Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri asoka. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan
Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri asoka. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan

23 Desember 2019

Pengungsi Elite di Asoka Luxury Hotel Lampung

Siapa yang liburan ini datang ke Lampung? Nginepnya dimana aja? Rumah saudara? Rumah teman? Masjid? Atau cari penginapan sampai hotel? Ngomong-ngomong soal hotel, beberapa waktu yang lalu, saya sempat nyobain salah satu hotel bintang tiga di Bandar Lampung. Biasa, bukan karena anak sultan liburan nginep di hotel meskipun rumah masih deket situlah, tapi karena ini dapat voucher gratisan, sayang kan kalau gak dipake? Hitung-hitung, jadi pengungsi elite semalam di hotel ini, hehe.
Asoka luxury hotel lampung

Hotel tempat saya menginap namanya Asoka Luxury Hotel. Berdiri di kawasan Jl. Antasari, Bandar Lampung. Sebagai informasi ringan, kawasan Jl. Antasari merupakan salah satu jalan yang ramai dan berkembang di Lampung. Gak heran kalau disana, ada beberapa hotel dan penginapan yang berdiri, juga tempat makan dan tempat nongkrong yang asik.

Sebelum check in, saya pesan lewat telepon dulu untuk memastikan ketersediaan kamar. Karena voucher berbatas waktu dan sudah agak mepet juga, maka saya cari waktu yang pas antara liburnya pak suami dengan agenda saya sendiri. Rupanya, beberapa kali saya telepon, tanggal yang saya pesan sudah penuh atau di lain waktu ternyata voucher tidak bisa dipakai saat akhir pekan. Lha, mau mumpungin liburan di luar rumah malah harus nginep pas hari kerja.

Sebenarnya agak heran juga sih, karena beberapa kali dapat voucher gratisan begini tapi baru kali ini yang gak boleh nginep di akhir pekan. Mungkin kebijakannya bisa berbeda-beda di beberapa hotel. Saya yang pernah berkecimpung di dunia perhotelan pun, waktu itu pernah mengeluarkan voucher gratisan dan itu bebas menginap kapan saja selama kamar masih tersedia dan dalam rentang waktu yang sudah ditentukan. Baiklah. Tak usahlah dipusingkan, gratisan lho ini, Lia!

Baca juga : Terpaut Peca Poblo di Hotel Sofyan Cut Meutia

Tibalah hari yang sudah saya pesan. Gak mau kejadian saya harus nunggu di lobi hotel sebab belum tersedia kamar atau sebab kebijakan hotel yang harus cek in lewat pukul 13.00 (meskipun di beberapa hotel juga bisa berbeda kebijakannya), saya memutuskan untuk datang setelah lewat tengah hari. Dan karena pak suami belum pulang kerja, saya memutuskan untuk datang duluan karena memang sekalian jalan daripada bolak balik ke rumah dulu. Gak susah menemukan hotel ini meski tidak persis berada di jalan utama. Supir ojek online yang saya tumpangi saja langsung paham gedungnya yang mana. Alhamdulillah.

Asoka luxury hotel
Lobi hotel (saya foto pas check out yang mbaknya ramah)

Asoka luxury hotel lampung
Beberapa kursi yang tersedia di lobi
Sampai di lobi, saya disapa ramah oleh bellboy dan satpam yang berjaga. Lobi hotel ini cukup luas dan lega. Ada beberapa sofa yang bisa dipakai untuk beristirahat sejenak atau menunggu sebentar kala meja resepsionis dipenuhi orang. Resepsionisnya yang menurut saya malah gak seramah bellboy dan satpam, tapi cukup cekatan dan cepat saat proses check in. Mungkin standar keramahan orang berbeda ya, hehe. Meskipun ini gratisan, saya tetap dimintai deposit (lagi-lagi kebijakan ini berbeda dengan beberapa hotel yang sempat saya singgahi hasil gratisan juga).

Bersebelahan dengan lobi, ada restoran dan café yang bisa jadi tempat santai juga sambil menikmati kopi. Di sampingnya lagi ada tempat outdoor bagi yang ingin santai sambil merokok. Tempatnya juga nyaman dan sejuk saat angin sore menyapa. Tapi karena waktu itu sedang ramai dan restonya dipakai, saya gak bisa ambil foto dengan leluasa. Apalagi di bagian outdoornya.

Oke, saya lanjut mau ke kamar. Alhamdulillah kamar sudah tersedia, jadi bisa langsung masuk deh.

Asoka luxury hotel lampung
Tempat tidur sesuai pesanan
“It’s simply nice.”
Kalimat pertama yang saya ucapkan setelah buka pintu kamar. Penataan di kamarnya sederhana dengan perlengkapan yang standar. Meskipun saya menginap di tipe kamar paling rendah, kamar tipe Superior, tapi untuk amenitis dan kelengkapan kamar sudah bisa saya bilang “it’s ok, cukuplah kalau untuk sekadar bermalam saja.”. Tempat tidur juga sesuai dengan yang saya pesan, double bed karena saya gak mau pisah tidurnya nanti bareng suami kalau dikasih twin bed, hehe.

Hal pertama yang biasa saya lakukan begitu masuk kamar hotel adalah membuka gorden jendela. Saya dapat kamar di lantai 2 dengan jendela lebar (hampir full di bagian kiri dinding) menghadap ke jalan samping gedung. Gak terlalu bagus sih pemandangannya, mungkin kalau ada di lantai yang lebih tinggi lagi bisa lihat yang lebih banyak lagi.

Kedua, saya cek kamar mandi. Saya agak trauma dengan hotel di Bogor waktu itu yang sampai saya minta pindah kamar gegara selang airnya agak macet dan toilet yang berbau tak sedap. Untunglah disini gak begitu. Di kamar mandi juga tersedia toiletries yang standar. Ada sabun mandi, shampo, dental kit, sisir dan shower cap. Tapi sayang kamar mandinya agak kusam, mungkin karena warna lantainya. Juga, toilet yang sedikit berbau tak sedap.

Asoka luxury hotel lampung

Balik lagi ke kamar, saya cek lagi apa yang ada di dalam sana. Di meja dekat rak pakaian, tersedia teko pemanas, air mineral botol, kopi, teh celup, gula pasir dan gula semut, juga krimer. Lumayan untuk santai sore nanti pas pak suami pulang kerja, hehe. Disana juga tersedia dua pasang sandal hotel. Untuk perlengkapan sholat seperti sajadah, mukena, atau Alquran memang tidak tersedia, tapi bisa kok minta pinjam dengan house keepingnya.

Asoka luxury hotel lampung

Sembari menunggu pak suami datang, saya santai sambil coba wifi dan saluran tv. Bagi yang suka nonton tv, saluran tv disini lumayan banyak dan bisa menghibur saat mager. Bagi yang suka akses internet gratisan seperti saya, cocok deh kalau ada di tempat yang ada wifi gratis semacam ini yang bisa diakses kapan saja. Trus, kalau ada yang mau spa, disini juga tersedia berbagai paket spa mulai dari Rp 200.000,-an sampai Rp 500.000,-an. Mbak penjaga spa juga menelepon langsung ke kamar dan menawarkan jasanya.

Oh iya, saya juga sempat baca-baca menu makanan yang ditawarkan. Pas saya kesana, lagi ada promo menu paket ayam, Cuma Rp 35.000,-/nett dan sudah termasuk nasi juga. Lumayan murah untuk harga di hotel. Tapi saya gak coba. Saya lebih tertarik untuk jalan kaki menyusur sekitar hotel selepas maghrib untuk cari cemilan dan makan malam bareng pak suami.

promo di hotel asoka

Sarapan pagi sudah dibuka pukul 06.00 WIB. Tempatnya di resto samping lobi depan. Menunya standar mulai dari nasi dan teman-temannya, bubur ayam, aneka rebusan, sereal dan roti, salad, dan buah. Sebenarnya saya cari menu telur, tapi gak ada, dan disana pun gak terlihat ada koki yang masak telur. Atau mungkin harus request dulu kali ya, baru dibuatkan di dapur belakang? Minuman juga standar, kopi, teh, dan air putih.
sarapan di asoka luxury hotel
Buffe sarapan

Sarapan di Asoka Luxury Hotel
Salad sayur saya untuk sarapan
Selepas sarapan, pak suami berangkat kerja dan saya kembali ke kamar karena memang gak ada yang bisa dieksplor lagi disini. Saya habiskan waktu sebelum waktu check out untuk surfing lagi di dunia maya. Sebelumnya, saya sempat berfoto di sudut koridor yang ditempeli gambar pemandangan.
Sebelum ditanya check out, saya bilang dulu ke mbak resepsionis, minta izin check out setelah solat Dzuhur. Pelayanan saat check out lebih ramah dibanding saat check in kemarin, sepertinya mbaknya sudah ganti (saya gak terlalu hapal dan lupa baca name tagnya).

Setelah beberapa kali ambil foto, ini pun masih ngeblur! *duh, mamas!
Meskipun ada hal yang kurang mengenakkan saat pemesanan, tapi secara keseluruhan, hotel Asoka Luxury ini nyaman untuk sekadar beristirahat. Oh iya, sebagai tambahan, tempat parkir disini lumayan luas. Tapi kalau bawa motor, agak kurang nyaman karena tempat parkirnya di seberang dan itu tempat terbuka. Jadi kalau pas hujan dan helm ditinggal di motor, ya wassalam deh basah. Untungnya kemarin pas gak hujan, helm jadi selamat, hehe.
Tempat parkir motor (di seberang jalan, saya ambil foto dari depan gedung hotel)
Baiklah, segini dulu cerita saya. Hm, hotel mana lagi ya yang akan kami singgahi?

Asoka Luxury Hotel Lampung
Hotel bintang 3
Jl. Pulau Morotai No. 16B, Jagabaya III, Way Halim, Bandar Lampung
Tlp. 0721 711088

11 Oktober 2021

Review OYO Syariah Al Furqon Palembang

Halo!

Sudah lama ya gak jalan-jalan dan menginap di hotel atau homestay. Kangennya tuh berasa berat dan kalau dilebaykan jadi rindu serindu-rindunya, hehe. Alhamdulillah beberapa hari yang lalu, kerinduan akan jalan-jalan keluar kota itu sedikit terobati. Saya ke Palembang lagi! Yeaayyy!!

Sayangnya, bukan jalan-jalan beneran sih. Saya dan ibu punya tugas momong si krucil-krucil yang emaknya sedang pelatihan di Palembang. Karena si bungsu memang belum lepas ASI, jadi mau gak mau ya dibawa saja. Sementara dua kakaknya juga gak mau ketinggalan, akhirnya ya sudahlah kita staycation tipis-tipis deh.

OYO Syariah Al Furqon Palembang
OYO Syariah Al Furqon Palembang

Rupanya, lokasi pelatihan berada di sekitar Jl. Basuki Rahmat, Palembang. Daerah yang memang pernah saya kenal cukup lama waktu saya kerja di Palembang. Gak susah cari tempat penginapan yang harganya cukup ramah di kantong, salah satunya adalah hotel yang akan saya review sedikit kali ini.

OYO Syariah Al Furqon Palembang

Hotel ini berdiri di jalan Basuki Rahmat, Palembang. Walaupun gak terlalu besar, tapi mudah kok menemukannya karena letaknya di pinggir jalan raya. Sebelum saya pesan kamar disini, tentunya saya sudah membaca ulasan tamu-tamu sebelumnya. Dari 5 bintang, hotel ini mendapat 8,3/10 bintang yang saya artikan sebagai lumayan lah ya.

Oh iya, saya pernah punya pengalaman kurang mengenakkan di hotel OYO Bogor, makanya sempat agak ragu mau pilih hotel OYO lagi disini. Berhubung hanya hotel ini yang dekat dengan tempat pelatihan, jadi ya bismillah aja deh. Semoga OYO yang ini lebih baik pelayanan dan fasilitasnya.

OYO Syariah Al Furqon Palembang
Tampak depan OYO Syariah Al Furqon

Berangkat dari Belitang di pagi hari dan sampai Palembang tengah hari. Disambut oleh petugas Front Office perempuan memakai hijab membuat kesan yang baik untuk saya. Mbak petugasnya ramah dan saya bisa langsung check in dengan dimintai deposit sebesar Rp 200.000,- meskipun pembayaran hotel sudah lunas sejak pemesanan kemarin. Kebijakan deposit memang berbeda-beda ya di setiap hotel, ada pula yang tidak dikenakan deposit.

Pemandangan pertama di lobi lumayan lah. Kesannya memang gak terlalu luas karena mungkin lobi hampir dipenuhi oleh kursi besar untuk tamu. Agak masuk ke dalam, ada ruangan lagi penuh kursi makan, mungkin tempat sarapan. Tapi waktu saya tanya apakah ada sarapan disini, jawabannya tidak ada, baik itu paket dari kamar atau bayar sendiri.

OYO Syariah Al Furqon Palembang
Meja resepsionis

OYO Syariah Al Furqon Palembang
Lobi hotel

OYO Syariah Al Furqon Palembang
Bagian belakag mungkin tempat makan

Fasilitas di Kamar

Saya dapat kamar di lantai 2 dan tanpa lift. Begitu sampai di lantai 2, ada hiasan cantik berupa replika Alquran dan beberapa hiasan meja lain. Oh iya, tidak ada lukisan orang atau patung kok. Ini yang seringkali membuat saya agak kurang nyaman ya kalau menginap di hotel.

OYO Syariah Al Furqon Palembang
Tangga menuju lantai atas

Seperti biasa, hal pertama setelah masuk kamar adalah cek keadaan. Kamar mandi tidak terlalu sempit dan tidak pula terlalu luas. Cukup lega dan terang. Shower air panas dan dingin juga berfungsi dengan baik. Ada toiletries juga berupa sabun, dental kit, dan lotion. Handuk dan sandal hanya disediakan satu.

OYO Syariah Al Furqon Palembang
Kamar OYO Syariah Al Furqon Palembang

Lanjut cek tempat tidur dan memang sesuai pesanan yaitu double bed meskipun bukan ukuran king, hehe. Gak apa-apalah umpel-umpelan sama krucil. Sprei dan selimut cukup bersih dan wangi. Hanya saja, pas bagian kolong tempat tidur sampahnya banyak banget. Gak sengaja juga sih lihat ke kolong, hehe. Gegara mainan si kecil jatuh dan terlempar ke bawah tempat tidur, makanya bisa tahu.

Perlengkapan di kamar menurut saya cukup lengkap ya. Ada 2 botol air mineral lengkap dengan gelas. Tidak ada teko pemanas, tapi di sudut koridor samping mushola disediakan dispenser kok. Jadi kalau butuh air panas, tinggal ambil aja disana.

OYO Syariah Al Furqon Palembang
Kamar mandi

Oh iya, disini disediakan juga sajadah, mukena, dan Alquran. Mukenanya juga bersih. Saya jadi teringat saya pernah menginap semalam di hotel bintang di Lampung tapi lupa gak bawa mukena. Pas saya pinjam dengan petugas, dikasihnya mukena sudah agak lusuh dan menurut saya kurang pantas dipinjamkan ke tamu, hihi.

Baca juga : Review Hotel Asoka Luxury Bandarlampung

Di kamar juga tersedia telepon, tv, dan beberapa majalah sebagai bahan bacaan kala senggang. Sayangnya, saluran tv hanya sedikit (tidak ada saluran tv internasional) dan beberapa saluran tidak cerah, baik gambar maupun suaranya. Bagi saya gak terlalu masalah sih, mau nonton tv juga sudah dikuasai film kartun bocah-bocah. Untuk fasilitas internet seperti wifi, agak susah diakses kalau dari tempat tidur. Lebih lancar kalau saya duduk dekat pintu.

OYO Syariah Al Furqon Palembang
Tersedia dispenser air minum

Ada sedikit intermezzo ya, jadi saya minta tolong sama ponakan saya yang kelas 3 SD itu untuk minta password wifi karena saya sedang agak sibuk ngurus si bayi. Sekembalinya dia ke kamar, dia kasih secarik kertas yang sudah ditulis password disana. Karena tulisan tangan dan (mohon maaf ya) kurang begitu rapi, jadi saya harus berkali-kali mencobanya di ponsel atau di laptop. Susah bedain antara huruf L kecil atau I besar atau angka 1. Mana passwordnya itu gabungan huruf dan angka yang menurut saya seperti dibuat untuk ponsel pribadi, hehe.

Letak Strategis

Hotel ini memang terletak di jalan yang cukup ramai. Dekat juga dengan pusat perbelanjaan besar seperti PTC Mall, Lotte Mart, dan beberapa tempat makan. Kalau pagi mau cari sarapan memang harus jalan kaki sebentar sih. Ada penjual nasi uduk, tekwan gerobak, bubur kacang ijo keliling, sampai warung nasi prasmanan. Kalau untuk makan siang dan makan malam, bisa juga jalan agak jauhan ke food court di mall atau pesan lewat aplikasi. Intinya gak terlalu susah untuk sekadar cari makan atau cemilan.

Nah, kalau mau keluar jalan-jalan semisal ke jembatan Ampera dan sekitarnya itu, memang butuh lebih banyak waktu. Transportasinya bisa pakai angkot, bus transmusi, atau ojek online. Tapi, karena jalan di Palembang ramai ya jangan bete kalau ketemu macet.

Selama saya menginap 3 malam disana, pelayanan cukup baik. Petugasnya ramah dan membantu. Kamar juga dibersihkan dan dirapikan kalau memang kita minta. Mungkin karena konsepnya juga syariah ya, jadi saya merasa lebih nyaman dan merasa seperti di rumah sendiri saja. Over all, OYO Syariah Al Furqon ini memang berbeda dengan OYO yang pernah saya singgahi waktu di Bogor.

Baca juga : Review OYO Cemara Gading, Bogor

Baiklah, sepertinya ulasan saya cukup ya. Ada yang punya cerita lain di hotel Palembang? Untuk cerita jalan-jalan tipis selama di Palembang, saya tulis di postingan berikutnya aja. See you!

18 Februari 2020

Review OYO Cemara Gading

Iyeyyy ke Bogor lagi!!
oyo cemara gading #gengrebahan

Ini ke sekian kalinya saya ke Bogor, dan dengan rombongan yang berbeda lagi. Kali ini lebih lengkap karena memang ada acara yang dihadiri. Yup! Seperti yang sudah saya singgung sedikit di tulisan sebelumnya, saya sekeluarga menghadiri wisuda adik perempuan. Juga, seperti janji saya kemarin, saya akan ulas sedikit tempat menginap kami di Bogor.

Karena kami harus mampir ke Balaraja dulu, maka kami sampai di Bogor sudah siang. Matahari sudah tinggi, dan saat itu cuaca lumayan panas. Tapi lihat tugu Kujang, rasanya sudah senang. Sudah sampai Bogor! Haha. Tapi karena ambil gambarnya dari mobil, dan posisi saya duduk di belakang, ya begini deh hasilnya. Maaf ya, gak ada artistiknya sama sekali, hehe.

tugu kujang bogor
Tugu Kujang Bogor
Dari sini, kami langsung ke penginapan yang gak terlalu jauh dari kampus IPB. Mau makan siang dan istirahat dulu karena memang niatnya jalan-jalan tipis aja sore hari atau malamnya. Jadi KRB lewat deh, lagipula sebagian kami sudah beberapa kali masuk sana.

Gak terlalu sulit untuk sampai ke penginapan yang sudah kami pesan. Bangunannya persis dengan foto yang dipajang di agen online tempat kami pesan. Tempat parkirnya sempit sekali. Paling hanya bisa masuk 2 mobil pribadi dan beberapa motor. Aslinya sih ini seperti kosan gitu.

Kami disambut resepsionis yang dingin. Meja resepsionis juga hanya meja tulis biasa yang ditaruh di depan pintu masuk. Hanya ada seperangkat komputer disana dan beberapa buku dan nota. Di seberang meja resepsionis itu ada rak tempat penitipan helm. Proses check in juga simpel sekali. Saya cuma sebutkan nama dan pesanan, langsung dikasih kunci kamar. Agak heran juga sih, gak diminta KTP atau nomor telepon juga, tanda tangan juga gak. Mungkin resepsionisnya sudah percaya sama tampang saya yang gak mungkin orang jahat, wkwk.

Entah ya, apakah karena saya terbiasa dengan standar pelayanan yang sesuai prosedur di tempat saya bekerja dulu, atau memang disini tidak mengutamakan perihal seperti itu. Ya sudahlah, yang penting kami dapat kamar dan bisa istirahat.

Saya kelupaan mau ambil gambar meja resepsionis karena agak sibuk nurunin barang dan masukin ke kamar. Kami dapat kamar di lantai 2 dan sesuai pesanan, kamarnya deketan. Oh iya, setelah masuk pintu resepsionis itu, saya lihat di samping kanan ada dapur tapi disana tertulis “Bukan dapur umum”. Lalu, ada ruang agak lebar yang diisi dengan meja besar dan beberapa kursi. Mungkin ini tempat makan umum. Baru di samping kiri pintu masuk tadi, ada tangga menuju lantai atas. Tidak ada lift, jadi anggap saja olahraga sedikit ya, hehe.

Karena kami datang sudah lewat tengah hari, jadi wajar dong ya kalau saya berharap kamar sudah rapi, bersih, lengkap, pokoknya sudah siap ditempati lah. Tapi saya agak sedikit kecewa disini. Seperti biasa, saya cek seisi kamar. Mulai dari kamar mandi yang paling utama. Ternyata, kamar mandi gak sebersih yang saya pikir. Memang luas sih, lengkap ada toiletris juga. Tapi lantai dan dindingnya kotor. Yah, 1 point berkurang. Untungnya air panas masih berfungsi dengan baik.

oyo cemara gading
Kamar mandi
Balik ke kamar, saya cek tempat tidur. Tampilan luar sih oke ya tampaknya. Dua bantal dengan tambahan bantal kecil yang dibranding OYO, plus selendangnya juga. Tatanannya lumayan rapi. Tapi pas saya buka selimutnya, saya temukan beberapa helai rambut. Duh! Saya jadi bertanya-tanya, masa gak kelihatan begini ya pas bersihinnya? Yah, 2 point berkurang lagi.

OYO CEMARA GADING BOGOR
Tempat tidur dan wastafel, lengkap dengan cermin
Penampakan keseluruhan kamar biasa saja, sederhana dan gak banyak perabot. Di dalam kamar hanya ada tempat tidur, wastafel lengkap dengan cermin, tv, dan rak kecil di sudut ruangan. Gak ada lemari atau tempat tas. Minimalis banget pokoknya. Perlengkapan hanya toiletris dan handuk 1 buah per kamar, dan 2 botol air mineral. Tapi di kamar saya, gak ada. Pas saya tanya ke resepsionisnya, alasannya sedang habis dan akan diantar sore hari setelah stok ada. Dan sampai malam gak ada yang antar air minumnya, mungkin dia lupa. Ya sudahlah.

oyo cemara gading bogor
Interior di dalam kamar
Sebenarnya ini bisa lebih dioptimalkan lagi. Lokasi sudah oke, dekat kampus yang pastinya sering sekali ada acara besar dan ramai. Kalau mau lebih menarik sih, sebenarnya hanya tinggal penataan dan perabot kamar saja. Misalnya diganti dengan gaya minimalis yang lebih menarik, warna yang lebih sepadan dan yang paling utama adalah kebersihan. Area kamar mandi dan tempat tidur, karena dua area ini yang paling sering dipakai oleh tamu.

Koridor kamar, maaf ya ada penampakan ibu saya hehe

Juga, pelayanan. Saya pribadi sih sering merasa pelayananlah kunci utamanya. Kalau pelayanan sudah bagus, resepsionis dan staf penginapan ramah dengan tamu, hal-hal seperti kamar sempit, atau kelengkapan kamar lainnya jadi hal sepele yang tidak begitu diributkan. Padahal, sayang kan sudah dibranding dengan OYO tapi kurang maksimal untuk pelayanan dan kebersihannya. Oh iya, dari segi harga, kemarin pas kami kesana harganya sekitar Rp 200.000,-an/kamar. Keseluruhan, saya pribadi bisa kasih nilai 3/5 untuk penginapan ini. Oh iya, ini hanya penilaian pribadi saya ya. Mungkin kebetulan aja saya dapat kamar yang kurang bersih, gak tau kamar lain dan tamu lain.

Tapi, kami juga berterimakasih untuk staf OYO Cemara Gading atas insiden kecil pada malam kami menginap. Waktu itu, sepulang dari jalan-jalan tipis di sekitaran Bogor, kaki pak suami sempat tertusuk paku di area parkir. Tepatnya memang bukan area parkir karena malam itu ternyata parkir depan penginapan sudah penuh. Jadi, staf sana mengalihkan parkir mobil kami agak ke depan di pinggir jalan. Karena memang kondisi agak gelap dan kami gak tau kalau ternyata banyak papapn bekas dan paku yang berserakan. Untungnya luka di kaki pak suami gak terlalu dalam dan staf disana sangat sigap membantu. Membersihkan luka dan memberi obat. Kalau gak sigap, mungkin paginya gak bisa jalan-jalan, hehe.

Baiklah, daripada ngedumel melulu, saya dan ibu foto bareng aja deh di depan kamar.


Oke, cerita saya cukup sampai disini dulu ya. Tunggu review tempat menginap kami selanjutnya yang di Jakarta! Apakah kurang memuaskan juga seperti disini atau malah lebih baik? Di postingan selanjutnya ya! See u!

04 Oktober 2022

Aceh, Kota Wisata Impian Bareng Teman Hidup Traveloka

Halo!

Akhir tahun sudah tinggal beberapa bulan lagi ya. Biasanya aura untuk jalan-jalan dan staycation sudah mulai terasa. Jadi ingat dulu sebelum pandemi melanda, saya biasa merencanakan liburan akhir tahun. Berusaha untuk memberi penghargaan pada diri sendiri setelah satu tahun menggeluti rutinitas sehari-hari.

Yuk, Lihat Dunia Lagi Bareng Teman Hidup Traveloka
Yuk, Lihat Dunia Lagi Bareng Teman Hidup Traveloka

Tapi, dua tahun kemarin keadaan memaksa saya untuk tidak kemana-mana. Dalam artian, paling ya jalan-jalan tipis ajalah ke tempat yang dekat-dekat dan tidak keluar kota, apalagi keluar provinsi. Pokoknya jadi seperti gak bisa lihat dunia lagi, haha.

Alhamdulillah nih tahun ini pandemi sudah mulai mereda. Saya bisa menyusun lagi rencana jalan-jalan ke tempat wisata impian! Kamu mau ikutan juga? Yuk ah lihat dunia lagi, staycation lagi, liburan lagi, booking hotel murah lagi.

Aceh, Kota Wisata Impian


Jujurnya, saya punya mimpi untuk bisa berkeliling Indonesia dan menikmati keindahan alamnya. Tentu saja, sambil mencicipi kuliner yang banyak sekali macam ragamnya. Dari banyaknya kota di Indonesia, ada satu kota yang belum pernah saya kunjungi dan jadi semacam salah satu daftar kota wisata impian saya. Dimanakah itu? Aceh!

3 Alasan Untuk Berkunjung ke Aceh


Aceh. Salah satu daerah istimewa di Indonesia yang berada di paling ujung pulau Sumatera. Dikenal dengan Serambi Mekah, kota ini berhasil membuat saya punya setidaknya 3 alasan untuk mengunjunginya.

Wisata ke Aceh
Sumber foto : disbudpar.acehprov.go.id

1. Aceh, Kota Yang Belum Pernah Saya Kunjungi


Jelas, ini alasan pertama saya ingin sekali ke Aceh, hehe. Padahal saya tinggal di Lampung yang notabene sama-sama berada di pulau Sumatra. Tapi kok saya lebih banyak mengunjungi kota-kota di pulau Jawa?

Selama ini, saya hanya tahu Aceh lewat TV, media sosial, buku dan tulisan-tulisan di media cetak lainnya. Tari Saman yang memikat hati saya, lagu Bungong Jeumpa yang terngiang-ngiang di telinga saya, dan mie Aceh yang jadi jajanan favorit saya di Lampung rasanya sudah cukup untuk mengundang saya datang kesana.

Maka dari itu, kali ini Aceh akan menjadi daftar kota wisata impian saya bersama #temanhidup saya.

2. Aceh Punya Banyak Wisata Edukasi dan Wisata Pemandangan


Hal pertama yang terbersit di benak saya ketika menentukan tujuan wisata ke suatu daerah adalah mencari tempat wisata edukasi. Baik itu museum atau situs bersejarah lainnya, saya pastikan harus ada dalam daftar tempat yang akan dikunjungi.

Iya, saya memang suka museum. Bagi saya, museum punya daya tarik tersendiri untuk dikunjungi. Saya seperti diajak masuk ke lorong waktu untuk menyaksikan peristiwa bersejarah melalui benda-benda dan cerita yang ditinggalkan.

Wisata Edukasi di Aceh

Nah, Aceh sendiri punya banyak museum dan situs bersejarah yang bisa dikunjungi oleh wisatawan. Oh iya, karena saya fokuskan dulu di kota Banda Aceh, saya rangkum 4 museum yang ingin saya kunjungi ya.

Wisata Edukasi Aceh
Wisata Edukasi Aceh
(Sumber foto : disbudpar.acehprov.go.id)

  • Museum Tsunami Aceh

Museum pertama yang ingin saya kunjungi adalah Museum Tsunami Aceh. Siapa yang tidak ingat dengan peristiwa memilukan yang pernah terjadi di Aceh pada akhir tahun 2004 silam? Gempa bumi yang disusul dengan gelombang tsunami telah merenggut ratusan ribu jiwa dan memporak-porandakan kota Banda Aceh dan sekitarnya.

Untuk mengenang peristiwa itu, dibangunlah Museum Tsunami Aceh ini. Dari beberapa sumber yang saya baca, museum ini memamerkan potongan-potongan gambar kejadian saat itu. Peristiwa sebelum tsunami, saat terjadinya tsunami, dan setelah tsunami menerjang ada dalam diorama yang dipajang di ruang pamenya. Disini juga terdapat ruang pembelajaran seperti perpustakaan, alat peraga, ruang 4 dimensi, dan toko suvenir.

Museum ini terletak di Jl. Iskandar Muda, No. 3 Sukaramai Kec. Baiturrahman, Banda Aceh. Kalau saya lihat dari peta, sepertinya lokasi museum ini cukup mudah dijangkau. Harga tiketnya juga sangat ramah di kantong, berkisar antara Rp 3.000,- hingga Rp 15.000,- tergantung dari golongan pengunjungnya.

  • Museum PLTD Apung

Masih berkaitan dengan peristiwa tsunami Aceh, berdiri juga Museum PLTD Apung. Awalnya, museum ini merupakan kapal generator listrik milik PLN di Banda Aceh yang saat itu berada di Pelabuhan Ulee Lheue. Saat peristiwa tsunami, kapal ini terseret sejauh 5 km ke daratan.

Saat ini, museum PLTD Apung berlokasi di Punge Blang Cut, Banda Aceh, tidak jauh dari Museum Tsunami Aceh. Kalau mencari rute dari peta, jaraknya hanya sekitar 1 km dan dapat ditempuh dengan berkendara atau jalan kaki saja.

Untuk masuk ke museum ini tidak dipungut biaya alias gratis. Pengunjung hanya dikenakan biaya parkir sebesar Rp 3.000,- hingga Rp 5.000,- saja.

  • Museum Negeri Aceh

Tidak jauh dari Museum Tsunami Aceh, ada Museum Negeri Aceh. Museum ini berdiri pada tahun 1915 yang awalnya bernama Atjeh Museum.

Berlokasi di Jl. Sultan Mahmudsyah No. 10, Peuniti, Banda Aceh, museum ini setidaknya memiliki lebih dari 5.000 koleksi benda budaya dari berbagai jenis dan lebih dari 12.000 buku ilmu pengetahuan dengan berbagai judul.

Museum ini dibuka setiap hari kecuali hari libur nasional dengan tarif tiket mulai dari Rp 1.000,- hingga Rp 5.000,- tergantung kategori pengunjung.

  • Museum Rumah Cut Nyak Dien

Museum ini merupakan replika dari rumah Cut Nyak Dien yang dibakar habis oleh penjajah Belanda pada tahun 1800-an silam. Siapa yang tidak kenal dengan pahlawan wanita Cut Nyak Dien? Perjuangannya bersama rakyat Aceh melawan penjajah Belanda dapat dilihat dari foto-foto yang dipajang di museum ini.

Berada di Desa Lampisang Kec. Peukan Bada, Aceh Besar, museum Rumah Cut Nyak Dien dibuka setiap hari. Tidak ada tiket masuk tetapi ada kotak sumbangan untuk bisa diisi oleh pengunjung seikhlasnya.

Sebenarnya ada beberapa museum lain yang ada di Aceh. Tapi sayangnya terletak lumayan jauh dari kota Banda Aceh. Misalnya, Museum Kota Lhokseumawe, Museum Gayo, Museum Samudra Pasai, dan Museum Sabang. Jadi, mungkin butuh beberapa hari lagi menginap kalau ingin mengunjungi museum-museum ini.

Wisata Pemandangan Alam di Aceh

Selain wisata edukasi, Aceh juga punya wisata alam dan ikonik yang ingin sekali saya kunjungi. Beberapa tempat wisata itu masih berada di kota Banda Aceh sehingga masih bisa saya ikutkan dalam daftar kunjungan saya.

Wisata Pemandangan Aceh
Wisata Pemandangan Aceh
(Sumber foto : https://maa.acehprov.go.id/)


  • Masjid Raya Baiturrahman

Salah satu bangunan ikonik yang ada di Aceh adalah Masjid Baiturrahman. Masjid ini juga menjadi saksi bisu kedahsyatan gempa dan tsunami pada 18 tahun lalu.

Selama ini saya hanya bisa memandang kemegahan masjid ini dari gambar dan video saja, jadi rasanya saya harus melihat langsung dan tentu saja beribadah disana kalau mengunjungi kota Banda Aceh.

  • Nol Kilometer Banda Aceh

Berada di Gampong Pande, Kec. Kuta Raja Banda Aceh, saya penasaran sekali dengan tugu Titik Nol Kilometer Banda Aceh ini. Letaknya yang tidak terlalu jauh dari Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh ini, sepertinya bisa mempermudah saya untuk mengunjunginya.

  • Taman Putroe Phang dan Lapangan Blang Padang

Satu lagi tempat yang saya sukai saat berkunjung ke suatu kota adalah tempat terbukanya. Baik itu berupa taman kota atau alun-alun. Aceh juga punya tempat seperti ini, yaitu Taman Putroe Phang dan Lapangan Blang Padang.

Lokasinya masih di sekitaran Masjid Raya Baiturrahman, jadi cocok deh bisa satu paket perjalanan.

3. Kuliner Aceh Yang Eksotis


Siapa yang setuju kalau mengunjungi suatu tempat belum lengkap rasanya kalau belum mencicipinya kulinernya? Mari kita tos dulu.

Kuliner Aceh
Kuliner Aceh
(Sumber foto : https://rri.co.id/)
 
Indoneisa yang punya banyak kota dengan berbagai budaya, tentu saja punya banyak ragam kuliner juga. Tak terkecuali dengan Aceh. Salah satu kulinernya yang terkenal adalah Mie Aceh.

Selama ini, Mie Aceh memang jadi salah satu menu mie favorit saya. Untungnya di Lampung juga ada yang jual dan tidak terlalu sulit menemukannya. Tapi saya tidak tahu apakah rasanya akan sama dengan makan mie Aceh langsung dari kotanya.

Baca juga : Terpaut Peca Poblo di Hotel Sofyan Cut Mutia  

Selain Mie Aceh, saya juga penasaran dengan martabak Aceh dan kopi Aceh langsung dari kota asalnya. Haduh, membayangkannya saja, air liur sudah mengalir ini, hehe.

Akses Menuju Aceh


Ada beberapa moda transportasi yang bisa dipakai dari Lampung menuju ke Aceh. Tinggal pilih sesuai dengan kebutuhan dan dana yang ada.

Menggunakan pesawat sepertinya memang jalur yang paling cepat dan paling direkomendasikan. Tapi tetap saja harus transit dan berganti pesawat minimal 2 kali, yaitu ke Jakarta dan ke Medan, baru kemudian menuju Aceh.

Transportasi Ke Aceh
Transportasi Ke Aceh
 
Moda berikutnya yang bisa digunakan adalah melalui jalur darat. Naik kereta api menuju ke Palembang, kemudian dilanjutkan dengan naik bus ke Pekanbaru menuju Medan, dan disambung lagi naik bus menuju Banda Aceh. Perjalanan dengan moda transportasi ini setidaknya memakan waktu hingga 2 hari.

Alternatif berikutnya adalah melalui jalur laut. Tapi tetap harus menuju Jakarta terlebih dahulu ke pelabuhan Tanjung Priok untuk menumpang kapal fery menuju pelabuhan Belawan. Kemudian dilanjutkan dengan menaiki bus menuju Banda Aceh. Perjalanan ini memang terhitung lebih murah, tapi waktu yang ditempuh akan lebih lama.

Terakhir, menggunakan kendaran pribadi dari Lampung langsung menuju Banda Aceh. Waktu yang diperlukan memang lebih fleksibel ya tergantung kecepatan laju kendaraan dan berapa kali istirahat. Karena pasti tidak mungkin kan berjalan dari Lampung ke Aceh tanpa berhenti? Ini sama saja menjelajahi pulau Sumatra dari ujung ke ujung.

Akomodasi Selama Di Aceh


Ada beberapa hal yang saya pertimbangkan dalam memilih tempat menginap. Jarak hotel ke tempat wisata yang akan dituju, review dari pengunjung lain, dan alokasi dananya. Untungnya saya punya aplikasi yang sangat memudahkan untuk memilih tempat menginap sesuai dengan pertimbangan saya itu.

Booking Hotel Murah Di Traveloka


Setiap kali saya bepergian dan memerlukan tempat menginap, aplikasi pertama yang akan saya buka adalah Traveloka. Jujur, ini aplikasi paling gampang dan paling gak ribet soal booking hotel murah atau tiket transportasi.

Enaknya di Traveloka tuh, saya tinggal ketik kata kunci di pencarian hotel, dan nanti akan langsung muncul pilihan-pilihan hotel sesuai dengan kriteria yang saya pilih. Apakah yang jaraknya paling dekat, harga terendah, atau yang paling populer.

Booking hotel murah di Traveloka
Traveloka Superapp

Eh tapi, di Traveloka juga bukan Cuma bisa booking hotel murah dan booking tiket pesawat lho. Banyak hal yang bisa dieksplore dengan hanya satu apps. Butuh tiket untuk transportasi? Traveloka bisa cariin tiket pesawat, kereta api, bus, travel, rental mobil, antar jemput bandara, sampai JR Pass.

Butuh tempat menginap khusus untuk liburan? Traveloka punya yang namanya Holiday Stays. Butuh hiburan? Cari di bagian Traveloka Xperience. Kelaparan pas baru sampai di tempat menginap? Tenang, ada Traveloka Eats. Kehabisan kuota atau pulsa? Traveloka siap dengan layanan isi ulang kuota dan pulsa. Pokoknya mah, Traveloka itu superapps solusi kebutuhan lifestyle kamu!

Metode pembayarannya juga gampang banget dan bisa disesuaikan dengan kebutuhan. Soalnya, Traveloka menyediakan beberapa jenis pembayaran yang bisa dipilih sendiri oleh penggunanya. Ada Pay Later, Buy Now Stay Later, atau Bayar Saat Check In.

Harga yang ada di Traveloka ini juga hemat banget, apalagi kalau pesan lewat Traveloka Apps. Bakalan ada tambahan diskon untuk booking hotel dan tiket pesawatnya.

Baca juga : Bersiap Ambil Cuti, #JadiBisa Liburan  

Pilihan Hotel Di Banda Aceh


Balik lagi yuk untuk cari tempat penginapan saat tiba di Banda Aceh.

Ada beberapa hotel yang mungkin akan saya pilih sebagai tempat menginap kalau berkunjung ke Banda Aceh. Hotel-hotel ini saya pilih berdasarkan jarak ke tempat tujuan wisata, review pengunjung, dan alokasi dana nantinya.

Oh iya, saya jadikan Masjid Raya Baiturrahman sebagai titik pusat kunjungan saya, dan otomatis akan saya jadikan patokan untuk mencari tempat menginap di sekitar sana.

1. Hip Hope Hotel

Ini hotel yang muncul di urutan pertama dengan jarak yang paling dekat dengan Masjid Raya Baiturrahman. Hanya sekitar 300 meter dan itu berarti bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Hotel ini juga punya rating 8,7/10 yang saya simpulkan bahwa hotel ini cukup direkomendasikan sebagai pilihan tempat menginap.

Hip Hope Hotel
Hip Hope Hotel
(Sumber foto : Traveloka)

Kalau saya lihat foto-fotonya, kamar, lobi, dan ruangan lain tampak bersih dan rapi. Untuk hotel bintang 2 seperti Hip Hope Hotel ini dibandrol dengan harga mulai dari Rp 450.000,- per kamar per malam. Worth it sih menurut saya.

2. Plum Hotel

Hotel kedua yang jaraknya hanya sekitar 300 meter dari Masjid Raya Baiturrahman adalah Plum Hotel. Agak berbeda sedikit dari Hip Hope Hotel, Plum Hotel punya rating 8,1/10. Masih bisa lah sebagai alternatif tempat menginap yang murah meriah di tengah kota Banda Aceh.

Plum Hotel
Plum Hotel
(Sumber foto : Traveloka)

Fasilitas di hotel ini standar bintang 3. Dengan 3 tipe kamar, hotel ini dihargai mulai dari Rp 500.000,- per malamnya.

Baca juga : Pengungsi Elite di Asoka Luxury Hotel

3. Ayani Hotel

Pilihan ketiga untuk tempat menginap di sekitar Masjid Raya Baiturrahman adalah Ayani Hotel. Kali ini jaraknya agak lebih jauh sedikit, yaitu sekitar 500 meter. Masih sama dengan Plum Hotel, Ayani Hotel juga sudah standar bintang 3.

Ayani Hotel
Ayani Hotel
(Sumber foto : Traveloka)

Fasilitas di hotel ini cukup memadai, mulai dari sarapan gratis hingga antar jemput Bandara dengan tambahan biaya. Dengan 3 tipe kamar, hotel ini dihargai mulai dari Rp 591.000,- per kamar per malamnya.

4. Kyriad Hotel Muraya Aceh

Berbeda dari 3 hotel sebelumnya, Kyriad Hotel Muraya Aceh ini merupakan hotel bintang 4 yang fasilitasnya tentu lebih lengkap. Memiliki rating 8,6/10, saya kira hotel ini sudah bisa jadi rekomendasi sebagai tempat menginap kalau berkunjung kesana.

Kyriad Hotel Muraya Aceh
Kyriad Hotel Muraya Aceh
(Sumber foto : Traveloka)

Jarak dari Masjid Raya Baiturrahman juga tidak terlalu jauh kok, sekitar 700 meter yang artinya masih bisa lah ditempuh dengan berjalan kaki. Hitung-hitung sambil olahraga, hehe. Harga per kamar di hotel ini dibandrol mulai dari Rp 950.000,- per malamnya.

Itu dia, destinasi wisata dan tempat menginap impian saya tahun ini. Duh, sambil nulis ini aja saya sudah kebayang gimana bahagianya saya kalau staycation ini beneran terwujud dan bukan sekadar wacana. Sekali lagi nih saya ajakin kamu untuk “Yuk #LihatDuniaLagi dan bikin #StaycationJadi dengan Traveloka! Langsung meluncur ya ke Traveloka lewat link ini! https://trv.lk/kompetisi-lihatdunialagi-bloggerperempuan



Referensi :
http://museumaceh.com/
https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2020/02/rumah-cut-nyak-dhien-simbol-perjuangan-rakyat-aceh-melawan-belanda
https://disbudpar.acehprov.go.id/ 
https://www.rome2rio.com/map/Lampung/Banda-Aceh