21 Desember 2012

Tragedi Tiga Lomba

Sudah lewat pertengahan Desember. Fiuhh… sudah gagal saja 3 kesempatan lomba menulis yang aku ikuti. Gak ada waktu alasannya. Padahal aku tahu informasi lomba itu sudah dari sebulan sebelum deadline. Inilah akibatnya kalau suka menunda pekerjaan. Giliran sudah limit waktunya, gak sempat lagi deh.
Tragedi 3 lomba

Tapi, aku punya alasan kok...

Untuk lomba pertama, aku sudah buat konsepnya. Eh, ini lomba film pendek. Ya, aku sudah buat skenarionya, sudah ketemu lokasinya, perkiraan tokohnya juga sudah disiapkan, ternyata gagal di pelaksanaan. Aku gak punya waktu untuk syuting. Sayang banget dah. Hiks!!

Untuk lomba ke dua, nulis cerpen. Sungguh amat disayangkan sekali. Awalnya aku mau nulis cerpen baru biar fresh gitu, tapi ternyata waktu semakin cepat berlari. Limit pengiriman semakin dekat. Akhirnya mencari alternatif lain dengan mengoprek-oprek file lama dan ketemu cerpen dengan tema yang cukup sesuai. Tapi kendala masih ada. Fiuhh... tuh cerpen harus dikirim lewat pos, bukan lewat email. Otomatis, butuh printer dan jalan ke kantor pos. Ditambah lagi ada surat pernyataan yang bermaterai pula. Aaargggh!!

Printer di rumah sih ada, tapi sudah cukup buruk rupa hasilnya. Aku berusaha untuk ngeprint di luar. Dan ternyata gak ada waktu lagi. Kembali, aku gak punya kesempatan keluar. Akhirnya dengan sangat berat hati, aku relakan kesempatan berharga itu terlewat. Hiks, hiks, padahal ini lomba gratis lho.. hwaaaa... berurai air mata deh T,T

Lomba yang ke tiga, lagi-lagi nulis cerpen. Tapi kendala yang ini adalah gak adanya ATM untuk transfer uang pendaftaran lomba. ATM ku sudah tewas sejak berbulan-bulan lalu karena gak keurusan lagi (faktornya sih karena gak ada yang untuk ngisi tuh ATM, heee...). Mau pinjam ATM punya teman, eh pada gak punya. Sambil ngelus dada, aku atur nafas untuk merelakan kembali kesempatan ke tiga ini pergi, hyyaaaa.... T,T

Intinya sih, menunda pekerjaan tu memang merugikan diri sendiri. Dengan alasan apapun, tetap aja gak dibenarkan. Kesempatan yang sama mungkin gak akan pernah terulang dengan sama persis. Jadi, kalau kita memang bisa menulis di awal, ya jangan nunggu sampai deadline deh.

20 November 2012

Cerpen Kriuk ala Agus Kindi

Beberapa hari yang lalu, seorang teman yang sama-sama hobi menulis, mengirimiku sebuah pesan pendek. Dalam pesen pendeknya itu, ia memintaku untuk mengunjungi blog barunya -kalau aku sempat- katanya. Dan ketika aku punya waktu untuk online, aku memang mengunjungi rumah tulisanya itu. Sudah lama memang ia tak menyentuh blognya, dan ternyata sekarang baru mulai menggarapnya lagi.

Dan ternyata... Wow!!!! Tulisan-tulisannya mengesankan! Aku sampai tak ingin menunda membaca apa-apa yang dipostingnya di blog itu. Memang kebanyakan puisi dan cerpen, tapi ada juga tulisan lain semacam feature atau artikel lepas.

Tulisan yang paling ingin kuceritakan disini adalah cerpen-cerpennya. Tak bisa kupungkiri, secara pribadi, aku benar-benar mengaguminya. Cerpen-cerpennya sederhana, kebanyakan bertemakan sosial dan permasalahan yang terjadi di masyarakat saat ini. Tapi, alur dan kata-katanya imajinatif. Satu lagi, cerpen-cerpennya yang berlatar di daerah luar negeri. Hm, serasa benar-benar menjejakkan kaki disana dan merasakan aura yang terbangun di dalam ceritanya, merasakan kehadiran tokoh-tokohnya, dan merasakan situasi yang terjadi pada tokoh-tokohnya itu.

Baiklah, akan kuberi contohnya. Saat pertama kali aku membacanya di paragraf awal, aku sudah terpikat dan tak mau menunda untuk membacanya. Judulnya, DI BATAS MOLESKINE. Kalau kalian mau baca, silahkan klik ini.

Memang, aku sedikit gak ngerti dengan ceritanya sebelum selesai membaca sampai akhir. Cerpen ini berlatar di Italia (benar gak, Kin?). Aku seakan dibawanya merasakan udara dingin saat salju turun, mencium aroma pie apel ketika salah satu tokoh dalam cerpen tersebut memanggang pie apel, mendengar suara tangis anak kecil ketika dalam cerpen tersebut sedang bercerita tentang suasana di dalam rumah. Dan, yah merasakan semua yang diceritakan dalam cerpen.

Itu baru 1 cerpen, masih banyak cerpennya yang berlatar luar negeri dan kita serasa disuguhi sesuatu yang baru. So, kalau mau mampir di blognya dan menikmati jalan-jalan ke luar negeri, silakan deh klik ini http://awanberlayar.wordpress.com/.


19 November 2012

Rapalan Doa

Aku masih saja merapal doa yang kuuntai sejak beberapa minggu yang lalu
doa-doa itu kian waktu kian bertambah kuat ikatannya, seakan ada sesuatu yang magis dan tak pernah ku tahu dari mana asalnya
doa-doa itu kian waktu kian panjang jua untaiannya, seolah tak pernah habis benang diulur untuk mengikatnya dari ujung ke ujung

dan aku masih saja merapal doa diam-diam
diantara kerumunan orang yang menjajakan mantra nan pekat