20 Januari 2017

Mahar Handmade

Bagiku, foto adalah cerita yang tak pernah usang dimakan waktu. Ia menyimpan kenangan kita, menyimpan tawa kita, menyimpan kegembiraan kita, menyimpan kisah kita. Dan.. kapanpun kita melihatnya, kita akan merasa kembali ke masa foto itu diabadikan.

Menunggu Mamas jemput sepulang kerja, aku membuka kembali foto-foto pernikahanku dengan Mamas. Sudah satu setengah tahun yang lalu, tapi rasanya baru kemarin aku sibuk-sibuk menyiapkan banyak hal. Mulai dari undangan, suvenir sederhana, sampai bentuk mahar yang ternyata aku buat sendiri. Padahal awalnya aku gak ada niat untuk buat bentuk yang aneh-aneh. Bahkan terfikir pun gak. Tapi, gegara pergi ke toko buku dan gak sengaja lihat buku yang isinya kreasi mahar uang, jadi nyambung juga pengen dibentuk yang agak cantik.

Oke, aku memang belum punya pengalaman untuk buat mahar yang bentuk-bentuk gitu. Jadi, aku pilih desain yang sederhana dan mewakili aku banget. Taraaaa, bentuk bunga yang dirangkai. Ini sih karena sudah lama pengen dikasih bunga sama Mamas tapi gak pernah kesampaian, haha.

Gak bisa jauh dari warna pink :D

Ini hasil akhirnya. Gak nyangka juga sih akan jadi sebesar ini. Tapi sayangnya ada yang terlupa. Gak ada keterangan itu mahar punya siapa, tanggal berapa, nominalnya berapa. Haha, antara buru-buru dan sudah gak konsen karena mau jadi manten waktu itu. Mau ditempel kertas juga kok ya lupa. 

Melihat hasil kreasiku ini, ada seorang teman yang waktu itu mau nikah juga dan ternyata ngelirik aku untuk minta dibuatin. Kali ini aku sudah punya beberapa trik dan sudah lebih bisa mengira-ngira ukurannya. Dengan desain yang masih sederhana, akhirnya jadi juga maharnya mbak Meta dan Mas Redi. 

Well, percobaan ke dua hehe

Dari hasil dua percobaan itu, aku jadi kepikiran ide lain. Kalau aku buka jasa hias mahar dan seserahan gimana ya? :D :D :D 
#sudah kepedean kayaknya akuh!
#padahal belum bagus-bagus amat!

Oke, see you next time :-*

13 Januari 2017

Takdir dan Masalah

“Dirimu merenungi kehidupan yang bagaimana lagi? Menurutku, yang kamu miliki sekarang sudahlah lengkap. Cantik, pintar, tinggi dan berat badan proporsional. Not like me.”

Semalam, inboxku kedatangan pesan pendek dari seorang teman. Isinya begitu, menyebutku perempuan yang punya segala sesuatunya dan tak mungkin punya hal yang diberatkan lagi. Aku menghela nafas, kemudian tersenyum pada diri sendiri. Perenunganku tentang kehidupan yang awalnya memang sudah kulakukan tampaknya kini akan lebih diperdalam lagi, hehe.

Rasanya pepatah yang mengatakan bahwa rumput tetangga itu terlihat lebih hijau, tampaknya masih bisa berlaku disini. Bagiku, setiap orang pasti punya masalah yang berbeda. Bisa saja, orang yang terlihat bahagia, selalu tersenyum, ringan candanya, dan tampak tak ada beban, malah menyimpan masalah yang mungkin hanya dia yang tahu. Atau, bisa saja orang yang terlihat selalu diam, tidak banyak bercanda, dan tampak banyak beban, malah tak ada masalah yang benar-benar serius dan itu memang pembawaan dirinya yang pendiam.

Dan lagi-lagi tentang masalah. Dulu memang aku berfikir masalah adalah hal yang tidak menguntungkan dan banyak membawa kerugian. Tapi sekarang, aku mencoba untuk memandang masalah dengan tidak hanya dari satu sudut pandang saja. Aku berusaha memahami bahwa masalah adalah jalan yang ditakdirkan untuk kita bisa berfikir. Bukankah manusia diciptakan untuk berfikir dan tidak hanya menerima apapun yang ditakdirkan? Menerima takdir, bagaimanapun bentuknya adalah hal yang wajib, tetapi bagaimana takdir itu bisa membawa perubahan bagi kita, itulah hakikatnya mengapa kita mesti berfikir.  Apakah takdir itu akan bisa menjadikan kita manusia yang lebih bersyukur atau menjadikan kita manusia yang lebih kufur.

Jadi, kalau memang ada seseorang atau beberapa orang, atau banyak orang yang mengirim pesan seperti yang kutuliskan di awal tulisan ini, balas saja dengan senyuman dan,

“Aamiin... semoga saja memang begitu.”

yeaaahhh.. ;)

Note :
Ini tulisan sudah lama, dan aku gak sengaja nemu di komputer (di metadatanya tertulis 30 Januari 2013) tapi sepertinya gak usang untuk diposting sekarang. 

03 Januari 2017

Kita Ke Monas! Part #2

Hari ke dua di Jogja. Rombongan menuju Taman Pintar yang letaknya gak seberapa jauh dari lokasi penginapan. Cukup jalan kaki ramean dan ternyata sudah sampai tanpa terasa. Tempat ini sepertinya memang lebih cocok untuk anak-anak, makanya yang paling heboh adalah anak-anak di rombongan kami. Disini agak sedikit kacau agendanya, kukira akan masuk semua tapi ternyata kami dibiarkan sendiri-sendiri. Aku dan Mamas memilih keliling-keliling di komplek Taman Pintar saja, karena bingung agendanya mau gimana. Mau jalan jauh pun takut dicari dan waktunya singkat. Agak nyesel sih gak beli tiket sendiri ke Planetarium. Semoga besok-besok bisa kesana lagi ya :D

Lokasi di depan Gedung Oval, di bawah lorong air
Tapak kaki Presiden RI, dari Presiden pertama sampai Presiden sekarang
Salah satu monumen tapak kaki dan tapak tangan di sepanjang pintu masuk
Siangnya kami berangkat menuju tempat wisata berikutnya. Sebagian dari kami (dan mungkin hampir seluruhnya) tidak tau ke arah mana kami ini. Kami hanya bisa memandang kiri kanan jalan lewat jendela bus. Masyaallah.. jalannya berliku dan naik turun! Dan.. jauuuhhh! Sampai akhirnya bus kami masuk ke sebuah pintu gerbang dengan tulisan Taman Wisata Pantai Baron. Oalaaahhh ke pantai tho!

Langsung cus ke icon nya!
Lumayan cantik hiasannya :D
Baiklah, mungkin ini pantai yang berbeda dengan pantai di Lampung (mengingat di Lampung juga kan banyak pantai). Dan memang benar, di pantai ini kita gak boleh mandi dan berenang di pantainya, karena ombaknya tinggi. Tapi pemandangan disini cukup bagus! Penjual suvenirnya juga gak berbeda dari penjual suvenir yang ada di pantai Lampung. Ya, gantungan kunci, bros, tirai, lampu gantung dari kerang gitu deh. Tapi disini ada penjual makanan laut yang enak banget! Berbagai makanan laut digoreng renyah dengan harga cukup murah. Aku nyicip udang goreng tepung renyah dengan harga Rp 20.000,- dapat ¼ kg.


Rasanya pengen nyebur, tapi gak boleh
Suvenir bros dari kerang, cantik-cantik!
Karena hari hujan dan sudah sore juga, kami pulang lagi ke penginapan. Lumayan lah walaupun gak bisa berenang di laut, tapi dapat foto dengan latar belakang nama tempatnya. Itu sudah cukup untuk jadi kenangan bahwa aku sudah pernah kesini. Betul? Hehe.

Hari ke tiga, rombongan bersiap meninggalkan Jogja. Rencana sih katanya mau ke Solo untuk nyerbu pasar grosir yang jual aneka batik itu. Sebelum berangkat, aku dan Mamas sempet jalan pagi di sekeliling penginapan. Suasana di jalan yang kami lalui semalam cukup berbeda dengan pagi hari. Kalau malam ramainya sudah seperti tak ada matinya, pagi-pagi belum terlalu banyak orang yang lalu lalang. Toko-toko juga masih banyak yang tutup. Kami sempatkan duduk di salah satu kursi yang berderet sepanjang jalan dan mengabadikannya (untung ada mbak-mbak yang rela dimintai tolong untuk ambil foto kami).

Cuma satu ini fotonya :D
Setelah semua siap dan memastikan gak ada barang yang tertinggal di penginapan, kami serombongan meluncur ke Solo. Ternyata benar, kami ke Pusat Grosir Solo (PGS). Penampakan dari luar seperti plaza gitu, dan setelah masuk... waaaahhh aneka batik ada disini. Mulai dari baju, kain, mukena, sampai asesoris. Dengan uang saku pas-pasan, aku hanya bisa beli beberapa baju untuk aku sendiri dan orang rumah. Disini, kita tuh kudu pinter milih karena ada barang dengan harga yang sama, tapi kwalitas sedikit berbeda. Tapi semua barang relatif lebih murah daripada di tempatku.

Setelah puas berkeliling dan bawa beberapa batik (kalau yang lain sih bawaannya banyak), rombongan meneruskan perjalanan. Kali ini kita akan pulang ke Lampung. Bye bye Solo, see u next time ya!

Pas sampai Jakarta keesokan paginya, ternyata bus lewat kawasan Monas. Sempet berharap sih akan masuk, dan ternyata benar! Yeeyyyy, kita ke Monas! #lebay banget ya aku, secara aku belum pernah kesini sebelumnya.

Monasnya kok malah kekecilan ya
Aku dan Mamas memisahkan diri dari rombongan (karena memang pada pencar sih), dan memutuskan untuk masuk ke Monas dan puncaknya. Kami naik kereta gratis yang disediakan untuk pengunjung yang ingin masuk ke Monas. Di pintu masuk, tertera harga untuk 2 macam tiket. Tiket ke puncak Monas dan tiket ke cawan Monas. Masing-masing di harga Rp 15.000,- dan Rp 8.000,-. Karena penasaran, aku dan Mamas pilih tiket ke puncak Monas.

Pas sudah beli, ternyata antrian untuk naik ke puncak Monas sungguh sangat panjang dan mengular. Kata petugas yang keliling disana sih, bisa sampai 2-3 jam untuk dapat antrian masuk lift. Ini karena lift hanya 1 dan hanya bisa menampung sekitar 11 orang. Lumayan kecewa, tapi mau bagaimana lagi. Akhirnya kami masuk ke Ruang Kemerdekaan di sebelah antrian itu. Ruangan luas dan ditangahnya seperti ada ruangan lagi berbentuk kubus (mirip kabah gitu) dan di keempat sisinya ada ornamen kenegaraan, yaitu Burung Garuda Pancasila, peta kepulauan Indonesia, naskah teks proklamasi, dan sebuah pintu yang waktu itu tertutup. Dari referensi yang aku baca, pintu ini sebenarnya bisa berputar dan secara otomatis memperdengarkan lagu Padamu Negeri dilanjut dengan suara pembacaan proklamasi.

Salah satu sisi yang berornamen kepulauan Indonesia

Salah satu sisi yang berornamen Garuda Pancasila
Kami lanjut ke cawan Monas, itu lho bangunan yang seperti mangkuk yang menopang puncak Monas. Nah, disini penampakannya seperti museum pada umumnya. Seluruh dinding memamerkan diorama-diorama dari potongan kisah yang sambung menyambung dari satu diorama ke diorama selanjutnya. Ada lima sisi diorama yang dimulai dari pintu masuk utama.

Diorama-diorama ini menggambarkan masa pra sejarah, termasuk di Indonesia. Lalu dilanjut dengan masa kerajaan di beberapa daerah, seperti kerajaan Majapahit dan Sriwijaya. Kemudian masuk masa penjajahan bangsa Eropa, kisah-kisah perlawanan yang masih bersifat kedaerahan karena belum merdeka, hingga dimulainya pergerakan nasional Indonesia dan perang kemerdekaan. Diorama ditutup dengan kisah-kisah di masa orde baru dan beberapa konferensi internasional yang pernah diikuti bangsa Indonesia.

Candi Jawi, perpaduan Sivaisme dan Budhisme, 1292
Kebangkitan Nasional yang membentuk Boedi Utomo, 1908

Muhammadiyah yang didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan, 1912
Sumpah Pemuda, 1928
Konferensi Tingkat Tinggi, 1992

Keluar dari Museum Sejarah Nasional, kami mendapati masih ada bagian lain yang belum kami jelajahi, yaitu relief sejarah. Sayangnya, kami sudah tak punya waktu untuk mengelilingi bagian ini lagi. Jadi hanya sempat beberapa kali ambil gambarnya, pun masih untung hp belum mati karena kehabisan baterai, hehe.

Mencoba untuk bergaya sama dengan patungnya :D

Baiklah, setelah sempat diomeli ketua rombongan karena paling akhir masuk ke dalam bus, saatnya kami pulang ke Lampung. Bye bye Jakarta, kapan-kapan aku berniat akan ke Monas lagi, rasanya belum puas mengunjungi tempat-tempat bersejarah di Jakarta. See u next time :-*

Siluet Monas di hari yang terik!


29 Desember 2016

Kita Ke Monas! Part #1

Yeeeyyy! Kita ke Monas! Agak lebay sih ya pas bis yang kami naiki masuk gerbang kawasan Monas, Jakarta. Tapi begitulah, karena aku belum pernah kesini, jadi aku agak lebay deh reaksinya haha. (Padahal cerita ke Monas nya mah paling belakang nanti).

Monasnya kekecilan :D
Oke, ini jalan-jalan karena dibayarin. Tepatnya ada family gathering gitu di tempat kerjanya Mamas. Jadi, jalan-jalan dengan rute Jogja-Solo-Jakarta. Awalnya ragu mau ikutan, karena ini akhir tahun, dan mungkin saja gak boleh minta cuti sama ibu HRD. Tapi akhirnya boleh juga karena jatah cuti tahunan yang harus habis akhir bulan ini.

Kami berangkat Minggu pagi dan sampai Klaten hari Senin pagi. Langsung menuju Umbul Ponggok. Awalnya aku kira ini hanya kolam renang biasa, tapi ternyata lebih dari biasa. Kolam disini adalah kolam air tawar langsung dari mata air (di spanduk pintu depan gitu). Kolamnya luas dan diisi dengan banyak ikan. Jadi kalau mau berenang disini, ya berenang bersama ikan-ikan :D, tapi tenang aja, tempatnya bersih kok.

Pemandu disana menawarkan foto bawah air dengan harga sewa kamera sekitar Rp 100.000an (ini belum termasuk sewa perlengkapan menyelam dan lain-lainnya). Sayangnya waktu itu aku gak ikut mandi disana, agak geli gimana gitu sama ikan-ikannya hehe.

Abaikan mata sembab belum mandinya :D

Ikannya banyak lho!

Ceraaaahhh di hari yang mulai panas
Setelah puas dengan wisata airnya, kami menuju Candi Prambanan. Candi Hindu yang dibuat di abad ke 9 Masehi ini ternyata sudah mengalami pemugaran beberapa kali. Aku kira dari ditemukan pertama kali sudah cantik seperti ini wkwk. Ada beberapa candi di komplek ini dengan nama yang berbeda. Kalau dari luar sih, tampaknya hampir sama.  Tapi ketika masuk ke masing-masing candi itu, patung yang ada di dalamnya berbeda-beda.
Pemandangan komplek Candi Prambanan dari pintu masuk utama (geser sedikit, hehe)
Salah satu patung di dalam candi (aku lupa ini di candi apa)
Keterangan biar gak bingung liat banyak candi



Pemandangan dari arah pintu keluar (abaikan model berbaju merahnya, hehe)

Cantik yaaaa
Selain komplek candi, terdapat pula museum, penyewaan kuda, penyewaan sepeda, taman rusa, dan penjual suvenir dan oleh-oleh. Museum yang aku masuki memang sepi, waktu itu hanya ada aku dan dua orang pengunjung disana. Entahlah, kenapa tak banyak orang yang tertarik masuk museum, padahal di dalam sana banyak benda-benda bersejarah dan bisa dapat ceritanya dari penjaganya.


Museum Prambanan terdiri dari beberapa ruang koleksi. Di tengah ruang koleksi itu terdapat pelataran luas yang memamerkan beberapa koleksi pula. Ada alat musik tradisional, jamu-jamu yang bisa dinikmati pengunjung, dan lukisan-lukisan.

Beberapa koleksi alat musik di pelataran Museum Prambanan

Salah satu benda di Gedung Koleksi 1 (Temuan Wonoboyo)
Salah satu koleksi di Ruang Koleksi II (piring dari berbagai tempat)

Koleksi di Ruang Koleksi II (gelang dan perhiasan lain)
Dari beberapa literatur, penemuan Wonoboyo ini dilansir menjadi salah satu penemuan yang penting, mengingat benda-benda temuan ini terbuat dari emas dan perak. Artefak yang diperkirakan berasal dari abad ke 9 di era kerajaan Mataram Kuno ini terdiri dari 14,9 Kg emas dan 2 Kg perak. Benda-benda yang ditemukan antara lain gelang, gayung, mangkuk, guci besar, dan lain-lain. Tapi penemuan Wonoboyo yang dipajang disini hanyalah replikanya saja, sedangkan benda aslinya kini disimpan di Museum Nasional Indonesia.

Di Ruang Koleksi III, dipamerkan beberapa foto yang menceritakan tentang penemuan dan pemugaran Candi Prambanan.

Salah satu koleksi di Ruang Koleksi III
Masih di Ruang Koleksi III
Suvenir dan oleh-oleh yang dijual antara lain baju batik, gantungan kunci berbentuk candi, sandal, tas, dan topi khas jawa, blankon. Kalau waktunya banyak sih, aku pengen keliling dulu sambil naik kuda atau sepeda berdua dengan Mamas. Tapi apalah daya, rombongan sudah akan berangkat lagi menuju penginapan.
Kami menginap di salah satu hotel di kawasan Malioboro, tepatnya di Jalan Sosrowijayan. Yes! Tempatnya dekat sekali dengan kawasan pasar yang menjual oleh-oleh khas Jogjakarta. Aku dan Mamas memanfaatkan waktu malam untuk jalan-jalan sebentar keluar. Beberapa tukang becak menawarkan jasanya untuk berkeliling Malioboro dengan tarif cukup murah, hanya Rp 10.000,-!

Salah satu grup seni yang penampilannya memikat (ada penari yang pakai baju hijau itu)

Wedang Ronde, lumayan menghangatkan badan di malam hari :)
Sepanjang jalan ke arah titik nol kilometer, banyak sekali angkringan dan penjaja makanan. Memang Jogja berhati nyaman. Suasana dan tempatnya juga nyaman. Terakhir kali aku ke Jogja tahun 2012, dan ini sudah berbeda (atau waktu itu aku yang gak lihat ini itu?). Pengamen disana juga nyeni, angklungan istilah disana. Jadi, kita tuh ngerasa gak rugi untuk ngasih uang ke mereka karena kita pun menikmati penampilannya.
Aku dan Mamas coba sate yang dijual di pinggir jalan. Penjualnya ibu-ibu dengan logat Madura kayaknya. Harganya per porsinya murah banget! Rp 10.000,- sudah dapet 1 buah ketupat dan 7 tusuk sate ayam campur sate telur puyuh. Memang porsinya gak nendang sih, tapi sudah gak penasaran kan kalau sudah nyoba? Hehe. Lanjut dengan beli wedang ronde yang hangat dan sedep itu. Hm, asik lah pokoknya.

Ok, hari ke dua dan ke tiga dilanjut besok yaaaa... see u next time :-*

03 Desember 2016

Bogor Episode 3, Part #3

Hampir lupa judulnya, saking terlalu lama gak diterusin (sebenernya sampe hampir lupa masih ada bagian terakhirnya, wkwkwk).

Ini hari kedua di Bogor, yeeeeyyy! Setelah kemarin muterin Kota Tua Jakarta, dan berakhir lelah bin ngantuk, paginya kami bangun dengan malas-malasan. Pumpung liburan, gak mikir mau kerja, nyiapin sarapan, nyiapin bekal makan siang, dan beres-beres, jadi sehabis Subuhan, kami tiduran lagi. Niatnya sih mau ke KRB pagi-pagi biar puas kelilingnya, tapi lagi-lagi adekku masih ada acara yang gak bisa ditinggalkan. Jadi, agak siangan kami baru bisa pergi.

Sebenernya aku pengen jalan kemana gitu, selain KRB, dengan alasan aku sudah dua kali muterin KRB –walaupun belum semuanya. Tapi, Mamas bilang, dia belum puas jalan-jalan kesana waktu dulu, dan yang paling penting belum pernah muterin KRB bareng aku, jiaaahhhh :D

So, kami mulai perjalanan sekitar jam 11an. Cari makan siang dulu karena pasti di KRB bakal laper dan gak ada yang jual makanan berat disana. Dengan berbekal tanya sama penjual nasi, kami jalan kaki ke KRB (katanya deket, tinggal jalan lurus aja). Ternyata, Masyaallah.. jauh bo! Pegel kaki, berbie! Tapi gak papa, yang penting masih jalan berdua sama Mamas, eeaaa.

Sampai di KRB, ternyata loket belum dibuka padahal jam sudah menunjukkan hampir pukul 12 siang. Ada apakah gerangan? Aku sudah malas mencari tahu, karena suasana di depan pintu masuk luar biasa ramai. Rombongan dari mana-mana kayaknya tumplek deh. Baiklah, kami menikmati semilir angin di bawah pohon saja sambil menunggu pintu dibuka.

Pas pintu dibuka, antrinya sudah kayak antri pembagian sembako. Ampuuunnn!

Sebagian sudah bisa masuk ini
Kami bisa masuk setelah antrian gak numpuk lagi. Kami awali perjalanan ini dengan makan siang di tepi danau depan Istana Bogor. Juga, sesi foto setelah makan. Sayangnya, bangunan depan Istana Bogor tampaknya sedang diperbaiki, jadi banyak kayunya gitu.
Sayang teratainya lagi gak berbunga
Kayak foto untuk prewed ya wkwkwk
Karena kami gak ada rencana yang matang untuk muterin KRB dari sebelah mana, akhirnya perjalanan kami sedikit kacau, gak beraturan. Ditambah mendung yang akhirnya hujan membuat kami berhenti pada satu tempat dahulu.

1.       Makan Belanda
Agak horor sih dengernya, tapi Mamas penasaran dengan tempat ini. Tempatnya agak ke dalam dan dikelilingi dengan pohon bambu, adem dan agak tertutup. Aku sendiri gak berani foto disana, hehe.
Aku mah gak berani masuk situ
2.       Taman Teijsmann
Pusat perhatian dari taman ini adalah tugu seperti tiang yang berdiri tegak di tengah taman. Dinamakan Teijsmann karena jasa seorang bernama Johannes Elias Teijsmann. Menurut beberapa literatur, beliau ditugaskan menjadi direktur kebun Raya Bogor di era Van Den Bosch. Di tangannya, tempat ini dikelola hingga berkembang sangat pesat.
Gaya apaan inih!

Fotografer kitah :D
3.       Museum Zoologi
Ini kedua kalinya aku masuk ke tempat ini. Masih sama dengan hanya perubahan di depan lorong pintu masuknya. Dulu, lorong ini dihiasi lukisan tetapi kemarin sudah dicat warna polos. Mamas yang belum pernah masuk tempat ini kayaknya kelihatan amazed gitu, hehe. Secara, banyak sekali hewan yang diawetkan dan dipajang. Tapi tetap saja, aku gak berani liat awetan ular dan sejenisnya. Masih geli.
Masih amazed sama kerangka hewan yang satu ini
Meksiko nya kebanjiran hihi
Karena waktu itu hujan lumayan lama dan cukup deras, akhirnya kami hanya bisa ke tiga tempat itu. Mampir sih sebentar ke Taman Meksiko untuk foto (Meksiko nya gak panas dan terik, hihi), trus ke taman yang ada danau berisi bunga teratai atau lotus yang super gede itu. Hanya sebentar karena mendung, ada peringatan juga hati-hati pohon tumbang, jadi bawaannya serem gitu.

Keluar dari KRB, aku dan adikku berpisah di jalan (bye bye Lala, see u next time). Aku dan Mamas naik bus jurusan Depok untuk berkunjung sekaligus menginap di rumah Pakde. Lumayan jauh perjalanan dengan bus yang sudah tidak seberapa bagus lagi bentuknya. Anehnya lagi (bagiku sih), bus ini gak keneknya, jadi kalau kita mau turun dan bayar ongkos, langsung ke supirnya. Weleh :D

Kami disambut hangat oleh Pakde, Bude, dan Mbak Nur (anaknya Pakde). Pakde bercerita banyak tentang Mamas, yah, cerita dari Mamas kecil sampai sebesar ini. Ditunjukin juga foto Mamas masih kecil (lupa mau foto ulang). Kalau Bude, lebih banyak diam karena memang pembawaannya begitu. Sebenarnya aku masih pengen denger cerita serunya, tapi kantuk gak bisa kompromi. Maap ini Pakde, nguantuukkk berat (padahal masih jam 8 malam).
Mamas, aku, Mbak Nur, Bude, Pakde
Paginya, kami diantar Mbak Nur dan anak laki-lakinya ke Terminal Baranangsiang. Dibawain oleh-oleh lagi, hehe. Makasih Mbak Nur untuk semuanya. Aku pandangi foto kami sebelum berangkat tadi. Kami pulang ngeteng, sudah kehabisan dana untuk naik damri wkwkwk.

OOO

Kurang lebih, seminggu kemudian, Mamas dapat kabar bahwa Bude meninggal dunia karena terpeleset di kamar mandi. Aku sedikit shock, aku pandangi lagi foto kami waktu itu. Selamat jalan Bude. Semoga amal-amalmu mengantarkanmu ke syurga. Aamiin.

OOO

Masih mau ke Bogor lagi, kayaknya pas Lala wisuda. Semoga bisa ya :D

Itu yang jilbab ungu mengganggu kita berdua aja ih :P