itu. Gang ini hanya sebuah jalan setapak yang bersebelahan dengan kebun rambutan luas dan pabrik pembuat genteng beton Sinar Laut. Makanya namanya jadi gang Sinar Laut.

Perihal kampung Padmosari yang ada di belakang gang ini, aku bisa ceritakan sedikit bahwa kampung ini adalah kampung yang damai dan tentram. Aku melihatnya seperti miniatur Indonesia. Berbagai suku tinggal disini, saling menghormati. Seperti kampung atau daerah pemukiman lain, Padmosari juga punya beberapa gang di dalamnya. Bayangannya seperti di perumahan, ada blok A, blok B, blok C, dan seterusnya. Ada blok yang dekat dengan gerbang utama kampung, ada pula blok yang dekat dengan gang Sinar Laut.

Nah, rumahku berada di blok ke 4 dari gerbang utama, dan berada di blok pertama dari gang Sinar Laut. Otomatis, ketika akan menuju jalan raya dan pulang dari jalan raya, aku melewati gang Sinar Laut. Lumayan jauh kalau harus jalan kaki lewat gerbang utama, harus melewati 4 blok ditambah satu blok tambahan sebelum benar-benar sampai di tepi jalan raya. Dalam keadaan tertentu saja aku akan lewat gerbang utama, semisal pakai motor atau mobil, karena gang Sinar Laut terlalu kecil untuk dilewati oleh mobil.

Bukan hanya aku saja yang lewat gang itu setiap harinya, orang-orang yang notabene tinggal di blok yang lebih dekat dengan gang itu, pasti juga memilih gang itu untuk keluar masuk. Aku memang tidak terlalu tahu sejak kapan gang ini digunakan sebagai jalan umum. Tapi seingatku sejak aku masih kecil, aku sudah terbiasa lewat gang ini. Dari cerita ibuku, gang ini dulunya hanya jalan setapak yang hanya bisa dilewati seorang saja, hanya jalan yang dibuat untuk menyingkat waktu, menerobos kebun rambutan yang dulu sangat lebat ditumbuhi macam-macam tanaman. Lama-kelamaan seiring bertambahnya penduduk di Padmosari, dan seiring berkembangnya pembangunan, gang ini mulai melebar sedikit meski tetap belum bisa dilewati mobil. Motor pun harus yang pengendaranya sudah ahli mengingat kontur tanahnya yang menurun dan menanjak ketika melewati rel kereta api.

Aku juga sangat ingat momen paling berkesan ketika melewati gang ini. Dulu ketika aku masih sekolah TK, aku selalu pulang bersama ibuku. Di antara semak belukar tanaman di samping kanan kiri gang, ada bunga berwarna ungu, sampai sekarang aku masih belum tahu itu bunga apa, hehe. Ibuku selalu bisa memetiknya untukku. Selalu setiap pulang sekolah. Selain momen itu, aku juga menyimpan momen lain tentang gang ini. Kalau hujan datang, gang ini jadi becek, tapi kalau kemarau datang, tanahnya retak-retak. Kalau pagi sampai sore, gang ini masih dilewati orang-orang, tapi kalau sudah malam, gang ini sepi sekali. Hampir tak ada orang yang melewatinya. Faktornya ya karena gelap (di sisinya kan hanya kebun dan semak belukar lebat), rasanya suasananya jadi spooky, hehe. Jadi orang-orang lebih memilih memutar lewat gerbang utama kampung meski rumahnya lebih dekat dengan gang ini.

Yah, intinya sih banyak hal baiknya daripada hal buruknya di gang kecil ini. Tapi, satu hal menghebohkan terjadi sejak beberapa hari lalu. Gang ini ditutup alias tak bisa lewat sini lagi. Apa sebab? Dan oleh siapa? Sudah dibeberkan di bagian atas tulisan ini bahwa di samping gang ini adalah kebun luas milik seseorang. Nah, tahun ini, keluarga si pemilik kebun mengajukan diri menjadi caleg sebuah partai. Nah, usut punya usut, ternyata dia tidak punya suara yang signifikan di kampungku. Mungkin emosinya sedang meluap, maka ditutuplah pintu gang ini dengan bambu, papan, dan semak belukar. Alhasil gang ini benar-benar tutup dan aku, juga orang-orang yang setiap hari melewati gang ini tidak bisa lagi melewatinya. Kami harus memutar arah jalan ke gerbang utama kampung.

Memang sih gang itu termasuk dalam hitungan luas kebunnya, tapi sudah terlanjur jadi jalan umum gitu dari dulu. Kalau ada kendaraan sih mudah saja, tapi kalau sedang tidak ada kendaraan dan harus jalan kaki, tentu hal ini akan menyusahkan. Jarak tentu semakin jauh, waktu juga akan dibutuhkan lebih banyak, tenaga apalagi. Yah, kadang hitung-hitung olahraga lah, tapi kalau setiap hari? Gempor, bo!

Tapi ya sudahlah. Mau bagaimana lagi. Dalam fikiran kami, mungkin sang caleg sedang emosi karena tidak ada suara kami yang memilihnya. Bahkan ada tetanggaku yang nyeletuk begini,

“Biar aja dulu, daripada masuk RSJ lebih baik menutup pintu gang. Mungkin lama-lama kalau emosinya sudah reda, pintunya dibuka lagi.”

Yah, mudah-mudahan saja :D

25 April 2014

HURRAY!!


Hurray!! Refreshing dulu setelah target bulanan tercapai :D

Kali ini tim Hotel Sofyan Bandara meluncur ke Pantai Klara. Sebenarnya ada dua kloter yang diberangkan dengan waktu yang berbeda. Hal ini karena kami bekerja di bidang pelayanan, jadi tidak mungkin hotel kami tutup sementara kami berwisata J

Kloter pertama meluncur ke pantai Mutun pada minggu pertama. Karena aku tidak ikut di kloter ini, maka aku tidak bisa menceritakan suasananya, bagaimana asiknya, bagaimana keramaiannya, dll. Aku hanya akan bercerita tentang perjalanan kloter ke dua ke pantai Klara.

Minggu pagi 07.40 WIB
Aku sudah sampai di hotel. Dari rumah sudah buru-buru dan gak sempat sarapan karena dibilang mau berangkat jam tujuh pagi. Sebenarnya dalam hati sih meragukan, karena kayaknya gak mungkin banget mau langsung berangkat tepat jam tujuh itu. Tapi demi membuang predikat bahwa orang Indonesia itu sering telat, maka aku bela-belain deh datang pagi walaupun sampainya juga tetep gak jam tujuh hehe. Alhasil, memang di hotel belum pada kumpul. Baru terlihat Martinez dan Mince plus ranselnya :D

Menunggu memang gak enak, tapi dalam penantian itu, aku sempatkan untuk sarapan dulu. Untungnya aku bawa sarapan dari rumah, jadi perut gak kosong selama perjalanan nanti. Setelah menunggu dan mempersiapkan apa-apa yang akan dibawa, berkumpullah kami di depan pos satpam untuk berdoa dulu sebelum berangkat. Kali ini ternyata gak semua rombongan kloter kedua ikut, jadi memang bisa dibilang sedikit, hanya 13 orang. They are Bosky, Anjar, Kiyai, Bari, Encol, Gani, Rianto. Sedangkan tim perempuan an cantik jelita adalah Meta, Martinez, Mince, Sri, Uul, dan aku sendiri. Tak apalah.
Berdoa dulu ya biar selamat sampai tujuan ^_^
Pukul 08.05 WIB
Bismillah, kami berangkat dari hotel. Selama dalam perjalanan, kami berdoa supaya kami gak ada yang mabuk perjalanan mengingat Martinez sering pusing dalam perjalanan. Eh, ternyata selama dalam perjalanan bukan Martinez yang mabuk, malah Uul yang mabuk perjalanan, sampe m****h hehe. Padahal sebelum berangkat, gayanya luar biasa, seminggu sebelum berangkat pun sudah sangat menanti-nanti. Pas kami ledekin, alasannya mabuk adalah karena belum sarapan. Ya ampun, nak.. kalau pagi sarapan dulu atuh! :D

Pukul 10.05 WIB
Pantai Klara, kami sampai!
Setelah sekitar dua jam perjalanan, akhirnya kami menghirup aroma pasir dan bau laut. Hmm, rasanya sudah gak sabar pengen nyemplung. Tapi air masih sangat pasang waktu itu. Bayangkan, pondokan yang berada di bibir pantai yang biasanya masih punya halaman pasir, ini gak ada sama sekali. Kalau gak ada bungkusan-bungkusan pasir dalam karung yang membatasi, mungkin air laut akan sampai pula di pondokan.
Kami isi waktu dengan permainan kelompok. Kami dibagi menjadi dua kelompok. Setiap kelompok harus membawa segelas air menggunakan selendang yang diusahakan sedemikian rupa sehingga bisa membawa segelas air itu tanpa terjatuh.
Ekspresinya Mas Bari masih aja tetep datar :D

Nah, karena gelas yang kelompokku bawa terjatuh dalam perjalanan menuju garis finish, jadilah kami kalah dalam permainan itu. Hadiah untuk yang kalah? Buset dah, kejam banget kelompok lain tuh. Kami disuruh joget ala oplosan. Ckckck... aje gile! Untung dari kelompokku ada yang bisa. Ini dia penyelamat kita, Kiyai! Hehe.
Tarik kiyai.. \^_^/
Selain permainan yang hadiahnya aje gile itu, ada juga pembagian doorprise yang gak kalah serunya. Mau dapat hadiahnya aja harus ribet dulu dengan sang juri yang kali itu adalah Bosky. Pertanyaannya sih gak sulit, bahkan mudah sekali, tapi karena rebutan dan sering didiskualifikasi gara-gara kesalahan teknis semisal salah nama atau sudah jawab sebelum ditunjuk, jadinya sesi doorprise ini cukup lama. Padahal, hadiahnya Cuma empat lho! Ini nih jurinya yang ribet banget.
Bosky alias Jaula Ndomblong :D
Setelah sesi seru ala Bosky, kami lapar. Makan bareng di pondokan rasanya maknyus banget! Menunya adalah bebek sambal, tumis oncom cempoka, sambal terasi, lalapan. Makan sambil menatap laut luas itu.. sesuatu banget!

Selepas makan dan sholat Dzuhur, kami menyebrang ke Pulau Kelagian. Untuk mencapai pulau itu, kami menyewa kapal motor seharga Rp 200.000,-/kapal. Satu kapal bisa muat sebanyak 10-15 orang tergantung ukuran kapalnya. Menyebrangi lautan menuju Pulau Kelagian dibutuhkan waktu sekitar 30 menit. Selama dalam perjalanan, ombak menggoyang-goyang kapal motor kami. Agak deg-degan juga sih karena ombaknya lumayan besar waktu itu, tapi memandang hamparan laut yang biru rasanya lapang banget. Serasa pikiran tenang dan gak ada beban.

Inilah Pulau Kelagian. Pasir putih nan halus. Laut jernih nan tenang. Seperti menyambut dengan sapaan “Selamat datang di tempat yang nyaman”. Mungkin inilah sebabnya tempat ini diberi nama Kelagian, sebab orang-orang yang datang kesini, ingin lagi dan lagi datang berkunjung.

Pulau Kelagian seperti halnya pantai kebanyakan, punya bibir pantai yang landai. Tapi jarak dari bibir pantai ke laut yang dalam cukup dekat, mungkin tak sampai 10 meter. Memang sudah ada bendera yang dipasang untuk memberi tanda jarak aman untuk berenang, tapi penjaga pantai pun tidak lelah untuk lebih ketat dalam menjaga pengunjung yang berenang di pantai. Mereka selalu memperingatkan pengunjung agar jangan sampai melewati bendera.

Selain terdapat pondokan yang berjajar sepanjang pantai untuk tempat beristirahat, disini juga terdapat wahana untuk bermain air. Banana Boat yang bisa ditumpangi hingga 6 orang dan Motor Boat yang bisa ditumpangi hingga 2 orang. Siapa yang tidak tertantang kala melihat pisang raksasa itu melambai-lambai ke arah kami? Hehe. Dengan menyewa seharga Rp 125.000,-/banana/rute, kita sudah bisa adu nyali di laut.
Ditarik motor boat dengan kencang dan meliuk-liuk, kami di atas Banana Boat menjerit lepas seperti melepas segala kepenatan. Kala motor boat mulai menukik tajam, saat itulah kami yang berpelampung terjun bebas ke dalam air. Aku memang sudah pernah mencoba Banana Boat ini sebelumnya, tapi rasa takut dan deg-degan masih juga hinggap ketika jatuh ke air. Rasanya dunia hilang dalam beberapa detik itu sebelum kami melihat dunia di atas permukaan lagi.


