22 April 2022

Kenangan Saya Tentang Hujan Dan Perubahan Iklim

Saya pernah menyukai hujan dan suasana syahdunya. Kalau hujan tiba, saya seringkali duduk dekat jendela kaca dan menatap bulir-bulir airnya jatuh dan mengenai dedaunan untuk kemudian bergemericik di tanah.

Perubahan Iklim

Dulu sekali, saya bahkan senang bermain hujan bersama adik-adik saya. Setiap kali hujan datang, yang ada di pikiran saya adalah pergi keluar rumah, menyambut air dari langit sambil tertawa riang. Kadang, saya mencari teritisan setiap atap rumah untuk mendapatkan sensasi guyuran air yang lebih deras lagi.

Tidak ada yang melarang saya bermain hujan kecuali ketika ada petir, dan itu jarang sekali. Kesukaan saya dengan hujan terus berlanjut hingga masa kuliah. Tentunya tidak sampai bermain hujan lagi. Hanya menatap hujan dari jendela saja. Seringnya sambil menulis puisi karena entah kenapa, suara hujan dan suasananya itu mengundang banyak inspirasi ke kepala saya, hehe.

Maka, saya sering heran ketika ada orang yang tidak menyukai hujan. Bahkan ponakan saya sendiri sangat takut ketika hujan turun. Ia bisa sampai menangis bahkan saat berada di dalam kelas.

Tapi belakangan ini, ketakutannya pada hujan pun menular pada saya. Jujur, saya merasa kurang nyaman berada sendirian di rumah kala hujan turun. Bukan tanpa alasan, tapi memang hujan yang sekarang-sekarang ini turun hampir selalu disertai petir yang menggelegar dan angin kencang.

Saya tidak bisa menikmati hujan seperti dulu saya selalu menunggunya. Alih-alih memandang hujan dari jendela, saya hampir selalu pergi ke kemar dan menutup tubuh saya dengan bantal dan selimut, hehe. Ironisnya, hujan petir dan angin kencang seperti ini seringkali datang tiba-tiba. Padahal di pagi hari, cuaca cerah dan tenang, siang yang terang, lalu tiba-tiba hujan.

Belum lagi, akibat yang ditimbulkan oleh derasnya hujan ini. Dulu, saya jarang sekali (bahkan hampir tidak pernah) mendengar berita tentang banjir yang ada di kota tempat saya tinggal. Tapi belakangan, santer berita ‘Lampung Banjir’, ‘Beberapa Kawasan Di Lampung Dilanda Banjir’, ‘Banjir melanda Lampung Setelah Diguyur Hujan Deras’, dan sebagainya itu.

Perubahan Iklim

Iya. Apa yang baru saja saya ceritakan itu merupakan salah satu akibat dari perubahan iklim. Sampai segitunya ya? Memang. Sini simak sebentar paparan saya.

Bumi dan segala isinya memang dianugerahi untuk manusia, hewan, tumbuhan, dan semua makhluk hidup yang tinggal disana. Semuanya terus menerus bersiklus. Hidup, mengolah apa yang ada, lalu mati. Begitu seterusnya.

Namun, proses yang ada tidaklah sesederhana itu. Manusia terus menerus berinovasi untuk menemukan hal-hal yang bisa memudahkan hidup, tapi di sisi lain pun menghasilkan sampah yang lama-kelamaan semakin menumpuk.

Populasi manusia yang semakin banyak memaksa kita menjadikan kawasan hijau sebagai perumahan untuk tempat tinggal. Industri yang semakin maju pun memaksa manusia mengubah hutan menjadi pabrik-pabrik. Dari sinipun udara semakin lama semakin tercemar dengan limbah dan sampah rumah tangga.

Efeknya sudah bisa diterka. Pemanasan global. Atmosfer bumi semakin memanas karena gas-gas hasil buangan industri dan rumah tangga itu banyak terperangkap kemudian dipantulkan kembali ke bumi. Bumi menjadi lebih panas, cuaca tidak menentu, hingga akhirnya manusia sendiri yang merasakannya, termasuk saya.

Yuk, Selamatkan Bumi

Belum terlambat untuk menyelamatkan bumi dari kerusakan-kerusakan itu karena ada banyak hal kecil yang bisa kita mulai lakukan.

Kurangi Sampah Plastik

Mulai dari hal kecil yang bisa kita lakukan. Mengurangi sampah, terutama sampah plastik yang tidak bisa terurai. Di beberapa tulisan saya sebelumnya, selalu saya singgung tentang membawa kantong belanja sendiri atau minimal membawa plastik yang tidak hanya bisa untuk sekali pakai.

Membawa kantong plastik atau tas belanja kemanapun saya pergi. Pernah kan pergi ke suatu tempat yang awalnya tidak niat untuk belanja, tapi tergoda untuk membeli sesuatu. Entah itu memang kebutuhan yang terpikir tiba-tiba atau suvenir.

Jadi, setiap kali belanja, minimal tidak ada tambahan sampah plastik untuk dibuang. Hal ini bukan saja bisa mengurangi sampah plastik, tetapi juga menguntungkan si penjual karena mengurangi pengeluaran kantong plastik.

Mengurangi sampah plastik juga bisa dilakukan dengan membawa botol air minum sendiri kemanapun. Jadi, kita tidak repot mencari penjual air mineral botol sekaligus bisa mengurangi sampah botol plastik.

Saya sudah mempraktekkan ini lho! Yuk, kamu juga bisa kok membiasakan diri membawa botol minuman dan kalau perlu membawa tempat makanan sendiri dari rumah. Dan kita bisa menjadi #TeamUpforImpact untuk sedikit mengurangi perubahan iklim di bumi ini.

UntukmuBumiku
Yuk menyelamatkan bumi dengan aksi kecil ini

Mix and Match Pakaianmu

Tahukah kamu, kalau limbah fashion ini juga turut andil dalam menambah jumlah sampah di dunia? Tren fashion yang gampang berubah menuntut orang untuk terus mengikuti perkembangannya. Akibatnya, rumah jahit terus memperbaharui model pakaian, tas, dan produk fashion lainnya. Sementara itu, konsumen terus saja membeli produk-produk yang dikeluarkan.

Baca juga : Mitigasi Perubahan Iklim Dari Rumah

Alangkah baiknya kalau kita bisa meminimalisir limbah fashion ini dengan mix and match apa yang sudah ada. Bisa juga dengan merombak sedikit pakaian yang ada dan menambah asesoris agar terlihat lebih segar.

Beberapa hal yang sudah saya mulai adalah mengubah kemeja suami yang robek menjadi apron. Lumayan lah, cantik juga karena motifnya yang tidak pasaran. Selain itu, saya juga membuat gorden kolong dapur dari sprei bekas yang saya modifikasi dengan tambahan renda dan pita.

Reuse sprei
Hasil merombak sprei lama yang sudah robek menjadi gorden kolong dapur

Nah, kalau kamu bagaimana? Apa yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan bumi? Tulis di kolom komentar ya. Yuk, bergabung menjadi tim #UntukmuBumiku dalam menyelamatkan masa depan bumi. Semoga tulisan ini bermanfaat ya. 

2 komentar:

Penjelajah Waktu mengatakan...

aku juga nggak suka hujan meskipun suka hawa dingin

Laela Awalia mengatakan...

Suka sih masih ya sama hujan, tapi seringnya bareng sama petir dan anngin kencang, jadi takut