Pernahkah kamu ingin menulis, tapi ada ragu yang menyertai? Maksudku, kamu ingin tulisan ringan yang yah, menghibur hatimu saja. Semisal tentang cerita fiksi melankolis yang mungkin kebanyakan orang akan menilainya dengan kisah klise. Tentang perasaan suka pada masa muda contohnya. Bagimu yang melankolis mungkin akan terasa indah dan membuatmu berbunga-bunga kembali.
![]() |
| Biarlah kucing saja yang mewakili |
Tapi, di tengah-tengah perjalanan menulis ini, kamu dihentikan dengan sebuah tanya. Untuk apa kamu menulis ini dan kamu posting? Apa manfaatnya? Ini kisah lama yang pasaran. Ini tulisan tak bermutu. Bisamu hanya tulis beginian?
Tanya-tanya
ini mengalir saja di tengah-tengah tulisan yang kamu baca soal ulasan produk,
tentang sudut pandang dengan pemikiran yang mendalam, tentang tulisan dengan
banyak sekali informasi baru yang dikemas menarik, tentang yah banyak hal yang
baru dan benar-benar menggugah pikiran.
Tapi,
kamu tanya lagi pada diri sendiri. Sebenarnya kamu menulis untuk memerdekakan
hati, jiwa, dan pikiranmu kan? Lagipula, belum tentu juga ada yang baca tulisan
ini kan? Haha. Lalu kamu teringat lagi. Kalau menulis hanya menulis, apa
kelebihannya? Bukankah menulis juga bisa jadi ladang pahala?
Nah,
bawa pahala pula ini. Benar sih, tapi kalau sedang ingin menulis yang mengalir
saja, memang gak boleh? Toh gak merugikan siapapun juga kan? Ah, orang
introvert memang terlalu banyak pikiran. Sudahlah, tulis-tulis saja apa yang
ada dalam kepalamu itu, supaya tak terlalu penuh itu. Lalu tidurlah.
Istirahatkan jiwa ragamu sejenak.
Baca juga : Cuma Catatan Perempuan
