20 Juni 2015

Sebelum Puasa (Late Post)

Ini postingan telat sih, tapi rasanya kalau gak diposting sayang banget. Secara, sudah jarang sekali  bisa kumpul kayak gini. Secara, sudah pada berubah status dari single menjadi double, bahkan jadi triple, dan selebihnya :D

Acara ini berawal dari pertemuan aku –yang notabene bukan siapasiapa atau apap lagi di FLP- dengan beberapa teman yang masih aktif disini. Dari sana, muncul ide dari mbak Desma dan Shinja untuk ngadain pertemuan sebelum puasa. Biar bisa makan-makan katanya. Setelah berkali-kali chatting di grup untuk menentukan hari dan tempat pertemuan, setujulah di Waroeng Steak and Shake, hari Minggu 7 Juni lalu.

Gak disangka akan rame yang dateng (ini termasuk rame, hehe). Apalagi ditambah ada yang bawa anak, heboh lah. Tapi sayangnya, mbak Desma malah gak ikut karena lagi gak enak badan. GWS ya mb Des L

Anyway, we’re so happy. Sudah lama tidak bertemu dan sekarang bisa kumpul tuh sesuatu banget. Pengennya sih bisa nulis buku ramean lagi, hehe. Tapi okelah, sementara yang masih aktif banget nulis buku adalah Hanum, sang pengantin baru –kemarin gak bawa gandengannya :D. Kalau yang lain, masih aktif nulis –nulis status bbm dan fb haha.

Semoga ini bukan yang terakhir kita kumpul ya, temans. And.. here’s our pictures!

L for FLP, yeeeyyy!!

Si Afkar aja bisa pusing dan ngantuk saking emak dan tante-tantenya narsis mulu :D

Perjodohan dini, haha. Baru kenalan sudah cium tangan :D

And here we are :)

06 April 2015

I'm 29 Years Old :D

Hei, ketemu lagi dengan tanggal 5 April. Rasanya seperti meneropong perjalanan hidup seorang perempuan kalau lihat tanggal ini. Dua puluh sembilan tahun lalu menurut kalender masehi, dan tiga puluh tahun menurut kalender hijriah, semuanya berawal. Lahir ke dunia, dan nanti akan meninggalkan dunia. Mengingat-ingat, lebih banyak bersyukurnya atau lebih banyak mengeluhnya. Menghitung-hitung, lebih banyak musibahnya atau lebih banyak nikmatnya. Dan jawabannya adalah lebih banyak nikmat, semoga lebih banyak bersyukur juga daripada kufurnya. Aamiin.

Tak ada yang patut dirayakan memang, tapi dalam tradisi keluarga, hari lahir menjadi momen spesial tersendiri. Biasanya kami membuat suatu hidangan untuk yang berhari lahir. Tak terlalu mewah, hanya kue yang dihias, atau puding, atau makanan lain yang sederhana dan mudah dibuat. Seringnya aku jadikan kesempatan untuk uji coba kue hias, walaupun kebanyakan gagalnya, haha. Bukan masalah apa yang diberi, tapi lebih pada berkumpulnya anggota keluarga.

Berhubung sudah dua orang anggota keluargaku yang hijrah keluar Lampung, maka hanya ada 5 orang di rumah yang bisa kumpul. Aku bersyukur masih bisa berkumpul seperti ini, saling mendokan, saling menguatkan. Kami juga biasa saling memberi hadiah, karena aku percaya saling memberi hadiah akan saling mencintai. Apapun itu, kami akan senang karena kami merasa dicintai.

Well, satu doaku untuk tahun ini : tidak menjadi seorang perempuan yang banyak mengeluh.
Special from my lil-brother, Farhi :D || bisa aja kasih makanan kesukaan, hehe

Special from my lil-sister, Lala || kejutan di pagi hari dari Bogor :D

24 Maret 2015

Kamboja

Aku ingin terbang. Begitu ingin terbang ke langit yang begitu tinggi. Terbang bersama wangi kamboja kuning yang mekar dan gugur setiap pagi.

Seperti apakah rasanya disana? Waktu itu aku pernah sekali mengamati langit. Begitu dekat dengan kumpulan awan. Semuanya putih bergumpal. Rasanya mungkin empuk kalau aku duduk atau berbaring di atasnya, hehe.

Ada apakah denganku? Aku punya kebiasaan baru. Memungut kamboja yang jatuh lalu menghirup aromanya. Harum. Aku tahu kamboja itu tak akan bertahan lama ketika sudah terpisah dari tangkainya. Tapi setidaknya ia tak mati sia-sia di tanah.

Ada yang bilang, kebiasaanku ini terlihat mistik. Haha, apakah mereka takut? Secara, bunga kamboja ini identik dengan bunga yang ada di areal pemakaman. Atau aku yang secara tidak sadar menebar aura mistik setiap kali aku datang dengan sekuntum kamboja kuning di tangan. Entahlah, aku tertawa saja. Sedikit aneh ya, hehe.

Kamboja itu...
Kuning. Mungkin karena inilah, kenapa setiap kali ada yang berduka, ada sepotong bendera kuning yang dikibarkan di depan pagar. Kalau diterpa angin, ia melambai –bagiku seperti seseorang yang melambaikan tangan untuk pergi namun tak akan kembali. Kalau terkena hujan, ia kuyup –bagiku seperti seseorang yang menunduk karena akan dilupakan.


Kamboja itu...
Wangi. Setiap bunga punya aromanya masing-masing. Meski ada pula beberapa bunga yang tak mengeluarkan aroma wangi. Dan kamboja selalu wangi. Benar. Aromanya khas seperti lagu sendu di malam hari. Seperti seseorang yang mencoba tegar ketika sendiri.


Begitulah.