14 Agustus 2014

Sesuatu Yang Ganjil

...Hello...

Dalam versi novel dan film :
~Dear, you... apa kita tetap bisa bersama? Selamanya?~
~Aku begitu menyukaimu. Sungguh menyukaimu~
~Apa kau suka aku?~
~Apa kau juga ingin terus bersamaku?~

Dalam versi nyata :
Nyatanya sebagian dari kita (khususnya perempuan) telah terlalu berimajinasi seperti film-film romantis atau novel-novel cinta. Apa keromantisan itu nyata? Atau, adakah kisah dalam novel cinta itu ada di dunia nyata?

Nyatanya, tidak pernah ada laki-laki tampan dan paling diincar oleh banyak perempuan di sekolahnya, jatuh cinta pada perempuan yang terlihat bodoh dan jelek. Tidak pernah ada perempuan biasa yang bisa mendapatkan perhatian khusus dari sekelompok laki-laki kaya –ingat film F4, BBF, dsb-  seperti itu lah. Hehe.

Tapi kenapa sebagian perempuan itu suka sekali dengan film-film seperti itu? apa mereka berimajinasi sendiri seolah mereka berada di posisinya? –ini akibat nyatanya tidak seperti itu, mungkin- atau apa mereka bisa menunjukkan pada kekasihnya bahwa yang seperti itulah yang disebut romantis? Entahlah.

Sesuatu yang ganjil. Sudah tau tidak akan pernah ada yang seperti itu, tapi masih tetap saja menggebu-gebu ketika film diputar. Perasaan yang ganjil. Perasaan yang aneh. Tapi, tidak bisa dipungkiri aku pun suka dengan film-film seperti itu. novel-novel yang seperti itu :D

08 Agustus 2014

MANTRA KEMBALI

: fa

Rasanya aku merindukanmu, fa
Rasanya kehilangan ini semakin menjadi
Aku begitu ingat dulu ketika kita masih jadi pengembara dalam rimba kata-kata
Kau selalu menertawakan puisiku
Aku selalu mempertanyakan sajakmu
Lalu kita sama-sama diam
Mengheningkan suasana

Apakah kita saling jatuh cinta, fa?

Aku merasa sendiri disini
Saat kutahu kau menemui Palembang lagi, dan saat kata-katamu kau tebarkan bersama puisi
“tak ada lagi teman”
Mengapa aku merasa seperti kamu?


Pikiranku melayang lagi ke waktu yang lalu
Palembang
Puisi
Guguran daun
Rianaian hujan
tawa
patah hati

seperti puzzle aku menyusun ulang kepingan-kepingan itu
jadi satu
dan aku begitu terpana
puzzle jadi satu mantra
kembalilah, fa
maka aku pun kan kembali
kita sama-sama kembali
jadi puisi
jadi guguran daun
jadi rinaian hujan
jadi galaksi dengan berjuta bintang

                                                                                                                                Natar, 18 Maret 2014

07 Agustus 2014

Gak Mood

Kedua kalinya, aku bicara seperti ini. Untuk suatu alasan tertentu, aku tidak mood. Tidak mood ini berimbas pada semangat kerja yang akhirnya berkurang juga. Akibatnya aku tidak bisa fokus pada pekerjaan yang tengah menanti.

Rasanya seperti tertimbun tanah, pengap udara meski ruangan berpendingin. Seperti tertekan batu, pikiran bumpet tak ada yang mengalir. Agaknya memang kurang pas di awalnya. Belum mengerti mungkin, atau sebenarnya mengerti tapi belum menguasai. Dan untuk menguasai, teorinya gampang. Belajar dari e-book. Teorinya, mengalir begitu saja dari mulut ke mulut. Dari perintah ke perintah. Dari ‘harusnya begini’ ke ‘harusnya begitu’.

Gak mood menyerang kembali. Menggerogoti sisa semangat meski masih pagi. Entahlah. Apa masih pantas berada disini? Atau karena memang belum ada yang datang mengganti?

Gak kondusif. Aku sadar, lama-lama aku bisa semakin menciut disini.