Halaman

28 November 2018

Day #9, Dear, Laki-Laki

Untuk hari ke 9 ini, saya pilih ganti tema saja karena memilih 5 blogger rasanya sulit. Kenapa? Karena saya punya banyak blogger yang jadi panutan untuk saya. Jadi daripada saya bingung pilih yang mana, mending saya ganti tema, hehe.

Sebenarnya sudah lama saya tulis surat ini dan saya pernah bilang disini untuk memposting surat saya. Hm, tapi yang ini ada beberapa bagian yang saya edit karena terlalu pribadi, haha. Agak malu juga sih mau posting ini, tapi gak apa-apa deh sekali-sekali ya. Demi tema...

ooo

Dear, Laki-laki yang kupanggil Mamas

Kamu lagi apa?
Ini pertanyaan yang dari dulu buat aku ketawa. Awal ditanya ini sih Cuma senyum-senyum geli gimana gitu. Dulu, kita pertama chatting lewat facebook ya? Atau pertama kali berkirim sms? Dulu kita belum kenal sama whassapp ya? Boro-boro kenal, ponsel aja masih yang hanya bisa untuk nelpon, sms, setel musik, paling banter untuk denger radio, hehe.

Sekarang lagi apa?
Ini pertanyaan kedua setelah pertanyaan pertama tafi aku jawab dengan berbagai macam tulisan. Entah lagi baca buku kah, atau lagi tiduran aja, atau lagi makan. Jadi di pertanyaan yang kedua ini, sebelum aku ketik jawaban, aku ngakak dulu. Ini jadi refrain deh. Gak ada pertanyaan lain lagi apa? Semisal habis ini mau ngapain lagi? #eh itu sama aja ya? Haha.

Itu dulu, dan sampai sekarang, sampai kita menikah dan lagi kerja di tempat masing-masing, aku selalu kamu suguhi dengan pertanyaan yang sama setiap kali memulai percakapan. Sekarang mah sudah ada WA ya, jadi bisa langsung balas dan gak harus ngetik jawaban panjang-panjang dulu demi mengirit pulsa untuk balas, haha.

Aku mau bilang terimakasih kalau kamu yang mulai percakapan duluan. Kamu tahu gak, di tempat kerja kita masing-masing, kita bersosialisasi dengan siapa aja, ketemu dengan berapa banyak orang, atau malah sendirian di ruangan. Tersenyum dan menyapa berbagai jenis karakter orang, marah-marah gak jelas, ngedumel dalam hati. Ketika kita saling chat, seolah ada udara sejuk yang menyapa wajah kita. Perasaan kita juga jadi adem dan merasa seolah masing-masing kita hadir untuk sekadar menyapa.

Jadi, gak apa-apa kamu terus mengawali percakapan kita dengan pertanyaan “Dek lagi apa?” walaupun itu terkesan monoton. Tapi percayalah, kalau kamu mulai dengan pertanyaan lain, malah aku yang jadi disorientasi, hehe.

Dear, laki-laki yang kupanggil Mamas,
“Aku cantik gak?”
Mungkin kamu bosan ya mendengar pertanyaan itu dari mulutku yang hampir setiap hari. Kalau dibuat serius, mungkin kamu bakal susah untuk jawabnya. Mau dijawab jujur dengan bilang “gak cantik”, pasti aku manyun. Tapi kalau jawab gak jujur berarti ya bohong. Lalu kamu pasti menjawabnya dengan “iya” sambil tersenyum.

Ironisnya, gak Cuma sampai disitu aja pertanyaannya. Masih ada lanjutan pertanyaan seperti kamu melanjutkan pertanyaan yang sudah kita ulas tadi.

“Cantik aja apa cantik banget?”
Ini juga pertanyaan yang mungkin bikin kamu galau. Jawab jujur atau gak. Tapi toh kamu hampir selalu menjawabnya dengan pilihan kedua. Adakalanya memang kamu memilih jawaban pertama, tapi seperti yang sudah aku bilang tadi, aku akan cemberut dan memukul bahumu. Tidak ada pilihan ya? Haha.

Di lain waktu, aku juga hampir selalu menanyakan apakah sayur yang aku masak rasanya enak atau ada yang kurang. Sebagian besar jawaban kamu sudah bisa ditebak. “Enak.” Hanya beberapa kali saja kamu jawab kurang asin atau kurang apa gitu, seperti tidak tahu rasanya memang ada yang kurang. Padahal kalau dipikir lagi, mungkin masakanku rasanya pas-pasan. Maklum ya, aku baru menyentuh dapur ketika aku menikah denganmu.

Pada intinya, aku hanya mencoba untuk membuat kita seperti sepasang anak muda yang saling gombal-gombalan walaupun kebanyakan gombalannya malah dari aku. Mungkin ini lucu mengingat usia kita sudah beranjak dewasa, tapi percayalah dengan ini kita bisa jadi lebih awet muda. Lagipula siapa lagi coba yang mau ngegombalin aku selain kamu sebagai suamiku? :P

Saya dan Mamas
Dear, laki-laki yang kupanggil Mamas,
Kalau diperhatikan, kamu sering sekali kasih kode ke aku. Misalnya, seperti sore itu sepulang kita kerja. Kamu sengaja memperlambat laju motor dan bilang,

“Kayaknya makan yang anget-anget enak ya?” padahal sore itu panas, gak hujan. Tapi aku langsung nyambung karena aku inget gak jauh dari situ ada warung bakso.

“Bilang aja kalau mau beli bakso.” Ya benar saja kita berhenti di depan warung bakso. Walaupun kita Cuma beli satu bungkus yang nanti kita makan bersama karena seringnya aku gak habis mau makan semangkuk bakso sendirian, tapi rasanya kamu lega karena aku sudah bisa memecahkan kode kamu.
Kadang aku sengaja untuk gak merespon kode yang kamu kasih padahal aku tahu. Sengaja, biar kamu bilang secara langsung. Tapi kelamaan. Kadang aku juga males main kode-kodean kalau suasana hati sedang lelah. Dan kamu biasanya biasa aja, gak ambil pusing, atau aku aja yang gak bisa baca ekspresi kamu yang kebanyakan datar aja?

Itu kalau kamu yang kasih kode?
Kalau aku yang kasih kode sepertinya kamu jarang banget bisa memecahkan kode yang aku kasih. Mungkin memang benar ya, laki-laki itu paling gak bisa baca kode yang perempuan kasih. Gak apa-apa. Ini namanya belajar. Bukankah kita dipertemukan biar kita saling memahami?

Dear laki-laki yang kupanggil Mamas,
Sudah ah buat suratnya. Bersyukur banget kalau kamu mau baca ini tanpa melewati bagian manapun. Gak berharap banyak sih, tapi apa salahnya mencoba berkomunikasi dengan surat seperti jaman dulu sebelum ada ponsel ya, hehe.

Oh iya, tetaplah jadi laki-laki penyayang walaupun gak pernah romantis. Aku mencintai kamu kok.

Istrimu,

2 komentar:

Elsa Hayanin mengatakan...

halo kak! senang dan merasa terhibur ketika membaca suratmu ini hehehe
dari saya yang belum berkeluarga wkwk kunjungi blog saya juga ya kak hehe elsanulis.blogspot.com hehe makasih kak <3

lia mengatakan...

halo elsa, terimakasih kunjungannya ya.. semoga dikasih jodoh terbaik untuk Elsa..