22 Juni 2019

Terpaut Peca Poblo di Hotel Sofyan Cut Meutia

Jakarta, We're Coming! Part #2

Hollaaa!!

Setelah sedikit eng ong di stasiun Gambir jam 4 subuh dalam kondisi hujan pula, lalu keliling Monas dari matahari terbit sambil bawa ransel dan buntelan, perjalanan hari pertama kami akhiri dengan hanya makan ketoprak di selasaran masjid Cut Mutia Jakarta karena lagi-lagi turun hujan.

Tapi, sekali lagi, gagalnya kami jalan-jalan ke Taman Surapati membawa takdir yang baik. Kami jadi bisa bernostalgia dengan sosok kharismatik manajer saya dulu. Malam harinya pun kami habiskan di hotel saja karena masih gerimis dan bikin males jalan keluar. Alhamdulillah ada voucher untuk makan malam juga.

Hotel Sofyan Cut Mutia

Jadi ceritanya saya iseng ikutan give away di instagram. Namanya rezeki kan sama ya kayak jodoh, kalau memang takdirnya untuk kita ya gak akan kemana. Jadilah saya pemenang kedua yang hadiahnya menginap di hotel ini selama dua malam. Sebenarnya sudah lama banget dikirimi vouchernya, tapi saya dan suami baru bisa pakai kemarin karena harus menentukan waktu yang tepat. Juga nabung untuk sekalian ambil cuti jalan-jalan juga haha.

Hotel ini adalah salah satu cabang hotel yang dulu saya juga pernah bekerja di cabang lainnya di Lampung. Gak heran kan kalau saya masih kenal sama manajer yang sekarang sudah kembali ditugaskan disini Jadi ya kemarin itu seperti meet up sahabat lama, hehe.

Oke, saya ulas sedikit ya. Dari segi lokasi, hotel ini strategis banget! Dekat dari mana-mana. Saya yang dari Lampung naik Damri ke stasiun Gambir, hanya butuh waktu sekitar 10-15 menit berkendara untuk sampai ke hotel ini. Dari stasiun Gondangdia juga, hanya cukup jalan kaki aja. Tempat wisata di sekitar hotel ini juga banyak, khususnya untuk saya yang baru pertama kali ke daerah ini. Jadi dalam sehari pun bisa kemana-mana.

Dari segi bangunan, hotel ini memang punya sejarah sendiri. Awalnya gedung ini bukanlah hotel, tetapi merupakan kantor kedutaan Swedia. Makanya bangunannya punya corak khas yang kalau saya melihatnya, saya langsung teringat pada bangunan-bangunan jaman Belanda dahulu kala. Berada di lobi hotel, saya merasa seperti berada di rumah. Hommy banget!

Masih di bagian lobi, ada satu mural yang menurut saya unik sekali. Mural ini menggambarkan kota Jakarta, lengkap dengan tugu Monas dan patung Pancorannya. Ditambah lagi ada becak aslinya juga. Sayang rasanya kalau gak foto disana, hihi.

Becaknya bisa dinaikin juga ini
Saya menempati kamar Deluxe Double di lantai 2. Kamarnya nyaman dengan lantai beralas full karpet dan dua kursi santai dekat jendela. Untuk fasilitas kamar, saya pribadi merasa sudah cukup lengkap dengan adanya kulkas kecil dan safety box. Lainnya standar hotel seperti toiletries, sandal, kopi, teh, dan air mineral. Sayangnya air panas di kamar mandinya masih kurang maksimal. Sudah diutak atik masih gak bisa juga. Ya sudahlah, sudah biasa mandi pakai air dingin juga di rumah, haha.

Tempat tidur sesuai pesanan

Ada Alquran dan jadwal solat juga
Oh iya, kemarin saya cerita makan malam ya? Kami makan malam di Potpourri Resto. Sama petugas restonya disodori menu baru, Peca Poblo dan Ayam Geprek. Biar gak penasaran, kami pesan keduanya. Dari fotonya kelihatan enak, ternyata aslinya memang enak banget! Asli kenyang banget makan dua menu itu berdua haha. Malam selanjutnya pun kami masih ada voucher makan malamnya. Kesempatan lagi untuk nyicipin menu lainnya, hehe. Saya pilih soto betawi dan suami ternyata masih belum bisa move on dari Peca Poblo si gurame asam manis yang mantul itu.

Potpourri Cafe

Geprek Batavia, gurih kriuk

Peca Poblo yang buat Mamas gak move on  ^^
Hotel ini juga menyediakan sarapan pagi seperti hotel pada umumnya. Variasi menunya banyak. Mulai dari buah segar, infused water yang sehat, makanan berat ala Indonesia banget seperti nasi lengkap sayur dan lauknya, gorengan, roti dan bubur juga. Lengkap pokoknya!

Soto untuk sarapan saya
Lobi hommy banget, kamar nyaman, makanan enak. Stafnya? Hm, jangan khawatir bakal dicuekin atau dijutekin. Hampir semua staf yang berpapasan dengan kami, menyapa dengan ramah. Untuk saya pribadi, saya akan rekomendasikan hotel ini kalau ada yang sedang cari penginapan di Jakarta.

Lokasi :
Hotel Sofyan Cut Meutia
Jl. Cut Meutia NO. 9, Cikini, Menteng
Jakarta Pusat
Tlp. 021 3905011

ooo

Jalan-jalan saya bagaimana? Di postingan berikutnya aja ya. Kalau tulisan ini kepanjangan kan jadi cape bacanya, hehe.

Baca juga : Arvahub Virtual Office, Solusi Praktis Bagi Pebisnis Pemula

20 Juni 2019

Keliling Monas Bawa Buntelan

Jakarta, We're Coming! Part #1

Tulisan ini sebenarnya adalah sambungan dari tulisan pertama yang sudah lama diposting. Biar ingatannya kembali, bisa baca tulisan pertama disini ya!


Oke, kita lanjut ke postingan selanjutnya ya. Kemarin, saya kasih prolog yang terlalu panjang sampai jadi postingan penuh, hehe. Sekarang postingan inti dari jalan-jalan itu (halah, apa sih!).

Hari pertama di Jakarta

Sebenarnya saya sudah beberapa kali ke Jakarta, tapi baru kali ini ke Jakarta sendiri tanpa rombongan. Untungnya ada aplikasi online yang memudahkan untuk bisa jalan-jalan sendiri, seperti google map atau ojek online. Insyaallah gak tersesat deh.

Jadi, selepas kami solat Subuh di stasiun Gambir dan menunggu agak terangan, berangkatlah kami menuju Monas. Jalan kaki aja karena hitung-hitung sambil olahraga. Monas masih agak sepi dari pengunjung yang seperti kami (bawa ransel dan buntelan makanan, haha). Lainnya, petugas kebersihan, penjaga pintu masuk, dan orang-orang yang berolahraga pagi, serta beberapa anggota brimob (yang belakangan nanti kami tahu rupanya akan ada acara di siang harinya).

Rombongan brimob yang kami lihat dari atas cawan Monas
Kami cuek aja jalan kesana kemari menikmati matahari pagi di pelataran dan taman Monas. Sesekali foto-foto dan duduk di bangku taman yang masih basah oleh hujan semalam dan embun pagi. Tiba-tiba saja kami merasa sudah berjalan jauh dari pintu 1 ke pintu 3, artinya sudah hampir mengelilingi pelatarannya. Waktu itu masih pukul 07.00 pagi.


Ini jepretan ke sekian kalinya dari Mamas (sebelumnya hasilnya meleset mulu, wkwk)
Niatnya saya ingin ke puncak Monas karena dua tahun lalu ke Monas gak berhasil masuk ke puncaknya. Ceritanya ada disini. Jadi, kali ini saya ingin mengulangi antrian lagi. Karena waktu itu tiket belum buka, jadi kami cari sarapan dulu di area food court dekat pintu masuk. Sebenarnya gak begitu lapar karena pas di stasiun tadi saya sempat makan buah pir sebiji (walaupun jalan-jalan masih keingetan makan buah sehat haha). Di area food court yang belum semua buka, kami kelilingi satu-satu. Hampir rata-rata jualan bakso, nasi goreng, nasi rames, dan makanan berat pada umumnya. Yah, pada akhirnya kami duduk di depan salah satu kios dan saya pesan soto betawi, sedangkan si mamas pesan bakso telur. Ini pagi-pagi makanannya berat kali, haha.

Santai di pagi yang sejuk
Pas balik lagi ke area Monas, kereta yang mengangkut penumpang menuju Monas sudah ada. Saya dan mamas langsung deh naik. Bagi yang belum pernah ke Monas, kereta ini gratis bagi penumpang yang memang mau menuju puncak dan museum yang ada di Monas. Lumayan gak cape balik ke tengah-tengah sana lagi.

Oh iya, pas saya antri mau beli tiketnya, saya teringat masih punya kartu Jackcard. Sebenarnya saya gak terlalu paham soal kartu itu, ternyata masih bisa dipakai dan masih ada saldonya! Haha, untung gak saya buang waktu itu. Ternyata antrean sudah panjang sekali dan saya lihat jam sudah sekitar jam 09.00 (kami terlewat jam buka karena sarapan tadi), jadi rasa-rasanya kami tidak bisa ke puncak lagi. Saya juga sempat tanya dengan petugas kira-kira antreannya sudah sepanjang apa, dan jawabannya seperti yang saya duga. Sudah banyak, katanya. Waktu itu hari Jumat, makanya kami nngejar waktu biar si mamas bisa tetap solat Jumat. Jadi ya sudahlah, kami naik ke cawan saja.

Dan benar, setelah kami sampai ke pintu Monas, antrian di depan lift menuju puncak, sudah banyak. Jadi, okelah kali ini gagal lagi. Mudah-mudahan saya bisa kesini lagi dan berhasil menuju puncak Monas!

Untuk menuju ke cawan gak perlu naik lift. Hanya jalan saja menaiki tangga yang lumayan banyak. Lumayan membuang kalori untuk yang pengen kurusan. Sempet ngos-ngosan karena naik tangga sambil bawa ransel dan buntelan. Tapi pemandangan dari cawan cukup lega.

Pemandangan dari atas cawan
Di atas cawan, aslinya kalau siang pasti panas terik banget disini
Saya mencoba mendongak ke arah puncak monas dari cawan ini. Wow! Rasanya telapak tangan saya langsung berkeringat. Saya memang begitu, meilhat gedung atau atap yang tinggi malah membuat saya pusing dan langsung berkeringat dingin. Begitu tingginya sampai saya tidak bisa melihat puncaknya dari bawah sini.

Dari atas cawan ini juga saya bisa melihat rombongan brimob yang tadi saya lihat berkeliaran di sekitar Monas. Beberapa pasukan yang bergabung di barisan itu seperti rombongan tanaman hias yang berwarna-warna karena warna baretnya berbeda-beda. Saya mengambil beberapa foto diri disini, juga di depan Museum Kemerdekaan yang waktu itu sudah pernah kami masuki, jadi kami tidak banyak meluangkan waktu disana lagi. Sekitar pukul 10.30, kami berniat untuk menuju hotel karena badan sudah terasa gak karuan. Panas, berkeringat, dan tampak lusuh, hehe.

Relief di bagian luar Monas
Sampai di hotel, kamar kami belum siap. Ya sudahlah, menunggu di lobi sambil mengantuk dan gak ada yang ingin saya lakukan lagi karena sudah cape. Efek belum mandi juga sih, jadi males mau ngapa-ngapain lagi, ditambah masih bawa-bawa ransel dan buntelan itu.  Saya melihat lagi tempat-tempat yang ingin saya kunjungi di catatan saya. Masih banyak lah! Masjid Cut Mutia, Taman Suropati, Museum Sumpah Pemuda, Museum Kebangkitan Nasional, Planetarium, dll.

OOO

Sepulang Mamas Jumatan, kamar kami baru siap. Kami dapat kamar di lantai 2. Kamarnya sesuai pesanan kami, 1 bed besar. Untuk bahasan hotelnya, di postingan selanjutnya aja ya. Di sela obrolan kami, saya lihat masjid di seberang dan ternyata itu masjid Cut Mutia! Masjid yang ada dalam daftar tempat kunjungan saya, yang tadi si mamas pun solat Jumat disana. Oh, ya ampun ternyata dekat sekali ya!

