Halaman

19 Januari 2018

Silaturahmi Plus Plus, Bagian #2



Yeeaayy ini bagian ke 2 dari beberapa bagian yang nanti insyaallah akan diposting juga di blog ini. 

Selepas subuh, kami berangkat dari Bandar Lampung. Alhamdulillah perjalanan lancar, mungkin karena arah kami ke pulau Jawa ya, jadi saat liburan pun malah terasa sepi. Kapal laut pun terasa milik sendiri karena saking sepinya hehe.

Perjalanan menuju Kuningan, lebih tepatnya ke desa Trijaya sempat diwarnai oleh keponakan yang nangis karena takut gelap, hehe. Memang gelap sih, karena cuaca juga agak gerimis dan hari sudah beranjak malam saat melewati hutan pinus dan danau (saya lupa danau apa namanya). Kata ibu mertua saya yang dulu tinggal disini, dulu ambil air untuk kebutuhan mandi disana. Padahal, jarak dari danau ke rumah lumayan jauh.

Tujuan kami ke rumah Bibi, adik ibu mertua saya. Sampai di rumah Bibi sudah lewat Maghrib. Kami menginap disana dengan rencananya sampai 2 malam. Disana, saya baru kenal dengan saudara dari ibu beserta anak-anak dan cucunya, yang berarti mereka juga baru tahu dengan saya. Saat itu, keadaan Bibi memang tidak terlalu sehat. Bahkan kami merasa ikut sedih ketika tahu bahwa Bibi sudah mulai pelupa.

wajah lusuh baru sampai di rumah Bibi
Next, pagi hari yang masih dingin, kami ke tempat wisata hutan pinus. Jalan kaki saja karena memang jaraknya gak terlalu jauh. Saya juga baru tahu ternyata disini ada Desa Wisata Sigadung. Saya lupa nama taman wisatanya apa, yang jelas didominasi oleh pohon pinus. Karena kami kesana masih pagi, mungkin masih sekitar pukul 07.00, jadi belum ada penjaga di pintu masuknya. Gratis deh, hehe.

Karena masih pagi dan berada di hutan yang masih terjaga, jadi udara yang terhirup rasanya segaaarr sekali. Bisa bersihin paru-paru ini mah. Juga, tempat ini instagramable banget dengan adanya jembatan kayu di pohon-pohon sementara pemandangan di bawahnya hutan pinus dan jurang. Coba foto disana, agak takut-takut tapi kalau gak foto bakal nyesel dan penasaran haha.

Tempat ini tinggi lho, takut juga kalau lihat ke bawah
Di tengah hutan pinus
Di area luar taman ini terdapat lapangan dan Monumen Perjuangan Brimob. Dari cerita ibu mertua saya, monumen ini didirikan untuk memperingati adanya pernyerangan dari DI/TII terhadap pasukan Brimob yang menewaskan sepuluh orang dari pasukan Brimob. Saya mendengar cerita ibu saya itu sambil mengamati monumen yang berdiri menjulang itu. Ternyata ceritanya sama dengan apa yang tertulis di bawah monumen itu. Sejarawati yang baik Ibu saya, hehe.

Tulisan di bagian bawah monumen
Berpose ramean B-)
Oh iya, dari tempat ini juga kita bisa melihat pemandangan gunung Ciremai. Tapi karena saat itu masih pagi dan berkabut, gunung yang tinggi puncaknya sekitar 3.000 meter itu jadi samar-samar dan serupa bayangan.

Kelihatan tidak gunungnya? :-D
Kami beranjak ke rumah dan siap-siap mau gooo lagi. Kalau yang ini harus pakai kendaraan karena jaraknya lumayan jauh. Kami ke Museum Linggarjati. Yuhuuu tempat wisata favorit saya ini, bisa membuka kembali lembaran sejarah lewat benda-benda yang ada. Yuk!

Sampai di museum, rupanya mata saya tidak hanya menangkap bangunan tua yang bersejarah saja, tetapi juga menangkap halaman luas yang ditumbuhi rerumputan hijau yang menyegarkan mata. Kami masuk museum dengan membayar tiket masuk terlebih dahulu (saya lupa harga tiket masuknya). Menariknya, ada pemandu yang dengan senang hati menjelaskan apa yang ada di museum, juga bagaimana sejarahnya gedung ini.

Jadi, awalnya gedung ini hanyalah rumah sederhana milik seorang perempuan bernama Jasitem. Kemudian rumah ini dijual kepada seorang Belanda bernama Van Oos Dome yang kemudian dijadikan tempat tinggal bagi keluarganya. Saya tidak kepikiran untuk ambil foto lukisannya yang terpampang di salah satu dinding kamar. Sejak itu, beberapa kali gedung ini berubah fungsi dan kepemilikan. Dari yang difungsikan sebagai hotel hingga sempat juga bangunan ini dijadikan Sekolah Dasar Negeri Linggarjati. Sampai akhirnya dialihfungsikan oleh pemerintah menjadi museum bersejarah.

Ruang perundingan lengkap dengan meja dan kursi

Diorama suasana saat perundingan berlangsung
Dari pintu masuk, ruangan pertama yang dilihat adalah ruang pertemuan tempat diadakannya perundingana Linggarjati. Ada miniatur ruangan beserta kursi dan para peserta. Masuk ke dalam dari ruangan ini, terdapat jejeran kamar yang digunakan oleh utusan baik dari Indonesia maupun dari Belanda. Kamarnya sederhana tapi rapi dengan gorden putih untuk menghalau silaunya matahari.

Salah satu kamar
Di jejeran kamar paling ujung, rupanya ada pintu keluar lewat depan. Jendela kayu yang lebar membuat saya terinspirasi untuk berpose ala-ala, hehe.
^_^
Saya melewati koridor kamar kembali untuk menyusuri ruangan yang ada di belakang. Ada ruang makan dan dapur kecil disana. Tapi memang agak serem sih karena tidak ada jendela dan ruangan ini ada di pojokan, jadi kesannya dingin dan gelap. Di sampingnya, terdapat satu ruang duduk dengan beberapa kursi yang dulu digunakan sebagai ruang pertemuan pribadi antara Presiden Soekarno dengan mediator perjanjian dari Inggris. Di belakang ruangan ini, masih ada satu kamar yang berbeda dengan jejeran kamar depan tadi. Rupanya ini kamar sang mediator. Kamar ini dilengkapi kamar mandi di dalam dengan bak mandi sangat besar terbuat dari bata dan semen.

Ruang makan (di cermin ada penampakan, hehe)
Ruang pertemuan antara Presiden Soekarno dengan Mediator Lord Killearn
Kami keluar dari pintu belakang dan berjalan melalui teritisan sampai ke depan jendela besar tadi. Dari sana, terlihat halaman luas nan hijau yang ditata apik dan sejuk. Untuk kesana, kami harus melewati deretan anak tangga yang lumayan panjang karena kontur tanahnya seperti gunung. Di halaman itu, terdapat batu yang bertuliskan isi pokok perundingan Linggarjati beserta patung orang yang bersalaman.

Halaman luas yang hijau menyegarkan mata

Mau ambil foto ini, antrinya lamaaaa
Keluar kawasan museum, tepatnya di seberang pintu masuk gedung, terdapat lapangan yang digunakan sebagai tempat parkir. Di sekitarnya, banyak penjaja makanan, suvenir dan oleh-oleh khas Kuningan. Mata saya tertuju pada penjual tahu gejrot dengan gerobak kecilnya di samping pintu parkir. Sebenarnya di Lampung juga ada sih yang jual tahu gejrot, tapi rupanya rasanya berbeda. Disini lebih segar dan gurih menurut saya. Plus, pedasnya luar biasa, padahal saya hanya minta tiga buah cabe saja.

1porsi yang dimakan berdua dengan suami
Ini penampakan mamang tahu gejrot, plus penyerbu yang cuma beli 1 porsi wkwk
Dari Museum Linggarjati, kami lanjutkan perjalanan lagi ke Ghiffari Valley. Sebenarnya ini tempat makan, tapi asiknya disini ada kolam pemancingan, terapi ikan, kolam renang, dan area taman yang asri seperti pemandangan di desa-desa. Saya penasaran dengan terapi ikan yang banyak diminati oleh pengunjung disana. Suami coba duluan dan responnya ngakak melulu karena kegelian, hehe. Untuk mengobati rasa penasaran, saya juga coba di satu kaki dulu aja. Dan.. benar! Geli dikerubuti ikan kecil-kecil itu, haha.

Ikannya nyerbu kaki tuh

Ada penangkaran love bird juga, cantiiikkk!!
jhjhg
Ehem, anak lanang sama mamaknya :D
Keluar dari tempat ini, kami niatnya cari tempat wisata lain yang sekaligus bisa untuk makan pop mie (perbekalannya lengkap, dari nesting, kompor, sampai kopi instan dan pop mie, hehe). Kami coba ke Palutungan dan Curug Putri. Tapi rupanya keadaannya tidak memungkinkan karena saking banyaknya pengunjung. Jadi kami keluar lagi dan cari tempat lain.

Jaman now kalau mau cari tempat apapun pakai google map. Nah, kami pun begitu. Kami cari tempat makan di sekitar lokasi dan muncul Pujasera Taman Kota. Dalam bayangan kami, pujasera pastilah ramai dengan banyak variasi menu makanan. Tapi setelah muter kesana kemari, kenyataan tak seindah bayangan. Pujaseranya hanya ada gerobak-gerobak kecil yang menjual seblak, lontong sayur dan cilok. Putar balik deh, haha. Dan akhirnya kami menemukan tempat makan murah meriah di salah satu jalan.

Oke, ini jalan-jalan hari pertama di Kuningan. Masih panjang cerita perjalanannya, tapi disambung besok lagi ya. See you next time! :-*

04 Januari 2018

Silaturahmi Plus Plus, Bagian #1

Judulnya ada 'Bagian'-nya, niat banget mau nulis cerita yang panjang. Iya lah.. karena memang perjalanan yang nanti saya ceritakan disini akan panjang sekali. Dari judulnya saja ada plus plusnya.

Baiklah, saya awali dengan...

"Kita mau jalan-jalan bulan Desember, siap-siap ya." Itu kata mbak ipar saya beberapa bulan yang lalu di tahun 2017 (secara ini sudah 2018). Setahun lalunya memang keluarga dari suami sudah jalan-jalan juga ke Kuningan. Judulnya bukan jalan-jalan biasa, tapi lebih kepada silaturahmi ke keluarga.

So, dari awal itu kata-kata itu meluncur, saya sudah niat banget gak ambil cuti sebelum Desember hehe. Juga, siap-siap tabungan karena sudah dirancang jalannya gak hanya sampai Kuningan saja, tapi lanjut sampai ke Jogja.

Nah, ketika Desember datang, makin mantap kabar tentang jalan-jalan ini. Tapi, sempat agak menciut dan merubah rencana karena ternyata mobil gak cukup untuk menampung peserta. Alhasil yang bakal tereliminasi adalah saya dan suami, hiks! Rencana pun mulai dirubah, dengan alternatif bawa dua mobil, jadi akan lebih banyak lagi yang bisa berangkat (maklum, ini keluarga lumayan besar, baik secara fisik maupun secara arti kata, hihi).

Saya juga sempat buat rencana lain yang lebih bersifat pribadi dengan suami. Karena sudah niat ambil cuti di bulan Desember, maka kalau gak jadi ikut ke Kuningan, saya harus jalan-jalan ke tempat lain. Yah, hitung-hitung bulan madu lagi haha. Tapi, rupanya ada ponakan yang gak jadi ikut karena ayahnya baru pulang (kerjanya di luar kota). Saya gak tau sih apa harus senang atau gak hehe, karena itu berarti saya dan suami bisa jadi ikut.

Satu kegalauan hilang, eh ada lagi kegalauan yang lain. Rencananya waktu itu, kami berangkat dari Lampung tanggal 25 Desember dan pulang dari tujuan akhir Jogjakarta pada tanggal 1 Januari. Kalau dihitung secara logika, tanggal 2 Januari belum tentu akan sudah sampai di Lampung, sedangkan saya harus masuk kerja kembali di tanggal 2 Januari. Galaunya berlanjut lagi deh. Antara potong jalur secara pribadi atau tidak ikut sekalian.

Kalau potong jalur secara pribadi, saya harus cari tiket kereta atau pesawat dari Jogja ke Lampung. Cari-cari lewat agen online, masyaallah.. di tanggal 31 Desember sudah ludes! Ada tersisa tiket pesawat langsung Jogja-Lampung tapi harganya gak ramah banget di kantong, hampir 1 juta. Hiks! Kalau naik kereta pun, kursi yang harganya agak miring sudah tidak tersedia lagi. Kalaupun ada, harganya di kisaran Rp 500.000,-an sampai Jakarta. Kalau dihitung-hitung, akan sama seperti naik pesawat. Asli deh galaunya buat berfikir ulang. Sempat bilang ke suami, minta pendapat para kakak di Bandar Lampung untuk hal ini. Alhamdulillah ada jalan keluar.

Dan, keputusan yang diambil baru bisa fix di tanggal 24 Desember! Jadi, dalam waktu kurang dari sehari, saya harus beberesan baju dan segala perlengkapan yang akan dibawa. Crowded banget deh kalau ingat hari itu. Pasalnya, pas tanggal 24 Desember itu, ada beberapa agenda juga yang harus dilakukan. Arisan di komplek, ke pasar bareng adek yang datang dari Belitang, dan ternyata tas yang sudah disiapkan beberapa hari lalu pun gak cukup, jadi harus balik ke rumah ibu untuk ambil koper T,T

Untuk mengantisipasi saya yang sudah harus masuk di tanggal 2 Januari, maka saya pun harus menyiapkan seragam kerja untuk hari itu. Takutnya kalau tiba di Lampung tanggal 1 Januari malam, gak keburu lagi untuk nyetrika kan. Sore menjelang maghrib saya baru bisa menyelesaikan pengepakan baju ke koper. Suami juga sudah ribut sih harus jalan ke Bandar Lampung sebelum malam benar-benar gelap. Alhasil, dengan ngos-ngosan, periksa sekeliling rumah, saya dan suami berangkat ke Bandar Lampung karena besok selepas subuh sudah harus mulai jalan. Di jalan menuju Bandar Lampung, saya masih sempat keingetan lantai rumah yang belum sempat disapu dan baju-baju yang baru diangkat dari jemuran dan belum masih menumpuk di kasur, haha. Biarlah.

Sampai di rumah Mamak di Bandar Lampung, saya sempat syok karena lihat tas-tas besar yang sudah dikumpulkan di ruang tamu. Pengen ketawa geli rasanya dan berfikir apakah semua tas ini muat dalam satu mobil? Hehe. Sayangnya gak ada fotonya ya. Tapi, itulah keasyikan tersendiri kalau jalan-jalan bareng keluarga, bawaannya banyak, dibawa senang aja.

Selepas subuh, akhirnya semua tas terangkut juga. Bismillah... dan goooo to Kuningan!

Abaikan tumpukan barang di belakang (untung buntelan di atas mobil gak keliatan hehe)
Oke, ini baru bagian #1 ya. Masih prolog ternyata, haha. Cerita intinya di bagian-bagian selanjutnya. Tunggu besok lagi ya.. see u!

10 Desember 2017

5 Permintaan Saya Pada Shopback di Harbolnas

Hari gini ada yang menawarkan barang gratisan hanya dengan menuliskan sebuah permintaan? Hm, jangan dilewatkan ya. So, saya juga mau ikut mendaftarkan permintaan pada Shopback yang sudah berbaik hati memberi penawaran seperti itu.

Sebenarnya banyak sekali yang ingin saya minta, tapi kok ya tidak tahu diri sekali kalau begitu hehe. Maka, ini ada 5 permintaan yang semoga saja dikabulkan Shopback.

1. Mesin Cuci
Setelah menikah, satu hal yang pasti diinginkan oleh hampir setiap pasangan adalah punya tempat tinggal sendiri. Entah itu kontrak atau mencicil atau langsung membangun sendiri. Saya juga begitu. Setelah dua tahun perjuangan untuk dapat tempat tinggal sendiri, akhirnya saya dan suami bisa juga pindah ke rumah kami yang mungil.

Beberapa barang yang kami butuhkan memang sudah ada karena sudah dicicil sedikit demi sedikit. Tapi ada beberapa barang lagi yang kami butuhkan tapi belum sempat kami beli dengan alasan terbesarnya adalah belum ada dananya. Salah satunya mesin cuci. Jadi, selama kami pindah rumah, biasanya suami yang rela mencuci baju kalau saya tidak sempat atau karena pekerjaan saya belum beres juga.

Beruntungnya saya dapat suami yang pengertian karena kami berdua sama-sama bekerja. Jadi, pekerjaan rumah pun sebisa mungkin dia bantu. Tapi saya suka gak tega kalau cucian sudah banyak. Jadi rasanya saya memang membutuhkan mesin cuci kali ini.

Beberapa toko saya sambangi untuk cari mesin cuci dengan kwalitas dan harga yang cocok. Ketemulah Polytron Primadona Samba PWM 7056 GG ini. Untuk saya yang sering menumpuk cucian di akhir pekan, kapasitas 7 Kg saya rasa sudah cukup memadai. Mesin cuci ini juga lebih hemat listrik mengingat daya yang digunakan untuk proses mencuci hanya 198 Watt dan pada proses pengeringan hanya 90 Watt.

Kalau di toko biasa, harga mesin cuci ini berkisar antara Rp 1.500.000,- - Rp 1.700.000,-. Tapi setelah cari-cari di toko online lewat Shopback, harga yang saya dapat hanya Rp 1.200.000,-an.

Lihat produknya di sini.
Kunjungi langsung ke tokonya di sini.



2. Televisi
Barang kedua yang saya inginkan adalah televisi. Rupanya barang yang satu ini masih saja jadi daftar tetap sekaligus masih terus tertunda bagi saya. Lagi-lagi,karena baru pindah rumah, kami harus memperhatikan yang paling penting dan prioritas dahulu. Tapi lama-lama sepi juga di rumah karena tidak ada televisi. Selain itu, saya jadi sedikit ketinggalan informasi karena jarang menyimak berita.

Televisi yang saya inginkan tidak terlalu besar mengingat ruangan di dalam rumah juga tidak luas. Cukuplah TV ukuran 22 inch. Beberapa minggu lalu, saya sempat hunting cari TV di toko elektronik. Harganya masih di kisaran lebih dari Rp 1.500.000,-. Untung ada Shopback yang menawarkan kelebihan tersendiri untuk berbelanja. Saya dapat harga cantik, yaitu Rp 1.100.000,-an untuk produk TV keluaran Panasonic. 


Saya memilih TV ini karena saya menginginkan barang elektronik saya bagus dan awet. Merk Panasonic tentu tidak lagi diragukan ya. Selain untuk menonton acara di saluran tv seperti biasa, tv ini juga bisa saya gunakan untuk memutar film atau video dari media lain seperti USB. Konektivitasnya yang bagus membuat saya bisa memutar ulang foto atau video yang simpan di memori USB.

Untuk spesifikasi lengkapnya, bisa dilihat disini :


Lihat produknya di sini.
Kunjungi langsung ke tokonya di sini.

3. Blender Phillips

Masih dengan perabot rumah tangga. Rupanya memang banyak yang belum ada di rumah saya, hehe. Untuk saya yang tidak hanya berstatus istri di rumah, tapi juga perempuan yang bekerja, pekerjaan rumah seringkali tidak ada habisnya. Apalagi untuk urusan dapur. Menyiapkan bumbu dan meraciknya kadang bisa menyita waktu lebih lama daripada mengerjakan pekerjaan rumah lainnya.

Maka untuk memudahkan saya bekerja di dapur, rasanya saya memerlukan barang yang satu ini. Blender Philips dengan gelas kaca. Untuk merk, jangan ditanya lagi sebab ibu dan mertua saya sudah menggunakannya di rumah sejak lama dan belum ada kerusakan sampai sekarang. Makanya saya percaya dengan produk keluaran Philips.


Blender ini akan membantu saya membuat jus, smoothie yang lezat, dan tentu saja meracik bumbu untuk masakan apapun dengan mudah. Tenaganya yang super dan cara pengoperasian yang sangat mudah tidak membuat saya khawatir. Untuk lebih detailnya, bisa lihat di bawah ini :


Harga yang saya temukan di Lazada lewat Shopback hanya berkisar Rp 500.000,-an.

Lihat produknya di sini.
Kunjungi langsung ke tokonya di sini.

4. Jam Tangan Original

Kalau barang yang satu ini, saya memang ingin sekali memilikinya.Memakai jam tangan original memang satu kebanggaan tersendiri untuk saya. Bukan niat pamer ya karena harga yang mahal, tapi rasa menghargai karya orang lain dan rasa nyaman karena kwalitasnya yang memang bagus. Apalagi, jam tangan ini adalah hasil karya anak negeri sendiri.

Lima Watch menghadirkan desain sederhana yang manis. Untuk ukuran tangan saya yang tergolong kurus, jam tangan mungil ini rasanya pas dipakai. Harga yang saya temukan di The Watch.co lewat Shopback Rp 1.000.000,-an. 

Lihat produknya di sini.
Kunjungi langsung ke tokonya di sini.


5. Smartphone

Nah, kalau barang yang satu ini bukan untuk saya, tapi untuk suami tercinta. Belakangan ini ponselnya sudah mulai menunjukkan gejala kerusakan. Makanya kadang saya tidak bisa menghubungi dia ketika akan pulang kerja atau dia sudah sampai mana.

Mencari ponsel yang cocok memang susah-susah gampang. Sebenarnya pentingnya hanya untuk menelepon, mengirim pesan, dan beberapa aplikasi yang familiar saja. Selebihnya untuk mengisi waktu luang ketika sedang dalam perjalanan di bus atau kereta.

Kali ini saya memilihkannya Xiaomi Mi4 White Ram 3GB Rom 16GB. Tentu saja dengan RAM 3 GB, ponsel ini akan lebih cepat mengakses banyak aplikasi yang terinstal di dalamnya. Untuk spesifikasi lengkapnya, yuk cek di bawah ini.


Untuk ponsel secerdas Xiaomi, saya mendapatkan harga Rp 1.100.000,-an di Lazada lewat Shopback. 

Lihat produknya di sini.
Kunjungi langsung ke tokonya di sini.

Itu beberapa daftar permintaan saya pada Shopback. Semua barang itu dapat dibeli di merchant Shopback seperti yang sudah saya tempel link-nya di masing-masing barang.

Ssst, saya akan beri tips supaya belanja apapun dan berapapun akan jadi lebih hemat dan pastinya untung lebih. Berikut tipsnya :

1. Belanja Saat Harbolnas
Nah, ini dia revolusi belanja online yang paling ditunggu. Hari Belanja Online Nasional yang sudah di depan mata. Nantikan tanggal 12 Desember dan pantau terus toko online favorit untuk dapat diskon besar-besaran. Biasanya, di Harbolnas, banyak toko online yang melakukan flash sale dan pastinya memberikan harga terbaik untuk konsumennya.

2. Belanja Lewat Shopback

Kenapa harus lewat Shopback? Di Shopback, apapun dan berapapun barang yang kita beli, semua dapat cashback. Ini uang kembali yang sebenarnya lho! Dari hal pertama ini saja, sudah terlihat kan lebih hematnya? Belum lagi kita akan dapat berbagai penawaran menarik dan diskon dari sekitar 300 toko online yang terpercaya.


Sudah mulai terbayang kan menariknya? Kita tidak perlu mengelilingi mall sampai kaki pegal-pegal hanya untuk mencari barang diskon dan murah. Hanya duduk santai dan pilih toko favorit beserta barang yang kita inginkan. Kemudian tunggu saja dan uang kembalian itu akan masuk ke kantong kita.

Bagaimana Caranya?

Caranya juga mudah kok. Hal pertama yang harus dilakukan adalah cukup daftarkan diri di situs Shopback melalui email atau akun facebook.

Nah kalau sudah jadi, tinggal belanja saja. Jangan lupa klik situs Shopback terlebih dahulu sebelum kita menuju toko online favorit kita. Di beranda Shopback, kita akan disuguhi banyak penawaran terbaik dari berbagai toko. Mulai dari cashback berupa uang tunai, hingga diskon yang menggiurkan.

Lanjut dengan memilih toko online yang kita inginkan. Dari sini, kita akan diarahkan langsung ke toko online. Kemudian, cari barang yang akan kita beli.

Kalau sudah dapat, langsung belanja dan lakukan pembayaran seperti biasa.

Kita akan dapat cashback setelah 48 jam dari pembelanjaan kita.


Cashback dapat ditarik setelah divalidasi  oleh merchant.


Apabila asudah memenuhi jumlah minimum penarikan, yaitu Rp 50.000,-, cashback ini bisa langsung ditransfer ke rekening kita atau bisa juga dalam bentuk pulsa dengan jumlah minimum Rp 25.000,-.

Oh iya, satu lagi tips yang makin menguntungkan untuk kita. Kalau belanja, coba cari ikon kantong uang seperti gambar di bawah ini. Biasanya cashback atau diskon yang diberikan akan lebih besar.


Bagaimana? Sudah siap untuk ikutan gegap gempitanya Harbolnas lewat Shopback? Yuk, mulai buat daftar belanja dan pantau terus toko online favorit lewat Shopback! Mau belanja hemat? Shopback-in aja! Happy Shopping, Happy Get Cashback!

07 Desember 2017

Wishlist Saya Di Harbolnas 2017

Dulu, untuk memiliki notebook kecil yang harganya tidak sampai Rp 3.000.000,-, saya hanya bisa membayangkannya saja. Juga, berandai-andai ketika saya sudah memilikinya. Saya bisa mengetik apapun cerita saya dimana saja, kapan saja, tanpa harus duduk tenang di meja yang hanya punya satu sudut pandang.

Dulu, saya begitu senang ada komputer di rumah saya. Itu sewaktu saya baru masuk kuliah. Punya sebuah komputer pada masa awal saya kuliah adalah sebuah kesenangan tersendiri. Sebab, ternyata tidak semua orang bisa punya komputer di rumahnya pada saat itu. Komputer masih terasa barang mewah untuk saya. Jadi, ketika ada komputer bertandang di meja dalam rumah saya, saya merasa sangat bahagia.

Keberadaan komputer itu bukan hanya membantu saya mengerjakan tugas kuliah, tapi juga menjadi teman saya ketika saya sedang ingin menulis. Saya memang suka menulis sejak dulu, dan baru kali itu saya bisa menuliskannya langsung ke komputer tanpa harus menulis tangan dulu untuk kemudian pergi ke tempat rental komputer.

Seiring berjalannya waktu, saya mulai ingin melirik lebih lagi. Komputer yang ada di rumah memang bukan untuk saya saja, tapi berbagi pakai dengan adik-adik dan anggota keluarga lain yang memang membutuhkan. Jadi, kalau sedang dipakai oleh yang lain, terpaksa saya menunggu. Kali lain, ketika saya sedang asik-asiknya menyusun kata dan mengolah imajinasi, saya harus berhenti karena adik atau ayah saya ingin menggunakan komputer itu juga.

Alhasil, saya jadi berandai-andai lagi. Seandainya saya punya komputer pribadi atau yang lebih baik adalah saya punya laptop sendiri. Jadi, saya bisa menulis kapan saja, dan dimana saja. Saya bisa menulis di kamar menghadap jendela, atau di tempat tidur jika sedang malas, atau di ruang tamu sambil melihat keluar halaman. Andai-andai itu rupanya belum juga terkabul hingga saya lulus kuliah dan diterima bekerja.

Beberapa bulan setelah bekerja, saya ditawari teman untuk ambil laptop dengan cicilan per bulan selama 12 bulan. Karena memang itu keinginan saya dan melihat kondisi saya yang sudah punya penghasilan sendiri, maka saya ambil tawaran teman saya itu. Itulah laptop saya yang pertama dan sampai sekarang masih saya gunakan. Bagi saya, laptop itu seperti sebuah kisah yang mengharukan dan membahagiakan.

Karena sudah berumur dan sudah beberapa kali re-instal program, laptop saya itu tidak seperti awal lagi. Ibaratnya, sekarang ia sudah banyak operasi demi keberlangsungan hidupnya. Juga, daya tahan baterainya juga sudah tidak maksimal lagi. Alhasil, saya tidak bisa seleluasa membawanya seperti dulu. Saya harus duduk dekat sumber listrik kalau mau mengetik lebih lama. Belakangan ini malah saya dibuat tidak nyaman dengan beberapa tombol di keyboardnya yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Ketik enter, malah muncul menu perintah. Ketik spasi, malah muncul tiga huruf acak.

Laptop mini legendaris saya
Saya mencoba bertahan dengan membelikannya keyboard portable. Tapi rupanya keyboard portable yang saya beli cukup merepotkan kalau dipadankan dengan laptop. Sebenarnya saran suami saya diperbaiki saja. Tapi kalau mau niat diperbaiki, mending sekalian mengganti keyboard, baterai, dan layarnya juga (karena layarnya juga sudah hilang sedikit di samping kiri). Ternyata perbaikan itu banyak sekali ya. Maka saya berfikir ulang dan pahitnya mungkin saya lebih baik beli yang baru saja.

Saya mencari laptop yang saya pikir pas untuk kegiatan saya dan yang terpenting pas di kantong saya. Lagi-lagi, laptop masih merupakan barang mewah untuk saya. Apalagi, saya juga sudah menjadi istri yang harus pandai mengelola keuangan rumah tangga agar bisa mengebulkan asap di dapur setiap harinya.

Harga laptop yang sesuai spesifikasi saya berkisar antara 3-4 juta rupiah. Tapi beberapa bulan yang lalu, saya menemukan laptop yang benar-benar membuat saya jatuh hati. Asus Vivobook. Dengan RAM yang sudah 4 GB, saya yakin pekerjaan blogging, desain, atau membuat video, bakal lancar jaya saya kerjakan. Tapi sayangnya, harga laptop itu dua kali lipat harga yang saya perkirakan. Harga di pasaran sekitar 9-10 jutaan. Waahhh!

Andai-andai saya ini
Maka, saya mencoba untuk mencari di toko lain yang harganya bisa miring lagi. Saya memang biasa mencari perbandingan harga lewat toko online. Salah satunya yang bisa saya percaya adalah di Lazada. Apalagi, bulan Desember ini ada Harbolnas yang bisa saya manfaatkan untuk mendapat harga yang lebih murah lagi. Sebab, ketika Harbolnas datang, Lazada akan memberikan penawaran khusus #DiskonMengguncangSemesta hingga 85%.

Kenapa saya memilih Lazada?

Lazada bukan hanya situs belanja online yang bisa dipercaya, tapi juga menyediakan berbagai kebutuhan. Menelusuri Lazada, serasa menelusuri pasar besar tanpa harus merasa pegal-pegal. Lazada juga memberikan berbagai penawaran menarik, seperti diskon dan ongkos kirim gratis. Benar. Ongkos kirim gratis ke seluruh kota di Indonesia.

Tidak hanya itu, Lazada juga punya fitur yang memudahkan konsumen untuk bisa bayar di tempat saat barang yang dibeli sudah sampai. Jadi, bisa lihat kondisi barangnya sesuai atau tidak dengan pesanan. Kemudian, barang-barang yang dijual Lazada juga ada jaminannya. Garansi akan diberikan selama 14 hari sejak barang diterima.


Ada lagi fitur lain yang membantu saya. Fitur rating di Lazada yang bermanfaat untuk saya dalam memilih toko yang produknya akan saya beli. Ulasan yang ada juga cukup membantu saya dalam memilih tokonya.

Kembali pada laptop saya, rasanya saya sudah tidak sabar menanti Harbolnas di Lazada. Saya berharap, semoga andai-andai yang saya sebutkan di awal tadi bisa terkabul di Lazada. Nah, kalau kalian yang juga mau cari barang-barang yang dibutuhkan dengan #DiskonMengguncangSemesta, bisa langsung klik Lazada Affiliate saya disini.

Oke, itu wishlist saya di Harbolnas tahun ini. Mana wishlistmu?

24 November 2017

Bersiap Ambil Cuti, #Jadi Bisa Liburan!

Saya selalu menunggu waktu liburan datang. Sebab, saya perempuan yang bekerja di kantor sebuah perusahaan dimana jam kerjanya full time dari Senin-Sabtu. Rutinitas yang tentunya banyak menguras tenaga dan pikiran saya. Jatah cuti 12 hari sebisa mungkin saya ambil ketika benar-benar saya punya rencana untuk menyegarkan pikiran.

Teman satu pekerjaan jadi tidak heran lagi kalau saya ambil cuti untuk jalan-jalan. Sebab, sekembalinya saya ke kantor, ada oleh-oleh cerita dan foto yang saya posting di blog, hehe. Saya memang suka jalan-jalan. Selain menghilangkan kejenuhan pikiran, saya juga #jadi bisa lebih mengenal daerah lain yang saya kunjungi. Kebanyakan, perjalanan saya ala backpacker dengan tujuan tempat wisata alam atau bersejarah.

Salah satu perjalanan saya ke Candi Prambanan
Karena bagi saya, mengunjungi tempat-tempat bersejarah punya makna tersendiri. Semacam, saya #jadi bisa berimajinasi bagaimana awal mulanya tempat-tempat itu dibangun dan digunakan dalam kesehariannya kala itu. Saya juga #jadi bisa lebih mencintai budaya dan tanah air.

Salah satu tempat yang saya sukai adalah Bogor. Selain untuk menyegarkan pikiran, saya juga #jadi bisa mengunjungi adik saya yang kuliah disana. Makanya setiap ingin kesana, saya merencanakannya untuk ambil cuti kerja dan biasanya pada waktu liburan karena mengikuti jadwal kerja suami juga.

Mengunjungi Kebun Raya Bogor bersama adik

Nah, biasanya kalau musim liburan banyak hotel atau penginapan yang sudah penuh pesanan. Jadi, rasanya kemungkinan kecil untuk dapat penginapan yang nyaman dan sesuai dengan keinginan saya kalau langsung on the spot pada hari ketibaan saya disana.

Untungnya ada Traveloka, situs pemesanan online semua produk wisata, salah satunya adalah hotel atau penginapan. Di Traveloka, saya bisa memilih penginapan sesuai keinginan atau budget saya. Sebab, tidak hanya hotel berbintang saja yang ada di situs ini, tapi sampai home stay pun ada. Jadi, untuk saya yang kebanyakan liburan ala backpacker, tidak khawatir untuk memilih penginapan dengan budget yang sudah saya rencanakan. Jujur ini sangat membantu saya dalam hal memilih penginapan.

Kenapa saya memilih Traveloka?










Enaknya di Traveloka itu, harga yang tercantum di situsnya adalah harga final. Jadi, tidak perlu khawatir akan menambah biaya administrasi, biaya fee, atau yang sering adalah biaya pajak dan pelayanan. Pastinya sayaa merasaa tidak nyaman kalau  sudah menentukan pilihan dan siap bayar, ternyata masih ada embel-embel lain yang belum termasuk dalam harga.

Selain harga yang tertera di situsnya adalah harga final, harga disana juga merupakan harga terbaik yang diberikan untuk saya. Artinya, kalau saya membandingkan harga lewat Traveloka dengan harga ketika saya langsung memesan di hotel, maka harga lewat Traveloka lah yang lebih murah. Dengan begitu, saya #jadi bisa lebih menghemat budget untuk hotel.

Oh iya, di setiap pilihan penginapan pun tertera dengan jelas foto berikut review dari para tamu yang sudah pernah mengunjungi penginapan tersebut. Dengan itu, saya jadi lebih mudah lagi untuk mempertimbangkan penginapan mana yang akan saya pilih. Memang review ini sifatnya subjektif ya, tapi setidaknya saya bisa mempertimbangkan dengan rata-rata pendapat mereka.

Untuk pembayaran, Traveloka juga memudahkan saya untuk menentukan pilihan pembayaran sesuai yang saya inginkan. Bisa lewat ATM, transfer bank, atau yang lebih praktis lagi datang ke minimarket terdekat (indomaret atau alfamaret), proses pembayaran akan langsung beres.

Pengalaman saya memesan hotel di Traveloka selama ini cukup memuaskan. Dari awal pemesanan, proses pembayaran, sampai proses check in di hotel tidak ada masalah. Apa yang tertera di situs Traveloka memang sesuai dengan apa yang ada. Apalagi sekarang ada fitur Stay Guarantee, yang menjamin para pemesan akan check in di hotel tanpa kendala.

Fitur ini bisa digunakan untuk pemesan melalui semua aplikasi Traveloka, baik dari desktop, Traveloka App ataupun mobile web selama dengan pengaturan negara "Indonesia". Keuntungannya adalah, kalaupun ada kendala ketika check in di hotel, maka kita bisa mengklaim Stay Gurantee dengan mudah.

Pengajuannya juga tidak susah dan tidak memakan waktu lama, hanya sekitar 30-60 menit sejak pengajuan klaim. Jadi saya semakin yakin dengan pelayanan yang diberikan Traveloka.

Satu lagi, Traveloka juga sering memberikan penawaran istimewa untuk saya yang sudah menjadi member Traveloka. Seringnya sih saya pesan lewat Traveloka App. Diskonnya lebih besar daripada memesan lewat desktop.


Bagaimana cara pesan hotel lewat Traveloka?

Mudah. Kalaupun belum menjadi member Traveloka, bisa juga langsung pesan lewat desktop, Traveloka App, atau mobile web.

Pertama,masuk ke situs Traveloka. Lalu pilih Hotels. Kalau sedang mencari hotel di daerah tertentu,ketik saja nama kotanya dan Traveloka akan menyajikan banyak pilihan hotel dan penginapan. Kalau mau disaring lagi bisa juga. Mau berdasarkan jenis penginapannya, atau popularitasnya, atau bisa juga berdasarkan harganya.

Nah kalau sudah tahu nama hotel yang kita tuju, bisa langsung ketik nama hotel atau penginapannya. Disini saya mengambil contoh Hotel Bandara Syariah yang ada di Lampung. Isi tanggal check in dan check out, serta jumlah kamar yang ingin dipesan.



Kemudian akan tampil foto-foto hotel yang dipilih. Juga bisa kita lihat fasilitas apa saja yang tersedia di hotel tersebut. Informasi ini membantu saya untuk bisa nyaman ketika sudah sampai di hotel, seperti ada atau tidaknya room service, laundry, atau coffee shopnya.


Kedua, kalau kamar tersedia, akan muncul jenis beserta harga kamarnya. Kita bisa melihat lebih detail informasi kamarnya dengan mengklik nama kamarnya. Kalau sudah menentukan pilihan, tinggal klik Book Now.


Ketiga, masuk di menu pemesanan, kita akan disuguhi formulir yang isinya adalah data-data pemesan dan tamu. 


Berikutnya Traveloka akan memverifikasi data tersebut agar tidak ada yang salah.


Apabila sudah benar semua datanya, maka masuk ke menu pembayaran. Disini kita akan disuguhi banyak piihan metode pembayaran seperti yang sudah saya jelaskan di awal tulisan.


Selesai pembayaran, pihak Traveloka akan mengirim voucher hotel sebagai tanda bahwa transaksi kita berhasil dan siap menuju hotel tanpa kendala.


Bagaimana? Apa masih mau rebutan kamar hotel ketika akan berlibur? Kalau saya, lebih baik pesan dulu lewat Traveloka. Harga lebih murah, tanpa ribet, bergaransi pula! #jadi bisa liburan dengan hati senang. Selamat menunggu liburan yang sebentar lagi datang ya!