Halaman

24 Februari 2018

Silaturahmi Plus Plus, Bagian #4

Sepertinya ini oleh-oleh perjalanan yang paling panjang disini ya, hehe. Okey, kita masuk bagian ke empat. Sudah mendekati hari terakhir perjalanan silaturahmi plus plus kami. Untuk yang mau nge-klop-in bagian-bagiannya disini ya ; Bagian 1, Bagian 2, Bagian 3.

OOO

Selepas dari Kutoarjo, kami meluncur menuju Magelang. Rencananya kami akan ke Candi Borobudur terlebih dahulu baru kemudian melanjutkan perjalanan ke Sleman dan menginap disana.

Perjalanan dari Kutoarjo ternyata tidak jauh, tapi satu hal yang sempat membuat kami kecewa. Ketika akan sampai di Candi Borobudur, ada petunjuk arah terbuat dari spanduk dengan ukuran besar di jalan raya. Petunjuknya berupa arah panah untuk menuju ke candi. Ketika kami mengikuti arah itu, di depan sana rupanya ada sekelompok orang yang menghadang kami dan bilang bahwa jalan yang baru saja kami lalui merupakan jalan yang melawan arus (forbiden). Padahal jelas sekali kami mengikuti arah petunjuk di spanduk yang ada tadi. Satu orang dari mereka menawarkan pendamping menuju candi dengan sejumlah bayaran.

Kami berbalik arah. Entahlah, mungkin memang ada oknum polisi juga yang bermain disana, sebab tadi juga kami melihat ada polisi tapi tidak melakukan apa-apa atas kejadian ini. Yah, namanya manusia mau cari penghasilan tambahan kali ya tapi lewat jalur yang mengecewakan manusia lainnya.

Baiklah, setelah berkeliling cari tempat parkir karena super ramai, akhirnya kami bisa menapakkan kaki di area candi. Panasnya terik, untung sudah dapat pinjaman topi lebar dan kacamata hitam dari kakak ipar saya, hehe.

Setelah membayar tiket masuk, kami mulai berjalan ke arah candi. Rupanya sudah ada yang berubah sejak terakhir saya kemari sekitar tahun 2012. Dulu seingat saya, para pengunjung wajib mengenakan kain yang dipinjamkan oleh pihak candi sebelum naik ke atas. Tapi sekarang sudah tidak ada lagi. Lalu, penampakan area jalan menuju candi pun sudah dihias oleh kupu-kupu imitasi yang besar dan banyak sekali. Saya sampai takjub lho! Saya pun menyempatkan diri untuk berfoto dulu.

Kupu-kupu betina ini hehe

Kupu-kupu yang ditempatkan di atas jalan menuju candi
Terik dan ramai
Suasana di candi saat itu sedang ramai-ramainya. Saya sempat diajak suami untuk naik ke atas candi, tapi melihat keadaan yang penuh sesak dan cuaca sangat terik, saya tidak sanggup. Jadi, keliling-keliling saja lah di sekitar candi, mengamati ukiran-ukiran yang terbentuk meskipun tidak terlalu paham apa artinya dan menyempatkan foto di beberapa titik. Saya banyak melihat beberapa patung di candi sudah tidak utuh lagi. Sayang sekali.

Jadi ini maksud patungnya

Let's pose! B-)
Sebenarnya saya ingin lebih menjelajah lagi ke museum candi, tapi memang suasana waktu itu tidak mendukung. Keringat pun sudah bercucuran karena saking panas dan teriknya. Jadi, saya menyerah dan mulai berjalan keluar area candi. Saat di pasar, saya menyempatkan membeli kaos oleh-oleh yang dijual dengan harga murah disana.

Kami melanjutkan agenda menuju Sleman selepas dzuhur. Semoga cuaca di sana tidak seterik disini. Kami berencana untuk menginap di rumah ponakan dari jalur almarhum Bapak. Walaupun disebut ponakan, tapi usianya malah lebih tua dari saya dan kakak-kakak, jadi agak sedikit canggung saya memanggilnya. Sampai sana, kami disambut hujan lebat dan cuaca dingin. Baik hatinya sang tuan rumah, kami disediakan teh panas dan tahu goreng.

Alhamdulillah sampai juga di Sleman
Suasana di rumah ponakan terasa masih pedesaan. Ketika melewati jalan menuju rumahnya, saya melihat banyak kandang sapi, kebun, juga kolam ikan yang airnya langsung dari aliran sungai. Ponakan kami bercerita panjang lebar sembari menemani kami menghabiskan teh dan tahu goreng. Katanya besok kami akan diajak melihat rumah joglo yang sering dijadikan tempat berkumpul ketika ada acara desa.

Udara sejuk selepas hujan menyapa kami di pagi hari. Ponakan kami mengajak berjalan-jalan pagi sambil memenuhi janjinya melihat rumah joglo. Sebelum kesana, kami diajak ke bendungan dekat rumah. Rupanya aliran sungai yang masih bening itu digunakan juga untuk fasilitas mencuci baju bagi warga sekitar.

Tuh lagi ramai mencuci baju hehe
Di bendungan ini juga suami ponakan kami dulu belajar berenang. Kalau saya pasti langsung pucat mau berenang disini. Selain airnya dingin, air sungainya juga lumayan dalam.

Yang di belakang malah sadar kamera wkwkwk
Kami menuju rumah joglo yang dimaksud oleh ponakan kami. Rupanya rumah warisan ini sudah tidak lagi terawat dengan baik. Keluarganya sudah memiliki rumah masing-masing di kota lain dan pada akhirnya rumah joglo ini ditinggalkan begitu saja.

Padahal masih bagus kan penampakannya
Lahan tempat rumah joglo berdiri ini sangat luas. Imajinasi saya mulai berputar pada masa ketika rumah ini baru dibangun dan ditinggali oleh para penghuni beserta abdi-abdinya. Bukankah rumah joglo punya filosofi tersendiri? Dari balik pagar, saya sempat melihat bagian samping agak ke belakang yang sudah banyak rusak. Lampu-lampu dengan tiang yang eksotik juga sudah patah. Juga rumput yang panjang dan tak terurus dimana-mana.

Bagian samping kanan rumah yang tak terurus
Kami pulang kembali ke rumah ponakan untuk bersiap ke Jogjakarta. Rencananya kami akan mengunjungi keraton dan belanja-belanja di Malioboro (biasa perempuan hehe).

Kami parkir di dekat pasar Beringharjo. Untuk menuju ke Malioboro, kami lewat dalam pasar saja sekalian melihat-lihat siapa tahu ada barang yang bagus dan bisa terangkut hehe. Ketemu sih sama ulekan batu yang bagus, tapi beratnya itu gak nahan mau dibawa jauh ke Lampung. Lewat deh. Makin ke dalam pasar, makin bingung karena banyak sekali batik dan model pakaian yang sepertinya semuanya bagus dan ingin dibeli.

Belum banyak perubahan yang terjadi sejak terakhir saya kesini setahun lalu. Tapi memang berbeda sih jalan-jalan siang dan malam hari. Saya tidak mendapati musisi jalan seperti angklungan disini. Mungkin mereka hanya beraksi pada malam hari. Siangnya karena ada sedikit miskomunikasi antar sesama rombongan, saya, suami, mamak, dan satu mbak ipar saya makan di pinggir jalan Malioboro. Katanya sih kalau makan disini harus tanya harga dulu. Memang sudah tertera harga beberapa menu, tapi tidak untuk menu lainnya. Dan benar saja, untuk menu yang tidak ada harganya dipatok lumayan mahal untuk ukuran makanan pinggir jalan. Untung sudah tanya harga, jadi tidak begitu kaget.

Seusai makan, kami langsung bersiap menuju keraton. Sempat hujan juga jadi agak tersendat perjalanan menuju kesana. Kami menggunakan jasa taxi online dan supirnya memberhentikan kami lewat pintu samping (saya baru tahu juga ada beberapa pintu untuk masuk ke keraton).

Karena sudah lebih dari pukul 13.00, penjaga loket masuk keraton menyuruh kami untuk segera membeli tiket masuk karena pada pukul 14.00 keraton akan ditutup untuk umum. Makanya kami berburu membeli tiket masuk dan rupanya ada pendamping untuk mengelilingi keraton.

Difotoin sama ibu pendampingnya, katanya disini bagus untuk foto :-D
Dari awal, ibu pendamping memang sudah buru-buru karena waktunya mepet, jadi penjelasannya singkat-singkat saja. Ini semacam selasar pas setelah pintu masuk. Di samping kirinya ada bangunan terbuka yang memamerkan alat musik tradisional, sedangkan di belakang bangunan terbuka ini ada bagian yang tertutup dan orang umum tidak diperkenankan masuk. Saat kami berjalan menuju bangunan lain, terlihat oleh kami beberapa wanita yang sudah agak sepuh memakai kemben dan rambutnya disanggul khas Jawa. Kata ibu pendamping, itu abdi dalem keraton.

Kami terus menyusuri bagian-bagian keraton, tapi karena penjelasan ibu pendamping yang sangat cepat dan terburu-buru, saya jadi tidak begitu mengerti ini bagian apa, fungsinya apa, dan itu bagian apa, sejarahnya bagaimana. Dalam hati, saya ingin kembali lagi kesini di kemudian hari dan harus pagi-pagi supaya lebih santai dan paham apa saja yang ada di keraton ini.

Gak paham apa artinya
Salah satu bangunan yang kami masuki seperti museum yang memamerkan peralatan dan barang-barang milik keraton dari jaman dahulu. Ada piring-piring keramik hadiah dari Belanda, gelas-gelas kristal (tapi sudah agak burem, mungkin karena jarang dibersihkan), baju-baju, peralatan dapur sampai se-bumbu-bumbunya.

Peralatan dapur sampai bumbu-bumbunya
Ambil fotonya buru-buru, jadi blur T,T
Gelas kristal yang sudah agak buram

Jam 
Kami keluar dengan -tetap- buru-buru dan si ibu pendamping menunjukkan halaman berpasir di depan pendopoan yang biasanya dipakai untuk berkumpul para abdi dalem setiap pagi.

Halaman berpasir yang digunakan untuk berkumpul para abdi dalem
Sebelum keluar kawasan keraton, kami bertemu dengan beberapa orang dengan pakaian jawa (saya kurang paham apakah itu abdi dalem juga atau bukan). Saya sempatkan berfoto dulu deh.

Ngabdi banget kan ya gayanya hehe
Ini si ibu pendamping yang ambil gambar dan mengarahkan lokasinya
Dan pas sekali gong dibunyikan ketika kami melewati pintu gerbang keraton. Pas sekali pukul 14.00 dan keraton ditutup untuk umum. Saya memandang pintu gerbang keraton dengan seorang abdi dalem yang menjaganya. Saya membayangkan bagaimana kehidupan keraton dari dulu hingga sekarang.

Seorang abdi dalem yang sudah sepuh
Keluar dari area keraton, wajah-wajah kami sudah mulai lelah. Dan lagi-lagi, kami nongkrong di pinggiran jalan menunggu mobil jemputan yang tadi pagi diparkir di pasar Beringharjo.

Tuh, nongkrong lagi kan hehe
Hari sudah mulai sore dan kami ingin mengunjungi Masjid Jogokariyan yang terkenal itu sekalian sholat Ashar disana. Saya mengira masjid ini berada di tengah kota, tetapi rupanya agak menyempil masuk gang. Masjidnya besar dan tertata rapi.

Bersama mamak dan mbak ipar
dan bersama suami tercinta :D
Selepas sholat Ashar, kakak iparku ingin bertemu dengan seorang temannya. Jadi, kami menuju tempat mereka janjian, yaitu di UMY. Kami menunggu di depan gedung rektorat. Saat itu hari sudah mulai gelap. Kami menunggu disana beberapa saat dan kakak iparku mulai menelepon temannya dan bilang bahwa kami sudah menunggu. Tak disangka, temannya pun sudah menunggu di depan rektorat pula. Kami mencarinya, menanda-nandai tempat melalui plang nama agar kami mudah bertemu.

Tapi tahukah kalian? Kami mengalami kejadian paling lucu selama perjalanan ini. Rupanya memang kakak ipar saya dan temannya sama-sama menunggu di depan gedung rektorat, tapi... di universitas yang berbeda! Haha. Jadi, kami menunggu di depan UMY, sedangkan teman kakak menunggu di depan UNY! Tertawa guling-guling deh kami semobil! :-D

Yah, hurufnya agak-agak mirip sih ya, jadi yang diucap apa, dan yang didengar apa. Teman kakak saya mungkin juga salah mendengar ketika kakak saya konfirmasi perihal UMY ini. Sampai tulisan ini dibuat pun, saya masih tertawa sendiri ketika mengingat kejadian itu. Pesan moralnya sih, kalau mau janjian mending jangan sebut singkatan-singkatan, apalagi kalau hurufnya berdekatan, hehe.

