03 Maret 2022

Ketika Kami Pulang ; Resensi Antologi Cerpen

Judul buku     : Ketika Kami Pulang
Penulis           : Muhammad Shabir, dkk.
Penerbit          : Pipit Senja Publishing House
Tahun terbit    : 2022

Sudah lama sekali saya gak nulis cerita fiksi dan tiba-tiba ada yang ngajakin nulis bareng. Lha, serasa jetlag, haha. Awalnya memang gabung di grup facebook bareng teman-teman penulis yang diinisiasi oleh seorang sahabat di Palembang. Gak begitu aktif juga, hanya sesekali setor tulisan untuk memastikan saya masih hidup di dunia maya, hehe.

Singkatnya, si admin kasih tantangan untuk setor tulisan fiksi dengan tema humanis. Saya yang sudah lama gak nulis fiksi, jadi lebih ke bertanya pada diri sendiri. Masih bisa gak sih buat tulisan dengan tuntutan tema begini? Karena biasanya saya nulis ya nulis aja, gak pake tema segala. Dan akhirnya, jadi juga sih ceritanya setelah beberapa lama mendekam dalam alam pikiran dan laptop.

Awalnya, saya gak kepikiran untuk dibuat buku. Tapi setelah beberapa waktu pengumpulan, rupanya tantangan menulis ini jadi proyek nulis bareng untuk dibuat buku. Saya mah ikut aja, mana yang terbaik deh. Setelah beberapa bulan digarap, jadilah buku ini. Ketika Kami Pulang.

Antologi cerpen ketika kami pulang
Antologi Cerpen Ketika Kami Pulang

Buku ini berisi 27 cerita dengan beberapa tema yang melekat dalam kehidupan sehari-hari. Tentang keluarga, hubungan antar individu, dan konflik sosial masyarakat. Karena memang buku ini adalah karya dari banyak penulis, jadi gaya tulisan dan diksi yang dipilih tentunya berbeda-beda tergantung selera masing-masing. Tetapi, secara pribadi, saya menikmati bacaan di setiap judulnya.

Oke, saya kasih sedikit intipan dari saya ya!

Untuk gaya bercerita, saya paling suka dengan tulisan Agus Kindi dengan judul Rumah Daging. Pemilihan sudut pandang yang masih jarang digunakan, yaitu ‘kamu/kau’ membuat tulisannya berbeda dari yang lain. Cerpen ini mengisahkan tentang seorang perempuan dengan cerita masa lalunya. Berganti-ganti pekerjaan dari penjual makanan hingga pembuat keripik bekicot.

Rumah Daging Agus Kindi
Rumah Daging - Agus Kindi

Sepanjang cerita, saya membaca hal-hal yang mengalir seperti biasa, hingga hampir di penghujungnya barulah saya terhenyak. Ada kisah pilu, kisah sadis, dan tak bisa ditebak sampai akhir. Saya terdiam beberapa lama ketika selesai membacanya dan berfikir, kok bisa ya muncul ide cerita seperti ini?

Bagi yang suka cerita dengan tema keislaman, bisa baca cerpen yang ditulis oleh Pipiet Senja. Perempuan yang sering dipanggil Manini ini memang penulis senior yang sudah menelurkan banyak sekali karya. Saya sendiri punya beberapa bukunya di rumah yang saya koleksi dari jaman muda dulu.

Suatu Petang di Mushola Pipiet Senja
Suatu Petang di Mushola - Pipiet Senja

Nah, di antologi ini, Pipiet Senja punya 2 cerita dengan nuansa Islam yang kental. Salah satunya adalah Suatu Petang du Mushala yang bercerita tentang persoalan keluarga dimana ada sosok ustadzah yang berhasil mengubah pemikiran sang suami hingga ia bercerai dari istri pertamanya yang notabene bersifat kasar dan jauh dari kata islami.

Bagaimana dengan cerpen saya? Penasaran gak? Hehe. Judulnya Kata Ayah, Mama Gila. Saya menuangkan kisah tentang seorang anak yang merasa keadaan berubah setelah ibunya melahirkan bayi yang ia panggil adik. Menggunakan sudut pandang seorang anak balita, saya berusaha menyajikan tulisan dengan bahasa ringan dan polos layaknya anak-anak pada umumnya. Misalnya saja, saat si tokoh aku bertanya tentang sosok Papa yang dijawab oleh sang Mama sudah berada di syurga.

Kata ayah mama gila laela awalia
Kata Ayah Mama Gila - Laela Awalia

Jujur, saya terinspirasi dari novel Tanah Lada karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie yang pernah saya baca. Disana, si tokoh benar-benar memiliki kepolosan kanak-kanak dan itulah yang menjadi kekuatan cerita dari Tanah Lada. Kembali pada cerpen saya, saya mengangkat tema tentang postpartum depression. Depresi yang dialami oleh seorang perempuan setelah melahirkan karena adanya ketidakseimbangan hormon dalam tubuh.

Nah, kalau ingin membaca cerpen dengan gaya bahasa yang lebih tinggi, bisa membaca cerpen milik Muhammad Shabir. Saya sudah membaca beberapa karyanya sejak sepuluh tahun lalu dan memang gaya bahasa dan diksi yang ia pilih membuat tulisannya jadi kaya.

Laki yang menenggelamkan dirinya Muhammad Shabir
Laki-Laki Yang Menenggelamkan Dirinya Ke Laut - Muhammad Shabir

Cerpennya di antologi ini punya judul yang agak panjang, Laki-Laki Yang Menenggelamkan Dirinya Ke Laut. Cerpen ini berkisah tentang seorang lelaki bernama Dank dengan kisah cinta dan kehidupan masa kecilnya. Memang temanya terdengar pasaran dan biasa saja, tapi kalimat-kalimat yang disusun dan pilihan gaya bahasanya bisa membuat saya menikmati ceritanya sampai akhir.

Saya kasih secuil ya, “Bulan sudah Juli. Rupanya aku abai menghitung waktu. Rasanya seperti mendapati jendela yang digeret angin pada suatu malam; terkejut dan asing.”

Baca juga : Top 5 Buku Favorit Saya

Selain beberapa cerpen yang sudah sedikit saya bahas itu, masih ada banyak cerpen yang bisa dinikmati sambil minum teh atau kopi di sore hari. Bahasanya ringan dan mudah dicerna kok, jadi gak terlalu butuh pemikiran yang mendalam.

Bagaimana? Berminat untuk punya bukunya? Iklan sedikit lah ya, buku bisa juga dipesan melalui saya. Langsung hubungi Whatsapp saya di 085669681236 ya! See you!

4 komentar:

Pipiet Senja mengatakan...

Kereeeen!
Dapat 100 dari saya.
Karena resensi pertama dari 27 penulis, eeeeh,saya sudah bikin resensinya.
Nanti saya posting.

Penulismemang harus punya blog sendiri. Memajang karyanya.
Agar kelak diwariskan kepada anak keturunan.
Kita telah tiada pun anak cucu masih bisa membaca karya kita.
Bravo, dan terima kasih, ya sayangku.
Salam Literasi dari Jakarta.

Laela Awalia mengatakan...

@pipietsenja
Waahh ada Manini.. terimakasih sudah berkunjung di blog ini dan kasih komentar ya :*

Redha mengatakan...

"Saya sendiri punya beberapa bukunya di rumah yang saya koleksi dari jaman muda dulu."

Jadi sekarang sudah tua???

Laela Awalia mengatakan...

@Redha : dianggap tua umurnya, tapi jiwanya masih tetap muda