Last time ago in the afternoon
When the leaves and the rainy were falling down
And I felt you were my own
You were leaving me alone
Now, you had broken my heart one...
Agak iseng buka-buka modul les bahasa inggrisku waktu SMA,
aku menemukan ‘harta karun’ ini! Sebuah sajak dalam bahasa orang seberang nun jauh disana. Aku cuma inget samar-samar, aku buat sajak ini karena ditugasi untuk buat puisi...
27 April 2010
20 April 2010
TIGA PEREMPUAN DALAM COKLAT DAN MENGKUDU
What’s in your mind? Itu judul yang kami sepakati untuk tulisan ini. Awalnya tak ada niat untuk menuliskan ini. Ya, karena ini hanya cerita biasa, ringan dan buat kami ketawa sampai sakit perut waktu mengalaminya. Ceritanya ini terjadi di warung bakso. Hm, jadi teringat insiden ‘bakso puisi’ sekitar satu tahun lalu, hihi.
Tentu, ini di tempat yang berbeda. Masih di sekitaran Unila, pada hari Minggu, 18 April 2010. Kami –aku, Mbak Lilih, dan Jams- siang itu pengen aja makan bakso. Alsannya, pertama karena memang laper, kedua karena gak ada kerjaan tapi males pulang ke rumah, ketiga, karena pengen ngobrol lebih lama, dan keempat ya siapa tahu aja dapet inspirasi buat tulisan.
Kebetulan, warung bakso itu lagi sepi, mungkin karena hari Minggu kali ya, jadi gak banyak mahasiswa yang lewat dan mampir ke warung itu. Kami bertiga menikmati suasana sepi pengunjung itu –bebas ngomong apa aja tanpa ada yang ngelirik- dan tentu saja bisa agak lamaan disana mengingat cuaca lagi panas banget untuk pulang, hehe.
Ternyata, banyak hal tak terduga yang bisa kami bicarakan yang awalnya tak niat untuk dikeluarkan dari hati. Salah satu dari dua orang temanku itu bertanya, “Gimana sih biar cantik?”
Aku ajukan satu tips yang udah pernah aku posting juga disini, yaitu Jatuh Cinta aja! Kalau kita sedang jatuh cinta, percaya gak percaya ada aura yang memancar dari wajah kita. Lain lagi dengan jawaban salah satu temanku. Katanya, kalau mau terlihat cantik coba peragakan wajah seolah berkata “lele” ketika akan menyapa orang atau tersenyum.
Dari obrolan itu, merambat ke obrolan yang sebenarnya mungkin serius tapi karena pembawaan kami yang suka bercanda, maka obrolan itu jadi semacam humor segar yang membuat kami tertawa, bahkan aku sampai mengeluarkan air mata lho! --Tapi, ceritanya rahasia--
Aku hanya ingin menceritakan bagaimana sang penjaga warung bakso, yang juga menyajikan kami masing-masing satu mangkuk bakso dan segelas es jeruk + segelas air putih, terlihat agak kesal dan bosan melihat kami gak pergi-pergi dari tempatnya, padahal mangkuk di depan kami sudah tinggal dua pasang sendok dan sedikit sisa kuah bakso.
(mungkin kalian akan berfikir apa hubungannya antara tulisan ini dnegan judulnya. Hm, buat kami ada hubungannya. --- tidak semua hal bisa diceritakan --- piss...)
Just for fun! :-)
Tentu, ini di tempat yang berbeda. Masih di sekitaran Unila, pada hari Minggu, 18 April 2010. Kami –aku, Mbak Lilih, dan Jams- siang itu pengen aja makan bakso. Alsannya, pertama karena memang laper, kedua karena gak ada kerjaan tapi males pulang ke rumah, ketiga, karena pengen ngobrol lebih lama, dan keempat ya siapa tahu aja dapet inspirasi buat tulisan.
Kebetulan, warung bakso itu lagi sepi, mungkin karena hari Minggu kali ya, jadi gak banyak mahasiswa yang lewat dan mampir ke warung itu. Kami bertiga menikmati suasana sepi pengunjung itu –bebas ngomong apa aja tanpa ada yang ngelirik- dan tentu saja bisa agak lamaan disana mengingat cuaca lagi panas banget untuk pulang, hehe.
Ternyata, banyak hal tak terduga yang bisa kami bicarakan yang awalnya tak niat untuk dikeluarkan dari hati. Salah satu dari dua orang temanku itu bertanya, “Gimana sih biar cantik?”
Aku ajukan satu tips yang udah pernah aku posting juga disini, yaitu Jatuh Cinta aja! Kalau kita sedang jatuh cinta, percaya gak percaya ada aura yang memancar dari wajah kita. Lain lagi dengan jawaban salah satu temanku. Katanya, kalau mau terlihat cantik coba peragakan wajah seolah berkata “lele” ketika akan menyapa orang atau tersenyum.
Dari obrolan itu, merambat ke obrolan yang sebenarnya mungkin serius tapi karena pembawaan kami yang suka bercanda, maka obrolan itu jadi semacam humor segar yang membuat kami tertawa, bahkan aku sampai mengeluarkan air mata lho! --Tapi, ceritanya rahasia--
Aku hanya ingin menceritakan bagaimana sang penjaga warung bakso, yang juga menyajikan kami masing-masing satu mangkuk bakso dan segelas es jeruk + segelas air putih, terlihat agak kesal dan bosan melihat kami gak pergi-pergi dari tempatnya, padahal mangkuk di depan kami sudah tinggal dua pasang sendok dan sedikit sisa kuah bakso.
(mungkin kalian akan berfikir apa hubungannya antara tulisan ini dnegan judulnya. Hm, buat kami ada hubungannya. --- tidak semua hal bisa diceritakan --- piss...)
Just for fun! :-)
ANTARA PESIMIS DAN MISTERI
Beberapa hari yang lalu, aku agak iseng mengisi kuesioner tentang kepribadian. Sederet pertanyaan tentang kebiasaan dan sudut pandang kuisi dengan jujur. Aku ingin melihat bagaimana pribadiku sekarang versi si buku.
Hasilnya adalah aku seorang yang cenderung pesimistik. Hm, benarkah? Padahal, aku merasa selalu berusaha untuk memandang segala peristiwa yang terjadi di sekitarku dengan kacamata kebaikan. Berprasangka baik. Begitulah. Makanya, satu sisi hatiku menolak jawaban itu. Tapi sisi lainnya seolah membenarkan meski dituturkan secara halus. Lalu aku sampaikan ini kepada seorang teman. Katanya,
“Menurut gue, 90 % manusia itu pesimis. Termasuk gue :p. Tapi kalo kata gue mah, orang yang pesimis itu lebih punya pandangan jauh ke depan. Soalnya dia akan mempertimbangkan dampaknya dulu...”
Menarik! Benarkah orang yang pesimis itu lebih berpandangan ke depan? Bukankah pesimis itu merasa dirinya tak punya harapan untuk segala hal yang ada di hadapannya. Merasa hampir putus asa dan tak tahu harus berbuat apa. Merasa seolah dirinya selalu terkepung dengan persaingan dan tak akan memenangi persaingan itu.
Aku jadi inget pernah ngobrol dengan seorang temanku yang lain. Dia pernah berbagi sedikit cerita padaku. Isinya kira-kira begini, apapun yang ada di hadapan kita, itu adalah misteri. Tak ada yang tahu akan bagimana kita nanti. Maka, majulah untuk hal yang ingin kita tuju. Jangan pernah berhenti karena banyaknya persaingan, kesempatan yang mungkin kita anggap tak bisa kita gunakan, dan panjangnya jalan yang akan kita lewati. Just go!
Hm, mungkin kedua pemikiran itu perlu diendapkan dulu...
Ruang pengeraman, 15 April 2010
Hasilnya adalah aku seorang yang cenderung pesimistik. Hm, benarkah? Padahal, aku merasa selalu berusaha untuk memandang segala peristiwa yang terjadi di sekitarku dengan kacamata kebaikan. Berprasangka baik. Begitulah. Makanya, satu sisi hatiku menolak jawaban itu. Tapi sisi lainnya seolah membenarkan meski dituturkan secara halus. Lalu aku sampaikan ini kepada seorang teman. Katanya,
“Menurut gue, 90 % manusia itu pesimis. Termasuk gue :p. Tapi kalo kata gue mah, orang yang pesimis itu lebih punya pandangan jauh ke depan. Soalnya dia akan mempertimbangkan dampaknya dulu...”
Menarik! Benarkah orang yang pesimis itu lebih berpandangan ke depan? Bukankah pesimis itu merasa dirinya tak punya harapan untuk segala hal yang ada di hadapannya. Merasa hampir putus asa dan tak tahu harus berbuat apa. Merasa seolah dirinya selalu terkepung dengan persaingan dan tak akan memenangi persaingan itu.
Aku jadi inget pernah ngobrol dengan seorang temanku yang lain. Dia pernah berbagi sedikit cerita padaku. Isinya kira-kira begini, apapun yang ada di hadapan kita, itu adalah misteri. Tak ada yang tahu akan bagimana kita nanti. Maka, majulah untuk hal yang ingin kita tuju. Jangan pernah berhenti karena banyaknya persaingan, kesempatan yang mungkin kita anggap tak bisa kita gunakan, dan panjangnya jalan yang akan kita lewati. Just go!
Hm, mungkin kedua pemikiran itu perlu diendapkan dulu...
Ruang pengeraman, 15 April 2010
Langganan:
Postingan (Atom)