Karena hari sudah malam, kami tidak jadi menemui teman kakak ipar saya. Perjalanan dari UMY ke UNY lumayan jauh, itupun belum macetnya. Sebenarnya kami ingin mengunjungi Malioboro sekali lagi di waktu malam, tapi lihat jalan sudah macet luar biasa, kami balik kanan deh. Pulang ke rumah untuk bersiap-siap melakukan perjalanan panjang ke Lampung.

Mobil kami kembali penuh sesak ketika malam itu kami beberesan. Buntelan di atas mobil masih tetap ada ya, bahkan tambah padat oleh belanjaan hihi. Rencananya kami akan bertolak dari rumah ponakan kami selepas subuh agar tidak terkena macet sampai di pelabuhan Merak. Kami juga sudah antisipasi itu karena tanggal 2 Januari, sebagian dari kami sudah harus berangkat kerja kembali selepas cuti beberapa hari.

Selamat tinggal pulau Jawa. Kami berharap dapat bertemu kembali di waktu berikutnya.

ooo

Sekitar sepuluh hari dari kepulangan kami ke Lampung, kami dikabarkan bahwa Bibi yang di Kuningan meninggal. Innalillahi...

Saya masih terbayang wajah Bibi tersenyum dan pertanyaan-pertanyaan yang selalu diulangnya. Selamat jalan, Bibi. Semoga amal ibadahmu mengantarkanmu ke syurga-Nya. Aamiin...

ooo

Ini bagian akhir cerita saya akhir tahun lalu. Pertama kali ikut keliling ke rumah saudara dari pihak suami, baik dari jalur Mamak maupun dari jalur almarhum Bapak. Semoga silaturahmi ini tetap terjaga.

Teteeeepp, cuma yang cewek yang mukanya ceria hehe

05 Februari 2018

Silaturahmi Plus Plus, Bagian #3

Yuhuuu kita masuk ke bagian #3

Suasana malam di rumah Bibi tidak terlalu banyak kegiatan, karena memang badan sudah lelah seharian jalan-jalan. Rencananya pagi di hari ke 2 ini kami lanjutkan menuju Kutoarjo, Jawa Tengah. Disana rencananya akan menginap juga selama 2 malam. Kalau kemarin sampai semalam menginap di rumah Bibi dari jalur Mamak, di Kutoarjo akan menginap di rumah saudara sepupu dari jalur almarhum Bapak. Untuk silsilahnya pun, saya baru ngeh ketika sampai di rumah dan minta penjelasan ulang dari suami, hehe.

Kami berangkat pagi-pagi agar bisa sampai Kutoarjo tidak terlalu malam. Sepanjang perjalanan, kami bercerita sana sini. Dan entah kenapa tiba-tiba saja sampai pada pembicaraan untuk mengunjungi wisata Baturraden. Sebenarnya tidak ada rencana untuk menuju kesana. Tapi, karena semua sepakat, jadi sekalian saja pumpung masih ada di Jawa.

Lokawisata Baturraden berada di sebelah selatan Gunung Slamet. Saya juga baru pertama kali kesana, dan katanya daerahnya adem alias sejuk. Sepanjang perjalanan menuju lokawisata ini, banyak jejeran penginapan dan hotel. Uniknya, ada orang yang berdiri di depan penginapan dan menawarkan pengunjungnya untuk menginap disana. Entah itu memang karyawan disana atau bukan, sebab tidak memakai seragam.
Foto dulu sebelum masuk
Sampai di depan lokawisata, yang terlihat oleh saya adalah jejeran penjaja suvenir seperti kaos bertuliskan Baturraden dan baju-baju batik. Untuk masuk kesana, kita cukup membeli tiket masuk seharga Rp 14.000,-/orang. Begitu melewati pintu masuk, saya mulai terpesona pada pemandangan alam yang disuguhkan. Tentu saja, pemandangan alam disini sudah dimodifikasi dengan banyaknya wahana yang tersedia. Saya sempat melihat peta tak jauh dari pintu masuk, sudah agak usang dan tak terlihat jelas, tapi cukup menggambarkan betapa luasnya area disini.

Peta yang sudah usang
Kami berjalan lurus dari pintu masuk dan mendapati aliran sungai dengan batu-batu besar. Di pinggir sungainya terdapat papan peringatan akan adanya banjir yang bisa datang kapan saja. Memang kalau melihat dari arah alirannya, cukup membuat saya merinding karena ingat kejadian dulu pernah ada jembatan roboh disini. Sekarang jembatan itu sudah diperbaiki lebih kokoh. Rasa penasaran membuat saya melangkah ke arah jembatan atas yang kalau dilihat dari bawah tadi, terlihat tinggi sekali. Memang berhasil membuat kaki saya pegal sih, tapi dari atas jembatan itu saya bisa melihat kawasan Baturraden dengan leluasa sepanjang pemandangan mata.
Takjub lihat pemandangan ini
Pemandangan dari atas (ini belum tinggi banget lho)

Yeeeyyy berhasil naik sampai jembatan setinggi ini

Pemandangan dari atas jembatan
Saya menuruni tangga sambil melihat sekeliling. Banyak penjual makanan kecil menawarkan dagangannya. Pecel siram, sosis bakar, gorengan tahu, jagung bakar, dan lidi pedas. Sayangnya perut sudah kenyang, jadi rasanya gak bakal muat lagi hehe. Oh iya, rupanya ada musisi yang menggelar pertunjukan disana. Saya biasa menyebutnya angklung malioboro (mungkin karena pertama kali saya melihatnya sewaktu di Malioboro Jogja).
Angklungan
Sebenarnya masih banyak tempat yang ingin saya jelajahi, tapi waktu sudah tidak mengizinkan karena perjalanan kami masih panjang. Sebelum pintu keluar, saya sempat melihat petunjuk arah ke Kebun Raya Baturraden. Daripada penasaran, saya mengajak suami kesana walaupun kaki sudah pegal hehe. Belum sampai kesana, saya melihat ada area yang dipagar dengan pohon ambon besar (sepertinya sudah berumur puluhan atau ratusan tahun) juga berlumut. Rupanya area itu adalah makam, saya tidak tahu persis karena saya sering takut kalau sudah berada di kawasan pemakaman, apalagi ini pemakaman tua hehe. Lanjut ke Kebun Raya, saya mengurungkan niat karena sepertinya tidak ada yang terlalu menarik disana. Lagipula, tidak terlalu leluasa karena rombongan sudah menunggu di dekat pintu keluar.

Baru sadar di akhir, ternyata kami suka nongkrong wkwk
Oke, selanjutnya kami meneruskan perjalanan ke Kutoarjo. Jalurnya lewat pantai selatan. Tapi karena di perjalanan hari sudah gelap, laut selatan sudah tidak kelihatan lagi. Kalau saya memang tidak terlalu paham ini jalur apa, itu jalur apa, susah deh paham jalur jalan hehe.

Sepanjang jalan masuk ke rumah sepupu kami, suami saya bercerita tentang kenangannya saat terakhir kesini. Ia masih kecil, dan begitu ingat rumah induk yang dulu masih berbentuk joglo, rumah teman almarhum Bapak, dan kantor lurah. Saya hanya bisa mengangguk sambil melihat sekeliling jalan yang dipenuhi pohon kelapa.

Sampai depan rumah, sudah ada keluarga sepupu yang menyambut di depan pintu. Dan, ketika kami keluar mobil, ada tragedi kecil yang mengorbankan salah satu kacamata kesayangan mbak ipar saya. Lucu sih kalau saya mengingatnya lagi, hehe. Jadi kacamatanya itu jatuh sewaktu dia keluar mobil. Karena malam dan tidak kelihatan, saat mobil mulai parkir, terlindaslah kacamata itu. Yah, tamatlah satu kacamata Syahrini hehe.

Cuaca di Kutoarjo ternyata cukup panas, mungkin karena dekat laut ya. Kata Mamak, kalau malam sering terdengar ombak dari laut selatan. Tapi sekarang sudah tidak terdengar lagi karena mungkin sudah ramai. Kami berbincang beberapa lama sebelum beristirahat. Rencananya bsok pagi kami akan ke pantai, yang tentu saja katanya beda dengan pantai di Lampung.

Saya merasa pagi di Kutoarjo terlalu cepat datang. Pukul 05.00 pagi pun, serasa sudah benderang. Kami bersiap menuju pantai yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah sepupu.

Namanya pantai Jetis. Saya mengira kami akan ke Parangteritis hehe. Pasir pantai berwarna hitam dan ombak lautnya tinggi. Saya jadi teringat dengan pasir di pantai kaki gunung Anak Krakatau. Hitamnya sama. Sebenarnya mataharinya tidak terlalu menyengat karena masih pagi, tapi entah kenapa di badan terasa panas.

Pasir di pantai Jetis


Ok, welfie dulu
Tuh kan nongkrong lagi

Bersama sepupu dan dua anaknya
Karena ombak di pantai ini cukup tinggi, makanya kami gak ada yang berani mandi. Jadi jalan-jalan dan foto aja di spot-spot yang ada. Untungnya banyak spot menarik yang ada disini. Salah satunya adalah area taman yang dipenuhi payung warna-warni.

Sayangnya gak terlalu bisa mencocokkan gaya dengan latar belakangnya wkwkw
Ada kupukupu betina! 

Daaaan.. ada yang mencoba merayu gombal :P
Sudah cukup puas di pantai Jetis, kami melanjutkan petualangan ke taman kota Kutoarjo. Niatnya memang keliling saja sambil lihat kota. Tapi udara cukup panas dan terik. Jadi kami memutuskan untuk pulang saja dan berniat keliling kampung ke rumah saudara-saudara.
Foto dulu walaupun terik menyengat

Kalau dirunut-runut, sepanjang jalan masuk dari jalan raya ke rumah sepupu, masih terhitung saudara semua. Saya memang tidak terlalu faham bagaimana alur silsilahnya, tapi mendengar penjelasan dari salah satu saudara (saya agak canggung memanggilnya, karena usianya jauh di atas saya, tetapi dalam silsilah masih di bawah saya hihi), saya jadi sedikit tahu.

Jadi, suasananya seperti lebaran. Bertandang ke beberapa rumah, disuguhi teh dan kue-kue (sepertinya sudah tradisi kalau tamu yang datang harus disuguhi teh meski sudah bilang tidak usah buat minum), dan bercerita kesana kemari.
Persis lebaran
Kami pulang kembali ke rumah sepupu selepas asar. Cukup menyenangkan karena sudah melihat-lihat sedikit bagian desa Sangubanyu ini. Melihat peninggalan rumah joglo yang merupakan rumah induk dari keluarga almarhum Bapak meski sekarang rumah joglo itu sudah berpindah tangan dan sudah diubah bentuknya jadi rumah modern.

Kami menginap semalam lagi disini, dan paginya kami lanjut ke Magelang dan Yogyakarta. Yeeyyy! Terimakasih keluarga sepupu yang sudah menerima kami selama dua malam ini :)

Bersiap lanjut ke Magelang
Ceritanya kita sambung besok ya. See u next time!

19 Januari 2018

Silaturahmi Plus Plus, Bagian #2



Yeeaayy ini bagian ke 2 dari beberapa bagian yang nanti insyaallah akan diposting juga di blog ini. 

Selepas subuh, kami berangkat dari Bandar Lampung. Alhamdulillah perjalanan lancar, mungkin karena arah kami ke pulau Jawa ya, jadi saat liburan pun malah terasa sepi. Kapal laut pun terasa milik sendiri karena saking sepinya hehe.

Perjalanan menuju Kuningan, lebih tepatnya ke desa Trijaya sempat diwarnai oleh keponakan yang nangis karena takut gelap, hehe. Memang gelap sih, karena cuaca juga agak gerimis dan hari sudah beranjak malam saat melewati hutan pinus dan danau (saya lupa danau apa namanya). Kata ibu mertua saya yang dulu tinggal disini, dulu ambil air untuk kebutuhan mandi disana. Padahal, jarak dari danau ke rumah lumayan jauh.

Tujuan kami ke rumah Bibi, adik ibu mertua saya. Sampai di rumah Bibi sudah lewat Maghrib. Kami menginap disana dengan rencananya sampai 2 malam. Disana, saya baru kenal dengan saudara dari ibu beserta anak-anak dan cucunya, yang berarti mereka juga baru tahu dengan saya. Saat itu, keadaan Bibi memang tidak terlalu sehat. Bahkan kami merasa ikut sedih ketika tahu bahwa Bibi sudah mulai pelupa.

wajah lusuh baru sampai di rumah Bibi
Next, pagi hari yang masih dingin, kami ke tempat wisata hutan pinus. Jalan kaki saja karena memang jaraknya gak terlalu jauh. Saya juga baru tahu ternyata disini ada Desa Wisata Sigadung. Saya lupa nama taman wisatanya apa, yang jelas didominasi oleh pohon pinus. Karena kami kesana masih pagi, mungkin masih sekitar pukul 07.00, jadi belum ada penjaga di pintu masuknya. Gratis deh, hehe.

Karena masih pagi dan berada di hutan yang masih terjaga, jadi udara yang terhirup rasanya segaaarr sekali. Bisa bersihin paru-paru ini mah. Juga, tempat ini instagramable banget dengan adanya jembatan kayu di pohon-pohon sementara pemandangan di bawahnya hutan pinus dan jurang. Coba foto disana, agak takut-takut tapi kalau gak foto bakal nyesel dan penasaran haha.

Tempat ini tinggi lho, takut juga kalau lihat ke bawah
Di tengah hutan pinus
Di area luar taman ini terdapat lapangan dan Monumen Perjuangan Brimob. Dari cerita ibu mertua saya, monumen ini didirikan untuk memperingati adanya pernyerangan dari DI/TII terhadap pasukan Brimob yang menewaskan sepuluh orang dari pasukan Brimob. Saya mendengar cerita ibu saya itu sambil mengamati monumen yang berdiri menjulang itu. Ternyata ceritanya sama dengan apa yang tertulis di bawah monumen itu. Sejarawati yang baik Ibu saya, hehe.

Tulisan di bagian bawah monumen
Berpose ramean B-)
Oh iya, dari tempat ini juga kita bisa melihat pemandangan gunung Ciremai. Tapi karena saat itu masih pagi dan berkabut, gunung yang tinggi puncaknya sekitar 3.000 meter itu jadi samar-samar dan serupa bayangan.

Kelihatan tidak gunungnya? :-D
Kami beranjak ke rumah dan siap-siap mau gooo lagi. Kalau yang ini harus pakai kendaraan karena jaraknya lumayan jauh. Kami ke Museum Linggarjati. Yuhuuu tempat wisata favorit saya ini, bisa membuka kembali lembaran sejarah lewat benda-benda yang ada. Yuk!

Sampai di museum, rupanya mata saya tidak hanya menangkap bangunan tua yang bersejarah saja, tetapi juga menangkap halaman luas yang ditumbuhi rerumputan hijau yang menyegarkan mata. Kami masuk museum dengan membayar tiket masuk terlebih dahulu (saya lupa harga tiket masuknya). Menariknya, ada pemandu yang dengan senang hati menjelaskan apa yang ada di museum, juga bagaimana sejarahnya gedung ini.

Jadi, awalnya gedung ini hanyalah rumah sederhana milik seorang perempuan bernama Jasitem. Kemudian rumah ini dijual kepada seorang Belanda bernama Van Oos Dome yang kemudian dijadikan tempat tinggal bagi keluarganya. Saya tidak kepikiran untuk ambil foto lukisannya yang terpampang di salah satu dinding kamar. Sejak itu, beberapa kali gedung ini berubah fungsi dan kepemilikan. Dari yang difungsikan sebagai hotel hingga sempat juga bangunan ini dijadikan Sekolah Dasar Negeri Linggarjati. Sampai akhirnya dialihfungsikan oleh pemerintah menjadi museum bersejarah.

Ruang perundingan lengkap dengan meja dan kursi

Diorama suasana saat perundingan berlangsung
Dari pintu masuk, ruangan pertama yang dilihat adalah ruang pertemuan tempat diadakannya perundingana Linggarjati. Ada miniatur ruangan beserta kursi dan para peserta. Masuk ke dalam dari ruangan ini, terdapat jejeran kamar yang digunakan oleh utusan baik dari Indonesia maupun dari Belanda. Kamarnya sederhana tapi rapi dengan gorden putih untuk menghalau silaunya matahari.

