Halaman

29 Oktober 2013

REUNI SINGKAT #2


Masih lanjut soal perjalananku ke Palembang untuk menghadiri resepsi pernikahan temanku. Hm, sudah sampai Palembang rasanya sayang kalau gak menyempatkan diri ke jembatan Ampera, jembatan legendaris yang warnanya merah mencolok itu.

Rupanya sudah banyak berubah. Ada bangunan yang sedang dalam pengerjaan. Entah mau dijadikan apa. Ada hiasan lampu berwarna-warni yang sewaktu dulu aku masih disana, belum dipasang. Bernostalgia sedikit, rasanya waktu kembali menyeretku ke masa dimana aku tertawa-tawa bersama teman-teman satu pekerjaan dulu. Saat dulu aku sering kesana ketika jenuh melanda. Saat dulu aku begitu mengagumi tingginya jembatan Ampera. Ah, kenangan.

Sebenarnya ada banyak hal yang membuatku rindu akan Palembang. Salah satunya adalah mi tek tek yang dijual di pinggir sungai Musi, depan BKB. Ketika sore menjelang, mulailah penjual-penjual kaki lima berdatangan. Ada macam-macam jajanan. Mi tek-tek, kerak telor, kepiting goreng, mpek-mpek, jagung keju, rujak bebek, banyak lah. Tapi aku Cuma ngiler mi tek-tek, hehe. Entahlah, beda aja makan disana dengan mi goreng buatan sendiri. Alhasil, pesan deh! :D


Sebenarnya, ada yang ingin kumakan lagi, yaitu martabak har. Tapi, perut sudah penuh. Asli kenyang karena sudah dimasuki macam-macam makanan, hehe. Mpek-mpek pun rasanya sudah tertolak, padahal biasanya aku hobi sekali. Biarlah aku hanya jadi penonton saja, hehe.


Aku bermalam di Plaju untuk melanjutkan perjalanan pulang keesokan paginya. Aku memilih kereta pagi kali ini. Lumayan, ongkosnya lebih murah, hehe. Hanya dengan Rp 30.000, aku sudah bisa pulang dengan kereta api yang punya fasilitas cukup bagus. Sudah ber-AC, dan bersih. Jauh lebih baik dari kelas ekonomi yang dulu biasa aku gunakan.

Gerbong kereta cukup bersih, di bawah jendela, ada colokan listrik, jadi gak perlu khawatir kehabisan baterai di ponsel, hehe. Lalu, ada gantungan tempat sampah, plastik sampahnya ada dikasih lho! Jadi selama dalam perjalanan, tempat duduk bisa tetap bersih. Pendingin udara juga masih berfungsi sangat baik. Saat cuaca panas di siang hari, aku tidak keringatan karena suhu masih normal, dan saat cuaca sudah dingin karena masuk malam, aku kedinginan, haha.

Dan terakhir, ada pahlawan yang ikut dalam gerbong keretaku waktu itu. Inilah dia... Spiderman! :D



REUNI SINGKAT


Yeyyyy.. ke Palembang lagi! Kali ini untuk memenuhi salah satu kewajiban muslim terhadap muslim lainnya (hadeh... bahasaku, hehe). Memenuhi undangan seorang teman yang jadi pengantin. Jauh sih perjalanan dari Lampung ke Palembang, apalagi jatah liburku hanya sehari, gak bisa berlama-lama disana, tapi rasanya senang saja bisa ikut bahagia bersama sang pengantin.

Perjalanan kali ini lumayan berbeda dari perjalananku dulu sewaktu aku masih bekerja di Palembang. Fasilitas kereta api sudah lebih baik. Mengingat ini kendaraan favoritku kalau jalan kesana (soalnya kalau naik bus gak ngerti jalurnya! Hehe). Aku memilih naik kereta malam waktu berangkat, pastinya karena aku harus berangkat kerja dulu pagi sebelumnya, dan biar sampai Palembang pagi dan bisa langsung menuju ke rumah yang punya hajat.

Perjalanan dari Lampung-Palembang sih gak ada masalah karena gak pakai ganti-ganti kereta. Nah, yang agak ribet adalah perjalanan menuju rumah sang pengantin. Dulu, waktu aku masih satu pekerjaan dengan sang pengantin, aku memang pernah beberapa kali ke rumahnya, tapi itu selalu naik motor dan gak pernah naik angkot. Jadi ketika kemarin aku kesana harus pakai kendaraan umum, aku sempat kelimpungan. Instruksi yang diberikan temanku adalah sebagai berikut :

Pertama,  aku disuruhnya naik bus Plaju-Pusri (dari Kertapati, aku kan numpang mandi dulu di rumah saudara di Plaju) . Oke, gak masalah, aku biasa naik bus dari Plaju walaupun ke jurusan Perumnas waktu dulu. Jadi aku tunggu saja bus merah itu dengan sabar. Dan yup! Dapat.

Kedua, turun di pasar Lemabang. Katanya sih bilang aja sama kondekturnya. Well, aku ikuti. Pas aku bayar ongkos, aku bilang pasar Lemabang, tapi namanya saja kondektur yang fokusnya ke berbagai macam orang, dan waktu itu kondisi bus cukup penuh sesak. Aku tak bisa menjamin sang kondektur mendengarku. Jadi yah, aku akan liat saja kondisi. Sebuah pasar pastinya kan ramai, jadi gak susah menemukannya. Tapi, kenyataan adalah jalur yang dilewati rupanya berbeda dengan jalur bus yang dulu biasa aku lewati. Waduh, aku mulai ketar-ketir nih. Aku sama sekali gak ngerti jalur yang kulewati, jalan apa, atau arah mana, aku sama sekali tak paham. Mau tanya sama orang, bus penuh sesak jadi susah mau berkomunikasi. Menghubungi teman-temanku pun gagal karena berbagai macam hal. Tidak aktif lah, gak diangkat lah, yah, pasrah deh. Sampai akhirnya bus berhenti di suatu tempat yang ramai dan ketika aku menoleh ke luar jendela, kudapati plang besar bertulisakan “PASAR PAGI LEMABANG”  Yuhuu, disini rupanya.

Ketiga, dari pasar lemabang naik angkot hijau menuju gang Rama Kasih. Ow, ow, banyak angkot hijau, banyak persimpangan jalan. Dan ironisnya aku sama sekali tak paham harus naik angkot hijau yang mana dan ke arah mana! Menghubungi teman-teman masih gagal. Udara panas mulai mengundang keringat di tubuh dan wajahku. Fiuhh, sudah dandan ala pesta malah keringetan hehe. Akhirnya aku tanya saja dengan seseorang di pasar itu. Dengan mantap, ia menunjukkan arah dan angkot mana yang harus kunaiki untuk sampai ke Rama Kasih. Aman deh!

Tapi, ternyata belum habis juga ketar-ketirku. Karena waktu itu kondisi pasar dan jalan cukup ramai, jadi aku tak sempat bilang pada sopir mau ke arah mana. Kupikir aku akan tanya ketika aku sudah berada di dalam angkot. Ironisnya, angkot itu tak seperti angkot kebanyakan yang kujumpai di Lampung. Rupanya, ada kaca penyekat antara sopir dan penumpang hingga penumpang tak bisa berkomunikasi dengan sang sopir. Waduh! Gang Rama Kasih yang dulu pernah kujejaki, sekarang sudah tak kuingat lagi. Ancang-ancangnya apa, plang, atau tanda-tandanya pun aku tak ingat. Lebih ironis tak ada penumpang lain yang bisa kutanya. Kembali pasrah, aku amati setiap gang yang dilewati. Masih untung angkot berjalan cukup pelan jadi aku bisa mengamati gang dengan lebih baik walaupun tetap saja aku tak punya gambaran.

Tapi, akhirnya, pertolongan datang juga. Seorang penumpang lain masuk. Tanpa pikir panjang, tanya saja dengannya, hehe. Hasilnya, ketemu deh gang Rama Kasih itu. Legaaaa... :D

Sekarang tinggal menelusuri gang Rama Kasih IV. Pastinya, jalan kaki dan harus melewati tiga gang kecil, yaitu Rama Kasih I, Rama Kasih II, Rama Kasih III. Fiuhhh! Akhirnya sampai juga! Rasanya ingin segera melumat teman-teman lamaku yang nyengir saja ketika aku datang. Huh, tak tahukah perjalananku kali ini hampir nyasar??

Dan inilah beberapa momen hasil reuni singkatnya :D




13 Oktober 2013

BALADA PENA FRONT OFFICE

Cerita ini adalah nyata dan bukan fiktif belaka. Juga, kejadian dan nama tokoh disini bukan rekayasa semata. Jadi simak baik-baik.
#haha, serasa buat film horor aja ya.

Kehadiran pena di sebuah tempat kerja adalah hal yang sangat penting, apalagi kalau tempat kerja itu tak lepas dari kegiatan tulis-menulis, transaksi, dan berhubungan dengan tanda tangan yang memerlukan alat tulis. Begitu juga di bagian kerjaku di Front Office hotel. Pena adalah alat tulis wajib yang harus ada disini. Bisa dibayangkan kalau tak ada pena, lha kalau ada tamu mau menginap dan harus tanda tangan bagaimana?

Ironis, pena disini sering sekali raib entah kemana. Padahal, ya sudah dikasih label nama, mulai dari label ringan hingga peringatan yang keras, haha. Awalnya, aku beri label dengan kata-kata yang terdengar lembut seperti, “INI PENA FO YA...” Satu kali, dua kali, hilang. Aku biarkan saja, mungkin dipinjam orang dan lupa dikembalikan. Lalu aku ambil pena baru dan kuberi label lagi “PUNYA FO. PINJAM, BALIKIN YA...” Masih terdengar halus, bukan? Dan kembali hilang. Lalu aku ambil pena baru lagi, dan tak henti memberi label, “PUNYA FO!! PINJAM? BALIKIN!!” Kali ini ada tanda seru yang mengisyaratkan penegasan. Ternyata masih hilang juga, dan untuk kesekian kalinya, aku ambil pena baru dan kembali menulis label “PUNYA FO!!!! DON’T TOUCH!!” Haha, galak ya, tapi lumayan ampuh untuk menghalau si peminjam yang jarang mengembalikan, buktinya lumayan awet dan setiap ada yang pinjam, langsung baca, dan langsung mengembalikan, hehe.

Tapi, itu pun masih tetap hilang juga setelah sekian lama bertahan di FO. Jadi, untuk yang ke entah berapa kalinya, aku beri label kembali dengan “PUNYA FO!!! JANGAN DIAMBIL!!!” Dengan tanda seru banyak, hehe.

Sebenarnya ini masalah sepele, hanya sebatang pena yang harganya 1000-an. Tapi kalau yang seribu itu kita gak bisa menjaganya, bagaimana dengan yang lebih besar? Atau, kalau barang yang seribu itu kita pinjam dan menyepelekan dengan lupa atau tidak mengembalikannya, bagaimana dengan yang lebih besar? Bukankah hal besar dimulai dari hal yang kecil? :)

Ok, guys? Jadi, ayo sama-sama kita jaga amanah barang sekecil apapun :)