05 April 2013

27 tahun :D

Ada apa di tanggal 5 April? Nothing special indeed J tapi ponselku menerima beberapa pesan pendek berisi ucapan dan doa-doa, semisal ini :

~Assalamualaikum. Met milad lia. Moga panjang umur, ditambah rezekinya, da segera naek pelamina deh tahun ini. Amin... ditunggu loh makan-makanna, mas yon juga jadi, hehe~

~Dek, met ulang tahun ya moga berkah...~

~Traktir... makan-makan... barakallah fi umrik mas awal... ckck...~

~Sampe lupa mau mengucapkan buat dirimu J met ultah, moga panjang umur, murah rezeki dan tercapai apa yanng dicita-citakan.. amin...~

~Selamat milad sayang... semoga makin cantik, amin...~

~Met hari lahir Lie_ul semoga usiana makin berkah, sehat, rejeki makin lancar, bahagia da segera menikah. Amin. Makaaannn... makaaaannn... :P~

~Lia met milad ya~

Begitulah yang terjadi pada ponselku sedari pagi. Sampai tempatku bekerja, aku juga menerima beberapa ucapan yang sama dari teman-teman seperjuangan. Di situs online pun demikian. Jadi merasa sedikit berbeda hari ini.

Jadi ingat beberapa tahun silam, sewaktu masih baru-barunya masuk SMA, aku yang memang punya sifat melankolis dan dramatisir pernah menyimpan sebuah keinginan. Dan keinginan itu mejalar jadi sebuah doa yang diam-diam selalu kupanjatkan. Doa itu sederhana, yaitu aku ingin di  hari lahirku, seseorang yang kusukai akan memberiku ucapan dan doa.  

Ternyata, di hari lahirku, seseorang itu benar-benar memberiku ucapan dan doa. Tak hanya itu saja, ia juga memberiku sebuah hadiah yang sampai sekarang masih kusimpan saking dramatisirnya, hehe (maklum masih masa puber ABG). Begitu luar biasa perasaanku waktu itu. Rasanya, dunia benar-benar indah. Bukan sweet seventeen yang paling indah, tapi sweet eighteen! :D

Dan sekarang, beberapa tahun setelah itu, aku masih melankolis dan dramatisir. Diam-diam, aku pun menyimpan keinginan di hari lahirku. Berharap ada yang ngasih setangkai mawar putih di hari lahirku, haha :D
Tapi, apapun keinginan itu, aku hanya berharap, usiaku yang makin bertambah dan masa hidup yang makin berkurang ini, bisa berkah dan bisa kumanfaatkan sebaik-sebaiknya.

Met Milad Laela Awalia J

28 Maret 2013

Pentasbihan Kerinduan

                        : dinda


Kutemui setiap bintang di langit malam, dinda
bertanya apakah ada bias wajahmu disana
katanya,
temuilah pagi esok hari

lalu kutemui setiap embun yang menapaki pagi
lagi-lagi bertanya apakah ada senyummu yang terbingkai disana
katanya,
nanti kupoles dulu dengan kilauan sinar mentari

maka kutemui mentari yang merangkaki hari
tak bosan bertanya apakah ada potongan tawamu yang ia bawa
katanya,
masih kuhias dengan rona jingga milik senja

beruntung masih kutemui senja yang datang terlalu lama
tak habis bertanya apakah ada dirimu yang ia sembunyikan dariku
bukan jawaban yang aku terima seperti bintang, embun, atau mentari sebelumnya
katanya,
mengapa harus menunggunya di waktu gemintang mengerlip terang, atau embun mengilau silau, atau mentari menerik hari, atau jingga mewarnai senja?
bukankah ia turut dalam setiap untai doa yang kau kalungkan di tubuh malam, pagi, siang, dan senja?

duhai, dinda
tak usahlah lagi menjelma sebagai bayangan yang mengisi seluruh ruang tanpa pernah memberiku kesempatan untuk bertanya kapankah pertemuan itu nyata untuk kita
sebab seperti gelombang saja rasa yang ada
mencarimu, menantimu dalam tiap pentasbihan akan kerinduan
tak kah kau rasa?

Natar, 9 Maret 2013

22 Maret 2013

SELEPAS HUJAN

            : nirmala


Ada wangi tanah basah selepas hujan di beranda

sudah sepekan, tapi tak kunjung hilang

juga ada guguran daun yang belum sempat kau bersihkan

masih sama di bawah cemara

entah, tapi indraku memang menangkapnya demikian

 

lalu bias senyummu dalam bayangan rembulan ketika malam tiba

apakah kau patri aku dengan sudut matamu, nirmala?

hingga tak habis malam-malamku dengan lamunan akan pertemuan kita

sudah sepekan, dan masih ada dalam ingatan

***

 

hujan belum juga reda kala itu

ketika kita telah sampai menghitung rinai-rinai yang jatuh dari langit abu-abu

kau sempat bertanya,

            -apakah kau lelah menghitung hujan bersamaku, rama?-

dan aku terpaku

kehabisan kata untuk sekedar menjawab

            -tidak, nirmala-

sebab matamu telah membekukan duniaku

 

aku begitu canggung ketika kau biarkan waktu merayapi kita dalam kesenyapan yang tiba-tiba

serupa begitu asing pertemuan kita

seperti waktu yang tak kenal jeda

seperti pagi yang tak mampu berlari, lupa akan senja yang akan ada

 

hingga pada akhirnya aku mengerti

kita sedang mendengar hujan bernyanyi

dan melupakan sedih pedih

seperti juga matahari

menanti pagi untuk bisa terbit kembali

            -kalau begitu, rama, apakah hujan bisa memberi kita kekuatan hanya dengan mendengar mereka bernyanyi?-

dan aku masih tak juga menemukan kata untuk sekedar menjawab

            -mungkin, nirmala-

sebab ada yang tersisa dari perjalanan panjang kita selama ini

: cintamu

yang tak bisa kau sembunyikan di setiap perjumpaan

yang tak bisa aku hapuskan di setiap kediaman

yang tak bisa kita lukiskan lewat nyanyian

***
 

maka selepas hujan kali ini,

masih ada wangi tanah basah di beranda

juga ada guguran daun yang belum sempat kau bersihkan

sudah sepekan, tapi tetap tertinggal dalam ingatan

 

Natar, 7 Maret 2013

# Dimuat di Lampost, 17 Maret 2013 :D