Halaman

18 Januari 2016

MERENDA KENANGAN

Melintasi batas senja di musim penghujan
awal desember seperti menanti sebuah senyuman
tersuguh sekotak kenangan yang tak bisa terlepas dari sebuah kehidupan
perempuan bernama nirmala
juga lelaki yang mengaku sebagai rama

ooo

-kita sedang merenda kehidupan, nirmala-
rama membiarkan tetes hujan jatuh di atas mangkuk kaleng tempat makanan si manis di samping tangga, menciptakan irama yang senada
-mungkin akan menjadi kenangan kita di masa tua-
-apakah waktu kini bisa kita bekukan saja? hingga nanti ketika kita tak menjumpai senja lagi, kita punya kenangan yang beku, yang bisa kita cairkan dengan menghangatkannya di bawah matahari pagi-
-apa kau pikir kenangan serupa kuah masakan, nirmala?-

ooo

kami tersenyum, saling menyelam di kedalaman tatap mata kami
ada selaksa rasa disana
seperti mutiara, seperti intan permata, seperti berlian berwarna
-aku juga melihat arang, rama-
katanya. tak apa, memang sewajarnya seperti itu
-kau bisa membuatnya menjadi bahan bakar untuk menghangatkan kenangan yang kau sulap jadi kuah masakan-
dan nirmala tertawa, yang membuatku makin ingin membahagiakannya.

ooo

merenda taplak meja bermotif bunga, aku seperti tertawan dalam ruang kenangan
dulu, berpuluh tahun lalu, rama pernah membisikiku
-merendalah saja, bayangkan taplak mejamu akan cantik setelahnya. tak usah kau pikir seberapa luas kau akan merenda-
karena kehidupan juga adalah hasil rendaan kita, begitu kataku setelahnya
hingga aku tahu apa yang dikatakannya memang benar dan nyata

ooo

melintasi batas senja di musim penghujan
awal desember menawarkan sebuah cerita
yang direnda dengan kenangan
oleh perempuan bernama nirmala
juga lelaki yang mengaku sebagai rama

Natar, 9 Desember 2015 

***
Fotonya gak nyambung ya, haha
Ini termasuk puisi yang baru (baru sebulan dibuat dan langsung terbit di Lampung Post untuk kolom Sajak). Sebenarnya pengen banget buat puisi sebanyak-banyaknya mengingat ide di kepala berdesak-desakan dan berlomba untuk keluar. Tapi menulis puisi itu tidak bisa diprediksi. Kadang dengan sekali ketik, puisi langsung jadi, tapi sering pula bertahun-tahun prosesnya baru sreg untuk diposting.

Tapi aku tetap pecinta dan penikmat puisi. Selamat sore... ;-)

Tidak ada komentar: