Halaman

10 April 2018

Bandung Dalam Setapak

Halo semuanya!

Sebenarnya sudah lama sekali saya ingin cerita dari perjalanan saya ini, tapi entah kenapa selalu ada alasan yang tidak bisa diterima untuk menunda-nunda dan akhirnya kebalap sama cerita lainnya, hehe. Karena memang setiap perjalanan saya pasti sudah saya siapkan foto-foto untuk mengabadikan cerita itu. Sayang kan kalau sudah sengaja dikumpulkan fotonya tapi tidak ditulis?

Baiklah, kita awali dengan...

Yeaayyy!!! Ke Bandung lagi! Ini sudah ke tiga kalinya saya ke kota yang terkenal dengan nama Paris Van Java nya itu. Pertama kali dulu ke Bandung waktu saya sempat jadi anak rantau. Ceritanya ada disini. Waktu itu saya pun berjanji akan kembali kesana lagi, entah untuk liburan atau mungkin ada tugas dari tempat saya bekerja, atau apapun itu. Dan benar saja, untuk kedua kalinya saya mengunjungi kota Bandung lagi. Masih dengan teman yang sebagian sama dengan waktu pertama kali ke Bandung. Ceritanya ada disini.

Dua kali ke Bandung dan tidak pernah sendirian, kali ke tiga ini saya harus sendirian. Setelah beberapa tahun tidak kesana dan memang tidak pernah bisa hafal nama jalan dan bagaimana menuju kesana, saya harus beranikan diri. Kali ketiga ini saya ada tugas dari tempat saya bekerja (sudah beda tempat kerja). Pertemuan antara Dinas Pariwisata Lampung dengan Dinas Pariwisata Jawa Barat, juga ada acara Table Top. Kebetulan saya yang ditunjuk untuk berangkat kesana.

Sempat deg-degan sih karena takut nyasar (haha, jaman sekarang kok masih bisa nyasar!). Karena memang jatahnya hanya sendirian dari kantor, ya sudahlah mau dibilang apa lagi. Mau ngajak Mamas tapi gak bisa karena harus izin dan belum tahu di Bandung juga bisa nginap berdua atau sendiri-sendiri (sudah yakin sih bakal gak sendirian di kamar). Mulailah saya mempersiapkan apapun yang harus dibawa untuk acara itu. Dari mencari tiket pesawat sampai penginapan sebelum acara. Alhamdulillah semua bisa saya dapatkan dengan mudah.

Karena acaranya akan dimulai pagi hari, maka saya memutuskan untuk berangkat sehari sebelumnya. Saya tidak tahu keadaan di Bandung, juga takut kalau-kalau pesawat delay atau jalanan macet. Saya dapat tiket pesawat siang dan untuk kepulangan dari Bandung sengaja pilih yang siang juga, biar ada waktu untuk sekedar jalan-jalan dan mungkin cari sedikit oleh-oleh. Tinggal penginapannya untuk malam sebelumnya yang memang tidak ditanggung oleh panitia.

Untung ya hidup di jaman yang serba digital. Pesan tiket, pilih penginapan, cari transportasi, apapun tinggal klik sana sini. Begitulah saya mencari penginapan. Karena saya tidak tahu jalan, maka saya mencari tempat penginapan yang paling dekat dengan hotel untuk acara keesokan paginya. Sebenarnya bisa pesan di hotel yang sama, tetapi lumayan mahal untuk sekedar bermalam sebelum acara.

Saya mencari di satu situs pemesanan kamar yang sudah saya percayai dan beberapa kali pun saya pesan di situs itu. Namanya Airy Rooms. Disini, saya bisa dengan mudah mendapatkan tempat menginap yang sesuai budget dan tentunya sesuai kenyamanan saya. Salah satunya yang waktu itu saya pilih adalah Airy Riau Progo 6, Bandung. Saya memilihnya karena memang dekat dengan hotel tempat acara saya berlangsung, dan juga saya melihat foto-foto dan review yang masuk kategori bagus menurut saya.

Kamar yang akan saya tempati waktu itu (foto by Airy Room)
Pesan di Airy Rooms sangatlah mudah. Dari PC maupun aplikasi pada ponsel, sama-sama mudahnya. Tinggal isi saja daerah mana yang akan kita tuju. Nanti Airy Rooms akan menyuguhkan banyak pilihan hotel yang sesuai dengan keinginan kita. Bisa berdasarkan kepopuleran hotel, atau menurut harga, atau menurut kategori bintang.

Menu awal masuk ke Airy Rooms
Kalau ditanya kenapa saya memilih Airy Rooms, jawabannya sudah pasti karena saya merasa ada jaminan kenyamanan dari Airy Rooms atas kamar yang saya pesan. Dari segi fasilitas, Airy Rooms menjamin sudah tersedianya amenities, toiletries, dan fasilitas penunjang seperti telepon, akses internet, kamar mandi dengan air panas dan dingin, dan lain-lain. 

Jaminan keanyamanan Airy Rooms
Tinggal isi formulir ini untuk pemesanan dan langsung bisa lanjut ke pembayaran
Untuk proses pemesanan hingga pembayaran pun, sangat mudah. Bisa bayar melalui transfer e-banking, ATM, ataupun ke minimarket terdekat. Setelah selesai pembayaran, voucher saya segera terbit. Jadi kapan aja bisa dapat hotel sesuai keinginan lewat Airy Rooms.

Saya lega setelah tiket pesawat dan voucher hotel sudah ada di tangan saya. Tinggal membayangkan dan mengira-ngira hal apa saja yang bisa saya lakukan sebelum acara hehe. Estimasi saya, saya akan tiba di Bandung tidak terlalu sore jadi bisa lah sekedar jalan-jalan sambil cari jajanan. Mudah-mudahan estimasi saya benar.

Rupanya... hari pertama di Bandung berjalan agak meleset dari bayangan. Sengaja cari pesawat yang agak siang supaya tidak terlalu terburu-buru dan berharap sampai Bandung tidak terlalu sore. Niatnya mau lihat-lihat sekitaran Bandung. Tapi rupanya cuaca waktu itu tidak mendukung. Ditambah jalanan sore yang lumayan ramai, jadi sampai di hotel, hari sudah mulai gelap. Plus, saya juga kan punya bakat penakut jadi kalau sudah sampai kamar, gak berani keluar kemana-mana lagi, haha (ini didukung oleh letak kamar saya yang di lantai 5 dan di ujung). Untung kamarnya bagus, jadi tetap nyaman saja saya hibernasi disana.

Tidak sia-sia saya memilih Airy Rooms. Baru melangkah masuk ke kamar, saya sudah disuguhi cemilan. Lumayan untuk menemani sore saya sambil beristirahat dan menghilangkan bad mood gegara tidak sesuai bayangan saya, hehe. Boro-boro mau kelililing Bandung, cari makan di sekitar hotel aja, saya menyerah hehe. Alhasil, saya pesan makanan secara online! Yah, bayangan akan makan street food di Bandung lenyap deh.

Air mineral di dalam kamar

Cemilannya ada di kotak yang belakang itu :-D
Pagi harinya, saya langsung menuju ke tempat acara yang memang letaknya tidak terlalu jauh. Kegiatan yang saya ikuti juga berjalan dengan lancar dari pagi hingga sore. Malam hari, saya memutuskan untuk sekedar jalan-jalan ke sekitar hotel. Cari makan malam, tapi lebih ke cuci mata hehe. Memang tidak terlalu asik sih karena jalan sendirian, tapi saya bisa menikmatinya sambil berfikir sesudah ini saya mau tuliskan cerita apa. Saya berhenti di salah satu food court, menunya beragam dan harganya juga masih wajar. Lumayan mengisi perut.

