Jakarta, We're Coming! Part #1
Tulisan ini sebenarnya adalah sambungan dari tulisan pertama yang sudah lama diposting. Biar ingatannya kembali, bisa baca tulisan pertama disini ya!
Oke, kita lanjut ke postingan selanjutnya ya. Kemarin, saya kasih prolog yang terlalu panjang sampai jadi postingan penuh, hehe. Sekarang postingan inti dari jalan-jalan itu (halah, apa sih!).
Hari pertama di Jakarta
Tulisan ini sebenarnya adalah sambungan dari tulisan pertama yang sudah lama diposting. Biar ingatannya kembali, bisa baca tulisan pertama disini ya!
Oke, kita lanjut ke postingan selanjutnya ya. Kemarin, saya kasih prolog yang terlalu panjang sampai jadi postingan penuh, hehe. Sekarang postingan inti dari jalan-jalan itu (halah, apa sih!).
Hari pertama di Jakarta
Sebenarnya saya sudah
beberapa kali ke Jakarta, tapi baru kali ini ke Jakarta sendiri tanpa
rombongan. Untungnya ada aplikasi online yang memudahkan untuk bisa jalan-jalan
sendiri, seperti google map atau ojek online. Insyaallah gak tersesat deh.
Jadi, selepas kami solat
Subuh di stasiun Gambir dan menunggu agak terangan, berangkatlah kami menuju
Monas. Jalan kaki aja karena hitung-hitung sambil olahraga. Monas masih agak
sepi dari pengunjung yang seperti kami (bawa ransel dan buntelan makanan,
haha). Lainnya, petugas kebersihan, penjaga pintu masuk, dan orang-orang yang
berolahraga pagi, serta beberapa anggota brimob (yang belakangan nanti kami
tahu rupanya akan ada acara di siang harinya).
Kami cuek aja jalan
kesana kemari menikmati matahari pagi di pelataran dan taman Monas. Sesekali
foto-foto dan duduk di bangku taman yang masih basah oleh hujan semalam dan
embun pagi. Tiba-tiba saja kami merasa sudah berjalan jauh dari pintu 1 ke
pintu 3, artinya sudah hampir mengelilingi pelatarannya. Waktu itu masih pukul
07.00 pagi.
Rombongan brimob yang kami lihat dari atas cawan Monas |
Ini jepretan ke sekian kalinya dari Mamas (sebelumnya hasilnya meleset mulu, wkwk) |
Santai di pagi yang sejuk |
Oh iya, pas saya antri
mau beli tiketnya, saya teringat masih punya kartu Jackcard. Sebenarnya saya
gak terlalu paham soal kartu itu, ternyata masih bisa dipakai dan masih ada
saldonya! Haha, untung gak saya buang waktu itu. Ternyata antrean sudah panjang
sekali dan saya lihat jam sudah sekitar jam 09.00 (kami terlewat jam buka
karena sarapan tadi), jadi rasa-rasanya kami tidak bisa ke puncak lagi. Saya
juga sempat tanya dengan petugas kira-kira antreannya sudah sepanjang apa, dan
jawabannya seperti yang saya duga. Sudah banyak, katanya. Waktu itu hari Jumat,
makanya kami nngejar waktu biar si mamas bisa tetap solat Jumat. Jadi ya
sudahlah, kami naik ke cawan saja.
Dan benar, setelah kami
sampai ke pintu Monas, antrian di depan lift menuju puncak, sudah banyak. Jadi,
okelah kali ini gagal lagi. Mudah-mudahan saya bisa kesini lagi dan berhasil
menuju puncak Monas!
Untuk menuju ke cawan gak
perlu naik lift. Hanya jalan saja menaiki tangga yang lumayan banyak. Lumayan
membuang kalori untuk yang pengen kurusan. Sempet ngos-ngosan karena naik
tangga sambil bawa ransel dan buntelan. Tapi pemandangan dari cawan cukup lega.
Pemandangan dari atas cawan |
Di atas cawan, aslinya kalau siang pasti panas terik banget disini |
Saya mencoba mendongak ke
arah puncak monas dari cawan ini. Wow! Rasanya telapak tangan saya langsung
berkeringat. Saya memang begitu, meilhat gedung atau atap yang tinggi malah
membuat saya pusing dan langsung berkeringat dingin. Begitu tingginya sampai
saya tidak bisa melihat puncaknya dari bawah sini.
Relief di bagian luar Monas |
OOO
Sepulang Mamas Jumatan,
kamar kami baru siap. Kami dapat kamar di lantai 2. Kamarnya sesuai pesanan
kami, 1 bed besar. Untuk bahasan hotelnya, di postingan selanjutnya aja ya. Di
sela obrolan kami, saya lihat masjid di seberang dan ternyata itu masjid Cut
Mutia! Masjid yang ada dalam daftar tempat kunjungan saya, yang tadi si mamas
pun solat Jumat disana. Oh, ya ampun ternyata dekat sekali ya!
Selepas kami beristirahat
sebentar, kami berencana untuk jalan-jalan ke sekitar hotel. Jalan kaki saja
karena saya sempat tanya sama petugas hotel, katanya taman Suropati dekat dan
bisa ditempuh dengan jalan kaki. Pertama, kami kunjungi masjid Cut Mutia dulu.
Masjid ini dulunya dibangun pada era pemerintahan Belanda. Makanya
bentuknya gak seperti masjid pada umumnya, lebih seperti bangunan tua era
Belanda. Kalau masuk ke dalam malah lebih terasa lagi. Arah kiblatnya agak
menyerong dari bangunan aslinya (awalnya si mamas yang bertanya-tanya, kok ini
bangunan masjid nanggung amat buatnya gak sekalian ngikut arah kiblat).
Bahkan, sebelum dijadikan masjid, bangunan ini pernah difungsikan sebagai kantor pos, kantor Jawatan Kereta Api Belanda, kantor angkatan laut Jepang, dan kantor urusan agama. Baru pada era pemerintahan Gubernur Ali Sadikin, bangunan ini diresmikan menjadi masjid tingkat provinsi.
Bahkan, sebelum dijadikan masjid, bangunan ini pernah difungsikan sebagai kantor pos, kantor Jawatan Kereta Api Belanda, kantor angkatan laut Jepang, dan kantor urusan agama. Baru pada era pemerintahan Gubernur Ali Sadikin, bangunan ini diresmikan menjadi masjid tingkat provinsi.
Tampak depan Masjid Cut Mutia |
Ketoprak Jakarta |
Tidak jadi ke Taman
Suropati malah membawa takdir yang lebih baik. Selagi kami menunggu kamar siap
siang tadi, saya coba bikin kejutan kecil pada Manajer saya dulu waktu masih di
Sofyan Hotel Bandara Lampung. Saya kirim foto saya bareng suami di lobi hotel
yang pasti sudah ia kenal. Dan benar ia ingin mampir kalau nanti berkesempatan.
Sesaat setelah kami sampai di hotel, ia yang saya kirimi foto kejutan tadi
datang. Wah, rasanya seperti momen reuni yang luar biasa.
Cerita sedikit, ia bernama pak Suwandi. Dulu, manajer hotel Sofyan Bandara Lampung yang saya
juga bekerja disana. Karena ada pergantian manajemen dari pihak pemilik, maka dengan
terpaksa, ia ditarik kembali ke Jakarta dan kami pun berpisah dengan momen yang
sangat mengharukan. Hampir seluruh karyawan dan karyawati menangis saat
perpisahaan dengannya.
Bagaimana tidak, ia seperti
seorang bapak yang begitu sayang kepada anak-anaknya. Saya yang tidak tahu
apa-apa, diajari dengan telaten. Tidak cuma dalam hal pekerjaan, ia juga dekat
dengan kami semua diluar itu. Begitu seringnya kami berkumpul di rumah salah
satu teman kami, sekadar makan atau ngopi bersama. Bergantian antara rumah saya
dan teman-teman lain. Sampai orang tua kami pun rasanya kenal dengan dengannya.
Maka tak heran, kalau sampai kami bertemu kemarin pun, ia selalu tanya kabar
orang tua saya.
Obrolan kemarin pun kami
seperti bernostalgia. Tidak jarang juga ia menyelipkan banyak tips dan langkah-langkah promosi hotel pada saya. Jadi, dalam kepala saya juga penuh dengan inspirasi yang akan saya aplikasikan di tempat kerja saya. Rasanya tuh jadi semangat dan berenergi lagi, hehe.
Nostalgia dengan Pak Suwandi |
Senyum bahagia ketemu sahabat lama |
OOO
Selepas magrib, kami gak kemana-mana karena diluar pun masih ada sisa gerimis. Oh iya, karena kami masih punya voucher makan malam di resto hotelnya, jadi kami makan malam disana aja. Hm, bagaimana kesan makan malamnya? Tunggu cerita saya selanjutnya ya!
Baca juga : Warung Makan Favorit Saya Di Lampung
6 komentar:
Ah... sudah bisa ditebak nih, nginepnya di mana. Dekat TIM dong. Saya suka jalan-jalan di sekitaran Menteng tuh. Bisa jalan kaki dari Gedung Joang 45 sampai Museum Proklamasi, pasti lewat Masjid Cut Mutia.
oh iya kah mb Dyah? Saya baru pertama kali kesana kemarin, jadi kemana-mana andalannya taxi online, haha.
btw, hotelnya bisa ditebak ya? legendaris sih icon di dalam lobinya ya hehe
Wah jauh2 dari lampung ya mba...saya yg dekat aja belum pernah keliling jakarta hehe
iya mba Riska, baru ke beberapa tempat aja kok, belum semua dikelilingi hehe.. Sini mba sekali-kali ke Lampung juga :)
Thanks for sharing mba,.
Sama2, mba Essen.. Terimakasih sudah berkunjung ke blog ini :)
Posting Komentar