Halaman

09 Agustus 2009

MALAIKAT TAK TAHU TENTANG MATI

“Tolong..! Tolong..!”
Sujarwo terus berlari, lebih kencang. Tak peduli telapak kakinya luka menginjak duri atau ranting-ranting tajam yang berserak. Napasnya tersengal-sengal, tak berhenti melolong. Sesekali melihat ke belakang, siapa tahu, makhluk berjubah hitam itu kehilangan jejaknya. Oh tidak! Makhluk itu malah kian cepat mengejar langkah-langkahnya yang sudah pincang. Sujarwo terus berlari, cepat hingga sebuah batu seukuran telapak tangan orang dewasa berhasil membuatnya jatuh. Tubuh tambunnya terpelanting, tersungkur di tanah. Ia mengerang. Darah menetes dari dahi dan bibirnya yang terluka, perih.
Belum smpurna ia bangkit, makhluk aneh berjubah hitam itu sudah berdiri tepat di hadapannya. Ia menyeringai, sungguh sangar. Sujarwo berbalik lagi, gemetar.
“Ah! A-aku mm-mohon, jangan am-ambil nyawaku h-hari ini t-tuan!” Sujarwo mengiba, bersimpuh di kaki makhluk aneh itu.
“Apa hakmu meminta padaku, heh?!”
“A-aku mm-mohon, ja-jangan ambil nyawaku ha-hari ini. Kau, kau boleh ambil apa saja yang aku punya, har-hartaku banyak,”
“Aku tak butuh semua itu! Aku perlu nyawamu, tahu!”
Makhluk aneh itu kini telah siap memisahkan jasad Sujarwo dari ruhnya. Sujarwo mengerang lebih keras, melolong.
“Tidakk..!”
“Mas, mas Sujarwo!”
Sujarwo tergagap. Napasnya masih belum teratur, turun naik dan cepat. Ia raba bibir dan dahinya, basah!
Ah apakah darah?!
Sujarwo berlari ke depan cermin. Memperhatikan wajahnya dan gelisah. Ah Cuma mimipi. Itu Cuma keringat sebesar biji jagung yang mengalir deras. Sejenak ia hanya bisa terduduk lemas di bawah tualet besar itu. Tubuhnya masih gemetar namun tak urung ia juga tersenyum.
“Mas ini kenapa sih, tengah malam mengagetkan orang!” Sumarni, istrinya yang masih berbaju tidur itu kembali menarik selimut, tak peduli. Jarum jam masih berputar di angka dua ketika ia tadi sempat meliriknya. Tidurnya belum cukup, besok pagi masih harus melanjutkan pekerjaan yang menyita pikiran.
Sujarwo masih disana, meluruskan kedua kakinya di lantai dan mengucek-ucek muka. Sejenak ia menengadah ke plafon berukir di langit-langit kamarnya. Sunyi. Hanya detak jarum jam yang terdengar berkejaran dengan detak jantungnya sendiri.
“Hah! Bedebah! Mengganggu tidurku saja!”
Ia memaki dan beranjak kembali ke tempat tidur. Ditariknya selimut dan merebahkan tubunya. Sujarwo baru saja mengatupkan matanya ketika tiba-tiba makhluk aneh berjubah hitam itu datang lagi. Kali ini wajahnya lebih sangar. Siap mencekik Sujarwo hingga nyawanya ada di tangannya.
Sujarwo memekik lagi, melolong dan tergeragap. Bangun kembali. Istrinya menggeliat.
OOO
“Ha..ha..ha.. kau percaya dengan mimpi bodoh macam itu? Ha..ha..ha..” Sujarwo diam, melirik ke arah Tono, teman kerjanya. Sedikit tak terima dengan sikapnya itu.
“Hei kawa, sudahlah tak usah dipikirkan. Kau terlalu sibuk dan banyak pikiran, jadi beginilah kau, terlalu berimajinasi ha..ha..ha..” Temannya yang lain menambahkan lalu meneguk lagi air putih di hadapannya, makan siangnya memuaskan.
“Eh, Sujarwo, mungkin memang kau harus ingat mati sekarang ha..ha..ha..”
“Ya, mungkin si Joko sudah menunggumu di alam sana ha..ha..ha..” Sujarwo mendongak, rahangnya mengeras.
Prakk..!!!
Ia menggebrak meja . Kedua temannya sontak berhenti tertawa. Orang-orang yang berada di ruangan itu pun mengarahkan matanya pada Sujarwo.
“Aku tak suka sikap kalian!” Sujarwo pergi.
“Hei Sujarwo, mau kemana?”
Sujarwo tak peduli, langkahnya dipercepat. Entah kemana, mungkin ke teras masjid di samping rumah makan di sebelah utara sana, tempat yang nyaman untuk istirahat siang.
Hah! Percuma saja menceritakan mimpinya pada kedua teman kerjanya itu. Ya, mimpi yang telah menyita pikirannya itu. Pasalnya bukan hanya sekali ini saja, tapi sudah tiga malam ia ditemui makhluk berjubah hitam itu. Pertama kali Sujarwo memang tak menanggapi dan tak berniat menceritakan mimpi anehnya itu, tapi setelah malam ke tiga tadi, tak bisa ia tak menceritakannya padamereka. Meskipun akhirnya memang akan seperti ini. Mereka selalu tertawa.
Istrinya di rumah pun sudah ia ceritakan. Kemarin pagi, sama seperti pagi kemarinnya. Ia bangun lebih awal dengan tergeragasp dan keringat dingin mengalr di seluruh tubuhnya. Dengan napas yang tersengal-sengal dan tubuh yang gemetar.
“Mas lupa baca doa,” Gamang, seperti itu kata Sumarni.
“Tapi sudah dua malam, Sum. Ini seperti nyata! Ia mencekikku! Dan…dan dia…dia menginginkan nyawaku, Sum!” Tak urung wajah istrinya itu mengguratkan kecemasan.
“Itu Cuma mimpi.” Keduanya berusaha menghibur diri, menjauhkan semua prasangka dan firasat buruk.
Tapi, ternyata pagi tadi pun, Sujarwo bangun seperti pagi-pagi sebelumnya dan berangkat ke kantor dengan perasaan tak tentu. Gamang.
OOO

Di teras masjid, ia rebahkan tubuhnya. Kedua tangannya ia jadikan bantal, matanya menerawang ke langti-langit.
Joko…
Nama itu tiba-tiba telah memenuhi benaknya. Teman karibnya itu meninggal dua bulan lalu akibat overdosis. Sehari itu Sujarwo bersamanya.
“Semalam aku bertemu makhluk aneh berjubah hitam, tapi aku tak lihat wajahnya, aku takut. Kau tahu siapa dia?” Sujarwo diam, acuh tak acuh.
“Dia mengaku Izroil, malaikat pencabut nyawa!” Joko seolah berbisik, tak ingin pembicaraanya terdengar orang selain mereka berdua. Sujarwo tertegun sejenak.
“Kau tahu, tadinya aku gemetar dan takut, tapi kupikie inilah saatnya aku bertanya kapan aku akan mati,”
“Lalu?” Sujarwo mulai tertarik.
“Dia tak menjawab, Cuma seperti ini.” Joko merentangkan jarinya menunjukkan bilangan lima.
“Apa maksudnya?”
“Aku tak tahu, tapi setelah kupikir-pikir mungkin aku akan mati lima tahun atau lima puluh tahun lagi.” Sujarwo tersenyum.
“Bisa saj bukan lima tahun lagi, jam lima misalnya?” Joko mendongak kemudian tersenyum.
“Itu tak mungkin! Lihat kan ini sudah jam berapa? Jam lima lebih tiga menit! Tapi kau lihat sendiri kan aku masih di sini?” Sujarwo hanya terdiam, tak mengerti dengan sikap temannya itu.
“Lalu mengapa malah kau tenang-tenang saja? Kalu kau mau mati, harusnya kau lebih dekat dengan tuhanmu.”
“Hei Sujarwo, aku kan sudah tahu aku akan mati lima tahun lagi, itu masih lama. Jadi sepatutnyalah aku bersenang-senang dulu menikmati dunia. Kalau sudah sebulan lagi, aku baru akan tobat ha..ha..ha..”
“Kau gila! Memangnya kau yakin makhluk aneh dalam mimpimu itu seorang malaikat dan dapat dipercaya?”
“Sudah dua malam aku ditemuinya!”
Aneh, Sujarwo tak mengerti jalan pikiran Joko.
Wong edan! Pikirnya. Dan malamnya Sujarwo tahu temanya itu dugem, seperti biasa bersama wanita simpanannya. Sujarwo sendiri tak mau melibatkan diri. Biar begini ia masih memikirkan istrinya.
Lalu, pukul tiga dini hari handphonenya bernyanyi. Berisik sekali. Joko overdosis!
Sujarwo hanya bisa tertegun saat mengingat ucapan Joko kemarin sore. Lima tahun, lima puluh tahun..? Ah! Nyatanya ajal lebih awal dari dugaannya dan Joko mati dalam keadaan hina!
Aku tak mau mati konyol seperti itu!
Sujarwo bangkit. Suara klakson, ia menelan ludah. Tiba-tiba terlintas sesuatu dalam mindanya. Ah iya, nanti malam kalau makhluk aneh itu datang lagi dalam tidurnya, Sujarwo akan memberanikan diri bertanya tentang mati seperti yang dilakukan Joko.
OOO
Sujarwo mondar-mandir dalam kamarnya, pikirannya tak tentu. Malam ini pasti makhluk aneh itu akan datang lagi. Itu berarti ia harus menyiapkan pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan. Sujarwo sudah bertekad ia tak boleh takut, tak boleh gemetar dan tentu saja tak boleh gugup.
Selagi Sujarwo khusuk dengan pikirannya, sesosok makhluk aneh berdiri dekat pintu kamarnya. Sujarwo belum tahu kalau makhluk aneh itu perlahan-lahan mulai mendekatinya. Dekat, sangat dekat hingga akhirnya Sujarwo terperangah. Menelan ludah dan tercekat.
“Ss.. siapa kau?” Langkahnya mundur, gemetar.
“Tak sopan kau malam-malam begini masuk kamar orang tanpa izin!” Makhluk aneh itu tersenyum.
“Istrimu mana?”
“Apa urusanmu dengan istriku?” ia kembali tersenyum. Entah, Sujarwo tak bisa menerjemahkan arti senyum itu.
“Sebenarnya kau siapa, hah!”
“Kau tak mau pamit dengan istrimu?” langkah Sujarwo semakin tak tentu. Vas bunga di meja belakangnya jatuh. Pecah berserakan.
“A-apa maksudmu?”
“Aku malaikat yang ingin mencabut nyawamu, sekarang!” Sujarwo semakin gemetar. Tenggorokannya kering tapi tak urung ia segera tersenyum sinis dipaksakan.
“Apa kau bilang? Mau mencabut nyawaku, hah! Aku tak percaya. Kau lihat sendiri kan aku masih sehat begini? Tidak sakit, aku masih muda belum tua!”
“Terserah kau, yang jelas itu mudah bagiku untuk mencabut nyawamu atas perintah dan izin Tuhanku.”
“Lihat keluar,” sujarwo ragu.
“Ayo!” tiba-tiba tangannya ditarik keluar dengan keras.
“Hei, apa-apaan kau!”
“Lihat ke bawah!”
Sejurus kemudian, Sujarwo limbung. Pagar depan pintu yang dipegangnya tiba-tiba ambruk! Sujarwo jatuh, terjerembab ke tanah dari lantai dua. Dan kali ini mungkin dia harus percaya nyawanya akan segera melayang ke tangan malaikat tadi tanpa sempat berpamitan pada istrinya atau menjalankan misinya untuk bertanya tentang mati dalam tidurnya.
OOO



Natar, 28 Juni 2005

Tidak ada komentar: