27 September 2012

Happy Anniversary to Mom and Dad

Dua puluh delapan tahun berjalan sejak Ibu dan Abah menikah, tepatnya dari tanggal 19 September 1984 lalu. Tentunya, banyak suka dan duka yang telah dilewatinya. Melahirkan lima anak dan membesarkannya, mendidik, dan memenuhi kebutuhan semuanya. Rasanya kalau dihitung pengorbanan mereka, pasti tak akan selesai karena sungguh sangat banyak.

Tahun ini kami –anak-anaknya- ikut berbahagia dengan momen indah ini. Makanya, kami membuat acara kecil-kecilan sebagai ungkapan rasa sayang kami pada mereka. Dengan kue buatan sendiri dan dihias dengan sepenuh rasa cinta, jadilah kami sajikan ke hadapan Ibu dan Abah malam itu. Beruntung, kami berlima bisa kumpul semua, plus bonus satu orang cucu mereka dan adikku, hehe. 


Gak ada acara meriah sih, Cuma potong kue dan makan malam bersama tapi rasanya luar biasa bahagia. Dua puluh delapan tahun menjalani hari bersama, dua puluh enam tahun mengurus anak-anak, tentu bukan hal yang mudah. Walaupun aku sendiri belum pernah merasakan bagaimana kehidupan berumah tangga, tapi aku yakin pasti banyak aral melintang yang menghadang. 


Dan sekarang, kami sebagai anak-anak mereka, hanya bisa mendoakan agar keluarga ini tetap utuh dan diliputi keberkahan.




Salam cinta dari kami,wahai Ibu dan Abah. Love you two always! :-*

Marhaban Ya Ibrahim Mujtaba :)

Hello... :)

Satu lagi moment berharga yang sayang untuk dilewatkan begitu saja. Masih bernuansa ponakan baru, kalau yang belum baca postingan sebelumnya, boleh mampir kesini. Kami menyebutnya acara marhabanan atau sebagian besar masyarakat juga menyebutnya akikahan (kalau sekalian akikah), yaitu acara menyambut kedatangan bayi yang baru lahir sekaligus meresmikan namanya.


Acara ini dimulai dengan  pembacaan Barjanzi. Dulu sewaktu aku masih kecil, aku sering ikut baca Berjanzi seperti itu. Tapi sekarang sudah banyak yang lupa, hehe. Pembacaan Barjanzi ini cukup panjang dan yang aku tahu selama ini dilakukan dengan bergantian. Jadi terasa rame dan meriah. Apalagi syair-syairnya bukan dibaca begitu saja tapi dilagukan.


Dan ketika hampir selesai pembacaan Barjanzi, sang bayi dibawa berkeliling kepada para jamaah yang hadir untuk dicukur rambutnya. Tapi, gak semua jamaah yang hadir mencukur rambut si bayi. Hanya orang-orang yang dituakan saja, sebagai simbolisme dan syarat. Kemudian, orang-orang yang sudah mencukur rambut si bayi tersebut disemprotkan parfum. Aku gak begitu paham sih kok adatnya begini hehe. Biar ikutan wangi kali ya. Setelah dianggap cukup, maka si bayi diletakkan di tengah-tengah jamaah dan didoakan. Barulah acara marhabanan selesai dengan dibagikannya nasi berkatan dan tentu saja, kembang telor khas akikah bayi :)
***


Walaupun acara Cuma marhabanan begini, tapi repotnya terasa dari kira-kira dua hari sebelumnya. Pasalnya, pagi sebelum acara marhabanan (acara marhabanan dilangsungkan setelah maghrib) di mushola juga ada acara Simaan, semacam tadarus dengan menghafal Alquran dan menyimaknya. Tentu saja kami selaku tuan rumah, wajib menghormati tamu dan menyiapkan kebutuhan para hafidz itu. Tapi gak masalah, karena di lingkungan tempat ku tinggal masih termasuk kampung yang para tetangganya masih sangat suka membantu kalau tetangganya ada yang hajatan.


At last, acara berjalan lancar alhamdulillah.. :D tentu saja, ada yang kurang kalau gak ada dokumentasinya, hehe. Ini dia beberapa gambar yang berhasil diabadikan.




Oh iya, ada yang lupa, satu hal yang paling penting dari acara itu (menurutku sih hehe) adalah diresmikannya nama si manusia baru itu : Ibrahim Mujtaba. That is! :D

17 September 2012

Cry

Untuk suatu alasan tertentu, aku menangis. Entah karena aku kesal, atau lelah, atau ingin meluapkan apa yang ada di hatiku karena rasa marah, atau entah yang lainnya. Aku hanya ngin menangis. Dan itulah yang kulakukan sore itu. Tapi sayangnya, aku bersama ibu. Dalam keadaan tidak sendirian, bagaimana mungkin aku bisa menangis. Tapi begitulah. Aku berpaling dari wajah ibu di saat yang tepat. Dan keadaan memang mendukung. Angin yang membawa debu kering karena belum juga hujan, kumanfaatkan untuk membuat alasan aku mengusap mataku. Kelilipan. Hal yang wajar bukan? Dan untungnya ibu percaya dan tak bertanya apa-apa. Bagaimana jadinya bila ia sampai tahu bahwa sebenarnya aku menangis dan bukan kelilipan?