Halaman

20 Juni 2019

Keliling Monas Bawa Buntelan

Jakarta, We're Coming! Part #1

Tulisan ini sebenarnya adalah sambungan dari tulisan pertama yang sudah lama diposting. Biar ingatannya kembali, bisa baca tulisan pertama disini ya!


Oke, kita lanjut ke postingan selanjutnya ya. Kemarin, saya kasih prolog yang terlalu panjang sampai jadi postingan penuh, hehe. Sekarang postingan inti dari jalan-jalan itu (halah, apa sih!).

Hari pertama di Jakarta

Sebenarnya saya sudah beberapa kali ke Jakarta, tapi baru kali ini ke Jakarta sendiri tanpa rombongan. Untungnya ada aplikasi online yang memudahkan untuk bisa jalan-jalan sendiri, seperti google map atau ojek online. Insyaallah gak tersesat deh.

Jadi, selepas kami solat Subuh di stasiun Gambir dan menunggu agak terangan, berangkatlah kami menuju Monas. Jalan kaki aja karena hitung-hitung sambil olahraga. Monas masih agak sepi dari pengunjung yang seperti kami (bawa ransel dan buntelan makanan, haha). Lainnya, petugas kebersihan, penjaga pintu masuk, dan orang-orang yang berolahraga pagi, serta beberapa anggota brimob (yang belakangan nanti kami tahu rupanya akan ada acara di siang harinya).

Rombongan brimob yang kami lihat dari atas cawan Monas
Kami cuek aja jalan kesana kemari menikmati matahari pagi di pelataran dan taman Monas. Sesekali foto-foto dan duduk di bangku taman yang masih basah oleh hujan semalam dan embun pagi. Tiba-tiba saja kami merasa sudah berjalan jauh dari pintu 1 ke pintu 3, artinya sudah hampir mengelilingi pelatarannya. Waktu itu masih pukul 07.00 pagi.


Ini jepretan ke sekian kalinya dari Mamas (sebelumnya hasilnya meleset mulu, wkwk)
Niatnya saya ingin ke puncak Monas karena dua tahun lalu ke Monas gak berhasil masuk ke puncaknya. Ceritanya ada disini. Jadi, kali ini saya ingin mengulangi antrian lagi. Karena waktu itu tiket belum buka, jadi kami cari sarapan dulu di area food court dekat pintu masuk. Sebenarnya gak begitu lapar karena pas di stasiun tadi saya sempat makan buah pir sebiji (walaupun jalan-jalan masih keingetan makan buah sehat haha). Di area food court yang belum semua buka, kami kelilingi satu-satu. Hampir rata-rata jualan bakso, nasi goreng, nasi rames, dan makanan berat pada umumnya. Yah, pada akhirnya kami duduk di depan salah satu kios dan saya pesan soto betawi, sedangkan si mamas pesan bakso telur. Ini pagi-pagi makanannya berat kali, haha.

Santai di pagi yang sejuk
Pas balik lagi ke area Monas, kereta yang mengangkut penumpang menuju Monas sudah ada. Saya dan mamas langsung deh naik. Bagi yang belum pernah ke Monas, kereta ini gratis bagi penumpang yang memang mau menuju puncak dan museum yang ada di Monas. Lumayan gak cape balik ke tengah-tengah sana lagi.

Oh iya, pas saya antri mau beli tiketnya, saya teringat masih punya kartu Jackcard. Sebenarnya saya gak terlalu paham soal kartu itu, ternyata masih bisa dipakai dan masih ada saldonya! Haha, untung gak saya buang waktu itu. Ternyata antrean sudah panjang sekali dan saya lihat jam sudah sekitar jam 09.00 (kami terlewat jam buka karena sarapan tadi), jadi rasa-rasanya kami tidak bisa ke puncak lagi. Saya juga sempat tanya dengan petugas kira-kira antreannya sudah sepanjang apa, dan jawabannya seperti yang saya duga. Sudah banyak, katanya. Waktu itu hari Jumat, makanya kami nngejar waktu biar si mamas bisa tetap solat Jumat. Jadi ya sudahlah, kami naik ke cawan saja.

Dan benar, setelah kami sampai ke pintu Monas, antrian di depan lift menuju puncak, sudah banyak. Jadi, okelah kali ini gagal lagi. Mudah-mudahan saya bisa kesini lagi dan berhasil menuju puncak Monas!

Untuk menuju ke cawan gak perlu naik lift. Hanya jalan saja menaiki tangga yang lumayan banyak. Lumayan membuang kalori untuk yang pengen kurusan. Sempet ngos-ngosan karena naik tangga sambil bawa ransel dan buntelan. Tapi pemandangan dari cawan cukup lega.

Pemandangan dari atas cawan
Di atas cawan, aslinya kalau siang pasti panas terik banget disini
Saya mencoba mendongak ke arah puncak monas dari cawan ini. Wow! Rasanya telapak tangan saya langsung berkeringat. Saya memang begitu, meilhat gedung atau atap yang tinggi malah membuat saya pusing dan langsung berkeringat dingin. Begitu tingginya sampai saya tidak bisa melihat puncaknya dari bawah sini.

Dari atas cawan ini juga saya bisa melihat rombongan brimob yang tadi saya lihat berkeliaran di sekitar Monas. Beberapa pasukan yang bergabung di barisan itu seperti rombongan tanaman hias yang berwarna-warna karena warna baretnya berbeda-beda. Saya mengambil beberapa foto diri disini, juga di depan Museum Kemerdekaan yang waktu itu sudah pernah kami masuki, jadi kami tidak banyak meluangkan waktu disana lagi. Sekitar pukul 10.30, kami berniat untuk menuju hotel karena badan sudah terasa gak karuan. Panas, berkeringat, dan tampak lusuh, hehe.

Relief di bagian luar Monas
Sampai di hotel, kamar kami belum siap. Ya sudahlah, menunggu di lobi sambil mengantuk dan gak ada yang ingin saya lakukan lagi karena sudah cape. Efek belum mandi juga sih, jadi males mau ngapa-ngapain lagi, ditambah masih bawa-bawa ransel dan buntelan itu.  Saya melihat lagi tempat-tempat yang ingin saya kunjungi di catatan saya. Masih banyak lah! Masjid Cut Mutia, Taman Suropati, Museum Sumpah Pemuda, Museum Kebangkitan Nasional, Planetarium, dll.

OOO

Sepulang Mamas Jumatan, kamar kami baru siap. Kami dapat kamar di lantai 2. Kamarnya sesuai pesanan kami, 1 bed besar. Untuk bahasan hotelnya, di postingan selanjutnya aja ya. Di sela obrolan kami, saya lihat masjid di seberang dan ternyata itu masjid Cut Mutia! Masjid yang ada dalam daftar tempat kunjungan saya, yang tadi si mamas pun solat Jumat disana. Oh, ya ampun ternyata dekat sekali ya!

Selepas kami beristirahat sebentar, kami berencana untuk jalan-jalan ke sekitar hotel. Jalan kaki saja karena saya sempat tanya sama petugas hotel, katanya taman Suropati dekat dan bisa ditempuh dengan jalan kaki. Pertama, kami kunjungi masjid Cut Mutia dulu. Masjid ini dulunya dibangun pada era pemerintahan Belanda. Makanya bentuknya gak seperti masjid pada umumnya, lebih seperti bangunan tua era Belanda. Kalau masuk ke dalam malah lebih terasa lagi. Arah kiblatnya agak menyerong dari bangunan aslinya (awalnya si mamas yang bertanya-tanya, kok ini bangunan masjid nanggung amat buatnya gak sekalian ngikut arah kiblat). 

Bahkan, sebelum dijadikan masjid, bangunan ini pernah difungsikan sebagai kantor pos, kantor Jawatan Kereta Api Belanda, kantor angkatan laut Jepang, dan kantor urusan agama. Baru pada era pemerintahan Gubernur Ali Sadikin, bangunan ini diresmikan menjadi masjid tingkat provinsi.

Tampak depan Masjid Cut Mutia
Di sekitar masjid ini, banyak penjual makanan dan ada pasar tumpah juga yang menjual aneka macam barang-barang sepert sepatu, tas, sandal dan lain-lain. Kami mampir jajan di salah satu emperan. Coba ketoprak jakarta, haha. Kebetulan juga belum makan siang kan. Harganya Rp 18.000,-/porsi, lebih mahal dari harga rata-rata ketoprak di Lampung yang Cuma kisaran Rp12.000,- -Rp13.000,-an. Tapi enak dan kenyang banget! Kami lanjut jalan kaki menuju Taman Suropati.

Ketoprak Jakarta
Eh tapiii.. baru beberapa jauh dari Masjid Cut Mutia, tepatnya melewati fly over pertigaan Jl. Teuku Umar, hujan mulai rintik-rintik. Eng ing eng! “Balik aja.” Kata si mamas. Dan benar. Begitu kami melangkah balik arah, hujan langsung turun! Alhasil, kami berteduh di bawah fly over dekat pos polisi, haha. Lumayan lama berteduh disana sampai hujan rintik-rintik dan kami rasa bisa kami terobos walaupun basah sedikit.

Tidak jadi ke Taman Suropati malah membawa takdir yang lebih baik. Selagi kami menunggu kamar siap siang tadi, saya coba bikin kejutan kecil pada Manajer saya dulu waktu masih di Sofyan Hotel Bandara Lampung. Saya kirim foto saya bareng suami di lobi hotel yang pasti sudah ia kenal. Dan benar ia ingin mampir kalau nanti berkesempatan. Sesaat setelah kami sampai di hotel, ia yang saya kirimi foto kejutan tadi datang. Wah, rasanya seperti momen reuni yang luar biasa.

Cerita sedikit, ia bernama pak Suwandi. Dulu, manajer hotel Sofyan Bandara Lampung yang saya juga bekerja disana. Karena ada pergantian manajemen dari pihak pemilik, maka dengan terpaksa, ia ditarik kembali ke Jakarta dan kami pun berpisah dengan momen yang sangat mengharukan. Hampir seluruh karyawan dan karyawati menangis saat perpisahaan dengannya.

Bagaimana tidak, ia seperti seorang bapak yang begitu sayang kepada anak-anaknya. Saya yang tidak tahu apa-apa, diajari dengan telaten. Tidak cuma dalam hal pekerjaan, ia juga dekat dengan kami semua diluar itu. Begitu seringnya kami berkumpul di rumah salah satu teman kami, sekadar makan atau ngopi bersama. Bergantian antara rumah saya dan teman-teman lain. Sampai orang tua kami pun rasanya kenal dengan dengannya. Maka tak heran, kalau sampai kami bertemu kemarin pun, ia selalu tanya kabar orang tua saya.

Obrolan kemarin pun kami seperti bernostalgia. Tidak jarang juga ia menyelipkan banyak tips dan langkah-langkah promosi hotel pada saya. Jadi, dalam kepala saya juga penuh dengan inspirasi yang akan saya aplikasikan di tempat kerja saya. Rasanya tuh jadi semangat dan berenergi lagi, hehe.

Nostalgia dengan Pak Suwandi
Senyum bahagia ketemu sahabat lama
OOO

Selepas magrib, kami gak kemana-mana karena diluar pun masih ada sisa gerimis. Oh iya, karena kami masih punya voucher makan malam di resto hotelnya, jadi kami makan malam disana aja. Hm, bagaimana kesan makan malamnya? Tunggu cerita saya selanjutnya ya!

Baca juga : Warung Makan Favorit Saya Di Lampung

6 komentar:

Dyah mengatakan...

Ah... sudah bisa ditebak nih, nginepnya di mana. Dekat TIM dong. Saya suka jalan-jalan di sekitaran Menteng tuh. Bisa jalan kaki dari Gedung Joang 45 sampai Museum Proklamasi, pasti lewat Masjid Cut Mutia.

Laela Awalia mengatakan...

oh iya kah mb Dyah? Saya baru pertama kali kesana kemarin, jadi kemana-mana andalannya taxi online, haha.

btw, hotelnya bisa ditebak ya? legendaris sih icon di dalam lobinya ya hehe

Riska Naura mengatakan...

Wah jauh2 dari lampung ya mba...saya yg dekat aja belum pernah keliling jakarta hehe

Laela Awalia mengatakan...

iya mba Riska, baru ke beberapa tempat aja kok, belum semua dikelilingi hehe.. Sini mba sekali-kali ke Lampung juga :)

Essen Ikan Bawal mengatakan...

Thanks for sharing mba,.

Laela Awalia mengatakan...

Sama2, mba Essen.. Terimakasih sudah berkunjung ke blog ini :)