Salah satu kamar
Di jejeran kamar paling ujung, rupanya ada pintu keluar lewat depan. Jendela kayu yang lebar membuat saya terinspirasi untuk berpose ala-ala, hehe.
^_^
Saya melewati koridor kamar kembali untuk menyusuri ruangan yang ada di belakang. Ada ruang makan dan dapur kecil disana. Tapi memang agak serem sih karena tidak ada jendela dan ruangan ini ada di pojokan, jadi kesannya dingin dan gelap. Di sampingnya, terdapat satu ruang duduk dengan beberapa kursi yang dulu digunakan sebagai ruang pertemuan pribadi antara Presiden Soekarno dengan mediator perjanjian dari Inggris. Di belakang ruangan ini, masih ada satu kamar yang berbeda dengan jejeran kamar depan tadi. Rupanya ini kamar sang mediator. Kamar ini dilengkapi kamar mandi di dalam dengan bak mandi sangat besar terbuat dari bata dan semen.

Ruang makan (di cermin ada penampakan, hehe)
Ruang pertemuan antara Presiden Soekarno dengan Mediator Lord Killearn
Kami keluar dari pintu belakang dan berjalan melalui teritisan sampai ke depan jendela besar tadi. Dari sana, terlihat halaman luas nan hijau yang ditata apik dan sejuk. Untuk kesana, kami harus melewati deretan anak tangga yang lumayan panjang karena kontur tanahnya seperti gunung. Di halaman itu, terdapat batu yang bertuliskan isi pokok perundingan Linggarjati beserta patung orang yang bersalaman.

Halaman luas yang hijau menyegarkan mata

Mau ambil foto ini, antrinya lamaaaa
Keluar kawasan museum, tepatnya di seberang pintu masuk gedung, terdapat lapangan yang digunakan sebagai tempat parkir. Di sekitarnya, banyak penjaja makanan, suvenir dan oleh-oleh khas Kuningan. Mata saya tertuju pada penjual tahu gejrot dengan gerobak kecilnya di samping pintu parkir. Sebenarnya di Lampung juga ada sih yang jual tahu gejrot, tapi rupanya rasanya berbeda. Disini lebih segar dan gurih menurut saya. Plus, pedasnya luar biasa, padahal saya hanya minta tiga buah cabe saja.

1porsi yang dimakan berdua dengan suami
Ini penampakan mamang tahu gejrot, plus penyerbu yang cuma beli 1 porsi wkwk
Dari Museum Linggarjati, kami lanjutkan perjalanan lagi ke Ghiffari Valley. Sebenarnya ini tempat makan, tapi asiknya disini ada kolam pemancingan, terapi ikan, kolam renang, dan area taman yang asri seperti pemandangan di desa-desa. Saya penasaran dengan terapi ikan yang banyak diminati oleh pengunjung disana. Suami coba duluan dan responnya ngakak melulu karena kegelian, hehe. Untuk mengobati rasa penasaran, saya juga coba di satu kaki dulu aja. Dan.. benar! Geli dikerubuti ikan kecil-kecil itu, haha.

Ikannya nyerbu kaki tuh

Ada penangkaran love bird juga, cantiiikkk!!
jhjhg
Ehem, anak lanang sama mamaknya :D
Keluar dari tempat ini, kami niatnya cari tempat wisata lain yang sekaligus bisa untuk makan pop mie (perbekalannya lengkap, dari nesting, kompor, sampai kopi instan dan pop mie, hehe). Kami coba ke Palutungan dan Curug Putri. Tapi rupanya keadaannya tidak memungkinkan karena saking banyaknya pengunjung. Jadi kami keluar lagi dan cari tempat lain.

Jaman now kalau mau cari tempat apapun pakai google map. Nah, kami pun begitu. Kami cari tempat makan di sekitar lokasi dan muncul Pujasera Taman Kota. Dalam bayangan kami, pujasera pastilah ramai dengan banyak variasi menu makanan. Tapi setelah muter kesana kemari, kenyataan tak seindah bayangan. Pujaseranya hanya ada gerobak-gerobak kecil yang menjual seblak, lontong sayur dan cilok. Putar balik deh, haha. Dan akhirnya kami menemukan tempat makan murah meriah di salah satu jalan.

Oke, ini jalan-jalan hari pertama di Kuningan. Masih panjang cerita perjalanannya, tapi disambung besok lagi ya. See you next time! :-*