Lelah selama bekerja hilang sudah setelah berwisata dan bersenang-senang sejenak di pulau ini. Rasanya belum ingin pulang ketika sang pengemudi motor boat memanggil kami untuk kembali ke Pantai Klara di seberang. Cukup deh untuk hari itu. Lain waktu, semoga kami bisa mengunjunginya lagi. Mungkin dengan suasana yang berbeda, lebih ramai, lebih seru, lebih asik.

Dan selepas sholat Ashar, kami bersiap pulang. Badan terasa lelah, tapi fikiran terasa lebih rileks. Kami pulang dengan perasaan gembira. Sampai jumpa Pulau Kelagian. Sampai jumpa Pantai Klara.


17 April 2014

Bermimpilah

Kata sebagian besar orang, “Bermimpilah, lalu wujudkanlah”

Aku pernah punya impian. Banyak. Mimpiku jadi seorang penulis yang memang tidak terlalu hebat sih, tapi setidaknya tulisanku bisa mengguncang dunia karena ada manfaatnya :D. Mimpiku jadi seorang bidan sehingga aku bisa berkesampatan untuk menolong orang-orang yang sakit. Mimpiku jadi seorang istri di usia yang tidak terlalu tua *kalau memang tak mau dianggap perawan tua haha, maksudku aku menikah di usia yang ideal, antara 20-25 tahun.

Tapi, rupanya mimpi-mimpiku itu buyar satu per satu. Aku memang sudah menulis. Menghasilkan beberapa tulisan yang pernah dimuat di media massa, tersebar di blog pribadi, memenangi perlombaan, tapi rasanya tulisanku masih biasa. Aku belum bisa optimal dalam menyampaikan pesan dalam setiap tulisan. Aku memang masih terus berusaha. Menulis. Menulis. Dan menulis. Meski sering kemalasan dan ketidakmoodan menghampiri, aku berusaha untuk tetap konsisten menulis. Setidaknya ada kalimat yang kutulis setiap harinya.

Lalu, menjadi bidan. Ini mimpiku dari kecil. Menjadi bidan, atau dokter, atau perawat, atau apapun namanya yang bekerja di sebuah tempat untuk mengobati pasien. Impianku itu kandas selepas SMA. Inginnya melanjutkan pendidikan kebidanan, tapi terhalang dana. Ya sudahlah. Aku selalu berfikir positif bahwa perjalanan hidupku mungkin tidak akan baik kalau aku jadi bidan. Jadi aku menjalani hari-hariku seperti yang sudah ditakdirkan Tuhan. Menjadi apapun yang penting bisa bermanfaat untuk orang banyak.

Kemudian, menjadi seorang istri di usia ideal. Aku selalu tertawa mengingat ini. Ketika menulis ini pun, aku tertawa sendiri. Dulu sewaktu aku masih SMA, aku pernah berkata pada diri sendiri; aku ingin menikah di usia maksimal 25 tahun. Tapi nyatanya sampai usiaku 28 tahun, aku belum juga dilamar hehe. Aku kembali berfikir positif. Ini jalan Tuhan yang ditakdirkan untukku. Mungkin aku belum siap menikah saat ini. Mungkin aku belum bisa mengurus suami di saat usiaku masih 25 tahun. Begitulah.

Dan ketika sekarang ada yang bertanya apa mimpiku selanjutnya. Aku spontan menjawab, aku sudah tak punya mimpi lagi. Entahlah. Mungkin aku sedang dalam keadaan bermood tidak baik sehingga terkesan aku pesimis. Tapi begitulah. Aku jalani saja hari-hariku apa adanya. Tertawa bersama keluarga, teman, sahabat. Menangis sendirian di kamar. Menulis kesepian di diary. Dan memposting tulisan di blog ini :D

Selamat bermimpi. Selamat mempunyai impian.