02 November 2010

KETAWA


Sebenarnya aku mau posting tulisan ini sudah sejak lama, sejak masih dalam suasana Ramadhan. Tapi karena komputer bermasalah, hilanglah semua tulisanku itu. Akhirnya baru sekarang aku bisa nulis lagi. Inspirasi tulisan ini kudapat dari seorang ustadz yang waktu Ramadhan lalu mengimami sholat tarawih.
ooo
Terkadang malas melanda. Berkali-kali harus bisa memahami orang lain di sekitar kita. Harus mengerti bagaimana menjaga perasaan orang lain yang karakternya berbeda-beda. Kemalasan itu bisa terjadi karena dua faktor. Kejenuhan dan kekecewaan. Jenuh karena yang dikerjakan hanya itu-itu saja. Rutinitas yang tampaknya tak ada akhir. Kecewa karena ternyata apa yang kita dapat sekarang tak seindang yang kita harapkan. Kalau sudah begini, stres mudah melanda kita. Makanya, kata sang ustadz itu ada penawarnya, yaitu KETAWA.

Ya, coba saja ketawa sejenak. Meredakan sedikit ketegangan, kejenuhan, dan kekecewaan kita. Tapi ternyata KETAWA ini ada kepanjangannya lho.

K = Keluar dari kebiasaan meski hanya sejenak. Cari angin segar biar pikiran bisa sedikit fresh. Ya, mungkin bisa dengan jalan-jalan, nonton film komedi, atau ngapain aja lah. Tapi harus diingat, jangan sampai kebablasan dan melakukan hal-hal aneh diluar kebiasaan baik.

E =Evaluasi diri kita. Selama ini banyak nikmat atau banyak musibah ya? Apa yang sudah kita lakukan untuk diri kita, dan orang-orang di sekitar kita.kalau bagiku sendiri, biasanya orang yang suka memberi tanpa pamrih itu tingkat stresnya lebih rendah daripada orang yang suka diberi.

T = Tetaplah berpengharapan. Jangan mentang-mentang katanya lagi stres, kita gak mau lagi optimis dengan apa-apa yang ada di hadapan kita. Berfikirlah bahwa kita masih harus menempuh perjalanan panjang, dan peristiwa apapun yang ada di hadapan kita sekarang belum ada apa-apanya.

A = Apapun makanannya, minumnya... (tuutt... disensor! Tak boleh sebut merk ya? Hehe). Apapun kejadiannya, pemaknaannya tetap aja bersyukur. Mengutip sedikit pertanyaan dari seorang ustadz, labih banyak mana coba, nikmat atau musibah? Kalau ada yang jawab musibah, wah! Kebangetan tuh! Perlu dipikir-pikir lagi.

W = Wisatakan hati selalu. Kalau hanya raga kita yang berwisata, tentu gak adil kan? Wisata hati bisa dengan mengunjungi orang sakit biar kita bisa bersyukur akan kesehatan yang diberikan untuk kita. Atau bisa juga dengan membaca buku-buku yang bisa menambah keimanan kita dan kedekatan kita pada Sang Pencipta.

A = Awali dan akhiri dengan benar. Jadi, kalau sudah mengawali suatu pekerjaan dengan benar, akhiri pula dengan benar. Pekerjaan yang tak selesai atau selesai dengan kualitas buruk tentu akan menjadi beban pikiran kita juga. Jadi, gimana mau hilang stressnya kalau pikiran kita ditambah beban lagi?

Ok, fren? Sekarang saatnya ketawa! :-D

PUISIKU, KISAHKU

Sejatinya puisi adalah media untuk menyampaikan cerita pada orang lain, media untuk berkomunikasi dengan orang lain ketika kita tak dapat menjumpai orang lain itu dengan raga kita. Puisi akan jadi operator yang menyiratkan banyak kisah di dalamnya, sarat cerita dalam sedikitnya kata-kata. Dan puisi adalah bahasa paling lembut tapi mampu menusuk ke dalam hati jika ia ditulis dengan rasa.
000
Pernah menulis puisi dengan satu alur cerita yang dinamis dan mengikuti arah kehidupan kita? Aku pernah, dan aku di skak mati oleh seorang kritikus puisi yang baru kukenal beberapa minggu! Entah siapa yang memulai, tapi aku dan dia seolah sudah sama-sama paham akan cerita yang kusampaikan dalam bait-bait puisi itu. Aku memang terbiasa menulis puisi dengan dinamisasi kehidupanku dan kehidupan orang-orang di sekelilingku, tapi aku tak terbiasa diinvestigasi semacam aku jadi buronan paling dicari di tahun ini.
Rupanya, puisi-puisiku diamatinya, dianalisisnya, dibedahnya. Berkali-kali ia bertanya apakah tokoh dalam puisiku tokoh nyata atau hanya tokoh imajinasiku saja. Selama ini aku berkilah bahwa sang penulis puisi memang harus menciptakan tokoh sehidup mungkin. Tapi rupanya ia tak gentar menginvestigasiku hingga beberapa waktu yang lalu, aku mengaku kalah. Ia benar-benar telah membuatku membeberkan kisah dalam puisiku yang tak lain adalah kisahku sendiri.
Baru kali ini aku menemukan orang yang mengupas habis seluruh isi puisi-puisiku, mengikuti alur ceritanya hingga ia bisa merasakan bahwa puisi itu sebenarnya hidup dan bercerita. Tapi dengan begitu, aku jadi paham tentang aku di mata orang lain.
“Aku selalu melihat sendu di matamu, tak bisa kau pungkiri.” Katanya yang membuatku semakin merasa terpojokkan dan seolah sudah jadi benar-benar tersangka.
Ah! Ada-ada saja temanku satu itu. Tapi aku senang dengan ini, karena ternyata aku bisa menuangkan kisah-kisahku dalam larik-larik bahasa sederhana.
*) Thanks to Fakhira

Palembang, 31 Oktober 2010

23 Oktober 2010

KEPUTUSAN

Aku tak tahu bagaimana mungkin ini bisa terjadi lagi pada diriku. Aku sadar aku bukanlah orang yang paling baik dan aku pun bukanlah seorang perempuan luar biasa. Aku hanya perempuan biasa yang punya lebih banyak perasaan daripada logika (teorikah?).

Beberapa bulan lalu, aku sengaja pergi ke luar kota kelahiranku. Sengaja untuk menghindari berbagai masalah (walaupun sebenarnya masalah tak akan hilang ketika hanya dibiarkan dan dihindari). Tapi aku sadar, betul-betul menyadari bahwa keputusanku kemarin adalah untuk hari ini. Aku disini hari ini adalah hasil dari keputusanku kemarin, maka keputusanku hari ini adalah untuk keadaanku besok.
Dari sisi usia, kurasa aku sudah cukup dewasa untuk mengambil berbagai keputusan, tentu saja tanpa memungkiri adanya keterlibatan dari berbagai pihak. Maka disini, aku mencoba untuk lebih dewasa, menjadikanku bijaksana, menjadikanku matang, dan menjadikanku manusia sebenar-benar manusia.

Tapi ternyata, masalah memang hadir dimanapun kita berada. Dalam pikiranku memang sudah tertanam bahwa masalah lah yang menjadikanku dewasa. Masalah lah yang menjadikanku lebih bijaksana, dan masalah lah yang menjadikanku matang.
Ooo

Cinta. Jatuh hati lagi. Aku tak ingin menangis lagi sebenarnya. Tak ingin menangis karena sudah terlalu sering bermain hati. Tapi, aku tak ingin pula lebih berlama-lama lagi untuk selalu bermain. Terlalu sering aku bercanda. Terlalu sering mengatakan aku masih ingin senang-senang. Terlalu sering berprasangka buruk bahwa semua laki-laki yang katanya serius padaku hanya memberi harapan dan janji-janji. Bukan pengalaman diri saja yang terlibat dalam pemikiranku itu, tapi pengalaman teman-temanku jugalah yang makin meyakinkan pernyataanku.

-Jangan pernah benar-benar percaya pada laki-laki sebelum ia melamarmu-
Aku tak tahu bagaimana kata-kata itu bisa melekat erat dalam pikiranku. Tapi aku mungkin tidak separah teman-temanku yang benar-benar menjadikan kata-kata itu sebagai prinsip dalam pergaulan mereka. Aku masih perempuan biasa yang lebih banyak perasaan daripada logika. Mungkin itu salah satu kelemahanku selain kelemahan-kelemahanku yang lain.

Aku mudah jatuh cinta. Sungguh. Aku mudah simpati pada seseorang yang punya pandangan jauh ke depan. Aku mudah simpati pada orang yang punya visi dan misi untuk masa depan. Bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuk keluarganya pula. Aku tak melihat bagaimana wajanya, bagaimana rupanya, bagaimana keadaannya. Aku hanya melihat bagaimana sikapnya, bagaimana pandangannnya terhadap suatu masalah. Tapi seiring dengan mudahnya aku simpati dengan orang lain, aku pun mudah pula menarik simpatiku bila orang itu membuatku kecewa.

Aku tahu dan aku paham, setiap orang punya kelebihan dan kekurangan. Tapi mungkin itulah kekurangannku lagi. Aku bisa memaklumi dan menerima kekurangan orang lain, tapi aku tak bisa lagi menaruh simpati yang sama dengan simpatiku yang awalnya kuberikan. Ah! Masalah memang harus dihadapi bukan dibiarkan mengendap dan akhirnya akan meledak. Satu pertanyaanku yang entah harus kuajukan pada siapa: mengapa masalahku yang ingin kutinggalkan di kota kelahiranku kini malah muncul lagi disini?