30 Desember 2009

PALEMBANG, BESOK AKU NAK KESANO LAGI!

Pada tulisan sebelumnya, aku sudah katakan pada kalian bukan, kalau aku suka sekali jalan-jalan keluar daerahku. Dengan beitu, aku bisa melihat lebih banyak tempat-tempat menarik dan bersejarah yang masih berdiri meski usianya telah berpuluh-puluh bahkan beratus-ratus tahun lalu. Kali ini, aku jalan-jalan ke Palembang.

Aku memang sudah pernah ke kota ini sebelumnya, tapi itu dulu. Ketika aku masih duduk di kelas 2 SD (dan pastinya aku belum terlalu mengerti sudut-sudut menarik sebuah kota). Ini perjalananku yang ke dua kalinya bersama ibu dan dua adikku. Perjalanan dari Lampung ke Palembang memakan waktu sekitar dua belas jam dengan naik kereta api. Dan untuk menghemat ongkos, kami memilih kereta pagi, kelas ekonomi. Tarifnya sangat murah meski harus berdiri dalam barisan antrian yang panjangnya ampun-ampunan!

Lelah? Tentu saja, tapi aku yakin akan terbayar dengan rasa senang ketika tiba nanti. Dan itu benar. Setelah perjalanan panjang yang tak memberi kesempatan pada lelah untuk pergi, akhirnya kami sampai juga. Ingin rasanya segera pergi ke jembatan legendaris untuk melihat sungai Musi di malam hari, tapi ngantuk sudah tak bisa ditawar lagi. Istirahat dulu deh!

ooo

Kebetulan, tempat tinggal saudaraku tak jauh dari pusat kota Palembang. Makanya aku tak bisa menyembunyikan rasa senangku ketika perjalanan ke tempat-tempat menarik itu tak memakan waktu hingga berjam-jam. Kota yang terkenal dengan mpek-mpeknya ini memang gak kalah eksotik dengan daerah-daerah lain yang pernah aku kunjungi sebelumnya.

Kami mulai menelusuri kota Palembang dari Air Mancur di pusat kota (aku gak tau apakah tempat ini memang punya nama Air Mancur atau sekedar sebutan karena memang terdapat air mancur di tengah-tengah jalan raya besar). Lalu lanjut ke Monumen Perjuangan Rakyat (MONPERA) Sumatra Selatan. Gedung monumen ini punya bentuk yang unik. Lihat aja. Dengan tiket masuk yang sangat-sangat murah (Cuma seribu per orang!), kami punya kesempatan untuk melihat-lihat prasasti yang tertinggal dari masa lalu. Senjata, meriam, uang tiga zaman, dan relief-relief yang melukiskan perjuangan semasa peperangan dulu.

Karena waktu Dzuhur telah tiba, kami istirahat sejenak di Masjid Agung Palembang. Dari kejauhan, masjid ini memang sudah menunjukkan kemegahannya. Kubahnya banyak ukiran. Menara merahnya tinggi menjulang, taman yang mengelilinginya luas menghampar. Hijau segar. Hm, sejuknya luar biasa!

Perjalanan belum berakhir. Di belakang MONPERA, berdiri satu bangunan bersejarah lagi. Museum Sultan Mahmud Badaruddin II. Bangunan ini didominasi warna merah dari pagar hingga atap dan kusen-kusen pintu dan jendelanya. Disini juga tiket masuknya sangat murah, hanya seribu rupiah per orang!

Tak jauh dari samping museum ini, ada lagi bangunan peninggalan zaman peperangan dahulu kala. Namanya Benteng Kuto Besak Palembang, atau kalau di translet ke bahasa Indonesia, artinya kurang lebih Benteng Kota Besar Palembang. Bangunan ini berdiri memanjang dengan cat putih dan dipagar bunga sepatu orange. Persis di depan bangunan ini, ada semacam alun-alun atau taman kota yang luas. Nah, dari sini, kita bisa dengan leluasa memandang sungai Musi dan jembatan Ampera yang legendaris itu.

Kalau saja kami berada di sini ketika malam, pasti akan terlihat lampu-lampu berwarna-warni yang menghiasi sudut-sudut tempat ini. Tapi, siang pun tak apa lah karena langit siang itu pun sangat menawan. Rasanya, belum puas jika tak berfoto dengan latar belakang jembatan merah itu. Hehe.

Hari lah sore, saatnya pulang untuk beristirahat. Persiapan energi untuk jalan-jalan lagi keesokan harinya. Tentu di tempat yang berbeda. Hm, aku yakin ini baru sisi kecil kota mpek-mpek itu. Masih ada banyak tempat menarik yang belum aku kunjungi. Mudah-mudahan aku masih diberi usia. Hingga aku bisa lebih bersyukur karena telah diberi-Nya mata untuk melihat dunia...

Palembang, besok aku nak kesano lagi... :-)

14 Desember 2009

AKU DAN KENARSISAN

Kata teman-teman, aku narsis. Tepatnya narsis dalam hal foto memfoto. Aku suka difoto, menjadi objek ketika ada orang yang memegang kamera. Aku tak tahu kenapa sebutan narsis baru melekat padaku belakangan ini. Padahal, rasanya aku sudah lama menyukai foto. Bahkan sejak aku masih kanak-kanak. Kalau kukumpulkan, mungkin berpuluh-puluh album foto yang memuat foto-fotoku.


Dulu, ketika aku masih kanak-kanak dan belum punya kamera sendiri, aku sering ke pasar untuk sekedar bergaya di depan kamera. Ketika ada peristiwa yang menurutku penting untuk kuabadikan dalam gambar, pasti aku akan mengajak ibu ke studio foto. Misalnya, saat aku bagi rapor waktu SD dan aku dapat rangking pertama. Maka, aku bergaya di depan kamera dengan membawa rapor biruku itu. Sampai-sampai, tukang foto di pasar itu paham denganku.

Aku hanya bisa senyum-senyum sendiri ketika aku buka kembali album foto masa kecilku. Disana, terpampang wajahku dengan senyum lebar. Wajah kanak-kanak yang polos. Kadang aku foto sendiri, kadang pula aku foto bersama adik-adikku.

Hingga usiaku yang makin beranjak ini, terus terang aku masih suka difoto. Jadi, aku suka heran kenapa aku baru dapat gelar ‘narsis’ belakangan ini. Kupikir, mungkin karena orang-orang di sekelilingku baru mengetahui sifatku yang satu ini belakangan ini.


Jujur, sebuah foto bagiku bisa bercerita banyak. Sebuah foto bisa menjadi kepingan kenangan indah untuk masa yang akan datang. Ia akan bercerita bagaimana aku di masa lalu. Senyum polos tanpa dosa ketika aku masih kanak-kanak. Tawa bahagia tanpa beban ketika aku beranjak remaja. Dan cerita indah ketika aku pernah mengunjungi suatu tempat.

Sebuah foto, bisa menjadi teman ketika aku merasa sendiri. Membuka halaman demi halaman di album foto, serasa aku kembali berada di suasana itu. Maka, kalau sekarang aku dapat julukan ‘nona narsis yang hobi difoto’ tak masalah deh bagiku. Aku yakin foto-fotoku sekarang akan menjadi kenangan ketika aku telah tua nanti. Seperti satu foto ini, aku akan mengenang hari-hari bersama teman-temanku ketika aku mengunjungi keraton Jogjakarta beberapa waktu yang lalu.