Toko-toko di sekitar hotel tempat saya menginap kebanyakan adalah distro. Produknya memang keren-keren, gak pasaran, tapi lumayan mahal untuk kantong saya. Jadi, saya hanya melihat-lihat saja, hehe. Setelah hampir pukul sembilan malam, saya memutuskan untuk kembali ke hotel. Saya tidak punya keberanian untuk keluar lebih malam lagi, takut nyasar karena saya bukan penghafal jalan yang baik.

ooo

Oh iya, karena di hari pertama itu saya belum sempat kemana-mana, jadi saya memutuskan untuk berjalan-jalan di pagi hari sebelum pulang kembali ke Lampung. Saya sengaja pesan tiket pesawat untuk pulang agak siangan, biar saya bisa jalan-jalan lagi di pagi harinya. Saya sudah mengantongi informasi tempat apa saja yang bisa saya kunjungi saat itu dan perkiraan perjalanan kesana.

Tempat pertama yang saya kunjungi adalah Museum Geologi. Letaknya tidak jauh dari hotel tempat saya menginap. Tapi karena lagi-lagi saya tidak tahu jalan, makanya saya memanfaatkan ojek online untuk menuju kesana. Dari abang ojek, saya kumpulkan informasi lagi tempat-tempat yang ingin saya kunjungi berikutnya beserta rutenya. 

Museum Geologi

Museum ini terletak di Jl. Diponegoro, Cihaur Geulis, Bandung. Beruntung sekali waktu itu sedang ada kunjungan dari sekolah, jadi saya yaang memang datang seorang diri tidak merasa sendirian. Untuk masuk kesana, kita hanya dimintai tiket masuk sebesar Rp 3.000,- saja. 

Benda pertama yang saya lihat di dekat pintu masuk museum
Saat memasuki pintu museum, saya melihat ada dua ruangan di kanan kiri saya. Tapi, pak penjaga mengarahkan saya ke pintu sebelah kiri terlebih dahulu. Pada akhirnya nanti saya jadi paham rupanya museum ini terbagi menjadi 3 bagian besar, yaitu Sejarah Kehidupan, Geologi Indonesia, dan Geologi dan Kehidupan Manusia.

Bagian pertama yang saya masuki adalah Sejarah Kehidupan. Terdapat semacam layar pemutar video yang menayangkan proses terbentuknya planet-planet. Di sepanjang dinding, dipamerkan relief-relief awal kehidupan. Saya merasa takjub dan rasanya saya kembali ke masa sekolah saat saya baru pertama mengenal tatasurya.


Disini juga dipamerkan berbagai macam batuan dari berbagai belahan dunia. Berlian dan batu-batu perhiasan yang sering saya dengar namanya pun dipamerkan dalam bentuk aslinya disini. Saya terus menyusuri ruangan hingga sampai di bagian pertambangan. Proses pertambangan, proses pangaliran minyak bumi hasil pertambangan, dan aplikasinya dalam kehidupan juga dibeberkan dengan jelas dan mudah dimengerti.

Berbagai macam batuan dan mineral
Saya naik ke lantai 2 yang memamerkan kondisi geologi di Indonesia. Dari sisa-sisa letusan gunung merapi hingga penjelasan bagaimana terjadinya tsunami. Saya sempat melihat alat simulasi gempa bumi, tapi sayangnya sedang dalam perbaikan. Padahal kalaupun alat itu bisa digunakan, belum tentu juga saya akan mencobanya karena sendirian hehe.

Alat simulasi gempa bumi
Saya kembali turun untuk memasuki ruangan di sebelah kanan dari pintu masuk tadi. Ruangan ini memamerkan awal kehidupan di bumi. Zaman sebelum makhluk purba ada, hingga zaman manusia modern. Ada kerangka makhluk purba yang sangat besar di tengah-tengah ruangan. Saya tidak terlalu paham itu namanya apa, sebangsa dinosaurus begitulah hehe.

Kerangka hewan purba yang sudah punah
Sebenarnya saya masih ingin lebih lama mengamati benda-benda yang ada di museum ini, tapi kalau lama-lama disini, nanti tempat lain tidak kebagian. Saya keluar dan mengambil beberapa foto lagi.

Tampak depan Museum Geologi
Selepas dari Museum Geologi, saya berjalan menyusri jalan sekitar. Ada taman di depan museum ini yang waktu itu ramai orang berjalan kaki dan senam. Saya kelilingi dengan beberapa kali duduk sekedar minum dan mengamati kegiatan orang. Lumayan lah sekali-sekali olahraga jalan kaki, hehe. Saya lihat ada petunjuk arah menuju Museum Pos Indonesia. Sasaran saya selanjutnya.

Museum Pos Indonesia
Tidak jauh dari taman, saya menyeberang jalan dan mulai masuk ke museum Pos Indonesia. Awalnya mantab melangkahkan kaki kesana karena saya pikir, museum ini pun akan ramai seperti Museum Geologi tadi. Tapi begitu masuk pintu museum, tidak ada penjaga sama sekali. Di dekat pintu masuk, hanya ada meja dan buku tamu yang terbuka. Saya lihat tanggal hari itu, sayalah pengunjung pertamanya, dan tidak ada nama lain!

Tampak depan museum Pos Indonesia
Sudah sampai sini, masa mau balik lagi? Jadi saya maju terus pantang mundur untuk tetap masuk ke museum. Olala.. saya hanya berpapasan dengan seorang laki-laki (sepertinya tukang bersih-bersih) yang sudah selesai dan akan keluar. Saya teruskan untuk masuk. Saya mulai melihat-lihat koleksi di museum ini.

Berbagai kotak pos
Berbagai jenis perangko dari zaman dahulu, berbagai jenis alat pos, kendaraan yang digunakan untuk mengantar surat hingga kotak-kotak pos yang sekarang sudah tidak ada lagi. Saya beranjak makin masuk ke dalam ruangan dan awalnya lega karena melihat beberapa orang. Tetapi setelah saya mendekat, rupanya mereka adalah patung! Iya, mereka adalah diorama yang menyerupai foto kecil yang dibingkai di atasnya. Menggambarkan kegiatan pos pada masa itu.

Diorama yang awalnya saya mengira pengunjung, hehe
Karena tiba-tiba saya menyadari bahwa saya benar-benar sendirian, saya tidak melanjutkan penjelajahan saya di museum ini. Jiwa penakut saya mulai kambuh lagi. Apalagi saya berada di tengah-tengah benda peninggalan dari berapa puluh tahun yang lalu. Saya sedikit merinding dan segera keluar ruangan. Lega rasanya sudah menemukan dunia luar lagi, haha.

Saya berniat kembali ke hotel dan bersiap-siap pulang. Tapi kali itu saya tidak memanggil ojek online lagi. Saya menyusuri jalan dengan berjalan kaki dan berharap menemukan toko oleh-oleh atau sekedar jajanan pinggir jalan. Walaupun judulnya adalah tugas, tapi pesanan teman-teman di kantor pasti harus dibawakan.

Saya menemukan toko oleh-oleh yang tidak terlalu besar, tapi lumayan untuk sekedar membawa sedikit oleh-oleh untuk teman-teman saya. Juga, ketika saya berjalan dan menemukan warung jajanan, saya tertarik untuk membelinya. Tadinya saya pengen beli seblak, tapi sudah kehabisan. Akhirnya ditawari oleh ibu penjaganya Shabu. Saya yang kurang update soal jajanan kekinian hanya tertawa saja melihat isi Shabu ini. Oalah begini rupanya hehe.

Shabu, oalahh.. seperti ini tho :-D
Waktu check out sudah tiba, saya bersiap-siap kembali ke Lampung. Dari hotel tempat saya menginap, saya kembali menyewa ojek online menuju bandara. See you again, Bandung. Saya akan kembali kesana lagi insyaa allah.

Tidak ada komentar: