Halaman

05 Februari 2013

Aku Bahagia Masih Bisa Menulis Ini

Aku seperti de javu kali ini. Kembali mengulang kejadian yang rasanya pernah kualami dulu. Mungkin tepatnya bukan kejadian yang terulang, tapi perasaan dan emosi yang terulang. Tapi tetap saja, rasanya aku pernah mengalami ini semua sebelumnya, dulu.

Mengingat rasa yang pernah hinggap dalam diriku, seolah aku memasuki lorong waktu dalam sekejap. Seperti doraemon yang dengan mudah terbang ke masa yang ingin dimasukinya. Aku seperti itu. Baiklah, akan kuceritakan sepenggal kisah sedikit tentang diriku di masa yang dulu, yang membuatku kini merasa de javu atas perasaan itu.

Aku pernah menangis, merasa dunia benar-benar sepi dan aku sendirian di antara banyak manusia di sekelilingku. Aku juga pernah merasa iri, mempertanyakan apakah ada yang salah denganku hingga aku sendiri yang harus merasakan keirian atas orang-orang yang telah mendahuluiku dalam banyak hal. Lalu aku menangis setelah sekian lama aku berusaha untuk menguatkan hati dan mencoba tidak berprasangka buruk pada siapapun.

Tapi perasaan yang terlalu dalam dan mungkin hatiku sendiri yang terlalu lemah untuk menghadapi semuanya, membuatku hampir putus asa dan tak tahu harus bagaimana lagi. Lalu aku pun diam. Menangis. Sendirian. Merenung. Mungkin memang sudah jalanku seperti itu. Dan ketika aku menemukan diriku berpasrah atas segala hal setelah kulakukan yang menurutku terbaik yang bisa kulakukan, keajaiban datang tiba-tiba.

Sesuatu, entah apa seolah seperti menghapus air mataku, mengajakku bediri kembali dan menatap ke arah yang lebih lapang. Bahwa semua hal yang kualami telah mengajarkanku kebijakan. Tidak ada masalah yang tak bisa dipecahkan. Tidak ada beban yang tak sanggup dipikul. Tidak ada air mata yang tak bisa dihapus. Dan tidak ada hari yang selamanya mendung.

Begitulah keajaiban telah membawaku pada sebuah perenungan. Bahwa hidup ini terus berputar dan akan ada saat dimana kita jatuh dan ada saat dimana kita bangkit kembali.

Hingga hari ini ada.

Aku merasa de javu. Merasakan kembali emosi yang sama seperti dulu. Perasaan jatuh dan terpuruk. Tapi kali ini, mungkin aku tak akan menangis sekeras dulu karena aku pernah merasakan ini hingga aku merasa lebih kuat menghadapinya. Aku masih bisa tersenyum meski kadangkala terlalu dipaksakan. Aku masih bisa tertawa meski terkadang terlalu kering. Aku masih bisa bercanda meski terkadang terlalu mengada-ada. Dan aku masih bisa mengatakan pada orang-orang di sekelilingku bahwa aku bahagia masih bisa menjalani hidup ini.

Bukankah sebuah ujian itu akan bisa menguatkan kita di kemudian hari? Begitulah, dan aku merasa lega masih bisa menulis ini.

Tidak ada komentar: