24 Desember 2014

Selamat Hari Lahir, Ibuku Sayang

Kemarin adalah hari lahir ibu. Rasanya pengen nangis, sumpah. Ibu bagai malaikat yang tak pernah lelah merawat anak-anaknya. Begitu banyak peristiwa yang telah terlewati bersama. Suka. Duka. Tawa. Air mata. Ibu begitu kuat. Ibu begitu tegar. Ibu, perempuan luar biasa yang pernah aku temui di dunia.

Ibu lahir di Palembang sebagai anak ke dua dan sekaligus bungsu karena nenek meninggal sewaktu ibu masih bayi. Ibu lalu diasuh oleh mbah buyut hingga dewasa. Perjalanan hidup yang tak selalu mudah membuat ibu lebih mandiri. Waktu muda, ibu ingin jadi perawat atau bidan. Tapi karena minimnya informasi dan akhirnya terlambat untuk mendaftar, jadilah ibu mencoba menjadi guru. Allah memberi rizki lebih dengan mengangkatnya sebagai PNS di tahun 1982. Dua tahun setelah itu, ibu menikah dengan Abah dan dianugerahi lima orang anak.

Ibu selalu bisa membuat rumah jadi lebih hidup. Ada saja ceritanya. Lebih sering sambil aktifitas sambil bernyanyi ala guru TK (ini kebawa sampai rumah) yang membuat kami tertawa. Ibu selalu bisa membuat mainan sederhana kalau ada anak kecil di rumah. Ibu selalu bisa menceritakan kisah sederhana untuk kami ambil hikmahnya (yang aku sangat ingat sampai sekarang adalah cerita tentang ibu dan anak kodok).

Begitulah ibu.

Ooo

Sebenernya rutinitas di keluargaku adalah, ketika ada anggota keluarga yang berulang tahun, maka kami akan membuat kue sederhana dan akan kami makan bersama. Tidak berniat untuk merayakan, tapi hanya sebagai rasa syukur karena masih diberi rizki dan masih bisa berkumpul dengan keluarga. Seiring berjalannya waktu, dua orang adik perempuanku sudah tidak tinggal di rumah lagi. Tika dibawa suaminya ke Belitang, dan Lala kuliah di Bogor.

Bantuan datang. Beberapa hari sebelumnya, adikku yang dari Belitang datang karena liburan sekolah. Akhirnya kami sepakat untuk buat kue andalan (brownis coklat kukus, pakai yang instan, hehe). Karena aku kerja, jadi adikku yang buat brownis dan krim untuk menghiasnya. Nah, karena aku belum beli kado, jadilah kemarin itu nekat ke Karang sepulang kerja. Karena itu juga jadi kuenya belum sempat dihias sampai aku pulang ke rumah (sampai rumah Maghrib).

Akhirnya brownis coklat plus hiasan sederhana jadi juga. Sayang banget gak sempet buat hiasan yang lebih indah. Jadinya Cuma begini,

Gegara pulang sudah sore, gak sempet buat hiasan lagi :(

Sayang lagi, anak-anak ibu gak bisa kumpul semua. Lala belum bisa pulang karena belum libur semester. Kiki juga lagi study tour bareng murid-muridnya ke Jakarta. Yah, gak papa deh, yang penting doanya selalu ada.

Fotografernya gemetaran kali ya, blur gini -,-

We love you, Mom :-*

Ya Allah, ampunilah dosa kami dan dosa kedua orang tua kami dan sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangi kami diwaktu kecil,"

06 Desember 2014

DECEMBER, MY WISHES!

Memasuki bulan Desember, biasanya aku mereview kembali apa-apa saja yang terjadi dalam setahun kemarin. Kalau dulu semasa sekolah, aku biasa mencatat target-target yang akan aku lakukan setahun kemudian. Gak banyak sih, hanya agar diri ini termotivasi melakukan hal-hal yang lebih berarti, dan tentu saja, biar gak salah arah.

Sedikit contoh, dulu aku terbiasa begini ;
No pacaran
Haha, ya dulu aku memang lagi semangat-semangatnya ikut ngaji. Dikasih tahu kalau pacaran itu gak ada gunanya, gak ada manfaatnya. Eh, pas pasang target itu, tahun depannya malah ada yang nembak, hyahahaha.
Masuk rangking 5 besar di kelas
Ini biar memotivasi aku yang pada dasarnya gak pinter-pinter amat di kelas. Waktu SD sih hampir full rangking 1 terus, tapi masuk SMP dan SMA mulai turun ke bawah. Makanya aku buat waktu itu minimal masuk 5 besar, karena saingannya memang kuakui jempol, cuy!

Dan target-target lain yang aku sudah lupa, hehe.

Sekarang, di usia yang menjelang kepala tiga, aku agak males untuk buat targetan seperti itu. Entah karena seringnya target itu terlanggar (sengaja atau gak sengaja), atau kepalaku yang sudah malas berfikir mau ngapain lagi tahun depan. Jleeb!

Beberapa minggu yang lalu, ada sidang kecil di rumah, gegara sedikit miskomunikasi antara abah dan adikku (yang berimbas juga padaku, hiks). Ditanya sama Abah ada rencana apa tahun depan dan beberapa tahun ke depan. Aku tahu arah pembicaraan itu. Yah, pasti tentang perkembangan aku dan adikku yang makin tua umurnya (tapi makin dewasa kah?).

Ditanya begitu, adikku langsung menjawab, mau punya mobil, buka usaha, menikah sebelum lebaran, dan lain-lain. Nah pas giliran aku, aku sama sekali gak ada hal yang muluk-muluk begitu. Jadi kujawab aja dengan sedikit nyengir, gak tau, nothing. Beda banget ya orang yang optimis dengan orang yang pesimis kayak aku ini, hihi.

Yah, ini sekedar intermezo aja. Bahwa sejujurnya, kita ini butuh yang namanya pagar dan petunjuk arah akan kemana kita besok? Kalau gak ada petunjuk, ya seperti orang tersesat, gak tau kemana. Masih mending kalau ada yang bisa ditanya dan gak malu bertanya. Lha kalau sudah tau gak ada petunjuk arah, gak mau tanya juga apa jadinya? Dan kalau sudah ada petunjuk arah, masih juga perlu pagar supaya kita gak melencong kemana-mana. Tau sih mau jalan kesana, tapi di tengah jalan liat hal yang lebih bagus dan menggoda, mampir deh. Akhirnya lama lagi deh sampe ujung jalan sana.

Ini teori. Kenyataannya gak semudah itu #agak berpengalaman tampaknya, hoho.

27 November 2014

Mikir

Beberapa hari yang lalu, saya terlibat obrolan dengan seorang teman lewat dunia maya. Obrolannya sekitar persiapan sebelum menikah, lebih tepatnya apa-apa yang seharusnya dipersiapkan seorang perempuan sebelum menikah. Saya sempat mikir juga setelah itu, secara saya pribadi memang harusnya sudah mempersiapkan diri untuk menjadi seorang istri. Oke, saya memang sudah belajar dengan teman-teman sesama perempuan bagaimana seharusnya menjadi istri yang baik itu. Tapi saya jarang sekali mendengar penuturan dari laki-laki.

Nah, obrolan ini bisa dijadikan sedikit referensi. Setidaknya –oh, begitu ya pandangan seorang laki-laki terhadap sosok seorang istri- begitu. Hehe.

A : Teman
B : Saya

A: Mnurut anda apa skil yg esensial wajib dketahui wanita sblm nikah
B: Hak dan kewajiban. Bisa masak haha
A: Bisa masak dr apa yg ad dskitarny
A: Mau mengakui ksalahan
A: Baca quran terjemahny
A: Eh salah ya haha
A: Itu gw mikir.. bkn skill sih
B: 😄
B: Dr prmpuan itu empati. Dr laki2 itu eksistensi
B: Prmpuan akan senang ktika laki2 mmbri empati
B: Laki2 akan senang ktika ia dberi pgakuan
A: Empati opo contohna
A: Skill opo empati
A: Itu gak nyata. Yg nyata itu prempuan blanja barang yg skilas liat. Gak mikir byk cuma blanjany yg banyak haha
B: Itu klo blm nikah
A: Skill utk mndeteksi pnipuan
B: Mksudnya?
A: Byk kna tipu wanita. Blanja n via hal lainny
A: Wakakak korban iklan
A: Bgmn membedakan antara hak n batil
A: Artiny ya baca quran
A: Bgmn mengetahui yg esensial itu jg skill sbnrny
B: Msh ttp belajar
A: Skill utk mencuci dan nyetrika jg lipet baju
B: Itu mah udh jd krjaan tiap hr quni
B: 😒
A: Skill utk masak murah enak dan kenyang dr uang gaji 300 ribu sbulan wekekek
B: Masak tempe aja tiap hr
B: 😜
A: Skill utk tidur 2 jam sehari tanpa mengeluh
A: Skill utk terlihat segar n siap dipoto tanpa makeup
A: Skill utk mijet
B: 😱
A: Skill utk menghibur ygmembangun pmikiran
B: Omg..
A: Skill utk melayani obrolan apapun tanpa trlihat bodoh
A: Skill utk memasak hewan hasil sembelihan secara lgsg
A: Skill utk membuat bekal makanan yg sehat
A: Skill utk memproses ikan laut dan tawar
A: Skill utk berargumen dgn basis quran dan hadist
A: Skill utk meminta maaf dan merubah diri jika salah
A: Skill utk membuat obat sakit kpala, perut dan flu
A: Skill utk siap mnerima tamu kapan saja
B: Byk bgt..
B: 😰
A: Skill utk membuat kue murah yg enak
A: Skill utk membaca quran dgn tajwid yg benar
B: Dan dari semua itu, adalah tggung jawab pmimpin utk mngarahkannya
B: 😊
A: Tggjawab manusia utk membaca pedomanny. Tggjawab ortu utk mendidik anakny.
B: Betul. Tp prmpuan klo sudh nikah itu tggung jawab suaminya
B: Bkn orgtuanya lg

Well, kelihatannya mudah ya. Itu kan pekerjaan sehari-hari kita sebagai perempuan yang tinggal di rumah orang tua (dan kosan mungkin). Tapi, entahlah ketika esok sudah menikah.


#jadi mikir : waduh, gak bisa masak! Takut nyiangin ikan! Geli sama daging berdarah-darah! Malu mau ke warung beli sayuran! Haha.