Halaman

05 Agustus 2014

SEANDAINYA

Apa yang kau tahu tentang sebuah ‘seandainya’? apakah hanya sebuah kata tanpa makna?
Jujur, aku membenci kata ‘seandainya’. Seperti sebuah penyesalan yang tanpa alasan. Seperti sebuah ketidaksukaan terhadap hal-hal yang telah atau belum didapatkan. Seperti sebuah pertengkaran yang tak selesai dan hanya meninggalkan ketidakjelasan.

~Seandainya aku tidak pergi, mungkin kami masih bersama~
; penyesalan tanpa alasan. Kenyataannya sudah pergi dan berpisah –mungkin. Atau mungkin saja ketika memang tidak pergi, tetap tidak bisa bersama dengan alasan dan keadaan lain.

~Seandainya aku cantik, mungkin dia mencintaiku~
; ketidaksukaan pada hal yang tidak didapatkan. Kenyataannya, apakah cinta bisa didapat hanya dengan kecantikan? Hellooo... berfikirlah.

~Seandainya aku tidak bertemu dia~
; lalu, kau bertemu dengan dia yang lain, yang bisa membencimu lebih lama, atau dia yang lain, yang ternyata sangat menyayangimu, dan lain lain, dan lain lain.

Seandainya...
Apa kau percaya takdir? Bertemu, berpisah. Datang, pergi. Mencintai, membenci. Menerima, menolak. Dua sisi yang selalu saling berlawanan.

Seandainya...
Tidak. Semua sudah diatur. Semua sudah ada skenarionya.

Tapi mungkin, ‘seandainya’ itu bisa jadi untuk menegaskan kita bahwa apapun yang kita dapatkan, apapun yang kita alami, apapun yang terjadi pada kita, itu semua memang sudah dituliskan ketika kita telah berusaha sekuat mungkin.

Dan ‘seandainya’ tampak seperti sebuah lamunan tanpa ujung yang mungkin bisa menjerumuskan manusia normal ke dalam alam bawah sadar. Mengevaluasi diri, mungkin.


Entahlah.

Bersungguh-sungguhlah dalam hal-hal yang bermanfaat bagimu dan mohonlah pertolongan kepada Allah (dalam segala urusan), serta janganlah sekali-kali kamu bersikap lemah. Jika kamu tertimpa sesuatu (kegagalan), maka janganlah kamu mengatakan, ‘seandainya aku berbuat demikian, pastilah tidak akan begini atau begitu’. Tetapi katakanlah, ‘ini telah ditakdirkan oleh Allah dan Allah berbuat sesuai dengan apa yang dikehendaki’. Karena sesungguhnya perkataan seandainya akan membuka (pintu) perbuatan setan”. (HR. Muslim no. 2664)

Tidak ada komentar: