Halaman

07 April 2014

SURAT UNTUK R

Apa kabar kakak? Kaget kah dengan datangnya surat ini di hadapanmu? Padahal ini sudah tidak jamannya main surat-suratan. Ini kan jamannya berkicau dan mencoreti dinding. Lupakan sejenak ketidakjamanan itu sekarang, karena yang ada adalah suratku untuk kakak.

Kakak yang lembut hatinya. Aku tulis surat ini hanya untuk memenuhi keinginanku saja. Bahwa aku ingin berkomunikasi denganmu. Agak terasa aneh memang, mengingat kita tidak sering bicara. Aku hanya pernah melihatmu sekali dan sekilas. Aku yakin kau ingat dan mengingatnya sampai sekarang. Lebaran, tiga tahun lalu. Aku datang kerumahmu dengan adik laki-lakimu. Waktu itu, aku sama sekali masih asing denganmu, dengan keluargamu. Aku hanya tahu kakak dari adik laki-lakimu. Bahwa kau seorang kakak perempuan yang masih tinggal di rumah. Kakak-kakak lainnya sudah berpencar kemana-mana.

Aku tak ingat wajahmu, sungguh, karena waktu itu aku hanya melihatmu sekilas saja. Itu pun karena tak sengaja berpapasan denganku di ruang makan. Kau ingat, aku mengajakmu ikut makan ketika ibumu menyuguhkanku makan siang. Tapi kau menggeleng. Lalu kembali diam menatap halaman. Kau pendiam, bagiku waktu itu.

Ah, itu sedikit kesan pertama yang kutangkap tentangmu. Sekali aku ke rumahmu, lalu kedua kali. Kau berbeda. Aku tak tahu kau ada di belakang ketika aku ingin ke kamar kecil di rumahmu. Tapi tiba-tiba kau masuk ke kamarmu, membanting pintu dan menguncinya dengan kasar. Aku sempat terkejut. Apa kau begitu pemalu hingga tak ingin terlihat olehku? Atau kedatanganku telah mengganggumu waktu itu? Aku berusaha menenangkan diri, berfikir positif, dan tetap tersenyum meski dalam hati aku terus bertanya, ada apa denganmu?

Ketiga kali aku datang ke rumahmu. Kau tak mau keluar juga. Padahal hari itu hari raya, dimana semua kakak-kakakmu keluar menemuiku. Aku merasa hangat di  tengah keluarga besarmu. Mereka menyambutku ramah, setidaknya menurutku sendiri. Tapi dimana kau, kakak? Kau masih malu bertemu denganku? Atau lagi-lagi aku mengganggumu?

Rupanya pertanyaanku itu terjawab setelah adik laki-lakimu bercerita padaku. Kau tak ingin aku lebih dekat dengan adik laki-lakimu. Kau takut kulangkahi.

Aku menghela nafas panjang. Kau tahu kenapa? Karena aku dan kau adalah sama. Kita perempuan, kita seorang kakak, kita punya perasaan lebih dominan daripada logika. Dan benar-benar sama dalam satu situasi.

Entah kau sudah dengar atau belum sedikit tentang aku. Aku seorang perempuan biasa dengan empat orang adik. Dua orang adik laki-laki, dan dua orang adik perempuan. Aku tidak hendak curhat tentang beban fikiran yang kualami sebagai seorang kakak pertama, tapi aku hanya ingin kau pun tahu apa yang ada di fikiranku.

Ingat kau tak ingin aku melangkahimu. Sebenarnya kita sama. Benar-benar sama. Dulu, aku pun tak ingin dilangkahi. Aku seorang kakak perempuan. Dilangkahi berarti memberi izin untuk orang lain menganggapku sebagai gadis yang kurang ‘laku’ dibandingkan adiknya. Aku tak ingin itu terjadi.

Tapi nyatanya tidak demikian. Aku dilangkahi. Kau tahu bagaimana perasaanku ketika itu? Sakit. Kenapa hidup ini tak adil padaku? Aku yang dilahirkan lebih dulu, tapi adikku yang menikah lebih dulu. Berita itu terasa seperti petir di siang hari. Ingin benar aku tak menerima, tapi apakah mungkin? Sementara aku meyakini rukun iman tentang takdir. Bahwa kelahiran, kematian, rezeki, dan jodoh itu sepenuhnya kuasa Sang Pemilik alam semesta.

Aku ditanya apakah aku ikhlas? Apakah aku ridho? Aku jawab ya dengan secepat yang aku bisa. Tapi apa kau tahu di dalam hatiku menangis secepat itu pula? Aku dilangkahi. Benar-benar dilangkahi. Hari-hari terasa begitu penat menjelang akad nikah. Semua dipersiapkan. Tenda, kursi, undangan, baju pengantin, kue-kue. Aku tersenyum sebiasa mungkin pada semua kerabat yang membantu di rumah. Tersenyum seceria mungkin ketika sebagian besar mereka bilang aku dilangkahi.

Dalam diam, aku mencoba sekuat mungkin untuk tegar. Tidak menangis. Untuk apa juga aku menangis? Untuk aku sendiri? Bukankah aku sudah yakin semua ada takdirnya masing-masing? Dan salah satunya adalah jodoh ini. Rupanya jodoh adikku sudah datang lebih dulu daripada aku. Mengingat itu, air mataku tak jadi meleleh. Tapi rasanya sakit tenggorokanku ketika menahan agar air mata ini tak mengalir.

Hingga hari itu tiba. Di sampingku ada adik perempuanku yang akan menikah. Kau tahu pandangan kerabat dan tetanggaku? Semua melihat ke arahku. Seperti membandingkan aku dengan adik perempuanku. Mungkin aku tidak lebih menarik dari adikku sehingga aku belum ‘laku’. Atau mungkin aku tidak lebih terkenal dari adikku sehingga tak ada laki-laki yang mendekatiku. Entahlah.

Tapi akad itu berjalan juga. Aku menguatkan hati, menahan agar air mataku tak terurai. Dan aku bisa. Ketika selesai, saudara-saudara dari orangtuaku lah yang seolah menepuk pundakku dan berbisik, ‘sabar ya, semoga jodohmu dekat’. Rasanya aku jadi debu yang luruh ketika itu.

Aku memandang sepasang pengantin dari kursi tamu dengan perasaan aneh. Aku dilangkahi, dan aku masih baik-baik saja tuh! Memang orang-orang memandangku seperti kasihan denganku, tapi ah mungkin itu hanya perasaanku saja. Dan buktinya aku bisa melewati itu semua.

Dan sekarang aku dihadapkan pada situasi dimana aku menjadi seorang adik yang akan melangkahi kakak perempuannya. Aku benar-benar tahu rasanya sebab aku sudah mengalaminya. Dan kau tak mau.
Sedih. Itu hal pertama yang aku rasakan ketika kau bilang tidak mau. Tapi aku mengerti. Aku sudah pernah mengalaminya, ingat. Tapi apakah kau tak bisa melewatinya seperti aku bisa melewatinya dulu? Mungkin kau memang punya alasan tersendiri perihal tak maunya kau dilangkahi, tapi apakah begitu beratnya?

Aku sudah melewati tahun-tahun dimana orang-orang yang bertemu denganku selalu bertanya, kapan menyusul adikku. Aku melewatinya dengan air mata diam-diam. Aku tak ingin orang lain tahu bahwa aku sebenarnya begitu tersiksa dengan pertanyaan mereka. Kalau saja aku bisa menjawabnya dengan kepastian semisal esok lusa atau bulan depan, mungkin aku akan melewatinya dengan gembira. Tapi sayangnya aku pun tak tahu kapan aku akan menikah. Terlebih lagi, kau tak ingin kulangkahi.

Bagaimanapun juga kau kakakku. Aku menghormatimu karena kau lebih tua dariku. Aku pun tak ingin kau mengalami hal yang sama denganku. Tapi apakah aku harus kembali mengalah untuk kedua kalinya? Alangkah kasihannya aku kalau begitu.

Kau bilang aku dan keluargamu tak mengerti perasaanmu. Benarkah begitu? Aku ingin kau fikirkan lagi pertanyaanmu. Seandainya kami tak memikirkan perasaanmu, pasti kami sudah melangsungkan pernikahan kami tanpa peduli denganmu, tanpa bicara padamu, tanpa meminta pendapatmu. Justru karena kami peduli dengan perasaanmu, maka kami ingin berkomunikasi denganmu. Tapi kau mengelak. Selalu dan selalu.
Kami ingin berembuk denganmu karena kami menyayangi dan menghormatimu. Kami tak ingin bahagia sementara kau merasa terluka dan tersakiti. Adakah berkah pada kami ketika kau tak ridho dengan jalan kami.

Kami hanya ingin berdamai dengan hatimu, kakak.

Ah, sudah ya. Sudah terlalu panjang surat ini. Maaf kalau membuatmu mengantuk saat membacanya karena terlalu panjang.

Salam,
Adikmu

1 komentar:

Akhmad Baiquni mengatakan...

Waduh, ingatlah Allah maka tenanglah hati, klo kata Quran. Tp saya jg sering galau sih huhu