Selepas kami beristirahat sebentar, kami berencana untuk jalan-jalan ke sekitar hotel. Jalan kaki saja karena saya sempat tanya sama petugas hotel, katanya taman Suropati dekat dan bisa ditempuh dengan jalan kaki. Pertama, kami kunjungi masjid Cut Mutia dulu. Masjid ini dulunya dibangun pada era pemerintahan Belanda. Makanya bentuknya gak seperti masjid pada umumnya, lebih seperti bangunan tua era Belanda. Kalau masuk ke dalam malah lebih terasa lagi. Arah kiblatnya agak menyerong dari bangunan aslinya (awalnya si mamas yang bertanya-tanya, kok ini bangunan masjid nanggung amat buatnya gak sekalian ngikut arah kiblat). 

Bahkan, sebelum dijadikan masjid, bangunan ini pernah difungsikan sebagai kantor pos, kantor Jawatan Kereta Api Belanda, kantor angkatan laut Jepang, dan kantor urusan agama. Baru pada era pemerintahan Gubernur Ali Sadikin, bangunan ini diresmikan menjadi masjid tingkat provinsi.

Tampak depan Masjid Cut Mutia
Di sekitar masjid ini, banyak penjual makanan dan ada pasar tumpah juga yang menjual aneka macam barang-barang sepert sepatu, tas, sandal dan lain-lain. Kami mampir jajan di salah satu emperan. Coba ketoprak jakarta, haha. Kebetulan juga belum makan siang kan. Harganya Rp 18.000,-/porsi, lebih mahal dari harga rata-rata ketoprak di Lampung yang Cuma kisaran Rp12.000,- -Rp13.000,-an. Tapi enak dan kenyang banget! Kami lanjut jalan kaki menuju Taman Suropati.

Ketoprak Jakarta
Eh tapiii.. baru beberapa jauh dari Masjid Cut Mutia, tepatnya melewati fly over pertigaan Jl. Teuku Umar, hujan mulai rintik-rintik. Eng ing eng! “Balik aja.” Kata si mamas. Dan benar. Begitu kami melangkah balik arah, hujan langsung turun! Alhasil, kami berteduh di bawah fly over dekat pos polisi, haha. Lumayan lama berteduh disana sampai hujan rintik-rintik dan kami rasa bisa kami terobos walaupun basah sedikit.

Tidak jadi ke Taman Suropati malah membawa takdir yang lebih baik. Selagi kami menunggu kamar siap siang tadi, saya coba bikin kejutan kecil pada Manajer saya dulu waktu masih di Sofyan Hotel Bandara Lampung. Saya kirim foto saya bareng suami di lobi hotel yang pasti sudah ia kenal. Dan benar ia ingin mampir kalau nanti berkesempatan. Sesaat setelah kami sampai di hotel, ia yang saya kirimi foto kejutan tadi datang. Wah, rasanya seperti momen reuni yang luar biasa.

Cerita sedikit, ia bernama pak Suwandi. Dulu, manajer hotel Sofyan Bandara Lampung yang saya juga bekerja disana. Karena ada pergantian manajemen dari pihak pemilik, maka dengan terpaksa, ia ditarik kembali ke Jakarta dan kami pun berpisah dengan momen yang sangat mengharukan. Hampir seluruh karyawan dan karyawati menangis saat perpisahaan dengannya.

Bagaimana tidak, ia seperti seorang bapak yang begitu sayang kepada anak-anaknya. Saya yang tidak tahu apa-apa, diajari dengan telaten. Tidak cuma dalam hal pekerjaan, ia juga dekat dengan kami semua diluar itu. Begitu seringnya kami berkumpul di rumah salah satu teman kami, sekadar makan atau ngopi bersama. Bergantian antara rumah saya dan teman-teman lain. Sampai orang tua kami pun rasanya kenal dengan dengannya. Maka tak heran, kalau sampai kami bertemu kemarin pun, ia selalu tanya kabar orang tua saya.

Obrolan kemarin pun kami seperti bernostalgia. Tidak jarang juga ia menyelipkan banyak tips dan langkah-langkah promosi hotel pada saya. Jadi, dalam kepala saya juga penuh dengan inspirasi yang akan saya aplikasikan di tempat kerja saya. Rasanya tuh jadi semangat dan berenergi lagi, hehe.

Nostalgia dengan Pak Suwandi
Senyum bahagia ketemu sahabat lama
OOO

Selepas magrib, kami gak kemana-mana karena diluar pun masih ada sisa gerimis. Oh iya, karena kami masih punya voucher makan malam di resto hotelnya, jadi kami makan malam disana aja. Hm, bagaimana kesan makan malamnya? Tunggu cerita saya selanjutnya ya!

Baca juga : Warung Makan Favorit Saya Di Lampung

04 Juni 2019

BPN Day 30 : Sibuknya Menyambut Lebaran Ini

Allahu akbar! Allahu akbar! Allahu akbar!

Dimana gema takbir tidak dikumandangkan selepas Maghrib tadi? Alhamdulillah Ramadhan sudah selesai dilalui dengan lancar. Walau hati masih berat melepas Ramadhan, tapi rasa kemenangan ini sudah bisa menghibur hati.

Hm, bicara hari kemenangan, apa saja nih persiapan untuk menyambut lebaran ini? 

Kalau saya, sebagai perempuan banyak sekali hal yang harus dipersiapkan untuk menyambut hari raya ini. Tentunya persiapan logistik di rumah ya. Apalagi kalau sudah punya keluarga. Bagi-bagi deh waktunya.

Nah, saya sendiri dari dua hari yang lalu sudah mulai mencicil apa-apa yang harus dilakukan untuk menyambut lebaran. Buat kue? Gak, hehe. Saya termasuk orang yang gak punya banyak waktu di rumah untuk buat kue kering khas lebaran. Jadi pesen aja deh biar lebih efisien. Ada sih yang saya buat, kacang bawang, haha.

Dan hari ini, waaahhh beneran sibuk!

Dari dua hari lalu saya sudah diminta ibu untuk menginap di rumah. Bantu-bantu beberes sekalian kumpul karena adik-adik saya sudah kumpul juga di rumah. Dan kami ini termasuk keluarga yang suka gonta ganti lay out rumah. Bukan beli perabot baru sih, tapi tuker-tuker perabot dan pindah sana sini.

Jadilah dari kemarin, sudah cuci-cuci gorden, beberes rumah plus pindah-pindah kursi biar tatanan rumahnya gak bosan dan terlihat baru. Sebenarnya gak lama sih pindah-pindah begini, tapi karena ngerjainnya sambil ketawa dan main-main, ya akhirnya jadi lama. Pumpung kumpul kan, bisa ketawa bareng.

Selepas beberes rumah, masih lanjut buat ketupat dan masak-masak hidangan khas lebaran. Rendang, sayur santan, sambal kentang. Repot sih tapi seru aja. Kalau gak repot begini, rasa gak lebaran deh.

Tahun ini giliran saya berlebaran di rumah mertua di hari pertama. Jadi dari sore selepas nginem di rumah ibu, saya dan suami langsung mudik ke rumah mertua. Untung gak jauh-jauh amat. Masih bisa ditempuh pakai motor gak lebih dari 1 jam perjalanan. 

Karena keasikan di rumah ibu, saya jadi kesorean jalan ke rumah mertua. Eh, ada insiden pula! Kue basah yang sudah saya pesan untuk saya bawa ke rumah mertua, gak bisa dikirim sore tadi! Apa pasal? Gak ada babang gojek yang mau anterin, duuuuhhh! Mungkin kejauhan dan sudah sore juga. Jadi beberapa kali dicancel dan saya jadi ketar-ketir.

Masa ke rumah mertua dengan tangan kosong? Alhasil, saya dan suami cari toko kue lagi yang masih buka. Posisi tadi sudah maghrib pula, huhu. Alhamdulillah masih ada 1 toko yang kuenya enak masih buka. Walaupun sudah gak banyak pilihan, tapi jadilah saya masih bisa beli dua jenis kue basah. Alhamdulillah..

Lebaran memang seru ya. Sebenarnya banyak cerita lain, tapi saya lagi di rumah mertua nih. Lagi kumpul, gak enak ya kalau gak ikut nimbrung? Lanjut besok deh ya! See you.