Halaman

20 Mei 2014

TRAGEDI GANG SINAR LAUT #2


Masih ingat postinganku beberapa minggu yang lalu tentang tragedi sebuah gang kecil bernama gang sinar laut? Hehe, kalau sudah lupa atau parahnya belum baca, sok baca dulu di TragediGang Sinar Laut. Nah, kali ini aku mau posting lagi soal gang kecil ini. Sepertinya lucu memang, mengingat tragedi yang kontroversial ini hanya berlangsung beberapa minggu saja, bahkan mungkin tidak sampai sebulan. Tapi yah, namanya juga manusia, ada saja tingkah lakunya yang bisa membuat orang tertawa, jengkel, berkerut kening, dan ekspresi lain-lainnya.

Hm, sepertinya akan lebih mudah menjelaskannya dengan timeline ya :D
Pertama               : gang ini ditutup secara paksa dan tiba-tiba oleh entah siapa. Desas-desusnya adalah keluarga sang pemilik kebun yang mengajukan diri sebagai caleg dan ternyata tidak punya suara yang signifikan di kampungku. Penutupan gang ini sontak membuat warga kampungku heran. Pasalnya, gang kecil ini kan sudah dari jaman hong digunakan sebagai jalan bagi warga kampungku.

Kedua                   : orang-orang kampungku sih tidak serta merta demo ramai-ramai menuntut untuk dibukanya gang ini. Secara, itu juga bukan kebun kami, pemiliknya tetap punya hak untuk mengatur batas-batasnya. Jadi kami hanya diam dan merasa maklum dengan keadaan. Tapi, tetap saja beberapa orang dari kami lewat gang ini dengan menerobos pagar yang telah dibuat. Karena sering diterobos, maka terbentuklah pintu kecil lain di samping gang ini.

Ketiga                   : entah siapa yang mulai membongkar pagar penutup gang. Hasilnya memang agak lumayan, jadi ada akses lebih mudah daripada melalui pintu terbosan yang baru, hehe. Aku pernah lewat sekali saat fase ini. Agak merinding sih, rasanya seperti seseorang yang masuk ke wilayah orang secara ilegal.

Keempat             : gang ini sepenuhnya dibuka kembali. Tak ada pagar lagi. Lagi-lagi aku tak tahu persis itu perbuatan siapa. Pemiliknya kah yang emosinya sudah mereda atau orang-orang yang melihat ini sebagai kepercumaan saja karena nyatanya ada ‘pembiaran’ selama kami menerobos pagar.
Ketika aku melihat tak ada lagi pagar bambu yang berdiri, aku hanya senyum saja. Mungkin memang emosinya sudah reda jadi gang ini dibuka dan bisa dilewati orang lagi. Rasanya tuh seperti ada kebebasan, hehe.

Bagiku, melewati gang ini ada kesenangan tersendiri, apalagi kalau lewatnya pagi dan sore hari di saat tidak ramai orang. Ketika aku lewat di pagi hari, aku sering mengambil foto tanaman-tanaman yang ada di sisi gang ini. Hasilnya mantap. Secara, masih ada embun yang menempel di daun-daun, masih ada kupu-kupu yang hinggap di ranting-ranting. Rasanya seperti sedang menyambut pagi dengan senyum.

Kalau lewatnya sore hari, matahari sudah mulai terbenam dan menciptakan hamparan langit yang menawan. Aku juga sering mengambil fotonya. Tapi, ketika tidak ada orang lho, hehe. Suasana sendiri seperti itu sering mendatangkan inspirasi bagiku. Sering juga aku berfikir tentang banyak hal selama berjalan di gang ini sendirian #haha, dasar tukang imajinasi!

Yah, intinya aku senang gang ini dibuka lagi. Aku tak perlu repot-repot minta antar jemput, atau jalan terlalu jauh. Tapi ya ada juga sih keadaan yang tak kusukai. Apakah itu? Ketika ada sapi yang diikat di satu pohon kelapa untuk merumput. Sering sekali sapi itu tak merasa berdosa tidur di tengah-tengah gang. Sudah badannya gede, tatapannya juga buat aku menciut. Apalagi kalau si sapi sudah mengeluarkan suaranya sambil diam terpaku menatapku. Hadehhh... 

Dan inilah penampakan gang sinar laut itu sekarang. Maaf fotonya agak kabur karena ngambilnya sambil jalan (buru-buru pas mau berangkat kerja, hehe).
Sudah gak ada pagar bambunya lagi :D

Ini gangnya, cuma jalan setapak kan?

1 komentar:

Anonim mengatakan...

aku pernah lewat gang itu. sekitar awal tahun 2000-an. pemilik blog ini masih suka pakai putih abu2. waktu itu bareng nuraini dkk. masih inget ga?