Halaman

23 Oktober 2010

KEPUTUSAN

Aku tak tahu bagaimana mungkin ini bisa terjadi lagi pada diriku. Aku sadar aku bukanlah orang yang paling baik dan aku pun bukanlah seorang perempuan luar biasa. Aku hanya perempuan biasa yang punya lebih banyak perasaan daripada logika (teorikah?).

Beberapa bulan lalu, aku sengaja pergi ke luar kota kelahiranku. Sengaja untuk menghindari berbagai masalah (walaupun sebenarnya masalah tak akan hilang ketika hanya dibiarkan dan dihindari). Tapi aku sadar, betul-betul menyadari bahwa keputusanku kemarin adalah untuk hari ini. Aku disini hari ini adalah hasil dari keputusanku kemarin, maka keputusanku hari ini adalah untuk keadaanku besok.
Dari sisi usia, kurasa aku sudah cukup dewasa untuk mengambil berbagai keputusan, tentu saja tanpa memungkiri adanya keterlibatan dari berbagai pihak. Maka disini, aku mencoba untuk lebih dewasa, menjadikanku bijaksana, menjadikanku matang, dan menjadikanku manusia sebenar-benar manusia.

Tapi ternyata, masalah memang hadir dimanapun kita berada. Dalam pikiranku memang sudah tertanam bahwa masalah lah yang menjadikanku dewasa. Masalah lah yang menjadikanku lebih bijaksana, dan masalah lah yang menjadikanku matang.
Ooo

Cinta. Jatuh hati lagi. Aku tak ingin menangis lagi sebenarnya. Tak ingin menangis karena sudah terlalu sering bermain hati. Tapi, aku tak ingin pula lebih berlama-lama lagi untuk selalu bermain. Terlalu sering aku bercanda. Terlalu sering mengatakan aku masih ingin senang-senang. Terlalu sering berprasangka buruk bahwa semua laki-laki yang katanya serius padaku hanya memberi harapan dan janji-janji. Bukan pengalaman diri saja yang terlibat dalam pemikiranku itu, tapi pengalaman teman-temanku jugalah yang makin meyakinkan pernyataanku.

-Jangan pernah benar-benar percaya pada laki-laki sebelum ia melamarmu-
Aku tak tahu bagaimana kata-kata itu bisa melekat erat dalam pikiranku. Tapi aku mungkin tidak separah teman-temanku yang benar-benar menjadikan kata-kata itu sebagai prinsip dalam pergaulan mereka. Aku masih perempuan biasa yang lebih banyak perasaan daripada logika. Mungkin itu salah satu kelemahanku selain kelemahan-kelemahanku yang lain.

Aku mudah jatuh cinta. Sungguh. Aku mudah simpati pada seseorang yang punya pandangan jauh ke depan. Aku mudah simpati pada orang yang punya visi dan misi untuk masa depan. Bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuk keluarganya pula. Aku tak melihat bagaimana wajanya, bagaimana rupanya, bagaimana keadaannya. Aku hanya melihat bagaimana sikapnya, bagaimana pandangannnya terhadap suatu masalah. Tapi seiring dengan mudahnya aku simpati dengan orang lain, aku pun mudah pula menarik simpatiku bila orang itu membuatku kecewa.

Aku tahu dan aku paham, setiap orang punya kelebihan dan kekurangan. Tapi mungkin itulah kekurangannku lagi. Aku bisa memaklumi dan menerima kekurangan orang lain, tapi aku tak bisa lagi menaruh simpati yang sama dengan simpatiku yang awalnya kuberikan. Ah! Masalah memang harus dihadapi bukan dibiarkan mengendap dan akhirnya akan meledak. Satu pertanyaanku yang entah harus kuajukan pada siapa: mengapa masalahku yang ingin kutinggalkan di kota kelahiranku kini malah muncul lagi disini?

Tidak ada komentar: