21 Agustus 2014

Pertemuan yang Berjodoh #versi tiga orang perempuan


Haha, hanya ingin menuliskan sebuah catatan kecil yang memang gak berharap terlalu muluk untuk dibaca orang sih. Hanya saja, sepertinya kalau sudah bertemu dengan teman lama dan tidak menuliskan apa yang terjadi, rasanya tetap ada yang kurang.

Jadi, pertemuan ini sebenarnya tidak terlalu direncanakan. Awalnya dari pembicaraan lewat telepon, kangen karena sudah lama sekali tidak bertemu, dan momennya pas banget masih di bulan Syawal. Akhirnya muncul ide untuk kumpul bareng di suatu tempat. Nah untuk mengumpulkan orang-orang yang memang sudah tercerai berai itu, gak gampang. Kami tag di media sosial siapa aja yang bisa hadir. Tanggapannya positif, ada yang bisa dateng, ada yang diusahakan dateng, ada yang gak bisa dateng dengan alasan punya bayi (hwaa? Jadi si baby penghalang gitu?!)
Hanya aku yang belum menikah, hiks!
Well, memang gak banyak yang bisa hadir, Cuma ada empat orang perempuan (yang membuat FLP kadang disebut Forum Lingkar Perempuan, hehe). Sudah menikah semua kecuali aku, hiks! They are... Mbak Ira, Mbak Ika, and Mbak Elia (Mbak Elia dateng telat banget, malah sudah mau pulang baru dateng, tapi masih untung bisa ketemu). Kata mereka, rela gak bawa suami demi kumpul (suami Cuma antar jemput, hoho).
Oke, kami bernostalgila, karena memang bukan membahas masa-masa kami ketika pertama kali bertemu. Kami lebih membahas tentang kesibukan kami sekarang, tentu saja ujung-ujungnya kabar tentang bagaimana bisa aku belum menikah sampai sekarang? :’(

Lalu merembetlah kisah bagaimana mereka menemukan belahan hati mereka masing-masing. Dan beginilah ceritanya (aku tidak akan menyebutkan nama mereka, privacy right? Haha).

Perempuan pertama :
Mereka satu fakultas, tapi beda jurusan. Awalnya memang tdak terlalu kenal, hanya tahu saja. Pertemuan hanya terbatas beberapa kali saja, itu pun pada acara tertentu saja. Suatu ketika, mereka bertemu kembali pada acara pelatihan. Saling bertegur sapa, bertukar nomor ponsel, dan ternyata dipertemukan kembali si suatu tempat dan di suatu waktu. Insiden tiga pasang alas kaki pun masih teringat jelas di benak sang perempuan. Mungkin itu awal dari sebuah keterikatan yang berujung pada sebuah komitmen di atas nama Sang Pencipta.

Perempuan ke dua :
Ada yang bilang, jodoh itu tidak akan lari kemana, tidak akan tertukar, dan akan bersatu meski banyak yang mencoba mengecohnya. Sepertinya ini cocok untuk menggambarkan perempuan satu ini. Sang laki-laki yang kini sudah menjadi suaminya, ternyata adalah penggemar rahasianya. Bertemu sejak masih duduk di bangku SMP, hingga menjadi mahasiswa, tidak satu kali pun ia menyatakan perasaannya, tidak juga mendekati perempuan lain. Di sisi lain, sang perempuan –pasti sudah diatur oleh Sang Pencipta- tidak pernah menerima pinangan dari laki-laki lain meski sudah acap kali ingin diminta oleh sang arjuna. Dan pada akhirnya, pertemuan dengan keluarga pun berujung pada akad di suatu waktu, beberapa tahun yang lalu.

Perempuan ke tiga :
 Jodoh itu bisa ketemu di mana saja. Tetangga sebelah, teman satu sekolah, musuh bebuyutan, atau orang yang tidak sengaja bertemu di kendaraan umum. Nah, ini yang terjadi pada perempuan ke tiga. Mereka bertemu di sebuah bus umum. Perjalanan dengan tujuan yang sama acapkali memang membuat para penumpang saling mengomentari beberapa hal. Basa basi di perjalanan daripada manyun sendirian. Siapa yang bissa mengira, kalau akhirnya bisa bertemu di depan penghulu hanya karena berawal dari kenalan di bus dan bertukar nomor ponsel.

Yah, pada akhirnya aku hanya bisa tersenyum. Tahu gak apa yang terlintas dalam pikiranku ketika selesai mendengarkan kisah mereka?
~berarti, cari tau siapa teman lamaku yang sekarang masih belum punya istri, yang Cuma beberapa kali ketemu, siapa tau ada satu di antara mereka yang akan jadi pendampingku~
Haha.

Jodoh itu unik, 
Seringkali yang dikejar-kejar menjauh.
Yang tak disengaja mendekat.
Yang seakan sudah pasti menjadi ragu.
Yang awalnya diragukan menjadi pasti.
Yang ternilai jadi biasa.
Yang tak dinilai jadi bernilai.
Yang selalu diimpikan, tak berujung pernikahan
Yang tak pernah terpikirkan, bersanding di pelaminan
Maka, percayalah..
Jodoh itu bukan masalah seberapa lama kau mengenalnya
Seberapa akrab kau dengan orang tuanya
Atau seberapa sering kau komunikasi dengannya
Tapi, 
seberapa yakin kau padaNya
Seberapa besar kepasrahan kau dengan takdirNya
seberapa besar kau merayu diriNya
Seberapa semangat kau menyempurnakan ikhtiar mendapatkannya
Seberapa ikhlas saat kau gagal mendapatkannya, lalu digantikan dengan yang lebih baik menurut versiNya.

4 komentar:

Herdianto mengatakan...

Mungkin jodohmu bukan disitu. Harus keluar dari lingkungan yang skrang, bisa di kota lain atau propinsi lain :)

lia mengatakan...

ya, mungkin.. :D kak rhe apa kabar? si baby sudah bisa apa sekarang?

Akhmad Baiquni mengatakan...

Saya ada pemikiran kalo tdak terlalu dianggap besar, hal kecil yg dinamakan jodoh ini, mungkin bkl cepet nikah.

lia mengatakan...

Apakah itu, quni?